Minggu, 06 Maret 2011

Kebaikan Diantara Kebenaran

Konsepsi Kebenaran
Masih melanjutkan bahasan pada Kajian 2; Hampir semua golongan menyatakan kebenaran akan ajarannya. Kebenaran akan tindakannya. Islam sendiri dengan tegas menyatakan  kebenaran atas dien-nya. Pernyataan ini membuat gerah sebagian penganut agama lainnya. Pernyataan dalam al qur’an yang meng-kafir-kan orang dan juga sebagian golongan atas golongan lainnya; di klaim sebagai pernyataan yang memicu perselisihan dalam memperebutkan klaim kebenaran. Siapa benar dan siapa salah. Siapa kafir dan siapa muslim. Kemudian berkembang menjadi siapa kuat dan siapa lemah. Kebenaran kemudian menjadi identik dengan kekuatan. Akhirnya dengan ‘kebenaran’ model seperti ini , setiap kelompok menyusun kekuatan untuk mendukung produk ‘kebenaran’ tersebut. Maka munculah pemerintahan dan kelompok-kelompok ‘egaliter’ dengan kekuasaan model seperti ini. Benarkah sejauh itu..?.

Kebenaran hakekatnya berada dalam dimensi keyakinan kita, sementara hakekat  keyakinan dapat bertumbuh seiring  dengan; dan merupakan resultan atas  ilmu-ilmu yang dicapai. Ilmu diperoleh dan berkembang atas dasar  referensi, obeservasi, pengamatan, meditasi, kontemplasi, dan serta keseluruhan aspek yang baik sengaja atau tidak telah melatih instrument ketubuhan kita.  Konstilasi tersebut membuat kita menjadi paham, dipahamkan, disadarkan atas sesuatu hal. Atas kebenaran itu sendiri. Keunikan  nilai Kebenaran; adalah dikarena keberadaannya yang senantiasa selaras dengan hati nurani; selaras dengan keyakinan  dan atau selaras dengan fitrah manusia itu sendiri.

Jika konsep kebenaran sesungguhnya  selaras dengan hati nurani dan fitrah manusia, bagaimana menjelaskan;
Konsep kebenaran seperti apakah yang di perebutkan, dan  yang di klaim..?
Mungkinkah bentuk-bentuk kekerasan atas nama agama (di televisi) adalah sebuah konsep kebenaran..?.
Benarkah kebaikan yang ditampilkan  (di televisi) adalah sebuah  konsep kebenaran..?.
Apakah masih dapat disebut kebenaran jika   tidak   memiiliki nilai  kebaikan..?.
Lantas mengapa setiap orang dan setiap golongan ingin merasa benar..?.
Mengapa begitu enggannya diri kita menyatakan kalau kita salah..?.
Dimanakah dimensi salah dan benar ..?
Mengapa orang kemudian menjadi begitu bangga jika dirinya benar..?. Hingga berbangga-bangga dengan ‘kebenaran’nya..?. berikut berbangga-bangga dengan golongannya, dengan nenek moyangnya..?.
Begitu berharga dan bernilaikah ‘kebenaran’ tersebut, hingga manusia memperebutkan dengan segala daya dan upaya mereka..?.
Dan lain-lain, dan lain-lain…???

Kebenaran yang dipertanyakan..(?)
Masih banyak pertanyaan.; maka meski kita kumpulkan seluruh manusia dan seluruh kitab untuk membahas ‘kebenaran’ perihal sesuatu; yakinlah itu, tidak akan menghentikan manusia untuk mempertanyakan hal ihwal  ‘kebenaran’ tersebut. Sekali lagi,. Sekali lagi dan lagi..!, dan mereka dengan suka cita bertanya lagi, mempertanyakan itu lagi, tidak akan berhenti. Sebelum lawan biacara mereka mengalah atau mengakui akan ‘kebenaran’ produk ‘ego’ mereka.  Mereka selalu berupaya agar semua manusia mengikuti ‘kebenaran’ mereka. Inilah pola kerja ‘akal’ mereka.

Nah, bagaimana kesudahannya ketika ‘kebenaran’ produk manusia berhadapan dengan berita ‘kebenaran’ berdasarkan wahyu illahi..?. Al qur’an kemudian meng-kisahkan bagian tersebut. Bagaimana kaum Ad, kaum Luth, kaum Nuh, Bagaimana kaum Israel,  serta para  para ahli kitab, dan lain-lainnya. Bagaimana  kesudahannya, dan bagaimana dengan perilaku mereka, kesadaran mereka, keyakinan mereka, dan bagaimana kita melihat akhir dari  ‘kebenaran’ dalam konsepsi mereka; dan bagaimanakah tingkah polah mereka; yang bersunguh-sungguh; mempertaruhkan hidup dan mati, dalam menantang ‘kebenaran’ wahyu yang di bawa para nabi dan rosul..?.  Bagaimana saat dengan kepongahan mereka meminta diturunkan azab dan minta disegerakan kiamat, dan lain sebagainya, dan  sebagainya. Sungguh sekarang kita dapat membaca kisah-kisah itu.

Jika kita kaji dengan hak, ternyata pola berfikir kaum yang diceritakan oleh Al qur’an tidak saja menjadi monopoli kaum-kaum terdahulu, namun pola tersebut telah merambah; menjadi perilaku yang berlaku umum.;  menggejala dari dahulu hingga kini.  Menjangkiti semua lapisan masyarakat, di seluruh level strata sosial, dalam setiap peradaban dan setiap generasi. Pada setiap agama, bahkan dalam tatanan masyarakat Islam sekalipun. Pola berfikir kaum Ad, kaum Luth, kaum Nuh, kaum Yahudi, dan kaum  ahli kitab, dan kaum yang menentang lainnya;  telah menjadi virus bagi seluruh umat manusia. Menjadi virus bagi umat Islam.. Maka apakah kisah yang di ceritakan Al qur’an hanyalah dongengan saja..?.

Maka perhatikanlah ; Al qur’an mengajarkan kepada kita; berjalanlah di permukaan bumi dan pelajarilah bagaimana kesudahannya apabila suatu kelompok/kaum  memiliki pola berfikir ; sebagaimana kaum-kaum yang di kisahkan oleh Al qur’an. Sebuah kepastian akan datang kepada mereka, azab yang pedih dan neraka. Itu yang Al qur’an ingin sampaikan kepada kita. Maka kita meski belajar dari kesalahan kaum-kaum terdahulu yang sudah di sebutkan jelas-jelas , sebab dan akibatnya. Mereka adalah kaum-kaum yang mengelola ‘kebenaran’ berdasarkan nafsunya sendiri.

Bagaimana memahaminya.?. Dalam posisi mereka; sebenarnya mereka sendiri tidak merasa berada dalam kesesatan itu.  Mereka melihat baik perbuatan yang buruk. Lha bagaimana bisa begitu..?. Disebutkan ternyata mereka adalah orang-orang yang sombong, yang dengan kesombongannya tidak pernah mau memperhatikan ‘kebenaran’ dari Al qur’an. Semua di kisahkan, agar menjadi pelajaran bagi kita, agar kita mau berfikir. Maka jika kita kaji lebih dalam fenomena-fenomena tersebut yang terpampang di layar kaca dan keseharian kita ; begitu nyata tergambarkan , begitu dekat kisah-kisah Al qur’an dalam keseharian kita. Tinggal bagaimana kita memaknai dan mengambil sikap serta hikmah dalam setiap kejadian yang di tampilkan di televisi atau media lainnya, atau mungkin di dalam keseharian kita.

Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada akhirat, hati mereka mengingkari (keesaan Allah), sedangkan mereka sendiri adalah orang-orang yang sombong. Tidak diragukan lagi bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka lahirkan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong. Dan apabila dikatakan kepada mereka, "Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Dongeng-dongengan orang-orang dahulu."  (ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya pada hari kiamat, dan sebahagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu. (QS; An Nahl ; 22-25 ).

Apakah yang kita lihat dalam tayangan televisi adalah cermin dari pola dan cara berfikir seperti itu..?. Walohualam..!.
Maka karenanya, kemudian saya memaknai bahwa Yahudi hakekatnya adalah sebuah trend gelombang pemikiran, sebuah cara dan pola berfikir manusia. Efek dari kesombongan manusia yang mencoba mencari  ‘kebenaran’nya sendiri, tidak mau  tunduk kepada ‘kebenaran’ wahyu. Ketika wahyu tidak berpihak kepadanya maka dia dengan sekehendaknya merubah ayat,, merubah tafsirnya sehingga menjadi sesuai atau disesuaikan dengan kepentingan ego mereka. Kebenaran mereka tidak pernah diselaraskan dengan hati nurani. Tidak pernah mereka hadapkan kepada Allah, kepada wahyu. Kebenaran yang hanya berlandaskan ‘anggapan’ atau ‘persepsi’ saja. Mereka menganggap kisah dalam Al qur’an hanyalah dongengan, mereka tidak mau mengambil ‘hikmah’ yang diajarkan di dalam kisah-kisah tersebut.  Inilah  cara dan pola berfikir ‘menggampangkan’ ‘mau enak sendiri’; karena kesombongan mereka itu, yang tidak mau tunduk kepada ‘kebenaran’ wahyu..

Akibatnya sudah bisa ditebak muncullah perilaku sebagaimana orang-orang,/ kelompok atau kaum yang ada dalam kisah-kisah Al qur’an. Inilah hukum kepastian Al qur’an. Sehingga sangat mungkin sekali pola dan cara berfikir orang-orang Yahudi sudah menjadi ‘virus’ yang  mulai menjangkiti umat muslim.  Sehingga tampilan mereka menjadi ‘gahar’ dan senantiasa memaksakan kepada orang lain ‘kebenaran’ yang dipahami mereka, kepada golongan lainnya. Marilah kita saksikan ‘totontan’nya melalui ‘layar’ kaca saja.

Faktanya saat sekarang dapat kita lihat disekeliling kita dan juga dalam kelompok Islam itu sendiri.  Dalam masyarakat Islam, di Libya, di Mesir, di Irak, Afganistan, di Inonesia dan juga di tempat-tempat lainnya. Bagaimana para pemimpin-pemimpin mereka.  Maka berjalanlah dan saksikanlah; di seluruh permukaan bumi; bagaimana kesudahannya, jika manusia memiliki pola dan cara berfikir sebagaimana orang-orang ‘sombong’ yang di kisahkan Al qur’an, bagaimana perilaku mereka, bagaimana penentangan mereka, bagaimana kesombongan mereka. Semua itu menjadi bahan pelajaran buat kita semua, agar kita senantiasa introspeksi diri.

Setiap perbuatan manusia sangat tergantung kepada hati; apa-apa yang di rahasiakan , yang menjadi niat dalam melakukan ‘aksi’nya. Hanya dia dan Allah yang mengetahui. Ketika kita melihat tampilan di layar kaca sulit bagi kita untuk mengetahui ‘niat’ mereka untuk apakah; Betulkah karena alasan membela kepentingan  ‘kebenaran’ wahyu atau hanya untuk membela kepentingan mereka sendiri ?.. Allah telah memperingatkan dengan tegas dan mengancam kepada setiap pelaku ‘aktor’ yang terlibat di dalamnya, apa akibatnya jika mereka hanya menuruti hawa nafsu mereka saja. Apalagi mengatas namakan Islam, mengatas namakan ‘kebenaran’ Islam. Allah maha tahu isi hati mereka.   Maka selanjutnya, jika kita melihat tontonan tersebut, sebaiknya kita kembalikan semua pada Allah. Dengan senantiasa memohon kepada ampunannya.

“Lha..Jangan-jangan saya pun terjangkit strain virus ‘kesombongan’ model seperti itu”. Waduh…?!?. ”.  Astgfirulloh hal ‘adzhiem.

SEKIAN
Maka kebenaran seperti apakah yang kemudian kita perjuangkan…?.
Apakah kebenaran kemudian membawa kebaikan ?.
Apakah kita telah merasa seperti nabi Ibrahim atau nabi Khidir yang memahami hikmah ‘kebenaran’..?....Sehingga kemudian kita dengan ‘sombong’nya berani menghilangkan nyawa manusia…?.  Bagaimana menjelaskan ini...?. Bersambung !.

Wasalam
arif

Kajian 2 : Jejak Padang Kuruseta Hingga Padang Karbala

Pengantar ;  Begitu rumit dan peliknya  permasalahan sehingga untuk menjelaskan persoalan yang terjadi dalam dunia Islam saat kini, (seperti yang digagaskan Bpk. Riano Putra), membutuhkan methodology yang tepat. Al qur’an  menceritakan bagaimana umat-umat terdahulu,  bagaimana kearifan dipergilirkan antara umat satu ke umat yang lain, bagaimana peran para nabi-nabi memberikan kesadaran kepada umatnya masing-masing.  Dan bagaimana  kemudian umat mereka  kesudahannya. Semua itu bisa kita baca dan kita kaji sekarang. Maka dengan methodology itulah saya mencoba mengkajinya.  Semoga bermanfaat. Amin


Konsepsi Dunia dan Akhirat
Konsep yang diusung semua agama, dalam memaknai kehidupan di dunia ini adalah sebuah konsep keseimbangan dan perimbangan antara dunia dan akhirat. Akhirat adalah kehidupan yang kekal , sementara dunia adalah sementara.  Agama kemudian mengkhabarkan bagi orang-orang yang mempercayai adanya kehidupan akhirat,  dan menginginkan kehidupan akhirat yang kekal; hendaknya melakukan amal kebajikan.  Sampai disini ; Ternyata semua agama memiliki kesamaan.

Setiap agama  dalam dinamikanya masing-masing, akhirnya melahirkan  methodology yang harus diikuti para pemeluknya . Methodology inilah yang  mengarahkan setiap pemeluknya, untuk mencapai syurga dan kehidupan kekal di akhirat. Dengan methodology tersebut di harapkan para pemeluk agama tidak tersesat; dengan hasil ; kepada suatu hasil perilaku yang baik, bagi dan antara sesama  umat manusia. Perilaku ‘baik’ inilah yang akan menghantarkann para pemeluk agama ke syurga, dan menghantarkan kepada kekekalannya di akhirat. Sampai disini ; Ternyata semua agama memiliki visi dan misi yang sama.

Jika semua agama memiliki visi dan misi yang sama, kenapa menghasilkan ‘produk’ perilaku yang berbeda, pada setiap generasinya pada umatnya masing-masing..?. Mulai dari Agama Hindu, Budha, Yahudi, Kristen hingga Islam, ternyata pernah melahirkan ‘sejarah kelam’. Di mulai dari Padang Kuruseta hingga Padang Karbala. Di mulai dari Perang Mahabarata hingga Perang  Perang Shiffin. Inikah sejarah kehidupan anak manusia..?. Jika mau disebutkan, maka terdapat  ribuan kisah perang yang menyedihkan yang  tidak tercatat di seluruh permukaan bumi ini. Kisah pilu dari setiap peradaban manusia dari generasi ke generasi. Bagaimana pembunuhan manusia atas manusia lainnya terjadi !.  Bagaimana anak dan istri, serta kekasih-kekasih mereka meratapi !. Dan Ibu-ibu yang melahirkan nestapa tiada henti !. Berapa gallon air mata tertumpah karena kesakitan kehilangan ini (?). Mereka semua menjerit kepada langit dan kepada bumi yang mengangkat dan membenamkan mayat-mayat ayah, suami, anak, dankerabat-kerabat mereka !!!. Jeritan yang yang  mendirikan bulu roma, sampai-pun terasa hingga  kini...!?!.

Masih lekat sejarah mencatat,  ketika Hitler membunuhi ratusan ribu nyawa orang Yahudi  (Jumlahnya mungkin mencapai jutaan).  Dan begitu juga tercatat, kekejaman pasukan Jepang, Pasukan Romawi, Persia, Mongolia, serta Majapahit, hingga Pasukan Mataram di Indonesia. Maka jika kita mau mengendapkan ‘ego’ kita. Dan kita telusuri fakta sejarah perkembangan umat manusia. Sejarah peradabannya dan  agama-agama di dunia ini, maka kita akan dapati fakta yang mencengangkan. Setiap pertumbuhan agama, setiap perkembangan agama dipastikan telah memakan korban ribuan nyawa manusia. Mungkin bahkan bisa mencapai puluhan jutaan manusia. Masing-masing agama mencapai jaman keemasan mereka dengan cara-cara yang fantastik,, melalaui pengorbanan nyawa para pemeluknya sendiri. Maka hanya orang-orang yang tidak pernah melihat fakta sejarah saja, jika menganggap bahwa ‘KEKERASAN’ adalah monopoli  ISLAM saja.

Maka karena itu saya menolak jika KEKERASAN di klaim dan dituduhkan milik monopoli suatu agama tertentu. Saya lebih suka menyikapi dan memaknai bahwa KEKERASAN adalah milik MANUSIA bukan milik agama. Terlepas apapun agama mereka. Hal ini sesuai dengan firman Allah ;
Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.” mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30)

Setiap agama telah mengajarkan, bahwa jika manusia berbuat kerusakan di muka bumi dan menumpahkan darah sesama manusia, maka orang itu akan mengalami siksaan di akhirat nanti. Ini adalah konsekuensi perimbangan dunia akhirat. Perilaku baik akan di ganjar syurga atau akhirat yang kekal , sebaliknya perilaku jahat akan di ganjar neraka atau siksa akhirat. Maka terserah kepada manusia mau percaya atau tidak atas khabar yang di sampaikan agama-agama tersebut. Maka seterusnya, kembali kepada kesadaran manusia ; Jika dia percaya maka dia akan meyakini kebenaran itu, maka dia dengan sendirinya akan merubah perilakunya menjadi baik . Begitu pula sebaliknya !. 

Seharusnya dengan ini kita menjadi tenang. Maka cukuplah bagi kita orang Islam berpegangan dengan firman Allah :
"Wahai orang-orang beriman! Jagalah diri kamu dan ahli keluarga kamu dari neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu" [Surah al-Tahrim, ayat 6].

Kemudian sebagai umat muslim yang meyakini kehidupan akhirat dan hari pembalasan, cukuplah  bagi kita agar berserah diri dan bersiap menjadi saksi , serta menyerahkan semua urusan tersebut kepada Allah,  karena sesungguhnya “……………..Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (Al Baqarah: 30).  Semua yang terjadi dalam liputan Allah, kekejaman manusia atas manusia lainnya sudah dalam ilmu Allah. Allah yang mengetahui hikmah semua yang terjadi pada setiap generasi , pada setiap peradaban. Dengan inilah kita berpegangan, agar kita tidak terjerumus kepada penghakiman atas apa yang terjadi dewasa ini. Sebagaimana yang kita lihat pada tayangan televisi dan media-media lainnya. Subhanalloh. Maka seyogyanya dengan keyakinan-keyakinan seperti itulah, mestinya kita melihat film-film kehidupan manusia. Dan sesungguhnya kita harus yakin bahwa sejatinya Allah SWT, sesungguhnya  yang memegang skenarionya.

Film yang tidak pernah usai
Di sepanjang peradaban, manusia senantiasa  tak lelah terus bertanya. Kebaikan apakah yang bisa di nikmati dengan perang..(?). Kebaikan apakah yang bisa diperoleh dengan pembunuhan..(?). dan kebaikan seperti apakah yang bisa di dapat dengan kerusakan..(?).  Ibarat sebuah film yang di putar. Ketika film masih di tengah-tengah yang dapat kita lihat adalah, peperangan itu, pembunuhan itu, kerusakan itu, dan lain sebagainya, kita terpukau , terpana, tidak mengerti, kecewa, gusar, seluruh perasaan di aduk-aduk, sedih, lara, dan lain sebagainya. Seketika pada saat itu, kita akan langsung menyalahkan, menghakimi, bahkan melakukan anarki , saking kesalnya. Hanya setelah film usai, baru kita mengerti, hikmah apa-apa yang ingin disampaikan sutradara melalui para pelaku di film tersebut. Begitulah Allah mengajarkan manusia, mungkin untuk ber abad-abad kemudian, dimana diharapkan manusia mampu memahami skenario, dan hikmah atas semua kejadian itu.

Kita sering hanya melihat, kemudian menjadi saksi. Dengan ini kemudian kita sudah ber presepsi. Namun sebuah pertanyaan menggelitik; bagaimana jika kita yang menjadi pelaku dalam film tersebut; bagaimana jika Allah menunjuk kita menjadi pemeran, menjadi lakon yang akan di mainkan dalam skenarionya. (?).  bagaimana jika kita ber peran sebagai Arjuna dalam kisah perang Mahabarata..?. Bagaimana jika kita berperan sebagai Muawiyah dalam kisah perang shiffin. Kita tahu, Kedua tokoh tersebut memiliki kesadaran yang tinggi, tingkat spiritual yang luar biasa, dan ketauhidan yang menakjubkan.  Bagaimana saat keduanya dihadapkan kepada suatu situasi sulit, yang harus diputuskannya.  Arjuna dihadapkan kepada situasi perang dimana lawannya adalah saudara-saudaranya sendiri. Begitu juga Muawiyah harus berhadapan dengan orang-orang yang seganinya, dikaguminya, saudara se iman. Bagaimana pergumulan batin mereka, sering luput dari pengamatan kita semua. Kita hanya melihat dari sisi yang kasat mata saja.

Manusia sering tidak pernah peduli bagaimana kesudahannya, bagaimana Arjuna kemudian menuju ke puncak gunung, menjauhi dunia dengan memohon pengampunan begitu  penyesalannya. Bagaimana Muawiyah dan para pembantunya kemudian memohon ampun tak berkesudahan, hingga di ceritakan air mata membekas di pipi para sahabat saking sedih dan takutnya pada Allah. Jikalau mereka bisa menolak peran tersebut, pasti mereka akan menolak. Sungguh Tuhan maha memaksa kepada hambanya, dan Dia yang mengetahui semua yang Ghaib. Maka apakah manusia tidak melihat, bagaimana  kesudahan dari semua yang terjadi. Setelah perang diantara kesedihan mereka; mereka ber kasih sayang. Perang telah menyadarkan semuanya, manusia bahu membahu melakukan perbaikan, terjalin tali silaturahmi lebih kuat lagi, dunia bergulir lagi. Kemudian selanjutnya, manusia  menciptakan tekhnologi untuk mempertahankan diri, dan sebagainya dan sebagainya.  Tumbuhlah peradaban sebagaimana sekarang ini. Munculah perimbangan, kehidupan kemudian menuju kepada keseimbangan dunia  baru.

Mengapa kita melupakan. Sungguh, ternyata kearifan tersebut sudah diajarkan semenjak dahulu. Di kisahkan; kearifan tersebut,  diajarkan oleh Kresna kepada Arjuna dalam cerita Bhagavat Gita; saat ketika Arjuna mengalami ‘kegamangan’ dalam menetapi peran yang harus di lakoninya. Ketika Arjuna ‘gamang’ menghadapi ‘perang’ nya. Kresna kemudian memberikan ‘semangat’ bahwa semua itu adalah takdir yang harus di jalani Arjuna. Sebuah keyakinan yang harus dipertahankan. Bukan hanya sekedar benar atau salah. Namun lebih kepada , bagaimana manusia harus tunduk kepada skenario Tuhan yang maha Perkasa. Tanpa keraguan, tanpa kegamangan sedikitpun. Lancung sedikit berarti mati, tanpa makna diri. Demikianlah Arjuna mesti berperang , meski dia tidak pernah menyukai perang tersebut.

Bukankah Islam kemudian juga membenarkan bagaimana semestinya umat Islam menghadapi ‘perang’nya masing-masing. Dengan satu kata  JIHAD. Sesungguhnya kearifan ini juga sudah diajarkan melalui kisah Bhagavat Gita. Padang Kuruseta telah menjadi saksi Perang Besar dalam kisah Hindu. Padang Karbala telah menjadi saksi Perang Besar dalam kisah Islam. Kisah yang terpisahkan ribuan tahun, menjadi saksi dan pengajaran kepada manusia. Semoga manusia dapat memetik hikmah dan pelajaran; kearifan diantara keduanya.

Semua manusia hanyalah menjalani laku, sebatas 'keyakinannya' atas ‘kebenaran’ atas niat yang menjadi landasan dalam setiap geraknya. Apakah diniatkan karena Allah sebagaimana yang diajarkan  Islam atau kepada lainnya. Inilah yang memberikan arti tersendiri atas ‘kebenaran’ !. Selebihnya hanya Allah yang maha mengetahui. Dan kepada orang-orang yang telah menjadi korban,  yang jatuh dari setiap kelompok, atas mereka akan mendapatkan neraca  (timbangan) yang se adil-adilnya. Mereka  akan mendapatkan ganjaran sesuai dengan amal perbuatannya masing-masing di dunia. Mereka akan mendapatkan 'pahala' tersendiri atas setiap yang telah mereka mainkan, dengan segenap kesungguhannya; sesuai kadar ke imanan mereka masing-masing. Akankah manusia terus menghakimi..(?). Maka kesemuanya, kembalinya hanya kepada diri kita saja !. Subhanalloh...!


Bersambung...Kebaikan akankah kebenaran...!

wasalam
arif

Dari Fakta Hingga Logika

Berita  mengabarkan apa..(?)

 Berita akan disajikan sedemikian rupa. Menjadi enak di baca dan perlu !. Berita juga akan di kupas  setajam tajamnya, setajam silet !.  Begitulah bisnis informasi, bagaimana mengemas sebuah fakta agar dapat di terima logika manusia. Semakin HOT NEWS maka akan semakin di gemari berita tersebut. Maka setiap media berlomba-lomba memberikan narasi sebaik-baiknya.  Kadang kita sudah tidak perduli lagi apakah narasi tersebut  benar telah sesuai dengan gambarannya, tempat kejadian ataupun fakta sesungguhnya  yang terjadi di lapangan. Kita paham gambar mampu memberikan sejuta makna bagi pemirsanya, maka dengan sedikit ulasan saja, penyaji berita akan mampu (tanpa disadari penikmatnya sendiri) telah mengarahkan opini pemirsanya.  Kita saat ini telah memasuki sebuah perang dalam otak manusia. Semua berita disadari ataupun tidak telah diarahkan untuk menggiring opini  publik. Maka bukan tidak mungkin  jika bisnis informasi ini, bisa di ‘setting’ sedemikian rupa, disesuaikan dengan ‘pemesan’nya. 

Mengawali kajian ini, seperti  membuka kembali dialog panjang, yang tak tuntas kami diskusikan selama 2 tahun ini. Wajah Islam yang sering menghiasi layar kaca, sangat jauh  berbeda dengan apa-apa yang sudah di pelajari dan di pahami masyarakat tentang Islam.  Kegamangan sebagian anak manusia tentang hal ini,  telah  membawa penulis kepada  debat yang tak berkesudahan hingga kini.  Maka apa yang  dilontarkkan dalam  tulisan Bpk. Riano Putra, sudah lama menjadi catatan khusus bagi penulis, lebih dari itu sampai saat inipun, penulis, masih terus  melakukan diskusi dengan banyak pihak, mengenai hal ini.  

Apabila apa yang dipahami seseorang tentang Islam,  sangat bertentangan dengan realitas yang terpampang di hadapannya. Bagaimana meyakinkan bahwa Islam tidaklah seperti itu (?). Jika dia melihat dalam keseharian, perilaku para pemeluknya justru bertolak belakang. Bagaimana menjelaskan bahwa sejatinya Islam adalah ‘Rahmatan lil ‘alamin’ (?), jSungguh tugas berat bagi kita umat Islam mengurai semua ini dan mendudukan permasalahan pada tempat yang semestinya.  

Kajian ini dihantarkan bukanlah dengan maksud penulis  untuk memberikan solusi atas fenomena yang terjadi di dunia Islam saat ini. Bukanlah kapasitas penulis sejauh itu. Namun lebih kepada meng-khabarkan kepada kita semua, bahwa di ujung negeri sana, kegamangan dan ketidak yakinan akan Islam tengah terjadi, sangat nyata dan dekat dengan kita semua. Di sebuah desa di bawah kaki gunung Sindoro-Sumbing, ada sebuah desa yang seluruh penduduk nya dan berikut  para Uztadnya telah beralih ke agama  Hindu.  Mereka di dera begitu dahsyatnya informasi tentang Islam, yang  membombardir ‘mind set’  mereka, sehingga mereka tidak lagi  mampu mempertahankan keyakinan mereka, ke-imanan mereka. Sungguh menjadi keprihatinan kita bersama.  Maka bukankah layak jika tulisan Bpk Riano Putra, saya tanggapi dengan sepenuh hati. Dan inilah beberapa kegalauan mereka yang saya coba rangkum dalam bentuk narasi, adalah hasil debat penulis dengan salah satu simpatisan yang sedang goyah keimanannya. Semoga Allah SWT menyelamatkan kita semua.

Apakah mesti Islam..?.

Kajian di buka dengan sebuah tanya, dari salah satu diantara simpatisan mereka,   “Mengapa Islam di identikan dengan kekerasan, bahkan kepada saudara-saudaranya sendiri ?”. Sebuah pertanyaan dan alasan yang dipaparkan,~ menggumuli hati, mengundang sejuta ketidak mengertian yang tak bertepi. Apakah kami harus Islam..?. Seperti inikah sejarah Islam..?. (Kemudian mereka bercerita..).

Bagai sebuah film sinetron, side back diawali ketika Islam masuk ke tanah air, bagaimana Raden Patah, mengkhianati Ayahnya sendiri Prabu Brawijaya V. Bagaimana diceritakan sang  Ayah yang dengan suka cita mempersilahkan anaknya untuk menyebarkan agama barunya di tanah Jawa, di wilayah kekuasaan Majapahit, dengan perlindungan penuh dari Sang Prabu. Namun bagaimana justru kemudian Raden Patah menggulingkan kekuasan sang Raja, dan menghancurkan kejayaan Majapahit. Kisah yang berdarah-darah, menggulung habis perasaan anak manusia, kegamangan Sang Prabu, kecintaan seorang Ayah kepada anaknya. Keganasan manusia atas manusia lainnya atas nama agama, memasuki babak baru di tanah Jawa. Inilah fragmen ketika Islam tampil dengan pedang terhunus menebas lawan-lawannya  merebut kekuasaan, dengan korban ribuan nyawa, yang tidak pernah mengerti kenapa..?.  Darah mengalir atas tanggung jawab Islam di tanah Jawa, kali pertama.

Kisah ini tak kunjung diurai tuntas, tak puas dikupas. Kisah kemudian meluncur ke masa lalu, dimana fragmen kehidupan,  melibas dengan lebih hebat lagi romantisme perasaan  anak manusia . Entah berapa juta manusia menangis karenanya, hingga gaungnya terasa sampai jaman ini. Membuka  lembaran yang paling menyakitkan, terjadinya perang saudara antara seorang Ibu dan anak menantunya, perang antara Ali bin Abu Tholib,  ra, dan Siti Aisyah, ra. Kedua sosok panutan utama umat Islam, mengangkat senjata dengan bendera Islam. Sungguh sebuah perang yang menghancurkan perasaan anak manusia yang terlibat di dalamnya.  Perang yang sebenarnya tidak pernah terlintas dalam pikiran paling liar sekalipun. Namun nyatanya terjadi dan ada dalam sejarah Islam. Belum usai sudah, Perang masih terus berlanjut dari Ali ra, kepada anaknya. Siapakah musuhnya (?). Tak lain adalah para sahabat Rosululloh sendiri. Pedang terhunus untuk menikam saudara se iman, saudara seperjuangan. Sebuah tragedy yang tak akan pernah  mampu di ceritakan. Dan puncak kesakitan itu pun  terjadi, ketika cucu Rosululloh ikut terbunuh. Langit menangis, bumi berguncang, lautan bergolak. Sungguh demi Rosululloh dan anak keturunannya, semua umat muslim rela mati. Namun nyatanya, cucu Rosuolloh terbunuh  oleh saudara nya sendiri, sahabat se iman  yang meneriakan “Allahu akbar” !.

Manusia setiap jaman merenung, penuh tanda tanya,  munculah pro dan kontra. Setiap kelompok merasa benar, setiap kelompok merasa telah melakukan sebagaimana perintah Tuhan.   Begitu sulit memaknai kejadian tersebut, menceritakan kembali kepada generasi berikutnya, tanpa bermaksud menutupi fakta sebenarnya. Islam begitu kasat mata, tidak hanya kepada mungsuh-mungsuhnya, bahkan kepada saudara se iman pun tak segan menghunuskan pedangnya. Begitulah yang terlihat.    Maka tak salah jika dengan fakta ini kemudian logika berbicara. Islam menyukai kekerasan !.  Merambah hingga kini. Begitulah serangan mulai muncul kepada Islam.

Benarkah Islam seperti yang terlihat ?. Benarkan penyebaran  Islam di lakukan dengan pedang terhunus?.

Sebagian orang menyukai cerita dari sisi ini, menyerang Islam dengan hebatnya. Bahkan dari kalangan Islam itu sendiri.  Namun ada sebagian besar lagi melihat dengan cara yang berbeda, menolak semua yang terjadi dan menganggap bahwa kisah itu tidak pernah ada.  Membuang begitu saja fragmen ini dan mereka tidak pernah mau belajar dari kejadian tersebut. Akhirnya, kemudian mereka berjalan dengan fanatisme radikal, menghakimi siapapun yang mencoba mengusik Islam.

Dengan fakta fakta tersebut,  maka dengan sangat mudahnya, manusia kemudian mengemasnya dan mengembangkan sesuai kehendaknya masing-masing, baik secara sistematis maupun  sporadis. Mereka yang anti Islam akan senantiasa menyajikan narasi ‘setajam silet’. Mereka yang berada di puncak pemerintahan akan mem-politisir situasi dan meredam dengan gaya ‘enak di baca dan perlu’. Meng-akomodasi setiap kelompok untuk mendukung kekuatan politik mereka, dan menghancurkan kelompok lain yang tidak sepaham dengan penyebaran opini, benar atau salah !.
Subhanalloh, marilah kita luruhkan sejenak. Begitu penat kita memandang wajah-wajah Islam yang sering ditampilkan dengan gahar.  Kita sering melupakan wajah teduh Rosululoh, yang senantiasa dengan arif menghadapi musuh-musuhnya, yang senantiasa menebar kasih kepada umatnya, saudara se-iman.

Marilah kita lihat  dua kejadian tersebut pada tempat yang semestinya. Sama juga halnya, dengan kejadian-kejadian hebat yang terjadi di akhir-akhir ini. Marilah kita lihat dan maknai, dalam sebuah rangkaian panjang sejarah peradaban manusia, sebagaimana kita melihat film panjang yang tidak pernah usai, sampai akhir jaman. Karena sesungguhnya kita tidak akan pernah tahu hikmah atas kisah-kisah tersebut bagi generasi Islam nanti, berabad-abad lagi setelahnya. Marilah kita buka cerita sejarah peradaban manusia, bagaimana ternyata sejarah peradabanpada setiap agama tidak luput dari kisah-kisah dan romantika seperti itu. Bagaimanakah kemudian setiap agama belajar, dan bagaimana kemudian Tuhan turun tangan untuk memberikan petunjuka Nya.

Maka untuk itu kajian ini bersambung, yang akan mengajak kita meng-ekplorasi peradaban umat manusia dan bagaimana agama ber peranan di dalamnya. Kajian ini dihantarkan , juga untuk memberikan wawasan baru dan  membuktikan bahwa Islam adalah agama yang menyempurnakan agama-agama terdahulu. Semua agama adalah bagian dari Islam, Islam membenarkan kitab-kitab terdahulu, dan membenarkan nabi-nabi yang diturunkan sebelumnya, dan kemudian  Islam melengkapi apa-apa yang sudah di turunkan itu. Islam kemudian melengkapi atas hikmah-hikmah yang pernah diturunkan kepada umat dan kaum terdahulu. Sudahkah 'berita' ini sampai kepada kita..(?). Insyaallah.

Bersambung ...dari Padang Kuruseta hingga Padang Karbala...

Wasalam\
arif