Kamis, 25 Juli 2013

Diskusi, Nikmat Manakah Yang Nikmat ?


Nasehat Seorang Kakek kepada cucunya yang tidak menang lomba menulis ;

Kakek    : “Nak, Kakek paham kesedihanmu sebab  tidak masuk nominasi. Namun janganlah karena itu kemudian membuat engkau akan berhenti menulis .”

Cucu      : “Bagaimana tidak kesal Kek, banyak sekali penulis yang menurut saya lebih pantas ternyata tidak masuk nominasi, sebut saja A,  B, dan banyak lagi lainnya, bukan  Admin tidak adil namannya”

KakeK   : “ Engkau bicara tentang keadilan nak. Sudahkah engkau tahu maknanya ?. Manusia akan selalu merasa tidak adil, apapun itu nak. Keadilan akan baru terasa pas ketika dia membuat aturan mainnya sendiri, seperti apa yang dimauinya. Itulah keadilan,  baru akan terasa pas, jika sesuai seleranya.”

Cucu      : “Kenapa bisa begitu Kek ?”

Kakek    : “Baiklah Cu, manusia membuat mobil, ada mobil  BMW, ada mobil Kijang, ada Bus, ada mobil sampah, ada mobil dengan solar dan ada yang dengan bensin. Bagi manusia itu suatu keadilan. Namun coba tanyakan kepada mobil sampah, yang setiap hari harus mengangkut sampah busuk. Apakah dia tidak iri kepada mobil BMW yang penuh kemewahan. Dimanakah keadilan bagi mobil sampah . Begitu juga bagi mobil solar yang penuh asap, kalau dia bisa protes maka dia akan protes kepada manusia, kenapa dirinya dibuat berasap. Maka mobil sampah baru akan merasa adil jika dirinya dibuat seperti mobil BMW. Begitulah keadannya nak.”

Cucu      : “Terus bagaimana Kek ?”

Kakek    : ”Artinya kamu tidak boleh protes kepada Admin dialah yang mewakili Tuhan di dunia ini. Sebagaimana mobil yang tidak boleh protes kepada manusia tadi. Semua sudah dibuat aturannya, bagi setiap mobil sudah ada peruntukannya. Maka mobil yang terbaik bagi manusia adalah mobil yang sesuai dengan fungsinya. Itu peraturan yang tertulis dalam kitab manusia yang menciptakan mobil. Maka kalau kamu ingin masuk nominasinya kamu harus pelajari kitabnya.  Buku manual itu akan membimbing kamu bagaimana jadi warga Negara yang baik sesuai dengan apa yang dimaui Admin. “

Cucu      :”Oh begitu ya Kek, jadi peilihan saya Cuma jadi warga  negara yang baik di sini, atau saya keluar dari warga Negara. “

Kakek    :”Ya begitulah nak. Hal ini sejalan dengan dunia nyata, yaitu sesuai dengan apa yang di mau Tuhan. Jika masih ingin dianggap makhluk Tuhan ya ikuti aturannya yang tertulis di kitab suci. Kalau tidak mau ya berhenti pindah ke dunia lain. Dimana-mana sama kok nak. Di perusahaan, di pemerintahan dan dimanapun itu berlaku hukum ini. Maka tetaplah menulis, dan ikuti kitab nya Admin, yakinlah besok tahun depan pasti akan jadi warga terfavorit. Ingatlah apa yang di tulis rekanmu Om Kate, yaitu menulis memiliki energy luar biasa untuk merubah dirimu menjadi baik sebab engkau akan tertantang untuk terus menjadi baik sesuai dengan apa yang ada dalam tulisanmu , camkan itu dalam-dalam !. TETAP SEMANGAT NAK !. ” 


Cucu      : ???

Namun sang cucu tetap dalam keadaan yang bingung, keraguan kemudian kembali  menyergahnya. Mengapakah dirinya tidak dijadikan orang kaya, sementara dirinya berharap, dibuat menjadi semisal mobil-mobil mewah, yang juga dibuat manusia. Bagaimana manusia lainnya, memujanya saat mobil tersebut keluar dari pabriknya.
Sementara sang cucu sendiri sepertinya tidak paham, bagaimanakah keadaan kota ini jika tidak ada 'truk sampah'..  

Perhatikanlah..banyak doa dari seluruh warga agar 'truk sampah' tidak sakit, dan tetap bisa beroperasi, mengangkut sampah kota. 
Namun adakah doa dari warga untuk mobil mewah BMW ?. Hanya sekali kekaguman saat keluar dari pabrik saja, selewatnya mobil tersebut hanya dikenang saja.
Hanya sedikit doa , mungkin hanya dari sang pemiliknya.
Manakah yang lebih bermakna ?.  Disinilah letak 'keadilan' Nya.

Keyakinan bahwa apa yang Allah berikan untuk diri kita adalah sebagaimana perumpamaan tersebut.
Kita dalam suasana 'kepastian' akan sistem keadilan ini.


Keyakinan disana adalah Iman itu sendiri. 
Bagaimana memaknainya ?. Mampukah kita disana ?.
Iman atas keadilan Allah. 
Nikmat Iman ?.

Nikmat yang satu ini, kadang malahan dijauhi. Meski berulang kali para Ustad mengulang-ulang dengan gaya bahasa apologi. Lebih sering kita tidak ambil pusing , terserah sajalah !.

“Apa sih nikmatnya IMAN ?”

“Ya, benar..apakah sih nikmatnya Iman..?” Pertanyaan ini juga mengusik saya. Sebab setiap kali mendengarkan khotbah dimanapun, selalu kalimat ini di perdengarkan.

Termasuk dalam klasifikasi makhluk apa si IMAN,  atau mungkin makanan apa, atau apakah seperti rasa lainnya ?. Kitapun sering tidak mengeri bahkan tidak  tahu, hakekat iman itu apa ?!. 
Kalau begini, bagaimana kita kemudian bisa merasakan nikmatnya IMAN. Mengerti saja tidak.

Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya makan dan minum ?
Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya saat gajian ?
Apakah nikmatnya iman, sama dengan nikmatnya punya mobil baru ?
Yang lebih ekstrem, apakah nikmatnya iman, sama dengan orgasme ?.

Katanya iman berarti ‘percaya’  atau yakin. Percaya kan tinggal percaya saja, apa susahnya dan apa nikmatnya ?.

Ternyata susah juga mediskripsikannya. Iman seperti apakah yang mampu menimbulkan rahsa nikmat ?.
Maka tidak ada cara lain selain memasuki IMAN itu sendiri, agar kita mengetahui hakekat iman, sehingga kita akan mampu merasakan nikmatnya. Pertanyaannya, “Sudahkah kita memiliki refernsi iman ?”. Baiklah marilah kita cari referensinya. Kita buktikan bahwa ‘RAHSA PERCAYA’ itu nikmat. Nikmatnya tidak hilang-hilang. Melebihi kenikmatan apapun di dunia ini. 

Musuh dari ‘percaya’ atau ‘yakin’ adalah ‘KERAGUAN’. Mari kita bandingkan.
Bagaimana rahsanya saat kita dalam KERAGUAN, ketidaktahuan bulan depan gajian atau tidak ?
Bagaimana rashsanya saat kita dalam KERAGUAN, menduga-duga pasangan kita selingkuh atau tidak ?
Bagaimanakah rahsanya saat kita dalam keadaan KERAGUAN, kegalauan datang atau tidak orang yang sedang kita tunggu ?.

Ternyata rahsa KERAGUAN tidak enak sekali. Menyiksa diri kita sepanjang waktu. Menyesakkan dada. Bahkan akan banyak menimbulkan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Ketika kita dalam keraguan kita mengangankan betapa nikmatnya jika kita tidak dilanda keraguan artinya kita dalam  sebuah kepastian atas suatu hal.

Ketika kita dalam kepastian kita merasakan ketenangan yang luar biasa. Kita tenang saat kita tahu bahwa bulan depan gajian. Kita tenang saat kita tahu kepastian bahwa pasangan kita tidak selingkuh. Dan lain sebagainya.

Padahal kepastian adalah sesuatu yang belum terjadi di masa depan. Hanya masih berupa kemungkinan-kemungkinan saja. Bisa ya dan tidak. Bisa benar dan salah. Kita belum membuktikan bahwa hal tersebut adalah benar. Kita hanyalah PERCAYA atas informasi bahwa bulan depan akan tetap gajian. Kita hanya PERCAYA bahwa pasangan kita tidak selingkuh. Kita hanya berada dalam dimensi KEYAKINAN saja. Ternyata dengan kita berada di dalam dimensi KEYAKINAN hati kita akan tenang.

Ketika hati kita sudah tenang, maka kita akan mampu menikmati apa saja. Maka dapatlah dikatakan bahwa  ‘keyakinan’ adalah kenikmatan itu sendiri. Iman adalah keyakinan itu. Maka patut kita syukuri nikmatnya IMAN. Betapa nikmatnya ketika kita di dlaam dimensi keyakinan. Bukan di dimensi KERAGUAN. Maka layakkah nikmat seperti ini kita abaikan. Bahkan dijauhi. Hemm..

Maka jika kita dalam keraguan atas 'keadilan' sesungguhnya, itulah yang menyiksa kita sendiri. Mungkin saja begitu...

Wolohualam

Tidak ada komentar:

Posting Komentar