Sabtu, 31 Agustus 2013

Kisah Spiritual, Misteri 7 (Tujuh) Bidadari




Malam terus saja mengejar, seakan takut ketinggalan terbitnya  fajar pagi. Tak terasa tak berasa, hanya kilasan tak ketara yang terus saja membututi. “Adakah yang salah dimaknai ?. ” Dalam ketakberdayaan diri, Mas Thole menyanggah hatinya. Rasa sesal, rasa bersalah saat dirinya tak mampu meredam gejolak hati para kesatria, membuatnya jengah. Semakin mencoba mengerti, semakin diri merasa tak berarti. Semakin banyak diajari semakin tak ingin kembali. Diam disini rasanya lebih mengasyikan lagi dan lagi. Hiruk pikuknya dunia membuat kesadaran diri terengah menetapi. “Mengapa lintasan-lintasan energi kesatria menyergah hati ?. Adakah mereka tidak mengerti bahwa itu melukai ?.”

            Pertanyaan itu terus saja membebani jiwa dan pikiran, apalagi didengarnya khabar keadaan Ki Ageng tidak sebaik biasanya. Energi entah dari mana membuat dirinya sungsang, menguliti jemari, memasuki inti-inti sel,  merobek, dan dengan sadisnya mengeluarkan isinya dari dalam, hal yang belum pernah terjadi. “Bulan ini adalah bulan dimana masa krisis para kesatria ?.” Bisik Mas Thole memelas, bicara kepada alam, kepada bulan yang sinarnya kuat pada malam-malam beberapa hari ini. Jawab sang malam hanya mengirimkan pertanda dengan  hujan  deras seketika yang  mengguyur jam 2 pagi, lebat sekali dalam waktu yang tak lama, mengagetkan seisi rumah.  “Aduh, mengapa dan  apa dengan hujan ?.” Rasanya enggan sekali Mas Thole mencari jawaban.

            Para kesatria mulai beranjak dewasa, mereka mencoba menapak kaki dan mencari eksistensi diri. Setelah mengerti , maka jiwa harus diyakinkan lagi. Mereka akan mencari bukti-bukti lainnya. Mencari lebih dari yang mereka yakini. Begitulah keadaan jiwa mereka. Dan itu berarti alam alam kesadaran akan berada dalam kulminasi titik nadir yang tak mungkin bisa dihindari. Jiwa-jiwa masa lalu yang terlahir kembali memiliki kunci dimensi lintas alam. Maka pasti, jiwa masa lalu akan kembali memasuki alam kesadaran mereka dimasa masih berkuasa dan jaya. Akibatnya energi masa lalu tanpa disadari, oleh mereka sendiri terbawa ke masa kini, dan itu akan membuat turbulensi. Angin pusar tornado lintas dimensi yang akan menyedot siapa saja, luar biasa amukannya. Portal dimensi tak sadar dibuka oleh mereka sendiri, dan ini akan menarik siapa saja kembali ke masa lalu mereka. Maka perhatikanlah pada penampilannya saat mereka  menguasai raga terkini, raga akan tampil sempurna bak para raja dan para panglima yang berkuasa titahnya. Mereka bersikap sebagaimana diri mereka di masa lalu.

            Maka hanya kesedihan hati dalam sesal yang kini merajai, nestapa atas ketidak mampuan diri menutup turbulensi waktu, menyesal jika  tidak mampu berbuat banyak melihat keadaan jiwa kesatria saat sekarang ini, melihat keadaan mereka yang resah dari hari ke hari. Para ksatria merasa menggunakan raga terkini dalam komunikasi padahal hakekatnya mereka telah dikuasai oleh jiwa masa lalu mereka sendiri. Mereka merasa nyaman dengan ini, sulit membedakan lagi, seakan-akan itulah diri mereka sejati. “Ya, Allah apakah akan terulang kembali pengajaran ini ?. Akankah kami ketinggalan kelas ini ?.” Mengapakah bisa terlena begini, diri terjebak dan tidak mawas lagi. Hingga lepaslah kontrol dimensi. Hinggap rasa bersalah, rasa penyesalan, merasuki hari-hari Mas Thole. Realitas tidaklah seindah dalam gambaran, ingin sejenak melupakan, memasuki realitas, nyatanya waktu tertinggal dibelakang. Ugh..!.

            Alam sedang melangsungkan ajang uji pencarian bakat, mencari bakal calon kesatria, ajang pemilihan kesatria piningit,  bagai ajang lomba X-factor. Siapapun yang menerima panggilan sang alam akan diberikan kesempatan yang sama untuk mengikuti ajang lomba ini.  Setiap trah berhak mengirimkan wakil-wakilnya untuk mengikuti lomba ini. Tidak saja dari pajajaran, majapahit, sriwijaya, dan seluruh kerajaan di nusantara ini, bahkan dari tanah arab pun dipersilahkan mengikuti ajang lomba ini. Para leluhur dipersilahkan menunjukan anak cucunya, sebagai wakil dari trah mereka. Maka tidak heran jika bulan ini akan banyak sekali bermunculan orang-orang masa lalu ke raga anak cucu mereka. Sebab  para leluhur mereka merasa berkepentingan manakala trah mereka berkuasa. Kesempatan yang langka bila  dipercaya menjadi khalifah alam semesta di era peradaban sekarang dan ke depan nanti. Harkat martabat mereka pasti akan terangkat. Siklus pilihan ini hanya terjadi beberapa ribu tahun sekali. Paling cepat terjadi 1500 tahun sekali, dimana ajang kekuasaan, kekayaaan, akan dipergilirkan kepada anak-anak manusia.  Maka perhatikanlah pergiliran kekuasaan bangsa-banga, Yunani, Romawi, Islam, Amerika Rusia, dan lain-lainnya. Dan kali inilah saatnya kekuasaan nusantara baru.

            Nusantara akan mewakili kekuatan dari timur, kekuatan yang akan merajai di dua alam, yaitu  alam ghaib dan alam nyata. Dimana formasi ini akan mengulang kembali sejarah kejayaan leluhur mereka Nabi Sulaiman. Sudah lama sekali hampir ribuan tahun alam semesta tidak dipimpin oleh manusia. Masing-masing alam dibawah kekuasaan pemimpinannya. Maka saat sekarang ini, akan dipilihlah manusia yang memiliki kemampuan memimpin di dua alam.  Karenanya alam memerintahkan alam ghaib dan alam nyata untuk saling bekerja sama. Para leluhur dipersilahkan melatih anak-anak cucu mereka. Tentu saja kesempatan ini tidak disia-sia kan oleh trah atlantis. Sebab masa sekarang inilah, kesempatan untuk dapat eksis kembali di nusantara ini. Menyelesaikan misi mereka terdahulu, mengembalikan kejayaan trah atlantis yaitu cikal bakal nusantara. Trah paling dekat dengan atlantis adalah tanah pasundan, maka tidak heran jika Pajajaranlah yang akan diusung untuk mengikuti ajang kompetisi ini.

           Mas Thole berdesah, betapa berat mengingatkan kembali kepada para kesatria bagaimana posisi mereka ini. Kita tidaklah sendiri, banyak peserta lain dari trah lainnya yang akan mengikuti ajang kompetisi ini. Jika terlena maka kesempatan yang hanya sekali dalam ribuan tahun ini akan hilang percumah , mereka akan menunggu hingga ribuan tahun lagi mendatang. Misi yang di amanahkan kepada pundak mereka, akan ditangguhkan hingga ribuan tahun lagi. Artinya mereka akan kembali memasuki lorong dimensi waktu lagi,  dan tinggal disana menunggu dilahirkan kembali. Mereka akan mengulang prosesi yang sama lagi, penderitaan yang sama, kesakitan yang sama lagi, bahkan berlipat dari sekarang ini, sebab bertambahnya waktu akan semakin bertambah beban yang akan mereka pikul. Setiap kehidupan akan menjadi beban mereka di kehidupan mendatang.

            Entah bagaimana mengatakan ini, jika semua sudah diajarkan, jika semua juga sudah ‘entek pool..!’. Sudah tidak ada lagi yang tersisa yang patut diajarkan lagi.  Maka sekarang ini, semua terserah diri masing-masing mau melakukannya atau tidak. Ya, mereka hanya diminta memasuki diri mereka masing-masing, sebab petunjuk itu ada pada diri mereka sendiri. Diamlah di hati, rasakan dengan kejujuran kepada ilahi, dengarkan suara hati nurani. Diamlah dalam waktu yang lama, di setiap aktifitas kita sehari-hari, jalinlah rasa sambung kepada-Nya. Pertahankan kesadaran hanya pada saat terkini, detik ini pada tarikan nafas saat terkini, rasakan alirannya, liputi seluruh keadaan, tidak masa lalu tidak juga sekarang apalagi masa depan, liputi saja semuanya dalam diam menghadap kepada Tuhan pada waktu sekarang, saat ini. Hanya itu, tidak ada beban yang diberikan selain itu. Tuhan tidak membebani hamba-hamba-Nya. Biarkanlah Allah yang mengaturnya,begitu yang dipinta kepada para kesatria.

            Janganlah kita merasa bisa merubah dunia dengan tangan kita, janganlah bermimpi untuk itu. Perhatikan saja diri kita sendiri, merubah apa yang ada dalam lintasan hati kita saja kita belum bisa, merubah iba diri mejadi kekuatan iman saja belum mampu, merubah rasa bisa menjadi rasa rendah hati saja masih kesulitan sekali. Menerima takdir diri kita saja kita tertatih tatih. Sungguh kita hanya seonggok daging yang diberikan bentuk. Apa yang akan kita lakukan ?. Tidak ada, semua hanya atas berkat rahmat-Nya saja, kita bisa merasakan itu semua. Sekali lagi, yang diminta kepada kita hanyalah diam di hati kita sendiri, diam  di saat terkini bersama aliran nafas kita. Diamlah disana menunggu perintah dari-Nya. Perintah yang hanya kita sendiri yang tahu. Perintah yang jika disampaikan kepada lainnya mungkin saja akan menjadi fitnah, maka sampaikanlah dengan bijak, tanpa pretensi, tanpa berharap kepada yang menerima khabar, hanya mengalir bagai air pegunungan. Kita tinggal mengikuti aliran daya-Nya yang sudah diberikan-Nya untuk menjalankan itu semua. Adakah Tuhan membebani kita berlebihan ?. Tidak, sekali lagi tidak. Kita hanya diminta menikmati, saat diri diperjalankan-Nya.

            Kesatria piningit adalah kesatria yang senantiasa diam bersama Tuhannya, hanya menunggu perintah Tuhannya, akan dipergerakan kemanakah dirinya nanti, tidak menjadi persoalan lagi. Kita berserah, bukan kita yang mengatur, bukan kita yang berkehendak. Alllah yang berkehendak itu terjadi, kita  hanya perantara dialam materi, maka tangan kita, kita  siapkan untuk-Nya. Maka diamlah sambil memperhatikan, diam dan waspada. Belajarlah sebagaimana seekor cicak menunggu mangsanya. Diam dan waspada saat mana nyamuk lengah, maka ‘hap’ secepat kilat dia bergerak dengan kesungguhan hati. Maka nyamukpun tidak mampu mengelak lagi. Gerakan cicak adalah gerakan reflek saat dirinya siap dan waspada. Kita hanya dilatih untuk menggunakan gerak ini. Gerak ini akan hanya menurut pada hati. Gerakan yang luar biasa sekali energinya, sebab gerak ini adalah daya-Nya. Maka latihlah hati, diamlah disana bersama-Nya. Adakah yang sulit ?.

            Lihatlah kita hanya bersendau gurau, sibuk mematut-matut diri, hingga akhirnya  kita sering lupa bahwa pada diri kesatria melekat kekuatan yang luar biasa, apa yang dicandakannya akan menjadi perintah pada alam. Bukankah itu suatu ke mudharatan saja ?. Apakah ada manfaat untuk kita ?.Bila alam kemudian merespon kita dan meyusahkan bagi manusi lainnya ?.  Begitu asyiknya kita menjelajah mengeksplorasi apa saja, hingga kita lupa tugas utama kita, yaitu menunggu datangnya perintah dari Allah. Kita tinggalkan pos penjagaan kita karena realitas kehidupan lebih mengasyikan. Kita tinggalkan hati kita hanya dikarenakan urusan dunia, harta , tahta, dan wanita. Kita sering lupa bahwa dunia dan isinya,  itu sudah disiapkan oleh-Nya. Allah telah menugaskan diri kita ke bumi maka urusan logistik semua sudah disiapkan dan diatur-Nya, kita hanya tinggal percaya. Percaya dan percaya !.

            Mengapakah harus dituliskan ini. He eh, energi lintasan para kesatria telah mengganggu dimensi kesadaran, banyak diantara  kesatria lainnya merasa tertekan dengan energi masa lalu yang ditampilkan kesatria. Jiwa masa lalu yang membawa energi kekuasaan dan berjaya. Energi yang tanpa disadari pemiliknya sendiri menyiratkan arogansi, merasa lebih dari yang lainnya. Energi yang tidak selayaknya dimiliki oleh kesatria jaman sekarang ini. Kita kesatria jaman sekarang harus belajar, karena sebab memiliki energi inilah kita masih bertahan di bumi yang panas ini.    Keadaan diri kita sekarang bukanlah raja, atau panglima, dan juga semisla dengan itu. Kita manusia biasa, tak layak dengan arogansi itu. Maka perhatikan saja lintasan hati kita.  Jika keadaan diri kita selalu was-was, selalu cemas, bersedih hati, pemarah, mudah tersinggung, dsb,   sungguh itu tidak wajar. Maka segeralah bersihkan itu semua dari lintasan hati. Para kesatria adalah orang-orang yang tidak memiliki rahsa takut, tidak was-was, dan tidak bersedih hati. Sebab dirinya tahu bahwa Tuhan sudah mengatur segalanya untuk kita. Jika kita masih dalam keadaan perasaan itu, yakinlah bahwa kita tengah diliputi oleh energi negatif.

            Sudah digariskan, alam akan memilih trah manakah yang akan diberikan kekuasaan, mengawali pergiliran kekuasaan di muka bumi. Kejayaan kerajaan Nabi Sulaiman akan terulang kembali di nusantara baru. Maka hanya orang-orang yang benar-benar mampu menguasai dua alam saja yang akan dipilih memimpin nusantara ini. Dia mengetahui yang ghaib, namun dia juga sangat paham realitas. Dia memiliki kemampuan ilmu di dua alam. Maka dari itu, kemungkinan trah atlantis akan memimpin nusantara baru memiliki peluang yang paling besar. Sebab itulahPajajaran sengaja dihilangkan dari pandangan oleh Prabu Silihwangi, menunggu saat sekarang ini.

            Maka semua kunci semua misteri itu akan terbuka manakala legenda 7 bidadari terkuak. Ke tujuh bidadari itulah yang telah melahirkan bangsa sunda, di tangan mereka terletak kunci peradaban tanah sunda. Mereka harus ditemukan dan disatukan untuk memebentuk formasi bintang pari. Mengulang kembali peradaban dari awalnya, agar program dapat di setting ulang. Mereka harus memasuki dimensi waktu, mencari titik-titik kesalahan pengajaran yang mereka lakukan.  Karenanya berkali-kali Mas Thole mengingatkan para kesatria, temukan 7 bidadari. Karena tanpa itu mereka seperti lidi yang tercerai berai, mereka tidak memiliki kekuatan yang berarti. Mereka hanya akan mengandalkan ibunda mereka. Sebab itu pahamilah, hanya dengan masuki hati diam disana bersama aliran nafas, kita akan meenemukan  temukan petunjuknya. Apakah yang susah ?.

            Kenapa mereka sibuk mencari-cari di luaran sana ?. Apakah yang menghijab diri mereka ?. Mengapakah kemudian diri sibuk dengan angan-angan yang suka  kesana kemari, merasa ini, merasa itu, mau begini mau begitu. Bukankah akan capai dan lelah saja. Tidak pahamkah sebentar lagi akan lahir para kesatria lainnya. Kesatria yang akan mengikuti ajang yang sama. Dan tahukah bagaimana energi mereka itu ?. Energi kebencian, keserakahan, berseberangan dengan mereka, itulah energi lawan dari mereka. Tidakkah itu perlu dipikirkan. Karenanya jika para kesatria tidak bersegera diam di hati, selanjutnya bersiaplah sajalah untuk berperang demi mempertahankan diri dari tarikan angin pusar turbulensi waktu. Sesuatu yang seharusnya tidak harus terjadi.   Adakah kalimat yang lebih keras dari ini ?. Mas Thole tidak tahu itu. Rasanya kalimat ini adalah pernyataan yang paling keras darinya.

Akankah rahasia 7 bidadari akan berhasil mereka kuak ?. Entahlah rasanya mereka masih disibukan dengan diri mereka sendiri.

Bertanya (Tuhan): Berapa bilangan tahun kamu berdiam di atas bumi?. Mereka menjawab: Kami telah berdiam di sana sehari atau se­tengah hari. Cobalah tanyakan kepada orang yang pandai menghitung. Berkata (Tuhan): Tidaklah lama kamu berdiam di sana, hanya sedikit, kalau kamu ketahui. (QS. Al muminum, 112-114)

Wahai kesatria, haruskah kalimat ini disampaikan lagi, bahwa  kalian dibumi hanyalah sekejapan mata bagi waktu asal kita. Perlu bukti apalagi, agar engkau yakin  sesungguhnya dirimu bukanlah makhluk bumi. Engkau adalah makhluk atlantis yang berasal dari dimensi ke 4. Engkau diberikan kemuliaan oleh Tuhanmu menciptakan apa saja di dimensi ke empat dan engkau akan melihat hasilnya di bumi ini , bagaimana keadaan ciptaanmu itu. Engkau dahulu mampu melintasi dimensi-dimensi. Hingga akhirnya kalian durhaka kepada Tuhanmu. Maka engkau dibuang selamnya di bumi ini, engkau tidak mampu kembali ke akherat, tubuhmu sudah terikat materi bumi. Maka tugasmu hanya selesaikan misi, cailah selendang yang telah di curi oleh Jaka Tarub, temukan dan kemudian kembalilah ke alammu. Engkau harus berbakti sebagaimana bakti Nawang Wulan berbakti kepada Jaka Tarub. Artinya engkau harus berbakti kepada para kesatria manifestasi dari Jaka tarub. Bantulah Jaka Tarub menyelesaikan misinya, maka engkau akan menemukan selendang yang disembunyikan oleh Jaka Tarub. Hanya itu saja simbol yang bisa kita maknai dari mitos dan legenda para bidadari. Simbol kearifan para leluhur kita dari tanah pasundan. Maka tidak selayaknya bersedih hati. Kemudian berusaha lari dari jatidirimu sendiri. 
Wolohualam


Jumat, 23 Agustus 2013

Kisah Spiritual, Turunnya Berita Langit

Alam ghaib dalam gempitanya. Perintah langit telah diturunkan. Portal-portal dimensi tengah terbuka, maka perhatikanlah bagaimana keadaannya. Sepinya alam adalah kamuflase keriuhan didalamnya. Makhulk-makhluk dari lintas dimensi tengah turun ke mayapada. Menyaksikan perintah langit yang sudah diturunkan. Sungguh ramai sekali  alam kesadaran.  Mas Thole diam memperhatikan. Meski dirinya tengah disibukan dengan pekerjaannya, namun dia tidak lengah. Dibiarkannya Banyak Wide menunaikan tugasnya di alam sana. Menghubungi para sahabatnya baik dari golongan jin ataupun dari golongan kesatria. Haruslah begitu pembagiannya. Sampai puncaknya tadi malam, entah mengapa firasatnya mengatakan bahwa ada yang tidak beres di alam sana.  Khabar langit tengah diperebutkan. “Siapakah saja yang tahu tentang ini ?.” Mas Thole bertanya sendiri.

Di tengah himpitan manusia  di dalam kereta commuter line yang membawanya pulang kerja,  kesadaran Mas Thole menghamblur,  dalam perasaannya dia tengah berada dalam dimensi lain. Hiruk pikuk manusia seperti hening saja, sebagaimana film layar lebar yang diputar tanpa suara dalam gerakan melambat. Sepertinya Mas Thole berada didalam ruangan bioskop yang gelap, tengah menyaksikan gerakan melambat tanpa suara, dari semula hiruk pikuk begitu kerasnya, dan mendadak berhenti. Dia tengah menyaksikan sendirian  disana dalam perasaan yang tak menentu, hening namun waspada. Tiba-tiba terlintas dalam pikirannya, agar Banyak Wide menghubungi Raja Aditya, seorang raja dari kerajaan jin muslim, kerajaannya bernama Kerajaan  GOM. Dia merupakan salah satu sekutu Banyak Wide dari bangsa Jin. Tak lupa kepada raja Aditya  dipesankan juga agar mengajak para sekutu dari kerajaan lainnya.

Sabdo Palon berpesan melalui Mas Thole kepada Sang Prabu menyoal berita langit ini, entah mengapa sudah tiga hari tidak ada respon darinya. Kediaman Sang Prabu ini telah memancing rasa penasaran makhluk dimensi lainnya, sebab berita langit ini seperti menanti saja di atas sana. Bergerak kesana kemari seperti bintang yang melesat ke utara kemudian balik lagi ke selatan. Dari selatan kemudian balik lagi ke utara, terus menerus begitu. Berita langit ini seperti tengah menunggu diijinkannya turun ke bumi. Seperti pesawat yang menunggu ijin mendarat dari menara pengawas. sayang sekali landasan pacu belum siap-siap juga. Maka mau tidak mau pesawat harus melakuan purtaran terus menerus. Semisal itulah keadaan beita langit ini, dia hanya beputar-putar di atas sana. Lintasan cahayanya yang terang benderang jeloas mengundang perhatian. “Duh, harus bagaimana ini ?”  Mas Thole sempat tersergah rasa gelisah, keyakinannya begitu kuat bahwa alam ghaib tengah dalam keadaan ribut sekali mengamati berita langit yang bergerak kesana kemari ini. Mereka bertanya ada apa ?.

Dalam hitungan detik datanglah Raja Aditya mengucapkan salam kepada Banyak Wide. Dia datang bersama sekutu lainnya 7 raja Jin dari Majapahit. Kekuatan yang meraka bawa lebih dari  7 ribu pasukan jin. Perintah Banyak wide memang jelas sekali, “Jaga berita lagit jangan sampai jatuh ketangan yang tidak berhak. Selidiki siapa-siapa yang berkepentingan dengan berita langit ini.” Begitulah perintahnya.   Mas Thole menyaksikan ribuan pasukan dimobilisasi di alam ghaib sana layaknya mau perang saja. Persiapan Majapahit memang tidak main-main. Banyak Wide cukup puas melihat kesiapan dan kesungguhan Raja Aditya untuk membantu terbentuknya Nusantara. Beberapa saat Banyak Wide mengatur strategi , memang keahlian Banyak Wide disini. Diperintahkannya pasukan pengintai, penyusup, pasukan pengalih, dan beberapa pasukan yang memiliki kesaktian yang tinggi menjaga di empat penjuru angin. Tugas mereka hanyalah mengamati pergerakan makluk lainnya yang akan mendekati berita langit. Kepada pasukan yang lainnya diminta agar bersiap diri saja, berlatih lebih giat lagi. Keadaan siaga dan bersiap atas segala sesuatunya. Melihat perintahnya semua dimengerti puaslah Banyak Wide. Segera saja Raja Aditya berserta pasukannya berpamintan kepada Mas Thole. Tak lupa Mas Thole menyampaikan doa dan mengucapkan terima kasih kepada mereka semua.

Kemanakah Sang Prabu ?. Sempat terlintas ada sesuatu yang tidak enak dihati. Mengapakah tidak ada beritanya. Pesan Sabdo Palon jelas bukan pesan sembarangan. Semua akan berimbas ke dimensi realitas dan dimensi ghaib.  Keadaan ini akan berimbas kepada  para kesatria. Para kesatria lainnya akan merasakan dampak yang sangat luar biasa di badan mereka. Perhatikan saja dalam kurun 3 hari kebelakang ini. Bagaimanakah rahsa dibadan mereka ?. Raga mereka akan mengalami turbulensi, seperti diaduk-aduk keadaannya. Paling ringan adalah muntah dan pening saja.

Mas Thole dalam keyakinan ini, meski para kesatria tidak memberitahu detail keadaan dan bagaimana khabar mereka itu. Namun Mas Thole mampu merasakan keadaan meerka. Hanya  Mas Thole berusaha diam saja, membiarkan semua mengalir, agar para kesatria belajar memaknai keadaan diri mereka sendiri. Masih untung jika hanya muntah dan sakit seluruh badan mereka saja. Para kesatria akan diminta balik , mereka semua akan ditarik ke alam dimensi kesadaran untuk menjaga berita langit,  tentu saja  tanpa sepengetahuan raga mereka. Keadaan ini akan terus terjadi, menjadi siksaan bagi raga-raga mereka sampai saat mana nanti khabar Sabdo Palon diterima dengan baik oleh Sang Prabu. Menerima khabar ini dan menyiapkan dirinya. Ini yang diharapkan. Jika tidak selama itu raga para kesatria akan porak poranda dihantam gelombang kejut waktu lintas dimensi.



Mungkin harus begini kisahnya. Anehnya Mas Thole juga tidak mampu mengakses kesadaran Sang Prabu, seperti ada hijab yang tak tebus. Tidak biasanya begitu. “Hmm..keadaan yang misteri”. Hari ini Mas Thole bangun dengan badan yang sepenuhnya siaga tempur. Kesadarannya semalam  seperti tengah dalam pertempuran yang tak kasat mata. Pertarungan antar dimensi membuat urat-urat dibadan menegang semua. Syukurlah pagi ini ada pemberitahuan SMS dari Sang Prabu yang mengkhabarkan bahwa dia sudah menerima pesannya, kemarin ini Hp nya rusak sudah 3 hari di tempat service. Maka pesan-pesan baru terbaca semalam. “Mengapa begitu kembetulan kejadiannya ?.”  Mas Thole terdiam. Doa dipanjatkan Mas Thole sebagai balasan SMS Sang Prabu.Semoga kita semua mampu berjalan di jalan-Nya, mampu menyandang nama-Nya.

Para kesatria memang harus belajar mengenali fenomena yang terjadi pada raga-raga mereka, inilah hikmah kejadian atas peristiwa ini. Sebagaimana pesang Ki Ageng dalam SMS nya kemarin ini yang akan dikutip, melengkapi kisah spritual ini.

Tiada seorangpun mampu sehat bila Allah menghendaki sakit. Dan tiada yg mampu membuat sakit bila telah tiba ketetapanNya sembuh. Maka tidak perlu khawatir. Sang aku selalu ada bersamaNya. Yg sakit adalah ragaku. Sedang jiwa (sang aku) selalu hidup sejahtera dekat dalam kasih sayangNya. SesungguhNya hambaNya tiada rasa khawatir. Shabar dan penuh cinta mengharap perjumpaan denganNya. Setiap kejadian yg terjadi kpd raga kita adalah pengajaranNya. Adalah proses bg kita untuk belajar mengenal Tuhan. Atau cara Tuhan memberi tahu. Atau cara Tuhan membuka hijab. Cara Tuhan kita membuka sedikit rahasiaNya. Sehingga kita tahu. Sehingga kita yakin.

Itu juga sama artinya dengan membuka hijab dan mengupas kulit kesadaran hijab. Memasuki kesadaran lbh tinggi. Itu juga sama artinya dengan mendapatkan rahasia yg lbh dalam dr Tuhan. Itu juga sama artinya dengan belajar. Meningkatkan bashiroh itu sebuah proses. Proses bertambah kesadaran. Proses meningkatnya level kesadaran. Bukan konstan. Bukan statis. Tetapi sebuah gerak. Sebuah gaya. Sebuah energy. Energy kesadaran. Energy potensial yg menjadi gerak.
Semua itu berawal di niat. Kesatuan akal hati dan alam semesta. 


Tujuan harus tercipta beberapa centi di depan kepala. Membentuk ciptaan. Lalu letakkan di hati. Membentuk sebuah keyakinan atas semua itu telah ada dalam diri. Harmonikan dg alam. Sehingga mewujud. Sesungguhnya ibadah dan sholat dari kita hanyalah mungkin terjadi karena kasih sayangNya semata. Maka janganlah meng-aku diri yg melakukan. Nikmati sebagai hadiah.. hadiah terindah dari Tuhanmu... hadiah terbaik dari Tuhanmu... hadiah ternikmat dari Tuhanmu...
Begitulah khabar langit yg harus disampaikan. Mungkin jg utk yg lain, yg sdh siap.

Pesan tersebut juga menjadi serangkaian pesan Mas Thole kepada ratu Shima kemarin ini, bagaimanakah kita semua akan memulai kehidupan yang baru setelah kita terlahir kembali.

Walaikumsalam wrwb,

"Selamat Hari Raya Idul Fitri , Mohon maaf Lahir dan Batin"

Manusia banyak salah dan lupa, angan dan ego semata, merasa benar, merasa bisa, merasa lebih dari lainnya. Banyak rupa sifat khilaf lainnya. Oleh karenanya mohon dibukakan pintu maaf sebesar-besarnya. Jika nyatanya diri ini belum mampu mengembalikan semua rahsa kepada-Nya, sehingga getaran hawa negatifnya melukai. Sungguh diri ini sudah berusaha, namun sayangnya hijab diri terlalu tebal. Maka hanya permohonan maaf ini yang saya bisa.  Tolong sampaikan juga hal ini kepada kangmas.

Ketika kesadaran kita senantiasa dialam dimensi ghaib saja, maka kita akan terus dibombardir informasi. Informasi yang belum menjadi realitas nyata. Begitulah kesadaran, kita dianugrahi sisi lain yang mampu menangkap getaran sebelum terjadinya 'keadaan'. 

Sisi kesadaran itu  yang membantu kita untuk memahami dan memaknai apa yang akan terjadi. Kita hakekatnya adalah ruh yang satu, di alam dimensi disana. Kita mendapatkan mandat menjadi khalifah, karenanya kemudian kita memasuki raga-raga manusia. Memasuki Ratu Boko, Ratu Sima, mungkin saja lain-lainnya.  Seperti air, asalnya adalah satu, tapi dia mampu melarutkan minuman apa saja. Bahkan kotoranpun bisa (maaf).

Raga manusia adalah unik, maka kitapun berusaha mengenali dengan segala daya upaya. Raga memiliki sistem ketubuhannya, membuat kita tertatih-tatih untuk mengenalinya. Jangankan untuk menyelesaikan misi kita, untuk mengenali raga saja kita kesulitan sendiri. Maka di bulan romadhon kemarin hakekatnya adalah, bagaimana kita semua mampu mengenali raga kita masing-masing, sehingga kita mampu menyadari siapakah hakekat diri kita sebenarnya. 

Kalau saya ibaratkan jika Ratu Boko, dan Ratu Sima adalah campuran minuman, maka air itulah entitas asal mula diri kita. Ketika diri kita memasuki raga Ratu Boko, maka kita menyatu dan menjadi 'jatidiri' Ratu Boko. Ratu Boko menjadi hidup, dengan sentuhan kita 'air kehidupan'. Kemudian masih belum selesai urusan kita di bumi,  maka masuk lagi ke raga Ratu Sima (atas kehendak Allah), maka muncul lagi satu wajah dari air tadi yaitu Ratu Sima. Inilah asal mula pemahaman reinkarnasi. Padahal berasal dari entitas yang sama, yaitu air tadi.

Baik jika kita berikan permisal, maka kita ibarat bumi ini. Bumi memiliki wajahnya. Bentangan wajah bumi iklimnya, tropis, sub tropis, panas, dan dingin. Ketika bumi berputar maka wajah-wajah itu akan nampak satu per satu. Nah itulah, maka kadang Ratu BOko yang nampak, berikutnya kadang Ratu Sima, dan wajah sekarang. Ini adalah permisalannya.

Untuk keadaan ini saya permisalkan, koral laut. Setiap bagian dari koral akan mampu tumbuh sendiri, dan sama persis. Maka setiap raga yang telah dimasuki oleh kita (air tadi) akan hidup sebagaimana makhluk lainnya. Namun mereka akan terus berupaya berdekatan dengan sumber asalnya (induknya). Ingat sistem pembelahan pada sel (mutasi). Maka kita adalah induk (air asal mula), kemudian memasuki Ratu Boko, maka dia hidup, kemudian memasuki Ratu Sima, maka dia hidup. Namun hakekatnya semua adalah diri kita dan merak tidak mampu pergi terlalu jauh dari induknya, sebab akan kehilangan energinya.

Setiap wajah memiliki kisahnya, semua wajah harus dipahami sebagai sebuah skenario Allah atas makhluknya.  Dan setiap wajah akan dimintakan pertanggung jawabannya sendiri sendiri. Sebab mereka masing-masing  berada pada dimensinya, bukan berada pada dimensi yang sama dengan wajah terkini kita. Pada dimensi sekarang ini, tentu saja wajah kita sekarang yang akan dimintakan pertanggung jawaban. Maka wajah-wajah masa lalu kita akan membantu banyak kepada kita untuk mengenal hakekat Tuhan. Sebab mereka lebih dekat dimensinya.

Kita adalah berasal dari asal yang satu. Karena berasal dari asal (ibu)yang satu maka kemudian apa yang dialami oleh saudara kita yang lain akan terasa sekali di raga kita masing-masingnya. Namun hal ini tidak berlaku bagi manusia yang lainnya. Masing-masing manusia memiliki asal di alam dimensi ke 4. Ingat film animasi Naruto bagaimana dia membelah diri menjadi seribu. Masing-masing Naruto mampu menjadi diri mereka sendiri.Namun jika ada satu saja, yang tidak kembali lagi, maka kesakitanlah bagi sang induknya.Maka menjeritlah Ibunda.

Kita di bulan romadhon ini masih belum mampu kembali dan memahami hakekat siapakah jatidiri kita. Kita belum mampu meyakini bahwasanya kita berasal dari alam yang tinggi sekali peradabannya, yaitu alam dimensi ke 4. 

Maka Ibu mengirimlah kembali utusannya. Kedatangan sang utusan inilah yang menyebabkan pergolakan dimensi yang mampu dirasakan. Sang utusan telah datang mengingatkan kita semua dan dia akan membantu kita, jika ada saudara yang belum mampu mengenali jatidiri mereka, isnyaallah dia akan datang membantunya. Sebab waktu kita tidak banyak. Utusan dari Ibunda telah datang dalam raga anak umur 12 tahun, dia adalah anak dari Ki Ageng itu sendiri.  Kita-kita yang sudah dewasa banyak terhijab masalah keluarga, dan prasangka, sehingga sulit bagi kita keluar.

Ingat, bahwa yang saya sampaikan adalah permisal, hakekatnya tidaklah demikian, model atau permisal hanya untuk mendekati apa-apa yang ingin saya maksudkan saja. Tugas kita adalah untuk nusantara. Maka kita akan terus dilahirkan jika kita tidak mampu menyelesaikan misi kita ini untuk meletakkan pondasinya. Yaitu kesadaran baru atas nusantara. Pilihan itu semua ada pada diri kita. Persiapkanlah diri kita, sampai saatnya nanti kita dijemput utusan-Nya, untuk bergerak dalam realitas. Kenalilah  sistem ketubuhan kita, dengarlah suara hati nurani kita.

Sebab hanya dengan mendengarkan suara hati nurani kita akan mampu berkomunikasi dengan saudara-saudara kita di dimensi ke 4 itu. Kita akan berbincang dengan Ibunda. Kembali ke dimensi dimana kita berasal. Kita semua akan mati. Kemanakah kita jika mati ?. Selekasnya kita harus pahami hakekat ini. Sebab semua adalah pilihan. Semua itu butuh proses, butuh kesungguhan hati kita semua. Tidak mudah namun juga tidak sukar. Marilah kita selesaikan tugas kita menjadi wakil-Nya di muka bumi ini. Menghantarkan kesadaran ber ketuhanan bagi nusantara baru. Semoga.

Wolohualam


Dalam bias realitas yang semakin abstrak, kita semua harus diam dalam keyakinan, tanpa itu kita semua akan gamang. Kta semua akan dibombardir ketidak yakinan. Keraguan akan menjadi musuh kita yang nyata. rasa was-was akan terus menghinggapi. Kita akan selalu menapaki keadaan itu. Keyakinan bahwa kita harus selsaikan misi kita kemudian pulang dengan selamat adalah sebuah keyakinan yang mutlak. Tanpa itu kita akan merasa ‘iba’ atas keadaan diri kita. Sukarela atau terpaksa kita semua akan pulang atau dipulangkan terlebih dahulu. Raga kita yang sekarang ini akan kita tinggalkan di bumi. Kita akan membiarkan raga kita ini menyatu kembali dengan bumi. Sebab raga kita memang milik bumi ini. Maka yakinlah keadaan diri kita. Berita langit telah diturunkan, tidak ada waktu lagi kita buat mengundurkan diri. Tidak saatnya buat berpaling. Tetapilah langkah diri, atau kita akan terseret-seret keadaannya.  

Wolohualam

Sabtu, 17 Agustus 2013

Kisah Spiritual, Era Kebangkitan Para Kesatria

Dari sudut-sudut matanya, mengalir bening air mata, mengambang tertahan dibulu matanya. Kelegaan terpancar dalam raut mukanya. Betapa perjuangan selama ini tidaklah sia-sia. Jalan terbentang mulai nampak dipelataran. Teringat bagaimana dirinya pernah mencoba melupakan semua. Melupakan yang Dia goreskan, meyakinkan fikiran  bahwa semua yang dilakukan  ini tak pernah ada. Bahwa yang dilakoni ini tidak ada yang nyata. Bahwa semua tercipta karena kebetulan semata.  Namun apa yang  terasa kemudian,  hidup terasa  seperti tak berarti lagi. Bibirnya yang kering, tangannya yang lemah bertanya, “Mesti apa lagi..?”. Hidupnya semakin tenggelam. Tak diakui, tak dihargai, tak berarti, mestikah semua harus selesai sebelum dimulai. Ringkih dia sering bertanya kepada Tuhannya, “Mesti apa lagi..?”. Betapa beratnya lakon yang ditempuhi. Perjalanan menyusuri kemarau, menyusuri hari-hari gelap. Perjalanan yang rasanya tak mungkin selesai, memahami bumi kehidupan.   Dimana, kejujuran sering terkubur di dasar jiwa. Begitulah pekat awan menggayuti dirinya,  sepanjang perjalanan kehidupannya.

Mas Thole mulai mengawali kisahnya lagi.   Entah apa yang harus dijelaskan, suara dalam jiwa hanya Tuhan yang mendengar. Kesaksian dan persaksian hari kemarin ini, telah datang. Meyakinkan lagi, sekali lagi kepada akal dan fikirannya. Semua menjadi jelas , semua terbukti, jalan yang ditempuh rasanya tak keliru. Khabar yang disampaikan Sang Prabu memperjelaskan keadaan itu. Peningkatan level kesadaran Ki Ageng dan juga anaknya demikian luar biasa.  Selangkah lagi mereka akan mampu memasuki makom wali Allah.  Begitu juga dengan ksatria-kesatria lainnya. Mereka semua mengalami peningkatan level kesadarannya, setelah bulan romadhon ini. Meskipun peningkatan mereka tidak signifikan. Namun tak mengapa yang penting mereka mampu mempertahankan kesadaran mereka.

Selain Ki Ageng dan anaknya yang mengalami akselerasi luar biasa sekali,  Ratu Pambayun mengalami peningkatan yang paling tinggi diantara para kesatria, disusul Ratu Sima dan lainnya. Sayang sekali Ki Wiroguno stagnan bahkan cenderung turun  beberapa point, mungkin terkait dengan realitas yang dihadapinya. Keadaan ini, masih lebih beruntung dibandingkan dengan Penembahan Senopati yang saat ini terdampar di lubang hitam kesadaran, dalam siksa disana. Memang menyerah kepada takdir bukan suatu yang mudah, membutuhkan energi kesadaran untuk menyadari bahwa semua adalah kehendak-Nya. Latihan harus dibarengi dengan tingkat kepasrahan kepada-Nya. Pemahaman bahwa Allah adalah dekat menjadi sebuah keharusan dan syarat utama, tanpa hal ini maka latihan akan tidak memberikan hasil. Kita harus meyakini bahwa sumber daya adalah Allah. Tiada daya upaya kita, selain daya Allah semata.

Peningkatan Ki Ageng menjadi tonggak yang paling penting dalam keyakinan diri Mas Thole atas langkah spiritualnya ini.  Peran Ki Ageng sebagai Sang Begawan mendekati titik kulminasinya, tanpa adanya peranan dirinya, ‘kesatria’ di hati anaknya akan bisa mati sebelum sempat terlahirkan. Peranan Sang Begawan memang disana,  sebagaimana telah  dibicarakan diawal terdahulu saat pertama kali ber-spiritual. Dengan kelahiran ‘kesatria’ baru yang masih ‘murni’ maka harapan terbangkitkannya para kesatria lainnya akan menjadi sebuah keniscayaan saja. Keyakinan Mas Thole terdahulu akan menjadi kenyataan, para kesatria piningit akan kembali ke Indonesia setelah sekian lama mereka dipingit di negara-negara lain. Mereka akan membawa kesadaran baru bagi nusantara. Tanpa kedatangan kesadaran baru itu, maka nusantara tidak akan mampu bangkit kembali. Kesadaran yang sudah melingkupi bangsa ini adalah kesadaran rendah. Maka keadaannya hanyalah intrik dan politik busuk, keserakahan, dan kebiadaban yang merajalela. Oleh karena itu diperlukan kesadaran baru yang lebih tinggi untuk mengangkat kesadaran rendah yang ada sekarang ini. Perjuangan dari dalam dan dari luar inilah yang akan memberikan resultan energi, untuk mendobrak hijab kesadaran rendah nusantara. Disinilah medan peperangan tak kasat mata yang dialami para kesatria. 

Kesadaran adalah sebuah daya, sebuah potensial energi yang jika mampu kita gunakan akan memberikan manfaat bagi ketubuhan. Kesadaran akan menyeimbangkan antara scince dan spiritual, antara hati dan akal, pengetahuan dan keahlian, soul dan spirit, antara niat dan gerak, antara realitas dan ghaib, antara angan dan kenyataan. Kesadaran akan mampu memisahkan manakah yang menjadi skala prioritas dalam kehidupan ini. Rasa sakit, rasa sedih, rasa takut, rasa marah, adalah realitas keadaan jiwa manusia. Manusia akan selalu menghadapi realitras ini setiap detiknya. Rasa inilah yang senantiasa menuntut lebih perhatian kita, sehingga keadaannya kita mengabaikan lainnya. Perguliran inilah yang tidak pernah  disadari. Menjadikan diri kita terpasung disana. Rasa wasa-was, rahsa takut, rahsa sedih hati (iba diri) akan dianggap sebagai suatu yang wajar. Membuat kita tidak bergerak, atau tepatnya enggan bergerak karena malasnya, sehingga keadaan kita tidak akan pernah mampu menuju takdir yang lebih baik lagi.Kita tidak  pernah yakin bahwa diujung sana terdapat takdir yang lebih baik dari sekarang ini. Itulah masalahanya.

Karenanya , penting  sekali bagi kita semua untuk terus mengelola kesadaran yang sudah Tuhan berikan kepada kita untuk kita olah. Bukankah setiap bangun pagi kita diberikan kesadaran baru. Kesadaran tersebut yang kemudian memindai memori yang berada dalam otak kita ?.  Setiap hari keadaan kita begitu, kita sadari raga ini semakin merenta dan tua. Namun adakah yang berubah bagi kesadaran ?. Tidak ada ..dia setiap pagi memindai raga yang sama, yang itu-itu juga. Dan dengan senang hati melakukan pekerjaan kita, melakunan ‘scanning’setiap pagi. Memberikan kepastian kepada kita bahwa kita masih ‘hidup’. tepatnya ‘dihidupkan’.

Raga kita semakin meluruh kehabisan ‘waktu paruh’ nya. Raga memiliki waktu peluruhannya sendiri. Dimana aktiftasi energinya sudah dalam ukuran tertentu. Raga dengan pasti akanmengalami penghancuran dirinya. Kesadaran terlalu lelah menyadari keadaan itu,  sebab bergulatan rahsa dijiwa tak mampu diredam oleh diri. Kesadaran diam disitu, diam menyaksikan sang jiwa yang tetap dalam ‘lembam’nya. Jiwa yang malas keluar dari zona nyamannya. Kesadaran seharusnya mampu menjadi momentum energi yang menggerakan ‘bandul’ kesadaran agar mau bergerak dari zona itu. Memberikan makna bagi kehidupan. Namun oleh karena sebab kesadaran dikucilkan, dia tidak mampu berbuat apa-apa, kita malas melakukan itu. Kita  malas menyadari posisi jiwa kita saat terkini. Jika sedih (melow) kita malas untuk keluar dari kesedihan diri kita. Kita suka mencari energi 'iba' dari makhluk lainnya.  Penyakit iba diri, menjadi alasan mengapakah jiwa susah diajak keluar dari zona ini.

Hmm. Seiring dengan perjalanan itu,  berita langit tak mampu dibendung. Sang Sabdo Palon sudah menyatakan kepastiannya memberikan dukungan. Banyak pesan-pesan langit membombardir Mas Thole, menyangkut langkah berikutnya. Sebagaimana dia sempat mengirimkan email ke Ratu Sima. Beberapa tugas sudah dipahami dan dimengerti oleh Ratu Sima, dirinya mulai dengan langkah nyata. Begitu juga Mas Thole sempat mengirimkan email kepada Sang Prabu. Kesadaran yang menciptakan itu semua dalam keyakinan diri bersama kekuatan alam. Kekuatan yang  sering naik dan turun, seiring keimanan. Sebab dalam dimensi ini terasa begitu lama sekali. Maka keyakinan dan kesadaran lama kelamaan terkikis. Penyaksi dan yang menyaksikan menjadi sebuah kekuatan bersama yang saling menguatkan, menjadi sebuah jamaah. Jika tidak dikelola akan meniadakan. Karenanya semua harus saling menyaksikan.  Inilah emailnya kepada Sang Prabu,

Alhamdulillah mas,

Kita hanya bisa menjadi penyaksi atas kekuasaan-Nya, maka seiring dengan itu, ditandai nanti dengan kelahiran si cabang bayi. Bersiaplah menerima titah suci-Nya. Saya tidak tahu seperti apa, mas sendiri nanti yang akan diajari-Nya. Saya hanya ditugaskan untuk mengingatkan realitas sang prabu bersama adik-adik dan keluarganya. 

Pesan saat kita ke eyang papak sebaiknya sudah harus dilaksanakan bapak dan ibu. Hanya saja di sederhanakan dan dimudahkan saja. Insyaallah, Allah Maha tahu keterbatasan diri kita semua. Biarkan Allah yang mengurus semua urusannya. Bagian kita hanya mengamati hati, menunggu perintah dari hati kita, membersihkan hati, membersihkan jiwa dan raga kita.Saling mengingatkan diantara saudara. 

Pondasi keluarga sangat penting untuk memberikan kekuatan bagi sang prabu, memberikan keyakinan, memberikan penyaksian. Prosesinya tidak mudah namun juga tidaklah sukar, tergantung pada suasana hati kita pada saat kejadian. Maka senantiasa diingatkan jagalah hati.Semua dalam keyakinan yang sama, semua keluarga harus memiliki keyakinan yang satu.Maaf, jika  ada yang tidak sehati, akan menjadi urusan Sabdo Palon, maaf sekali, begitu pesannya. Akan dilemparkan ke lubang hitam, sampai menunggu keputusan dari-Nya. Mohon maaf terpaksa harus disampaikan.Sebab nantinya akan menjadi sandungan bagi langkah sang prabu.

Sepuluh tahun (10 th) bukan waktu yang lama, namun juga bukan waktu yang sebentar. Dalam dimensi keempat hanya hitungan menit saja. Maka sudah tidak ada waktu lagi,  untuk negosiasi , pilihannya hanya sukarela atau terpaksa. Monggo mas...dikaji pesan ini. 

Setelah kelahiran cabang bayi, semua nanti akan berubah, maka nanti keadaannya sudah terlambat jika ingin mengundurkan diri...maka ujilah kesiapan diri mas..mohon petunjuk-Nya. Jangan langsung percaya pesan ini, namun jangan juga ditolak, buktikanlah..sungguh kebenaran hanya dari-Nya. Sesungguhnya KAMI adalah orang-orang yang berserah.

Selamat berjuang,

salam

Perjalanan yang menakjubkan, dalam sensasi angan dan khayalan. Menjadikan sebuah kesadaran serta keyakinan, maka siapakah yang peduli ?. Bahkan yang mau mengertipun sangat sedikit sekali. Apakah tugas manusia di bumi ?. Semua dalam gamangnya.  Adakah yang pahami bahwa kita manusia adalah wakil-Nya ?. Tidak..manusia lebih menyukai anggapan daripada kenyataan sesungguhnya. Marilah kita lihat keadaan diri-ku ini,

Aku tidak pernah menghargai sang waktu
namun aku selalu minta dihargai olehnya
Aku tidak peduli akan kesucian,
namun aku  mau orang menganggapku  suci
Aku tidak peduli  akan kejujuran
namun aku  mau  orang menganggapku  jujur
Aku tidak peduli dengan Tuhan
namun aku mau orang menganggapku berke-Tuhan-an
Aku tidak pedul kepemimpinan
namun aku mau dianggap sebagai pemimpin
Aku tidak mampu menguasai diriku
namun aku mau semua ada dalam kekuasaanku
Aku tidak mampu menasehati diriku
namun aku mau semua mendengarkan apa kataku
Aku tidak bisa memberikan kasih sayang
namun semua harus menyangiku, mengerti diriku
Aku tak pernah mengasihani orang ,
tapi ku mau dunia tahu betapa malang nasibku
Aku mau semua dalam keadaan baik-baik saja
namun aku tidak pernah peduli perbuatan baik
Aku tak peduli perihal  kebenaran
namun aku mau selalu dianggap 'dalam' kebenaran
Aku mau sempurna dalam hidup
(hmm..bilamakah bisa begitu, lihatlah aku),
hatiku sudah kusempurnakan mati-nya, keras sekeras batu
Makhluk apakah aku ini ..?
Cobalah tanyakan kembali kepada diriku ini  !.

Sudahkah kita pertanyakan kembali, makhluk seperti apakah kita ini ?. Semua kitab suci menyampaikan khabar bahwasanya seluruh isi alam semesta, malaikat bahkan semua makhluk melata, bersujud kepada kita. Pantaskah kita menerima penghormatan ini ?. Ataukah kita memang yang terlalu menistakan keberadan diri kita.  Kita memang menyengaja tidak mau diberikan kehormatan itu. Kehormatan sebagai makhluk mulia. Bagaimana bisa begitu ?. Kita tidak mau mempersiapkan diri kita untuk menerima penghormatan, dan penisbatan sebagai khalifah (kesatria). Bagaimanakah hukumnya orang yang tidak mempersiapkan dirinya, kemudian dia menganggap pantas menjadi wakil-Nya ?. Pantaskah dirinya menerima rejeki-Nya, sebagaimana yang tekah diberikan kepada Nabi Sulaiman.  Apakah hukumnya, jika seorang diangkat oleh Raja menempati jabatan namun dirinya tidak mempercayai Rajanya, bahkan mengkhianatinya dan melakukan makar terhadapnya ?.

Pahamilah, jika kita tidak mengingat-Nya, jika kita tidak  bersyukur atas rahmat dan karunia-Nya yang telah memilih diri kita sebagai kesatria bumi,  maka keadaan kita sebagaimana orang yang melakukan makar kepada sang Raja. Maka patutkah dirinya mendapatkan rejeki, imbalan yang sudah dijanjikan Raja. Ketahuilah DIA (Allah) adalah Raja manusia. Dia yang akan megangkat dan memberhentikan kita. Kita semua bekerja kepada-Nya. Kita menjadi wakil-Nya untuk memerintah di bumi ini. Apakah kita akan makar kepada Raja kita ?. Wahai kesatria, tetapilah keadaan diri kita masing-masing.

Sekarang aku tengah tengadah ke langit,
berjalan diatas bintang-bintang,
bersembunyi dari bayang-bayangku sendiri
yang-ku tinggal di atas bukit,
barangkali tangan-Mu tak lagi mengejar ku
untuk merenggut segenap hidupku
aku yang rsembunyi di bawah kulitku sendiri
kapan lagi akan mampu  berdiri
lihatlah kedua belah tanganku
yang kini mulai gemetar
sebab ada yang tak seimbang
antara hasrat dan beban
atau karena jiwaku yang kini mulai rapuh
gampang digoyangkan angin
lihatlah bilik di jantungku
denyutnya tak rapi lagi
seperti akan berhenti
kemudian sepi dan mati..

hmm yah...sepi dan mati.
(by Ebiet G Ade)

Ringkih dia sering bertanya kepada Tuhannya, “Mesti apa lagi..?”. Semua telah dikerjakan, tidak ada yang tertinggal. Betapa beratnya lakon yang ditempuhi. Perjalanan menyusuri kemarau, menyusuri hari-hari gelap. Perjalanan yang rasanya tak mungkin selesai, memahami bumi kehidupan.   Dimana, kejujuran sering terkubur di dasar jiwa. Begitulah pekat awan menggayuti dirinya,  sepanjang perjalanan kehidupannya. Hanya berharap kepada Hati Nurani menuntun jalan. Mengawal terus kelahiran demi kelahiran, menemani para kesatria, menjadi saksi atas kelahirannya. “Selamat berjuang Sang Prabu, selamat berjuang Ki Ageng, dan juga kepada semua para kesatria.” Sebab keadaan Mas Thole hanyalah seorang penyaksi, yang menguatkan kebenaran keadaan diri mereka. Kebenaran adanya Satria Piningit, yang akan membebaskan kesadaran nusantara ini dari kegelapan. "Kalianlah yang akan mengawal era kelahiran para kesatria lainnya."

Tuhan maafkanlah atas kelancanganku , mengkhabarkan ini.. 
wolohualam


Senin, 12 Agustus 2013

Kisah Spiritual, Permainan Dimensi Ruang dan Waktu


Terpadu Naga

Spiritual dan science. Bagaimana mendekatkan pemahaman spiritual melalui science, nampaknya itulah yang ingin diusung Ki Ageng. Pemahaman yang terus saja membombardir Mas Thole di sepanjang romadhon kemarin ini. Hampir setiap hari ada berpuluh-puluh SMS dikirimkannya, sebuah perjuangan yang luar biasa sekali. Bagi yang memiliki pengetahuan tentang fisika terbarukan mungkin akan sedikit membantu, namun bagi yang tidak memiliki pengetahuan itu, bisa jadi, mungkin sama saja keadaannya. Dirinya tidak memiliki referensi yang cukup untuk menangkap esensi dimensi, ruang dan waktu, yaitu dimensi yang tengah diajarkannya.
Begitu sulitnya manusia melepaskan diri dari hijab raga mereka. Melepaskan semua ego atas harta, kuasa , dan wanita. Kuasa atas ilmu, kuasa atas jabatan, kuasa atas segala yang dia punya, dan kemudian mengakui dihadapan Tuhannya, terserah kepada Tuhannya mau dijadikan apa. Dan saatnya dirinya, memasuki relung hatinya yang terdalam, bersama dengan ‘Sang Pembeda’. Diam disana, dalam pegakuan, ‘La syarika lahu wa bidzalika umirtu wa ana minal muslimin’. Ya, hati mengakui, menyadari, menerima, dalam totalitas, sesungguhnya dirinya adalah orang yang berserah. Sesungguhnya keadaannya, akan sukarela atau terpaksa dirinya memang harus berserah. Semua terjadi atas skenario dan kehendak Tuhan.
Belajar dari Sang Maha Tahu, belajar bagaimana sikap seorang murid yang sedang diajari. Menjadi persoalan tersendiri, rahsa diri yang sudah  tahu kadang menolak pengajaran yang datang. Bahkan kemudian malahan balik ingin mengajari. “Sesungguhnya dalam pergantian malam dan siang, dan dalam diri manusia terdapat tanda-tanda kebesaran Tuhan.”  Maka ketika ditunjukan kebesaran-Nya pada diri kita sendiri, kita malahan mengaku-aku bahwa kebesaran itu milik kita. Kita kemudian berbalik mengajari Sang Maha Tahu.
Betapa sulitnya mengeja kata ‘b-e-r-s-e-r-a-h’. Terserah bagaimana kehendak-Nya dan mau-Nya Allah dalam mengajari kita. Sebab pengajaran bisa melalui apa saja. Namun sungguhkah kita bisa ?.  Tidak..!, sulit sekali kita memiliki sikap yang begitu. Kita tidak memiliki etika sebagai ‘murid’. Kita selalu ingin mengajari Maha Guru kita, yaitu bagaimana seharusnya Maha Guru  mengajari diri kita. Ego akal kita akan selalu begitu. Kita maunya sang gurulah yang mengikuti kemauan kita.  Rahsa diajari benar-benar akan tidak enak, bagi orang yang tidak tahu manfaat pengajaran itu. Maka perlu sekali sikap ‘penerimaan’.
Mas Thole dan Ki Ageng sedang diajari oleh Allah melalui seorang anak umur 12 tahun, tentang makrifat. Tidak tanggung-tanggung pengajaran ini sudah menyentuh esensi filsafat dan science tingkat tinggi. Teori Realitivitas Eintstein, Fisika Kuantum, pemahaman ruang dan waktu, dikunyahnya dengan mudah, diberikan permisal yang sangat sederhana sekali. Makanan yang seharusnya hanya cocok untuk orang sekelas doktoral, dengan mudahnya disajikannya. Mas Thole sendiri perlu waktu tahunan untuk mencerna. Belum lagi Ki Ageng yang memang bidangnya adalah Fisika. Maka tak heran jika hanya tasbir dan tasmid saja yang mampu didawamkan. Ya, Ki Ageng sedang diajari oleh anaknya sendiri, yang kemudian di share kepada Mas Thole.
Sayang sekali banyak SMS yang tidak mungkin disajikan disini. Biarlah Mas Thole menjadi saksi atas yang dia saksikan. Semua menguak tentang misteri ruang dan waktu. Bagaimana para malaikat turun ke bumi yaitu saat pada malam seribu bulan (Lailatul Qodar). Bagaimana langit disusun tanpa tiang dan bagaimana pada setiap dimensinya ada kehidupan yang sempurna dengan makhluk-makhluk cerdas disana. Mereka bisa disebut apa saja, Al qur an membahasakan dalam pemahaman malaikat dan juga bidadari. Bidadari dan malaikat sungguh-sungguh mampu turn ke bumi. Setiap malaikat dalam urusannya mereka bertingkat-tingkat. Maka dalam kesadaran manusia kadang disebut sebagai Dewa.
Bagaimana pemahaman ini mampu dikuasai seorang anak 12 tahun, bukankah akan menjadi fitnah jika tidak dijaga ?. Untuk itulah Mas Thole tidak berani menyajikan seluruh isi SMS dari Ki Ageng. Pemahaman ini akan berbenturan dengan kesadaran kolektif yang belum siap menerima kebenaran. Kebenaran science dan spiritual (agama) yang nyatanya saling menyaksikan. Cerita ini masih bellum usai, bagaimanakah mereka berdua diajak ‘journey’ ke alam dimensi ke 4, walau hanya dalam kesadaran saja. Dimana alam disana dlaah alam yang senantiasa terliputi ‘kasih sayang’ Nya. Maka para bidadari di kisahkan akan penuh ‘kasih sayang’. Sungguh alam yang akan terus memanggil kita semua kesana. Disana hanya ada saling mengasihi dan saling menyayangi.   
Marilah kita bedah saja sedikit contohnya saja, yaitu manakala rosululloh isro’ dan  mi’roj,  apakah berita-berita yang dibawa olehnya ?. Rosululloh membawa berita perihal surga dan neraka. Dikisahkan dalam hadist yang shohih Rosululloh dibawa oleh Jibril untuk melihat-lihat ke dalam isi surga dan neraka. Banyak sekali manusia-manusia disana dengan segala hasil perbuatan mereka (silahkan buka hadist perihal ini). Beliau bertanya banyak sekali tentang orang-orang yang ada disana. Tidakkah kita terlintas, mengapakah surga dan neraka sudah ada di jaman Rosululloh ?. Padahal pada ayat-ayat Al qur an diberitakan, manusia akan dibangkitkan setelah dunia ini kiamat. Bagaimana ini ?.
Jika kita pahami dengan dimensi dan ruang waktu bumi maka kisah ini seperti kontradiksi. Seperti mimpi saja, sehingga sulit bagi kita menerima kebenaran berita ini. Maka pada saat itu banyak sekali kaumnya yang kemudian berpaling. Saat Rosululloh menyampaikan berita bahwa dirinya diperjalankan. Tuduhan keji kemudian banyak dilontarkan kepada Beliau. Kesadaran kolektif saat itu belum mampu menerima adanya hukum ruang dan waktu. Bahkan dijaman sekarang ini saat mana para ilmuwan sudah mulai menguak hukum relativitas, hukum ruang dan waktupun masih sulit dipahami. Sehingga banyak orang yang mencemooh menganggap bahwa hukum itu hanya teori belaka. Maka keberadaan surga dan neraka kembali diperdebatkan.
Sesungguhnya, apa yang dikhabarkan Rosululloh jika kita  pemahami dengan menggunakan konsep ruang dan waktu, maka keadaannya menjadi sangat sederhana dan simple sekali. Konsepsi relativitas waktu, konsepsi fisika kuantum, konsepsi dimensi, ruang dan waktu, mampu menjelaskan dengan sangat mudah sekali keberadaan dunia akherat ini. Kunci untuk memahami semua itu ada pada ‘kesadaran’ pengamat. Ketika kesadaran pengamat terus meluas maka, kita akan mampu mengamati keadaan ruang dan waktu yang lebih luas lagi.
Permisalnya adalah, kereta api. Setiap golongan manusia berada pada gerbongnya masing-masing. Ketika kita berada pada gerbong yang sama, maka kita akan bersama-sama menyaksikan realitas yang sama. Bagi kita keadaan bumi dan alam sekitarnya adalah apa yang kita saksikan di dalam gerbong tersebut. Mari kita sebut saja gerbong kita A. Bagaimana dengan orang yang berada di gerbong B. Mereka yang berada di gerbong B juga mengalami hal yang sama, realitas kehidupan mereka adalah apa-apa yang ada di gerbong B. Bagaimanakah jika mereka dipertemukan ?.
Hasilnya dapat kita lihat, mereka akan bersitegang mempertahankan pendapat mereka sendiri. Karena masing-masing dalam kebenaran yang mereka yakini.   Baiklah kita perjelas, misalkan di gerbong A kondisinya tertutup rapat sekali dia tidak mendengar apa-apa. Di gerbong B kondisinya bisa melihat keluar namun yang disaksikan disampingnya adalah sebuah kereta yang sama. Orang yang berada di gerbong A akan merasa bahwa kereta tidak bergerak, orang yang di gerbong B merasa bahwa gerbong keretanya yang bergerak. Siapakah yang benar ?.
Permisal masih belum selesai, dari luar masuklah C. Oleh C semua disalahkan sebab C menyaksikan dari luar ruang kedua gerbong A dan B yang bergerak ternyata kereta yang satunya. Pertanyaannya apakah A dan B akan begitu saja percaya kabar yang dibawa C ?. Kebenaran C ternyata juga diragukan oleh A dan B. Sebab mereka menyaksikan dnegan seluruh instrumen ketubuhan mereka. Perhatikanlah hijab pada gerbong A adalah tertutupnya semua tirai dan ruangan yang kedap suara. Hijab gerbong B adalah pandangan matanya, kesadarannya masih berada di ruang dan waktu gerbong B. Sedangkan kaeran C mampu keluar dari dimensi ruang dan waktu gerbong A dan B, maka dirinya mampu melihat realitas yang sebenarnya.
Nah, permainan dimensi ruang dan waktu adalah semacam itu. Setiap dimensi memiliki hijabnya. Maka dapat dipahamai mengapakah setiap orang akan mati-matian mempertahankan kebenaran golongannya. Hijab ini semisal lubang yang tak tembus. Kecuali dirinya menggunakan kesadarannya yang berupa cahaya. Meluaskan kesadaran hatinya, sebab hanya cahayalah yang mampu menembus hijab ini. Hijab ini memang diperlukan agar ada pemisah yang jelas antar dimensi. Hijab ini untuk mempertahankan realitas alam itu sendiri. Jika tidak ada hijab maka ruang gerbong dan seisinya  tadi akan hancur terbakar matahari. Begitulah permisalannya. Maka sesungguhnya manusia adalah sebagaimana seekor ‘katak di dalam tempurung’. Masing-masingnya dalam ‘tempurung’ yang dibuat oleh prasangkanya sendiri.
Pada setiap dimensi terdapat kecepatan waktu cahayanya sendiri-sendiri yang diistilahkan dnegan zona waktu cahaya. Sebagaimana di Indonesia ada zona waktu Indonesia Bagian Barat, Timur dan Tengah. Kecepatan cahaya dalam memasuki lintas dimensi, dalam hal  ini seperti permisal saat cahaya memasuki ke air, atau benda padat lainnya, dimana kecepatan cahaya melambat, dan biasnya mendekati garis normal materi tersebut. Zona waktu cahaya inilah yang membedakan perputaran waktu di setiap dimensi maka di khabarkan bahwa perbandingan waktu di dimensi 4 dan 3, yaitu dimensi akherat dan bumi adalah 1 : 50.000. Bisa dibayangkan jika ada makhluk dari dimensi 4 masuk ke bumi maka umur makhluk tersebut bisa jutaan tahun waktu bumi.  
Jika kita permisalkan lagi bahwa saat sekarang kita berada di dimensi akherat,  maka kala itu keadaan  bumi sudah hancur karena kiamat. Ingat waktu disana lebih cepat jutaan tahun waktu bumi. Namun anehnya, disana kita masih bisa melihat keadaan bumi sebagaimana kita menonton film saja. Apakah aneh saat kita menontot film Benyamin S, bukankah beliau sudah meninggal ?. Hanya saja bedanya jika Allah menghendaki kita bisa masuk kembali ke film yang kita lihat, yaitu ke bumi. Begitu kita dikirimkan lagi ke waktu bumi..Blam..!. Memori kita hilang, kita tidak ingat apa-apa. Cahaya ketika memasuki materi akan melambat, akan menjadi materi kembali, maka informasi yang dibawanya banyak sekali yang hilang. hanya materi bawaan dari DNA saja yang akan diturunkan.
Manusia yang tetap dalam kesadarannya ketika dikembalikan ke bumi hanyalah Rosululloh. Satu-satunya manusia utusan Allah yang diberikan kesempatan menjadi saksi keberadaan dimensi surga dan neraka. Menjadi saksi keberadaan Allah SWT, tiada Tuhan selain Dia. Maka karena itu, Rosululloh dapat memberikan khabar dengan  sangat akurat, sebab melihat dengan mata kepala sendiri. Dari berita Rosul itulah kita dengar tentang bagaimana  keadaan orang-orang dineraka dan juga di surga. Bukan tidak mungkin jika yang dilihat dilihat Rosul di neraka adalah...  Ups..!.    
Apa yang disampaikan oleh Al qur an adalah menyoal dimensi ruang dan waktu. Yaitu mengkisahkan masa depan dan masa lalu yang terjadi di waktu sekarang ini. Itulah keadaan dimensi akherat. Oleh karena itu dalam konsepsi ini, dimensi waktu sesungguhnya berimpit, masa lalu, masa depan, terjadi bersamaan di dimensi sekarang ini, hanya berbeda dimensi ruangnya saja. Itulah peranan dimensi ruang dan waktu yang diistilahkan paralel. Oleh karenanya kita manusia seharusnya mampu mi’roj melalui sholat. Sebab sarana inilah yang diperkenalkan Rosul untuk sampai kesana. Sholat adalah kendaraan mi’roj kita. Agar kita meyakini dunia akherat yaitu tempat darimana kita semua manusia berasal.
Sekali lagi ingin disampaikan bahwa alam semesta ini dibangun dengan 7 lapisan dimensi (langit) dengan 6 zona waktu cahaya. Maka manakala kita melihat dari sudut ini, semuanya menjadi sangat rasional sekali, apalagi jika kita  mampu memahami teori tentang gelombang, cahaya, materi, ruang, waktu dan juga dimensi.  Pada setiap dimensi kecepatan cahaya tidaklah sama. Setiap lapisan dimensi ada lubang yang tak tembus, namun cahaya mampu melewatinya. Seperti manakala cahaya masuk ke air. Ada daya tegang air yang menahan laju cahaya. Kecepatan cahaya disana inilah yang menyebabkan kehidupan di setiap dimensi berbeda-beda. 
Maka waktu di bumi ini menjadi sangat lambat dibandingkan dengan waktu di  dimensi yang lebih tinggi. Maka saat mana mereka memasuki bumi, umur mereka bisa menjadi sangat lama sekali sebab mereka adalah makhluk diluar dimensi bumi. Saat ini bumi dan susunan galaksinya berada pada dimensi ke 3. Sementara makhluk lainnya semisal, makhluk cerdas, malaikat dan lain-lainnya berada pada dimensi 4. Begitulah yang disampaikan Ki Ageng. Dan manusia memiliki entitas di dalam dirinya yang berasal dari dimensi ke 4 ini. Dimensi ke 4 adalah dimensi dengan spirit ‘kasih sayang’. Maka tidakkah kita manusia dilebihkan atas makhluk lainnya, sebab kita berasal dari dimensi akherat, yang memiliki kemampuan melintasi dimensi lainnya. Wolohualam bisawab.
Mas Thole menjadi semakin bertambah keyakinannya dari keyakinan yang sudah ada. Berdasarkan konsepsi tersebut maka dapat dipastkan surga dan neraka saat sekarang ini sudah ada dalam dimensi disana. Siapa-siapa saja yang masuk neraka dan siapa-siapa yang masuk surga sudah jelas keadaannya. Maka tidak usahlah kita  risau, jalanilah kehidupan ini sebagai anugrah yang Maha Kuasa.

Salam