Saudaraku, surat yang kemarin aku kirimkan tentunya sudah engkau terima di ruang bacamu. Engkau tentu masih bertanya, bagaimanakah aku tahu jika sesungguhnya dirimu adalah kesatria itu ?. Kemudian engkau mempertanyakan, bagaimanakah aku begitu yakinnya, sementara engkau sendiri yang tidak merasa bahkan terlintaspun tidak. “Telah berfirman Allah Subhanahu wa ta’ala, “Akuadalah sebagaimana prasangka hambaku kepada-Ku, dan Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku, dan jika hambaku mengingatku dalam sendirian, maka Aku mengingatnya dalam diri-Ku sendiri, dan jika dia mengingat-Ku di dalam sebuah kelompok/jama’ah, (maka) Aku mengingatnya dalam kelompok yang lebih baik dari kelompok tersebut, dan jika dia mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta, dan jika dia mendekat kepada-Ku sehasta, Aku mendekat kepadanya satu depa, dan jika dia mendatangi-Ku dengan berjalan, Aku mendatanginya dengan berjalan cepat. ”” Hadits diriwayatkan oleh Imam Bukhari, begitu juga oleh Imam Muslim, Imam Tirmidzi dan Imam Ibnu Majah.
Engkau dalam prasangkamu sendiri tentang siapakah dirimu itu. Disitulah masalahnya, wahai sudaraku yang telah dimuliakan Allah. Engkau telah lupa saat kali pertama engkau diciptakan-Nya, bagaimana sesaat setelah ditiupkan Ruh-KU, kemudian seluruh makhluk yang ada di alam semesta diperintahkan untuk sujud kepadamu. Bukankah itu dirimu ?. Betapa engkau sangat dimulikan-Nya. Betapa saat itu engkau telah diangkat sebagai kesatria. Kesatria yang akan memimpin dunia. Mengapakah engkau telah melupakan kejadian itu ?. Sadarilah saudaraku, ingat-ingatlah peristiwa bersejarah dahulu saat pertama kali engkau diciptakan-Nya.
Engkau sekarang bahkan tidak mengenal dirimu, sebab alam materi telah menghijabmu. Maka perhatinkanlah pernyataan ini, “Dirimu adalah sebagaimana prasangkamu kepadamu sendiri”. Jika engkau terus menistakan dirimu sendiri, jika engkau terus menafikan keberadaan jiwa satria pada dirimu, maka sedikit demi sedikit dirimu akan menjadi apa yang engkau inginkan. Engkau tidak sadar jika nafsumu mengarahkan dirimu untuk menjadi ‘pecundang’. Sungguh kasihan jika engkau terus begitu. Sayangnya engkau merasa benar dalam keadaanmu itu. Maka karenanya meskipun aku berulang kali menyatakan kebenaran ini padamu, engkau pasti menolak, bahkan mungkin mengatakan aku gila. Kesekian kalinya lagi kutakan padamu, ya engkau yang membaca suratku ini, “Dirimulah kesatria itu !”. Janganlah engkau pingit lagi dirimu dalam anggapan dan prasangkamu sendiri.
Saudaraku, kukirimi engkau suratku yang kedua ini. Ku ajak engkau mengarungi alam dimensi, saat mana engkau sedang bersiap menanti perintah Tuhanmu, untuk menjadi wakil-Nya di muka bumi. Engkau berbaris bagai burung-burung yang berterbangan, hinggap dipepohonan, menunggu saatnya untuk dikirimkan ke bumi. Engkau lembut penuh kasih. Engkau mampu meleset melebihi kecepatan cahaya. Itulah dimensi ke empat yang engkau tempati. Atas ijin Tuhanmulah kemudian engkau dilahirkan dalam raga manusia yang terbuat dari tanah. Sebelum engkau memasuki portal mayapada, Tuhanmu telah meminta kesaksian kepadamu. Masihkah engkau ingat itu saudaraku. “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi". (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan)", (QS: Al-A'raf Ayat: 172).
Engkau meleset dengan kecepatan tinggi. Masuk melalui portal dimensi mayapada menerobos dan kemudian menempati hati. Aku melihat kilatan cahaya ,“Cahaya datang, cahaya bias, memotong garis normal pada sebuah bidang datar.” Aku melihatnya dari udara masuk ke air,“Cahaya datang, cahaya biasnya, mendekati garis normal dalam suatu bidang datar.” Aku melihatnya dari air memantul ke udara, “Cahaya datang, cahayanya bias menjauhi garis normal dalam sebuah bidang datar.” Begitulah dirimu terpental-pental, tanpa dibatasi sang waktu. Maka saat mana cahaya masuk kepada materi, dan manakala semakin tinggi kerapatan massa materinya, engkau akan semakin berimpit dengan garis normal materi. Artinya dirimu akan menjadi materi itu sendiri. Maka saat mana dirimu masuk kepada hati seorang bayi, engkau masih memiliki sedikit sifatmu yang penuh belas kasih. Namun saat mana hatimu semakin penuh prasangka, ragamu semakin dewasa, kerapatan massa hatimu semakin pekat, karenanya engkau akan semakin menjadi materi itu. Dirimu kehilangan sifat cahaya. Begitulah engkau semakin terhimpit disana.
“Bermula dari cahaya, membawa energy dan informasi, dengan kehendak kecepatan cahaya menjadi gerak. Dengan geraknya cahaya menimbulkan jarak. Jarak dan kecepatan akan menghasilkan waktu. Jarak dalam waktu akan menghasilkan ruang. Maka ruang adalah resultan atas gaya yang bekerja. Dan Tuhanmu menyiapkan ruang Thaa Haa. Maka resultan gaya apakah yang engkau gunakan kesana ?. Dan Tuhanmu menyediakan ruang Thaa Sin. Maka resultan gaya apakah yang menghantarkanmu ?. Saudaraku perhatikanlah khabarku ini. Di ruang-ruang itulah kesempatanmu. Untuk mengembalikan jatidirimu, yang terliputi materi.”.
Saudaraku, mungkin suratku ini, tak begitu biasa, bahkan terkesan mengada-ada. Ingatlah kisah Nabi Musa, saat dia bermunajat di bukit Thuwa. Alam disana berubah menjadi alam dimensi menjadi ruang Thaa Haa. Ingatlah bagaimana Nabi Sulaiman juga berbincang kepada seluruh makhluk ghaib di mayapada, alam yang ditempati adalah ruang dimensi alam Thaa Sin. Bagaimanakah keadaan ruang-ruang itu ?. Sungguhkah engkau lupa ?. Sudah berulang kali engkau melewati dan menyinggahinya. Saat manakala dirimu masih berupa cahaya. Maka bukalah pintu hatimu, agar engkau mampu keluar dari sana dan mengenali ruang-raung itu. Ruang dimana disana menjadi portal utama untuk memasuki alam-alam lainnya. Di bulan ramadhon inilah ruang-ruang itu sengaja dibuka Tuhanmu. Dia menyambut kedatanganmu. Begitu juga saudara-saudaramu. Tidakkah engkau rindu pulang ?.
Masihkah engkau beranggapan bahwa dirimu akan tinggal selamanya dibumi ini ?. Dan nantinya tidak akan kembali ke dimensi asalmu ?. Bagaimana prasangkamu kalau begitu. Masihkah engkau sangsikan keadaan dirimu sendiri ?. Kemanakah dirimu saat engkau tidur ?. Kemanakah ujung nafasmu ?. Coba amatilah, detak jantungmu sendiri. Mengapakah engkau masih risaukan apa-apa yang tampak dimatamu. Mengapakah terus engkau pertanyakan takdir-takdirmu. Engkau hanyalah tinggal sehari saja di bumi ini. Sehari bagi waktumu di dimensi asalmu. Maka apakah yang menjadikanmu risau ?. Bukankah sehari tidaklah lama ?. Selesaikan misimu, menjadi wakil Allah, segeralah kembali dengan selamat, dengan tenang, puas, dan ridho atas apa-apa yang telah dianugrahkan Tuhanmu. Maka berbanggalah sebab engkau menjadi wakil Dzat yang Maha Pengasih dan Penyayang. Dan tentu saja engkau akan senantiasa dilimpahi kasih sayang-Nya.
Sudahilah prasangka buruk atas dirimu sendiri. Alam semesta memuliakanmu, seluruh makhluk yang diciptakan-Nya bersujud padamu. Tidakkah itu menyenangkan hatimu ?. Mengapa masih engkau ragukan dirimu sendiri. mengapakah masih engkau kecilkan arti dirimu bagi kemaslahatan umat bumi ?. Bukankah berarti engkau telah abaikan rahmat Tuhanmu sendiri, yang berlimpahan kepadamu. Bumi, air, tanah, dan udara, serta seluruh seisi alam hanya diberikan untuk kemaslahatan manusia. Masihkah engkau abaikan semua itu ?. Ibu menangislah demi anakmu, yang tetap tak pahami semua ini. Betapa kasih-Nya dia kepada semua makhluk. Alam memuliakan dirimu, sebab apakah engkau abai atas dirimu ini. Dan lupa dari mana asalmu ini. Sekali kesatria maka dirimu akan tetap kesatria, itulah yang alam mengerti. Kecuali dirimu sendiri yang menginginkan selain itu. Itu terserah maumu.
Maka itulah cahaya berlapis-lapis,dan di dalamnya ada zona enam waktu cahaya. Diujung lainnya disana Allah sudah mempersiapkan tiap makhluk-Nya dalam dimensinya, dalam ukuran zona waktu cahaya disana. Bahkan sudah ada surga dan neraka. Disana ada sebuah tabir (eter) sehingga mereka bisa melihat ke bumi ini. Bagi zona waktu mereka (serasa) bumi masih ada. Keadaannya para penghuni dimensi keempat (serasa) melihat kehidupan di bumi. Realitas keadaannya, bumi sudah kiamat, sudah diganti bumi lainnya. Maka surga neraka dan hari kiamat adalah kepastian adanya. Ingat , jangan heran dengan relatifitas keadaan ini, jika balik kembali ke zona waktu cahaya Bumi. Maka Bumi masih seperti keadaan sekarang ini. Sekali lagi, perhatikan zona waktu cahaya. Jangan terjebak oleh logika. Sebagaimana saat manakala kita berpergian di zona waktu bumi yang bisa berbeda satu hari. Sering kita bepergian di hari Selasa, kita tempuh perjalanan hampir 24 jam, namun kenapakah sampai disana masih hari Senin. Kita bukannya bergerak maju, namun malah mundur ke waktu hari Senin. Inilah permainan sang waktu. Begitulah permisalannya. Maka bagi orang yang tidak terpengaruh Zona waktu cahaya dia akan mampu bolak-balik melihat akherat, melihat keadaan surga dan nerakanya, kemudian balik lagi ke bumi. Dan engkau sudah tahu siapakah manusia itu Dialah Kesatria Piningit, yang terpingit di hatimu.
Maka masihkah engkau menyangka aku gila..?. Jika kukatakan bahwa dihatimu ada sosok kesatria yang engkau pingit. Dialah Kesatria Piningit yang sesungguhnya, sebab dia mampu melintasi dimensi dimana saja. Dia akan selalu menyuarakan kebenaran Tuhanmu. Dialah yang akan menghantarkanmu meraih kejayaan bangsamu ini. Maka terserah padamu, apakah dia akan lahir didirimu, ataukah engkau biarkan dia tetap terpingit disana. Dan ingatlah kisah kaum terdahulu, saat mana mereka menunggu datangnya utusan-utusan Allah, bagaimanakah kemudian kejadiannya. Utusan-utusan itu malah mereka bunuhi, sebab tidak sebagaimana yang mereka sangkakan. Dikarenakan utusan itu tidak berpihak kepada mereka.
Maka jika engkau menunggu kesatria Piningit dengan anggapanmu, maka bersiaplah untuk kecewa, dan bersiaplah pula engkau untuk mengingkari kemunculannya. Bahkan mungkin saja engkau salah satu yang akan memusuhi dan memeranginya. Dikarenakan Kesatria Piningit itu pasti tidak akan mau tunduk kepada kemauanmu, dia hanya tunduk dan takut kepada Tuhan. Begitu juga kejadian yang kita lakkan atas hati nurani kita sendiri. Ketika muncul suara hati yang menyuarakan kebenaran Tuhan, selekasnya kita bungkam, kita tutup dengan batu-batu. Kaerna suara itu tidak pernah mau berpihak kepada kita, dia hanya berpihak kepada kebenaran Tuhan. Jika kita menyakini akan datangnya Kesatria Piningit, maka kenapakah kita ingkari Kesatri itu datang dari lubuk hati kita sendiri ?.
Saudaraku, cobalah renungkan sekali lagi. Karena aku yakin, tidak salah lagi. Kesatria itu adalah dirimu, dia masih tersembunyi di dalam hati nuranimu, dia yang akan menyuarakan kebenaran, dia yang akan membela anak yatim, dia yang akan membela kehormatan para wanita, dia yang akan berjuang di jalan Tuhan, sebab dia memang dilahirkan untuk itu. Dialah wakil Tuhan didiri kita, sehingga kita menyandang gelar khalifah (pemimpin). Dia memiliki kekuatan maha dahsyat, sebab dia adalah wakil-Nya. Seluruh alam telah diperintahkan untuk tunduk dan mengikuti dirinya. Maka betapa luar biasanya kesatria itu, dia berasal dari cahaya, dari kekuatan alam itu sendiri. Maka semoga dia akan lahir dari hatimu, saudaraku. Untuk itulah aku menunggu, dan mengingatkan keadaanmu itu.
“Bermula dari cahaya, membawa energy dan informasi, dengan kehendak kecepatan cahaya menjadi gerak. Dengan geraknya cahaya menimbulkan jarak. Jarak dan kecepatan akan menghasilkan waktu. Jarak dalam waktu akan menghasilkan ruang. Maka ruang adalah resultan atas gaya yang bekerja. Dan Tuhanmu menyiapkan ruang Thaa Haa. Maka resultan gaya apakah yang engkau gunakan kesana ?. Dan Tuhanmu menyediakan ruang Thaa Sin. Maka resultan gaya apakah yang menghantarkanmu ?. Saudaraku perhatikanlah khabarku ini. Di ruang-ruang itulah kesempatanmu. Untuk mengembalikan jatidirimu, yang terliputi materi.”.
Wolohualam
wasalam
saya dapat memahami tulisan ini . !!
BalasHapus