Minggu, 28 Juli 2013

Kisah Spiritual, Titian Rambut Dibelah Tujuh



SMS dari Ki Ageng beberapa minggu ini, menelusup terus jauh ke lubuk hati Mas Thole, membongkar semua kejumudan yang tersisa disana. Semua seperti ingin mengajak 'journey' ke masa-masa 3 tahun yang lalu, saat mana perjalanan spiritual mereka berdua tengah digoreskan, saat mana diri mereka dalam keadaan sedang mencari bukti-bukti atas eksistensi diri. Beberapa email diskusi sudah dikirimkannya di pagi ini olehnya. Membawa kesadaran Mas Thole jauh mengembara, mencari jejak-jejak rahsa disana. Serpihan-serpihan yang tertinggal seperti ditarik satu persatu. Bayangkan seperti benda-benda angkasa yang terjun bebas memasuki bumi dengan kecepatan yang luar biasa. Panas sebab gaya gesekan dengan atsmosfer mampu meninggalkan bekas di raga Mas Thole.

Banyak kisah yang luput dari pengamatan semua seperti ingin dinampakan ulang, dalam gerakan 'slow motion'. Sepertinya kejadian tersebut baru kemarin hari, namun sepertinya juga sangat jauh entah di dimensi apa terjadinya, antara ada dan tiada, namun sangat nyata keadaannya. Bagaimana keadaan mereka selalau dihadapkan kepada pilihan, 'sukarela' atau 'terpaksa' dan juga pilihan 'beriman' ataukah 'kafir' Perjalanan kesadaran, adalah perjalanan yang tak sama dalam realitas. Sebuah kejadian sederhana yang luput dari pandangan mata, bisa jadi adalah kejadian yang sangat luar biasa di alam ghaibnya. Seperti halnya sebagaimana saat Newton melihat apel yang jatuh dari pohonnya. Bukankah itu, kejadian yang sangat biasa, sebab berapa juta apel jatuh dari pohonnya, namun perhatikan saja kenapa hanya Newton seorang yang mampu mengambil hikmah atas kejadian tersebut. Dan kemudian merumuskan dalam hukum-hukumnya. Hikmah yang dipetik oleh Newton atas jatunya buah apel mampu merubah peradaban dunia. Semisal itulah, orang-orang yang sadar adalah dalam keadaan demikian adanya. Selalu diam , eling, dan waspada, atas setiap kejaadian.

Begitu keadaannya, kejadian yang semisal dengan itulah yang sedang terjadi kala waktu itu. Saat mana Ki Ageng sedang menuju Dieng sendirian untuk melaksanakan tugas spiritualnya. Sebagai teman dalam perjalanan tentu saja Mas Thole senantiasa memantau keadaan. Dalam kesadaran Mas Thole saat itu, Ki Ageng dalam bahaya besar sekali, salah memilih jalan, maka di depannya adalah jalan neraka. Keadaan Ki Ageng seperti tengah berjalan di 'titian rambut di belah tujuh', begitu tipisnya jalan itu sehingga nyaris tak terdeteksi. Hanya dalam lintasan hatinya adanya jalan itu, salah dalam lintasan hati maka fatallah akibatnya. Saat itu Mas Thole sudah melihat para danhyang gunung Merapi telah bersiap akan mengambil jiwanya. Walau keadaan Ki Ageng sendiri tidak merasa, namun sebagai pengamat Mas Thole dapat merasakan bahaya itu. Dalam realitasnya Ki Ageng naik kereta seperti biasa , seperti wajar-wajar saja. Hanya saja HP nya saat itu entah kenapa tidak bisa dihubungi.  Keadaan yang semakin merisaukan saja.

Hingga malam hampir menjelang pagi Ki Ageng belum bisa dihubungi keberadaannya. Semua orang mencari dirinya, kekhawatiran menyeruak disana. Saat itu dahnyang-dahnyang gunung Merapi tengah ganas-ganasnya, dia akan mencari siapa saja yang berpaling dari jalan Allah, yaitu orang-orang yang setelah datang petunjuk kepadanya, namun kemudian dia ingkar dan berpaling dari jalan-Nya. Ya, Ki Ageng dan Mas Thole sudah ditunjukkan bukti-bukti lebih dari cukup, ada angin, hujan, badai, dan seluruh kejadian alam senantiasa meliputi kemana saja mereka pergi. Namun mengapakah hati masih dalam 'keraguan'. Hati dan akal masih meragukan, bahwa peristiwa yang terjadi menurut mereka dianggap  suatu 'kebetulan'. Inilah lintasan hati yang sangat berbahaya sekali. Selalu akan begitu keadaannya, saat mana kita sudah diberikan petunjuk didepan hidungnya sendiri, suatu kali kita akan terlintas pikiran, 'hanya kebetulan'. Betapa murkanya alam jika keadaan kita begitu. "Dengan kalimat apa lagi, manusia akan percaya ?". Begitu alam selalu menghardik Mas mereka berdua !.

Pada masa tidak terhubung komunikasi, disana rupanya tengah terjadi perdebatan akidah yang sangat serius, antara Ki Ageng, Panembahan Senopati, Minak Jinggo, Damar Wulan, dan Ki Tunggul Wulung. Debat yang melibatkan kesadaran-kesadaran masa lalu mereka. Sungguh debat yang sedikit saja salah akan membawa mereka kepada 'kesirikan'. Banyak sekali tampil tokoh-tokoh masa lalu lengkap dengan ksiah mereka yang mengharu birukan nusantara ini. Banyak sekali pusaka-pusaka yang masih tersimpan di pegunungan Dieng, peninggalan Ratu Sima. Semua dipaparkan disana, ditawarkan kepada mereka semua. Disitulah mereka semua diuji, dengan harta. Syukurlah dengan ini mereka masih bertahan, tidak tergoda oleh harta dan kesaktian. Namun saat diuji dengan rahsa ke'aku'an diri mereka, banyak dari mereka kemudian gagal mencari petunjuk-Nya.

Mereka generasi Ki Wanasaba, adalah generasi yang sempat terpilih, namun sayang anak keturunannya, hanya menajdi penonton di jaman ini. Begitulah keadaan jaman yang telah berubah cepat. Kejadian demi kejadian terbukti  sudah, kekhawatiran Mas Thole menjadi kenyataan. Entah mengapa, Ki Ageng saat itu seperti enggan sekali menghubungi dirinya. Dalam pikirannya , nanti saja saat sudah senggang akan menghubungi. Dia tidak tahu bagaimanakah kekhawatiran Mas Thole menunggu berita hingga jam 4 pagi, masih tetap menunggu. Saat mana mereka semua menghadiri pertemuan ke dukuh Tretep, sebuah desa di kaki gunung Sindoro, yaitu daerah dimana salah satu kakek buyut Ki Ageng melarikan diri kesana dari kejaran pasukan Majapahit. Sebuah daerah yang perbukitan sangat asri, penuh dengan pagar hawa magic yang dipasang oleh para leluhur Ki Ageng di seputar perbukitan itu. Daerah tersebut sangat tersembunyi bahkan konon katanya Belanda pun seakan tidak ingin menginjakkan kaki disana.  Disanalah peristiwa ghaib  terjadi, yang menghancurkan kesadaran merekat mereka setelahnya, menjadi ujian bagi yang mengalami dan penyaksi.

Langit disana tiba-tiba menggelap, mereka semua sedang melaksanakan sholat dhuhur di sebuah Mushola kecil disana. Tengah mereka sholat sendiri-sendiri, tiba-tiba trafo gardu listrik disana meledak dengan keras sekali. Sepersekian detik setelahnya, tubuh Panembahan Senopati  kaku tidak bisa digerakkan, semua seperti serentak, kejadian yang bersamaan. Tangan Panembahan dalam keadaan takbir hampir menyentuh kepala, namun hanya sampai disitu saja, seluruh badannya mati, tak mampu digerakkannya lagi, hanya bola mata saja yang bergerak kesana kemari. Perlahan dari kelompak matanya menetes air mata. Belum pernah sekalipun Panembahan Senopati merasa tidak bisa apa-apa. Keadaannya hampir 30 menit, seperti mati saja rahsanya. Tangan dan seluruh anggota tubuhnya benar-benar kaku. Bola matanya menatap dengan iba. rekan-rekannya tidak menyadari atas apa yang terjadi pada Panembahan Senopati. Mereka setelah selesai sholat langsung keluar dan menuju tempat pertemuan kembali. Bayangkan bagaimana keadaan jiwa Panembahan Senopati yang sedang kaku, seperti keadaan ditotok saja. Menangispun dirinya merasa tak ada gunanya. Tokoh yang sakti, yang mampu mengalahkan ribuan pasukan, sekarang tanpa daya sama sekali. Dan semua seperti tak peduli.

Hanya Ki Ageng saat itu yang merasa ada kejanggalan, dia mencariyang Panembahan Senopati, yang tidak keluar bersama mereka itu. Firasatnya mengatakan ada yang tidak beres. Maka dia balik lagi ke mushola, dan didapatinya keadaan Panembahan Senopati yang mengenaskan sekali. Jatuhlah air mata Ki Ageng, dia mampu merasakan jiwa Panembahan Senopati, rahsa iba, rahsa tidak mampu berbuat apa-apa menyergah keadaan jiwa Ki Ageng. Tubuh yang kaku dia raba-raba, dibacanya segala doa. Semua sia-sia, hampir 30 menit Ki Ageng berkutat mencoba membuyarkan otot-otot Panembahan yang kaku itu. Disalurkannya energinya, dipanggilnya leluhur-leluhurnya. Semua rahsanya datang , namun  hanya mengangkat kepala saja. Tanda bahwa meerka semua juga tidak mampu untuk menolong Panebahan Senopati.  " Apakah tubuh Panembahan Senopati harus diangkat dan dinaikkan ke mobil saja, untuk mendapatkan perawatan ?"  Batin Ki Ageng. Tapi saat dicobanya, mengapa menjadi berat sekali keadaannya, mungkin 10 orang pun belum tentu mampu mengangkat tubuhnya. 

Diantara rahsa gelisah dan tak mampu berbuat apa-apa, terlintas dalam hati Ki Ageng, bahwa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Maka dengan niat itulah dia mulai mencoba menggerakkan tubuh Panembahan Senopati satu persatu. Ki Ageng mengambil sikap memeluk Panembahan dari arah muka, kaki dengan kaki bertemu. Berharap raga Panembahan Senopati mampu merasakan energi tubuh Ki Ageng. Saat itulah pertama kali Ki Ageng menggunakan energy kasih sayang. Tanpa disadarinya dia telah memebuka dan meng-akses energi Merkaba, yang saat sekarang ini tengah diamati keberadaannya. Sangat dekat sekali contohnya, pembelajaran di depan matanya. Namun saat itu belum terfikir sampai disana. Dia hanya yakin atas 'kasih-sayang' Nya. Dia hanya mengandalkan 'kasih-sayang' itu. Bukan energy tapi energy, sebuah ketulusan, sebuah keadaan yang ber-serah menjadi hamba yang tunduk akan hukum kasih sayang-Nya. Dan hasilnya sungguh menakjubkan sekali.

Satu persatu anggota tubuh Panembahan Senopati mulai menunjukan tanda-tanda bisa digerakkannya. Mulai dari kaki melangkah kebelakang satu langkah, diikuti kaki kirinya, terus begitu menuju keluar mushola itu. Setelah berhasil keluar dari mushola, perlahan tangannya mulai bisa digerakkan. Diikuti seluruh anggota tubuhnya. Sungguh pengalaman yang mendebarkan sekali, salah langkah saja, hilanglah nyawa mereka. Adakah yang salah dalam lintasan hati ?. "Maka semua kesatria akan diuji, bagaimana meniti titian rambut yang dibelah tujuh itu, masihkah mereka akan beriman ataukah mereka akan kafir, setelah ditunjukkan tanda-tanda melalui alam ini. Akankah meraka menafikan keberadaan mereka sendiri ?."  Kembalinya terpulang kepada diri mereka. 

Itulah kisah 'ironi' yang tidak ingin ditayangkan, namun ternyata menjadi titik balik terpenting sekarang ini. Bagaimanakah saat itu Ki Ageng mampu meng-akses Energi Merkaba ?. Padahal dia tidak pernah tahu, dan mempelajari sebelumnya.  Mengapakah saat sekarang dia sendiri mengirimkan email-email saat pembelajaran 3 tahun yang lalu. Dan dirinya tengah dalam kontemplasi disini, bagaimana kita semua para kesatria agar mampu mengakses energy merkaba di alam ini. Dan beliau memyuruh Mas Thole untuk membaca dan mengkaji kembali. Banyak yang tertinggal, bahkan kesadaran Mas Thole sendiri sangat jauh tertinggal. Ugh...

Kita akan kembali mengulang-ulang pelajaran, itulah pesan Ki Ageng. Memang nampaknya demikian adanya. Mas Thole hanya mengikuti saja, arus air yang membawa dirinya. Beberapa hari ini banyak sekali kejadian yang menimbulkan 'chaos' pada lintasan kesadarannya. Tarik menarik rahsa dengan para kesatria menjadi pemicu utama. Hingga memasuki hari ke 20 ini, Mas Thole tidak mampu menambah tingkatan apa-apa. Level Kesadarannya masih seperti dahulu kala. Sungguh bulan romadhon ini hampir saja terlewat. Untung Ki Ageng masih terus berusaha menarik dirinya,  terus datang dengan membawa khabar-khabar baru. Semakin tinggi dan semakin tinggi, semakin dalam dan semakin dalam sekali. tertatih-tatih Mas Thole mencoba memahami dengan kesadaran sekarang ini. Bukankah akan sayang sekali jika romadhon kali ini terlewati lagi ?. Mas Thole tersergah keadaan ini. Dirinya telah mengikuti rahsa-rahsa. Oleh karena itu semenjak hari Jum'ah (19/7) ada panggilan dari kesadarannya, agar untuk sementara menutup akses rahsa kepada alam ini, termasuk juga kepada para kesatria. Mas Thole harus memasuki 'wukuf' nya sendiri. Dia harus 'wukuf' di 'padang arafah' nya sendiri. Di sepuluh hari terakhir romadhon ini. Dia harus menyelesaikan 'pelatihan'nya sendiri, jangan sampai waktu habis nanti, dan dia menjadi manusia yang paling menyesal di dunia ini.

Sungguh waktu tak terasa berlalu demikian cepat, masih banyak yang tertinggal. Rahsa yang berguliran, Raden Panji, Banyak Wide, Sabdo Palon, dan masih banyak lagi yang ingin dikenali. Sebagaimana juga tadi malam, ada seorang tokoh masa lalu , tokoh yang begitu dikenal oleh orang jawa dengan ramalannya, Prabu Jayabaya , datang ingin dikenali dalam sebuah prosesi.  Dia datang dengan segala beban masalahnya sendiri. Menyergah hari-hari dan masa lalu Mas Thole. Memang Hari-hari dilalui Mas Thole dengan keadaan yang begini. Belum lama ini,   seorang bekas anak buah Mas Thole, datang dengan kondisi tengah dirasuki, ada kiriman siluman di dalam raganya, yang dilakukan  oleh Gurunya sendiri, sebab dianggap dia telah keluar. Bagaimana Mas Thole  tidak menyuruh dia keluar dari perguruannya, jika dia hanya diporoti, dimintai uang setiap kali. Namanya pemerasan. Karena sakit hati itulah, anak tersebut terus saja dikirimi siluman-siluman.

Malam minggu yang lalu, saat bersamaan dengan datangnya Ki Wiroguna dan Patih Nambi , anak tersebut datang. Maka Mas Thole agak lega, ada Patih Nambi yang memang suka perang, biarlah dia yang menghadapinya. Benar saja, begitu masuk anak tersebut, Patih Nambi sudah bersiap, sesaat kemudian, tubuh anak tersebut menggelosoh begitu saja di lantai, dalam keadaan tengkurap, melata bagai ular raksasa, yang menggerakankan tubuhnya meliuk kesana kemari. Mas Thole hanya mengelus dada, "Sungguh mengapakah manusia masih saja begini ?. Mengapakah sesama manusia harus menggunakan siluman untuk membunuh lawannya ?." Batin Mas Thole teriris, semua makhluk Allah, semua pada posisi dan dimensinya sendiri-sendiri. Mengapakah saling menyakiti.\, dan saling bunuh.

Ular siluman itu telah bertelor, bersarang pada tubuh anak tersebut, bukan ular siluman sembarangan dia adalah senopati terpilih dari kerajaan Pantai Selatan, Nyi Blorong. "Ugh..kenapa dia harus berhadapan lagi dengan tokoh yang satu ini." Kulit sisiknya yang tebal dan tidak mempan senjata apa saja, kulit yang menggelap, dan agak besar-besar. Lebih besar dari sisik ular biasa, menandakan bahwa dia dari trah Nyi Blorong. "Mengapakah Nyi Blorong, tega akan membunuh anak tak berdosa ini, hanya karena dimintai tolong sang gurunya ." Gigi geraham Mas Thole gemeletak menahan amarahnya. Saat seperti itulah, Banyak Wide selalu mengambil alih. Berurusan dengan makhluk jadi-jadian bukan hal yang gampang. Biarlah ghaib melawan ghaib, memang itulah tugas Banyak Wide sekarang ini. 

Patih Nambi terus berusaha mengeluarkan siluman ular dari tubuh anak tersebut. Hingga suatu saat, kelihatannya makhluk tersebut terpojok, Patih Nambi segera memerintahkan agar makhluk tersebut segera keluar dari tubuh. Usaha yang tidak mudah memang, maka Ki Wiroguno juga banyak membantu Patih Nambi dengan mengirimkan energi ikut menyerang. Sesaat terdengar ucapan bahwa siluman tersebut bersedia keluar, dan tubuh anak tersebut melemas, seakan-akan memang sudah ditinggalkan oleh siluman tersebut. Namun Banyak Wide tetap waspada, dia tahu sedang berhadapan dengan siapa. Siluman ular, siluman paling licik diantara siluman lainnya. Banyak Wide yakin dia tidak akan semudah itu keluar dari badan. Maka Banyak Wide bangkit dari duduknya, secara cepat dia mengirimkan serangan, pukulan-pukulan lembut namun bertenaga kuat langsung dilayangkan ke tubuh anak itu,  menerpa tubuh, mulai dari perut, dada, hingga sampai ke otak anak tersebut tak luput dari  pukulan Banyak Wide. Maka siluman tersebutpun menggeliat lagi bagai ular yang terluka keadaannya, meliuk kesana kemari, menggiriskan keadaan malam itu.

Akhirnya, dalam kesadaran Banyak wide berhasil memegang kepala ular tepat di lehernya, membuat dia tidak berkutik, ditanyalah kepadanya, siapakah yang mengirimnya. Dan benar dugaan Mas Thole, gurunyalah yang mengirimkan siluman ular untuk membunuh anak tersebut. Hiih..ingin rahsanya dilumatnya siluman tersebut berkeping-keping. Namun sayang dari arah belakang, Patih Nambi yang nampaknya marah mengambil alih. Dia melakukan serangan bertubi-tubi, memastikan siluman tersebut keluar. Benar memang satu siluman sudah keluar. Namun sayangnya sudah sempat beranak pinak di raganya. Dan didalamnya masih banyak lagi, dan itu yang luput dari mata Patih Nambi. Maka setelah semua pulang,  di sepanjang malam itu Banyak Wide terpaksa bertempur sendirian, melawan siluman ular. Dan bangun dipagi hari, badanya hancur lebur rahsanya. Sepanjang hari berikutnya Mas Thole merasa  dalam keadaan siaga tempur. Keadaan ini membuat tidak enak saja dibadan. 

Begitulah rangkaian kisah diminggu ini, semakin menambah keyakinan Mas Thole, hanya dengan kasih sayang-Nya, kita akan mampu menaklukan lawan tanpa pernah bertempur. Energi kasih sayang akan membuat semua makhluk nyaman, energi inilah yang nantinya akan menenangkan semuanya. Tidak dengan jalan kekerasan. Sayang jalan kesana sungguh berat. Mas Thole harus mampu mengalahkan egonya sendiri sebagai manusia. Sebab mau tidak mau Mas Thole harus mampu memasuki keadaan, (yaitu) makom keadaan penerimaan bahwa seluruh kejadian di alam ini, 100% adalah tanggung jawabnya. Melakukan penerimaan sebagaimana keyakinan dirinya atas 'theory  butterfly effect' bahwa niat sekecil apapun akan menjadi badai tornado. Maka bukan tidak mungkin situasi yang saat ini menimpa dunia adalah sebab kepakan sayapnya ini. Semisal seorang 'hacker' dengan melakukan kotak-katik sederhana, dia mampu mengacaukan dunia. Begitulah keadaan yang harus ditetapi Mas Thole. Pembelajaran dirinya memasuki 10 hari terakhir di bulan romadhon ini. 

Kini saatnya, akses kesadaran rahsa dia kembalikan kepada pemiliknya. Saatnya Mas Thole harus wukuf di padang kesunyian dirinya, kembali menetapi dirinya sendiri, dalam sunyi dan sepinya sendiri, yang tidak pernah bertepi, sebagaimana saat dirinya dahulu menetapi kekasih hati. Keadaan  hanya berdua dengan Tuhannya. Sehingga saatnya nanti dirinya harus meniti titian rambut dibelah tujuh, dia sudah siap. Sebab disitulah keadaan dirinya diuji. Beriman ataukah kafir. Begitulah kesatria pasti akan diuji dengan itu. Sebagai sunatulloh adanya.

wolohualam

Kamis, 25 Juli 2013

Diskusi, Nikmat Manakah Yang Nikmat ?


Nasehat Seorang Kakek kepada cucunya yang tidak menang lomba menulis ;

Kakek    : “Nak, Kakek paham kesedihanmu sebab  tidak masuk nominasi. Namun janganlah karena itu kemudian membuat engkau akan berhenti menulis .”

Cucu      : “Bagaimana tidak kesal Kek, banyak sekali penulis yang menurut saya lebih pantas ternyata tidak masuk nominasi, sebut saja A,  B, dan banyak lagi lainnya, bukan  Admin tidak adil namannya”

KakeK   : “ Engkau bicara tentang keadilan nak. Sudahkah engkau tahu maknanya ?. Manusia akan selalu merasa tidak adil, apapun itu nak. Keadilan akan baru terasa pas ketika dia membuat aturan mainnya sendiri, seperti apa yang dimauinya. Itulah keadilan,  baru akan terasa pas, jika sesuai seleranya.”

Cucu      : “Kenapa bisa begitu Kek ?”

Kakek    : “Baiklah Cu, manusia membuat mobil, ada mobil  BMW, ada mobil Kijang, ada Bus, ada mobil sampah, ada mobil dengan solar dan ada yang dengan bensin. Bagi manusia itu suatu keadilan. Namun coba tanyakan kepada mobil sampah, yang setiap hari harus mengangkut sampah busuk. Apakah dia tidak iri kepada mobil BMW yang penuh kemewahan. Dimanakah keadilan bagi mobil sampah . Begitu juga bagi mobil solar yang penuh asap, kalau dia bisa protes maka dia akan protes kepada manusia, kenapa dirinya dibuat berasap. Maka mobil sampah baru akan merasa adil jika dirinya dibuat seperti mobil BMW. Begitulah keadannya nak.”

Cucu      : “Terus bagaimana Kek ?”

Kakek    : ”Artinya kamu tidak boleh protes kepada Admin dialah yang mewakili Tuhan di dunia ini. Sebagaimana mobil yang tidak boleh protes kepada manusia tadi. Semua sudah dibuat aturannya, bagi setiap mobil sudah ada peruntukannya. Maka mobil yang terbaik bagi manusia adalah mobil yang sesuai dengan fungsinya. Itu peraturan yang tertulis dalam kitab manusia yang menciptakan mobil. Maka kalau kamu ingin masuk nominasinya kamu harus pelajari kitabnya.  Buku manual itu akan membimbing kamu bagaimana jadi warga Negara yang baik sesuai dengan apa yang dimaui Admin. “

Cucu      :”Oh begitu ya Kek, jadi peilihan saya Cuma jadi warga  negara yang baik di sini, atau saya keluar dari warga Negara. “

Kakek    :”Ya begitulah nak. Hal ini sejalan dengan dunia nyata, yaitu sesuai dengan apa yang di mau Tuhan. Jika masih ingin dianggap makhluk Tuhan ya ikuti aturannya yang tertulis di kitab suci. Kalau tidak mau ya berhenti pindah ke dunia lain. Dimana-mana sama kok nak. Di perusahaan, di pemerintahan dan dimanapun itu berlaku hukum ini. Maka tetaplah menulis, dan ikuti kitab nya Admin, yakinlah besok tahun depan pasti akan jadi warga terfavorit. Ingatlah apa yang di tulis rekanmu Om Kate, yaitu menulis memiliki energy luar biasa untuk merubah dirimu menjadi baik sebab engkau akan tertantang untuk terus menjadi baik sesuai dengan apa yang ada dalam tulisanmu , camkan itu dalam-dalam !. TETAP SEMANGAT NAK !. ” 


Cucu      : ???

Namun sang cucu tetap dalam keadaan yang bingung, keraguan kemudian kembali  menyergahnya. Mengapakah dirinya tidak dijadikan orang kaya, sementara dirinya berharap, dibuat menjadi semisal mobil-mobil mewah, yang juga dibuat manusia. Bagaimana manusia lainnya, memujanya saat mobil tersebut keluar dari pabriknya.
Sementara sang cucu sendiri sepertinya tidak paham, bagaimanakah keadaan kota ini jika tidak ada 'truk sampah'..  

Perhatikanlah..banyak doa dari seluruh warga agar 'truk sampah' tidak sakit, dan tetap bisa beroperasi, mengangkut sampah kota. 
Namun adakah doa dari warga untuk mobil mewah BMW ?. Hanya sekali kekaguman saat keluar dari pabrik saja, selewatnya mobil tersebut hanya dikenang saja.
Hanya sedikit doa , mungkin hanya dari sang pemiliknya.
Manakah yang lebih bermakna ?.  Disinilah letak 'keadilan' Nya.

Keyakinan bahwa apa yang Allah berikan untuk diri kita adalah sebagaimana perumpamaan tersebut.
Kita dalam suasana 'kepastian' akan sistem keadilan ini.


Keyakinan disana adalah Iman itu sendiri. 
Bagaimana memaknainya ?. Mampukah kita disana ?.
Iman atas keadilan Allah. 
Nikmat Iman ?.

Nikmat yang satu ini, kadang malahan dijauhi. Meski berulang kali para Ustad mengulang-ulang dengan gaya bahasa apologi. Lebih sering kita tidak ambil pusing , terserah sajalah !.

“Apa sih nikmatnya IMAN ?”

“Ya, benar..apakah sih nikmatnya Iman..?” Pertanyaan ini juga mengusik saya. Sebab setiap kali mendengarkan khotbah dimanapun, selalu kalimat ini di perdengarkan.

Termasuk dalam klasifikasi makhluk apa si IMAN,  atau mungkin makanan apa, atau apakah seperti rasa lainnya ?. Kitapun sering tidak mengeri bahkan tidak  tahu, hakekat iman itu apa ?!. 
Kalau begini, bagaimana kita kemudian bisa merasakan nikmatnya IMAN. Mengerti saja tidak.

Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya makan dan minum ?
Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya saat gajian ?
Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya punya mobil baru ?
Yang lebih ekstrem, apakah nikmatnya iman, sama dengan orgasme ?.

Katanya iman berarti ‘percaya’  atau yakin. Percaya kan tinggal percaya saja, apa susahnya dan apa nikmatnya ?.

Ternyata susah juga mediskripsikannya. Iman seperti apakah yang mampu menimbulkan rahsa nikmat ?.
Maka tidak ada cara lain selain memasuki IMAN itu sendiri, agar kita mengetahui hakekat iman, sehingga kita akan mampu merasakan nikmatnya. Pertanyaannya, “Sudahkah kita memiliki refernsi iman ?”. Baiklah marilah kita cari referensinya. Kita buktikan bahwa ‘RAHSA PERCAYA’ itu nikmat. Nikmatnya tidak hilang-hilang. Melebihi kenikmatan apapun di dunia ini. 

Musuh dari ‘percaya’ atau ‘yakin’ adalah ‘KERAGUAN’. Mari kita bandingkan.
Bagaimana rahsanya saat kita dalam KERAGUAN, ketidaktahuan bulan depan gajian atau tidak ?
Bagaimana rashsanya saat kita dalam KERAGUAN, menduga-duga pasangan kita selingkuh atau tidak ?
Bagaimanakah rahsanya saat kita dalam keadaan KERAGUAN, kegalauan datang atau tidak orang yang sedang kita tunggu ?.

Ternyata rahsa KERAGUAN tidak enak sekali. Menyiksa diri kita sepanjang waktu. Menyesakkan dada. Bahkan akan banyak menimbulkan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Ketika kita dalam keraguan kita mengangankan betapa nikmatnya jika kita tidak dilanda keraguan artinya kita dalam  sebuah kepastian atas suatu hal.

Ketika kita dalam kepastian kita merasakan ketenangan yang luar biasa. Kita tenang saat kita tahu bahwa bulan depan gajian. Kita tenang saat kita tahu kepastian bahwa pasangan kita tidak selingkuh. Dan lain sebagainya.

Padahal kepastian adalah sesuatu yang belum terjadi di masa depan. Hanya masih berupa kemungkinan-kemungkinan saja. Bisa ya dan tidak. Bisa benar dan salah. Kita belum membuktikan bahwa hal tersebut adalah benar. Kita hanyalah PERCAYA atas informasi bahwa bulan depan akan tetap gajian. Kita hanya PERCAYA bahwa pasangan kita tidak selingkuh. Kita hanya berada dalam dimensi KEYAKINAN saja. Ternyata dengan kita berada di dalam dimensi KEYAKINAN hati kita akan tenang.

Ketika hati kita sudah tenang, maka kita akan mampu menikmati apa saja. Maka dapatlah dikatakan bahwa  ‘keyakinan’ adalah kenikmatan itu sendiri. Iman adalah keyakinan itu. Maka patut kita syukuri nikmatnya IMAN. Betapa nikmatnya ketika kita di dlaam dimensi keyakinan. Bukan di dimensi KERAGUAN. Maka layakkah nikmat seperti ini kita abaikan. Bahkan dijauhi. Hemm..

Maka jika kita dalam keraguan atas 'keadilan' sesungguhnya, itulah yang menyiksa kita sendiri. Mungkin saja begitu...

Wolohualam

Rabu, 17 Juli 2013

Kisah Spiritual, Para Penembus Pintu Langit (2-2)

Para Penembus Pintu Langit. Kemampuan menembus pintu langit, adalah kemampuan orang-orang terdahulu, dan mungkin juga sekarang. Kemampuan yang akan mampu diolah dengan menggunakan 'kekuatan hati' mereka. Kekuatan knergy Kasih-sayang atau Markaba, inilah yang akan membawa mereka untuk menembus pintu langit. Dari sana mereka akan dapat meng-otak-atik program alam semesta, agar tampilannya lebih baik adanya.

Diskusi dengan Ki Ageng mendekati titik kulminasi, penyoal keadaan ini. Beberapa kali beliau terserang sakit aneh. Energy Markaba adalah energy murni, yaitu energy yang menjadi dasar penciptaan alam semesta. Menjadi pondasi dalam pola berfikir manusia yang seharusnya. Sebab kepada manusia-lah bumi ini diserahkan, agar dalam kepemimpinan manusia bumi dan seluruh isinya akan memeberikan kemanfaatan bagi alam semesta secara keseluruhan. Setiap elemen alam akan saling terhubung dengan energy ini, maka jika ada satu sisitem yang terganggu akan mengganggu sistem alam lainnya. Menjadi persoalan tersendiri bagi para kesatria bagaimana mereka akan mampu memilihi energy murni Markaba. Sebab di alam ini banyak entitas yang menawarkan energy ini juga, mereka meng -klaim miliki mereka yang asli.

Ketika kita mampu meng-akses energy ini secara otomatis kita akan memiliki keterhubungan dengan alam. Kitalah khalifah sang alam, maka alam akan mendengar dan mengikuti apa yang kita niatkan itu. Bagaimanakah memaknai "dengan nama Allah.." atau bagaimanakah mengjelaskan kepada jiwa dan raga ini, perihal "Atas nama Allah..." Kita harus bertindak berbuat , berucap harus dengan daya Allah semata. Persoalan yang terus berpilin saat mana manusia kemudian merasa sudah mendapat mandat dari  Allah. Mereka manusia akan dalam keadaan yang sama, mengatas namakan Allah sebagaimana anggapan mereka sendiri. Sungguh tidak ada yang tahu bagaimana maksud Allah kecuali Allah yang menjelaskan sendiri kepada kesadaran kita. Maka disinilah kita perlu menggunakan teknik 'berserah'. Seumpama pesawat, saatnya kita tekan tombol 'pilot otomatis' agar pesawat dapat pulang ke hanggarnya sendiri. Begitulah perumpamaannya.

Pesan-pesan Ki Ageng via SMS  terus berdatangan, dilanjutkan dengan diskusi panjang melalui telepon. Sementara itu Sang Prabu rupanya juga sudah menyusun konsep bagaimana cara agar para kesatria mampu keluar dari dilemanya sendiri,  tanpa diminta juga rupanya sudah terhubung, dan memberikan beberapa metodenya. Sehingga rahsanya saling melengkapi pemahaman. Maka sebagian SMS Ki Ageng kita cuplikan lagi disini,


"Rasanya isi kepala udara dingin. Biasanya hawa dingin hanya meliputi badan. Dada dan kadang sampai perut dan kaki. Namun belum pernah di kepala. Baru sekarang ini memasuki kepala. Lalu seperti mulai memahami sedikit tentang energy merkaba ini. Energy ini berada diatas persepsi. Inilah asal muasal kehidupan. Pertama terbentuk di dalam air. Arsy Allah di atas air. Air ini bukan air sbgmana air bumi. Sumber air energy. Kasih sayang kehidupan.




Ini hanya perlambang. Jngn membayangkan sebagaimana membayangkan kursi berada di atas air. Hanya sebuah simbol. Kasih sayang meliputi semua persepsi. Berada di atas kebaikan dan kejahatan. Berada di atas hukum dan pemahaman. Energy sebelum difahami maknanya dan sebelum membentuk (berubah) menjadi energy yg manusia kenali.




Memasuki energy kasih sayang ini justru harus mengenali dan memasuki kehidupan. Dia berada di semua makhluk hidup. Bukan di benda mati. Benda mati adalah kasih sayang untuk makhluk hidup. Diberikan semua materi sebagai bagian energy merkaba. Sebagai bagian kasih sayang. Maka memahami kasih sayang harus memahami ridho setiap makhluk hidup. Karena itulah kasih sayang (dlm ukuran dan ketentuan).

Memasukinya dan menyerap justru hrs masuk ke bagian plng peka manusia. Nafs dan hawa nafs. Seumpama bayi menghisap puting susu. Menyerap energy kehidupan pertamanya. Ketika telah terbentuk persepsi atas puting susu maka mulai terbentuk image yg salah tentang energy merkaba. Hawa mulai mempengaruhi pemahaman. Hawa nafsu terhadap puting susu tersebut.

[Sebagian teks hilang]n walaupun kurang tepat. Namun cukup menjelaskan.

Air memiliki segala keajaiban di alam ini. Dan air inilah yg meliputi hidup dlm ukuran yg ditentukan bg makhluk hidup. Amati air. Amati aliran air. Air mengalir. Amati air yg menempati sesuai ruangnya. Amati air yg melarutkan. Amati air yg membawa rasa dan merelakan rasa dirinya tercampuri. Energy merkaba ini dilambangkan seumpama air. Dimana air ini adalah sumber kehidupan setiap makhluk hidup. Tanpa air maka kehidupan musnah. Air yg meliputi kehidupan. Dimana air diturunkan maka hiduplah air ini. Inilah air kehidupan. Sumbernya dpt dimisalkan seumpama pertemuan dua buah samudra (kisah nabi khidir). Apapun yg masuk ke samudra hidup maka akan hidup.

Amati energy yg dibawanya. Mampu menampung. Mengangkat perahu. Menahan. Mampu menjadi air bah yg menghancurkan. Dengan mudah bergabung dan tak terpisahkan. Selalu akan kembali ke asal muasal. Jumlah air keseluruhan di alam ini tak bertambah dan tak berkurang. Hanya beproses. Berpindah. Berubah bentuk.

Air bisa berubah menjadi padat cair uap dan gas. Pergerakan air menurut bentuknya. Kekuatan air menurut bentuknya. Sifat air menurut bentuknya. Kecepatan menurut bentuknya. Berat air menurut bentuknya. Energy yg meliputi air menurut bentuknya dan jumlah yg bergabung. Demikian energy merkaba berada di air dan meliputi air. Yg mengangkat arsy di atasnya. Demikian perlambang dan simbol dr alam. Memasuki energy merkaba adalah memasuki energy kehidupan. Energy yg menggerakkan hidup. Kehidupan di awal mula buka. Kehidupan yg menghidupkan bumi yg mati.

Ketika bumi mati diturunkan air hujan. Maka biji-biji yg sudah ada di bumi. Digerakkan oleh energy air itu untuk hidup. Maka tumbuhlah tunas untuk hidup. Membesar menjadi batang. Berdaun dan berbunga serta berbuah. Dan akan berproses terus. Dengan perputaran air. Perputaran energy merkaba. Pernah diceritakan di gurun yg mati dan hanya dihidupkan sebentar saja untuk mati lagi selama 30 tahun sbg lambang.

Manusiapun sama. Benih dlm rahim. Akan hidup ketika diturunkan air hujan sperma. Dan benih ini akan tumbuh dlm lingkungannya dlm alam yg lain. Dengan kondisi alam yg beda. Lalu ditiupkan "kesadaran" yg membedakan dg makhluk lain. Kesadaran yg sudah hidup (ada) sebelumnya sebagai avatar untuk menempati makhluk ini.

Demikian aliran air kehidupan aliran samudra hidup, aliran energy merkaba. Dimanapun air kehidupan ini ditempatkan maka hiduplah sesuai rencana Yang Maha Hidup. Yang seolah muncul begitu saja dari ketiadaan. Lihatlah sebatang pohon. Tadinya tidak ada. Lalu mendadak saja ada. Manusia merasa wajar krn prosesnya diterima akal. Proses pertumbuhan.

Seandainya prosesnya tidak mampu difahami akal. Misalnya piramid tadinya tdk ada dlm semalam muncul maka ajaib. Padahal memunculkan benda mati itu jauh lebih mudah. Karena hanya berpindah. Mer "aliran cahaya" (energy, informasi, program dsb) Ba "raga" Ka "jiwa" spirit, ruh.  Inilah kesadaran universal. Atau Haa. Aliran kesadaran.

Kendaraan bg jiwa untuk membawa raga melintasi dimensi ruang waktu. Antar dimensi. Aliran energy yg menjadi kendaraan jiwa (spirit).   Mengendarai merkaba tergantung keyakinan ketundukan kepasrahan. Berserah diri mengikuti cahaya Tuhan dlm aliran energy markaba.

Simbol. Lambang. Kata. Ini menggunakan kata yg biasa digunakan. Apapun kata dan simbol. Maka ketika menambah iman. Itulah petunjukNya. Petunjuk ini hanya berguna bg yg pernah mengalaminya. Pernah memiliki aliran merkaba ini. Lalu ketika sebagian aliran ini tersumbat dan tdk mengalir lagi. Tanyakan kpd yg pernah merasakan saat terputusnya hubungan tersebut. Insya Allah. Ikuti saja aliran itu. Kita hanya bersiap untuk dialirkan saja. Sadari dan amati saat sedang mengalir. Itu saja. Tanpa usaha. Effortless.

Untuk menuliskan ini saja sdh sangat berat yg sy alami. Baik realitas maupun jiwa. Semoga mampu memetik hikmahnya. Dan nampaknya alam juga bertingkah sangat aneh. Semoga mampu mendapat petunjuk
Allah. Amin.

Mengapunglah di atas aliran energy merkaba ini. Biarkan aliran energy ini yg mengalirkan ke arah yg Tuhan kehendaki. Amin.

Aliran ini suatu saat tersendat atau tertutup. Ada sumbatan yg bisa kita buka sendiri dan ada yg Tuhan membukanya. Inilah hijab bagi aliran energy kesadaran ini."

Para pengamat akan berusaha untuk mempelajari bahasa program dan bahasa mesin komputer untuk mengotak-atik tampilannya. Dalam dunia maya mereka kita kenal sebagai ‘The Hecker’. Bagaimanakah ulah ‘The Hecker’ di dunia maya, kita bisa baca beritanya di koran dan televisi. Mereka mampu memanipulasi sistem sehingga perintah yang dijalankan salah, akibatnya tampilannya juga salah. Bayangkan jika sistem keamanan suatu negara  di kotak-katik ?. Bahaya besar bagi stabilitas negara tersebut. Bagaimana jika sistem keuangan diserang, maka akan terjadi kekacauan sistem keuangan dunia, bank-bank akan panik, dll.  Situs Presiden Indoneisa juga pernah dibobol oleh anak remaja. Negara adikusa AS pun pernah mengalami kejadian tidak mengenakan sebab ulah ‘The Hecker’ ini. Indonesia terkenal dengan 'hecker-hecker' sekelas dunia.

The Hecker bisa bekerja dimana saja, bahkan hanya dari warung internet kampung. Mereka bisa mengakses apa saja dan siapa saja dari tempat mereka. Mereka banyak yang tidak menyadari akibat perbuatan mereka, disamping ada juga yang professional. Merekalah para Penembus Pintu Langit, yaitu manusia-manusia yang memiliki kemampuan untuk menembus perintah langit, dan merubah alam sebagaimana yang mereka kehendaki. Mereka melakukan dengan kekuatan hati mereka, seharusnya dengan kekuatan hati  mereka akan merubah dunia. Kekuatan hati akan menjadi ‘butterfly effect’ yang akan merubah peradaban dunia menjadi tercerahkan.

Namun disisi sebaliknya 'kekuatan hati' juga mampu menghancurkan dunia. Hanya melalui ‘kepakan’ kecil mereka saja. Kelahiran mereka harus di akomodasi, mereka kesatria yang harus mendapatkan tempat yang semestinya untuk pendewasaan kesadarannya. Para Penembus Pintu Langit, mereka akan berperang sendiri dengan pilihan mereka, menjadi bermakna bagi alam semesta ataukah menjadi debu tak berharga di mata Tuhan. Dengan  pilihan inilah  mereka ada kembali ke dunia setelah melintasi lorong waktu peradaban ratusan tahun bahkan ribuan tahun lamanya. Akankah mereka sia-sia kembali. Terjebak dalam dimensi ataukah memilih kembali kepada Penciptanya, bersama-Nya. 

Sanggupkah para kesatria, mejadi 'kupu-kupu' cantik yang akan memperindah dunia. Ataukah menjadi 'kupu-kupu' hama yang akan mennghancurkan alam. Sungguh  doa yang panjang, yang bisa Mas Thole panjatkan, sebab semua sudah dalam rencana-Nya.

Wolohualam

Kisah Spiritual, Para Penembus Pintu Langit (1-2)



Bahasa Program, Bahasa Mesin.Bahasa yang sanggup merubah tampilan di monitor alam nyata. Bayangkan seandainya alam semesta ini hanya sebuah tampilan yang berada di layar monitor bagi para Pengamat dan Penyaksi. Dan sesungguhnya demikianlah keadaannya, bagi para Pengamat ini, sesungguhnya alam semesta, dengan dinamika kehidupan manusia dan berikut  juga peradaban manusianya, masih ditambah entitas lainnya yang ada di dalamnya,  hanyalah sebuah gambar sebagaimana layaknya tampilan pada layar monitor saja. Tampilan ini layaknya disebut ‘hologram’,sebab tampilan alamnya  meliputi semua seluruh dimensinya. Sehingga tampilannya nampak benar-benar ‘super’ sempurna. Tidak ada celah dan cacad disana.

Jika alam adalah sebuah ‘hologram’, pertanyaannya, mengapa menjadi serasa hidup. Menjadi nyata. Disinilah letak ke Maha Besar an- Nya,  pada alam semesta ini ditiupkan sang ‘kesadaran’. Kesadaran yang akan meliputi alam ini karenanya alam semesta menjadi ‘eksis’. Kesadaranlah sesungguhnya yang menjadikan semua itu menjadi ‘eksis’ , karenanya langit tetap berdiri meski tanpa tiang penyangganya. Kami ulang lagi, sang ‘kesadaran’ lah yang mempertahankan keadaan alam semesta sebagaimana yang kita lihat sekarang ini dan menjadikan kesan bahwa alam semesta ini ‘eksis’ atau nyata. Dialah yang menjadikan alam ini ada dalam kesadaran manusia. Sebab sang ‘kesadaran’ mengenali, merasakan, bahwa di dalam hologram ini ada sensasi ‘rahsa’ nya dalam setiap pergantian titik-titiknya. Pergantian, perguliran dari positip ke negative, pergerakan dari satu kutub ke kutub lainnya, menimbulkan medan gaya, dan inilah yang dikenali sang ‘kesadaran. ‘Sang Kesadaran’ yang menjaga sistem alam tetap dalam keadaannya, sebagaimana perintah sang Penciptanya.

Hal ini menjadi satu rangkaian penjelasan menjadi sebab mengapakah alam semesta  dibangun dengan hukum dualitas. Ada kutub utara dan selatan, ada positip dan negative, ada baik dan jahat, ada benar dan salah, ada masa lalu dan masa sekarang, ada tinggi dan rendah, dan keberlakuan simengacu konsep ini. Sistem dualitas inilah yang menjadi tanda bagi sang ‘kesadaran’. Jika tidak ada dualitas maka sang ‘kesadaran’ tidak bisa mengamati. Rasanya akan kosong, suwung saja. Tidak ada rahsa, tidak ada rupa, tidak ada alam materi. Inilah hukum keberlakuan alam semesta. Hukum ini berlaku pada alam materi, termasuk juga pada tubuh manusia. Seluruh entitas yang menyusun tubuh manusia akan selalu mengikuti hukum ini, oleh sebab itu dapat dibayangkan bagaimanakah sensasi rahsa yang berguliran di dalam jiwa , di dada, di dalam kesadaran manusia itu sendiri.

Saking dahsyatnya hukum dualitas ini meramu medan gaya, akhirnya membuat manusia  banyak yang menyerah atas takdir mereka. Hukum dualitas menyebabkan tingginya perbedaan medan magnet, perbedaan medan magnet yang demikian tinggi akan mengakibatkan semakin tinggi rahsa. Rahsa yang demikian tinggi akan menyakitkan bagi sang ‘kesadaran’ yang bertugas mengamati. Instrumen ketubuhan tidak akan mampu menerima respon yang terlalu. Disini letak masalahnya. Seharusnya batas ambang level kesadarannya ditingkatkan.Ketika seluruh rahsa menjadi eksis membombardir kesadaran, sehingga sang kesadaran ‘tepar’. Sudah dapat ditebak, sang ‘kesadaran’ tidak mampu melintasi tubuh-tubuh yang sudah di penuhi medan gaya magnet. Terlualu pekatnya medan rahsa, akan menyulitkan sang ‘kesadaran’ untuk memasuki sel-sel tubuh manusia. Padahal sang ‘kesadaran’ adalah sumber kehidupan, energy murni bagi sel-sel ketubuhan manusia. Oleh karena itu, bagaimna keadan orang-orang yang tidak sadar ?.

Jiwa kemudian tertatih-tatih memaknai. Sebagian jiwa ingin merubah keadaan di luar sana yang telah menyebabkan dirinya merana. Mereka menghujat apa saja, mereka tidak terima dengan nasibnya. Teramulah di jiwa harta , tahta, dan wanita menjadi bumbu pelengkap peran manusia. Karena sebab ini manusia kemudian belajar bagaimana caranya mereka mampu merubah nasib dirinya, merubah keadaan jiwanya. Jika keadaan itu dialami oleh seorang yang Pengamat sebagaimana dimaksud di awal kalimat pembuka kisah, maka kejadiannya dapat dibayangkan seperti apa nantinya. Bayangkan jika mereka para Pengamat mampu merubah peradaban dunia dengan meng otak atik program nya, sehingga jalan cerita dan tampilan di layar monitor akan berubah. Bagaimanakah jika mereka melakukan itu atas ‘ego’ mereka sendiri ?. Bagaimanakah hasilnya nanti peradaban anak manusia itu ?.

Allah telah memilih manusia sebagai khalifah. Sang khalifah akan dibekali dengan seluruh kemampuan yang paripurna termasuk juga kemampuan sebagai ‘programer’, yaitu kemampuan bahasa program alam.  Kemampuan ini seharus digunakan untuk melakukan perbaikan kepada system alam semesta agar mampu bekerja harmonis kembali. Seorang pemimpin alam, harus mampu memperbaiki alam jika ada kerusakan. Bagaimana ceritanya jika kita ditunjuk untuk memimpin, namun kita tidak memiliki skill yang diperlukan untuk memimpin ?.  Sungguh, jika Allah telah menetapkan dan memilih manusia untuk menjadi Pemimpin Alam (Insan Kamil) maka dalam diri manusia sudah disusupkan kemampuan untuk mengotak-atik kondisi alam semesta sebagaimana keinginan sang Pemimpin itu sendiri. Sang Pencipta telah memberikan amanah, agar manusia juga mampu memperbaiki kerusakan alam yang terjadi, yang disebabkan ketidak sengajaan, sebab ketidak tahuan, atau memang sistem alam yang tidak pas. Oleh karenanya sudah barang tentu mereka harus paham bahasa program alam itu sendiri. Dengan bahasa program itulah, mereka akan memperbaiki alam. Inilah essensi yang ingin disampaikan.

Namun bagaimana keadaannya jika manusia sang Pemimpin yang memiliki kemampuan bahasa ini mengotak-atik alam dengan ‘ego’ nya sendiri, tanpa ijin dari Tuhannya. Maka kejadiannya sudah barang tentu, kerusakan alam akan dipercepat dua kali lipat oleh sebab oleh manusia itu sendiri. Alam memiliki kunci pengaman , semacam default pada program komputer , yaitu tanda [….] pada bahasa program komputer. Tanda 'penutup'  itu adalah umpama hijab diri mereka dengan Tuhannya. Jika hijab itu belum dibuka, maka masih ada hijab dia dengan Tuhannya. Dirinya belum memiliki akses kepada Tuhan (silatun) maka tanda ini tidak akan terbuka. Akibatnya jika sang pemimpin tersebut memaksakan perintahnya kepada alam. Alam akan menerima perintah tersebut sebagai perintah 'menghancurkan' sistem yang ada. 

Alam akan merespon perintah yng salah 'niat' tersebut, sebagaimana perintah program pada komputer, dimana perintah tersebut akan dibaca oleh komputer sebagai perintah ‘penghancuran’. Inilah yang sering tidak dipahami oleh para kesatria yang sudah , mendapatkan amanah sang alam. Padahal sang Pemimpin alam yang mengatas namakan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang. Mestinya mampu bertindak sebagaimana wakil-Nya. Menyandang nama-Nya. Nama yang manakah yang harus di kedepankan oleh para kesatria ?. Adalah nama-Nya yang Maha Pengasih dan Peyayang. Sifat Ar rohman- Ar rohiem inilah yang menjadi niat para kesatria. Jika tidak keadaan ini akan menjadi  hijab. Begitulah pengaman alam semesta atas orang-orang yang memiliki kemampuan untuk menjadi ‘The Hecker’. Agar alam semesta tetap dalam keadaannya sebagaimana dia diciptakan. Maka menjadi jelas disini prasyarat agar para kesatria mampu menggunakan kemampuannya, dalam bahasa pemograman alam, dirinya harus mampu memasuki keadaan, sebagaimana yang dimaksudkan oleh  ‘Nama Allah yang Maha Pengasih dan Peyayang’. Bismillh hirohman nirohiem.

Para kesatria alam, memiliki kemampuan untuk ini, sehingga kepada mereka sudah sering diperlihatkan tanda-tanda alam sebagai pengingat atas diri mereka. Apakah tanda-tanda tersebut akan menambah keimanan mereka atau malahan membuat mereka menjadi ‘kafir’ pilihan ada pada mereka. Dengan kemampuan yang mereka miliki mereka akan mampu merubah tampilan di layar monitor. Artinya apa yang mereka niatkan dan apa yang meerka pikirkan akan di respon oleh alam menjadi sebuah perintah untuk eksekusi. Jika minta hujan, alam akan mendatangkan hujan, jika minta terang maka awan akan menyingkir, dan lain sebagainya. Namun hukum atas mereka berlaku, jika mereka melakukan niat bukan karena Allah. Jika hijab diri mereka dengan Allah tidak dibuka, maka  bukan perintah perbaikan yang dimasukan namun justru perintah penghancuran atas alam itu sendiri. Begitulah yang di alami oleh atlantis dan juga kerajaan, serta suku bangsa yang peradabannya sudah sangat maju, yang kemudian dihancurkan. Bukan Allah yang berbuat aniaya kepada mereka, namun manusianya yang telah mendzolimi diri meerka sendiri. Pemimpin-pemimpin mereka memasukan program yang salah niatnya. Sesungguhnya para Pemimpin manusia  sudah diberitahu namun kebanyakan manusia lupa. Mereka tunduk kepada nafsunya sendiri.

Maka karenanya niat kepada Allah, menjadi sangat penting sekali. Untuk itu, prasyarat  terbuka hijab atas diri mereka, menjadi penentu utama,  karena hijab ini akan membuka jalur komunikasi dirinya dengan Allah. Komunikasi ini sangat penting sekali, dengan ini, manusia akan terlebih dahulu menanyakan kepada Tuhannya, apakah yang dilakukannya sudah se-ijin-Nya atau belum.  Apakah yang dilakukannya memang selaras dengan kemauan alam sendiri atau bukan ?. Sebagaimana dikisahkan para nabi, yang terus diberitahu saat meerka akan meng akses alam, saat mereka minta diturunkan azab atas kaum mereka yang durhaka. Allah akan selalu memberikan pesan kepada para nabi dan rosulnya, agar mereka bersabar terlebih dahulu. Sebab tanpa di azab pun manusia berkecenderungan menghancurkan peradaban meerka sendiri.

Begitu pentingnya niat dan terbukanya hijab, agar manusia jangan sampai salah dalam bertindak, sebab akibatnya sangat fatal sekali bagi peradaban manusia itu sendiri. Dan manusia akan terus dimintakan pertanggungan jawabannya atas jejak-jejak yang ditinggalkan atas hal ini. Pertanggung jawabab, dirinya merubah bahasa program alam semesta, akan menimbulkan dampak ber ratus-ratus tahun kemudian. Benarkah mereka karena Allah ataukah karena selain Allah, akan sangat beda hasilnya di kemudian hari. Merka akan menjadi saksi atas perbuatan meerka sendiri.

Diskusi ini menjadi sangat intens dengan Ki Ageng Tirtayasa. Bahkan sampai-sampai beliau sakit-sakit, tak berdaya. Saat mengeksplorasi pemahaman ini, tubuh dan kulitnya seperti terbakar. Sebuah siksaan yang tak sedikit. Demikian juga saat menyampaikan berita ini, beliau terbata-bata sekali , karena beratnya beban yang harus disampaikaan itu. Maka Mas Thole harus berterima kasih atas upaya beliau ini. Menjadi pengingat, khabar gembira dan juga peringatan baghi para kesatria alam, agar diri mereka lebih mawas diri, tidak mengikuti hawa nafsu mereka sendiri, yang sering terpapar energy masa lalu mereka sendiri. Inilah sebagian cuplikan SMS nya,

Alhamdulillah. Semua mulai membaik. Lingkungan kembali ramah. Sy sdh baca blog lg. Ya demikian keadaannya. Persis dijelaskan disitu. Program diakses dan dibaca "salah" kesalahan yg sngt tipis. Yaitu masih adanya hijab. Walaupun secara gelombang dan realitas sudah pas dan tepat. Namun yg muncul di layar kaca tlh berubah.

Apa yg terjadi sudah mulai diungkap dlm blog. Mengakses energy merkaba. Yaitu semacam program dalam komputer untuk memunculkan realitas gambar di layar.. Semacam command dg kombinasi bahasa dan lambang. Bahasanya sudah benar. Tetapi lambang yg merupakan kunci gaibnya belum dilepas. Maka hakekatnya tdk bekerja tetapi justru mengakses dua kali default program.

Misalnya lambang |execute|... maka defaultnya itu. Tetapi seseorang yg dibuka hijabnya boleh mengganti dg "delay" atau cancel. Namun kita bisa jadi sudah menulis yg benar tapi pagarnya tetap ada yaitu |delay|. Walaupun semua realitas sdh menunjukkan perintah delay. Ttp program tdk dijalankan.

Krn dg tetap di dalam pagar (hijab) maka perintah yg berlaku adalah default. Perintah otomatis, general dan berlaku umum kpd semua user. Hijab ini berguna untuk keselamatan dn perlindungan user. Sehingga hanya yg tahu membuka hijab yg boleh mengupdate command tersebut.

Sy sedang kembali memaknai sms yg sy tulis kemarin. Krn disitu kuncinya ttg hijab. Kemarin saat menulis hanya menuliskan jd belum memahami. Sekarang keadaan sdh kembali normal. Beberapa hari ini alam mencurahkan hujan yg luar biasa besarnya. Sngt aneh. Kebetulankah?. Alam begitu reaktif dg lintasan energy kesadaran.

Alam masih belum begitu pulih...namun sdh reda. Juga sdh mulai normal du rumah dan kerja. Sebelum ini banyak salah. Jalan saja salah nabrak terus. Pegang sesuatu lepas dan pecah. Namun ada yg aneh... anjing kecil saya seperti berkomunikasi terus. Sngt setia dan terus mendekat dan bicara.

Sd mencoba memasuki energy merkaba. Masuk ke black hole kesadaran. Entah kebetulan atau karena cuaca. Kulit badan melepuh. Merah. Panas. Sakit. Gatal. Tajam sekali rasanya. Seperti terbakar. Mulai dari muka. Ke badan dan mulai sampai ke kaki."


Hari berganti pembicaraan intens dengan Ki Ageng terus semakin dalam pembicaraan yang sepertinya biasa saja namun bagi raga sekarang ini seperti dipukuli rahsanya. Kesadaran seperti mengalami polarisasi. Bukan hanya mas Thole, namun hampir semua kesatria mengkhabarkan keadaan mereka itu. Rahsa yang tidak karuan, rahsa hampa dan kosong, dan tidak nyaman, bersama mereka di hari-hari belakangan ini. Oleh karenanya sambil terus menetapi, kisah ini bersambung lagi.

Wolohualam

 

Senin, 15 Juli 2013

Kisah Spiritual, Lubang Hitam Kesadaran


Lubang Hitam Kesadaran. Keterlukaan hati. Siapakah kesatria yang sejak kemarin ini mengalami keterlukaan hati ?. Jiwanya sedang mengeluh kepada alam ini. Jiwanya sedang menjerit atas apa yang menimpa dirinya. Siapakah dirinya ?. Mas Thole mencari jejak dalam kebingungannya sendiri. Sebab sepanjang hari minggu (14/7) energynya minta dikenali. Sehingga keadaan ini membawa dampak kepada realitas kehidupan sehari harinya. Sementara itu, residu rahsa yang ditinggalkan air, tanah dan udara, saja  masih mengendap  di raga. Kini ditambah lagi dengan adanya keterlukaan hati. Berdasarkan pengalaman Sang Prabu hilangnya residu rahsa air, tanah dan udara,  bisa sampai satu minggu lamanya, dari proses peluruhan residu hingga normal kembali. Belum normal keadaan raganya, masih ada kesakitan disana-sini, kini ditambah lagi dengan keterlukaan hati kesatria. Ada apakah ini ?. Mas Thole berusaha menemukan dan mencoba mengenalinya.

Sebagai manusia biasa, kadang dirinya tertatih tatih menetapi bagiannya yang harus mengenali para kesatria yang akan, sedang dan telah dilahirkan oleh alam. Maka menjadi resiko bagi dirinya untuk terkena radiasi dari energy rahsa tersebut. Bukan apa-apa, proses pengenalan diri kesatria melalui pengenalan residu rahsa yang tertinggal di alam. Sudah barang tentu bagi raga Mas Thole dampaknya akan langsung dirasakan saat itu juga. Rahsa yang tidak sama antara satu kesatria dengan kesatria lainnya, menimbulkan kesulitan tersendiri. Bahkan membingungkan sekali. Rahsa yang tercampur sulit untuk dikenali dari komponen apa saja dibuatnya. Sehingga Mas Thole belum menemukan cara yang efektif untuk meniadakan efek di badannya.

Maka saat sekarang ini dia hanya mampu menerima apa adanya, berserah saja. Jika maunya alam dirinya harus mengenali energy kesatria, maka dia akan ikut saja. Walau raga ini, sepertinya sudah hampir tidak mampu menerima luapan energy-energy kesadaran para kesatria. Luapan energy yang terjadi melebihi kapasitas raga Mas Thole, maka tentu saja ‘overload’ adanya. Semisal komputer, maka kesadarannya bisa sewaktu-waktu terhenti ‘hang’ mendadak. Itulah yang dialami Mas Thole, beberapa kali kesadarannya sempat ‘hang’, kekacauan system disana, kadang menjadi uring-uringan sendiri, kadang kebingungan dan bahkan kadang merasa kehampaan yang luar biasa sekali. Bagaimanakah menegnali energy kesadaran para kesatria satu demi satu, pada saat energy tersebut teramu dalam satu kesatuan ?. He..eh. Rasanya ingin mati saja keadaannya.

Sejak hari minggu, dirinya kehilangan rahsa sambung kepada Allah, rahsa yang menjadi ‘tali’ pengikat yang mengkaitkan jiwanya dengan energy ‘arashi’. Kosong dan hampa terasa di badan ini. Kekosongan yang menghimpit, isi yang menjepit. Kosong dan isi menjadi sebuah dilema bagi jiwanya. Jiwa kebingungan memaknai kosong dan isi. Jiwanya seperti terlempar ke dimensi dimana tidak ada cahaya. Lubang hitam ‘black hole’. Lubang hitam kesadarannya sendiri. Maka semua rahsa menjadi tak dikenalinya, kesadaran tak mampu merasakan apa-apa. Bukan on dan juga bukan off. Ada semacam energy yang menutupi lapisan otaknya bagian atas. Keadaan itu terus mempengaruhi dirinya memasuki hari Seninnya, mengakibatkan dia tidak mampu berfikir apa-apa. Dirinya tidak mengenal rahsa, tidak ada referensi apapun didalam kesadarannya. Keadaan it uterus terjadi hingga malam harinya, semakin kuat menghimpit, sebilah tombak seperti ditancapkan tepat ke ulu hatinya. Tombak yang tidak pernah dicabut sampai menjelang pagi harinya. Coba bayangkan rahsa sakit yang ditimbulkan dari keadaan itu.

Apakah seperti ini rahsa saat Rosululloh mengalami keadaan tidak ada wahyu yang datang ?. Keadaan hilangnya ‘rahsa sambung’ kepada Allah. Sehingga sampai-sampai beliau beranggapan Allah telah meninggalkan dirinya. Jeda waktu yang panjang dan lama, membuat jiwanya seperti kehilangan sesuatu yang sangat berharga. Yah, rahsa sambung kepada Allah, rahsa getaran wahyu dari datang, rahsa kebersatuan dengan alam, semua begitu kuat memanggil dirinya. Namun apa dikata jika Allah belum berkehendak. Dalam hadist  riwayat Bukhori diceritakan, bahwa pada saat beliau dicekam rahsa itu, beliau mendaki ke bukit, menghadapkan wajahnya ke langit, seakan-akan hendak menjatuhkan dirinya dari atas bukit.

Namun saat itu Malaikat Jibril datang, dan menegaskan bahwa beliau adalah seorang Rosul utusan Allah. Beberapa kali beliau mengalami keadaan itu, dan selalu Malaikat Jibril datang meyakinkan kembali bahwa beliau adalah seorang Rosul utusan Allah. Kehilangan rahsa sambung kepada Allah begitu hebat menerpa jiwa dan raga. Dahsyat sekali dirasakan, didalam jiwa seperti ada lubang besar yang memiliki daya sedot luar biasa, sehingga apa saja akan tertarik masuk ke dalamnya. Kesadaran tidak mampu mengnali apa-apa, saking hebatnya daya sedot itu. Dan saat itulah kemudian turun firman Allah untuk meyakinkan kembali, memberikan rahsa sambung kembali, kepada rosululloh untuk menetapi dirinya itu.

Demi waktu matahari sepenggalahan naik, dan demi malam apabila telah sunyi, Rabbmu tiada meninggalkan kamu dan tiada (pula) benci kepadamu , (QS. 93:3)

Rosululloh senantiasa ditemani para malaikat. Bagaimana dengan keadaan para kesatria ?. Bagaimanakah kesatria mampu menahan rahsa kehilangan rahsa sambung ini. Keterlukaan hati, keterlukaan jiwa, sudah pasti keadaannya itu. Para kesatria yang sudah diberikan bukti, diberikan nikmat rahsa sambung kepada Allah tidaklah patut memohon agar dirinya di ‘off’ kan, untuk menghadapi bulan romadhon ini. Dan rahsa hilangnya ‘rahsa sambung’ (silatun) kepada Allah itulah yang mendera dari jiwa Mas Thole. Rahsa itulah  yang kemarin ditimpakan kepada Mas Thole, agar menjadi pembelajaran bagi para kesatria lainnya. Menjadi pesan yang harus terbaca oleh para kesatria. Tidak patut seorang kesatria melakukan kecerobohan memutus rahsa sambung kepada Allah ini, meski itu dilakukan sebagai gurouan saja. Begitulah Allah mengajarkan, langsung dengan contohnya. Walau jiwa raga ini mesti terbanting-banting memaknainya. “Ampuni kami ya Allah..” Berdesah lirih Mas Thole, menyoal keadaan para kesatria ini. Kepada jiwa terus dipesankan keikhlasannya melakoni ini semua, bahwa bagian  dirinya adalah  pemberi khabar kepada kesatria.

Pagi ini meski rahsa sakit masih tersisa, sudah tidak berat keadaannya saat mana diri tahu letak kesalahan ini. Tadi pagi sambil berangkat ke tempat kerja, tombak yang menancap di ulu hati seperti dicabut, bagaikan air bah yang muncrat keluar. Aliran hawa dingin menerjang memenuhi keseluruh rongga dada Mas Thole. ALiran dingin energy yang masuk seperti mengisia kembali rongga dada, dan jiwa ini menjadi terasa hidup kembali. Wlau saat ini bagian kepala masih seperti semual keadaannya, masih berat da nada hijab energy yang belum berhasil di tembus. Pasti ada kejadian yang dialami kesatria yang belum terdeteksi lagi oleh Mas Thole. Apakah itu, siapakah dan mengapakah dengan keadaan para kesatria lainnya. Semua seperti bersamaan kejadiannya, maka wajar saja jika Mas Thole kebingungan harus memaknai bagian mana dahulu. Syukurlah salah satu sudah berhasil diungkapkan.

Dalam situasi dirinya yang tidak memiliki kemampuan spiritual, sebab diputusnya ‘rahsa sambung’ kepada Allah saat kemarin ini. Mas Thole terus mencoba mencari dengan akalnya, siapakah kesatria yang sedang mengalami keadaan keterlukaan hati. Kepada Pambayun , kepada Anarawati dan Sangkuriang, kepada Putri Sriwijaya, semua coba di khabarkan. Pagi kemarin Ratu Sima juga mengirimkan email menanyakan keadaan Mas Thole. Sungguh dua hari yang sangat membingungkan sekali. Meskipun diluarnya Mas Thole, nampak biasa-biasa saja tapi dalam jiwanya telah terjadi ‘lubang hitam’ yang mampu menyedot apapun untuk masuk dan hilang lenyap disana. Para keatria yang dihubungi tidak merasakan keadaan itu. Hanya saja Ki Ageng Tirtayasa kemarin juga memberitahukan bahwa dia sedang sakit dan sedang ada masalah di realitasnya.

“Mengapakah diri ini harus merasakan bagaimana rahsanya. Keadaan satu-satu masing-masing kesatria ?.”  Mas Thole mencoba bertanya kepada Tuhannya. “Kuatkanlah jiwa dan raga ini ya Allah, jika itu memang bagian dari diri ini. “  Hanya itu yang mampu diucapkan, dihembuskan bersama dengan nafasnya yang tertahan, dalam sepanjang perjalanan pagi ini menuju kantornya. Masih diingatnya pembicaraan dengan Ki ageng, beberapa SMS juga masih tersimpan, menjadi baian kisah ini, sebab berawal dari kejadian inilah semua terjadi. Akses energy markaba tidaklah semudah sebagaimana yang dipikirkan, banyak sekali tantangan, dan friksi spiritual yang harus diperjuangkan di dalam kesadaran masing-masing.

Ketika air dan tanah bicara. Saat itu ruh mampu mengenal tuhan. Tuhan akan mengenalkan diriNya. Sifatnya. PerbuatanNya. WujudNya. Dengan bahasaNya.

Saatnya sang kesadaran menerima ilmuNya. Sesuatu yg biasa tapi tak dirasa biasa. Suatu yg wajar tetapi menjadi luar biasa. Setiap orang telah mendengar klmt ini dan seolah telah merasa ini yaitu Dia mengenal Tuhannya. Padahal kebanyakan manusia hanya dlm perkiraan semata.

Saat rasa kenal Allah itu muncul ada yg sangat aneh. Rasa yg sangat aneh. Rasa itu muncul selapis demi selapis. Kesadaran itu meliputi kesadaran saat melihat sesuatu. Mendengar sesuatu. Merasakan sesuatu.
Sulit sekali dijelaskan. Setelah dijelaskan juga biasa saja.

Untuk mengenal Allah hrs sampai maqom yaitu: tidak tahu tentang Allah. Merasakan ketidaktahuan ttg Allah. Yaitu kondisi kosong tapi isi. Kekosongan dr sebuah isi pengetahuan ttg Allah berdasarkan ilmu dan pemahaman Allah.

Rasa tidak tahu inilah pondasi mengenal. Ketika dikenalkan olehNya maka dia sudah tahu krn sudah ada referensi sebelumnya.

Rasa kenal yg pertama adalah rasa cinta. Kasih sayang Allah. Merasakan limpahan dan mengenal kasih sayang Allah yg tak terbatas. Yang Maha Pengasih lg maha Penyayang. Namun tetap saja tdk tahu dimana ujung dan batas kasih sayangNya. Spt apa bentuk kasih sayangNya. Akhirnya kembali mengenalNya tetapi tetap tdk tahu. Tetapi YAKIN.

Setelah mengenal "kasih sayang" Allah. Barulah diceritakan. Diberitakan. Dikabarkan tentang "apa sebenarnya" kasih sayang Allah ini. Menceritakan rasanya. Bukan lagi "prasangka/perkiraan" atas pengetahuan atau rasa tahu. Tetapi sebuah keyakinan krn mengalami dan merasakan.

Merasakan limpahan kasih sayang air dan tanah. Merasakan kasih sayang ibu pertiwi.

Bershabar dan ikhlaskan rasa dan kembalikan rasa kepada Allah saat itu. Krn diri ini tak akan mampu menanggung beban rasa. Setiap jeritan kesakitan kesedihan setiap makhluk yg berdoa kepada Allah adalah rintihan langsung kpd diri sendiri.

Tak akan ada satu makhluk yg mampu menahan beban dan menanggung harapan doa keluhan dr semua yg memanggil nama Tuhan. Dan sanggupkah diri yg lemah ini menerima rasa yg melimpah ingin mengasihi semua makhluk dan ingin menyayangi mereka semua. Sungguh. Tdk akan sanggup. Rasa akan menjadi begitu berat.

Kembalikan rasa serahkan arahkan sehingga mampu berada di atas rasa berada di ruh bersama Tuhan.”

Begitulah rangkaian SMS nya, sempat juga terintas dalam ingatan, apakah beliau baik-baik saja. Setahu Mas Thole Ki Ageng dalam upaya untuk mengakses energy Markaba. Dia sedang belajar kesana, melakukan kontemplasi dan meditasi tingkat tinggi untuk mengenali energy markaba (kasih sayang) yang bersumber di ‘arashi’. Benar saja, kemarin di informasikan keadaannya sedang sakit, bahkan pekerjaannya semua juga berantakan. Beliau harus mengulang lagi dari awal. APakah ada hubungannya realitas pekerjaan dengan ghaibnya ?. Mengapakah selalu tali temali, ketika ada kesalahan di ghaib, maka akan terjadi kesalahan di dalam realitasnya. Entah dia bermasalahan dengan rekan kerja, pekerjaan , mobil, apa saja yang dipegang akan seperti terkoneksi untuk menjadi salah.

Akhirnya dari diskusi via SMS, Mas Thole meyakini bahwa ada ketidak harmonisan antara energy markaba yang diaksesnya dengan pemaknaan persepsi kejadian di dalam kesadaran Ki Ageng, bahkan Mas Thole yakin sekali bahwa keadaan ini dialami oleh semua kesatria, termasuk Banyak Wide itu sendiri. Kesalahan dalam memaknai kejadian akan menimbulkan persepsi, kesalahan persepsi akan menimbulkan salah niat, salah niat menimbulkan salah gerak, salah gerak menimbulkan dampak atas kesadaran alam. Sebab jika programnya saja sudah salah sejak awalnya, jika niat  untuk menggerakkan tubuh saja  sudah salah, maka alam juga akan merespon salah.  Ketika alam merespon niat yang salah, hasilnya akan sebagaimana peradaban yang dibangun selama ini, atas para penguasa harta, tahta dan wanita. Kesadaran tinggi akan menjadi penentu atas turunnya kesadaran kepada generasi setelahnya. Kembali akan terulang tragedy kehancuran semisal atlantis dan juga lainnya.

Maka yang harus dilakukan adalah melakukan penyelarasan dengan energy kasih sayang itu sendiri. Dalam sebuah proses penyadaran dari keseluruhan kejadian di sepanjang hidupnya. Melakukan pemaknaan ulang kembali, persepsi tentang istri, ayah, ibu, pacar, harta, pekerjaan, ibadah, dan semua aspek yang telah menghasilkan kesadaran diri yang sekarang ini. Kesadaran diri harus selaras dengan kasih-sayang sebagaimana yang Allah maksudkan dalam ‘Bismillahhirohmannirohiem.’

Kita harus benar dahulu disini sebab kita akan menyandang nama Allah.  “Saya, dengan nama Allah yang Maha Pengasih dan Penyayang…”  Maka bagaimanakah kita bisa menyandang nama-Nya, jika kita belum selaras dengan energy kasih-sayang-Nya. Itulah hikmah, menjadi cermin kita semua, agar para kesatria mengaca kepada dirinya sendiri terlebih dahulu, saat mana dirinya akan menggunakan nama Allah. “Bismillahhirohmannirohiem..” Sebab sungguh berat amanah yang harus dipikul, saat mana kata mengatas namakan Allah.  Sungguh ini menjadi pengingat yang sanagt keras kepada diri Mas Thole sendiri, yang masih saja tertatih tatih menyoal ini. Menjadi pemicu untuk lebih baik lagi. Berharap lusa dirinya tidak terpapar energy yang melumpuhkan aktifitasnya sehari-hari. Semoga ya Allah..!.

Wolohualam




Sabtu, 13 Juli 2013

Kisah Spiritual, Ketika Air dan Tanah Bisa 'Bicara'



Pagi ini, kala matahari beranjak bangkit. Mas Thole menahan gempuran rahsa yang tak biasa. Seluruh elemen alam mencoba bicara padanya. Air ingin bicara bagaimana keadaannya, begitu sedihnya, nelangsa. Bergulat raga Mas Thole, jiwanya seperti baju basah yang dipilin diperas airnya,  melintir kemana-mana. Mengapa selalu ada rahsa sedih yang lainnya. Kesedihan air begini rahsanya. Sungguh air mengabarkan bahwa sesungguhnya dia tidak rela saat dirinya digunakan untuk kemaksiatan. Sungguh dia sebenarnya tidak suka jika dia harus berjalan diantara aliran darah orang-orang yang  berbuat aniaya. Dia ingin menjerit, ingin berteriak. Apakah manusia tidak mengerti bahwasanya air juga memiliki ‘jiwa’ !. Mengapakah mereka tidak mendengar apa yang dikeluhkannya. Sakit..sakit sekali rahsanya, saat mana dirinya memasuki syara-syaraf dan aliran darah orang-orang yang membuat kemungkaran di muka bumi.

Belum selesai air mata kepedihan. Air mata yang tanpa mampu ditahannya, Air mata  yang  berhamburan begitu saja. Sang tanah datang menyelusup melalui atom-atom tanah yang berada di raga Mas Thole. Dia  juga mengadukan nasibnya. Mereka seperti berkata. Bukan saja air yang kesakitan namun, “ kami tanahpun kesakitan juga,” begitu kata mereka, sambil menerobos, menyergah rahsa sakit yang timbul akibat kepedihan sang air, yang terekam di raga Mas Thole. “ Sakit..sakit sekali jika atom-atom kami digunakan untuk berbuat kemaksiatan melawan Tuhan yang menciptakan alam ini.” Kata mereka mengeluhkan.

Masih dengan rasa masgulnya,  mereka terus berkata, “Apakah manusia tidak merasa, bahwa atom-atom yang digunakan oleh raganya adalah milik kami (bumi).  Apakah mereka anggap bahwa kami (bumi) tidak ber-jiwa, “. Mas Thole menggeleng tak mengerti, persoalan itu, seolah menjawab pertanyaan sang tanah. “Ketahuilah sungguh manusia dalam keraguannya sendiri menyoal ini. Apakah mereka memang tidak tahu, atau pura-pura tidak tahu !”. Suara mereka semakin mengeras, membuat pinggang Mas Thole menjadi kaku, dan susah di gerakkan. Sakit rahsanya untuk bergerak. Akhirnya mereka berkata lihir sendiri, “Apakah manusia  juga tidak  mengerti ini ?, Bahwa kami, bumi dan air  juga ber’jiwa’, perhatikanlah bukankah gunung-gunung berjalan. Apakah mereka menutup mata, dan air yang digerakan bersama awan-awan. Apakah manusia tidak tahu keadaan ini, sehingga mereka sewenang-wenang memperlakukan atom-atom yang hanya sementara saja, ditukar pakaikan pada bagian tubuh mereka.” 

Bukankah bumi sudah memberikan yang manusia pinta, bukankah bumi sudah memberikan keberlimpahan kepada manusia. Tidakkah manusia merasa bahwa semua itu harus dikebalikan kepada bumi, pemilik atom tanah ?. Mas Thole akhirnya terpancing, sekarang Banyak Wide yang mengambil alih situasi. Sebab yakin raga Mas Thole tidak sanggup menahan gempuran energy dahsyat sang alam mana kala sedang dalam kesedihannya.  Sambil menangis tertahan, Banyak Wide berkata kepada mereka. “Silahkan..jika Allah sudah berkehendak, ambillah milik kalian. Jika manusia-manusia tetap merajelela membuat kerusakan bumi kalian ini. Ambilah..ambilah nyawa-nyawa mereka itu. Akupun tak mampu berkata apa-apa. Itu hak kalian air, tanah, udara, dan seluruh alam ini. Bukankah  Allah berikan  berikan amanah-Nya kepada kalian untuk melakukan itu semua ?. Bukankah sebelum langit dan bumi berbetuk, sudah diberikan urusan-urusan itu, atas kalian semua ?.” Hampir saja Banyak Wide melontarkan lengkingan ke langit menahan pedih yang menyayat hatinya ini. Dia adalah manusia, yang ikut serta menyakiti sang alam. "Ampuni kami, Ya Allah." Da pun terisak lagi, tak mampu melanjutkan kata-katanya lagi.

Sambil menahan kesedihannya yang tak tertahan Banyak Wide menangis , mengguguk bagai anak kecil. Dia dalam kesakitan dan kesedihan yang tak mampu ditahannya sekali ini. Bukan karena cinta biasa, namun ini adalah kecintaan kepada sang alam.  Saat itu, matahari belum ada sepenggalah naik, air matanya sudah terkuras tanpa pernah dimengerti, mengapa dirinya ikut menangis bersama elemen alam ini.  Kesakitan air, tanah dan udara, membawa dampak kesakitan seluruh raga Mas Thole, dari pinggang terus menjalar keseluruh badan.   Teringatlah pesan Ki Ageng yang sudah mengirimkan SMS perihal ini, beberapa hari lalu. Makna air dan tanah, yang disimbolkan dengan Ratu Kidul dan Sabdo Palon. Merekalah dua entitas yang dijadikan simbol pemaknaan, agar orang jawa dengan mudah memahami. bagaimana alam itu sesungguhnya memiliki ‘jiwa’. Mereka bisa bersedih, mereka bisa murka, jika mereka di sia-sia, dirusak dengan semena-mena. Mereka juga  bisa turut bahagia jika semua miliknya dipergunakan untuk kebaikan manusia. Mas Thole sekarang mengerti hakekat ini. Manusia harus bijak menyikapi bahasa simbol.

Allah menciptakan alam ini dengan ‘kasih sayang’ maka seluruh elemen alam ini begitu kasih terhadap manusia. Mereka begitu patuh kepada sang khalifah. Tidak ada air yang memberontak atau demo saat mana manusia membutuhkan dirinya. Air dengan suka membersihkan kotoran-kotoran manusia. Air merelakan dirinya untuk melarutkan najis manusia. Menjadi pelarut apa-apa yang terbuang dari tubuh manusia. Air rela menjadi najis itu sendiri, air rela menjadi pelarut ‘lendir-lendir’ manusia yang menjijikan, yang manusia sendiripun tidak mau melihat kotorannya sendiri. Air menerima keadaan dirinya itu, dengan berserah kepada Tuhan yang sudah menjadikan dirinya begitu. 

Bumi mengeluarkan air dari lubang-lubangnya, di setiap pelosok bumi yang dihuni manusia, ada mata air,   mereka mencari dan mendekati manusia yang membutuhkan. Lihatlah awan selalu beriring, mereka bergerak ke daerah-daerah yang membutuhkan air. Tidak ada satu proses yang terlewat mereka begitu sempurna, sistem yang luar biasa. Mereka patuh, mereka ikhlas dengan keadaan diri mereka, meski kadang mereka sering dicaci maki, dan disumpah serapah. Bukankah manusia, beraneka rupa hatinya, ada yang merasa terganggu dengan datangnya hujan. mereka menggerutu bahkan memaki air hujan, sebab telah membasahi bajunya. Apakah mereka pikir air tidak mendengar perkataan mereka itu ?. Sungguh manusia salah dengan anggapan itu. Air akan menyimpan energy yang dilontarkan kepadanya. Air akan mencatat perbuatan manusia itu.   Air mendengar semua perkataan manusia !.

Namun bagaimana Mas Thole kemudian mampu menerima khabar sang air ini, rupanya semua tidak terlepas dari pengajaran Ki Ageng Tirtayasa kepada dirinya, melalui SMS dan telepon beberapa hari ini. Inilah petikan SMS nya, menjadi bagian tak terpisah dari kisah spiritual ini, sebagai khabar kepada para kesatria lainnya ;

Alhamdulillah. Segala puji hanya kpd Allah. Tuhan seluruh alam semesta. Seluruh dimensi alam. Seluruh semesta alam. Di setiap penjuru alam. Segenap alam. Sudah sy baca tulisan di blog. Terasa kekuatan. Terasa gelombang energynya. Allahu akbar. Dialah pemilik keagungan di alam ini. Telah difahami apa yg tersirat dlm tulisan itu. Dan demikianlah pesan itu. Yg akan terbaca oleh mereka yg berada dlm DNA. Para ksatria. Mereka yg mau meningkatkan  kesadaran. Sungguh berat untuk sebagian besar "kesadaran" manusia untuk memahami hakekat yg ingin disampaikan. Dan lbh berat lg untuk melaksanakan. Maka setiap diri berada pd ukuran (ketentuan) atas dirinya. Tiada yg dirugikan. Semua menjalani atas keterbatasan ini. Sungguh sedemikian jelas "hakekat kasih sayang" ini. Sejelas "cahaya" ketika membuka mata. Seperti apa cahaya itu. Namun bagaimana memaknai cahaya itu. Energy kasih sayang ini ada dimana-mana. Tinggal diambil dan digunakan. Tanpa ini maka semua gelap. Lumpuh. Mati. Karena inilah segala mula buka semesta. Cahaya alam. Cahaya di atas cahaya. Yg meliputi cahaya. Cahaya yg meliputi semua materi. 

Cahaya yg diserap tumbuhan menjadi energy pertumbuhan. Yg menghidupkan tumbuhan. Yg akan berputar dlm siklus rantai makanan. Yg berputar dlm siklus kehidupan. Yg meliputi materi. Yg meliputi kesadaran yg mengamati. Yg menjaga keberadaan materi. Cahaya yg diserap tumbuhan menjadi energy pertumbuhan. Yg menghidupkan tumbuhan. Yg akan berputar dlm siklus rantai makanan. Yg berputar dlm siklus kehidupan. Yg meliputi materi. Yg meliputi kesadaran yg mengamati. Yg menjaga keberadaan materi. Tanpanya maka materi akan menghancurkan dirinya untuk daur ulang energy membentuk materi baru. Demikian seterusnya. Kekuatan potensinya meliputi keberadaan alam. Karena dialah wujud alam itu sendiri. Dimanapun kau hadapkan wajahmu. Akan kau dapati wujud kasih sayang itu. Dia meliputi setiap makhluk hidup dan menjaga hidupnya. Energy yg menghidupkan kupu-kupu. Yg menghidupkan serangga. Yg menghidupkan seluruh binatang. Energy yg menggerakkan alam. Menggerakkan angin. Menurunkan hujan. Seluruh gerak alam.

Energy yang menggerakan semua itu, semua (yaitu) daya-Nya, daya kasih sayang. daya yang kemudian menjadi materi, materi yang kemudian setiap diirnya memiliki entitas jatidiri. Jaitidiri yang kemudian mewujud menjadi ‘jiwa’ mereka. Mereka ada , mereka bisa dikenali, mereka mau menyapa jikalau kita membuka hati kita. Ada yang kemudian disebut air, tanah, logam, api, dan apa saja sebuatan manusia. Dengan kasih-sayang-Nya semua entitas jatidiri diberikan kuasa-Nya, kuasa itu disimbulkan sebagai Shaad dalam Al quraan (Baca ; Kajian Simbol Shaad). Mereka disebut gunung, pohon, sungai , laut, udara. Merekalah yang diberikan diberikan urusan oleh Allah, perintah urusan itu di bawa oleh para malaikat.  Mereka akan memperkenalkan diri kepada manusia yang membuka kesadaranya, mereka lebih suka dipanggil dengan sebutan ‘KAMI’.

Maka janganlah aneh, jika batu akik memiliki kekuatan, jika keris kemudian bisa bergerak, jika angin kemudian bisa mengamuk, jika air kemudian bisa menenggelamkan, jika api bisa panas, jika tanah kemudian bisa membelah dan mengubukan apa saja ke dalamnya. Dan masih banyak lagi contoh lainnya. Apakah semua itu manusia yang menciptakan, ataukah ‘KAMI’ ?.

Pinggang semakin sakit, cengkeramannya membuat Mas Thole tak sanggup mengetikkan kata-kata  dengan sempurna. Lehernya tegang seperti menahan beban.  Maka pembelajaran dari Ki Ageng akan di kopas saja disini sebagai bagan dari sebuah kisah spiritual. Meski air matanya kini telah kering, guratan tajam yang menggores hatinya, telah menimbulkan luka. Sebagaimana penanda bahwa air telah datang padanya mengkhabarkan keadaanya di bumi tanah jawa ini.

Maka lirih sujud jiwa ini, tak mampu berkata, sebab dirinya juga tak mampu berbuat apa-apa. manusia berkuasa, manusia bertahta, manusia berharta, manusia umawa dengan ilmunya, akan selalu begitu keadaannya sepanjang peradaban manusia. Meski ratusan para nabi telah diturunkan, meski pawa wali Allah telah berperang. Sungguh, manusia akan selalu dalam kerugian, kecuali mansuia yang ber akhlak, ber amal sholeh, saling nasehat menasehati. Maka perhatikan inilah alur cerita, mengapakah keadaan Mas Thole semakin larut dalam kesedihan, menangisi bumi nusantara ini, yang tak kunjung lepas dari nafsu angkara manusia.

Begitulah rangkain SMS sesama saudara yang saling menasehati, saling mengkhabarkan keadaan,  saling berbagi kebaikan, masih terus berlanjut beberapa hari, semoga dari sini ada himah yang bisa kita petik,

Alhamdulillah. Segala puji hanya kpd Allah. Tuhan seluruh alam semesta. Seluruh dimensi alam. Seluruh semesta alam. Di setiap penjuru alam. Segenap alam. Sudah sy baca tulisan di blog. erasa kekuatan. Terasa gelombang energynya. Allahu akbar. Dialah pemilik keagungan di alam ini.Dan kita tdk perlu melakukan apa-apa ketika mampu berada dlm kesadaran Haa. Berada dlm energy kasih sayang. Yg sebenarnya. Bukan hanya dlm persepsi. Dan bukan dlm persangkaan belaka. Dan inilah kesulitannya. Karena kita belum mengenal kasih sayang ini. Jadi yg ada persepsinya semata.

Kasih sayang yg sebenarnya tdk akan mampu kita kenal sampai Dia yg mengenalkanNya. Dia sedemikian dekat. Dia sedemikian jelas namun kita tdk mampu secara langsung melihatnya. Sedemikian jelasnya  seumpama melihat matahari secara langsung.  Yg kita kenal hanyalah skala kecil kasih sayang. Sedemikian kecilnya. Sehingga tdk ada referensi sama sekali. 

Bersyukurlah yg telah ditingkatkan level kesadaran (energy) kasih sayang. Karena merasakan nikmat energy yg luar biasa. Dan semua potensi kekuatan ada disini. Karena akan menjadi pusat kesadaran. Yg akan melintas waktu.

Energy kesadaran inilah yg akan diturunkan generasi ke generasi. Kesalahan memaknainya bg yg memiliki level kesadaran ini akan berimbas pd alam. Karena keterikatan dg alam. Telah difahami apa yg tersirat dlm tulisan itu. Dan demikianlah pesan itu. Yg akan terbaca oleh mereka yg berada dlm DNA. Para ksatria. Mereka yg mau meningkatkan  kesadaran. Sungguh berat untuk sebagian besar "kesadaran" manusia untuk memahami hakekat yg ingin disampaikan. Dan lbh berat lg untuk melaksanakan. Maka setiap diri berada pd ukuran (ketentuan) atas dirinya. Tiada yg dirugikan. Semua menjalani atas keterbatasan ini. Sungguh berat untuk sebagian besar "kesadaran" manusia untuk memahami hakekat yg ingin disampaikan. Dan lbh berat lg untuk melaksanakan. Maka setiap diri berada pd ukuran (ketentuan) atas dirinya. Tiada yg dirugikan. Semua menjalani atas keterbatasan ini.

Sungguh sedemikian jelas "hakekat kasih sayang" ini. Sejelas "cahaya" ketika membuka mata. Seperti apa cahaya itu. Namun bagaimana memaknai cahaya itu. Sungguh sedemikian jelas "hakekat kasih sayang" ini. Sejelas "cahaya" ketika membuka mata. Seperti apa cahaya itu. Namun bagaimana memaknai cahaya itu. Energy kasih sayang ini ada dimana-mana. Tinggal diambil dan digunakan. Tanpa ini maka semua gelap. Lumpuh. Mati. Karena inilah segala mula buka semesta. Cahaya alam. Cahaya di atas cahaya. Yg meliputi cahaya. Cahaya yg meliputi semua materi.  Cahaya yg diserap tumbuhan menjadi energy pertumbuhan. Yg menghidupkan tumbuhan. Yg akan berputar dlm siklus rantai makanan. Yg berputar dlm siklus kehidupan. Yg meliputi materi. Yg meliputi kesadaran yg mengamati. Yg menjaga keberadaan materi.

Tanpanya maka materi akan menghancurkan dirinya untuk daur ulang energy membentuk materi baru. Demikian seterusnya. Kekuatan potensinya meliputi keberadaan alam. Karena dialah wujud alam itu sendiri. Dimanapun kau hadapkan wajahmu. Akan kau dapati wujud kasih sayang itu.
Dia meliputi setiap makhluk hidup dan mrnjaga hidupnya. Energy yg menghidupkan kupu-kupu. Yg menghidupkan serangga. Yg menghidupkan seluruh binatang. Energy yg menggerakkan alam. Menggerakkan angin. Menurunkan hujan. Seluruh gerak alam. 

Itulah kasih sayang alam...!

Itulah ruh alam. Itulah cahaya alam. Itulah atman. Itulah para dewa dlm kesadaran masyarakat kuno. Itulah Haa. Itulah Aku sejati. Apapun sebutan. Apapun istilah. Dialah sang penjaga kesadaran. Dia berada dlm kesadaran bg yg sadar. Dia ada dlm diri kita. Ada ada. Dia nyata. Akan terus memanggil dan terus menerus. Kita hanya perlu datang berserah diri. Menerima kasih sayangNya. Merasakan energyNya. Lalu merasakan kasih sayang itu.
Bertasbihlah wahai raga, wahai jiwa, wahai akal, wahai ruh, dan juga seluruh sistem ketubuhan ini. Patuhilah keadaan ini, harmonilah bersama alam ini sebab sesungguhnya seluruh sistem di dalam tubuh ini, merupakan atom-atom, elemen bumi dan langit, yang bisa kapan diminta balik pemiliknya. Maka tetapilah tafakurmu, bermeditasilah dalam kadaan ini.

“Saat meditasi. Kesadaran awal meditasi berada di alam materi. Amati tubuh dari ujung kaki ke ujung ubun-ubun. Hitung mundur mulai seratus. Kesadaran hrs sudah berpindah ke alam getaran atau gelombang... merasakan jiwa dlm bentuknya gelombang. Prinsip dualitas jiwa materi dan gelombang. Ketika mengamati sebagai materi maka tdk ada gelombang. Ketika mengamati gelombangnya maka wujud materi jiwa hilang.Hitung yg terakhir yaitu 30. Harus sudah merasakan sebagai ruh (cahaya). Prinsip cahaya adalah gelombang elektromagnetis. Gelombang listrik dan gelombang magnet yg silih berganti. Kesadaran meliputi cahaya tubuh yang dipancarkan. Kesadaran meliputinya. Kesadaran akan bergerak lbh cepat dr kecepatan gerak cahaya.

Meluas seluas alam. Kesadaran meliputi cahaya tubuh yang dipancarkan. Kesadaran meliputinya. Kesadaran akan bergerak lbh cepat dr kecepatan gerak cahaya. Meluas seluas alam. Kesadaran meliputi cahaya tubuh yang dipancarkan. Kesadaran meliputinya. Kesadaran akan bergerak lbh cepat dr kecepatan gerak cahaya. Meluas seluas alam. Akhirnya kembali ke raga setelah menjelajah alam raya. Apakah ada bedanya?. Rasakan alunan medan magnet tubuh. Kutub positif dan negatif magnetis. Dan medan listrik tubuh. Pergerakan antara akal dan hati. Terus berpindah. Otak dan jantung. Rasakan gelombang elektromagnetisnya. Sampai suatu saat lepas. Ketika energynya cukup. Maka ruh menuju alam raya.

Dengarlah tasbih alam ini, kini jiwamu bertasbih bersama angin, burung, awan, dan gunung-gunung, kini engkau mampu mengembara ke seluruh alam semesta, menembus langit dan bintang-bintang, menerobos menyelusup diantara dimensi-dimensi para dewa, menembus alam khayangan dan syurga loka. Tidakkah nikmat yang banyak, terasa betapa Allah Maha besar. Mengapa sangat sedikit bersyukur ?. Tidakkah cukup bukti-bukti itu bagimu, wahai kesatria  ?. Maka tetapkan hatimu, yakinkan dirimu, Tuhan beserta kita. Semoga. Amin


Wolohualam