Kamis, 31 Januari 2013

Kajian Khalifah, Sejarah Perebutan Tuhan


Kejadian demi kejadian, peristiwa demi peristiwa, fakta demi fakta, begulir di setiap masa.  Bagai sebuah film yang dapat kita saksikan setiap saat. Sebuah film yang membutuhkan kearifan dan kejernihan bagi pemirsanya dalam menyikapi dan dalam  mengambil hikmah atas semua kejadian itu.
Setelah kekuatan Komunisme yang di motori Rusia hancur, praktis  tidak ada  kekuatan  penyeimbang di abad ini. Kekuatan AS dan sekutunya dengan leluasa merambah kemana saja yang dia suka. . Hasilnya, sebagaimana kejadian kisah-kisah terdahulu, fenomena yang muncul nyaris hanyalah  bentuk-bentuk pengulangan sejarah masa lalu. Yaitu bentuk-bentuk ˜pengangkangan  yang kuat terhadap yang lemah.  Mulai dari Kuwait, Indonesia, Irak,Libya, dan lain lainnya.  Praktis dimana ada umat muslim disitulah AS akan turut bermain di kancah politik Negara tersebut. Sudah jamak dan memang sudah begitu dari jaman dahulu hingga kini. Si kuat akan terus berusaha untuk semakin kuat. Si kuat akan terus memaksakankesadaran mereka agar si lemah mengikuti kesadaran mereka. Inilah kejadiannya.
Sebetulnya bukan hanya permainan si kuat dan si lemah saja. Namun jika kita telusuri lebih dalam lagi. Ternyata semua itu berhubungan dengan  eksistensi sebuah kesadaran dalam ber Tuhan yang harus di pertahankan oleh suatu kaum. Semakin kuat kekuasaan dan wilayahnya maka di harapkan akan meperluas dan memperkuat kesadaran ber Tuhan bagi kaum tersebut. Mereka akan semakin banyak pengikutnya. Mereka akan semakin banyak umatnya. Semakin kuat lah mereka. Inilah yang menjadi sasaran mereka. Maka karenanya, Negara yang kuat pasti akan berusaha melakukan infiltrasi terhadap kesadaran ini.  Mereka tidak akan berhenti sebelum kaum yang di taklukan mengikuti kesadaran mereka. Mengikuti gaya hidup mereka. Mengikuti Agama mereka. Mengikuti Tuhan-Tuhan mereka.
Jika kita amati ternyata konstelasi kekuatan politik kesadaran ber Tuhan sejak jaman sebelum Masehi hingga sekarang ini, nyatanya selalu sama. Yang membedakan hanyalah kekuatan siapakah yang sedang ber kuasa saat itu. Hegonomi kekuasaan yang  di pergilirkan selama  ber abad-abad dan juga setelahnya. Dimana semua kekuatan politik ini memiliki potensi yang sama untuk ber kuasa, hanya menunggu dipergilirkan oleh Tuhan. Jika kita petakan kuatan politik tersebut dapat kita bagi menjadi 3 kekuatan politik utama yaitu :
1.       Kelompok  yang mengenal dan mengakui  Allah adalah Tuhan mereka , dan ber Islam (ber serah diri).
2.       Kelompok yang mengenal dan mengakui  Tuhan mereka Allah namun tidak mau ber Islam (ber serah diri). Kelompok ini lebih mem per Tuhan kan akal dan nafsu mereka. 
3.       Kelompok yang tidak mengenal  Allah adalah Tuhan mereka. Kelompok ini tidak mengakui eksitensi Tuhan dan atau kelompok ini memper Tuhankan sesuatu yang dapat di gambarkan angan-angan mereka.
Di setiap masa ketiga kelompok ini selalu ada. Silih berganti ber kuasa dan menyebarkan kesadaran dalam ber Tuhan kepada manusia manusia di jamannya. Semakin kuat kekuatan mereka maka  akan semakin banyaklah pengikut dan umatnya. Semakin banyak umatnya, berarti kekuatan dan kekuasaan aka nada dalam genggaman mereka. Berarti eksistensi mereka akan diperhitungkan dalam dalam konstelasi politik dunia.
Tercata dalam sejarah Alexander Agung. Dengan kekuatan 43 ribu pasukannya menjelajah ke penjuru dunia dari Timur sampai Barat. Menaklukan bangsa-bangsa yang tidak ber Tuhan. Di banyak literature Islam menyamakan dirinya dengan Iskandar Dzulkarnaen, yang di ceritakan dalam Al qur’an yang telah berjalan sepanjang Timur dan Barat. Menaklukan hampir seluruh Asia dalam peperangannya yang berlangsung hampir 13 tahun. Dalam penaklukannya, tanpa di sadarinya, ekspansi tersebut  telah memasukan  kesadaran baru dalam ber Tuhan bagi manusia pada saat itu.
sehingga munculah Negara Yunani, yang pada saat itu menjadi Negara Adikuasanya. Kekuatan penyeimbang pada saat itu adalah Persia, kaum yang tidak mengenal Tuhan, mereka adalah kaum yang menyembah api. Selanjutnya pada masa berikutnya, Bangsa Persia kemudian mendapat giliran berkuasa, di sebabkan melemahnya bangsa Yunani yang terbuai dengan kemewahan dunia. Para pemimpinnya berbuat semena-mena dan hura hura. Mereka dengan mudah di hancurkan oleh bangsa Persia.

Setelah lama bangsa Persia menjadi kekuatan politik utama dunia, kembali mereka terjebak ke dalam kehidupan ber mewah-mewah sehingga lemah lah, pemerintahan mereka. Pada saat itu, muncullah kekuatan penyeimbang yaitu Romawi. Di kisahkan dalam Surah Ar Rum, bagaimana tentara Romawi akhirnya mampu mengalahkan pasukan Persia.

Cukup lama Romawi menjadi kekuatan politik utama, namun akhirnya sama saja kejadiannya. Pemimpin-pemimpin yang korup dan semena-mena, menganggungkan kehidupan duniawi membuat pemerintahan Romawi semakin lama semakin lemah , dan pecah menjadi Negara-negara kecil. . Pada saat itu muncullahkekuatan penyeimbang yaitu kemunculan Islam, di jazirah Arab yang tadinya tidak pernah di lirik sedikitpun oleh Romawi.
Melihat kemunduran pemerintahan Romawi. Kekuatan Islam menyerbu dan memerangi Negara-negara yang dulunya menjadi bagian dari Romawi. Dan banyak meng Islamkan Negara-negara tersebut. Melalui penguasaan dan kekuatan politik mulailah penyebaran  kesadaran ber Tuhan yang baru. La ila ha illalah di gaungkan. Pada masa itulah giliran Islam menjadi kekuatan politik utama, menjadi adikuasa di jamannya. 
Kembali pemerintahan Islam, juga mengalami hal yang sama seperti Negara Romawi, dan Persia. Pemerintahannya mulai melemah diakibatkan banyak pemimpinnya yang hanya memikirkan dunia saja. Saat itu muncul suatu kaum yang tidak ber Tuhan yaitu  tentara Mongol, yang kemudian  menghancurkan dan meluluh lantakan peradaban Islam. Sejarah  memutar  ber ulang kembali . Dunia kembali ke masa kegelapan ke jaman Alexander Agung. Dunia di kuasai oleh kekuatan politik dari kaum yang tidak ber Tuhan. 
Namun , kaum yang tidak ber Tuhan di kalahkan kembali oleh kebangkitan gereja. Hingga kaum gereja menjadi kekuatan politik utama sampai jaman ini. Seterusnya, Kemudian muncul kekuatan penyeimbang dari kaum yang tidak ber Tuhan, dalam bentuk baru yaitu paham Komunisme. Terjadilah perang dingin antara Timur dan Barat. Ketika saatnya Timur rontok, maka tidak ada penyeimbang lainnya yang cukup kuat selain Islam bagi mereka. 
Menjadi pertanyaan, apakah sejarah akan ber ulang kembali; apakah berikutnya Islam akan menjadi kekuatan politik utama. Mengingat rotasi pergiliran kekuasaan nampaknya seperti itu. Boleh sajalah kita ber mimpi. Namun kita lihat saja nanti kejadiannya. Kita amati apakah bangsa Libya mampu bangkit kembali dengan dienul Islam.  Kita amati apakah Bangsa Libya akan mampu membangun kesadaran Islam, di tengah intervensi AS dan sekutunya..?.  Sebaiknya kita doakan saja bersama.
Hmm..namun nampaknya masih menjadi kajian yang lebih serius lagi, mengingat penyebaran kesadaran ber Tuhan identik dengan penyebaran kekuatan dan kekuasaan politik. Kekuatan AS masuk kemana saja, merambah apa saja, dimana saja, kapan saja. Baik melalui informasi ataupun melalui kekuatan fisik; seperti kejadian di Irak, dan Negara-negara muslim lainnya.  Maka menjadi hal yang tidak dapat di sangkal lagi bahwa Kesadaran ber Tuhan kepada selain Allah SWT, tanpa terasa turut menyebar seiiring dengan masuknya AS dan sekutunya .Inilah yang perlu kita sadari.  Inilah yang perlu kita waspadai. Semoga rakyat Libya di selamatkan.
Marilah kita doakan semoga Khadafy tidaklah hanya sebagai symbol sebuah perubahan, bukan hanya sekedar Trophy saja, namun lebih berarti dari pada itu. Menjadi tonggak bangkitnya kesadaran bahwa kesadaran  LA ILA HA ILALLAH, harus dan wajib kita pertahankan dan kita jaga, bila mungkin terus kita sebarkan kepada manusia-manusia lain yang belum memiliki kesadaran ber Tuhan. Kesadaran ini harus terus kita turunkan kepada generasi-generasi kita. Hingga suatu saat Allah akan mem pergilirkan kembali kekuasaan tersebut di tangan Islam. Di tangan anak cucu kita. Suatu saat Islam kembali menjadi kekuatan utama dalam kontelasi politik dalam kesadaran ber Tuhan di muka bumi ini. wollohualam

Demikian kajian berangkai ini  di akhiri. TAMAT

Kajian Khalifah, Sistem Operasi Kerajaan


Begitu sederhananya sistem pemerintahan kerajaan Allah SWT, saking sederhananya sehingga malahan membingungkan orang-orang yang pinter. Akibatnya  manusia yang merasa sok pinter, menjadi terjebak ke dalam angan-angannya masing-masing. Mereka mengatur manusia yang di bawah kekuasaannya dengan semau-maunya sendiri. Bagaimanakah sebenarnya sistem tersebut. Marilah kita lanjutkan, masih di kajian 1. Semoga  bermanfaat.

Sebelum alam semesta terbentuk, telah di buat sistem operasional yang begitu luar -. Sebuah sistem pemerintahan yang mengatur seluruh dan segala kerajaan Allah. Semua telah diatur sedemikian rupa sehingga kita tidak akan mampu melihat kelemahan sedikitpun dalam sistem tersebut. Baik sistem yang mengatur keberadaan langit  dan bumi, maupun sistem yang mengatur hewan-hewan yang melata diatas nya. Serta juga, bagi hewan-hewan yang terbang di langit, ataupun juga perkisaran angin dan hujan. Dan lain sebagainya. Bentangan langit yang tujuh dalam kesempurnaan yang luar biasa.  Semua dalam keseimbangan yang sangat fantastik. Kita tidak pernah mampu melihat bagaimanakah sistem tersebut bekerja, namun kita mampu merasakan adanya sistem tersebut dan bagaimana akibatnya jika sistem tersebut terganggu.

"Kepunyaan-Nya lah siapa saja yang ada di langit dan di bumi. Semuanya hanya kepada-Nya tunduk." (QS. 30:26)

Allah telah menetapkan per undang-undangan dan peraturan kepada seluruh penghuni kerajaan-Nya. Telah ditetapkan dalam kehendak-Nya, bahwa seluruh alam semesta bertasbih kepada-Nya. Semua hanya dan harus tunduk kepada-Nya. Inilah hukum utama dalam sistem kerjaaan Allah SWT. Tidak ada tawar menawar. Baik suka rela atau terpaksa langit dan bumi tunduk kepada sistem ini. Mereka setiap saat bertasbih dan tunduk, hanya kita tidak pernah mengetahui tasbih mereka.

Apakah implikasinya jika ada manusia yang sudah di berikan kekuasaan untuk memerintah dalam kerajan-Nya, mewakili-Nya di muka bumi namun dia sendiri tidak tunduk kepada sistem ini..?. Bagaimana jika mereka mempersekutukan Allah SWT, mereka khianat kepada RAJA mereka. Mereka khianat kepada RAJA MANUSIA.  Mereka khianat kepada Allah SWT. Mereka membuat sembahan-sembahan lain. Membuat tandingan tandingan lain. Bahkan mereka malahan yang minta yang  di sembah-sembah. Walah.!. 

Manusia di minta menyaksikan sendiri bagaimana kesudahannya atas mereka, bagaimana sistem operasional bekerja secara sistematis menghancurkan dan menghukum mereka. Sistemlah yang menghancurkan mereka. Allah SWT tidak berbuat aniaya. Allah SWT telah memberitahukan kepada manusia adanya sistem yang diadakan-Nya tersebut di alam semesta ini. Sebuah sistem yang membatasi tingkah laku manusia. Sebuah sistem yang mengatur keseimbangan alam semesta. Keberadaan sistem ini, telah diberitahukan-Nya melalui para Rosul. Jika manusia tidak tunduk kepada-Nya maka sistem secara otomatis akan menghancurkan manusia itu sendiri. Bukanlah karena Allah yang kejam. Tapi manusialah yang di beritahu namun tidak mau mendengarkan. Manusia tidak mau memahami adanya sistem tersebut. Meski sudah di tunjukan bukti-bukti nya. Itulah Al qur’an yang di dustakan. Sebuah sistem yang meng operasikan alam semesta ini. 

Katakanlah: â€œAdakanlah perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”. (QS. Ar-rum : 41).

Allah yang menciptakan alam semesta ini. Maka hanya kepada Allah SWT semua makhluk tunduk. Inilah sebuah sistem, inilah sebuah kepastian bagi  umat manusia. Bagi orang-orang yang mau berfikir. Inilah sistem pemerintahan dalam kerajaan Allah SWT.  

 SOP (Standart Operation Procedure)

Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya,
(QS. al-Muddatstsir (74) : 38)

Inilah sistem pertanggung jawaban dalam  pemerintahan kerajaan Allah SWT. Setiap diri manusia bertanggung jawab langsung kepada Allah SWT. Tidak ada birokrasi yang berbelit-belit.  Inilah SOP nya.
Ketika manusia di berikan kekuasaan maka setiap diri akan mempertanggung jawabkan ‘kinerja’ mereka masing-masing kepada Dzat (Allah) yang telah mengangkatnya ke tampuk kekuasaan tersebut. 

Mulai dari Kepala Rumah Tangga, Kepala Rukun Tentangga (RT), Kepala Rukun Warga (RW), Kepala Kelurahan, Kepala Kecamatan, Bupati, Gubernur, Menteri, bahkan sampai Presiden sekalipun.  Semua wajib memberikan pertanggung jawaban atas kinerja nya kepada Allah. Karena Allah yang mengangkat mereka sehingga mereka memiliki kekauasaan atas manusia-manusia lainnya, yang di bawah kekuasaannya.

Namun sangat sedikit manusia yang mau mengakui ini. Sangat sedikit manusia yang tunduk kepada aturan ini. Mereka justru melakukan hal sebaliknya, dengan durhaka kepada Allah. 

Maka katakanlah :
Aku berlindung kepada Tuhan Manusia.
Raja Manusia.
Sembahan Manusia.
 Dari kejahatan (bisikan) setan yang biasa bersembunyi
 Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia
 Dari (golongan) jin dan manusia. (QS; An nas 1-6)

Teologi Islam telah mengajarkan dengan sangat sempurna sistem pelaporan dan pertanggung jawaban ini. Setiap hari dalam sholat 5 waktu, kepada diri manusia di persilahkan mempertanggung jawabkan, memberikan laporannya kepada Allah. Atas perbuatannya, atas kinerjanya hari itu, berdasarkan jabatan dan kewenangan masing-masing sesuai dengan kondisi mereka.  Dalam sholat yang sangat pribadi, melaporkan apa saja, merencanakan apa saja, mempertanggung jawabkan apa saja, dan mohon petunjuk selanjutnya apalagi yang harus di lakukannya untuk menyelesaikan tugas-tugas ke duniaan yang di bebankan kepadanya. Sehingga di harapkan manusia tidak berbuat menganiaya diri mereka sendiri.

Jika setiap diri melaporkan seluruh kinerjanya kepada Allah. Jika setiap diri memohon pengajaran agar mampu menjalakan tugasnya kepada Allah. Jika setiap diri selalu bersedia untuk diajari Allah. Jika setiap diri hanya mengabdikan dirinya hanya kepada Allah. Jika setiap diri melakuan persembahan, hanya menyembah Allah semata. Jika setiap diri berserah hanya kepada Allah untuk menjadi abdi-Nya dalam menjalankan pemerintahan-Nya. Jika seluruh elemen masyarakat, dan setiap diri  bergerak secara bersama-sama, sinergis, sistematis dan simultan ke arah itu semua. Maka yakinlah inilah kesadaran Islam yang sesungguhnya, menjadi rahmatan lil ˜alamin. Wallohualam.


Kajian Khalifah, Sistem Birokrasi Tuhan


Begitu sulitnya manusia mengakui bahwa Raja mereka adalah ALLAH SWT. Begitu peliknya kesadaran itu, sehingga  dengan angkuhnya manusia  tidak  mengakui bahwa yang menghidupkan dan mematikan mereka adalah Tuhan langit dan bumi. Begitu kuatnya sang ego  mengangkangi kesadaran mereka. Sehingga mereka begitu bangga dan puas  dengan anggapan mereka  sendiri; yang terus mengangkangi  anggapan bahwa kekuasaan yang mereka dapat adalah atas hasil jerih payah dan usaha mereka sendiri. Bukan atas rahmat dan kasih sayang Allah SWT semata.

Mereka enggan jika dikatakan bahwa kekuasan yang mereka dapat adalah atas karunia Allah SWT . Mereka tetap mengikari  bahwa yang mengangkat dan memberhentikan mereka dari jabatan (baca;kekuasaan) adalah Allah SWT. Begitulah nafsu manusia.

 Kesadaran yang terus berpilin melintas generasi. Menyebar diantara dinamika kehidupan anak-anak manusia. Mencari bentuk-bentuk baru. Melahirkan kesadaran terbarukan dalam ber Tuhan. Kesadaran ber Tuhan yang akhirnya menjadi komediti yang dapat di perjual belikan. Sehingga manusia menjadi sibuk dengan persembahan-persembahan yang di ada-adakannya sendiri .  Kepada Tuhan yang dirangkai  dalam angan-angan mereka. Kepada Tuhan-Tuhan yang  dapat mereka atur se enak mereka sendiri, sesuai dengan persepsi mereka. Semisal Latta dan Uzza. Kepada Tuhan yang dianggap mau menuruti keinginan, dan ego mereka. Kepada Tuhan buatan mereka sendiri . Kepada Tuhan produk angan mereka sendiri;  kepada Tuan seperti inilah manusia  memberikan persembahan terbaiknya.  

Mereka telah memberikan persembahan kepada Tuhan selain Allah SWT.

Sementara hukum Allah SWT , atas alam semesta dan segala isinya, adalah tetap sebagaimana adanya, tidak pernah mengalami perubahan, sebagaimana yang telah di tetapkan sebelum alam semesta terbentuk. Allah SWT adalah RAJA manusia, sesembahan  manusia, tempat manusia berlindung, kepada-Nya lah tempat bergantung semua makhluk, tempat meminta segala sesuatu. Kepada-Nya semua makhluk ber tasbih.

Manusia diharapkan menempuh jalan yang lurus.
Setiap diri manusia di harapkan ber Islam. Dalam kesadaran Islam
Bukan ter cover atau Kafir.
Setiap diri manusia di harapkan hanya menyembah Allah SWT.
Bukan menyembah kepada SELAIN ALLAH SWT .
Setiap diri manusia di harapkan ber serah diri (muslim)
Bukannya mendustakan.

Jika tidak begitu maka keseimbangan alam akan terganggu. Manusia tersebut akan di anggap semisal virus dalam komputer yang segera akan di pindai oleh system antivirus, akan di delete atau di hancurkan dari system komputer tersebut. Begitu jelas petunjuk ini, namun mengapa manusia begitu kesulitan untuk memahaminya.  Begitu sulit untuk lurus melakukan persembahan hanya kepada Allah SWT semata..?. Bagaimanakah kesadaran manusia terjebak ke dalam pemahaman yang menjerumuskan diri mereka ini ?. Bagaimana kejadiannya sehingga manusia melakukan persembahan kepada Tuhan selain Allah. Tuhan-Tuhan yang mereka ada-adakan sendiri. ?. Bagaimana menjelaskan hal ini.!

Munculnya Pemahaman dalam Kesadaran Manusia

Kesadaran manusia dalam ber Tuhan akhirnya terpolarisasi. Kesadaran tersebut dapat kita tarik menjadi dua kutub besar (mainstream) yaitu :

1.       Kesadaran ber Tuhan kepada Allah SWT
2.       Kesadaran ber Tuhan kepada selain Allah SWT

Di kisahkan dalam Al qur’an bagaimana Habil danKabil tersebut, berlomba  dengan cara masing-masing melakukan persembahan kepada Allah SWT, Tuhan mereka.    Dalam Surah Al Maa-idah ayat 27  : â€œCeritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): “Aku pasti membunuhmu!”. Berkata Habil: “Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertaqwa”. (QS. 5:27).

Di mulai dari kisah Habil dan Kabil. Manusia-manusia  pertama di muka bumi. Kesadaran manusia meluncur menyusuri masa demi masa, tirani demi tirani, berabad-abad lalu, hingga menebus batas milinium baru, abad informasi ini. Kesadaran ber Tuhan terus mengalami polarisasi. Beranak pinak tak ber kesudahan melahirkan paham, berbagai  isme dan isme lainnya.

Meskipun Kabil mengenal Allah sebagai Tuhan manusia, namun persembahan Kabil tidak di terima, disebabkan niat persembahan tersebut bukan karena Allah SWT. Kabil memberikan persembahan dengan maksud  â€˜membeli’ keridhoan Allah SWT; yang dimaksudkan agar Allah mau me ridhoi dirinya mengawini saudaranya, yang seharusnya menjadi hak Habil.

Tuhannya Habil ternyata tidak ber pihak padanya. Persembahannya tidak di terima, yang berarti dia tidak ber hak mengawini saudaranya tersebut. Kabil menginginkan Tuhan yang mau ber pihak kepada egonya, yang mau ber pihak kepada nafsunya. Tuhan yang mau di atur sesuai dengan seleranya. Maka saking jengkelnya, di bunuhnya saudaranya Habil, sebagai bentuk kekecewaannya kepada Tuhan. Kali pertama manusia menentang Tuhan. Kali pertama manusia, melakukan persembahan yang ditujukan (di niatkan) kepada selain Allah. Kabil meniatkan agar dia di kawinkan kepada saudaranya yang cantik yang seharusnya menjadi hak Habil. Inilah awal kejadian timbulnya manusia mengambil Tuhan selain Allah, yang telah diceritakan oleh Al qur an.

 Kesombongannya, kemarahannya, atas tidak di terimanya persembahannya, menimbulkan dendam. Jiwanya mengingkari hal ini. Kemarahannya kepada Tuhan, telah menjadi cikal bakal lahirnya Tuhan baru dalam angan-angan manusia.  Menumbuhkan kesadaran ber – Tuhan kepada selain Allah SWT, yang terus berkembang dan ber anak pinak melahirkan isme-isme lainnya. Menurun kepada generasi berikutnya, berabad abad setelahnya. Maka kita dapati dari keturunan Kabil, kaum yang mengingkari dan mendustakan para Rosul.

Sesungguhnya Allah hanya menerima persembahan dari orang-orang yang bertakwa. Kalimat Tuhan inilah yang menjengkelkan Kabil. Ego nya tidak mau mengakui hal ini. Mengapa hanya persembahan Habil yang diterima ?. Lebih baik manakah persembahannya di bandingkan dengan persembahan Habil..?. Bukankah lebih mewah persembahannya..?. Begitulah tanya sang nafsu Kabil.

Kesadaran ber Tuhan kepada selain Allah SWT, kemudian ber kembang demikian luar biasanya. Seiring dengan kebutuhan manusia akan  produk Tuhan-Tuhan baru, yang sesuai dengan kebutuhan manusia, di setiap zamannya. Maka di setiap peradaban akan selalu muncul Tuhan baru dalam bentuk  pemahaman-pemahaman baru.   Tuhan-Tuhan  mereka selalu ber adaptasi, begitu luar biasanya, maka kita kemudian mengenal pemahaman : Animisme, Dinamisme, Atheisme, Politheisme, Komunisme, Liberalisme, Hedonisme, Kapitalisme, Materialisme,Western-isme, Nasional-isme,  Fir’aun-isme, Alexander-isme, Napoleon-isme, Hitler-isme,  Khadafy-isme, Luna-isme, Ariel-isme, Ayu Ting-Ting-isme, dan lain sebagainya.  Dan masih banyak isme-isme lainnya yang berkembang sesuai dengan kebutuhan manusia akan produk  Tuhan dalam angan mereka.

Maka cerita ini masih terus berlanjut untuk mengkaji

Percaturan Pemahaman dalam Kekuasaan dan Pemerintahan
Maka kemudian, jika kita perhatikan peperangan, politik, kekuasaan dan pemerintah, selalu muncul diantara dua kubu;
 yaitu antara orang-orang yang menyembah dan ber Tuhan  Allah dan orang-orang  yang menyembah dan ber Tuhan selain Allah.

Dari sejak awal populasi manusia, peperangan selalu terjadi diantara dua kubu ini. Perhatikanlah bagaimana bangsa Yunani, bagaimana bangsa Persia, bagaimana bangsa Romawi, bagaimana bangsa Arab, bangsa Cina, bangsa asia dan lain sebaginya.    

Berlanjut…
Salam
arif

Kajian Khalifah, Kesadaran dan Peradaban


Rumit sekali menyusuri hal ikhwal kesadaran manusia yang tececer diantara keaneka ragaman budaya, aneka bahasa, yang terselip diantara gunung, lembah dan ngarai, diantaranya  masih terpisahkan sungai dan lautan. Terpisahkan secara letak geografi. Tersimpan rapat-rapat dalam dada manusia. Kesadaran manusia juga masih terpecah dan tercecer diantara perbedaan warna kulit, perbedaan suku, perbedaan  ras,dan  golongan serta agama masing-masing.  Terselip diantara keangkuhan dan ego anak manusia.  Menyebar diatas kebanggaan diantara  kejayaan nenek -nenek moyang  mereka masing-masing. Sungguh begitu rumit dan peliknya.

Namun  diseling diantaranya  itu,  ada kesadaran ber Tuhan yang lurus, yang hanya menyembah kepada Tuhan Yang Esa, Tuhan semesta Allam. Kesadaran ber Tuhan yang tulus, tersimpan diantara hati-hati yang bersih yang senantiasa menganggungkan Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa ber tasbih ber iringan dengan tasbih alam semesta, bersama makhluk lainnya.  Sebagai penyeimbang atas kesadaran lain-lainnya.  Kesadaran yang tak pernah di ridhoi-Nya. Yaitu; Kesadaran mungkar. Kesadaran yang menentang Tuhan. Kesadaran yang mendustakan para Rosul. Yang kian menggejala di setiap jamannya.

 Sejarah  peradaban masa lalu telah menceritakan kepada kita;  bagaimana penyebaran kesadaran manusia dalam ber Tuhan. Dari manusia satu ke manusia lainnya. Dari bangsa satu ke bangsa lainnya. Dari masa lalu ke masa berikutnya, dalam setiap peradaban umat manusia. Sungguh kita dapati nyatanya,  kesadaran manusia dalam ber Tuhan,  menyebar seiring dengan pertumpahan darah antar umat manusia. Seiring dengan penaklukan manusia atas manusia lainnya. Seiring dengan kekuasaan, seiring dengan kekuatan, seiring dengan kejayaan suatu kaum. Seiring dengan pelebaran wilayah, dan perluasan kekuasaan politik  dan penaklukan suatu bangsa oleh bangsa lainnya. Seiring dengan hilangnya jutaan nyawa anak manusia.

Mulai dari perang Mahabarata, Perang Yunanani dan Persia, Perang Persia dan Romawi, Perang Romawi dan Islam, Perang Islam dan Jenghis Khan. Terus peperangan menyusuri jaman jaman berikutnya. Kita dengar  Perang antara Sekutu dan Hitler, Perang antara Jepang dan Sekutu, Perang antara Israel dan Palestina. Perang Afhanistan. Kemudian kita dengar, Perang dingin antara Timur dan Barat. Masih banyak peperangan tersulut antar suku dan golongan yang merambah diantara semua itu. Peperangan yang mewakili dua kubu besar.

 Peperangan yang mewakili kekuatan politik atas kesadaran manusia. Antara kaum yang ber kesadaran ber Tuhan Allah SWT dan kaum yang ber kesadaran ber Tuhan kepada selain Allah.

Sekali lagi ; Kita tidak dapat memungkiri bahwa Kesadaran manusia dalam ber Tuhan nyatanya banyak di sebarkan melalui  peperangan, penguasaan, penindasan, dengan pendudukan atas satu kaum kepada kaum lainnya.  Penaklukan  suatu bangsa kepada bangsa lainnya. Bangsa yang memiliki kekuatan politik dan kekuatan angkatan perang, akan menaklukan bangsalainnya. Dengan membawa kesadaran baru kepada bangsa taklukannya. Semakin besar wilayah taklukan semakin uas penyebaran umat dan jamaah bagi kesadaran ber Tuhan milik bangsa tersebut. Jika suatu bangsa telah di taklukan maka, Bangsa yang ber kuasa akan melakukan infiltrasi ke dalam kesadaran bangsa-bangsa taklukannya. Inilah logikanya.

Dengan kekuatan, kekuasaan, kekayaan  dan politik, maka dengan mudah suatu bangsa akan merubah kesadaran bangsa taklukannya dalam ber Tuhan.

Oleh karenanya, sudah jamak; jika meluasnya kekuasaan suatu kaum atau suatu bangsa atas bangsa lainnya, membawa implikasi atas penyebaran kesadaran baru bagi bangsa lainnya. Suka atau tidak suka kita harus mengakui penyebaran Agama selalu diikuti dengan peperangan, pertumpahan darah antar manusia. Demi bertahtanya kesadaran diantara anak manusia. Mereka ber bangga-bangga dan ber megah-megah dengan banyaknya umat-umat mereka. Demikian fantastiknya kesadaran ber Tuhan yang diperebutkan diantara kekuasan dan politik manusia.

Pertempuran tak berkesudahan

Manusia senantiasa memperebutkan kesadaran dalam ber Tuhan. Sebagai fitrah manusia yang senantiasa membutuhkan Tuhan. Kebutuhan akan Tuhan dalam setiap peradaban menjadi suatu yang mutlak.Sebagai legitimasi atas kekuasaan mereka. Setiap manusia yang berkuasa akan meng klaim dirinya mewakili Tuhan dalam memerintah di dunia.  Maka tak heran jika banyak pemimpin manusia kemudian mereka-reka maunya Tuhan dengan cara mereka sendiri. Sehingga akhirnya kadang manusia tidak memperdulikan lagi ber Tuhan kepada siapakah dirinya. Apakah ber Tuhan kepada Allah atau ber Tuhan kepada selain Allah. Yang penting baginya adalah kekuasaan, kekayaan dan kejayaan bagi dirinya. Kesadaran manusia telah tercerai berai, terserak diantara lelah dan capainya realitas kehidupan yang dilaluinya.

Begitulah  percaturan dan pertarungan kesadaran ber Tuhan, senantiasa bertahta diantara bangsa-bangsa dari masa ke masa ber abad abad lalu dan setelahnya. Adalah perebutan kesadaran ber Tuhan kepada Alah SWT  melawankesadaran ber Tuhan selain Allah SWT . Sebuah pertempuran yang tak ber kesudahan hingga akhir zaman nanti.  Diantara anak manusia, diantara suatu bangsa dan bangsa lainnya, dalam setiap waktu, di setiap keadaan.  Bahkan pertempuran tersebut sudah tidak memperduli kan lagi apakah suatu kaum  masih beragama sama, ataukah diantara kaum  yang berbeda agama. Semua memperebutkan kesadaran dalam ber Tuhan. Inilah ironi anak manusia.

Maka dapat kita pahami jika  AS dan sekutu-sekutunya, melakukan invasi ke banyak Negara muslim. Setelah kaum tidak ber Tuhan (Komunisme) di runtuhkan. Mereka melakukan invasi dengan pelbagai macam cara. Baik secara halus ataupun terang-terangan. Baik invasi  melalui perang pemikiran ataupun melalui invasi angkatan perangnya. Sudah demikian keadaannya bangsa-bangsa dari jaman dahulu ber abad-abad lalu, melakukanpertempuran pemikiran dan kesadaran,  hingga kea bad ini, sekarang ini.

Pertempuran memperebutkan kesadaran manusia memang selalu saja terjadi di setiap jaman. Antara kaum yang ber Tuhan dengan kaum yang tidak ber Tuhan. Antara kaum yang ber Tuhan Allah dengan kaum yang  ber Tuhan selain Allah. Antara kaum yang ber Tuhan Allah dan berserah diri (Islam) melawan kaum yang ber Tuhan Allah namun membelakangi-Nya (semisal Yahudi dan Nasrani). Semua Memperebutkan umat dan jamaahnya.  Karena disitulah dibangun  pusat kekuasaan dan  kekuatan.  Pusat peradaban manusia. Kadang di suatu masa kaum yang ber Tuhan selain Allah SWT unggul, dan menguasai peta politik dunia. Namun masa berikutnya,  kaum yang ber Tuhan Allah SWT, yang memimpin dunia. Begitulah kekuasaan di pergilirkan diantara suatu kaum.

Pergeseran Kesadaran oleh Penguasa yang ber kuasa

Saat ini dewasa ini, kaum yang mengenal Allah SWT sebagai Tuhan mereka (namun  membelakangi-Nya), kini tengah mendapat giliran untuk ber kuasa dengan menguasai peta politik dunia beberapa dekade ini.  Tengah dibangunnya peradaban tekhnology, peradaban informasi, berikut angkatan perangnya, demikian luar biasanya. Namun seiring kemajuan tersebut, terjadi pergeseran kesadaran, yang  telah mengubah gaya hidup, pandangan hidup masyarakatnya, yang kesemuanya tengah mengarah kepada matrialisme. Sebuah pergeseran kesadaran yang tengah mengarah kepada kesadaran ber Tuhan selain Allah SWT. Pergeseran kesadaran yang semakin mengesampingkan Tuhan. Hal yang senantiasa terjadi,  pada suatu kaum yang ber kuasa. (Lihat Kajian 4).

Nampak sebagai ikutannya, sebuah kesadaran baru yang kita kenal sebagai Kesadaran Liberalisme menyeruak  membungkam kesadaran lainnya, melibas bangsa-bangsa taklukannya, dengan mendompleng kekuatan politik penyertanya. Mendompleng kekuasaan dan angkatan perangnya. Maka dapat kita saksikan, mulai dari afganistan, Paksitan, Irak, Indonesia, Kuwait, Libya, dan lainnya, semua tinggal menunggu gilirannya. Menunggu saat sang Adikuasa memainkan perannya. Saat sang adikuasa merambah apa saja, melibas siapa saja. Melakukan infiltrasi kepada kesadaran manusia. Tanpa dapat di cegah. Karena memang mereka sedang mendapatkan gilirannya berkuasa diatas dunia. Mereka sedang diberikan  kekuasaan  oleh sang Maha Kuasa. Maka terserah mereka, mau dibawa mana kesadaran ber Tuhan dari Negara-negara  taklukannya itu ?.   
Maka saksikanlah kesudahannya nanti . Apakah mereka tidak berjalan diatas bumi, bagaimana kejadiannya atas  kaum yang bertindak  seperti mereka itu. Kaum yang mendustakan para Rosul..?. Hmm..

Kesadaran ber Tuhan kepada Allah (Islam)

Di kajian sebelumnya telah diulas berkali-kali bahwa alam semesta membutuhkan keseimbangan. Keseimbangan atas  kesadaran manusia yang senantiasa menyembah Allah SWT. Kesadaran manusia yang senantiasa ber tasbih hanya kepada Allah SWT. Kesadaran manusia yang berserah diri (Islam). Sebagaimana makhluk lainnya di alam semesta ini. Kesadaran yang terus bersama menjaga agar alam semesta tetap keadaannya, agar waktu tetap bergetar, agar alam semesta terus terjaga dalam dualitasnya. Kesadaran manusia yang menjadi rahmat semesta alam. Rahmatan lil ‘alamin.

 Jika diantara jutaan anak manusia tidak satupun yang memiliki kesadaran ber Tuhan kepada Allah SWT. Jika semua orang, seluruh umat manusia ber Tuhan kepada selain Allah SWT, maka akan musnahlah seluruh umat manusia, di libas oleh system. Hancurlah peradaban manusia jauh sebelum saatnya . Inilah hukum Allah SWT. Oleh karenanya,  kesadaran ber Tuhan kepada Allah SWT harus tetap dijaga, demi kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri. Inilah pesan  yang ingin disampaikan Teologi Islam. Yaitu  kesadaran LA ILA HA ILALLAH. Agar manusia mengerti kewajibannya di muka bumi ini, agar senantiasa bahu membahu , saling mengingatkan, saling menasehati, dan bersabar dalam menjaga kesadaran ini.

Oleh karenanya, Kesadaran manusia  yang senantiasa ber Tuhan kepada Allah SWT,  harus selalu terjaga diantara anak manusia, di dalam hati dan dada manusia. Bagaimanapun caranya, agar umat manusia tidak musnah. Begitulah system, inilah sunatulloh. Maka dari itu,   Allah SWT, perlu mengirimkan utusan-utusan-Nya. Untuk mengingatkan dan memberi khabar tentang hal ini. Melalui manusia pilihan-Nya. Melalui Nabi-Nabi Nya yang Raja, Nabi-Nya yang  Panglima Perang. Melalui Nabi Nya yang rakyat biasa, dan lain-lainnya. Untuk menyampaikan pesan-pesan ini.

Mengingatkan kepada seluruh umat manusia. Mengkhabarkan tentang La ila ha ilallah. Tiada Tuhan selain Allah SWT. Inilah khabar dari para Nabi dan Rosul. Agar manusia selamat dan di selamatkan-Nya. Dan karena  kewajiban menyampaikan hukum inilah, maka para Rosul ber perang. Memerangi jutaan manusia yang kadung memiliki kesadaran menyimpang.  Memerangi manusia-manusia yang mengangkangi kesadaran ber Tuhan kepada selain Allah SWT.

Sudah barang tentu; Kesadaran menyimpang ini, harus terus di perangi,  sudah berlaku ketentuan ini dari ber abad lalu hingga memasuki melinium baru. Begitulah  tanggung jawab di bebankan kepada pundak kaum muslimin. Meski pun telah melayang jutaan nyawa manusia, meski telah luluh lantak harta benda dalam pengorbanannya. Kesadaran La ila hailallah harus terus di perjuangkan, demi kelangsungan hidup umat manusia itu sendiri. Kesadaran Islam harus tetap terjaga hingga akhir jaman nanti. Inilah pesan teology Islam. Inilah pesan para nabi dan Rosul.  Agar manusia selamat dunia dan akhirat. Demikian kalimat ini kami ulang-ulang. Sebagaimana keadaannya.


Salam
arif

Kajian Khalifah, Sistem Kekuasaan Dipergilirkan


Telah kita kaji system pemerintahan kerajaan Allah WT, bagaimana system pengangkatan jabatan, bagaimana system pengupahan (rejeki), bagaimana system pembagian kerja, bagaimana hiraki kepemimpinanya. Dan lain sebagainya , dan lain sebagainya. Semua itu dapat kita saksikan dengan kasat mata, seperti sebagaimana kita saksikan kehidupan manusia di dunia ini.  Bagaimana Allah SWT mengatur dan mempergilirkannya. Manusia berbangsa-bangsa, ber suku-suku, beraneka warna kulit, ada yang berkuasa dan jaya, ada yang miskin dan lemah, ada yang kaya dan ada yang miskin, ada yang pintar dan ada yang bodoh, dan lain sebagainya, dan sebagainya.

Dialah Allah SWT, adalah  RAJA MANUSIA, yang mengangkat dan memberhentikan mereka semua dari jabatan-jabatannya (baca; kekuasaan). Kemudian Dialah yang mempergilirkan kekuasaan itu kepada suatu kaum dalam suatu masa, pada suatu Bangsa. Untuk menguji kaum manakah yang paling baik amal dan perbuatannya. Maka kita pernah mendengar kejayaan kekaisaran Yunani, Romawi, Persia, Utsmani, Mongol, para Raja dari daratan Eropa. Merambah ke Cina, ada banyak dinasti Chin, dinasti-dinasti dari daratan China, masih banyak lainnya, dan lain sebagainya. Merambah ke tanah Jawa ada kekaisaran Sriwijaya, Majapahit, Mataram, dan lain-lainnya. 

Meluruh sejenak, jika kita amati, kita perhatikan; Kita juga akan mendengar bagaimana pola kehidupanmereka semua. He-eh..!.

Islam menghendaki kepasrahan, ber serah secara total, kepada diri manusia yang sedang memegang tampuk kekuasan. Mengakui secara mutlak terhadap system kepemerintahan kerajaan Allah SWT. Mereka semua mempertanggungjawabkan kepada Allah SWT. Hanya takut kepada Allah yang mengangkat mereka. Bukan malahan takut kepada lainnya. Kepada atasannya apalagi.

Dalam system pemerintahan kerajaan Allah SWT. Bukanlah jabatan yang membedakan kedudukan mereka di mata Allah. Bukanlah pangkat atau golongan. Dan bukan pula banyaknya upah (kekayaan) yang mereka terima, yang membedakan derajat mereka . Kita telah bahas, bahwa Allah SWT yang mengangkat dan memberhentikan mereka, dengan kalimat sederhana; semua manusia adalah karyawan Allah SWT. Pangkat, jabatan, kekayaan, kekuatan, dan lain sebagainya diberikan atas berkat kasih sayang, dan rahmat-NYA saja.  Jadi tidak mungkin jika Allah SWT, akan memberikan system penilaian, berdasarkan  hal ini. Suatu hal yang sangat mustahil. Maka sudah tentu, Allah tidak akan menggunakan, kepangkatan, derajat dan martabat,  kedudukan dan golongan atas diri manusia, sebagai tolak ukur penilaian keberhasilan mereka dalam menjalankan roda pemerintahan-Nya. 

Allah SWT telah menetapkan dalam sunatulloh-Nya (system) bahwa derajat kedudukan manussia di bedakan atas  KETAKWAAN,  bagaimana kesungguhan mereka dalam menjalankan perintah dan larangan-Nya. Apakah mereka mengikuti petunjuk Allah SWT, yang di sampaikan melalui para Rosul, atau malahan mengikuti nafsu dan ego nya sendiri. ?. Bagaimanakah saat manusia  tersebut diberikan kepercayaan untuk memegang kekuasaan atas nama Allah SWT. Apakah mereka ber serah diri (Islam) menjadi abdi-Nya. Atau malahan menjadi abdi syetan dan turunannya..?.

Dalam sholat ber jamaah dapat kita rasakan petunjuk  akan hal ini. Semua manusia dari kedudukan apapun bersama-sama menghadap Allah untuk melaporkan hasil kinerja mereka. Dari RT, RW, Lurah, Camat, Bupati, Gubernur, Menteri sampai Presiden. Perhatikanlah bagaimana jika mereka semua sholat ber jamaah. Perhatikanlah hati mereka yang bersama-sama menghadap Allah SWT.

Lihatlah, sesungguhnya dalam sholat berjamaah tidak ada perbedaan kepangkatan dan golongan atas diri manusia.  Inilah petunjuk Islam. Inilah kesadaran ber-Islam.
Pak RT akan bertanggung jawab dan dinilai sebagaimana  RT, Pak RW akan bertanggung jawab dan dinilai sebagaiman RW. Tidak mungkin, jika  RT akan diminta pertanggung jawaban sebagai Presiden. Hal yang sangat mustahil.  Begitu juga camat, Gubernur hingga Presiden akan di minta pertanggung jawaban dan di berikan penilaian atas kinerja mereka masing-masing, berdasarkan level jabatan mereka.  Mereka semua akan diberikan imbalan dan hukuman atas itu. Akan diperhitungan bagaimanakah kinerja mereka selama memangku jabatan mereka di muka bumi !.

Maka sungguh tidak ada perbedaan atas mereka semua. Semua diangkat karena Allah SWT. Semua akan mempertanggung jawabkannya di pengadilan Allah SWT. Tidak ada yang dirugikan sedikitpun. Dan Allah SWT telah menyiapkan syurga dan neraka bagi mereka semua.

Jika semua memiliki kesadaran yang sama, jika semua memiliki kesadaran bahwa mereka semua akan diadili atas kinerja mereka selama menjalankan roda pemerintahan kerajaan Allah SWT. Maka layaknya, jika mereka semua sadar , mereka akan memohon agar tidak diberikan jabatan saja. Karena sungguh berat tanggung jawab itu.  Sungguh, jika mereka tahu akan adanya pengadilan dan penilaian atas kinerja mereka nanti, pengadilan akherat, adalah HARI PEMBALASAN atas kinerja (baca; perbuatan) mereka. Sungguh mereka pasti akan memohon agar tidak diberikan tanggung jawab yang berat itu.

Maka kenapakah manusia masih memperebutkan jabatan dan kekuasaan..?. Tidakkah mereka tahu resikonya..?. Semakin tinggi level jabatannya maka semakin berat resiko yang meski mereka tanggung. Apakah mereka akan mampu  mempertanggung jawabkannya di hadapan Allah SWT.

Bukankah seharusnya semakin tinggi level jabatan mereka. Meraka akan semakin takut terhadap Allah SWT. Bukankah mereka akan semakin takut untuk berbuat semena-mena di muka bumi ini..?. He-eh..!.

Maka saya kemudian teringat anekdot yang  masuk ke HP saya melalui SMS. Sekedar untuk intermezzo saja.

Ada seorang anggota DPR yang mendatangi seorang Kyai untuk suatu keperluan. Seorang anggota DPR yang baru saja diangkat dan tengah bangga-bangganya dengan jabatannya tersebut. Sebut saja namannya Fulan. Maka terjadilah dialog antar mereka sbb;

Fulan   : “Pak Kyai saya mohon  bapak dapat menjawab pertanyaan saya dengan jujur. Saya dengar bapak adalah seorang  alim ulama yang terkenal dengan kearifannya.”
Kyai     : “Hmm Insyaallah nak”
Fulan   : “Lebih hebat mana saya sebagai anggota DPR dengan jabatan RT, RW atau Camat?”
Kyai     : “Jelas lebih hebat anda nak, sebab anda kan anggota DPR”

Jawab Pak Kyai cepat.

Fulan   : “Kalau begitu lebih hebat mana saya dengan Gubernur dan para Menteri ?”
Kyai     : “Wah..masih hebat anda lah nak..”
Fulan   : “Kalau begitu lebih hebat mana saya dengan Presiden pak..?”

Tanya anggota DPR tersebut dengan antusiasnya. Cupoing hidungnya mulai melebar saking bangganya dengan jabatannya tersebut.

Kyai     : “Hmm…saya pikir masih tetap hebat anda nak, karena andalah yang membuat peraturan, anda yang memberikan penilain atas Kinerja Presiden. ?”

Anggota DPR semakin bangga dan semakin puas dengan jawaban Pak Kyai. Kemudian dia menyambung lagi dengan pertanyaan.

Fulan   : “Kalau begitu lebih hebat mana saya dengan KPK pak Kyai..?”
Kyai     :  “ Ini lagi..!. Jelas lebih hebat anda lah nak. Bukankah Anda lah  yang menilai siapa-siapa orang-orang yang akan  duduk disitu. Kalian juga yang sanggup meng obok-obok mereka, sehingga kelimpungan..dsb ..”

“Wah..bener juga pak Kyai ini..” Batin anggota DPR tersebut. Semakin menggeloralah kebanggaannya menjadi anggota DPR. Sebentar  dia diam. Kemudian  tiba-tiba mengajukan pertanyaan lagi dengan semangatnya.

Fulan   :  “Heh..Pak Kyai..saya mau nanya sekali lagi nih. Lebih hebat mana saya dengan NABI ..?”

Pertanyaan yang  tak disangka membuat Pak Kyai tercenung sejenak . Kemudian beliau menjawab sambil menghela nafas getun.

Kyai     : “Saya rasa tetap lebih hebat anda nak. Kalau NABI masih takut sama Tuhan. Sementara anda sama sekali tidak takut sma sekali sama TUHAN.”

Deer..!. Hmm..!. 

Wallohualam.

Kisah Spiritual, Manakala Sang Ibu Menangis


Jembatan batu di sebelahku diam
Pancuran bambu kecil memercikkan air
Menghempas di atas batu hitam
Merintih menikam sepi pagi
Pucuk-pucuk cemara bergoyang-goyang
Diterpa angin dingin bukit ini
Seperti mengisyaratkan doa
Rahasia alam diam di sekitarnya
Di sini pun aku mencari Engkau
Setiap kali ku panggili namaMu  (Lolong by Ebiet G Ade)

Biarkan aku menangis, bila dengan tangisku akan merubah kesadaranmu. Bila dengan tangisku akan menumbuhkan kasih sayangmu. Mas Dikonthole terdiam, dan berkata meradang. "Lihat Ibuku sedang menangis, lihatlah Ratuku sedang menangis. Dia sang Ratu Sima,  sedang bersusah hati, air matanya berlinang, emas intan entah kemana menghilang." Dia Ibu dari anak-anak bangsa ini. Menangisi keadaan negri ini. Menangis anak-anaknya yang baku hantam, dari dahulu hingga sekarang hanya menyisakan badai dan pedang, yang menikam dada, memporak porandakan apa saja. karenannya alam sekarang luluh lantak dibuatnya.

Terbentang di sepanjang mata memandang, air menerjang terjang, membawa apa saja dari hulu sungai. Seputar bantaran kali Jakarta, perkampungan Kampung Melayu, dari hulunya hingga ke hilir. Banjir menghadang. Semua terjadi hampir di seluruh kota-kota nusantara. Musim hujan telah tiba. Sungguhkah hujan adalah berkah alam semesta kepada manusia. Nyatanya, tak sedikit harta benda tersita, terbawa amuk bah. Bilamanakah jika yang  tersisa hanya nelangsa ?.

Di sini pun aku mencari Engkau
Setiap kali ku panggili nama
Mu
Namun selalu saja hanya gema suaraku
yang terdengar rindu

Bila sudah begini kucari Engkau Ya..Allah. Tuhan semesta Alam yang mengatur jalannya roda kehidupan. Berteriak memanggili nama-MU. Meski hanya gema suaraku. Meski hanya pantulan nada bisu. Hingga pekik menyesak di dada. Menikam jantung.

Darimana mata rantai semua ini..?
Dimana harus aku belajar..?

Dalam penatnya hidup, masih ada saja air bah yang mendera raga. Nanti entah apalagi..?.

Di dera kemiskinan kota, adakah tersisa iman di dada..?.
Setiap detik setiap waktu, masalah demi masalah tak pernah usai, persoalan demi persoalan tak pernah lekang, cobaan demi cobaan menerjang satu satu. Selesai satu datang seribu. Hingga waktu tak terasa, kudapati wajahku letih dan tua.
Selalu saja ku panggili nama-MU. Namun selalu saja hanya gema suaraku. Sungguh aku rindu pada MU.

Biarkan saja aku menangis, bila saja air mataku, akan mampu mengubah kesadaranmu. Disana di dataran tinggi, hutan sudah tak ada lagi, mengalir air tak terkendali. Di sini di saluran air. di kanal kanal sungai, di kanan kiri tebingnya dan juga di  ujung muaranya, nampak sisa-sisa sampah kota, beserta bangunan kumuh tak tertata menyumbat alirannya, dibantaran kalinya. Hidup tak nyaman lagi, hidup tak bersih lagi.

Jikalau hidup sudah di dera problematika seperti ini.  Mau apalagi..?. Apakah masih ada waktu untuk duduk sejenak mengingat-NYA. Bahwa kebersihan adalah sebagian dari Iman, adakah yang peduli. Tidak..!. Tidak sekarang atau nanti. Entah kapan lagi kita peduli. Tak ada yang peduli.

Kita tak peduli kebersihan itu, sebab hidup sudah susah begini. Rejeki yang haram saja susah apalagi yang halal..?!?. Huh..!. Sepanjang semua itu tak menganggu rutinitas kehidupan kita, memang untuk apa peduli..?. Bikin kerjaan aja.  Lue – Gue End..!. Hik..!.  Itulah nafsu manusia.

Sementara di belahan dunia sana, kita dapati sekelompok masyarakatnya, yang tidak pernah mengenal Islam. Nyata-nyata telah menjaga kebersihan lingkungannya. Jika kebersihan adalah sebagian dari Iman, layakkah kita di sebut ber-Islam ?.Layakkah diriku di sebut ber-iman..?. Apakah kita telah ber-Islam. Karena nyatanya sebagian iman kita telah hilang. Hilang karena tidak menjaga kebersihan. Kita harus meng-Imani bahwa kebersihan adalah bagian dari ke utamaan Islam.  Layaknya kita berkaca atas ini, dari kaum-kaum yang lain, yang lebih dahulu melaksanakan hal ini dari pada kita.

Maka untuk itu, biarkan saja aku menangis, menangis yang amat dalam. Jika aku tak mampu berbuat apa saja, untuk merubah itu semua. Kejadiannya sudah berulang puluhan tahun. Sejak lahirnya negri ini. Maka biarkan saja para politikus kota yang menanggapi keadaan itu, sesuai dengan kepentingan mereka sendiri. Bernyanyi entah lagu apa saja yang mereka suka. Diantara sedih dan nestapa masyarakat kota. Seperti kodok yang bernyanyi saat hujan tiba. Ber sorak sorai, bila musim pencalonan tiba.

Biarkan saja jika,  Inilah saatnya, mereka datang menyambangi korban luka, terseret air. Di makan banjir. Biarkan saja, jika mereka mendatangi korban yang berlindung dari derasnya air yang menggenang separuh rumah mereka.  Biarkan mereka berkata apa saja, setelahnya terserah kita, anda, aku , kamu , atau mereka, yang mau memaknai kunjungannya.

Meskinya bentuk kepahlawanan yang patut kita apresiasi. Itukan yang mereka para petinggi bisa. Bilakah kita bisa..?. Walau kadang terasa miring, terasa miris bagi telinga kita, akan maksud kedatangan mereka. Tak apalah. Bila kita lurus saja, masih untung ada yang peduli kepada mereka, masyarakat kota yang terkena bencana, setidaknya begitu. Dari pada saya..?!?. Ups..!.

Maka wajar saja, jika kemudian aku berteriak, atas ketak berdayaan ini. Kenapa kekuasaan belum dipergilirkan kepada manusia-manusia yang amanah..?. Belum di berikan kepada wali-wali-MU yang sholeh. Kenapa aku juga terlibat konspirasi di dalamnya, menjadi saksi, menjadi saksi ulah mereka ?. Di setiap kota yang terlewati, dan ku sambangi, selalu saja ada sakit dan ketidak adilan manusia atas manusia lainnya. Ketidak adilan penguasa atas rakyatnya. Siapakah yang peduli atas mereka, inilah ketidak adilan yang merata. Sila kelima dari Pancasila kita. Sungguh ketidak adilan yang merata  bagi rakyat Indonesia telah tercapai. Inilah sukses bangsa kita.

Jembatan batu di sebelahku diam
Pancuran bambu kecil memercikkan air
Menghempas di atas batu hitam
Merintih menikam sepi pagi

Ke-diam-an ini, kediaman rakyat, kediaman penguasa, kediaman alim dan ulama, kediaman orang siapa saja, kediaman alam semesta, menakutkan ku !. Apakah alam sedang mempersiapkan rencananya. Mencari titik keseimbangan baru, agar roda hidup dapat berputar. Agar angin tetap bertiup dari dataran tinggi ke dataran rendah. Agar siklus iklim sebagaimana keadaannya. Agar hujan dapat turun lagi dengan sempurna. Apakah yang di persiapkan alam dewasa  ini..?. Alam dalam bisunya..!. Sungguh menakutiku..!.
Bagaimankah alam memperbaiki kerusakannya..?. Apakah akan menutup permukaan bumi ini dengan tanah-tanah baru, dan mengubur manusia-manusia di atasnya. Sebagaimana kisah-kisah peradaban dahulu yang hilang lenyap..?.

Sebagaimana kaum Luth, kaum Tsamud yang di ceritakan Al qur’an kepada kita..?. Sebagaimana juga juga peradaban suatu kaum lainnya yang hilang dengan misterius, yang kita ketahui lewat ilmu pengetahuan. Begitukah nanti keadaannya..?.

Jika manusia sudah tidak peduli, jika manusia membuat kerusakan-kerusakan lagi. Jika manusia sudah tidak arif lagi, jika manusia tidak takut lagi kepada hukum alam dan yang menyertainya. Jika manusia tidak takut akan adanya hari pembalasan atas perbuatan-perbuatan mereka di dunia. Maka biarkan saja aku menangis, jika dengan tangisku, akan meringankan ketakutanku akan ini. Karena hanya ini yang aku bisa. Selebihnya aku hanyalah bagian dari komunitas masyarakat ini. Aku adalah bagian dari bangsa Indonesia, bahkan bisa saja aku seperti mereka itu.

Riuhnya malam sepinya pagi

Maka wajar saja, jika aku berteriak di tengah malam. Itu hanya sekedar untuk mengurangi beban yang memberat di kedua pundakku. Aku ingin segera bertemu dengan pagi, untuk ku cumbu, untuk ku canda. Untuk ku khabarkan hasil perenunganku. Bahwa kotaku kini sudah tak rapi lagi. Lalu lintas sudah demikian acaknya. Masuknya investasi asing di seluruh sendi-sendi kehidupan,menyebabkan ini semua. Deregulasi kredit konsumtif memicu meningkatnya kepemilikan kendaraan ber motor yang fantastik , menyebabkan kemacetan yang semakin menggila, membuat perilaku pengguna raya yang semakin se enaknya. Siapakah yang repot..?. Kalau bukan anak cucu kita nanti. Siapakah yang di untungkan,jika bukan pemodal asing..?. Investasi asing. Siapakah lagi jika bukan Jepang, Amerika, dan Negara-negara Eropa lainnya. Sosok di belakang mereka kaum Yahudi dan Nasrani.  Bukankah ini, bentuk penjajahan model baru..?. 

Revitalisasi perusahaan pemerintah oleh asing tak menyisakan apa-apa bagi bangsa. Disana sini di bangun pusat-pusat perbelanjaan yang super megah. Coba bandingkan dengan Negara maju lainnya, berapa gelitir mall yang ada di Negara mereka. Mereka justru sangat selektif memberikan ijin bagi masuknya penjualan retail di Negara mereka. Jumlah mall di atur sedemikian rupa, disesuaikan dengan kondisi Negara mereka. Itu disana !. Bagaimana di negara kita. Sekarang ini, demi globalisasi, setiap pelosok kota, di sudut-sudutnya, sekarang di bangun mall-mall. Tak peduli apakah masyarakat kita sudah siap menerima kehadiran mall tersebut atau tidak. Tidak peduli apakah kehadiran mereka akan merubah perilaku masyarakat atau tidak, tak peduli, tak peduli, sungguh politisi dan petinggi negri ini tidak pernah memikirkan, tentang apakah perilaku bangsa ini mau jadi seperti apa. Di biarkan akhlak bangsa ini, menggelinding bagai bola panas, yang siap membakar apa saja.

Dibiarkannya mall-mall di bangun di setiap sudut kota. Di biarkannya anak-anak kita bermain disana. Meninggalkan masjid dan pengajiannya. Sungguh, kehadiran mall-mall di sekeliling kita, menghadirkan mimpi baru bagi cinderellla-cinderalla kita. Tahukah kita, kalau begitu, mimpi telah kita tambatkan di otak si kecil anak-anak kita, tentang kemegahan dan kemewahan kota, dan tentang bagaimana menikmatinya. Bukankah bisa diatur perimbangannya saja, jumlah penduduk dan kebutuhan mall-nya. Namun siapakah yang peduli..?.

Bagaimana dikatakan, Bumi, air dan udara, serta isinya akan di pergunakan untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia. Bukankah hanyalah retorika, nyatanya bangsa ini masih seperti dahulu kala, terjajah harga dirinya. Tak mampu bersuara, memperjuangkan bagaimana akhlak bangsa, generasi penerus bangsa,  anak-anak kita.

Kebijakan tidak pernah ber pihak untuk pembangunan akhlak manusia. Tidak pernah berpihak untuk membangun kesadaran peradaban manusia yang lebih tinggi. Kesadaran yang saling menghargai, kesadaran yang saling peduli, saling mengingatkan, saling mengkhabarkan dalam kebaikan. Kesadaran Islam telah  di tinggal di pojok-pojok mesjid tua. Kini usang dan ber debu. Siapakah yang peduli..?.

Sang Durna membawa murka

Kapitalisme menjadi ikon nyata pertumbuhan kota. Kemudian lahirlah para Durna di Ibukota. Lihatlah kemudahan kredit dari segala kebutuhan alat-alat rumah tangga, dari telivisi,  kulkas, hingga meja dan kursi. Dari  motor, mobil, komputer, hingga hand phone, semudah membalik telapak tangan untuk mendapatkannya. Cukup punya KTP, dan punya biaya untuk fotokopi, maka motor sudah menjadi milik anda. Begitu mudahnya..?. Siapakah yang tidak tergiur..?. Apakah ini symbol kesejahteraan masyarakat kota..?. Apakah ini kebijakan yang kita suka..?. Ahaa..!. nanti dulu..?.

Dibaliknya, setelah kemudahan tersebut di dapatkan, Ibu-ibu menangis, mereka ketakutan pada saat akhir bulannya, rasa was-was apakah mampu membayar angsurannya. Para bapak membabi buta mencari rejeki dari mana saja. Tidak yang halal yang harampun sudah biasa, tak apa. Itu lebih baik dari pada berurusan dengan orang-orang gahar, itulah nanti kejadian yang akan mereka terima jika tidak mampu mamput membayar angsuran.

Setiap hari perbincangan para bapak, di seputar kita,  adalah tentang motornya yang mau di tarik. Tentang bagaimana mereka bersitegang dengan para debt collector. Para Ibu mengunci rumahnya,pada saatnya tiba. Berbisik-bisik degan tetangga saking malunya, jika kedapatan tak mampu membayar angsuran. Perilaku masyarakat telah berubah , sifat masyarakat tanpa di sadari telah bergeser.  Perangai masyarakat menjadi mudah panas, menjadi mudah tersingung, karena setiap hari harus di himpit dengan kebutuhannya. Di jepit hutang-hutangnya, yang sesungguhnya tidak pernah mereka pinta. Karena hanya kebijakan pemerintah saja, yang menyengaja demikian, mereka kemudian ikut serta mengambil kredit itu. Kerana mereka di buat untuk seperti itu, di kasih kesempatan,ya di terima saja.

Setiap keluarga di Indonesia dengan terpaksa, sekarang ini,  harus mampu mengelola hutang-hutangnya. Pengajaran yang aneh bagi masyarakat kota. Setiap keluarga harus belajar ber hutang.Karena kalau tidak akan kalah dengan tetangga sebelah. Begitulah deregulasi, membawa dampak kemana-mana.  Setiap keluarga di Indonesia di pastikan sekarang ini punya hutang. Untungnya saya juga tidak ketinggalan dalam menabung hutang. Terima kasih. Hik.. (He…he..).

Kesadaran yang bergeser 

Sifat nrimo sebagai budaya jawa , sekian lama kemudian  terkikis, di gerus ketakutan akan angsuran kredit setiap bulannya. Masyarakat menjadi membuta, kerja keras tak ingat keluarga. Kesadarannya hanya satu, bagaimana mempertahankan kenikmatan yang sudah di dapatnya dari alat-alat yang sudah di kreditnya. Demi gengsi, demi kenikmatan fasilitas tersebut, demi strata sosialnya. Demi kapitalisme dan perkembangan kemajuan jaman,semua dilakukan oleh masyarakat kita. kesadaran manusia di dera dan terus di dera untuk memenuhi kewajiban hutang-hutangnya. Kapan jiwa di hadapkan kepada Tuhannya..?. Masihkah ada waktu bagi masyarakat kita, kaum urban di Ibukota..?. Menghadapkan dirinya kepada Allah semata..?. Siapakah yang peduli..?.

Dan kita lihat, bagaimana kesudahannya, ketika kesadaran manusia hanya berada di satu sisi, kesadarannya hanya diperuntukkan bagaimana mencukupi kebutuhan hidup, kebutuhan akan angsuran kreditnya,di hadapkan kepada selain Allah.  maka sudah dapat di prediksi, jiwa kita akan senantiasa berada di situ, jiwa kita akan senantiasa berhadapan dengan itu. Itulah bentuk-bentuk TuhanTuhan baru di era peradaban ini. Persembahan mereka hanya kepada itu.

Bagaimana kondisi jiwa jika selalu di hadapkan kepada Tuhan selain Allah. Tentu saja, Jiwa akan merana, jiwa akan tersiksa, resah , gelisah, muncullah perilaku-perilaku tak semestinya. Dan bangsaku kemudian berubah. Berubah menjadi ganas, berubah menjadi beringas, berubah menjadi tak peduli.

Mestikah aku menangis lagi, jika airmataku saja, sudah habis untuk kali ini. Kapankah lagi aku sanggup bercumbu bersama pagi, jika Ibuku menangis lagi.Menagisi tanahnya yang sudah tak cantik lagi. Menangislah  Ibu pertiwiku ?. Indonesiaku, siapakah yang sekarang peduli..?.

Maka biarkan  saja, jika  sekarang ini aku berkata, sebelum datang ujian bagiku, karena setelahnya belum tentu aku bisa berkata begini. Apakah nantinya aku sanggup menggantikan posisi-posisi petinggi negri , menggantikan mereka..?. Ugh..!. nanti dulu, janganlah Engkau uji aku ya..Allah. Sungguh itu bukan bagianku. Nah, maka biarkan dan ijinkan saja sekarang aku seperti ini saja. Mengomentari apa saja, yang ku lihat dan ku dengar. Sebatas mengurangi sesak di dada atas keadaan ini.

Sudahlah, sekarang ini aku hanya sanggup berdoa, agar Allah menurunkan orang-orang yang ahli di bidangnya masing-masing, yang ahli dalam mengurus semua itu, dialah lelaki yang datang dari sorga, yang akan menjadi wali Allah di muka bumi ini. Di bumi pertiwi tercinta kita ini nusantara.

Mas Dikonthole terdiam lagi, dalam kesedihan yang membalut. Tak bersuara, sebab suaranya telah hilang tertelan bumi bersama surutnya banjir kemarin pagi.

Tetapi  ternyata  ia  lebih  banyak  berjalan  dengan  pikirannya
Dia  jelajahi  jagat  raya  ini
Dengan  telanjang  kaki  dan  tubuh  penuh  daki
Meskipun  ia  lebih  lapar  dari  siapapun
Meskipun  ia  lebih  sakit  dari  siapapun
Ia  menempuh  lebih  jauh  dari  siapapun
Meskipun  ia  lebih  miskin  dari  siapapun
Meskipun  ia  lebih  nista  dari  siapapun
Tetapi  ternyata  ia  lebih  tegak  perkasa  dari  siapapun
Ia  lelaki  ilham  dari  sorga
Ia  lelaki  yang  selalu  berkata
Bahwa  kita  pasti  akan  kembali  lagi  kepada Nya.

(Lelaki Ilham dari Surga by Ebiet G Ade)

Wallohualam

Salam
arif