Kamis, 11 Juli 2013

Kisah Spiritual, Musuh Sabdo Palon (Dibalik Runtuhnya Majapahit 5-5)



Hujan di awal Ramadhan
Dan kenangan cinta kembali terbuka
Saat rindu tak bisa dibelenggu
Saat hati mengatakan , ‘kamu’
Titik titik air bagai serpihan memori jatuh ke tanah dan terhempas
Begitu pula cintaku...dari  langit terhempas ke bumi
Dingin udara sedingin jiwa ketika cinta tak lagi bisa ku tanya
Kenapa cinta tak abadi
Kenapa kau tak ada lagi
Sendiri mengembara kembali
Dalam dunia penuh ilusi
Hanya cinta pada Illahi sejati cintaku kini
Mengharap ridho dan kasih sayangNya yang abadi

 (By Gusti Putri Ratu Pambayun)

Romansa anak manusia, dikehidupan yang nampaknya saja tak tertata. Indah kedengarannya. Namun keadaannya sungguh, tidaklah sebagaimana yang dirinya suka. Bias cinta, bias kenangan, menjadi sisa-sisa rahsa yang masih tak  lekang. Meski kejadiannya sudahlah menembus ribuan tahun lalu. Mengapakah masih saja terasa ?.

Jiwa-jiwa liar, 
Menari dalam kubangan kepedihan,
Menusuk relung-relung sukma,
Menatap dalam sayu,
Yang tak mampu menafikan..

Kidung dalam kesunyian,
Meronta,
Dalam tangis yang tak berkesudahan,
Sepi dalam lirihan,
Dalam doa hatinya bersujud mohon ampunan,
Berserah dan berpasrah dalam dekapanNya..
(By Putri Sriwijaya)


Kegalauan Pambayun dan juga Putri Sriwijaya, menjadi pembuka kata episode kali ini. . Sepertinya kawah di dalam hati mereka sudah tak kuasa membendungnya lagi. Kembali sebuah puisi cinta diluapkannya. Menjadi penanda adanya jatidiri mereka , orang-orang masa lalu. Apakah yang menghantarkan mereka terlahir kembali ke dunia ini ?. Dan juga para kesatria lainnya. Mengapakah residu rahsa tersebut begitu kuatnya, bahkan sangat dominan menguasai orang-orang masa lalu. Apakah sebuah kebetulan semata ?. Mereka ada bukan suatu kebetulan semata, sebuah energy yang begitu dahsyatnya telah melontarkan diri mereka ke masa sekarang ini. Mereka telah melintasi peradaban demi peradaban. Ternyata energy rahsa tersebutlah yang telah membawa diri mereka melintasi sang waktu. 

Kesadaran diri mereka ada pada energy rahsa tersebut. Sehingga dengan energy itulah mereka menembus alam manusia. Menjadi sebuah potensial energy. Dalam hukum energy terdapat postulat yang mengatakan bahwa energy tidak dapat diciptakan dan dimusnahkan. Energy hanya akan mengalami perubahan bentuk. Pertanyaannya adalah bagaimana jikalau energy tersebut menjadi cahaya ?. Disinilah pemahaman yang ingin dihantarkan dalam episode penutup kisah ‘Dibalik Runtuhnya Majapahit’ jilid pertama ini.

Telah dihantarkan pada episode sebelumnya, bagaimana Atlantis dihancurkan oleh alam (Baca; Markaba Yang Hilang). Mereka manusia-manusia yang memiliki kesadaran luar biasa, menciptakan apa saja dengan tangan mereka. Merekalah yang dijuluki sebagai manusia ‘cerdas’ atau ‘aliens’ atau apa saja yang dinisbatkan atas diri mereka itu. Begitu luar biasa sepak terjang mereka. Mereka mampu dengan akalnya menguasai teknology dunia. Bahkan mereka mampu menggunakan kekuatan untuk menembus dimensi-dimensi lainnya. Begitu perkasanya mereka, berulah layaknya penguasa dunia saat itu. Namun sayangnya, kemampuan yang mereka miliki, telah menghancurkan diri mereka sendiri. Selalu akan begitulah manusia, sudah berkali dihancurkan namun manusia tidak pernah mau belajar. Begitu juga manusia sekrang ini, mereka akan berkecenderungan untuk melakukan kesalahan yang sama, sebagaimana nenek moyang mereka itu. 

Kisah hancurnya kerajaan Atlantis adalah semisal hancurnya kerajaan dan bangsa-bangsa besar di muka bumi ini yang telah dikisahkan oleh Al qur an itu sendiri. Mengapakah bangsa-bangsa tersebut di azab ?. Telah jelas dipaparkan disana. Agar manusia yang memiliki kesadaran tinggi , kaum cendikia dan sebangsanya, memahami atas hukum-hukum alam itu sendiri. Agar mereka paham dan mengerti bahwa sesungguhnya bumi dan langit itu sangat patuh kepada Tuhannya dan memang seharusnya mereka patuh. Maka meskipun manusia pada saat itu mampu menggunakan seluruh sistem alam semesta. Meskipun keadaan peradaban mereka sangat luar biasa sekali. Seharusnya mereka tahu bahwa kemampuan mereka itu memang sebab diijinkan oleh Allah, Tuhan pencipta alam semesta. Bukan atas mau mereka sendiri, sungguh hal itulah yang telah mereka lupakan, karena itu mereka lalai dan menjadi sombong.

Kisah yang melatari hancurnya Majapahit adalah sebuah kisah yang sama keadaannya, (yaitu) adalah sama halnya dengan hilangnya kesadaran akan ‘kasih-sayang’ (Baca; ar rohman nir rohiem) yang terjadi di Atlantis, dan juga serupa kejadiannya, pada kerajaan-kerajaan , Romawi, Persia dan kerjaan Islam di tanah arab, dan juga seluruh kerajaan dan suku-suku bangsa lainnya di seluruh permukaan bumi ini. Hancurnya peradaban Mesir, hancurnya Bani Umayah, dan lain sebagainya, adalah disebabkan hilangnya 'kasih sayang' diantara manusianya disana. Korupsi, kesewenang-wenangan, krisis moralitas dan sebagainya. Merupakan pemicu bagi degeradasi moral suatu bangsa. Keadaan ini menyebabkan lemahnya sendi-sendi kehidupan masyarakat. Menjadi awal kehancuran peradaban di negara tersebut. Menjadi pemicu bagi alam semsta untuk melakukan filterisasi kembali atas khalifah-khalifah yang diturunkan di muka bumi ini.Disini pergiliran kekuasaan dan peradaban berlangsung.

Bilamana kaum cendikia disuatu bangsa telah rusak akhlaknya, bilama penguasa sudah tidak mampu memegang amanah langit. Para penguasa dan para kaum cerdik pandai tidak mampu memberikan contoh teladan kepada rakyatnya, maka tunggulah saatnya kejatyuhan negara tersebut pasti akan terjadi. Tidak saja Majapahit, yang bercorak Hindu-Budha, bangsa apapun akan mengalami hal yang sama, tidak kecuali Islam itu sendiri. Lihatlah sejarah, bagaimana negara Islam begitu mudahnya di hancurkan oleh pasukan Mongol yang dianggap rendah oleh orang , karena dianggap kaum yang tidak beragama. Sekali lagi, manusia tidak boleh sombong, manusia harus senantiasa berserah kepada-Nya. Hukum keadilan Tuhan, semua akan dipergilirkan. Saat sekarang kaum beragama berkuasa, besok bisa jadi kaum yang tidak beragama. Semua akan silih berganti dan semua terserah kepada kehendak-Nya. Tuhan akan memberikan kesempatan kepada semua kaum untuk berkuasa. Baik itu beragama ataupun tidak beragama. Tuhan akan memeilih kaum yang tidak beragama namun amanah, dari pada kaum yang merasa beragama namun dia tidak amanah. Itulah hukum alam yang berkeadilan.

Maka bagi suatu kaum, atau Penguasa yang tidak amanah alam akan meresponnya. Alam akan merespon sebagaimana manusia meperlakukan alam itu sendiri. Merekalah alam, (baca ; Kami) yang mengemban amanah Allah atas kesinambungan alam semesta itu sendiri, terutama di muka bumi ini. Entitas kesadaran di alam semesta itulah yang akan senantiasa memilih wakil-wakil mereka di muka bumi untuk mengemban amanah langit atas keberlangsungan alam semesta itu sendiri. Mereka (baca ; Kami) adalah sebuah sistem yang bekerja berdasarkan tugas dan tanggung jawab meerka. Mereka adalah entitas kesadaran menempati level tinggi dalam ranah kesadaran manusia. Melalui mereka-mereka inilah berita langit disampaikan kepada pemegang amanah.

Pusat kendali kesadaran tertinggi tersebut dikenal sebagai Markaba, maka hilangnya akses manusia yang tidak amanah kepada Markaba membuat system alam semesta menghancurkan diri mereka sendiri. Hati mereka telah membatu, mereka semua telah kehilangan ‘kasih sayang’. Kasih sayang kepada siapa saja, kepada istri, suami, teman, jabatan, harta, bahkan kepada alam semesta dan sistem pendukungnya, mereka telah kehiolangan 'kasih sayang' tak memperdulikan lagi. Bagi mereka adalah kepuasan ‘ego’. Mereka hanya tahu diri mereka sendiri. Mereka hanya tahu bagaimana memuaskan kenikmatan dirinya sendiri. Mereka lalai bahwa hakekat diciptakan alam semesta, dan system apa saja yang membuat alam semesta tetap dalam keadaan sebagaimana mestinya. Mereka tahu, tapi mereka tidak mau tahu. 

Lihatlah, keadaan tersebut berlaku untuk semua peradaban dan kejadian. Alam tidak pernah memilih-milih, apakah itu Negara Islam, Kresten atau bahkan Pagan semua yang tidak mengikuti hukum-hukum alam pasti akan dihancurkan oleh system pendukungnya. Alam akan selalu melakukan pembersihan dirinya, manakalah energy alam sudah tidak layak lagi dipergunakan. Energy alam yang murni adalah energy ‘kasih-sayang’ Nya. Sebab alam semesta diciptakan dengan ‘Kasih-Sayang’ ALLAH. Maka dari itu seluruh sistem energy alam semesta bersumber dari energy ini. Jaman dahulu kala sebelum masuknya peradaban Islam. Manusia mengenalnya dengan nama Markaba. (Yaitu) Energy utama sebagai daya dukung alam semesta yang berpusat di berputar di 'arashi’.

Sebagaimana sebuah sistem energy, akan terjadi perputaran energy (Cycrle). Dimana energy ini akan berputar di alam semesta, digunakan dan kemudian mengisi kembali. Seperti model pengisian pada accu. Manusia harus menunjukan ‘kasih-sayang’ nya kepada alam semesta. Manusia harus melakukan kesadaran atas keberadaan alam semesta ini. Mengarahkan seluruh energynya hanya kepada Dzat yang menciptakan alam semesta ini. Dengan kesadaran inilah system alam semesta akan terus tegak berdiri. Jika tidak alam akan kehilangan suplai energy dari arashi. Jika alam kehilangan suplai energy dari arashi maka alam akan melakukan pembersihan sendiri. Maka kita dapati pada Al qur an, perintah agar bersabar menunggu, kepastian azab Allah pasti akan datang. Sebab sistem alam sudah dibuat sedemikian luar biasanya, akan bekerja dengan sendirinya manakala terjadi kerusakan di muka bumi.

Begitulah pemahaman yang ingin dihantarkan seputar kejadian ‘Dibalik Runtuhnya Majapahit’. Majapahit juga telah kehilangan energy Markaba ini, sehingga terjadilah pergiliran kekuasaan disana. Demikian juga menjadi sebuah kepastian bagi kehancuran dan runtuhnya kerajaan Indonesia. Jika energy ‘kasih sayang’ sudah tidak dimiliki oleh para penguasa, kaum cerdik pandai, dan para pemuka-pemukanya, sudah pasti alam akan melakukan segala sesuatu yang menjadi urusannya. Alam akan membersihkan dirinya. Dan apakah akibatnya jika alam sudah menetapkan dirinya untuk melakukan itu. Maka tidak ada lagi tempat manusia untuk berpijak diatas muka bumi ini. Mereka harus menembus dimensi lainnya untuk menyelamatkan diri. Al qur an juga sudah mengisyaratkan kepada manusia dan jin, bahwa untuk menembus lapisan dimensi ini mereka harus memiliki kekuatan juga.

Kekuatan itu adalah energy Markaba. Wahai jamaah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus dan melintasi penjuru langit dan bumi, maka tembus dan lintasilah! Kamu tidak akan dapat menembus dan melintasinya kecuali dengan kekuatan.” (QS. Ar Rohman, 33). Dan diantara mereka-mereka (yaitu) bangsa yang pernah dihancurkan memiliki kekuatan itu. Mereka mampu melintasi penjuru langit dan bumi. Termasuk juga bangsa atlantis. Diantara mereka ingin kembali eksis dalam peradaban manusia. Karenanya banyak dari mereka kembali menyusuri lorong waktu agar bisa terlahir kembali. Sayangnya seiringnya waktu dan peradaban, raga yang mereka singgahi, telah mengkotori energy mereka. Mereka kemudian memasuki pusaran energy kelahiran dan kematian yang terus berulang. Menjalani karma mereka atas perbuatan yang tidak mereka sadari. Menjadi pembelajaran bagi raga terkini, bahwa ada Dzat yang mengawasi apapun yang mereka lakukan ini. Oleh karenanya tidak ada pilihan bagi mereka kecuali berserah, agar diri mereka mampu kembali meng akses Energy Markaba, atau Energy Kasih sayang-Nya yang berpusat di arashi. Maka mereka harus selau bertasbih bersama alam, agar mereka mampu kembali ke asal dimensi mereka itu. Inalillahi wa inailaihi rojiun. Mereka harus ber-Islam dengan ini.

Rasanya masih ingin terus disampaikan, bahwa alam akan selalu memperbaiki dirinya, jika dirasa energy Markaba sudah menipis.  Namun sebelum semua itu dilakukan alam juga memiliki system pemberitahuan dini. Mereka mengutus ‘entitas’ kesadaran yang lebih tinggi kepada bangsa-bangsa yang akan dihancurkan tersebut, agar mereka segera bertobat. Agar segera menyadari keadaan dan diri mereka sendiri. Jika entitas ini berhasil ‘memberikan informasi dini, maka setidaknya ada beberapa manusia yang bisa diselamatkan. Atau setidaknya alam kembali mampu mengakses energy Markaba, yaitu Energy Kasih-Sayang Tuhan. Cobalah baca petikan ‘kasih ‘ tak sampai dalam puisi diatas. Semua akan selalu menyoal ‘kasih sayang’, hanya saja salah dalam menempatkan objeknya saja. Namun sesungguhnya energy ‘kasih sayang’ itulah yang menghidupkan manusia. Rupanya energy tersebutlah yang sudah menghantarkan diri mereka melanglang buana. Mari kita baca lagi sebagian baitnya ;

Kenapa cinta tak abadi
Kenapa kau tak ada lagi
Sendiri mengembara kembali
Dalam dunia penuh ilusi
Hanya cinta pada Illahi sejati cintaku kini
Mengharap ridho dan kasih sayangNya yang abadi
 (By Gusti Putri Ratu Pambayun)

Jika kita gunakan hati, ada energy ‘kasih sayang’ yang luar biasa sekali terkandung dalam puisi itu. Momentum energy ini mampu menghantarkan jiwanya ke masa depan atau masa jauh sebelum peradabannya. Maka dalam hadist sering kita dapati pernyataan, jika pada suatu kaum masih ada orang beriman (cinta kepada Allah-pen). Maka  azab Allah akan ditahan sementara waktu. Sebab meskipun hanya satu orang yang ber-iman saja, orang ini akan mampu meng-akses energy Markaba. Selain itu orang ini juga akan mengajak kepada yang lainnya untuk melakukan hal yang sama. Diharapkan sedikit demi sedikit akses Markaba didapat lagi. Inilah konsep yang sebenarnya tengah dijalani para kesatria. Dengan keyakinan inilah mereka berusaha dan berjuang untuk mengkases Energy Markaba ini. Mereka berserah, mereka bertasbih bersama burung, gunung, dan seluruh galaksi, demi untuk mendapatkan Kasih-Sayang-Nya, ridho Allah atas bumi nusantara ini.

Sayang perjuangan ini tidaklah mudah, banyak entitas lain yang tidak mengerti mencoba menghalangi. Banyak diantaranya, bukan hanya dari golongan siluman, candala, dan sebangsanya saja, bahkan dari golongan manusia yang sudah menjadi antek-antek mereka, kerap memusuhi kesatria. Mereka memeiliki kepentingan pribadi disini. Mereka merasa terusik dengan energy kesadaran yang dimiliki kesatria. Mereka dalam anggapan bahwa kesadaran yang mereka bangun  akan musnah, dengan adanya energy kasih-sayang ini. Yah, selalu akan begitu di alam ini. Kesadaran kebaikan dan keburukan akan selalu ingin tampil menjadi paling utama di alam nyata ini. Keburukan menguasai maka kebaikan akan sirna. Kebaikan menguasai maka keburukan juga akan sirna. salah satu yang terlalu dominan akan menyebabkan ketidak seimbangan alam semesta maka semua harus dalam keadaan harmoninya. Memahami baik dan buruk harus dalam perspektih kehendak -Nya.

Pemahaman itu, entah mengapa seperti diminta untuk dihantarkan kembali. Agar nanti dapat menjadi pondasi spiritual para kesatria. Markaba adalah energy ‘kasih sayang’. Kasih sayang Allah inilah yang menjadi sebab keberadaan alam semesta ini. Inilah yang harus terus dipahami. Maka kemampuan para kesatria untuk menguasai dan dapat mengakses energy ‘arashi’ ini menjadi suatu keniscayaan. Sebab dengan begitu dirinya akan senantiasa berputar mengelilingi ‘arashi’ dengan kesadarannya.  Mereka diminta untuk bekerja sama dengan 'KAMI' yaitu seluruh entitas yang memiliki kesadaran tinggi yang berada di alam semesta ini. Entitas kesadaran yang lebih tinggi ini, semuanya menurut dan patuh kepada Tuhannya. Mereka bisa dimana saja, bisa menjadi siapa saja, bisa menjadi apa saja, untuk menunjukan kepada manusia tanda-tanda kekuasaan-Nya, agar manusia sadar. 

Kebalikan dengan kesadaran tinggi, Entitas kesadaran rendah adalah jiwa-jiwa manusia yang berkiblat kepada setan. Mereka sudah tidak ingat siapakah Tuahannya. Jiwa mereka yang rendah sudah tidak layak lagi disebut manusia. Jiwa mereka dianggap sudah tak bermakna bagi keberlanjutan sistem alam ini. Karenanya alam memiliki hukumnya. Sesuatu yang sudah mati akan dimakan oleh makhluk lainnya. Sebagaimana bangkai manusia akan habis dimakan bakteri pembusuk. Maka jiwa yang sudah mati akan menjadi santapan sang Sabdo Palon dan para danyang, merekalah system alam semesta itu sendiri. Maka bagi manusia yang mengerti tidaklah patut menyalahkan ‘Bakteri Pembusuk’ karena memang haknya demikian. Begitu juga sama halnya dengan hak sang ‘Sabdo Palon’, dia hanya patuh kepada Tuhannya. Menjadi system daya dukung di alam ghaib sana. 

Sebagaimana bakteri-bakteri pembusuk lainnya. Dialah yang akan membusukkan bangkai-bangkai jiwa manusia disana. Agar tidak memenuhi alam semesta ini.Begitu pulalah peranan Sang Sabdo Palon. Adakah manusia yang mau menjadi bakteri pembusuk ?. Jika mau, lakukan saja, jangan hanya berkomentar dan menjadi fitnah adanya.  Itulah bahasa sebuah symbol, maka terserah bagaimana kita memaknainya. Semoga manusia tidak resah karena ini, semua makhluk sudah ada bagiannya masing-masing.

Mas Thole diam merenung, dia menghela nafas, merasa bahwa episode kali ini dalam perjalanan spiritualnya, adalah episode yang terberat, walapun episode lainnya juga tak kalah beratnya, namun entah mengapa episode kali ini, menjadi pondasi yang sangat penting sekali bagi kesadaran anak manusia. Banyak sekali kesadaran kolektif yang berbenturan disana, banyak sekali kepentingan yang melingkupi pengambil alihan kekuasaan yang menjadi tonggak sejarah manusia harus diluruskan. Jika alih kekuasaan dalam suatu pemerintahan menuruti anggapan manusia, maka hasilnya adalah peradaban yang terus menerus dikakangi nafsu keserakahan. Nafsu-nafsu inilah yang re-inkarnasi kepada anak keturunan setelahnya. Begitulah kisah 'Dibalik Ryntuhnya Majapahit'. Kisah yang tidak terekam sejarah, sebab berada ditataran kesadaran para pelakunya sendiri.

Kisah Sabdo Palon adalah kisah yang menjadi bumbu atas sebuah kejadian. Kisah pembanding yang ingin mewartakan kepada manusia yang sadar bahwasanya ‘niat’ atas sesuatu, akan memberikan dampak di alam semesta ini. Niat yang tidak karena Allah pasti akan menyebabkan tragedi berikutnya bagi anak-anak manusia. Alam selalu patuh kepada Tuhan, alam hanya mengurusi apa yang sudah diperintahkan-Nya. Terlepas apapun sumpah Sang Sabdo Palon, dia hanyalah sosok makhluk Allah yang juga tunduk kepada hukum-hukum alam. Dan beliau sadar akan keadaannya itu, sangat sadar sekali. Beliau juga maklum adanya, banyak sekali kesadaran lain yang tidak mengerti dan memahami hal ini. Tugasnya hanyalah menjalankan apa yang sudah menjadi bagiannya. Sebagaimana juga manakala Nabi Khidir membunuh dan merusak kapal. Begitulah keadaan dirinya, dia hanyalah wayang yang siap digerakan oleh –Nya.

Kisah Nabi Khidir adalah hikmah yang diajarkan Allah kepada kaum Nabi Musa yang hanya mengedapkan logikanya semata. Dan kita umat manusia diminta belajar untuk menjadi manusia yang selalu berserah diri. Memiliki perimbangan dalam memaknai ghaib dan realitas. Memahami seluruh kejadian dari kacamata yang lebih jernih lagi. Maka patutlah ditanyakan, mengapakah manusia tidak mau mengakui keadaan dirinya sendiri. ?. Jika kondisi keislaman diri kita memang harus diperbaiki baik dalam niat dan dalam syariat, mengapakah tidak kita jalani saja. Mengapakah manusia masih terus berdebat, namun lupa esensinya ?.

Tidakkah manusia paham, bahwa ada Allah yang akan senantiasa menjaga seluruh alam ciptaannya. Maka bagi mereka yang sadar, cukuplah ambil hikmah untuk diri mereka sendiri atas setiap kejadian, sebab semua sudah dalam skenario-Nya. Maka patutkah kita menghakimi semua tokoh antagonis yang memerankan peran mereka masing-masing dengan sempurna ?. Sungguh sayang sekali, jika kita dibutakan atas ego dan sifat mau menang sendiri. Bila kita mengakui dan mau menelanjangi diri kita sendiri Serat Darmogandul hakekatnya memiliki kebenaran tersendiri yang sulit dipungkiri. Walau tata bahasanya seperti menghujat dan menghina. Hanya karena sebab kesadaran Islam pada saat itu belum siap menerima kritik, maka semua kesalah pahaman ini terjadi. Marilah sekarang kita lihat fakta di depan mata kita. Banyak sekali umat yang menggunakan atribut Islam senyatanya jiwanya tidaklah ber-serah (Islam). Negara kita masih menempati rangking tertinggi dalam korupsi, belum dalam aborsi, dan perzinahan. Bukankah kita memasuki jaman kegelapan lagi sebagaimana jaman sebelum Islam diturunkan ?.

Sayang sekali, banyak yang tidak tahu bahwa Sabdo Palon adalah seorang tokoh yang menerima Islam. Beliau   belajar Islam langsung dibawah didikan Ali bin Abi Tholib ra sendiri. Dia sendiri siap menjadi bagian tokoh yang kontraversi sebagaimana juga Syech Siti Jenar. Untuk menjadi pembelajaran anak cucu nanti. Untuk itu beliau siap diperangi. Sebab banyak orang yang mengatas namakan Islam namun hakekatnya mereka bukanlah orang Islam. Mereka tidak ber-serah sebagaimana para nabi dan rosul. Mereka mengikuti syariat namun jiwa mereka liar sekali. 

Sesungguhnya golongan orang Islam munafiklah yang akan diperangi oleh Sang Sabdo Palon. Golongan yang menghancurkan Islam dari dalam sendiri. Golongan yang hatinya sudah busuk. Jiwanya sudah tidak layak disebut manusia lagi. Maka yang memerangi Sang Sabdo Palon akan menjadi musuh bagi alam itu sendiri. (Yaitu) Golongan yang tidak patut lagi menjadi teladan umat muslim. Golongan yang tidak ber-akhlak, golongan yang tidak memiliki budhi pekerti luhur.  Golongan orang-orang seperti itulah yang akan menganggap Sabdo Palon sebagai musuh Islam. Maka meskipun mereka mengenakan atribut apapun alam tetap mengenali mereka dari energy yang mereka tampakkan. Alam sendiri yang akan mendatangi mereka dari muka dan belakang mereka sendiri. Tunggulah..sumpah sabdo Palon tidak pernah dipungkirinya !.

Sebab dia adalah  abdi alam,  'Sabda' sang 'Alam'  dia hanya menyuarakan kehendak alam atas harmonisasi, maka dia  diikuti oleh orang-orang yang sungguh-sungguh ber-serah kepada-Nya. Begitulah Mas Thole menjadi pewarta, mengkisahkan kejadian dari para pelakunya.

Walohualam

Bersambung..


Tidak ada komentar:

Posting Komentar