Minggu, 15 September 2013

Kisah Spiritual, Kesiapan Menyambut Jaman 'Goro-goro'



Berjalan di hutan cemara
Langkahku terasa kecil dan lemah
Makin dalam lagi mataku ditelan fatamorgana
Aku kan bertanya siapa diriku
Aku kan bertanya siapakah kamu
Aku kan bertanya siapakah mereka
Aku kan bertanya siapakah kita
Makin dalam lagi ku dicekam kerinduan
..
Ada seberkah cahaya menembus dedaunan
Sanggupkah menerangi jalanku
Dan aku berharap kapankah kiranya sampai di puncak sana
(by Ebiet G Ade)

Masih lekat dalam ingatannya, saat mana dirinya dibesarkan oleh Sang Sabdo Palon dalam kisah  Raden Panji, dimana teman-temannya hanyalah para makhluk jejadian. Separuh manusia separuh binatang, nyaris seperti zombie keadaan mereka. Banyak diantara mereka sudah tidak berbalut daging lagi, hanya otot-otot rangka saja yang menyokongnya. Dan hanya mereka itulah teman-temannya, ditengah hutan yang wingit. Sampai saat sekarang ini, mereka masih saja setia menemani di peradaban terkini. Mengapakah di peradaban sekarang ini terbalik keadaannya, yang wujud manusia berahlak zombie, sementara yang ber wujud zombie seperti rekan-rekannya itu malahan ber akhlak manusia. Apakah keadaan jiwa manusia sekarang bertukar badan wadaknya ?. Ugh.. Masih saja belum selesaikah. ?.Apakah ini hanya ilusi, terserahlah sebab Mas Thole hanya mengkisahkan saja. Sebagai ‘share’ adanya, sebab  diluar sana banyak Mas Thole-Mas Thole lainnya yang mengalami nasib serupa. Sehingga orang-orang menyebutnya ‘gila’. Teringat, hanya ayah angkatnya Sang Sabdo Palon saja yang terus mendampingi, seperti saat mana dirinya mengambil peran dalam kisah Banyak Wide, ayah angkatnya itu yang banyak membantunya. Entah mengapa, kesadarannya semakin menjauh dari kerajaan Ratu Pantai selatan, dia sepertinya dirinya tak peduli itu. Keadaan hatinya telah  kering, dan mati, terkubur diantara bongkhan batu dan pedang, jauh dari kasih sayang. Kekeringan hatinya ini terus mengejar disemua peradaban yang dilalui hingga masuk ke jaman ini, terjebak di raga Mas Thole. Maka dapat dibayangkan bagaimanakah rasanya. “Ibu menangislah demi anakmu ini..!.”  Perih, ringkih membesut tulang. “Aku ini binatang jalang dari kumpulan orang-orang terbuang..!.” Begitu selalu katanya, mencoba menyitir ungkapan Charil Anwar.  Karenanya dia sering bertanya kepada pohon-pohon cemara yang sudah ratusan tahun usianya, “Siapakah dirinya, siapakah mereka, dan siapakah kita “.

Ingatan Mas Thole entah mengapa tak mampu dibendungnya, terus saja meleset berpilin seperti akar yang bergerak menuju ujung cahaya, mengejar masa lalu, menjelajah masa kecilnya dahulu. Manakala dimasa lalu semasa hidup sebagai Raden Panji, dia dibesarkan oleh Ibundanya Ratu Kidul, dirinya bermain dan bersuka dalam gulungan ombak laut selatan. He eh, apa yang terjadi ?, belum mampu dia mengucap nama ibunya dari mulut kecilnya itu, ibundanya sudah meninggalkannya begitu saja. Tanpa khabar dan berita, ditengah hutan belantara yang penuh dengan jin dan siluman. Bayangkan anak sekecil itu bermain dengan kegelapan malam, seperti apakah ketakutan yang dialaminya. Keadaan yang serupa, sebagaimana yang dialami Mas Thole dalam kehidupan terkininya, entah mengapakah dia juga dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Padahal umurnya belum genap 1 tahun. Dia  diberikan kepada saudara ibunya. Dan ketika menginjak usia  masuk sekolah, dia dikembalikan kepada ibu kandungnya, namun itupun  tak lama, hanya dalam hitungan bulan mungkin satu atau dua tahun, selanjutnya dia di buang lagi dan diberikan kepada neneknya. Disanalah dia dibesarkan neneknya di sebuah desa yang berjarak tidak sampai 200 meter dari laut pantai selatan.

Mas Thole menghela nafas sekali lagi, mencoba mencari pijakan disana. Mengkisahkan ini sama saja tengah menguliti kepedihannya. Neneknya bukanlah sebagaimana yang dibayangkan, bukanlah seorang nenek yang kan penuh kasih. Kekejamannya kepada seorang anak kecil, sulit diungkapkan disini, biarlah itu menjadi kenangan Mas Thole. Mengapakah semua kejadian yang dialami orang-orang masa lalu nyaris sama saja, hanya berbeda waktu dan peradaban saja, sedangkan jalan ceritanya selalu sama. Pakem ceritanya itu-itu saja, Raden Panji dibuang dikucilkan di buang ke hutan belantara, dia disiksa para siluman dan dedemit jejadian, kemudian dia berusaha untuk kembali ke kerajaannya. Pengalaman itu masih belum sempurna, adalagi kisah cinta, perjalanan kisah cinta mereka, ternyata mengalami tragis yang sama, masih yang itu-itu juga. Nelangsa dan penuh luka. Ada apakah ini ?. Huh..!. Walapun selalu sama saja, namun mengapakah diri tak mengerti-mengerti juga !. Kesal Mas Thole dibuatnya. Pakem kisahnya sudah diulang puluhan kali, tetap saja diri tidak pernah mampu mengambil hikmahnya !. Tuhan..harus bagaimanakah diri ini ?. Ugh…!. Begitu bodohkah dirinya ?.

Ingin rahsanya Mas Thole menerjang kelam, menghancurkan malam, agar rembulan dan matahari bersatu mengasuh jiwanya. Sudah berulang kali Ibunda Ratu Kidul mengirimkan utusannya melalui mimpi-mimpi, mencoba berkomunikasi, maka seringkali Mas Thole mendapati mimpi-mimpinya yang selalu bersambung di masa kecilnya dahulu, bahkan hingga dia beranjak dewasa dan tua. Apakah mungkin karena itu, dirinya  kemudian memiliki kemampuan melihat masa depannya sendiri. Apa-apa yang akan terjadi pada dirinya selalu telah diketahuinya melalui mimpinya. Dengan cara itukah Ibundanya Ratu Kidul ingin berkomunikasi, menyatakan bahwa dirinya akan selalu mendampingi ?. Entahlah, Mas Thole tidak pernah peduli itu. Selaput dendamnya sudah menutupi sanubarinya begitu dalam rahsanya. Rahsa kerinduannya, rasa sayangnya kepada ibu-ibunya, baik di atlantis maupun di raga terkininya hanya menjadi fenomena paradoks. Kerinduan yang melahirkan perasaan menyalahkan kepada semua ibu-ibunya. Mengapakah membiarkan membiarkan anak-nya ini, dalam belantara kehidupan yang keras. Mengapakah membiarkan dirinya dalam kuasa kegelapan. Membiarkan dirinya bersama jin, dedemit dan siluman, bekakak, dan para danyang. Hiks.

Mas Thole menyadari ada yang salah dengan semua itu. Syukurlah, sekarang ini, pemahaman spiritualnya telah menghantarkan dirinya kepada pemahaman yang lebih tinggi. Dia mulai mengerti hakekatnya. Dia merasa bersyukur dirinya diperkenalkan dengan Islam, yang telah memberikan pemahaman utuh, seperti apakah skenario Tuhan atas anak manusia. Dia sadari semua itu, sebagai kehendak-Nya. Keadaannya ya.. sesuka-suka Allah saja, jikalau dia akan dihidupkan dan atau  dimatikan, dihidupkan lagi dan dimatikan lagi. Semua itu dilakukan-Nya, sampai dirinya mengerti dan dipahamkan, sampai jiwa keadaan jiwanya  tenang, puas dan ridho dalam keyakinan kasih sayang-Nya. Islam mengajarakan kasih sayang, Islam mengajarkan bagaimana kita harus memperlakukan seorang ibu. Darisanalah rupanya pemahaman Mas Thole berkembang. Tanpa adanya ibu hancurlah peradaban manusia di muka bumi. Dari tangan para ibulah anak-anak peradaban akan mengenal kasih sayang. Maka sayangilah ibu, sebab para ibu yang paling dekat dalam mengenal jejak kasih sayang Tuhan. Tanpa kita mengenal ibu maka kita tidak akan mampu mengenal kasih sayang Tuhan. Tanpa kita mengenal kasih sayang Tuhan, maka keringlah hati , hidup menjadi tak bermakna dan tak berarti  lagi. Begitukah pengajaran yang sesungguhnya ?. Kenapakah pengajaran yang sederhana ini harus berlangsung berbad-abad lamanya ?. Hiks..!.

Maka meskipun tertatih-tatih Mas Thole berusaha menetapi takdirnya sendiri. Meski raganya harus terus porak poranda. Dia ingin terus berjalan, menyelesaikan misinya, membangun nusatara baru, meski lewat caranya sendiri. Melalui alam-alam kesadaran, dia akan mebangun nusantara baru, sebagaimana bangsa atlantis dahulu membangunnya. Tugasnya dan kawan-kawan adalah membangun nusantara melalui alam kesadaran dimensi ke-4. Jika di analogikan dengan komputer, maka dia harus sudah selesai membuat software nya. Tanpa dibuatnya software mustahil akan ada tampilan nusantara baru di layar monitor. Software tersebut harus diletakan di dimensi ke – 4. Ketika ada manusia yang memanggil software ini, maka seketika terbukalah portal lintas dimensi. Program tersebut akan bekerja mengatur instrumen alam semesta untuk bekerja sebagaimana perintah di program tersebut, maka akan terbentuklah nusantara baru. Karenanya  sekarang Mas Thole dkk,  harus berhadapan dengan para ‘hacker’ alam ghaib yang akan memainkan peranannya. Mereka akan mengubah alam kesadaran sesuka diri mereka. Mereka yang  ingin berkuasa kembali, bukan atas keinginan alam. Mereka akan menjadi tangan-tangan nafsu angkara manusia, dengan karakter itulah kebanyakan leluhur yang akan lahir. Mereka akan lahir dan menjadi budak nafsunya sendiri.
Diiringi musik kenangan masa muda dahulu, Mas Thole kembali menghantarkan kisah ini. Suara dentuman perlahan membawanya memasuki kesadarannya. Tembang nostalgia lagu-lagu romansa kesukaannya, mampu mengusik prosesor ingatannya. Kenangan demi kenangan menjadi serangkaian memory  yang telah menghantarkan sensasi masa kecil dahulu, manakala dirinya sering bermain dengan ombak laut pantai selatan. Berenang menjauhi daratan, berkali-kali nyaris nyawanya hilang melayang  di telan ombak, namun itu tak menakutinya. Serasa ombak hanyalah permainan belaka. Hitam legam kulitnya setelahnya,  air garam mengering menguap diterpa panas matahari,  memberikan kesan kilap diseputar wajahnya. Begitulah ingatannya masa lalu menerobos memasuki ke masa kini.  Bagaimana sulitnya mengkisahkannya lagi, Mas Thole sempat berhenti beberapa jam sebelum melanjutkan tulisannya kali ini.

Benarkah hidup hanya sepenggal permainan belaka ?. Tidakkah memang  kita hidup di dunia ini hanya serasa bermain di pagi hari dan pulang di sore harinya ?. Begitulah, benar sekali keadaanya, dia mengalami itu. Rasanya baru saja kemarin  terbangun dari tidur. Baru saja didapatinya kenyataan pada memorynya bahwa sesungguhnya dia telah mati. Dan sekarang mimpi itu telah berulang kembali. Mimpi-mimpi yang terus membayanginya, tentang nusantara, tentang cinta, tentang kuasa, dan entah apalagi ?. Apakah ini sebuah mimpi-mimpi lagi ?. Bagaimanakah menyampaikannya kepada sidang pembaca ?. Manakala kisahnya akan selalu terulang, dan berulang lagi, cerita dan tema kisah yang ingin disampaikan akan  selalu saja sama,  dengan esensi yang kualitasnya sama. Kisah para raja dan pembesar istana, harta dan kuasanya tak mampu mencegah dirinya dari amukan rahsa cinta. Sehingga keberadaannya sama saja dengan kawula lainnya. Apakah ini karma, atau murka alam atas diirnya ?.  Penderitaan dan hanya penderitaan hidup yang mendamparnya. Hanya  penggalan kisah-kisah yang nyaris serupa dengan ‘lay out’ kehidupan  peradaban yang berbeda. Bagaimanakah diri ini tidak terhenyak, medapati kenyataann ini. Maka Mas Thole pun tidak mampu berkata apa-apa. Semakin dikupas kulit bawang hijab kesadaran dirinya, semakin terlihat jelas rangkaian demi rangkaian kejadian penciptaan. Bagaimana begitu dahsyatnya Tuhan mempergilirkan kekuasaan diantara anak manusia. Dahulu dia adalah raja, yang bertahta, penuh kuasa, dalam balutan aroma nusana romansa cinta. Semenatar, sekarang ini di masa kini, dia bukan siapa-siapa, tidak ada yang mengenalnya. Bahkan anjing tetangga sering akan menggigitnya. Tak da cinta, tak ada kuasa, tak dan perlakuan istimewa, bak raja dengan sabdanya. Bukankah itu lebih menyiksa dibandingkan dengan kematian itu sendiri. Argh..!.

Perjuangan hidupnya kali ini adalah menetapi takdirnya sendiri, meski itu berat sekali. Coba bayangkan keadaan kesatria yang dahulunya adalah putra putri raja berkuasa, dan bandingkanlah keadaannya yang sekarang ini. Sekarang ini mereka bukan siapa-siapa, bukan apa-apa bahkan sering dianggap hina, dan juga tidak diterima. Kadang orang malahan menyebut mereka ‘gila’. Apakah mereka akan didengar ?. Meskipun kemampuan mereka luar bisa, diatas kemampuan manusia normal lainnya, apakah ada yang percaya ?. Ugh..!. Jika mereka dahulu adalah aktor utama, pelaku sejarah, sekarang ini mereka hanya diberikan peran sebagai ‘kesatria pingitan’. Mereka harus bersembunyi dalam melakukan aksinya. Tidak boleh sedikitpun riya, mereka harus ‘tapa ing rame’. Diam dalam melakukan aksi-aksi mereka. Sebagai manusia tentu saja nafsu ingin berkuasa tetap ada, nafsu ingin dicinta tetap dipunya, namun mereka bukanlah yang berkuasa menentukan apa-apa peran mereka. Tidak ada posisi tawar mereka diwilayah itu. Mereka harus menyadari itu. Menyadari dengan kesadaran utuh, bukan dirinyaa yang punya kuasa, kemudian meminta,  dia hanyalah wayang yang akan dimainkan Tuhannya. Maka tugasnya hanyalah memainkan lakon dengan sebaik-baiknya, semua sudah ada pakemnya.  Jika Tuhan berkehendak nusantara harus Berjaya di masa peradaban ini, maka jayalah nusantara. Dia yang punya kuasa untuk itu. Melangut diri menyadari, maka mau tidak mau raganya sekarang ini harus diperjalankan bersama kehendak-Nya saja kesana.

Tanpa sadar tergenang air mata diantara bulu mata Mas Thole, sebentar lagi jaman Kalabendu akan dimulai. Tahun 2014 adalah tahun Goro-goro, sebagaimana ramalan yang tertulis di alam. Jaman ini akan berlangsung selama sepuluh tahun pertama. Siapapun Presiden yang terpilih akan terus digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Majunya Jokowisebagai capres akan menimbulkan iri hati sebagian orang berkuasa. Darisinilah kekacauan akan mulai timbul. Rakyat banyak yang menderita, pembunuhan tentara, polisi akan mulai sering terjadi. Para aparat akan saling curiga, mereka berusaha mempertahankan dirinya sendiri, mereka hanya akan melindungi golongannya sendiri-sendiri, dan rakyat akan menjadi korban. Seiring dnegan itu, alam akan mulai murka, sebab pesannya yang berkali-kali sudah disampaikan melalui gempa setiap hari tidak diperdulikan. Ada rangkaian yang bisa terbaca dari gempa-gempa tersebut. Sayang tidak ada satupun manusia akan berfikir kearah sana. Khabar yang memiliki muatan sama juga diterimanya dari Eyang Papak, seorang tokoh spiritual pasundan yang sudah meninggal dan jasadnya moksa. Mas Thole sudah bertemu dengan beliau dalam wujud dan raga yang sama saat semasa dia hidup. "Masih ada dua presiden terpilih lagi sebelum Pajajaran berkuasa dan diberi kesempatan untuk mengawal nusantara baru". Majapahit hanya akan diberikan kesempatan 2 periode lagi, itulah pesan beliau, dalam bahasa sunda kuno. Maka jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolong. sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Bersiaplah kita menjadi saksi perhelatan akbar, kembalinya Sang Prabu Siliwangi, yang bersiap bersama pasukan Pajajaran, dan pasukan-pasukan dari kerajaan-kerajaan liannya diseluruh nusantara ni, untuk mengawal lahirnya nusantara baru. Bagi mereka-mereka yang percaya dan yakin.

Para leluhur yang sudah mulai turun ke anak cucu mereka, banyak yang mementingkan trah-trah mereka.  Maka ada atau tidak ada mereka akan sama saja keadaannya. Justru keberadaan mereka akan menambah carut marut suasananya. Alam kesadaran akan terganggu manusia banyak yang akan semakin mudah tersulut emosinya. Hura-hara dan demontrasi akan mualai sering terjadi. Banyak anak-anak yang kemudian akan menjadi gila tanpa sebab yang pasti. Kelahiran para leluhur banyak yang masih membawa energi negatif mereka masing-masing, keinginan berkuasa dan ambisi trah-trah mereka semakin membuat bumi ini bergolak. Mereka sampai tidak sadar, pada raga siapa sekarang ini mereka lahir. Raga mansuia terkini tidaklah didesain untuk menerima kelahiran mereka. Sebagaimana bohlam 5 watt yang harus menerima arus listrik ribuan watt, apakah jadinya ?. Maka tidak akan lama lagi akan banyak sekali anak muda yang menjadi gila, semakin ramailah negri ini. Itulah ulah dari mereka. Begitulah yang disampaikan kepada Mas Thole.

Beberapa hari Mas Thole harus sering memohon ampunan kepada Tuhannya, lintasan yang didapatkannya tidaklah main-main. Benarkah memang sudah saat nya ?. Bagaimanakah jika dirinya salah memaknainya ?. He eh. Namun kembali Mas Thole diingatkan bahwa tidak saja di Indonesia hal itu terjadi, negara-negara yang mayoritas Islam tengah mengalami ujian ini. Sebagaimana siklus alam semesta yang akan dan pasti terjadi. Pergiliran kekuasaaan tengah berlangsung di jagad ini. Lihat dan saksikanlah, kenapakah kita tidak bertasbih kepada-Nya. Jika perhelatan terjadi maka nyawa manusia sudah tidak ada harganya lagi. Maka siapkanlah diri kita hanya dan untuk kembali kepada-Nya. Sebab tidak ada satupun makhluk yang akanmampu melindungi kita dari jaman Goro-goro ini.  Tanda-tanda alam sudah terbaca, alam semesta sedang dalam pengembalian energinya. Putaran magnet akan memasuki fase berikutnya. Kekacauan alam pasti akan terjadi. Mas Thole juga diyakinkan bahwa janji Tuhan adalah pasti, maka berpeganganlah kepada janji-janji-Nya. Allah akan memenangkan para kesatria, jika mereka tetap dalam keyakinan dan tauhid yang benar. La ila ha illallah.

Janji Tuhan adalah pasti benar, Allah akan senantiasa mempergilirkan kekuasaan atas manusia. Tidakkah itu khabar gembira, setelah ribuan tahun atlantis tidak berkuasa. Saatnya sekarang ini akan dikembalikan lagi. Begitulah harpan Mas Thole.  Keyakinan ini semakin mengkerucut saat mana Mas Thole bertemu dengan Eyang Papak, seorang tokoh spiritual pasundan yang dikhabarkan telah mati dan jasadnya moksa. Kenyataannya Mas Thole masih bisa bertemu. Dia masih hidup diseputar kita, menjaga anak cucunya, masih sama saja keadaannya, dari beliaulah Mas Thole menerima khabar baik itu. Nanti setelah masa dua kali periode presiden, saatnyalah kebangkitan pasundan. Akan datang seorang presiden dari anak Pajajaran, dialah yang terpilih kali pertama, mengawali kejayaan Pajajaran,  yang akan menghantarkan bangsa kita,  ke pintu gerbang nusantara baru. Dia memang  hanya akan mengawal sampai persiapan selesai. Dia kesatria pembuka langkah, ‘cucuk lampah’, bagi kesatria sesungguhnya. 

Kesadaran spiritual harus diletakkan diawal, mulai di tahun 2014 ini, sebelum era para kesatria piningit datang. Para kesatria ‘babad alas’ inilah yang lahir sekarang. Mereka memang ditakdirkan untuk berperang dan dimatikan lagi. Mereka kesatria pion-pion di garda depan, begitulah peran mereka. Dengan dipertukarkan  peran-peran ini,  para kesatria yang dahulunya raja, sekarang dapat belajar, memaknai, betapa tidak enaknya, menjadi manusia biasa, nyawa mereka seperti laron-laron yang berterbangan menuju lampu. Tugas mereka hanya sampai membuka gerbang alam kesadaran, untuk  masuknya kesadaran nusantara baru. Yaitu kesadaran dari atlantis,  peradaban yang berkali lipat lebih tinggi dari sekarang ini. Kesadaran atlantis akan dilahirkan disini di atas tanah pasundan. Nusantara baru adalah sebuah negara adi kuasa, yang akan berkuasa baik di alam ghaib ataupun di alam nyata. Sebagaimana kekuasaan nabi Sulaiman yang meliputi alam ghaib dan alam nyata. Dengan kemampuan ini, senjata nuklir yang terhebat sekalipun akan mampu dipindahkan oleh para kesatria nantinya, dalam sekejapan mata. Para kesatria nanti akan menjadi saksi bahwa al qur an adalah benar, kisah pindahnya singgasana Ratu Bilkis adalah kisah nyata, dan mereka bisa melakukan hal itu. Mas Thole menarik nafas lega, namun tetap saja tersisa ketakutan dan keraguan. Mampukah dirinya dan rekan-rekannya nanti memasuki dan melewati  jaman ‘goro-goro’.

Memasuki jaman 'goro-goro' ini, sudahkah kita siapkan semua, wahai kesatria ?. Para dedemit dan siluman akan menyaru sebagai manusia. Mereka akan berbaur dengan kita. Maka kita umat Islam diwajibkan memohon perlindungan-Nya dari syetan manusia dan syetan jin. Sebab mereka nampaknya sama saja, wujud mereka sama-sama manusia seperti kita.  Jika kita tidak menggunakan ‘mata ketiga’ sulit bagi kita mengenali mereka. Mereka bisa dimana saja. Bisa sebagai anggota DPR, sebagai polisi, tentara, pejabat, dan juga kawan kita,  atau lain-lainnya. Suasana yang sungguh kacau sekali. Maka tiada kita akan mendapatkan penolong, jika jaman itu sudah dimulai. Tahun depan ini 2014 saatnya. Hanya dengan pertolongan Allah saja, kita akan mampu melalui jaman ‘goro-goro’ ini. Maka perbanyaklah bertasbih, dan mohon ampunan, bangun malam dan sholatlah, mohonlah pertolongan darinya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan-Nya. “Sudah tidak ada waktu lagi untuk mundur kebelakang. Maju dan hadapilah !”. Mas Thole berbisik kepada dirinya sendiri, meyakinkan sekali lagi. “Hmm..” berdesah lirih, jika dahulu dia pernah mati, maka apalah artinya jika dia harus mati sekali lagi. Semoga dengan ini, Tuhan ridho, dan mengampuni segala dosa-dosanya, serta mengijinkan dirinya untuk kembali ke alam asalnya, yaitu disisi-Nya. Dan betapa damainya jika dia tidak perlu  reinkarnasi lagi. Semoga.

berkaca di cakrawala
Angin mati dan laut terdiam
Meski kenangan yang buram
Ingatlah jejak  kisah-kisah 
Pada malam yang berganti
Pada pagi yang menerangi
Pada jiwa yang mulai sunyi
“Kau dengar jeritan kami ?”
Gempitanya telah melahirkan asa
Semua terserah titah-Mu, “Jayalah nusantara..!”
Tegaklah diatas sisa-sisa,  jasad kami..!


wolohualam

Rabu, 11 September 2013

Kisah Spiritual, Pemecut Bendul Jaman Kalabendu




Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing
Batu karang, adakah kamu
Di padang ilalang yang tandus, kemuning kering terbakar
Tersandar letih, adakah kamu,
Aku cari, selalu ku cari, dimanakah adanya kamu,
Hati ingin menjerit  memanggil namamu
Jantung rahsa terbelah, menahan pekikan diam..
Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam,
Agar rembulan agar matahari, bersama menghasuh jiwaku..(By Ebiet G Ade)

Alun amuk gelombang kesadaran, menjadi musuh nyata, sebab yang dipunya hanyalah sepenggal kenangan lama. Bilakah di bulan ini akan sirna ?. Lantas menjadi siapakah lagi diri ini?. Manusia hanyalah rangkaian  memory yang tertata. Miliknya hanyalah sebuah kenangan. Kenanganan demi kenangan yang melahirkan jatidiri anak manusia. Salahkah bila kenangan ini tetap bertahan ?. Dalam sebuah episode cinta yang kelam. Atau mestikah kita pertahankan kenangan, walau senantiasa kita harus terluka karenanya ?. Tanpa kenangan manusia bukan siapa-siapa lagi, dia hakekatnya adalah manusia baru, bukan orang masa lalu.


Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam. Agar himpitan ini menjadi pengasuh jiwa. Mengapakah kemudian sekarang kita menjadi paham ada kisah cinta masa lalu ada rindu yang terlalu. Mengapakah kemudian kita sadar, pada kisah-kisah itu. Saat mana dahulu di jaman itu, kita menjadi pelakunya. Sebuah romansa anak manusia. Romansa yang mengharu birukan peradaban. “Tak perlu sedu sedan itu..ku mau tak seorang pun kan merayu..!”. Tidak saja Chairil Anwar, tidak juga Brawjiya. “Tiadalah manusia mengerti sepinya malam jika dia tidak pernah melewati keriuhan siang”.

Dewa jagad Batara, singgasana ini tanpa mahkota. Nelangsa raga, saat tahu tak ada siapa-siapa lagi disana. Tak ada lagi masa lalu dan masa depan.  Mengikuti panggilan rahsa, seperti melewati lubang yang tak tembus. Suara itu ..he eh..dapatkah kalian dengar ?. “Aku ingin memilikimu betapapun jauh, perjalanan yang  sangat menyakitkan. Menyusuri laut, menjelajah awan. Berjalan diatas bintang-bintang”. Demi memenuhi panggilan suara itu.

“Akankan kesadaran itu masih akan terus bersamanya ..?”  Sosok laki-laki itu bertanya, pada dirinya sendiri. Kelahirannya sendiri penuh misteri. Tiada satupun orang yang tahu, bahkan raga terkininya juga nyaris melalaikan dirinya. Cintanya yang sangat halus, dewasa, dan penuh arti. Tenang meliputi alam semesta ini. Sejuk seperti tetes embun yang membasahi daun jati, dipinggir kali yang bening. Ditatapinya bidadri kecilnya dalam alam kesadarannya dan menghela nafas. “Sayap-sayapmu kecil lincah berkepak, seperti burung camar, yang hinggap di tiang sampan “. Membuka hati yang kering dan sepi hingga bersemi lagi, bersemi lagi.   

Sosok itu terpekur, tak mau dirinya kehilangan rahsa itu. Meski ratusan tahun telah terlewati. Meski peradaban telah berganti. Rahsa itu masih ada , masih sama. Hanya itu miliknya yang paling berharga. Entahlah, apakah bidadarinya masih mengerti itu. “Tak jadi soal..”.  Dia akan terus hidup bersama kenangan itu. Kenangan tentang bidadari kecilnya, yang sayapnya patah dan terluka. Tentang bidadari kecilnya, yang telah mengajari banyak hal. Terutama tentang rahsa. Yah, dia tidak mau kehilangan kenangannya. Menghilangkan kesadarannya tetang kenangan itu sama saja membunuhnya.

Mas Thole mencoba menarik nafas panjang. Mengkisahkan bagian ini sama saja memasuki alam kesadaran sosok yang hadir. Artinya bisa saja dirinya juga terluka, luka yang sama. Dan dia pun akan kehilangan kesadaran juga. SMS dari Ki Ageng tadi pagi sudah memberikan peringatan kepadanya. “Ya..banyak yang akan dialun amuk gelombang kesadaran. Hanya yg mampu sadar yg akan selamat “. Begitulah bunyi SMS Ki Ageng memberikan peringatan kepada Mas Thole. Dan sosok raja tersebiut hadir menyampaikan keluhannya kepada Mas Thole. Dia hidup sebab adanya kenangan, maka jika kenangan tersebut hilang. Sama saja telah membunuh dirinya.

Ugh..kenangan-kenangan tersebut membutuhkan kesaksian. Termasuk juga kenangan sang raja dengan episode cintanya. Namun sosok itu tak sadar, siapakah raga yang mampu bertahan dengan rindu yang terlalu ?. He-eh, Mas Thole merasa capai sendiri, meladeni para leluhurnya. JIka kenangan itu meminjam memory nya, maka coba bayangkan perlu berapa besar kapasitasnya. Tidak ada otak manusia yang akan mampu menyimpan memory tentang rahsa. Jika dipaksakan pasti akan 'hang‘. Itulah yang dikhawatirkan Mas Thole. Raga terkininya tak akan sanggup menahan turbulensi yang akan terjadi, jika rahsa tersebut menembus lorong waktu, dan menggunakan memory-nya.

Kelahiran tokoh-tokoh  masa lalu, di bulan september ini, menyibukan Mas Thole. Ibarat sebuah drama yang akan dimainkan. Maka tokoh-tokoh pemain drama sudah berdatangan. Lantas siapakah yang sibuk ?. Ya, orang-orang yang dibelakang layarlah yang sibuk. Para pemain  hanya diminta menghapalkan dialog, mengikuti pakem, dan belajar mematut-matut dirinya, saat memerankan tokoh yang dimainkannya. Hanya itu saja. Lain dengan para kru, para ‘suppor system’ yang menyiapkan panggung, yang menyiapkan kostum, yang menyiapkan ‘effect’ , yang menyiapkan segala pernik-perniknya. Orang-orang yang mempersiapkan agar perhelatan akbar itu berlangsung dengan sukses , adalah sejatinya orang-orang yang paling sibuk. Mas Thole adalah salah satu dianatara orang-orang tersebut. Meski bagiannya hanyalah pewarta saja.

Manusia sebagai tokoh utama, akan menadapatkan ketenaran, mereka akan dipuja, dielu-elukan sebagai kesatria, sebagai raja, sebagai actor yang luar biasa. Sutradar benar-benar menempatkan mansuia dalam kemuliaan. Meskipun hanya menjadi pemain panggung, nyatanya hadiahnya lebih luar biasa sekali. Ketenaran dan kekayaan akan membentang di depan mata mereka, jika mereka sukses menjalankan perannya masing-masing. Sementara orang-orang yang melayani mereka di belakang panggung, tetap sama saja keadaannya, dari waktu ke waktu.

Itulah permisal yang ingin disampaikan kepada Mas Thole. Manusia adalah aktor panggungnya, dan sesuatu yang menyebut dirinya KAMI di al qur an adalah orang-orang yang menyiapkan panggung. Merekalah hakekatnya ‘support system’ alam semesta. Mereka yang menyiapkan panggung sandiwara bagi manusia. Maka jika di bulan ini akan banyak pemain yang datang, tentu saja menggembirakan. Kita akan menanti lakon apakah yang akan dimainkan. Apakah masih dengan cerita yang sama ?. Ataukah akan mengambil cerita lainnya. Marilah kita lihat lakon yang akan digelar alam sebentar lagi. Mereka-mereka yang tidak mau menyaksikan tontonan tersebut, akan digantikan oleh penontoin lainnya. Mampukah kita menjadi penonton yang baik. Disitulah problematika anak manusia. Seringkali penonton malahan ingin menjadi pemain itu sendiri. Maka kacaulah panggung yang sudah ditata rapi oleh alam. Keadaannya sekarang begitu. Meskipun sudha banyak yang turun. Mereka semua merasa menadi pelaku utamanya. Ugh..termasuk juga Kalagemet yang merasa dipilih alam, menjadi Kesatria Piningit. Keadaan manusia akan merasa begitu.


“Akankan kesadaran itu masih akan terus bersamanya ..?” Tiba-tiba pertanyaan sosok raja tersebut kembali menyergah Mas Thole. Dia hanya tinggal punya kenangan akan kekasih hatinya, bidadari kecil yang telah mengajarkan rahsa padanya. Mas Thole menggeleng tak pasti. Semua kesatria dalam keadaan gamang yang sama, memasuki titik kulminasi. Akankah mereka menjadi kesatria ataukah akan menjadi manusia biasa lagi. Itu semua tergantung seleksi alam di bulan ini. Anarawati dan Sangkuriang, belum jelas keadaannya sekrang ini. Kapankah mereka menuju portal yang akan mengembalikan kesadaran dan memory masa lalu mereka. Demikian juga kesatria lainnya. Entahlah, keadaan masa kini rahasanya lebih real dari pada keadaan di dalam jiwa mereka. Padahal jika mereka paham, keadaan jiwalah yang lebih real.

Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing, batu karang, adakah kamu..”  Meski dia raja meski dia kesatria. Hatinya adalah manusia biasa, yang akan luluh sebab karena cinta. Maka meski ada  amuk gelombang, sebagaimana karang keadaan hatinya. Kuat seteguh keyakinan dirinya. Pada suatu masanya nanti, mereka akan disatukan dalam kelahiran berikutnya. Tidak di jaman ini. Maka mengertilah, tidaklah cinta datang, kecuali manusia itu mengerti, betapa nikmat mencinta, adalah kenikmatan yang dianugrahkan oleh-Nya. Sedikit manusia di jaman ini yang mengerti, hakekat kasih ada di dalamnya. Sebutir mutiara cinta yang hilang. Nantinya manusia akan berebutan mencari.Memasuki jaman Kalabendu, berapa saja manusia nanti yang akan kehilangan kesadarannya. Memasuki jaman edan, ora edan ora keduman. Masih untung ornag yang sadar.

 Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing
Batu karang, adakah kamu
Di padang ilalang yang tandus, kemuning kering terbakar
Tersandar letih, adakah kamu,
Aku cari, selalu ku cari, dimanakah adanya kamu,
Hati ingin menjeritn  memangil namamu
Jantung rahsa terbelah, menahan pekikan diam..
Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam,
Agar rembulan agar matahari, bersama menghasuh jiwaku..
(Tuhan, biarkan kenangan ini tetap ada , bersama jiwa ini)

(By Ebiet G Ade)

Kisah Spiritual, Kelahiran Kalagemet Menandai Jaman Kalabendu




Puspita merajai istana
biarkan kurangkai selaksa kata
memuja rahsa yang tak pernah sirna,
daun pandan kini jadi mahkota
kusiapkan singgasana karena yakin engkau ada
terbanglah kau bersama semilirnya angin,
beri senyum pada kasih yang tak sempat bertemu
waktu...


Kisah ini akan terus digulirkan, bersama ribuan jarum yang telah memasuki aliran darah. Kembali ke masa lalu sama saja mencari kematian sendiri. Namun rahsanya masih ada yang tertinggal, masih jauh tertinggal, sebuah rahsa yang tak pernah mampu dimaknainya. "Kau tak pernah mengerti bagaimana kesepian itu ?". Bisiknya kepada angin, kepada waktu yang terbuang, kepada tangis yang tertinggal, dan mengaliri anakan sungai di bawah gunung lawu."Kasih itu suci, sepertinya  air mata bayi. Kasih itu berani seperti api yang menjilati sanubari. Kasih itu tak pernah sampai , setidaknya dimasa kini ".  Dipandangnya langit yang semakin tenggelam, senjakala di bukit argo lawu.

Bukit itu kini jadi misteri, bersama berlalunya waktu. Jasadnya kini tak ketahuan, moksa entah bersembunyi dimana. Hanya suara kadang masih tersisa, menyuarakan panggilan. Senandungnya,  menempati semua relung yang ada di rongga-rongga waktu. Memaksa angin pegunungan yang terkadang tak mampu menolak, manakala dirinya memancarkan kesedihan dan kelangutan yang dalam. "Adakah engkau disana ?".  Begitulah sering dia bertanya. "Jikalaulah aku tak mampu membahagiakannya, jikalaulah cintaku tak cukup untuknya, kurangilah amalku dan berikanlah padanya". Sering dirinya berbincang kepada Tuhannya. Mestikah dirinya dilahirkan kembali ?. Dia Raja terakhir dari trah majapahit. Kini hanya sebuah mimpi yang seklias. Hanya ada sisa-sisa suara, "Ya, suara itu masih sangat dikenalnya". Benaarkah sudah saatnya dia dilahirkan ?. Kenapakah ?.


Kelahiran Kalagemet, anak dari Raden Wijaya telah memberi usikan. Dimensi alam ghaib merasa terganggu, alam semesta disana menjadi kacau balau. Arogansi Kalagemet tak menyisakan ruang untuk sebuah kata cinta. Turbulensi waktu akan segera dimulai. Melibas semua satria. Seperti kupu-kupu yang akan melawan tornado. Turbulensi waktu akan menghisap jiwa-jiwa para kesatria yang masih lemah tak berdaya. Kalagemet yang mati dibunuh oleh pengasuhnya sendiri. Dia tabib sakti yang merawat dirinya sedari kecil seorang pendeta yang arif, terpaksa membunuh tuannya sendiri. Tingkah asusila Kalagemet yang memuja kesaktian, telah memakan korban ratusan perawan. Ilmu hitam yang dianutnya membutuhkan darah perawan.  Sehingga pada akhirnya Kalagemet terserang penyakit kelamin yang tak tersembuhkan. Karena itu Kalagemet akhirnya dibunuh oleh tabibnya sendiri.

Kisah tragis itu masih menyiskaan dendam bagi Kalagemet. Dan entah mengapa pula, alam semesta  mengabulkan permohonan Kalagemet agar terlahir kembali ke dunia. Aroma wingit dan hawa magic hitam seketika saja menghambur ke seantero Jakarta. Maka Mas Thole segera mengirimkan SMS kepada sang Prabu. Perihal kelahiran tokoh yang satu ini. Peran antagonis telah diberikan kepada Kalagemet. Benda mataram seketika dipukul bertalu-talu, menandai sebuah jaman baru, jaman Kalabendu. Dampaknya sungguh dahsyat sekali. Para kesatria, yang sebgiannya adalah para bidadari mengalami himpitan hawa magic yang kental sekali. Mereka merasa ada sesuatu yang meliputi diri mereka. Mengakibatkan keadaan diri mereka seperti terlempar ke lorong masa lalu. Memasuki kembali masa tidur 'hibernasi'.

Alam ghaib memasuki jaman Kalabendu, para kesatria mengalami titik kulminasinya. Masa kritis yang tidak mungkin bisa dihidari. Apakah mereka akan mampu bertahan ?. Kekuatan hawa magic Kalagemet mampu menyedot keperawanan para bidadari. Sensasi yang aneh akan terus dialami oleh mereka, sampai saat yang sudah ditentukan. Mas Thole, berdesah khawatir sekali. Maka karena itu, sudah beberpa minggu ini, semua jalur ke dimensi ghaib telah dimatikannya. Dirinya terus sibuk dengan realitas terkininya. Sambil terus mengamati apakah yang nanti bakalan terjadi. Dia tidak ingin berseteru dengan leluhur raga terkininya. Siapakah yang mampu menahan kekuatan Kalagemet ?. Hawa gelapnya sudah menutupi seantero Jakarta. Maka dari hari ke hari, pertarungan alam kesadaran begitu terasa di raga Mas Thole. Para kesatria yang bersitegang sendiri. Sehingga terpaksa Mas Thole berkata keras kepada mereka. Berikut email yang dikirimkan kepada salah satu dari kesatria.

"Semoga rahmat Allah terlimpah atas kita semua..

Saya ikut prihatin seandainya tulisan tersebut melukai, namun disisi lainnya saya juga harus mensyukuri. Sebab hanya orang-orang yang berserah diri saja yang akan mampu melakukan kaji ulang. Tidak banyak orang yang mampu seperti itu. Semakin kita masuki keadaan diri ini maka kita akan semakin ditunjukan kelemahan diri ini. Kita akan semakin merasa kotor, merasa hina, merasa tidak ada lebihnya, dll. Inilah sikap yang benar manakala kita behadapan dengan Allah. Sebuah sikap yang selayaknya dilakukan hamba sahaya kepada Tuhannya. Maka selanujtnya akan tumbuh suasana sebaliknya. Dengan keadaan kita yang kotor seperti ini nyatanya Allah maha kasih terhadap kita, kita diangkat derajatnya. Kita diberikan kelebihan materi, kita diberikan kebahagiaan anak dan keluarga. Padahal kita tidak melakukan apa-apa. Bukankah Allah Maha Pengasih dan Penyayang ?.

Sekali lagi, sikap inilah yang paling utama, bagi orang-orang berserah diri (Islam), kita tanggalkan ego kita, kita tanggalkan ilmu kita, kita akui bahwa diri ini lemah. Namun Allah berkehendak lain atas diri kita, inilah yang harus disyukuri, oleh karena itu selanjutnya kita tegak hidup di bumi Allah dengan rasa syukur.  Coba perhatikanlah orang yang mengaku Islam, mereka akan merasa benar, merasa gagah, merasa bisa, dan lain sebaganya. Ini pondasi penting yang harus ditanamkan kepada para kesatria, agar tidak sama dengan yang diluaran sana. Maukah kita sama dengan mereka, yang atas nama agama, atas nama Tuhan mereka, membabi buta ?. Kita tidak sama dengan mereka, inilah pesan yang selalu diulang dan diulang.Inilah hakekat budhi pekerti. Agama Budhi.

Ingat kita hidup diera perbedaan dan penghakiman. Menghakimi siapa saja yang tidak sama dengan kita. Mereka lupa Allah Maha Pengasih dan Penyayang, tidak ada sedikitpun Allah merugikan hamba-Nya itu. Dan kita akan berhadapan dengan orang-orang yang seperti itu. Jikalau kita tidak ber serah diri, maka apakah akibatnya ?. Kita akan memperbanyak golongan-golongan lagi. Menerima keadaan diri kita apa adanya, menjalani takdir kita dengan kesungguhan hati, inilah pesan. Coba perhatikan kisah Fir aun, mengapakah istri Fir aun dijamin masuk surga. Padahal suaminya manusia durhaka, dan padahal suaminya bukan orang Islam ?. Adakah hikmah dari kisah itu ?. Bagaimankah sikap orang Islam jika mendapati keadaan seperti itu ?. Mereka hanya akan menghakimi saja. Padahal dalam al qur an sudah ada contohnya yang jelas. Maka tidakkah kita ingin mendapatkan karunia sebagaimana istri fir aun ?. Mampukah kita menjalani takdir kita ?.Hanya orang-orang yang berserah diri saja yang akan mampu.

Inilah titik balik kesadaran yang ingin Mas Thole sampaikan. Kita berangkat harus dari diri kita sendiri, kita harus mulai dari dimana kita berasal, bagaimana keadaan keluarga kita, dengan itu kita akan senantiasa menyerahkan urusan kepada Allah. Kita terima keadaan keluarga kita, lihatlah kisahnya di al qur an dan juga bagaiamanakah al qur an memberikan contohnya. Jika kita mampu menjalani takdir raga kita, maka kita akan mampu mengalahkan ego dan nafsu. Pahamilah, keadaan ini. KIta para kesatria ditakdirkan memiliki energi kesadaran. Apakah maknanya ?. Bukankah Allah telah memberikan karunia yang banyak ?.

Kita yang terpilih harus mampu memberikan teladan, terutama dimulai dari penerimaan diri.Menyandarkan semua lintasan hati kepada sang Maha Pengatur. Bukan kita yang mau, namun kita hanyalah perantara-Nya. Mengapakah di kisahkan 7 bidadari,pasti ada hal yang harus dikoreksi. Sebab perlu dipahami bahwa apa yang dituliskan, bukanlah nafsu, Mas Thole hanya meminjamkan tanganya saja. Pasti ada hikmah disana, untuk kebaikan kita semua. Mungkin saja kita masih memiliki ego, kita belum total berserah kepada-Nya. Tulisan tersebut bisa kepada siapa saja. Walohualam. Namun jika kita mampu mengambil hikmah, bukankah kita termasuk orang yang beruntung ?.".

Begitulah sepenggal email yang disampaikan, begitu sulitnya memaknai kejadian. sebagaimana keadaan Mas Thole yang harus kembali menyaksikan kelahiran demi kelahiran. Bagaimanakh menggambarkan kelahiran  Sang Prabu Brawijaya sendiri. Mengapakah beliau terlahir kembali,?. Entahlah, misteri ini sangat membingungkan Mas Thole. Mungkin inilah memang sudah saatnya. Kelahiran Kalagemet, kelahiran Betara Kala, akan menjadi momok bagi alam ghaib. Mau tidak mau alam akan mengirimkan kesatrianya kembali. Satu dua bulan ini, alam penuh dengan dinamikanya, riuh sekali, hiruk pikuknya seperti sedang masa kampanye saja. Bahklan lebih dahsyat dari itu. Peperangan sudah dimulai di alam kesadaran. Mas Thole mendapati salah satu korbannya, tetangga sendiri anak akil balik yang kehilangan kesadarannya. Bertingkah laku, tanpa etika membuka pakaianya dimana dia suka. terpanggil Mas Thole untuk mengobatinya. 

Sungguh keadaan tersebut bisa terjadi pada siapa saja. Apalagi kepada para kesatria, yang jelas-jelas musuh mereka. Anak tetangga Mas Thole adalah salah satu contoh nyata yang diperlihatkan kepada Mas Thole. JIka kalah maka sudah pasti RS Jiwa lah tempatnya, mungkin saja nanti Jakarta harus membuka rumah sakit baru lagi untuk menampung kita-kita ini. Sungguh, Mas Thole berpesan dengan tidak main-main, kuatkan keyakinan kepada Allah. Janganlah kita lupa, janganlah kita disibukan dengan urusan realitas kita saja. sebab memang kita sedang diarahkan kesana, agar kita lemah dari mengingat Allah.  Karena itu, betapoa khawatirnya Sang Prabu Brawijaya. Khawatir kepada nasib para bidadari.

Mereka akan berbuat telengas, sebab memang sekarang ini utusan trah-trah yang akan mengikuti kompetisi sudah mulai turun. Mas Thole menjelaskan kembali kepada kesatria perihal itu dalam emailnya.

"Mengenai pertanyaan,"Setiap trah berhak mengirimkan wakil-wakilnya untuk mengikuti lomba ini. Tidak saja dari pajajaran, majapahit, sriwijaya..dst" "

"Jika mengikuti kisah demi kisah, satu demi satu mungkin akan di dapat runutannya. Masih ingatkah saat Mas Thole selesai prosesi dari kangmas. semua kesatria mengalami sakit yang aneh, semua keadaannya sama. termasuk anarawati yang belum di prosesi, rata-rata sakitnya 3 hari. Semua yang terkonkesi jika dirunutkan pasti selalu terkait dengan Ibunda Ratu Kidul.  Siapakah Ibunda ?.   Ibunda memeiliki 7 anak, dalam mitos 7 bidadari sudah diuraikan.  Maka Ratu Shima, Anarawati, Pambayun, dan Putri Sriwijaya, adalah anak-anak Ibunda, merekalah dari asalnya bidadari. Tugas mereka adalah mendampingi manusia (Jaka Tarub) untuk memimpin nusantara. Entah siapakah nanti mereka yang harus didampingi, masih rahasia alam.

Jaka Tarub (Satri piningit) masih misteri, masih diperebutkan. Dialah yang akan memimpin nusantara baru. Khabar ini disampaiakn alam kepada siapapun yang mau mendengarkan. Maka ingatkah pada kisah Ki Subakir dari arab, dia pun ingin keturunanya terpilih jadi Jaka Tarubnya. Belum lagi dari trah-trah lainnya, mereka memeiliki bekal cerita yang sama. saya sudah bertemu dengan sebagian dari mereka. termasuk Dari atlantis dari Ibunda Ratu Kidul, adalah trah yang selalu mendampingi siapa saja yang akan menjadi pemimpin di tanah nusantara ini. Maka   tugas kesatria hanyalah mempersiapkan segala sesuatunya. 

Seharusnya kita melakukan laku sebagaimana kangmas, hidup dalam keadaan keprihatinan, sebagaimana laku kesatria jaman dahulu kala, bertapa, puasa, dan lain sebagainya. Kita tidik diminta untuk itu, laku kita hanyalah menundukkan diri kita sendiri, berserah kepada Nya. Kita tidik diminta yang sulit-sulit , maka tidakkah kita syukuri ?. Biarlah Allah yang mengajari kita, agar kita mendapatkan apa-apa seperti yang didapatkan leluhur kita. Maka pesan itu yang selalu Mas Thole ulang-ulang. Mustahil spiritual tanpa laku. Hanya kita sudah dimudahkanNya. Kita tidak perlu menjalani laku yang sulit. Sholat dan dzikir hati. Penerimaan dengan kesadaran. Cukup.

Bulan Septembert ini akan berunculan calon-calon kesatria yang akan mengikuti perlombaan. Kita harus diam, menyiapkan perhelatan ini. Lakukan mulai dnegan apa yang ada pada diri kita, bukan atas apa yang tidak di tangan kita. Jika kita baru bisa dengan hati lakukan dengan hati, jika baru bisa dengan tangan, lakukan dnegan tangan dsb. Kita harus berada dalam realitas, biarlah yang diangan, urusan kita dengan Tuhan saja. Dalam keyakinan kita."

Salam

Mas Thole masih terus menyusuri jejak-jejak para raja yang akan terus saja lahir ke dunia ini. Menjadikan misteri reinkarnasi  sebagaimana sebuah keyakinan utuh bagi dirinya. Terus menunggu kelahiran, menjadi saksi atas diri mereka,, "nanti siapakah lagi ?". Akankah semua datang lengkap dengan kisah cinta mereka ?. 
Puspita merajai istana
biarkan kurangkai selaksa kata
memuja rahsa yang tak pernah sirna,
daun pandan kini jadi mahkota
kusiapkan singgasana karena yakin engkau ada
terbanglah kau bersama semilirnya angin,
beri senyum pada kasih yang tak sempat bertemu
waktu...


"Tuhan, tolong lah hambamu ini..!"

Wolohualam

Minggu, 08 September 2013

Kisah Spiritual, Sumber Kecerdasan dan dan Kekuatan


Betapa sempurnanya diri manusia, jika boleh diperumpamakan maka manusia semisal dengan ‘Superman’, yaitu sesosok makhluk dari dimensi lain yang memiliki kemampuan, kecerdasan, dan ketangguhan yang sangat luar biasa. Maka karena kemampuannya tersebut kepemimpinan dunia diserahkan kepada sosok yang satu ini.Sayang sekali banyak sekali manusia yang tidak sadar atas kemampuannya ini.Mereka tidak terbiasa menggunakan potensi ‘jatidiri’ mereka yang se        jati.Maka entitas yang sesungguhnya merupakan ‘jatidiri’ manusia itu sendiri menjadi tertutup, tersimpan di bagian terdalam manusia itu sendiri.
Dari sejarah peradaban manusia, kita mengenal para nabi, para kaum cerdik pandai, kaum arif, para ilmuan, para pemimpin, dan orang-orang besar di setiap jamannya. Mengapakah mereka dapat menajdi orang yang ‘luar biasa’ itu ?. Bagaimanakah mereka mengoptimalkan potensi yang ada pada diri mereka ?.Pertanyaan ini menjadi kajian yang terus berguliran di setiap peradaban.Banyak sekali manusia yang telah menemukan hakekat ‘jatidiri’ mereka menceritakan hakekat siapakah sesungguhnya manusia itu. Siapakah ‘sosok’ entitas yang dinamakan dan  disebut ‘manusia’. Mereka paham dan mengerti betul siapakah ‘jatidiri’ mereka.Karenanya mereka kemudian mampu menggunakan kemampuan itu untuk memberikan kemaslahatan dan juga kemajuan bagi peradaban bangsa manusia itu sendiri.
Sementara disisi lain, sebagian besarmanusia  lainnya terus terseok-seok mencoba mencari hakekat diri mereka. Kaum berilmu mencoba mendeskripsikan hakekat manusia.Mereka mencoba mengenali bagian-bagian ketubuhan manusia.Mereka mencoba menggali setiap potensi yang ada pada diri manusia itu sendiri, mulai dari potensi akal, potensi jiwa, potensi ruh, dan juga potensi raga.Mereka mencoba mengenali perasaan, semangat, motivasi, dan lain sebagainya.Banyak sekali teknik-teknik pemberdayaan yang kemudian diperkenalkan, dari meditasi, hypnoterpy, NLP, dan banyak lagi yang lainnya.Kesemuanya itu dalam upaya mengoptimalkan kemampuan diri manusia.Sebagaimana teladan yang diberikan para pemimpin dunia.
Menjadi pertanyaan kita bersama, apakah yang membedakan diri kita dengan para pemimpin dunia ?.Mampukah kita menjadi seperti mereka ?. Jika konsep ‘jatidiri’ itu benar, tentunya semua manusia akan mampu menjadi seperti mereka. Tentu saja demikianlah adanya Pernyataan inilah yang ingin digaris bawahi buku ini.Menjadi keniscayaan yang meski diperolhe manusia. Bahwa jika manusia mampu menemukan siapakah hekaekta  ‘jatidiri’ mereka,  sudah dapat dipastikan mereka akan memiliki kemampuan sebagaimana orang-orang besar. Namun ternyata menemukan ‘jatidiri’ manusia tidaklah semudah membalik tangan. Banyak sekali pahaman, pemikiran, referensi , pengetahuan, motivasi, dan lain sebagainya, yang tidak mampu mengarahkan manusia.  Karena sebab inilah , yang menyebabkan mengapa hasil pembelajaran manusia tidak sama.
Metode pembelajaran manusia yang tidak sama, dalam menemukan siapakah hakekat ‘jatidiri’ mereka itulah yang membawa kepada hasil akhir yang tidak sama. Maka diantara manusia  ada yang miskin, ada yang kaya, ada yang sukses, ada yang gagal, ada yang senang, yang sedih, dan bermacam-macam kata sebutan manusia untuk menjelaskan problematika manusia yang melingkupi diri mereka. Banyak manusia yang gagal menemukan ‘jatidiri’ mereka sendiri.Mereka gamang dengan diri mereka sendiri. Mereka tidak yakin diri, bahwa sesungguhnya entitas manusia itu sesungguhnya adalah semisal ‘Superman’ , sosok entitas yang dimensi lain yang sangat luar biasa sekali. Semua manusia dalam anggapan mereka masing-amsing atas siapakah hakekat diri mereka masing-masing, semua manusia tidak sama dalam memaknai siapa dirinya. Begitulah keadaannya.
Para kaum spiritualis, filosofis, dan kaum agamawan, mereka meyakini bahwa dalam diri manusia ditiupkan RUH .Sebagian kaum lainnya memaknainya sebagai ‘Spirit’. Apapun penamaan tersebut tidaklah menjadi soal, yang penting semua manusia meyakini ada entitas lain dalam tubuh manusia yang memiliki kemampuan luar biasa. Kita sepakat bahwa entitas tersebut memeberikan kontribusi lebih kepada kehidupan mereka.Inilah esensi yang ingin disampaikan pemahaman ini..
Seiring dengan perkembangan peradaban dan olah pikir manusia. Sedikit demi sedikit manusia mulai memahami ada entitas lain didalam dirinya yang memberikan sensasi di dalam ketubuhan. Sensasi tersebut mampu dirasakan, mampu diamati, sayangnya ilmu pengetahuan gagal mencari tahu apakah entitas tersebut.Hanya fenomena sensasinya saja yang mampu diamati , sehingga menimbulkan misteri tersendiri. Untuk menjelaskan sensasi inilah kemudian banyak pemikiran, banyak kajian, banyak ilmu yang lahir dari sana, untuk menernagkan dan menjelaskan akal manusia apa yang terjadi di badan. Ilmu biologi, Ilmu kedokteran, Ilmu Psikologi, Ilmu Filsafat, dan bermacam-macam cabang ilmu, semua ini dimaksudkan untuk memberikan makna atas sensasi tersebut.
Misalnya jika badan kita panas, maka Ilmu Kedokteran akan menjelaskan dengan segala teori tentang bakteri, virus, dan lain sebagainya. Ilmu Psikologi akan menjelaskan interaksi kejiwaan, Ilmu Biologi dengan teori sel, dan lain sebagainya. Begitulah masing-masing peranan ilmu dalam wilayah kajiannya masingh-masing.Artinya bahwa ternyata begitu rumitnya manusia menjelaskan satu fenomena yang dirasakan oleh badan kita. Bagaimana jikalau yang dijelaskan adalah entitas yang bersifat bukan materi ?. Bisa dibayangkan betapa berpilin-pilinnya kesadaran manusia untuk berkutat disana demi untuk menjelaskan sebuah sensasi di badan yang sebenarnya  jelas dan lugas teramati. Misalnya Ruh atau ‘Spirit’.
Manusia akhirnya berputar-putar di ranah tersebut, mereka sedikit demi sedikit melupakan pencarian hakekat ‘jatidiri’ mereka.Oleh karena itu ilmu yang menyoal pencarian ‘jatidiri’ semakin tertinggal dari ilmu-ilmu lainnya. Manusia mengenali dirinya melalui apa yang mampu dirasakan oleh indranya saja. Maka semakin lama manusia semakin melupakan siapakah sejatinya hakekat diri mereka sendiri. Meskipun kitab suci, menyebutkannya, meskipun para nabi , para pemimpin dunia sudah membuktikannya. Sayang sekali banyak dari kita yang tidak yakin atas kebenaran berita tersebut.Khabar bahwa sesungguh manusia itu adalah sosok entitas yang ‘luar biasa’ seakan hanya sebuah isapan jempol belaka.Kita sering mearsa tidak pantas sebagai manusia yang berhak mendapatkan kesuksesan itu.Kita sudah meremehkan diri kita sendiri.Sesungguhnya inilah masalah terbesar umat manusia.Mereka memandang rendah diri mereka sendiri.
Pemahaman ini ingin  mencoba mengembalikan pola berfikir manusia model seperti itu. Mengembalikan kepada cara berfikir yang benar. Keadaan diri yang menimpa manusia sesungguhnya adalah buah dari pikirannya sendiri, yang telah terekam di alam bawah sadarnya. Masalah terbesar manusia adalah diri mereka sendiri.Kesalahan manusia adalah tidak pernah memperhatikan potensi-potensi yang ada dalam dirinya. Mereka sibuk melihat potensi orang diluar sana dan melupakan bahwasanya semua manusia memiliki potensi yang sama. Bahan dasar manusia adalah sama. Hanya kita sendirilah yang membuatnya berbeda.Bagaimana mereka dalam mengelola potensi-potensi yang mereka miliki, itulah yang membedakan satu dan lainnya.
Kalau boleh dengan bahasa yang lebih ekstrem, sesungguhnya manusia itu makhluk cerdas dari dimensi lain yang diutus untuk memimpin bumi ini, karenanya hakekatnya semua manusia adalah pemimpin. Hanya yang membedakan adalah mau atau tidak menggunakan potensi tersebut. Kenalilah diri kita sendiri, maka kita akan tahu bahwa sesungguhnya kita layak memimpin dunia. Dalam diri kita ada potensi untuk itu, potensi yang ditiupkan oleh sang Pencipta agar bersama entitas itu kita menjadi pemimpin dunia. Pemimpin untuk diri sendiri, keluarga, lingkungan, kelompok, bangsa, Negara, bahkan alam semesta itu sendiri.Potensi tersebut ada pada diri setiap manusia.Entitas tersebut mampu menghantarkan manusia untuk menembus dimensi-dimensi dan juga ilmu pengetahuan.
Pemahman ini akan menghantarkan kepada kita, bagaimanakah cara mengenali entitas tersebut. Diharapkan setelah pembaca menelaah habis semua bab yang disajikan. (lihat kajian2 blog) Pembaca akan  mampu menemukan ‘entitas’ tersebut yang letaknya memang sangat  tersebunyi di dalam hati manusia. Dialah entitas yang selama ini sering kita abaikan.Orang sering menyepelekannya, orang sering menafikkannya, menganggapnya sebagai sesuatu yangtidak pernah ada.Entitas inilah yang dewasa ini telah terlupakan oleh manusia.Manusia telah melupakan siapakah hakekat ‘jatidiri’nya.Maka kita bisa melihat bagaimana peradaban manusia dibangun tanpa melibatkan entitas ini. Banyak sekali yang tidak percaya bahwa sesungguhnya entitas ini memiliki kekuatan yang luar biasa, memiliki kecerdasan yang menakjubkan. Mereka keliru, para pemimpin dunia sudah memberikan  contoh atas hal ini. Kesuksesan  mereka menjadi pemimpin dunia karena didukung oleh kekuatan ini. Kekuatan dan Kecerdasan Hati .

wolohualam

Kisah Spiritual, Pengajaran Yang Diulang



Rangkaian kata, rangkuman Ki Ageng
Pembuka kisah untuk mengawali episode ini yaitu
Akhlak - Islam   (menjadi sebuah tingkah laku)


Tulisan ini, merupakan pembukaan dari Kisah seekor Elang episode 5, yaitu tentang Akhlak atau menjadi sebuah perlaku. Merupakan latar belakang atau definisi, atau sesuatu yang mendasari atau sesuatu pemahaman yang meliputi kesadaran ketika menuliskan kisah episode ini. Bagian ini sebagian besar adalah merupakan cuplikan dari tulisan seseorang yang merupakan pondasi ketika mengalami kisah ini.

Cuplikan di dalam tulisan ini ada yang teringat sumbernya namun ada pula yang sudah terlupa diambil dari mana, sehingga dengan bermohon maaf, penulis mengambilnya, dan menyataan bahwa sebagian tulisan dalam kata pembuka ini bukanlah penulis yang membuatnya, hanya merangkainya menjadi satu dan bersama-sama menjadi tulisan pembuka ini. Karena ini merupakan pembuka, maka bagian ini merupakan bagian terpisah dari kisah dalam episode ini. Kalau tidak dibacapun tidak akan mengurangi atau menghilangan bagian kisah ini.

Kisah pada episode ini berinti pada:
1.  Takdir
2.  Membaca kehendak Allah
3.  Tafakur
4.  Jiwa yang sempurna
5.  Akhlak Islam

Beberapa pondasi pada kisah ini, yaitu dapat dilihat pada tulisan Bp. Arif di milis ini mengenai takdir, membaca kehendak Allah, keadilan dalam perspektif.

            Dalam Keadilan Tuhan..

Takdir sering disandingkan dengan keadilan Tuhan. Dalam perspektif manusia, atribut keadilan yang melekat pada sisi kemanusiaan adalah ; Kaya Miskin, Susah Senang, Baik Jahat, Puas Tidak Puas, Sedih Gembira, dan sebagainya. Kesemua kata tersebut masuk ke dalam wilayah RASA.

Setiap suku kata yang kita sebutkan akan memberikan sebuah imajinasi dan asosiasi tertentu tentang sesuatu yang di dalam perspektif manusia akan mengandung sebuah NILAI. Manusia memberikan nilai dalam perspektifnya, bahwa kalau miskin itu tidak bahagia, susah, kemudian dikaitkan dengan kesulitan-kesulitan lainnya. Inilah kata miskin bagi manusia

            Takdir
Seringkali manusia memahami takdir sebagai sesuatu yang abstrak, yang tidak dapat kita rasakan. Jiwa senantiasa berada pada takdirnya sendiri yang dirangkainya pada angan-angannya. Manusia lupa . bahwa kejadian saat ini, diwaktusekarang sesungguhnya adalah takdirnya. Raga hanya bisa berada disaat ini, disatu tempat. Raga tidak mungkin berada di dua tempat sekaligus. Atau raga tidak mungkin berada di dua waktu bersamaan. Raga hanya mampu meniti setapak demi setapak , hari demi hari, waktu demi waktu.

"Hai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan sholat sebagai penolongmu. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar" (Al Baqoroh ; 155)

Bila jiwa tidak mampu mengikuti perjalanan raga, dengan sabar maka sesungguhnya inilah yang dinamakan JIWA TERSESAT OLEH TAKDIR YANG DICIPTAKANNYA SENDIRI dalam angannya. Bukan dalam rangkaian rencana Allah. Takdir Tuhan.

Kalau kita perhatikan ada rangkaian hukum-hukum yang bekerja secara ajaib. Silih berganti -siang dan malam, bahtera...ada apa dengan semua itu...manusia diajak untuk tafakur.
dalam bertafakur~untuk memahami sesuatu yang sulit dicerna oleh akal pikiran manusia~al qur'an sering menggunakan 'PERUMPAMAAN' atau analogi agar mendekati gambaran tentang 'hal yang kita bicarakan.

Manusia diminta untuk tafakur, kontemplasi atau merenung.

            Tafakur

Allah Subahnahu Wa Ta'ala berfirman:
"Dan sesungguhnya Kami telah mengulang-ulang kepada manusia dalam Al-Quran ini tiap-tiap macam perumpamaan, tapi kebanyakan manusia tidak menyukai kecuali mengingkari(nya)." (Surat 17 Al-Israa Ayat 89)

Inilah methodology Al Qur'an, Al Qur'an mengajak kita untuk menggunakan daya pikir, analogi, perumpamaan dan di tafakuri dengan itu. Dan kita diharapkan untuk belajar dari Al Qur'an.

Kalau begitu dimanakah system keadilan Tuhan..?
Kembali kita telusuri~bahwa sesungguhnya yang berada dalam posisi bebas adalah JIWA posisi bebas ini tentunya mengandung konsekwensi unsur REWARD AND PUNISHMENT. Apabila kondisi JIWA mampu berada dalam wilayah kesadaran tertingginya ~sehingga dia mampu kembali ke dimensinya. Maka akan mendapatkan reward yang dijanjikan. Bila tidak diapun akan mendapat punishment hukuman neraka.

Sehingga dalam KEADILAN TUHAN tidaklah menjadi masalah apakah JIWA berada di RAGA yang miskin, kaya, raja, petani, atau apapun. Sebab bagi sang Creator yang penting JIWA mampu menyelesaikan misinya agar mampu kembali. Sang Creator hanya menginginkan JIWA menjadi penikmat dan penyaksi yang baik senantiasa mengagumi, mengakui kehebatan sang Creator. Karena sesungguhnya sang CREATOR sudah mebuat rangkaian kejadian, sobaan-cvobaan, sedemikian rupa, sangat teliti, proposional sesuai dengan spesifikasi RAGA. Maka JIWA harus percaya ini dan jangan khawatir terhadap keadilan ini.

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Shabiin, dan orang-orang Nashara, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Maidah: 69)

Kemudian bagaimana KEADILAN TUHAN, bagi JIWA yang berada dalam pemahaman  teologi ?. (Islam, Kristen, Yahudi, dll).?.

Dalam konsep ini Teologi sesungguhnya hanyalah sebuah metodologi bagi JIWA untuk kembali ke dimensi-nya. Bagi KEADILAN TUHAN, yang penting manusia dapat mencapai kesadaran tertingginya dan dapat kembali kepada asalnya. Bagi Tuhan JIWA adalah hanya sebatas sebagai penyaksi yang mengkahbarkan akan eksistensi Keberadaan-NYA. Maka petunjuk (Buku Manual) yang diberikanpun telah disesuaikan dengan jamannya. Pada peradaban primitive, belum ada kompleksitas sehingga mudah saja bagi JIWA untuk meng-kondisikan dirinya. Maka diberikanlah Buku Panduan yang sederhana. Namun pada jaman peradaban akal dan budi , sungguh kompleksitasnya demikian luar biasa, maka diperlukanlah BUKU PANDUAN yang lebih sesuai dengan jaman itu.

Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Qs Ali Imran/3:164)

"Dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi­-nabi dari Tuhan mereka; tidaklah Kami membeda-bedakan di antara seorangpun dari mereka, dan kami kepadaNya, semua menyerah diri. " (Al Baqoroh 136),

Hakekatnya sang CREATOR menantang JIWA-JIWA ini untuk mencari metodologinya sendiri-sendiri~mereka ditantang mengunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya~guna menemukan jalan mereka untuk kembali ke dimensi dari mana dia berasal untuk keperluan ini sang Creator-pun sudah  memberikan Buku Manual-nya.

Batasannya adalah RAGA telah disetting memiliki batas waktu (game over). Kapan batas waktu yang ditentukan bagi matinya RAGA hanya sang CREATOR lah yang tahu. Maka JIWA-JIWA diharapkan berlomba-lomba dan senantiasa dalam suasana kesedaran yang terus menerus sehingga pada saat di matikan RAGA~JIWA dalam posisi wilayah kesadaran tertingginya sehingga dia akan dia dapat kembali dengan mudah.

Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan suci (fitrah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikanya yahudi atau nasrani atau Majusi. (H.R. Muslim).

Sang CREATOR, menyerahkan pilihan itu (Agama) dan memberikan kebebasan pilihan itu kepada JIWA. Bagi sang CREATOR sama saja, apakah JIWA itu akan di letakkan kedalam RAGA ditengah-tengah Islam, Kristen, Yahudi, atau KAFIR sekalipun. Semua sama-sama harus mencari metodologi untuk kembali. Semua tergantung dari usaha sang JIWA itu. Tuhan menjaga kesinambungan itu, keseimbangan agar tetap dalam kondisinya menjaga perbedaan itu, agar Jiwa-jiwa dapat berpikir. METODOLOGI MANA YANG DI RIDHOI NYA.

..... Dan sekiranya Allah tiada menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa. (QS;Al Hajj 40)
==========================
Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu'min serta mnunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan." Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta. (At Taubah - ayat 107).
 

Wasalam