Selasa, 30 April 2013

Diskusi Tasawuf, Mengungkap Jatidiri 'AKU'


Pengantar : Rangkaian diskusi ini sengaja dihantarkan kembali. Diskusi yang sudah lama terpendam. Entah kenapa ingin dituangkan kembali. Agar diri ini kembali mengulang pengajaran Allah. Mohon maaf karena diposting apa adanya, maka rangkaian diskusi dimulai dari bagian bawah tulisan ini, berdasarkan waktunya. Salam

From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au> 
Sent:
 Friday, 14 May 2010 7:36 PM
Subject:
 Bls: Bls: Bls: Bls: Kondisi jiwa: zero mind

Pada saatnya sang AKU harus kembali jua,  INALILAHI WAINAILAHI ROJIUN, janganlah sang AKU , mengaku aku lagi. Dari Allah kembali ke Allah. maka selesai sudah tugas sang AKU. Meski Raga kita masih mengikuti takdirnya namun sang AKU, telah kembali dalam dekapan TUHANNYA. Maka yang tampak adalah pujian Alhamdulillah. Sebab semuanya adalah hanya Allah adanya. SEGALA PUJI BAGI ALLAH. segala daya yang menggerakan adalah ALLAH adanya LAHAULA WALA KUWATA ILLA BILLAH. Sungguh tanpa batas semuanya diman-mana, pada mikro kosmos, pada makro kosmos. Maka tak lelah kita ber tak bir ALLAH HU AKBAR. Selesai sudah makrifat kita sampai disini.  Itulah hakekat do'a dan pujian kita. saat kita mampu melafadz satu tasbih saja, gunung kan hancur luluh.




Dari: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
Kepada:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Terkirim:
 Jum, 14 Mei, 2010 17:59:46
Judul:
 Bls: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Kalau sudah semua terakumulasi, telah berada dalam kesadaran sang observer, maka kita telah mengamati 'hal' sebuah ilusi, yang dengan kesadaran sang 'AKU' menjadi sebuah persepsi. Ingat Oberserver tetap subjektive, meski hanyalah mengamati, namun akan selalu dikonversi terhadap pemahamannya(baca; memory). Inilah EGO manusia. Alam semesta tidaklah kelihatan sebagaimana adanya, tubuh kita tidaklah seperti itu. Hanya rangkaian atom, rangkaian atom yang kemudian bila kita singkap , nyatanya hanyalah kekosongan. Maka yang tadi nampak nyata nyatanya hanyalah ~semua ilusi saja, Maka pasrahkan 'sang pengamat' 'sang hakim' atau apa saja sebutannya.(.Di Islam disebut AKU. ) Pasrahkan pengamatan kita, jangan berpresepsi lagi, akui kelemehan kita. kepada Dzat yang sering kita tasbihkan ...SUBHANALLOH , Dzat yang maha suci, pasrahkan kepada dzat ini, sebut terus dengan lirih, terus menerus, asosiasikan kita kepada dzat ini,kepasrahan total tanpa reserve, pengamat tidak ada lagi. Akui Ego kita telah melakukan pengamatan kepada alam semesta yang ilusi Pasrahkan kepada Dzat ini. Hanya Dzat inilah yang mutlak adanya, bukan ilusi.. kita bersamanya..suci bersama-NYA bebas dari ilusi dan persepsi...bersama kehadirannya..tidak akan ada ilusi.

Kalau masih sulit; coba imajinasikan, jikalau semua manusia di alam semesta tidur semua, apakah masih ada alam semesta ini..?. Saat kita memikirkan sesuatu benda, maka benda lainnya tak terpikirkan lagi alias tidak ada dalam kesadaran kita. Maka benda sejatinya adalah ilusi sebuah kesadaran. KESADARAN MURNI ADALAH KESADARAN , Dzat yang senantiasa hidup dan bergerak. YANG BEBAS DARI ILUSI DAN PERSEPSI ~YANG MAHA SUCI. Inilah arti Subhanalloh...dalam sujud kita...maka pasrahkan disini. 

Dari pemahaman ini kita akan mendapatkan pemahaman "BAHWA SEJATINYA BUKAN KITA YANG MELEMPAR NAMUN ALLAHLAH YANG MELEMPAR". Tidak ada lagi kehendak kita, yang ada adalah kehendak Allah. Bukan lagi kita yang menggerakkan tubuh kita, namun Allah yang menggerakan atas kesadaran diri kita. maka disini kita telah stabil...tercapailah JIWA YANG TENANG ITU.



Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Kepada:
 Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
Terkirim:
 Jum, 14 Mei, 2010 13:13:20
Judul:
 Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind

Ketika membaca ini, kok terasa ada sesuatu yang bergerak-gerak di dada saya, seperti rasa berdebar mau ujian, tapi bukan, pokoknya berdesir, dan bergerak-gerak.
Rasa ini rasa yang belum pernah saya.
Sudah dulu, saya belum bisa menuliskan.

Saya amati dulu.



From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Sent:
 Fri, 14 May, 2010 1:55:42 PM
Subject:
 Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind

Bashiroh dapat sebagai sang pengamat , dapat sebagai sang hakim, yang akan mengadili jiwa saat bersalah (hingga timbul siksa), dapat pula sang penunjukan jalan menuju Dzat, karena dia-lah yang terdekat kepada Dzat. Perlu kontempelasi dahulu , tundukkan pikiran (Jiwa) dengan pemahaman ini, agar tidak menghijab. Mulai darai penciptaan manusia dahulu ikuti dengan rasa, sikulus rantai makanan, kemana saja atom-atom bergerak di alam raya ini. Saat kita mati kemana saja atom bergerak, kemudian terkumpul di tumbuh manusia, menjadi kumpulan ide di dalam sperma. Dan terrciptalah manusia. Pahami ide-ide dasar ini dahulu. Jangan langsung masuk. Tundukkan pikiran dengan pemahaman dahulu. Mulai rasakan saja, kalau sudah 'ngeh' baru masuk ketahap latihan. Jangan tanyakan kenapa saya bisa bicara begini, saya juga tidak tahu, saya bisa berda dalam "HAL' yang melompat lompat. Inilah fungsi saya,

salam

--- Pada Jum, 14/5/10, IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au> menulis:


Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Judul: Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Kepada: "Arif Budi utomo" <budiutomoarif@rocketmail.com>
Tanggal: Jumat, 14 Mei, 2010, 3:22 AM
Ya... ya.. Ininilah. Memang inilah dia. Ini yang saya cari. Otak saya saat ini berfikir betul.
namun ketika saya mencoba ke arah itu, dek ... kok tidak sampai ke sana. Masuk ke dalam diri bisa, inti atom masih bisa, kosong masih bisa.
Lalu bagaimana, kok kosong. Untuk sampai kosong tapi isi, belanjut ke ide dan kehendak ini masing hilang, missing link. karena dari ide, ke kehendak, ke niat sudah jelas, saat inipun bisa. Ada satu gap satu jurang yang belum ada njalan.

Coba saya turuti saran yang pertama, yaitu "Dengarkan bashiroh" an ikuti. Karena kalau ikuti jiwa tidak ketemu, ikuti raga lebih parah lagi.
tak ada yang diikuti cuma muetr-muet bolak balik nggak tentu.

Masih ada kendala "apakah mengikuti bashiroh" ini akan sampai ke sini, ataukah ke arah lain, ataukah .... yaitu saya coba saja amati, dan saksikan,
karena kita hanyalah penyaksi.




From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Sent:
 Fri, 14 May, 2010 11:14:34 AM
Subject:
 Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Gunakanlah mata hati, seringkali dengarkanlah bashiroh saja. Ikuti karena dia akan menuntut kepada Dzat Mutlak. Sekarang kita semua masih dalam keadaan HAL dalam derajatnya masing-masing belum ke makom yang sesungguhnya. Masuklah ke dalam diri, ke dalam inti atom yang tersembunyi, hingga terasa tidak ada inti lagi, hingga tidak ada yang bisa dibandingkan lagi, wilayah kosong yang isi. Rasakan inti tersebut diliputi  ide,  dan  kehendak, kehendak menjadi NIAT, Niat kemudian menjadi gerak yang meliputi kita. Sang MAHA GERAK yang MAHA HIDUP. Pertanda adanya gerak tersebut adalah aliran masuk nafas, aliran keluar nafas. Rasakan kita, atom kita, badan kita diliputi SANG MAHA GERAK, MAKA KEMUDIAN KITA HIDUP. Menjalankan seluruh aktifitas. 

Maka fungsi NIAT menjadi penting dalam setiap aktifitas kita. saat niat diarahkan kepada pemberi gerak, maka itulah ibadah. Demikian. Walohualam

--- Pada Jum, 14/5/10, IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au> menulis:


Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Judul: Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Kepada: "Arif Budi utomo" <budiutomoarif@rocketmail.com>
Tanggal: Jumat, 14 Mei, 2010, 2:50 AM
Ok, tepat sekali.
Bahasa inilah yang saya maksudnya, cuma saya belum mampu menggambarkan dan menuliskannya.
Kondisi ini yang masih sulit dicerna dan digambarkan dengan keterbatasan indera, karena selalu terfokus dan terbatasi atau daya ukur kita yang
dibatasi oleh keterbatasan indera. Mata kita, tidak setajam elang, hidung kita tak setajam anjing, indera pencium panas tak sekuat ular, pendengaran kita
tak
 sejauh ikan paus dan seluruh keterbatasan kita yang membuat kita ini kecil bahkan sangat kecil. Sementara jiwa itu bisa meluas seluas duania,
maka raga yang sempit ini tidak mampu atau tidak siap menerima perubahan ini.
 


From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Sent:
 Fri, 14 May, 2010 10:38:55 AM
Subject:
 Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Dalam dimensi Jiwa,seperti itu adanya. Semua menjadi realitas karena berada pada tataran antimateri. Apapun bisa terjadi mau dimasa lalu atau masa kini, atau mencipta apa saja, membuat realitas-realitas baru apa lagi. Sebagaimana sang Pencipta yang mampu menciptakan apa saja. Dalam dimensi Jiwa, bila kita berkehendak KUN, jadi maka jadilah. Kita menginginkan jadi raja, seketika Jiwa kita telah  menjelma menjadi Raja. Karena sesungguhnya Jiwa sekali lagi adalah refleksi dari sang Penciptanya sendiri. Ibarat cermin yang memantulkan cahaya. Jiwa adalah refleksi atas pantulan tersebut. Kemudian sang Pencipta mensifati dirinya dengan Ar rohman-Ar rohim. Inilah batasan 'karma' dalam hindu-budha, atau sunatulloh dalam Islam, yang harus diemban dalam menjalankan rencana sang Maha ini. 

Dzat ini senantiasa sibuk dengan ide-kreasi-kehendak-nya, dia yang Maha Hidup. Karena sesungguhnya dialah yang HIDUP bukan refleksinya, bukan pantulan cahaya-NYA. Hidup dalam ide-ide dalam atom-atom yang membawa kepada realitas. Atom ini tersimpan dimana saja, tersimpan rapat dalam sperma. Berupa rangkaian DNA-RNA, perbedaan susunan atom ini, membedakan ide yang terkandungnya, sehingga manusia memiliki potensi JIwa dengan ukurannya masing-masing. Ide belum menjadi kehendak jika belum diucapkan KUN. Maka ide ini kadang tidak muncul belum merupakan KEHENDAK, tersimpan saja, bersama jutaan sperma lainnya yang mati.

Manusia dengan ilmu-nya mampu memberikan kesadaran ini, sehingga dia tidak terjebak kepada ilusi. Ilusi adalah refleksi Jiwa yang tidak diarahkan kepada Dzat pemilik ide. Bila kesadaran manusia berada pada refleksi ini maka dia akan merasakan tersiksa.

Islam mengajarkan~sebagai penyempurnaan agama-agama terdahulu~dan kitab-kitab terdahulu. Agar JIwa dalam kesadaran bersama Raga-nya. Menyempurnakan takdirnya, penghayatan yang sempurna. Menjadi wujud sempurna, ide dan jasadnya. Anti materi dan materi. Jiwa dan Raga. Agar JIwa tidak meliar kemana saja, atau menciptakan realitas-realitas baru, sebab mencipta adalah wilayah KEKUASAAN TUHANNYA. Agar manusia selamat.
Refleksi sejatinya hanya refleksi. Ketika dia berupaya merefleksikan lagi, maka hakekatnya dia menyaingi Dzat awal yang menyebabkan dia ter-refleksi. Maka kemudian dia akan tersiksa amat sangat.

Mengamati dan menganalisa adalah langkah bijak, untuk dapat mengenali dan memahami hal ini, dengan sebuah keyakinan hakiki. Hingga mampu melihat dengan keyakinannya bahwa Alam semesta sejatinya adalah hanya refleksi, yang ada hanyalah ALLAH. Kita yang mengkabarkan dan menjadi saksi adanya ALLAH ini, yang kelihatan lebih NYATA dari realitas alam semesta ini. walohualam

--- Pada Jum, 14/5/10, IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au> menulis:


Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Judul: Re: Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Kepada: "Arif Budi utomo" <budiutomoarif@rocketmail.com>
Tanggal: Jumat, 14 Mei, 2010, 2:00 AM
Betul, kelihatannya sulit sekali berhubungan.
Pagi tadi saya membawa dan mengajak jiwamu sholat fajar bersama saya. Dan saya bisa merasakan benar-benar kamu ada di belakang saya makmum sholat fajar. Namun seperti tidak tahan belum sampai satu rokaat saya sudah tidak merasakan lagi. Saya masih mendengan (merasakan) kamu mengamini
ketika saya membaca AL Fathihah. Lalu banyak juga seperti "jiwa" atau ruh atau apa saja yang ikut shalat bersama saya. Namun juga baru pada rokaat pertama, waktu kedua semua hilang. Nggak tahu apa sebabnya.

Saya setuju dan pas dengan penjelasan di bawah ini. Memang seperti itu adanya. Betul tentang Ide atau dalam bahasa kita sering disebut kehendak.
Ketika Allah berkehendak. Sekali lagi Ide atau kehendak kita harus seperti yang saya jelaskan harus dalam batasan Bismilahirrohman nirrohim. Dalam perlindungan Allah, dengan menyebut nama Allah, meminta bantuan, mengikuti. Karena kita tidak bisa melihat atau merasakan datangnya secara langsung,
dan juga membuktikan apakah kehendakNya itu, maka yang harus dilatukan adalah "Fitrah", menerima apapun informasi yang kita terima itu. Mengolah, menganalisa, memutuskan kehendak kita (karena inilah kebebasan yang diberikan untuk kita), dengan mengucapkan Bismillah.

Bismillah adalah wujud Kun atau kehendak dalam batasan yang diridhoiNya, yaitu mengikuti jalanNya, bukan kebebasan liar tanpa batas.

dengan kondisi saya saat ini, saya merasakan bisa menghubungi jiwa-jiwa yang lain, menyapa jiwa-jiwa keluarga kita, Tio, Barkah dan menanyakan
sebab dan penderitaan mereka, sebagaimana saya bisa menjenguk jiwamu, bahkan mengajak sholat fajar bersama pagi tadi.

Apakah ini nyata? real?. halusinasi?. Tapi saya bisa merasakan seperti rasa berdesirnya angin, say bisa merasakan seperti kalau kita merasakan senang, gembira, sedih dll.
Bukan sebuah pemikiran, atau bayangan, ketika kita berfikir, tak ada desir atau "rasa". Entahlah, wallahu aklam.
Saya hanya mengamati, menerima informasi, tanpa memberi penilaian, tak merisaukan apakah ini benar, apakah ini nyata, informasi yang saya terima
saya simpan saja, suatu saat akan saya pergunakan kalau perlu.
 


From: Arif Budi utomo <budiutomoarif@rocketmail.com>
To:
 IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Sent:
 Fri, 14 May, 2010 9:25:18 AM
Subject:
 Bls: Kondisi jiwa: zero mind
Keadaan saya memang senantiasa begitu , super sensitif. Kalau dalam sufi di kenal sebagai 'HAL', yaitu keadaan yang selintas datang pada makom spiritual namun bukan makom itu sendiri. kalau makom adalah 'hal' yang sudah inheren, menetap. Dalam keadaan seperti itu saya berkutat dalam kontempelasi saya sendiri. Suara dan informasi dari luar kadang menambah rasa , hanya bisa dilakukan dengan istirahat dan tafakur.
Jadi banyakan tidurnya.

Sesungguhnya yang kita latih adalah bukan 'zero mind' ,. Itu hanyalah untuk memudahkan dalam penyampaian saja. Saat kita telah zero ~kemudian pelan-pelan kita bangkitkan kesadaran dari zero ada sesuatu kekuatan, maha dasyat, kosong tapi ada. Kekuatan itu memiliki ide, Ada sebuah ide dasar, dari ide menjadi pikiran, dari pikiran menjadi realitas,. Ide dasar termuat pada quark dan neutronio atom, menjadi atom, membentuk senyawa, membentu benda, dan seterusnya.  Dari situ kemudian kita keluar menjadi realitas alam semesta, diri kita. Realitas alam semesta kemudian. Semua dalam kesadaran kita saja. Saat kita tidur kesadaran akan diri kita tidak ada. Jiwa kita tidak ada, ditahan oleh kesadaran hakiki/universal/murni. Allah.  

Ide-ide dasar dalam atom tadi, dalam tubuh manusia, mewujud menjadi JIWA.  Maka jiwa kadang dapat berupa angan, pikiran, menjadi memory. Maka JIwa adalah refleksi dari sang penciptanya sendiri. Kumpulan dari ide. Kumpulan ide ini harus melebur kepada kesadaran hakiki, Dzat Allah.

Karena berwujud ide~ Karena itu Jiwa mampu berada dimana-mana , bahkan menciptakan realitas-realitas baru. Dalam ajaran Hindu karena kekuatan Jiwa (ilusinya) Jiwa dapat lahir beberapa kali. Ide-ide yang berkumpul membentuk eter~ sebuah frekwensi yang mampu memasuki raga siapa saja. Inilah teori reinkarnasi. Raganya diri kita namun, pemikiran (ide/jiwa) adalah Ronggowarsito, atau mungkin sultan Agung. Sebab apa ?. Ide ini tersimpan dalam susunan atom, yang senantiasa akan memunculkan radiasinya. Efek radisasi akan bertahan dialam semesta, Ingat hukum kekekalan energi..?. Jadi siapapun yang mampu menggetarkan atom2 ini akan mampu berada diwilayah manapun yang dia suka, bahkan membentuk realitas-realitas baru. Inilah penjelasan kenapa, kita mesti membentuk imajinasi kita, seperti yang mas sering utarakan. Roh harus menciptakan takdirnya sendiri dahulu. Kalau ingin jadi presiden, siapkan jiwa jadi presiden dahulu, nanti raga mengikuti, mas pernah mengatakan itu.

Namun bila Jiwa menciptakan realitasnya sendiri, bersiap-siaplah untuk menerima efek sampingnya. Yaitu penderitaan, kesedihan, kesakitan, dan lain sebagainya. Kecuali jiwa mengembalikan dahulu ide-ide tersebut, kepada Dzat pemilik sejati atas Ide atas KUN. Sehingga yang bekerja adalah sang pemilik Ide itu sendiri dan kita tinggal mengikuti. Kita tinggal mengamati atas bekerjanya ide-ide tersebut.

Yang mas alami adalah terbukanya hijab, sehingga ide-ide mampu terlihat dengan sangat nyata, berupa kumpulan memory yang sangat nyata. Sebagaimana seandainya kita masuk ke dalam sebuah film yang sedang diputar.

Ide-ide ini saling terikat (baca; Jiwa) satu dan lainnya, membentuk sebuah rencana besar. Saling melengkapi saling bersubititusi, bersublimasi, menjadi sebuah Takdir (program). Sehingga jika kita mampu membuka hijab ini, maka kita akan mampu berkomunikasi dengan jiwa-jiwa yang lain. Bila kita lebih kuat kita dapat mempengaruhi sesuai dengan keinginan kita. Agak berbeda dengan hypnotis. Kalau hypnotis memanipulasi. Maka yang ini hanya menyamakan frekwensi atas ide-ide, sehingga orang tersebut akan merasa dekat, tunduk, atau apa saja yang kita inginkan.

Kemampuan inilah yang dimiliki para resi. Kemampuan ini akan memuluskan jalan bagi sebuah rencana, jikalau memang menjadi Takdir kita bersama. maka sekarang sudah menjadi tampak dengan ini. Mas, silahkan berkontempelasi dengan ini. karena saya belum diijinkan untuk kontak langsung, akan mempengaruhi JIwa saya. sebab radiasi mas, sudah terlalu tinggi. (ada yang ingin ditanyakan bisa lewat email saja-maaf harus begitu)

salam


--- Pada Kam, 13/5/10, IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au> menulis:


Dari: IMAM SARJONO <imam.sarjono@yahoo.com.au>
Judul: Kondisi jiwa: zero mind
Kepada: "arif" <budiutomoarif@rocketmail.com>
Tanggal: Kamis, 13 Mei, 2010, 10:13 AM
Seperti yang saya jelaskan dalam email sebelumnya.

Jiwa saya bisa melayang ke masa lalu, bahkan saat saya masih bayi.
Kondisi saya waktu digodok oleh Almarhum Bp. DImasukkan ke kolam dingin.
Masih bisa saya rasakan dinginnya air, lalu pegangan tangan dan doa-doa yang dibisikkan.
Sepertinya doa Al Ikhlas.
Masuk, bleng, lalu timbul banyak kesadaran, sesuatu yang sebelumnya tak terlihat menjadi jelas.

Selama ini proses peluasan jiwa yang saya atau kita lakukan kurang tepat bahkan salah.
Prose pelatihan jiwa kita berdasarkan proses zero mind, kekosongan, seperti kertas putih yang belum ditulis,
bersih. Ini adalah paradigma dan asumsi yang salah.

Seharusnya proses kita berpijak seperti kondisi bayi yang baru lahir, beberapa menit atau jam, yaitu kondisi "Fitrah".
Keadaan suci tanpa dosa, tapi bukan suatu kekosongan.
Ada satu kekuatan yang maha dahsyat yang melindungi bayi ini dari berjuta mara bahaya, ada tangan-tangan yang kuat yang menjaga
si bayi ini. Ada proses penyerapan informasi yang sangat hebat, yang bisa menyimpan berjuta informasi sekaligus, tanpa menolak, tanpa
analisa, bleng, kondisi siap tempur, kondisi siap menerima, kondisi on siaga penuh dengan benteng yang luar biasa yaitu "ruh".

Cukup berat menjelaskannya, namun yang pasti kondisi zero mind yang kita perlukan bukanlah jiwa yang kosong jiwa yang bersih saja,
itu tidak cukup, tapi jiwa yang mebawa sifat dasar kita, jiwa yang membawa pakaian pelindung. Jiwa yang siap menerima jutaan badai informasi melalui seluruh panca inder, kulit, tangan, hidund dsb.

Seperti halnya tubuh kita yang membawa pelindung bawaan yang melindungi isi organ tubuh yaitu kulit kita. Kemudian kita perlu menambah pelindung berupa pakaian luar.
Maka jiwa membawa pelindung bawaan yang menjaga jiwa dari badai informasi yang merusak yaitu ruh. kalau badan memerlukan pakaian, yang harus diperbarui setiap beberapa waktu.
Maka jiwa juga perlu pakaian luar yaitu agama, pengalaman rohani, dsb, dan ini perlu diperbarui setiap saat.

Ok, maka siap-siaplah kita kembali ke Fitrah.

Padahal setiap Iedul Fitri, kita menyebut dan berdoa kita kembali ke Fitrah, namun dengan ucapan saja tanpa isi atau makna di dalamnya.

Senin, 29 April 2013

Dualitas Alam Semesta, Menuju Kearifan Puncak


“Yang mulia dapat memerintahkan para sarjana untuk menelaah- (disunting)-Penelaahan seperti ini akan membuktikan bahwa hukum kausalitas, yang menjadi sandaran semua pengetahuan, didasarkan pada pengetahuan rasional, bukan pengetahuan inderawi. Pemahaman universal dan hukum-hukum umum, yang menjadi dasar semua argumentasi, juga rasional dan tidak inderawi. (disunting) –Kenyataan bahwa materi dan setiap objek material memerlukan ‘cahaya’ murni, yang benar-benar bebas dari sensibilitas, dan bahwa konsepsi esensi manusia yang intuitif secara pasti akan mengatasi indra manusia itu sendiri -(disunting) –Hingga jelaslah bagi Yang Mulia bahwa pengetahuan hakekatnya benar-benar terpisah dari materi dan karenanya itu, tidak terikat oleh hukum-hukum materi.”
Begitulah  sepenggal surat Imam Khomeini kepada Michael Gorbachev. (saya sunting sebagian tanpa mengurangi muatannya). Sebuah surat yang menyarankan kepada pemimpin besar Rusia saat itu agar mampu menyikapi kemelut Internasional jangan hanya dari sisi pandangan materialis saja. --Surat ini ingin menjelaskan perihal sebab kenapa sang Imam menjatuhkan hukuman mati kepada Salman Rusdhi yang dianggapnya telah menghina Al qur an.

Kedua pemimpin ini telah mewakili perseteruan dua kutub pemahaman. Sejak dari awalnya dahulu, kedua kutub ini memang  telah memisah sebagaimana kutub bumi (yaitu) dengan Kutub utara dan Kutub selatan-nya. Dimana kemudian di tengahnya,  jiwa-jiwa manusia di dalamnya berbondong-bondong menuju kutubnya sendiri-sendiri, mengikuti ‘kecenderungan’ jiwa mereka , baik dengan  suka rela ataupun terpaksa. Apakah mau menuju kutub matrialis ataukah menuju kutub spiritualis. Kadang bahkan --sering--manusia sendiri juga tidak menyadari jikalau dirinya berada di dalam kutub-kutub tersebut. Lebih seringnya lagi manusia 'gamang' berada diantara kedua kutub itu. Dirinya dalam 'keraguan' akan menuju kutub yang manakah itu. Keadaan ini justru lebih berbahaya bagi jiwa manusia.

Begitulah, akhir ceritanya dimana kemudian kedua kutub SPIRITUALIS dan kutub MATRIALIS. Mengambil jalan, bermusuhan, dari sejak jaman purbakala. Masing-masing kutub mencoba mempengaruhi kutub lainnya. Menjadikan iklim bumi sebagaimana keadaan sekarang ini. Dan ditengahnya manusia porak-poranda memaknai keadaan dirinya. Kesulitan menemukan 'jatidirinya'.

Dengan adanya kedua kutub ini, akhirnya suasana didalam benak manusia kadang bergolak ketika mendapatkan informasi. Informasi dari kedua kutub inilah yang nantinya akan menimbulkan ‘turbulensi’. -- Sebagaimana bumi yang kadang memunculkan badai, kadang memunculkan hawa panas, kadang hawa dingin menyebar. Kadang angin topan dan lain sebagainya. -- Informasi yang kita terima kemudian akan membuat jiwa bergolak. Membangkitkan emosi dan amarah. -- Jika informasi yang diterima tersebut tidak sesuai dengan kutub sang jiwa. Misalnya jika dia seorang matrialis maka dia tidak akan bisa terima pendapat spiritualis, begitu juga sebaliknya. Kaum spiritualis tidak akan mau menerima pendapat kaum matrialis. Begitulah peradaban manusia dibangun melalui perseteruan dua kutub. Dua kutub yang akan selalu menimbulkan perang. Kesadaran terhijab dualitas alam semesta ini.

Dan begitulah pertempuran nyata kedua paham yang semula hanya bermain di dalam benak manusia, yang mana kemudian,  dalam realitasnya telah  mewujud, menjadi sebuah  aksi manusia. Aksi yang kemudian dapat kita maknai sebagai ‘radikalisme’,  ‘fundamentalisme’ oleh kutub lainnya. Tapi disisi sebaliknya aksi seperti ini justru ini dimaknai sebagai ‘aksi suci’ oleh kutub satunya, mereka merasa telah mewakili Tuhan, mereka merasa membela ‘kebenaran’ Tuhan, menjadi aksi ‘sah’ saja atas nama kebenaran Tuhan-Nya. Perang-perang inilah yang kemudian mengkerucut menjadi Perang Dunia. Perang yang hakekatnya memperebutkan kesadaran manusia. Semisal Perang Mahabarata, Perang Shifin, Perang Dunia I & II, Perang Parareg, dan masih banyak perang lainnya.  Dan banyak lagi lainnya.

Gejala ini tidak saja menjangkiti agama saja namun menjangkiti semua pemahaman di muka bumi ini. Semua orang akan membela pemahamannya, baik itu atheis ataupun beragama. Baik yang moderat ataupu sekuler.  Baik yang spiritualis maupun matrialis. Semua akan terjangkiti penyakit endemik ini.
.
Pemahaman akan dualitas alam semesta sebenarnya sudah di kenali oleh agama Hindu sejak dahulu kala. Para ahli agama Hindu para resi dan pertapa memahami benar akan adanya efek dualitas pada jiwa manusia. Kearifan Bhagavad Gita nampak sekali dalam memaknai dualitas alam semesta ini. Manusia di arahkan agar tidak terpengaruh dualitas alam semesta. Inilah kebenaran yang murni dari ajaran tertua di dunia ini.  Manusia di arahkan agar tida terpengaruh dualitas. Maka kemudian mereka menawarkan  methode-methodenya agar manusia terbebas dari efek dualitas dunia materi.

Efek dualitas rahsa begitu menghujam di jiwa manusia, efek ini sangat terasa di badan. Efek dualitas inilah yang menghancurkan akal dan logika manusia. Jiwa menjadi penuh prasangka, jiwa menjadi penuh dengan nafsu hewani. Sungguh efek ini  menjadi sangat nyata di badan ini.

Efek yang terasa di badan akhirnya menjadi daya dorong manusia untuk melakukan sesuatu agar dirinya terlepas dari efek ini. Jika marah maka segera dia ingin melampiaskannya, jika sedih maka dia ingin menangisinya, dan lain-lain. Mansuia di himpit oleh jiwanya sendiri. Yang kaya semakin sombong,. Yang suci menganggulkan kesuciannya, yang pinter merasa paling pinter, yang kuat ingin semakin kuat, yang menderita hidup dalam kepapa nya merengungi nasib nya iba diri dan rahsa mau mati, dan sebaganya dan sebagainya. Jiwa diaduk-aduk rahsa yang akan menjerumuskan dirinya. Terjerumus kepada rahsa yang kita kenali sebagai nafsu manusia. Nafsu yang kesemuanya itu menjadi 'daya dorong' sebuah aksi manusia. Nafsu yang mampu menjadi 'penggiat' untuk membangun peradaban manusia disis satunya, dan disisi sebaliknya nafsu akan mampu menghancurkan peradaban itu sendiri.  

Maka kemudian datang pengajaran Budha untuk meredam gejolak jiwa. Methode-methode penyucian jiwa sangat dalam di kaji oleh agama Budha. Methode yang sangat luar biasa, akan langsung dapat dirasakan di badan manusia. Bagi orang yang percaya dan mau memasuki kedalamannya.   Begitu juga dengan  Kristen dan Yahudi. Dan juga  Islam yang datang kemudian juga menawarkan konsep dan methodenya.   Semua dengan dinamaikanya. Terserah kepada jiwa manusia untuk memaknainya.

Semua agama mengarahkan kepada pemeluknya untuk melakukan penyucian jiwanya agar tidak terpengaruh oleh dualitas alam semesta ini, agar tidak mengikuti rahsa (baca; nafsu)  di jiwa. Agar manusia tidak dibelit dengan duka lara. Agar manusia tidak dipengaruhi oleh keseluruhan efek 'radiasi' dualitas yang akan mampu memporak porandakan akal dan logika manusia. Semua pengajaran agama mengarahkan pemeluknya kepada ini. Semua methode di kembangkan untuk menuju jalan tercepat bagi penyucian jiwa manusia itu sendiri.  Sayangnya sangat sedikit manusia yang mau memasuki ajaran agamanya masing-masing dengan totalitas dan sungguh-sungguh. Inilah masalah yang terjadi di setiap agama dan di setiap paham.

Jika manusia mau memasuki ajaran dan pahamnya (baca; agama) mereka masing-masing dengan sungguh-sungguh. Dan jika mereka mau membuka diri untuk suatu pengajaran. Maka pada ujung akhirnya mereka akan mampu melihat secara keseluruhan. Melihat kebenarannya, diantara itu semua. Sesungguhnya tidak ada spiritualis tanpa matrialis, dan tidak ada matrialis tanpa adanya spiritualis.-- Keadaan yang ghaib hakekatnya adalah realitas. Dan realitas adalah ghaib. Semua berada dalam sebuah kesatuan yang utuh berada dalam kesatuan dimensi, namun mereka juga  berada dalam 'makom' dimensinya  sendiri-sendiri. Tinggal terserah kita pengamat dalam memaknai keadaan saja.  Mau memasuki bagian yang mana. Namun kesemua dimensi hanya tunduk kepada DZAT yang mengatur system alam. Inilah kearifan puncak.  

Sungguh manusia pada dasarnya lemah, alih-alih mereka mau menggunakan methode yang di yakininya,  mereka justru ribut ber- promosi tentang methode mereka yang dianggap paling baik. Ributlah manusia akan hal ini.   Bahkan berjuta nyawa manusia melayang hanya dikarenakan ingin di nyatakan methode mereka yang paling baik.  Mereka kaum matrialis dan matrialis, antara kaum sipiritualis dan spiritualis  serta  antara matrialis dan spiritualis. Mereka perang sendiri mengorbankan jutaan para penganutnya sendiri. Duh..

Menurut pemahaman saya, agama adalah ageman (jawa) adalah baju. Baju yang akan kita kenakan saat menghadap kepada RAJA manusia. Baju apakah yang pas buat kita. Baju apakah yang pantas buat kita. Baju yang cocok. Baju yang sederhana namun mampu membuat kita percaya diri saat menghadap kepada Tuhan. Baju yang bagaimanakah itu ?. Meski saat ini saya yakin dnegan baju yang saya kenakan yang terbaik saat ini, namun belakang hari saya tidak tahu pakah perlu saya ganti atau tidak. Hanya da satu pemahaman bahwa saya harus mengenakan baju yang terbaik dalamkemampaun saya dan keterbatasan saya. Itu saja.

Maka jika kita merasa sudah yakin dengan mengenakan baju tersebut pakailah dengan kesungguhan dan keyakinan yang total.  Kenakan baju kita terlebih dahulu, cobalah pas ataukah tidak, apakah masih kebesaran, apakah masih kesempitan, apakah sudah kuno, apakah sudah up to date sesuai dengan modelnya. Ingatlah ketika mengahdap Presiden kitapun akan mencari baju yang paling baik buat diri kita agar kita merasa percaya diri. Seringkali baju kita saja belum pas kita kenakan namun kita sudah berambisa  untuk menelanjangi baju manusia lainnya. Kemudian dengan arogan  kita paksakan baju kita kepada manusia tersebut. Padahal kita sendiri masih nggak sreg dengan baju itu. Wah..Maka marilah kita bertanya kepada diri kita saja,  apakah baju kita sudah pas saat kita nanti menghadap-Nya. Menghadap sang  RAJA manusia., Tuhan manusia ?. 

Kurangilah mengurusi baju yang dikenakan orang lain, sebab hal itu akan membuat kita semakin tidak yakin diri. Terus perbaiki saja penampilan kita. Baju kita rapikan, kita strika, kita berikan pewangi, dan lain sebagainya. Maka ketika kita menghadap-NYA, kita sudah tenang, sebab baju kita inilah yang terbaik tentunya dalam kemampuan kita. Dalam batasan yang kita miliki. Jika posisi itu tercapai maka saat  itu ,  (ketika) kita melihat baju yang dikenakan manusia lainnya, kita akan mampu tersenyum ikhlas. Bertemu Raja dengan yakin diri.  Menghadapkan dirinya dengan baju yang di yakininya dalam sebuah kepasrahan total. . 

Dan dengan kebanggannya berkata , “Inilah baju yang terbaik  saya ya Allah, saya yakin dan mengharapkan ridho-Mu atas baju yang saya pakai ini”.  Karena dalam keyakinannya,  Tuhan saja yang berhak menilai baju siapakah yang benar (dalam) ketika menghadap-Nya. Sehingga hal ini tidak merisaukan lagi. Baju orang lain tidak membuatnya resah atau menjadikan diri kita iri bahkan dengki. Dalam keyakinannya, itulah baju yang akan menghantarkan dirinya menempati surga-Nya. Sebab inilah hal terbaik yang dia bisa. Bukan dalam anggapan lagi namun dalam keyakinan yang utuh.

Maka dengan pemahaman ini, kita tidak lagi di pengaruhi peperangan pemahaman. Pemahaman antara dua kutub para spiritualis dan para matrialis. .  Begitulah ke- arifan puncak. Dimana  manusia sudah di luar dualitas alam semesta. Melihat peradaban dunia manusia dengan terseyum. Sebab JIWA sudah bersama-NYA.

Seraya menjauhi Plato dan al farabi
Kuteliti dunia indra dengan mata sendiri
Tak pernah aku mengemis dan pinjam pandang orang lain
Dengan pandangan esndiri muncullah apa yang ku ingini
Tak seorang pun tahu bagaimana Diri muncul meng’ada
Tak ada dunia ruang dan waktyu berasal
Ku dengar hikmah ini dari Nabi lautan :
“Laut  tak lebih tua dari ombak buihnya”
Belajarlah dari kuntum bagaimana dia hidup, oh hati
Ia adalah lambang hidupmu yang mencari cahaya
Ia menyembul jauh dari kegelapan bumi
Tapi sejak lahir punya mata di sinar matahari
(Di kutip dari Kearifan Puncak :Hikmah al-Arsyiah oleh Mulla Shadra)

 Inilah ke arifan menurut saya. 

Wolohualam

Sabtu, 27 April 2013

KIsah Spiritual, Perjalanan ke Barat 2 (Butterfly Effect)


Perjalanan ini/Trasa sangat menyedihkan/Sayang engkau tak duduk/Disampingku kawan/Banyak cerita/Yang mestinya kau saksikan/Di tanah kering bebatuan
Tubuhku terguncang/Dihempas batu jalanan/Hati tergetar menatapkering rerumputan/Perjalanan ini pun/Seperti jadi saksi/Gembala kecil/Menangis sedih ...
Kawan coba dengar apa jawabnya/Ketika di kutanya mengapa/Bapak ibunya tlah lama mati/Ditelan bencana tanah ini/Sesampainya di laut/Kukabarkan semuanya/Kepada karang kepada ombak/Kepada matahari/Tetapi semua diam/Tetapi semua bisu/Tinggal aku sendiri/Terpaku menatap langit..
Barangkali di sana ada jawabnya/Mengapa di tanahku terjadi bencana
Mungkin Tuhan mulai bosan/Melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/Atau alam mulai enggan/Bersahabat dengan kita/Coba kita bertanya pada/Rumput yang bergoyang.
(Berita Kepada Kawan by Ebiet G.ADE)

Romansa dan romantika apakah yang terus berlintasan dalam batin Mas Thole. Mendengar sebuah keputusan ghaib atas keberangkatannya ke barat kali kedua ini. Seperti dendang lagu Ebiet G Ade, jikalau rahsanya tempat yang akan dikunjungi adalah tempat yang dahulu kala diceritakan pernah memakan korban ratusan jiwa. Tempat yang harus dikunungi berikutnya bukan main-main. Tetua gunung, yah Pegunungan Dieng adalah pinisepuh dari gunung-gunung yang ada di nusantara ini. Coba bayangkan saja betapa wingitnya derah ini. Banyak sekali ghaib yang sudah berusia ribuan tahun disini. Dan juga banyak sekali kejadian aneh akhir-akhir ini yang terus saja melingkupi tlatah pegunungan ini. Dari yang hanya simbol yang nampak sampaipun benar keadaannya.

Gempa yang terus mengguncang wilayah ini. Itu adalah salah satunya. Kilasan cahaya ghaib yang sering melintasi, penampakan-[enampakan cahaya dan awan-awan yang membentuk sesuatu. Satu persatu sperti slide sebuah film. Menjadi sebuah misteri bagi rekan-rekan Mas Thole yang mengamati keadaan disana. Maka kesadaran Mas Thole kemudian terbawa suasana saat kejadian berpuluh tahun lalu. Nuansa kesedihan dihantarkan oleh alunan lagu Ebiet dimuka, yang begitu saja merasuki kesadarannya. Mungkin Tuhan mulai bosan, melihat ulah kita. Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa .” Ugh.. Itu hanyalah sebagian diantara tanda-tanda alam. Belum lagi yang lainnya, yang tidak terberitakan oleh media. Seperti tanah yang masuk ke dalam tanah, amblas tiba-tiba, dan beberapa warga mengungsi karenannya. Kejadian kemarin yang diiringi dengan banjir dimana-mana. Itukah cara alam membahasakan dirinya ?.

Kekhawatiran Mas Thole atas perjalanannya ke barat tahap kedua ini bukan tanpa alasan. Semalam sebelum keberangkatannya (26/4), diatas kompleks perumahaannya kisaran jam 2 pagi, terdengar petir dan geledek menyambar-nyambar. Seperti kilatan cahaya lampu blizt yang luar biasa, menembus ke dalam kamar Mas Thole. Suara geledek yang menggelegar juga membunyikan alarm mobil-mobil tetangga, suara bersahut-sahutan benar-benar menambah wingit suasana yang diarasakan Mas Thole. Belum lagi lolongan anjing tetangga yang terdengar pasrah dalam dalam lengkingannya. “Pertanda apakah ini..?” Maka segera Mas Thole bangun dan mengambil wudhu untuk sholat malam 4 rokaat. “Apakah yang bakal dialaminya nanti disana.” Biarlah dia pasrahkan raganya saja, kepada pemilik-Nya.

Sepanjang pagi hingga siang, dirinya mencoba menyelusuri lagi, mengkaji fenomena alam, memberikan khabar kepada rekan-rekan lainnya atas kejadian itu. Mencoba mencari pijakan, barangkalai ada hikmah yang terlewat, yang tak mampu dimaknainya, sebelum keberangkatannya nanti ke pusat gunung yang dituakan di nusantara. Gelisahnya, begitu kental. Sebab hingga memasuki siang dirinya belum mendapatkan keyakinan. Bahkan yang terpampang dalam kesadarannya adalah makhluk-makhluk raksasa setinggi pohon-pohon kelapa yang menghadang. Tengah dalam menantinya. Ugh..maka karena sebab ini dia mengirimkan email kepada Ratu Sima, mohon doa restunya, sebab akan memasuki wilayahnya, dan akan memaku daerah kekuasaannya, akan dijadikan sebagai paku nusantara. Benarkah ini ?. Mas Tole kembali meyakini realitas yang ada dalam raganya. Bagaimana wingitnya tanah pegunungan Dieng dia yang merasakan keadaan itu. Begitulah saat kemudian Ratu Sima mengirimkan balasan, yang , m,engkhabarkan dukungannya.

Insyaallah....

Izin Ridho & Restu akan mengiringi Perjalanan Mas Thole dkk. Apapun yg terjadi.... Insyaallah Semua khan mentaati, Beliau2 akan patuh & taat pada titah Ratu nya. Yg tiada taat & patuh....  Karma pedih akan menimpa sesuai hukum Alam. Allah SWT Maha Sempurna, Amin.

Salam.


Dikirim: Jumat, 26 April 2013 11:19
Judul: Bls: .
Alhamdulillah..

Insyaallah nanti sore saya berangkat, dengan 3 orang. 
Pagi tadi jam 2 an geledek dan halilintar terus menyambar-nyambar di atas komplek perumahan suaranya benar-benar luar biasa, sampai alarm mobil nyala semua. Hal yang belum pernah terjadi sejak saya tinggal 13 tahun disana.

Ada bersitan bahwa perjalanan kali ini akan lebih berat lagi, sebab tlatah dieng penuh dengan ghaib yang berumur ribuan tahun. Mohon doa dari sang Ratu. Raga sudah seperti ban dipompa sejak malam tadi. Alam ghaib sudah mulai gelisah, para ghaib sudah mulaisadar atas bakalan apa yang terjadi. Membuat perjalanan kali ini menjadi tak biasa.

Semoga Allah senantiasa melindungi hamba-Nya yang lemah ini. Mohon doa restunya, mohon agar sang Ratu untuk menyiapkan prosesinya disana. Sebab raga yang ringkih ini bukan siapa-siapa, tak memiliki kemampuan apa-apa. Saat ini yang akan dipaku adalah gunung yang dianggap menjadi pinisepuh gunung-gunung di nusantara ini. Malaikat gunung, para penjaga gunung semua berkumpul disana. Mohon ijinnya agar bersedia menjadi paku bumi buat nusantara ini. Mohon rtidho sang Ratu.

Dalam doa tulus, dalam permohonan , semoga para pinisepuh mengijinkannya dan meridhoi, apa yangkita upayakan ini. He..eh.

Ampuni kami ya Allah..tunjukanlah jalan yang lurus. Lindungilah seluruh langkah kecil kami.

Biarlah kepak kami yang ringkih ini menjadi tornado yang melibas angkara murka negri ini. Ya Allah..sesungguhnya kami lemah..amat sangat lemah.

semoga Ya Allah..

salam

Lirik lagu seperti terulang, "Barangkali di sana ada jawabnya/Mengapa di tanahku terjadi bencana/Mungkin Tuhan mulai bosan/Melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/Atau alam mulai enggan/Bersahabat dengan kita/Coba kita bertanya pada/Rumput yang bergoyang." Kesedihan perlahan mulai menggayuti hati dan pikiran. 

Yah..Mas Thole berharap, barangkali disana di pegunungan Dieng ada sebuah jawaban, mengapa di tanah nusantara sekarang ini banyak terjadi bencana. Benarkah alam mulai enggan bersahabat dengan kita. Mas Thole akan bertanya disana dan mencari jawaban. Apakah kejadian ghaib yang dinampakan disana akan bermakna ?. Mampukah menjelaskan atas keadaan yang dialami rekan-rekan Mas Thole, untuk apakah kita menjadi saksi kejadian dan fenomena alam yang tak biasa ini ?. Haruskah Mas Thole mengikuti anjuran Ebiet G Ade, yang menyarankan bertanya kepada rumput yang bergoyang?. He..eh..rasanya itu jelas tak mungkin.

Selesai dengan konteplasinya  itu semua, Mas Thole memantapkan diri 3 orang, berangkat dengan bus kesana. Sungai Serayu mulai nampak. Bebatuan diatasnya tersebul, berserak, liuknya seperti ular yang berkelok. Bus yang ditumpangi Mas Thole terlambat hampir tiga jam, sehingga saat memasuki kota Wonosobo, sudah pukul 7.30 WIB pagi. Nampak sekali hamparan sawah dan kali, disepanjang perjalanan memasuki kota, hawa dinginnya mulai terasa, menyejukan sekali. Mas Thole kemudian beristirahat sebentar. Hanya sekedar minum kopi dan sarapan pagi, kemudian melanjutkan perjalanannya lagi ke puncak pegunungan Dieng. Beruntung sekali ada rekan yang mau meminjamkan kenadaraan roda duanya, lumayan dapat menghemat biaya.

Angin menerpa dari muka dan belakang saat Mas Thole melaju dengan roda duanya. Sungguh setelah berpuluh tahun lalu, baru kali ini dia mengulang lagi mengendarai roda dua kesana, mengendarainya sendiri. Jalan yang menanjak dan sangat licin di waktu hujan menyebabkan banyak kecelakaan sepeda motor. Namun alhamdulillah, cuaca dipagi itu demikian sejuknya, awan terlihat satu-satu, cahaya matahari lembut menerpa kulit, menjadikan kehangatan sangat terasa dibadan. Satu bukit dilalui, dua bukit telah dilewati, perjalanan yang asyik saja. Sayang sekali, sudah tidak terlihat pepohonan disana, bukit itu seperti ayam yang dikuliti, dicabuti bulu-bulunya, telanjang terlihat aurat mereka. Kering dan gersang, nampak dimata walau hawa dingin terus saja menerpa. Hati terasa sangat sedih melihat keadaan mereka ini.

Memasuki kawasan, seperti halnya memasuki dimensi lain. Seratus meter dari tugu selamat datang terasa hawa dingin yang tak biasa, hingga nyaris saja tangan Mas Thole kram. Dngin yang tak sama dengan hawa gunung biasa. Kesadaran Mas Thole paham bahwa dirinya tengah memasuki penjagaan gerbang dimensi pertama. Semua ada 4 gerbang yang harus dilewati. Tempat yang ditujukan adalah pusat informasi wisata. Mencari tahu dimanakn tempat Tuk Bimolukar asli, yaitu saat mana dia keluar dari perut bumi, bukannya tuk yang sudah di modifikasi. Ternyata tidak ada satupun orang yang tahu. Mas Thole terpaksa harus menggunakan mata batinnya untuk mencari dimanakah letak mata air tersebut.

Berdiri Mas Thole di tempat pemandian Tuk Bimolukar, mengambil air wudhu. Dan tiba-tiba seperti ada entitas yang masuk ke dalam dirinya. Memberitahukan kepada ghaib yang ada disana, atas misi yang bawa oleh raga Mas Thole, agar semua makhluk disana tidak mengganggu. Dsb..dsb. Hampir saja kesadaran tersebut mengambil alih. Untung saja, Mas Thole segera menyergahnya, memohon agar dirinya yang menajdi imam, menyampaikan apa-apa pesannya kepada seluruh alam dan makhluk yang ada di pegunungan Dieng. Bisikan mengarahkan dirinya untuk menuju keatas perbukitan kuarng lebih 50 - 100 meter. Dia harus mengunakan raga terkininya. Jelas saja tubuh ringkihnya, tertatih-tatih. Nafas tinggal satu-satu. Sering dirinya akan terperosok ke lembah.  Akhirnya dengan susah payah ditemukannya titik koordinat, dimana dirinya harus menancapkan paku bumi.Tempat yang dalam mata batin Mas Thole sebuah daerah yang rimbun dan sakral. Namun dalam dimensi terkii hanyalah sebuah lahan pertanian kentang belaka. Disana dia menancapkan paku bumi. Maka selesailah sudah tugasnya kali ini. Langit begitu cerah, matahari bersinar, namun tidak menyakitkan kulit.

Sungguh prosesi tersebut bagi Mas Thole menjadi terasa sangat biasa. Lain dengan prosesi sebelumnya di Gn Tangkuban Prahu, ataupun di wilayah lainnya, yang hampir nyaris membunuhnya. Disini di pegunungan Dieng mengapa jadi biasa saja. Hal yang sangat biasa yang dirasakan raga Mas Thole. Hal ini menjadi sangat aneh saja bagi Mas Thole yang sering merasakan fenomena keghaiban. Sudah tak terbilang kali dimanapun dirinya melakukan prosesi masuk ke wilayah lainnya, akan selalu diikuti oleh pertanda alam dan akan terasa diraganya. Mengapa sekarang ini pertanda alam tidak sebagaimana kebiasaan yang lalu. Jika dahulu selalu diiringi dengan awan, kabut, hujan, petir, dan pertanda-pertanda aneh lainnya. Kenapa di Dieng ini tidak ? Adakah yang salah ?. Bagaimanakah dia akan memaknai kejadian yang biasa ini ?. Apakah kejadian yangbiasa ini adalah justru keghaiban yang nyata ?. Ugh.

Seharusnya dalam perkiraaannya awal masuk ke Gn Dieng saja akan diikuti pertanda alam, dan peristiwa ghaib lainnya. Ternyata dia salah besar. Tidak ada peristiwa apapun yang menimpanya, hanya peristiwa kecil saja, sebagai pertanda. Tidak seperti halnya saat ketika dirinya memasuki wilayah lainnya. Huk. Apakah kegahiban tidak harus dimaknai dan ditandai oleh peristiwa alam atau kejadian alam lainnya ?. Kembali dalam sekian detika dirinya mencoba mengeksplorasi lagi. Keghaiban adalah wilayah keyakinan. Maka meskipun ada tanda ataupun tidak, tentunya keyakinan seharusnya akan tetap. Sudah banyak teguran kepada kaum terdahulu, mereka kaum yang selalu memohon ditujukan keghaiban. Meneantang kepada para nabi memohon disegerakan hukuman, atau memeohon diperlihatkan keghaiban. Namun setelah diperlihatkan kepada meerka keghaiban, tetap saja mereka ingkar kepada Tuhannya. Referensi inilahyang kemudian didapatkan Mas Thole untuk memaknai kejadian yang biasa ini.

Jika kepada dirinya dinampakkan kegahaiban terus menerus mungkin dirinya juga akan menjadi hijab lagi. Dirinya akan tersus mencari-cara keghaiban, dan selalu memeohon tanda-tanda dari Allah. “Bukankah sudah ditunjukkan bukti-bukti selama ini, masih perlu bukti apalagi..?” Kesadarannya keras menghardik dirinya. Maka kemudian dia istigfar. Setelah sempat mengirimkan SMS kepada Gusti ratu Pambayun, untuk membantu dirinya membaca tanda alam yang biasa ini namun justru terasa menjadi tak biasa. Alhamdulillah, SMS jawaban Gusti Putri juga memberikan jawaban yang serupa. Bukankah alam yang dalam keadaan biasa ini justru merupakan realitas adanya. Bukankah kita hidup dialam realitas bukan alam ghaib. Maka manakah yang akan menjadi imam kita, real;itas atau keghaiban ?.

Saat dikonfirmasikan dengan sang Prabu yang menancapkan paku bumi di Monas, ternyata dirinya juga mengalami hal yang sama. Begitu juga hal yang sama, Pak Aryo yang menancapkan di laut sebelah utara. Langit begitu indah dan cerahnya, redup, tidak ada lagi awan, hujan, petir atau tanda-tanda alam yang tak biasa. Normal sekali. Sebab katanya kita adalah manusia biasa, sangat biasa sebagaimana mansuia normal lainnya saja. Untuk apa mencari fenomena alam yang tak biasa. Mengapa harus menunggu tanda-tanda itu lagi. Dari hal yang biasa itulah kita akan memaknai kejadian dnegan luar biasa. Dengan keimanan kita kepada yang Maha Kuasa. Yang mengatur segala rencana dan kejadian.

Kesadaran dan pemaknaan mulai membombardir Mas Thole. Realitas manusia, peradaban manusia, teknology dan lainnya harus dibangun dengan hukum-hukum yang dapat dipahami oleh manusia. Tidak ada keghaiban dan sim salabim disana. Semua manusia harus bekerja, semua manusia hatrus menggunakan otak, akal dan logikanya untuk membangun peradaban dirinya bagi kemaslahatan umat manusia. Manusia tidak doiperbolehkan bersandarkan kepada kekuatan ghaib. Keghaiban wajib kita yakini, namun bukan berarti kita akan tunduk kepada makhluk ghaib. Manusialah sang Khalifahnya. Hukum-hukum Allah bergerak pada wilayah ini. Manusia harus mengkaji dirinya kembali. Terutama umat Islam harus meyakini hal ini. Sehingga keadaan diri mereka tidak etrobsesi atas kekuatan mahluk gahiba, kekuatan, kesaktian, yang mempesona, namun tidak akan mampu memeperbaikan realitas, apalagi membangun peradaban manusia.

Keghaiban hanya menghantarkan manusia pada suatu makom yang menyakini bahwa ada sesuatu kekuatan yang mengatur disana dalam wilayah realitas. Sebagai misal, tampilan layar monitor hanya akan mengikuti program-program yang memang sudah diinstal sebelumnya. Yang kita saksikan adalah tontonan semisal itu. Pada wilayah program, akan banyak sekali gahiab yang bermain disana, semisal virus, hoach atau lainnya. Maka ada orang-orang seperti kiat yangmenyasikan keadaan disana. Semisal virus memeiliki daya untuk menggerakkan layar, menajdi energy penggera tokoh yang akan tampil disana. Dan tokoh tersebut tidak menyadari bahwa hakekatnya dirinya menggunakan daya dari virus, bukan daya dari sumber aslinya.

Semisal itulah gambaran yang ingin diilustrasikan Mas Thole, manusia-manusia sekarang ini. Banyak sekali yang terhijab sehingga banyak dari mereka menggunakan daya selain Allah.Yang berada dalam dirinya adalah semisal siluman penghuni lautan anak buah Nyi Roro Kidul, ataupun Siluman hutan semisal makhluk penghuni Gn Kawi. Manusia yang sering melakukan persembahan, sering ke dukun, sering memeinta-minta pada makhluk ghiab pada hakekatnya di dalam raganya hanya berisi makluk-makluk tersebut. Dimana kemudian makhluk tersebut menggantikan daya Allah di tubuh manusia. Tanpa manusia tersebut menyadarinya. Bisakah kita kemudian menduga kejadiannya, jika yang berada dalam tubuh manusia tersebut adalah sebangsa siluman atau makhluk lainnya ?. Mereka semua akan terlihat dari akhlaknya. Mereka semua akan sulit sekali menghadap Tuhannya, hawanya akan selalu was-was dan resah. Kehidupannya menajdi tidak nyaman dll dll. Mereka semua akan selalu membuat kerusakan dimuka bumi ini. Namun bagaimanakah kejadiannya jika mereka semua tidak merasa dan tidak tahu itu ?. Itulah yang menajdikan hati mereka membatu..!. Mereka mempunyai hati, namun mereka tidak menggunakan itu.

Begitulah kesadaran yang terus membombardir otak Mas Thole. Menjadi kewajiban para kesatria adalah mengungkap jatidir manusia. Menunjukan kepada mereka bahwa sesungguhnya daya apakah yang selalu meliputi mereka. Sebab jelas sekali perbedaannya dan efek di badan jika mereka menuhankan selain Allah. Jika mereka berlaku sirik maka sesungguhnya mereka sedang menelan api neraka ke dalam tubuhnya. Api ini sangat terasa, kita menjadi gelisah, was-was, dan lain sebagainya. Begitulah Al qur an mencoba menjelaskan kepada kita. Kesadaran kita (Ruh-KU) harus dijaga tetap dalam kondisi fitrahnya. Agar jiwa manusia tenang-ikhlas, puas dan ridho dalam menjalani takdir-takdirnya.

Kesadaran tersebut masih terus mengejar Mas Thole, menyoal fungsi dan tugas-tugas para kesatria. Sesungguhnya para kesatria tidak dibebankan kepada akhir sebuah kejadian. Para kesatria tidak akan dituntut apa-apa, jika toh upaya mereka tidak menghasilkan apa-apa. Sebab hakekatnya semua sudah dalam skenario Tuhannya. Yang perlu dilakukan para kesatria adalah (hanya) menyatukan hati kepada Allah, meng-ikhlaskan raga-raga mereka untuk menjadi alat-alat Allah. Jika pada saatnya nanti raga tersebut akan digerakan kemana saja, meraka semua harus siap. Sebagaimana kesiapan nabi Ibrahim yang diperintahkan untuk memasuki api yang kala itu sedang  berkorbar dengan dhasyatnya. Para Kesatria sudah saatnya memasuki keadaan makom (hal) saat mana nabi Ibrahim dalam keyakinan tersebut. Tugas para kesatria melatih diri mereka masing-masing utnuk menempati makom-makom mereka kearah sana. Keimanan yang utuh. Keimanan yang tidak menyisakan ruang keraguan sedikitpun. Inalilahi wa inailahi rojiun. Para kesatrai harus selesai dengan itu.

Para kesatria hanya perlu menggerakkan raga mereka semisal Siti Hajar saat mencari minum buat anaknya. Semisal itulah perumpaman-perumpamaannya. Kekuatan hati, keimanan, dan keyakinan dalam dimensi berbaik sangka kepada Allah atas takdir apapun yang nanti akan diberikan kepada kita semua. Dengan keadaan tersebut, dengan kekuatan hati yang terus diikrarkan untuk perbaikan akhkal bangsa ini, dalam semangat yang terpatri dalam visi dan misi, merubah keadaan bangsa kita ini menuju nusantara baru. Itulah yang harus diafirmasikan ke dalam jiwa kita semua.

Para kesatria hanya perlu mengharapkan ridho-Nya saja. Meskipun kita hanya mampu melakukan dengan upaya dan langkah kecil kita. Dalam kepak sayap kita yang ringkih. Dengan jumlahkita yang tak seberapa dibandingkan dengan kebesaran bangsa ini. Ibaratnya saja seperti sebutir debu di hamparan pasir luas. Namun para kesatria harus dalam keyakinan yang utuh. Para kesatria harus ingat bukan kita yang melakukan perubahan kepada bangsa ini. Bukan pula kita yang bertanggung jawab atas akhlak bangsa ini. Allah Tuhan kita yang memeiliki kekuasaan atas itu.

Tugas para kesatria adalah terus mengepakkan sayap-sayap ringkihnya itu. Agar terus memberikan daya dorong kepada manusia lainnya. Kepakan kita yang tulus ikhlas ini akan, semoga akan mendapatkan ridho-Nya sehingga karenanya kepakkan kita yang kecil ini akan mampu menjadi tornado yang akan melibas para siluman yang bersarang di tubuh manusia. Menjadikan manusia sadar bahwa sesungguhnya keadaannya diri mereka adalah manusia. Yaitu Sejatinya manusia jawa yang berjiwa. Kpeakan sayap ini bukanlah suatu ilusi, kepakan sayap ini sudah menjadi realitas dengan ditemukannya teori atas hal ini. Maka seharusnya menjadi keyakinan lagi dari keyakinan yang sudah ada, dalam benak kesatria. Kepakan kita adalah semisal butterfly effect, bagi perubahan akhlak bangsa ini. Semoga. Amin.

Efek kupu-kupu (bahasa InggrisButterfly effect) adalah istilah dalam "Teori Chaos" (Chaos Theory) yang berhubungan dengan "ketergantungan yang peka terhadap kondisi awal" (sensitive dependence on initial conditions), di mana perubahan kecil pada satu tempat dalam suatu sistem non-linear dapat mengakibatkan perbedaan besar dalam keadaan kemudian. Istilah yang pertama kali dipakai oleh Edward Norton Lorenz ini merujuk pada sebuah pemikiran bahwa kepakan sayapkupu-kupu di hutan belantara Brazil secara teori dapat menghasilkan tornado di Texas beberapa bulan kemudian. Fenomena ini juga dikenal sebagai sistem yang ketergantungannya sangat peka terhadap kondisi awal. Perubahan yang hanya sedikit pada kondisi awal, dapat mengubah secara drastis kelakuan sistem pada jangka panjang. Jika suatu sistem dimulai dengan kondisi awal misalnya 2, maka hasil akhir dari sistem yang sama akan jauh berbeda jika dimulai dengan 2,000001 di mana 0,000001 sangat kecil sekali dan wajar untuk diabaikan. Dengan kata lain: kesalahan yang sangat kecil akan menyebabkan bencana dikemudian hari. (Dicuplik dari Wikipedia)

Wahai para kesatria, janganlah lelah, kepakan terus sayapmu. Semoga Allah ridho dan kita juga ridho. “Mungkin Tuhan mulai bosan/Melihat tingkah kita/Yang selalu salah dan bangga dengan dosa-dosa/Atau alam mulai enggan/Bersahabat dengan kita/”. Sebagaimana penggalan lagu Ebiet, namunjanganlah kita bosan untuk selalu bertasbih kepada-Nya. Untuk selalu mengagungkan asma-Nya. Sebab itulah kepakan sayap kita, uapaya kita bersandar hanya kepada-Nya, berserah hanya kepada-Nya, bergantung hanya kepada-Nya, tiada daya upaya kita selain hanya Allah dan Allah saja. La illa ha ilallah 3x.

Selesai sudah kisah ini diposting (28/4), rupanya belum menjadi sebuah akhir kisah. Rupanya alam tetap meng-apresiasi apa yang dilakukan oleh Mas Thole. Selepas turun dari Dieng, hujan disertai angin kencang menerpa wilayah perkotaan. Bertepatan setelah dirinya memutuskan untuk singgah ditempat kawannya. Hal itu dianggapnya sebagai hal biasa. memang saat itu dia sempat sampaikan kepada rekannya, bahwa angin ini adalah angin yang tak biasa. Seperti sebuah ucapan salam , angin dan hujan seperti berkata. Ada banyak makhluk yang menyapa menyampaikan dukungannya. 

Begitu juga saat keesokan harinya, Mas Thole akan kembali pulang. Pada saat perjalanannya ke terminal. dilihatnya awan seperti ingin bersapa, "Selamat jalan, dan doa menyertai."  Ada perasaan nikmat dan sejuk saja disana. Benar saja begitu dirinya duduk di bus yang ditumpanginya tidak samapi 5 menit, hujan angin turun dengan derasnya, diseputar wilayah itu. Selewat 1 kilometer persegi, setelah bus melaju,nampak  jalanan benar-benar kering. Allah hu akbar..3x. Inikah bukti yang ingin Engkau tunjukan. Subhanalloh..


Wolohualam.