Minggu, 31 Maret 2013

Puisi Cinta; Antara DIA, Aku, Kau, dan Bekas pacarmu


Telah kupesan keranda malam. Bersama tikar untukmu sembahyang. Duhai, kekasih, peri yang kupuji bersama melati. Dimanakah mesti kuletakan hati. Jika disini gundahnya saja tak tertampung lagi. Kekasih, kau tebar bau aroma kesturi. Sedapkan pagi dan itu matahari menyinari. Wajahmu teduh seperti embun pagi. Meski riangmu tak pernah kudapati.

Dan sungguh telah kau ciptakan gugusan bintang. Agar mataku mampu memandang. Katamu, banyak pesan kau simpan disana. Tentang kita. tentang anak dan rumah kecil. Sayang kau bangun terlalu pagi. Sementara menunggu malamnya lagi  serasa tahunan kita mati. Diam tanpa gerak sang waktu. Kau tersenyum, sudahi mimpi siang hari. hela nafas sebab terlalu jauhnya  gugus bintang. “Itu tidak benar..!” desahmu tersadar.

Alis mata tak biaskan pesona. Kilasmu semakin tua tiada pesona. Dan hasratmu hanya menggumpal didada. Riuh terasa disana. Ingin kau teriakan, sebab gundahmu tak kau mengerti sendiri. Salah siapa dan dosa siapa.”Aku mestinya tidak terlahir disini. Setidaknya adalah bukan denganmu..!” Ugh, kau ulang perkataanmu lagi. Dan kudiam tanda mengerti.

Kekasih, malam tidaklah bersama pagi. Janganlah bermimpi tentang itu. Semua akan bergiliran. Penuhi saja hak malam dan tunggulah setelahnya pagi akan datang mengambil haknya pula. Maka manakah yang kau suka, gelapnya ataukah terangnya hari ?. Manapun yang kau suka atau kau tak suka semua sama saja, tetap saja mereka akan mengambil hak-haknya.  Begitulah suka dan begitu pula  duka kehidupan. Masing-masing bersama haknya. Maka apakah kau yakin akan yang kau pinta ?. Bersama siapa, yang mana ?. Sama saja keadaanmu nantinnya. Itulah kepastian dari-Nya.  

Kuketuk kau  saja dengan dua jari. Semoga disini kau mengerti. Lihatlah, “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan gugusan bintang-bintang (di langit) dan Kami telah menghiasi langit itu bagi orang yang memandangnya. Dan Kami menjaganya dari tiap-tiap setan yang terkutuk. Kecuali setan yang mencuri (berita) yang dapat didengar (di langit) lalu dia dikejar oleh semburan api yang terang.” (QS. Al Hijr,  15:16-18)

Sudahkah kau mengerti.?

Bintang yang kau puji, telah banyak tercuri. Mimpimu menjadi rebutan jin dan syetan yang terkutuk. Maka sadarlah, “Hanya aku yang mencintaimu dengan benar !."

Terpujilah , semua cinta akan akan runtuh dimakan waktu.  Bukan pada usiamu saja. Mau cinta manalagi ?. Jika semua sama  hanya sementara saja.  Maka..

Kekasih, siapakah dia itu, hanya karenanya kau tega tinggalkan aku ?. Kenalkan aku, meski itu hanya dalam kilas mimpimu yang tak terbukti.

Sudahkah kau melupakannya ?, sebab ragamu saja sekarang tetap disini bersamaku. Bersama dengan anak-anak kita.

Percayalah !.


Maka aku saja yang akan mengenalkan cinta-DIA kepadamu. Jangan lagi kau dengar cinta nya padamu. Sungguh itu pintaku !.


Hanya DIA cinta sejatimu !.

dan..
Akupun begitu..!

Sungguh !.




Sabtu, 30 Maret 2013

Kisah Spiritual, Serpihan Kisah Dibalik Kisah Perjalanan Spiritual Ke Dieng


Ditatap wajah anaknya dalam tiwikrama. Diamnya menahan gempuran rahsa yang dahsyat menggelora. Kesedihannya telah membedah angkasa. Mencurahkan air mata dari langit, deras sekali  membanjiri tanah yang terbongkah menahan duka di dalam dadanya. “Mengapa harus anaknya yang menanggung derita ini.” Keluhnya tak tertahan lagi. Gemelatak sendi menahan lara. Teronggok jiwa hampir saja tak percaya. Seluruh instrumen ketubuhannya diajaknya kompromi, “Ini adalah realita adanya.” Desahnya menggugah irama, dalam melody nan nelangsa. Simponi ini begitu mendedah sukma. Dan kembali bertanya, “Mengapa ?.”  Sang alam diam seribu bahasa, menyaksikan duka seorang Ayah yang meratapi keadaan putrinya yang  tergolek tak berdaya.

Ayah mana yang tidak menangis batinnya. Anak yang dikasihinya mengalami nasib yang mengenaskan begini. Diciumnya perlahan pipi dan keningnya, diusapnya kepalanya, dibelainya dengan penuh kasih. Seluruh perasaan tertumpah. Rasa bersalah, rasa ingin menggantikan saja keadaan sang anak yang tergolek seperti tanpa daya itu. Sosok wajah halus lembut, seoranggadis yang beranjak dewasa, kecantikannya seperti buliknya, yang diera tahun 80 an sempat menjadi Ratu Kecantikan di Indonesia. Wajah sang Adik seperti membayang dimata Mas Dikonthole. Kecantikan sang adik sepertinya menurun pada anaknya ini. Wajah yang halus lembut dnegan keceriaan, mulus  tanpa jerawat satupun.

“Kenapa kini harus tergeletak dalam tidur yang dalam. Tidur menahan sakit yang menghujam kepala akibat benturan.”  Mas Dikonthole terus menahan gundahnya. Dipandanginya lagi seluruh badan anaknya. Diusap bagian yang sakit, mencoba sedikit menggunakan tenaga dalamnya, barangkali saja dapat mengurangi rasa sakit. Mulai dari kaki, sampai kepala dicobanya melakukan usapan. Terus dalam tarikan nafas,  yang terus saja mencoba meredam amukan rahsa yang semakin mendekati  titik kulminasinya.   Wajah anaknya yang lembut tetap nampak tertidur dengan tenang. “Namun hati ayahmu tidak tenang nak.”   Dalam helaan nafas panjang Mas Dikonthole kemudian duduk di depan ranjang anaknya. Menatap dengan rahsa yang terus tak menentu. Terkisah bagaimana perjalanan dirinya hingga di pagi ini disini,  menunggu anaknya sekarang ini. Sementara kemarin,  satu hari sebelumnya dirinya masih berada di Dieng.

Malam itu menjadi malam yang sangat melelahkan, di malam Jumat (Kamis/28/3) dirinya mendengar khabar anaknya kecelakaan. Informasi yang mengatakan bahwa kecelakaan sedemikian hebat, hingga warga disekitar jalanan berdatangan sebab mendengar benturannya. Dan ketikapun istrinya mendapatkan  khabarnya itu, anaknya sudah dalam perawatan dan kerumunan warga sekitar.  Sebuah benturan keras dibelakang kepalanya membuat anaknya harus dilarikan ke Rumah sakit. Itulah khabar yang mereka dengar.

Ojek yang ditumpangi anak perempuan Mas Dikonthole ditabrak dari belakang oleh seorang pemuda tak bertanggung jawab, sehingga mengakibatkan anaknya terlempar melambung kebelakang  beberapa meter dan terhujam ke tanah. Jatuh berdentam, dengan punggung belakang menghantam jalanan, maka tak ayal belakang kepalanya membentur aspal jalan dengan keras sekali . “Siapakah manusia biasa yang mampu bertahan dengan benturan sekeras itu.”  Itulah pikiran Mas Dikonthole saat mendengar khabar itu.  Benar saja, ketika dipegang dan  ditekan oleh salah seorang warga,  tempurung kepala bagian belakang anaknya lembut sekali seperti tempurung bayi. Maka karenanya harus segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Rumah sakit terdekat ternyata tidak memiliki peralatan medis, akhirnya dirujuklah ke rumah sakit yang lebih besar lagi. Proses yang benar-benar menggelisahkan sekali.

Mas Dikonthole bergidik memikirkan kemungkinan terburuk. Dirinya benar-benar merasa bersalah dan berdosa sekali. Harusnya dia yang menjemput anaknya di terminal Bekasi. Karena sebab dia tidak bisa, harus mengemban tugas berdasarkan sebuah keyakinan, maka itulah anaknya terpaksa harus menggunakan ojek. Sementara Mas Dikonthole meyakinkan diri untuk terus melanjutkan perjalanan spiritualnya ke Dieng. Sehingga  dia abaikan seluruh firasat  lainnya. Bahkan kewajiban menjemput anaknya juga dia abaikan saja. Padahal sebagai seorang yang memahami, sebelum kejadian kecelakaan itu, dirnya memang sudah merasakan firasat tidak enak atas diri anaknya yang perempuan ini, maka dia selalu me wanti-wanti agar anaknya jangan pulang malam-malam.

Dieksplorasilah kejadian demi kejadian yang melatari. Kejadian spiritual akhir-akhir ini sudah banyak memakan korban. Bhre Wirabumi beberapa minggu lalu menabrak lapisan ether hinga terpental kebelakang bersalto diudara,  sejauh 10 meter dan jatuh dengan posisi kepala menghantam aspal. Ustad Gus Sholeh juga mengalami hal yang sama. Belum lama Bp. Aryo setelah proses mencari daun Tapak Budha terserang sakit aneh, dia panas sekali namun di thermometer tetap 37 derajat, normal saja.

Dan yang baru-baru ini saja terjadi, sehari sebelum keberangkatan menemui sosok Kangmas di Indramayu Bp. Aryo juga mengalami kecelakaan, dia terpelanting dari motornya, seperti menabrak sesuatu atau ditabrak. Kejadian yangsama, kepalanya yang diincar. Untung mereka semua memiliki olah spiritual hingga kecelakaan tersebut tidak berakibat fatal hanya lecet-lecet kecil saja.  Mas Dikonthole tidak mampu membayangkan, jika hal itu terjadi pada orang biasa. Entahlah seperti apa keadaan mereka itu. ketika itu Mas Dikonthole sudah merasakan ada hawa yang tak wajar sedang mengintai mereka semua, itulah firasatnya. Seperti halnya keadaan dirinya yang juga terserang hawa aneh yang menjebak kesadarannya. Sering membuat dirinya bersama instrumen ketubuhannya terkunci. Saat itu terus dalam pengamatan dan juga menjadi kekhawatiran yang tak pernah dimengertinya, sebab mengapa kejaiannya seperti itu ?.

Namun smeua  perasaan itu dia tipiskan saja. Dia tetap dalam tekadnya, berangkat Rabu malam (28/3). dan apa yangterjadi, satu hari berikutnya  setelah keberangkatan Mas Dikonthole, belum juga sempat dia bermalam di Dieng sana. Tepat malam jumat sehabis isya dia mendengar khabar kejadian itu. Kekhawatirannya terjadi. Namun mengapakah bukan dirinya yang diincar mereka. “Kenapa harus anak kesayangannya.”  Dia membatin tanpa tahu harus berbuat apa. Jika dirinya dan mungkin rekan-rekan lainnya, setidaknya memiliki daya tahan. Energy di dalam tubuh mereka akan secara otomatis bergerak melindungi bagian-bagian yang berbahaya. Energy tersebut akan menjadi bantalan maka keadaan mereka semua tidak apa-apa. namun tidak dengan anaknya. Anaknya sebagaimana halnya anak-anak abg lainnya. He-eh.  Ms Dikonthole benar-benar merasa khawtir dan menyesal sekali.

Sekali lagi Mas Dikonthle tak mampu membayangkan, apa yang  terjadi pada anaknya yang tidak memiliki lapisan energy spiritual, bagaimanakah nanti keadaannya. Sungguh ngeri dia membayangkan hal itu. Dan benar saja, kepala bagian belakang  anak perempuannya melembek bagai ubun-ubun seorang bayi yang baru lahir akibat benturan dengan aspal jalanan. Tempurung kaki sebelah kananya hancur sebagian. Ugh..”Apakah masih bisa diselamatkan Ya Tuhan.” Jauh disana dilereng pegunungan Dieng di bukit Argopeni Mas Dikonthole menatap langit dengan hampa, resah tak terkira. Harapnya hanya kepada-Nya.

Perihnya mengukir malam, menyebabkan langit deras mencurahkan air matanya. Hujan turun saat Mas Dikonthole mendengar khabar itu. Malam itu  Mas Dikonthole baru saja selesai membuka hijab Bhre Wirabumi yang terus mengalami dis-orientasi dalam pencarian jatidirinya. Beberapa leluhur yang mengikuti dirinya menyebabkan dia tidak mampu melihat hakekat ‘sang Aku sejati’. Keadaan itu jika dibiarkan akan menjadi keresahan dia akan selalu mengikuti kehendak keempat leluhurnya. Keempat leluhur mereka akan saling berebutan untuk menjadi yang nomer satu didalam raga Bhre Wirabumi.  Itulah salah satu tugasnya juga, yang harus diselesaikan. membantu proses reinkarnasi Bhre Wirabumi. Selesai prosesi yang melelahkan itulah, dan baru saja Mas Dikonthole menyapu mukanya dengan syukur sebab prosesi berjalan dnegan lancar. Ada bunyi  dering telpon di hp nya, pertama dia abaikan hingga  berbunyi 3 kali.  Bersamaan dnegan suara telpon istrinya. Aneh saja, jika seketika itu juga hujan turun dengan derasnya. dan istrinya dnegan menangis dari rumah sakit menghabarkan kecelakaan itu.

Malam itu memang satu rangkain pertemuan. Mas Dikonthole dan Bhre Wirabumi, saat itu memang sengaja sedang menunggu yang lainnya. Dalam rangka meretas kesadaran baru demi nusantara baru. Kesadaran yang nantinya alan  lebih mampu  memanusiakan manusia. Dan dia pergi ke Dieng juga dalam rangka spiritual untuk membaca tanda berikutnya, berkaitan dengan paku bumi. Namun sungguh khabar yang diterimanya tentang anaknya yang kecelakaan itu,  membuat dirinya gamang dan ragu.

Apakah dirinya akan melanjutkan perjalanannya lagi. Semua dipertaruhkannya. Jika nyawanya sendiri tak mengapa, namun ini sudah menyangkut nyawa anak-anaknya. “Duh..Tuhan berilah kekuatan.”  Mas Dikonthole mencoba menjari jejak pijakan atas  keyakinan itu pada dirinya yang mulai sedikit goyah dengan keadaan dan realitas dimatanya ini. Saat itu dirinya harus memilih apakah akan terus tetap melanjutkan perjalanan spiritual tersebut atau segera meninggalkan Dieng untuk menengok anaknya. Pilihan yang benar-benar menimbulkan pergolakan batin. “Inikah ujian ?.”

 Akhirnya sebagai Ayah dia tidak tega untuk meninggalkan anaknya yang dia tahu pasti dalam kesakitan yang sangat. Nalurinya seperti mendobrak kesadarannya. Naluri seorang Ayah yang ingin melindungi anak-anaknya. Maka dia memutuskan untuk kembali keesokan harinya, di hari Jumat keesokan harinya juga. Keputusan itu bukan tanpa perlawanan. Dirinya benar-benar harus meredam gejolak lainnya. Gejolak  patriotisme atas perjuangan bangsa ini. “Tugasnya masih belum selesai..apakah dirinya harus kembali..duh Tuhan, berilah kami petunjuk.”Dia mencoba menahan amuk rahsa yang melanda, dengan mencoba berkali-kali menarik nafas panjang. Meskipun pergolakan di dalam dadanya belum juga reda.  Mas Dikonthole mencoba realistis, dia harus menyelesaikan pertemuan malam ini bersama orang-orang masa lalu sampai pagi juga tak mengapa. Itulah tekadnya. Dan besok dia harus pulang , kembali ke Jakarta.

Tekadnya untuk kembali sudah cukup bulat, namun keesokan harinya Mas Dikonthole merasa ada daya terus saja berkecamuk didalam dirinya, ada sesuatu yang salah, jika dia kembali ke Jakarta. Ada sesuatu yang tetap harus diselesaikannya di kota ini. Daya itu semakin mengkristal, daya yang menahannya untuk tetap tinggal di kota ini menyelesaikan tugasnya. Apalagi SMS dari Bp. Aryo yang juga baru saja tiba pagi  (Jumat,29/3) memintanya untuk tetap tinggal, banyak tugas yang harus diselesaikan. Bahkan dengan sangat yakin Bp. Aryo mengatakan itu.

Bp. Aryo meyakinkan bahwa saat dirinya saat sholat melihat lafadz Allah diantara gumpalan awan di langit, itu pertanda bahwa Mas Dikonthole harus tetap tinggal. Hah..Penat sekali rahsa di dada. Mendapat informasi tambahan itu. Bagaimana ini ?. Rahsa dan daya memaksa untuk tetap tinggal, katanya,  ini adalah bagian dari ujian. Terus saja bisikan berkata begitu. Ditambah lagi keadaan dana perjalanan sudah sangat tipis, tidak cukup untuk kembali ke Jakarta. Maka mau tidak mau secara realitas dia harus bersabar, dan tetap tinggal, dia harus ikut pulang hari minggu bersama Bp. Aryo, itulah fakta keadaannya sekarang ini.

Namun logikanya kembali menyergah. Menyuruhnya harus tunduk kepada fakta dan realitas yang lainnya. Anaknya membutuhkan Ayahnya. Apakah nanti dirinya tidak akan menyesal jika terjadi apa-apa atas anaknya ini. Bayangkan saja  sejak anaknya lulus Sekolah Dasar nyaris dia tidak ada waktu untuk anaknya. Sebab dirinya memang jarang di rumah, perjalanan spiritualnya ke kota-kota di Indonesia memaksa dirinya untuk begitu. He-eh. Apakah sekarang ini anaknya akan dibiarkan sendirian dalam keadaan tanpa daya, apakah dirinya tega untuk tidak mendampinginya. “Ugh..Ya Allah berikanlah petunjuk-Mu.”

Sungguh dilema yang sangat sulit bagi Mas Dikonthole, dia hanya manusia biasa. Anaknya juga hanya manusia biasa yang pasti butuh Ayahnya.  Logika sekali lagi gunakanlah logika. Apakah dirinya tidak akan menyesal nanti, jika dia tidak menunggui anaknya. Ugh..!.  Benar-benar hari yang sangat melelahkan bagi Mas Dikonthole. Apa yang harus dilakukannya ?. Tetapkah dirinya akan bersikeras dalam keyakinan spiritualnya. Sungguh Mas Dikonthole seperti dipaksa keadaan untuk memakan buah simalakama. “Ini realitas bung..!” Itulah sergahan sang akal.  Sedangkan keyakinan spiritual hanyalah berada dalam dimensi keghaiban kebenarannya. Ugh..!.  Haruskah dia meyakini yang belum pasti ?.

Logika dan rahsa iba memaksanya untuk pulang dan  segera mendapati anaknya,  sementara realitas dan daya yang lain juga terus memaksanya  untuk tetap tinggal di kota ini barang satu dua hari lagi. Dualitas rahsa itu benar-benar menjepit dirinya. “Ya..Allah !. Bebaskan hamba dari rahsa yangmenjepit ini”  Mas Dikonthole menghembuskan nafasnya dengan keras, sekali lagi, mencoba mencari pijakan baru. Diantara gamangnya itu, dia merasa harus mengisi waktu, dia buka email ada beberapa pesan di inbox salah satunya dari Ratu Sima yang menunjukan empati atas perjuangannya. Sepertinya tiba-tiba seperti ada daya yang kuat yang mendorong dirinya untuk berjalan saja ke ATM  Mandiri terdekat. Maka segera saja dia selesaikan mrembaca email, dengan menjawab seperlunya beberapa email. Akhirnya kemudian dirinya melangkah ke ATM yang berjarak 400 meter dari situ.

Entah daya apa yang mendorongnya kesitu, sementara dirinya juga sudah tahu. Dia tahu pasti bahwa ATM nya kosong. Apanya yang mau diambil ?. Namun daya dorong itu seperti menguasai, dimasukannya saja ATM dengan iseng saja. Kemudian dia enter jumlah yang dibutuhkannya untuk pulang. “Allah hu akbar !.” Dia terpekik, kaget luar biasa, mesin ATM ternyata mengeluarkan uang sejumlah yang di tekannya. Ajaib benar-benar ajaib sekali. Darimana datangnya uang tersebut. Dia ingat-ingat beberapa tagihan atas jasanya menjadi ‘freelance’, rasanya semua belum jatuh tempo. Paling cepat juga awal bulan. Apakah ini bertanda, Allah menjawab doanya dan keresahan hamba-Nya.  Apakah tandanya dirinya diperbolehkan pulang awal terlebih dahulu walau belum selesai tugasnya. Sungguh dia tidak mengerti, kebetulan dan kebetulan lagi. Selalu begitu keadaannya.

Sambil terus bersyukur, dia ambil uang dari mesin ATM, dan keluar dari situ. Sementara tanpa dia sadari langit seperti mengglap. Begitu dia menatap awan, langit sudah penuh dnegan awan yang menggumpal-gumpal, awan terus datang berlapis-lapis, seiring dnegan itu mendadak petir menyambar dan hujanpun turun tak terkendali. Awan sungguh pekat sekali, berlapis-lapis hingga tidak bisa ditembus kedalamannya. Padahal sebelumnya saat dirinya masuk ke ruangan ATM cuaca cerah sekali tidak ada pertanda apa-apa.  Ada perasaan aneh saja melihat fenomena ini. Namun perasaan itu seperti terendap sementara, sebab dirinya ingin tahu siapakah yang mengirimkan uang itu. Jumlahnya kok seperti janggal saja. Maka dia mengirimkan SMS ke beberapa orang yang dirasakan dikenalnya.

Belum lagi dirinya selesai SMS tiba-tiba hujan turun dengan dahsyat sekali. Luar biasa derasnya, sehingga sulit bagi Mas Dikonthole untuk tetap berdiri disitu apalagi untuk  menerobos pulang. Maka dia menunggu di emperan depan bank tersebut. Melihat ada orang sendirian kehujanan Satpam bank berbaik hati menawarkan agar Mas Dikonthole masuk saja ke ruang jaganya. “Syukurlah..” Batin Mas Dikonthole, sebab dirinya jadi tidak basah, dia juga berharap di ruang satpam ada mesin pemanas ruangan.  Keadaan disitu tiba-tiba udaranya menjadi dingin sekali, air yang menerpa badan serasa es yang barus saja terbentuk. Benar-benar dingin sekali. Dingin yang aneh saja.

Dalam ruang yang hanya berukuran 1 x 1.5 meter,  diruangan pos Satpam, Mas Dikonthole diam menunggu hujan reda. Ada sergahan rasa yang tak biasa, perasaan bahwa awan dan hujan ini tak semestianya. Maka dicobanya untuk terus memasuki kesadarannya, mencoba lebih dalam lagi. Sambil terus ber-silatun kepada Allah,   mencoba memindai, mencari sensasi rahsa yang dikenalnya, menelusuri perasaan-perasaan yang datang selih berganti itu. Mas Dikonthole berdzikir, menghadapkan seluruh rahsa, berserah atas apapun yang bakalan nanti terjadi, termasuk juga seandainya dirinya tetap harus bertahan di Dieng 1 atau 2 hari lagi.  Dia dalam kepasrahan yang diyakininya.

Perlahan seperti muncul sebuah petunjuk kepada dirinya, agar dia memperhatikan awan yang menggelap di atas kota itu. Berusaha untuk masuki saja terus kedalaman sang awan. Maka dia akan bisa melihat sebuah tanda. Begitu kilasan firasatnya. Tanda alam yang memang harus dia saksikan. Sebuah keyakinan perlahan mengendap, bahwa dia dikota itu, bahwa raganya ada disitu adalah untuk menjadi saksi sebuah tanda alam yang sebentar lagi akan dimunculkan di balik  sang awan nanti. Maka sambil menunggu tanda yang akan dinampakan sang alam, Mas Dikonthole juga  SMS kepada Pak Aryo untuk sholat dan segera melakukan hal sama, memperhatikan langit, menembus kekedalaman awan.

Benar saja kilasan firasat itu, selewat ashar tanda itu muncul. Mas Dikonthole melihat ada sebuah putaran dimensi dibalik awan tersebut, sebuah pusaran maha dahsyat berputar-putar diatas langit tertutup awan yang menggelap diantara hujan deras yang mengguyur kota itu. Diantara desiran angin dan hujan. Seperti putaran sebuah galaksi  yang dia saksikan di televisi. Benarkah itu  sebuah pertanda bahwa pergantian kekuasaan atas kesadaran akan terjadi di bumi nusantara ini ?. Mas Dikonthole seperti diberikan daya untuk meyakini kebenaran hal itu. Pergantian kekuasaan yang akan terjadi di bumi nusantara ini.  Tidak saja akan terjadi pada dimensi ghaib saja, namun juga akan merembet ke dimensi realitas. Nusantara akan memasuki dimensi baru, dimensi kesadaran yang akan merubah seluruh tatanan yang ada. Semua akan seperti dibalikkan. Itulah pertandanya. Allh hu akbar. Diam dalam takjim berdoa, memohon agar semua diselamatkan-Nya. Agar bangsa ini, agar anak keturunannya tidak habis terlibas jaman.

Itulah yang dilihat kesadaran Mas Dikonthole, pertanda alam. Disamping apa yang dilihatnya, khabar yang diterima via SMS dari Pak Aryo juga menggembirakannya, apa yang dilihat Pak Aryo hampir senada dengan yang dilihat oleh Mas Dikonthole. Karenanya, ada perasaan lega yang menyergahnya, jika itu memang tugas yang diembannya, adalah  menjadi saksi pergerseran dimensi yang baru saja dimulai yang tandanya ternyata ada di kota itu. Diatas kota yang dahulu menjadi legenda Kota Saba, Wanasaba. Maka sungguh itu patut disyukuri, terhyata Tuahan mendengar doanya. 

Kemudian dalam kilasan detik diperlihatkan dalam kesadaran Mas Dikonthole bagaimana kejayaan kerajaan Ratu Sima. Sekarang bekas-bekas terkubur di bawah kota ini, membentang sepanjang kota-kota berikutnya hingga mencapai Borobudur, dan masih terus meluas lagi hingga kesadaran Mas Dikonthole takmampu melihatnya lagi. Kilasan itu sepersekian detik, namun cukup untuk menjadi keyakian Mas Dikonthole bahwa kejayaan kerajaan tersebut memang nyata.

Setelah proses itu mereda, kira-kira berlangsung hampir 2 jam lamanya. Kemudian Mas Dikonthole kembali disadarkan atas realitas dirinya. Apakah dirinya akan diijinkan pulang hari ini ?. Jika benar tugasnya yang utama adalah untuk menjadi saksi fenomena alam tersebut, maka bukan tidak mungkin jika dirinya juga diijinkan pulang sore ini. Tak ayal dirinya kemudian ber-tafakur, agar diijinkan pulang. Dia yakin jika dirinya diijinkan maka hujan juga akan berhenti, itu tandanya. Dan dia akan dimudahkan untuk mendapatkan bus untuk kepulangannya ke Jakarta. Yah, hanya pertolongan Allah saja jika memang dia harus pulang sore ini. sebab keadaan hujan juga demikian derasnya lagi pula jika sudah sore hari, tidak ada lagi bus yang ke Jakarta, bus paling akhir biasanya jam 6 sore. Mas Dfikonthole hanya bisa berharap saja. Kepada Pak Aryo dia juga berkata hal yang sama.

Itulah hari yang kemarin  Mas Dikonthole lewati. Sekarang dia sudah ada disini, menemani anaknya. Sungguh perjalanan yang menegangkan yang dialami Mas Dikonthole hingga sampai disini, demi menunggui anaknya yang masih  terbaring dalam tidurnya yang lama. Mas Dikonthole meluruskan badannya dikursi disamping tempat tidur anaknya itu, kemudian dia menarik nafas lega,  Ada rahsa yang tak mampu diungkapkannya. Tuhan ternyata mengabulkannya. Meski tugasnya tidak sempurna 100% seperti saat tugas yang lainnya. Namun setidaknya dia merasa cukup jika tugas utamanya telah dia selesaikan. Maka sat ini, di puas-puaskannya memandangi tubuh anaknya dengan penuh rasa iba. Namun kembali terbersit rahs yang masih menggelisahkan, desela bahagia adalah bagaimana hasil scan anaknya ini. Apakah benturan dikepalanya akan berbahaya bagi masa depannya. Itulah yang sekarang melangutinya.

Akhirnya siang hari khabar itupun datang, hasil scan anaknya sungguh mengembirakannya. Benturan dikepala, dan tempurung kepala yang lembek seperti lenyap tiba-tiba. Digambar foto scan tak nampak sedikitpun trauma, dalam keterangan disitu tidak ada gumpalan darah, tidak nampak ada trauma yang dapat membahayakan jiwanya. Keadaannya bersih.  Luar biasa sekali, Tuhan telah menolong anaknya. Allah telah memperlihatkan kekuasaan-Nya. Allah hu akbar 3x.

Di dengarnya dari keterangan dokter yang menjelaskan kepada istrinya dan rekan-rekan lainnya, bahwa  banyak kasus yang serupa  sebagaimana kasus anaknya itu, semua meninggal atau harus mengalami operasi beberapa kali. Ajaib, sungguh ajaib sekali. Benturan tersebut hanya mengakibatkan pening saja pada anaknya, hanya menganggu sistem kesadarannya saja, sehingga anaknya cukup harus istirahat saja. Dia diharuskan istirahat total 3 minggu untuk mengembalikan kondisinya. Setelah itu,  secara alami otak akan menyembuhkan dirinya sendiri. Dan proses menyembuhkan dirinya itulah yang menyebabkan anaknya tidur terus sepanjang hari. Betapa syuklurnya Mas Dikonthole, seiring rasa syukur yang menggempita di dalam dada, alam sepertinya turut juga mengerti. Mendadak hujan datang berikut dengan petir yang sambung menyambung diatas rumah Mas Dikonthole. “Sungguh sangat nyata sekali kuasa-Mu ya Allah.”  Subhanalloh..

walohualam









Senin, 25 Maret 2013

Kisah Spiritual, Melacak Keberadaan Sang Pertapa Sakti


Khabar kepastian keberangkatan ke Dieng sudah diterima  dari alam. Alam juga sudah menyiapkan sarananya, seorang dermawan menyumbangkan sedikit hartanya untuk keperluan itu. Kemana tempat yang akan dituju ?. Itulah yang hingga sampai saat sekarang ini masih menjadi pertanyaan juga. Hanya sedikit firasat menguatkan bahwa dirinya harus melacak tokoh sakti yang sudah berumur 1500 tahun. Tokoh yang melegenda di masyarakat sana.

Masyarakat di lereng pegunungan Dieng yang berada sejalan dari arah Wonosobo meyakini bahwa tokoh itu memang ada. Banyak saksi yang pernah melihat kedatangannya. Konon saat datang selalu didahului oleh petir yang menyambar ke tanah menimbulkan  percikan api dan asap. Persis seperti sinetron laga dilayar kaca. Dan ketika asap sirna terlihatlah sosok orang yang berpenampilan biasa saja. Seperti orang-orang kebanyakan disana, hanya masih menggunakan pakaian jawa kuno. Perawakan normal tergolong kurus. Masyaarkat disana memanggilnya , “Mbah Arum”.

“Benarkah tokoh itu ada ?.“ Mas Dikonthole sempat mengkrenyitkan dahinya. Mengapakah semakin lama perjalanan spiritualnya semakin aneh saja. Jika manusia berumur ratusan tahun mungkin masih wajar, dilereng pegunungan Himalaya masih banyak ditemui pertapa-pertapa yang berumur diatas 200 tahun, tapi kalau berumur 1500 tahun ?. “Waduh, apa jangan-jangan dia termasuk golongan jin .”  Entahlah Mas Dikonthole tidak berni ber spekulasi lebih jauh, dia ingin menyaksikan dnegan mata kepalanya sendiri tokoh sakti yang satu ini.

Pak Aryo juga meyakinkan dirinya, bahwa tokoh itu benar-benar ada. “Manusia biasa seperti kita.” Katanya dia juga pernah bertemu sekali. “Hik..benarkah..?.” Rasanya tak masuk logika, dan semakin dipikir semakin pening rasanya dikepala. Sekarang ini dia hanya fokus kepada daya yang menggerakkan saja. Biarlah alam yang menampakkan kepada dirinya, jika memang tokoh itu benar adanya, dan memang hak untuknya mengetahui fenomena tak biasa ini. Jika memang haknya, tentunya tokoh tersebut nanti akan mau  ditemuinya.

Jika toh, benar tokoh itu ada, pasti sejaman dengan sang Ratu Sima itu sendiri. Bukankah akan kebetulan sekali jika dia dapat bertemu dengannya. Mungkin dengan itu dia akan mampu menyibak misteri legenda sang Ratu itu sendiri. Itulah yang dipikirkan Mas Dikonthole. Kemudian akan menjadi jelas mengapa dirinya dipertemukan dengan tokoh Kangmas dan juga tokoh-tokoh lainnya yang pertalian dengan kerajaan Kalingga, Sunda Galuh hingga Pajajaran kemarin ini. Juga bagaimanakah peranan mereka nantinya dalam melahirkan peradaban nusantara baru. Biarlah nanti waktu yang akan memberitahu.
Pergolakan politik, pergolakan dinamika masyarakat, tingkat kriminalitas, dan begitu banyak problematika masyarakat lainnya, inilah  yang sekarang ini terasa sekali disekitar kita. Bangsa kita sedang sakit. Bangsa yang sedang menuju kepada jurang penghancuran dirinya sendiri. Realitas kehidupan berbangsa yang tidak nyaman, telah menghantui seluruh masyarakat. Entah sebab apa, kadang kita sendiri tidak mengerti. Kita seperti larut dalam drama komedi yang sungguh menggelikan sekali. Ulah para tokoh politik negri dan pejabat negri  ini yang lucu-lucu, sebab mereka seakan bangga sekali dengan permainan mereka itu. Mereka tidak menyadari bahwa baju dan celana mereka sudah terbuka, hingga auratnya nampak sekali dimata.

 Maka wajar saja jika alam mulai murka, maka wajar saja jika kemudian para leluhur negri ini, ‘cingcut taliwanda’, menyingsingkan lengan baju mereka untuk membenahi kebobrokan bangsa ini. Membenahi buruknya akhlak anak keturunan mereka itu. Bukankah Allah senantiasa akan meminta pertanggung jawaban kepada diri mereka juga. Yaityu pertanggung jawaban atas apa-apa saja  yang mereka tinggalkan, bekas-bekas kesadaran yang mereka turunkan akan dimintakan pertanggung jawaban. Begitu beratnya tanggung jawab orang berilmu. Maka menjadi pemikiran kita sekarang ini, benarkah sudah saatnya mereka (leluhur) reinkarnasi lagi ?.

“ Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami tuliskan segala yang mereka kerjakan dan bekas-bekas (kesadaran) yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan dalam Kitab Induk yang nyata.” (QS. Yasin ;12)
Kesadaran (pemahaman) yang  ditinggalkan ‘sang Aku’, akan membekas dan berefek kepada entitas lain.  Dan karena sebab pada hakekatnya diri kita manusia selalu ada pasangannya.  Kesadaran ‘sang Aku’ mereka (leluhur) akan melakukan duplikasi, menguat dan mengkristal pada diri entitas yang memang serupa dengan diri mereka (kembaran). Duplikasi ‘sang Aku’ inilah yang kemudian akan menajdi kesadaran ‘Aku’ berikutnya, mereka akan menempati dimensi nya sendiri.
Kesadaran ini banyak dikenal dengan pelbagai versi, seperti saudara kembar, kakang kawah dan adik ari-ari, qorin, leluhur, Guru Sejati, atau kadang mereka menyebut Ruh Sejati. Hakekatnya sulit sekali membedakan hal ini. Sebab mereka pada alamnya, pada dimensinya. Mereka kadang  menepati nirvana dan kadang mengelana di jagad raya seuysai dengan amal kebai8kannya pada masa hidupnya. Itulah, sebelumnya mereka diam dalam dimensi mereka sendiri, hingga kemudian alam membutuhkan mereka, mengembalikan mereka kealam manusia (menghidupkan) mereka kembali. Melalui raga-raga anak-anak cucu mereka yang memiliki kesamaan genetika DNA nya.  Maka wajar saja jika kemudian  jika kesadaran ini akan mencari anak cucunya kembali, dan fenomena ini kita kenali dengan reinkarnasi.  Pemahaman inilah yang menjadi keyakinan Mas Dikonthole menyoal reinkarnasi ini.
Blam..blam..semua keyakinan ini semakin mengkristal. Menyadari dan memahami siapakah hakekat diri mereka. Mereka para leluhur bangsa ini. Mereka duplikat ‘sang Aku’ dari leluhur. ‘Aku sejati’ akan kembali kepada Allah. Namun ‘Aku lainnya’ masih harus terus mempertanggung jawabkan bekas-bekas yang mereka tinggalkan hingga mereka menuntaskan semua pekerjaan yang sudah dibebankan atas mereka semua. Bekas-bekas peradaban, bekas-bekas kesadaran yang kemudian telah melahirkan kesadaran-kesadaran lainnya.
Pemikiran mereka (leluhur) bisa jadi telah melahirkan pemikiran dan pemahaman lain bagi anak generasi berikutnya, kesadaran anak cucu yang sudah jauh melenceng dari kebenaran illahi. Kesadaran yang mereka tinggalkan telah mengalami difraksi memecah menjadi banyak sekali. Kesadaran itu diperadaban terkini telah berani menantang Tuhannya. Kesadaran yang telah  menentang system alam itu sendiri. Membuat kacaulah peradaban dan tatanan bumi ini. Manusia merajalela sebab kesadaran mereka telah diracuni.
Diracuni oleh pemikiran-pemikiran yang tidak sejalan dengan fitrah manusia itu sendiri. Itulah keadaan kesadaran manusia terkini di bumi nusantara ini. Keadaan ini menjadi keprihatrinan mereka semua para leluhur di demensi mereka. Begitulah yang disaksikan Mas Dikonthole. Alam sendiri yang menceritanya sendiri.
Apa yang diwasiatkan Prabu Siliwangi, Ranggawarsitoi, Ki Ageng Selo, Jayabaya, dan semua leluhur bangsa ini, terlihat senada. Mereka para leluhur sudah membaca , Membaca alam ini, jauh sekali sebelum itu terjadi.  Mereka mengerti jika suatu saat nanti anak cucu bangsa ini akan mengalami jaman yang seperti ini. Jaman kalabendu, jaman anak sudah menjadi bapak, jaman ibu mengubur bayi mereka, jaman bapak menghamili anak, jaman anak menyetubuhi ibunya, jaman bapak memutilasi istri. Jaman nyawa manusia seperti laron-laron saja, yang sering mati tanpa tahu kenapanya.
Lihatlah tentara menghabisi rakyatnya, polisi menakut-nakuti rakyatnya. Maka rakyat mulai murka melibas apa saja, tidak pejabat negri, tidak petani, semua sudah murka. Mereka semua mengamuk. Sang parabu sudah melihat polah anak cucunya. Dan itu kita alami sekarang ini, lihatlah nusantara kita ini. Lihatlah bangsa kita sekarang ini. Kita tinggal menunggu saja saatnya 7 gunung meletus dalam waktu yang nyaris bersamaan. Sebagaimana wangsit sang Prabu. Tanda-tanda itu sudah mulai terlihat, paku bumi telah meleset ke angkasa. Maka pesan wangsit sang Prabu Siliwangi saat sekarang ini haruis mampu dimaknai oleh anak cucunya. Kemanakah mereka melangkah, Selatan, Utara, Timur atau Barat ?.
Duh, Mas Dikonthole hanya mampu menetapi langkahnya sendiri, berusaha dengan caranya sendiri. Bersama para pertapa sakti, mencoba memperbaiki kerusakan yang terjadi, berusaha meminimalisir kemungkinan terburuk yang akan terjadi atas murkanya sang alam. Bersama para leluhur yang telah siap menyusup ke raga-raga manusia terkini.
Mereka yang di Pesisir Utara telah menyiapkan diri, mereka yang di Barat, di tanah Pasundan tinggal menunggu komando sang Prabu. Satu demi satu kekuatan tersusun, mereka telah termobilisasi, kesatuan demi kesatuan telah terbentuk. Turunnya para raja raja tanah jawa, dari setiap masanya hampir terwakili. Tinggal dari Demak, Pajang, dan Luar Jawa, menunggu tanda yang sama. Mereka akan berperang dengan cara mereka sendiri. Memerangi dedemit, dan hantu gentayangan yang menguasai para pejabat negri. Maka ditetapkannya langkah. Mas Dikonthole  minggu ini meski  ke daerah Dieng, untuk menemui Mbah Arum, tokoh manusia sakti dari era ratu Sima yang sekarang ini masih tetap menunggui pertapaan sang Ratu.

Wolohualam bisawab

Minggu, 24 Maret 2013

Kisah Spiritual, Wangsit Prabu Siliwangi (Anak Keturunan Pajajaran)


Aswrwb,

Apa khabar mas ?. Posisi sekarang dimana ?. Jika ada di Jakarta, barangkali bisa main ke rumah mas. Saya minggu ada di rumah. Mungkin sudah saatnya, waktu  sudah dekat. Sudah ditunggu peranan 'sang paduka raja' oleh alam ini.    Semoga Tuhan merestui.

amin

salam

Email ini dikirim Mas Dikonthole beberapa hari yang lalu. Seorang rekan yang semula hanya dikenalnya melalui dunia maya. Mengapakah kepada dia ?. Kembali itu juga menjadi pertanyaan yang sama pada dirinya. Hanya menjadi sebuah rangkaian kejadian yang sepertinya, nanti akan terkait dengan fenomena tercabutnya paku bumi.

Tak lama kemudian menadapat jawaban sbb ;

Waalaikumsalaaam, insya 4JJI Mas , Insya 4JJI sore bisa ke sana.

Mengenai "peran" tersebut td sore istri saya cerita bahwa akhirnya istri saya bisa ikhlas dan lepas ganjalan mengenai "peran" tersebut. Dia kaget dan langsung cerita begitu sy forward email Mas, ke istri saya. Krn sebelumnya dia enggan menerima untuk2 hal-hal tersebut, lalu tiba2 kmaren malam dia jadi menerima, lalu dpt email Mas. Dia kaget kok nyambung dan kontak semuanya. Seperti kebetulan. Mudah2an lancar jika satu keluarga satu suara.

Insya 4JJI Yang Maha Kuasa merestui.




Alhamdulillah pertemuan hari minggu kemarin terjadi. Kembali sulit sekali memaknai jika dalam realitas terkininya, terlihat sebagaimana pertemuan biasa saja. Tersingkapnya sosok orang masa lalu, dan sederet peranan yang harus dilakukannya, mungkin akan menjadi debat lagi adanya. sebagaimana pelakunya sendiri yang terus saja mencoba memaknainya sendiri. Peranan yang jauh hari sudah disusupkan kepada dirinya sejak dia mulai bayi. Realitas terkini dan kesadaran ghaibnya tidaklah mudah untuk dimengerti. Maka menjadi sebuah harap jika pertemuan kemarin akan menjadi impuls untuk menggerakan pendulum yang sekian lama diam disana. Semoga. Dan jikalaupun kejadian pertemuan kemarin dikisahkan disini, sungguh hanya akan menjadi rangkaian pertanyaan lainnya yang tak mungkin mampu dijelaskan dengan logika biasa.
...

Bercerita tapi tak tahu kemana muaranya. Menyudahi tapi tak mampu berhenti. Memaknai tapi tidak pernah mengerti. He-eh bagaimana ini ?. Mengapa seperti ada kekuatan yang menahan agar Mas Dikhonthole tidak menceritakan  bagian kisah yang ini. “Sosok ini harus tetap menjadi misteri.” Katanya.  Biarlah menjadi milik masyarakatr yang meyakini.  Biarlah sosok ini tetap menjadi miliki kesadaran kolektif masyarakatnya saja. Akan berbahaya sekali jika dibuka keberadaannya. Mas Dikonthole merasa pening dikepala saat bertanya mengapa ?. Hawa selaput lembut sekarang meliputi kepalanya saat dia mencoba memaksa menembus keadaan dirinya.

Cukuplah hanya orang-orang yang hak saja yang tahu. Itulah pesannya. Siapa dirinya, apa peranannya, dan mengapakah dia harus menjadi bagian kisah spiritual Mas Dikonthole. Biarlah episode ini menjadi bagian yang tersamar saja. Berulang kali telah dicoba diketikkan, namun apa yang terjadi, rasa pening kepala yang menyergahnya membuat dirinya kehilangan kalimat yang akan diketikannya.

Bahkan suatu saat..Blegh…tiba-tiba seperti ada hawa yang merasuki agar dirinya tidak melanjutkan lagi. Banyak bagian yang lain yang rasanya lebih layak tayang dalam episode ini. Biarlah sosok itu dirahasiakan keberadaannya sampai waktu yang tidak tertentu.   Akhirnya dirinya menyerah, jika alam ingin tetap merahasiakannya, maka ya..sudahlah.

Ribuan semut telah merayapi kepala, membuat dirinya seperti tak mampu berfikir lagi. Semut-semut api rasanya telah menguasai otak dan pikirannya. Maka diendapkannya seluruh kisah yang ingin dikhabarkannya hari ini. Sudahlah. biarlah nanti saja, jika alam sudah mengijinkannya. Maka beralihlah dirinya kepada aktifitas lainnya. Sementara tulisan ini disimpannya di my document di komputernya, entah kapan akan dilanjutkannya.

Ditinggalkan mejanya, ribuan semut rahsanya seperti menebarkan radiasi yang menyebabkan darah bergumpal di kepala. Dia turun ke bawah sebentar melakukan meditasi di sebuah kursi namun gumpalan yang menyumbat otaknya sepertinya tidak mau cair jua. Kesadarannya tak mampu menembus gumpalan rahsa tersebut. Rahsanya seperti kehilangan keseimbangan saja. Keadaannya seperti bingung saja, bingung yang tak dimengertinya. Mengembalikan smeua itu kepada Tuhannya. Mencoba membaca tanda-tanda lagi. Entah apa lagi ?.

Mungkin ada 2 jam diseperti itu, hingga tak sengaja dicobanya membuka email lagi. Hmm masuk email ke inboxnya yang berisi syair petuah Prabu Siliwangi, dan byar…gumpalan disebelah atas kepala tiba-tiba menghilang, cair begitu saja. Maka mulailah dibaca perlahan saja. Wangsit Sang Prabu Siliwangi sebelum Tilem (Moksa). Email dari rekannya yang kemarin baru saja dia email itu.

Ngahiangna Pajajaran
Pun, sapun kula jurungkeun
Mukakeun turub mandepun
Nyampeur nu dihandeuleumkeun
Teundeun poho nu baréto
Nu mangkuk di saung butut
Ukireun dina lalangit
Tataheun di jero iga!

Dst…dst….

Rangkain syair yang menceritakan kejadian demi kejadian. Peradaban demi peradaban. Tahun berganti, kekuasaan berganti. Silih bergantinya para penguasa. Syair yang begitu dalam sekali maknanya. Apa yang tersirat bukanlah apa yang tersurat. Bagaimana dikisahkan tingkah polah para anak keturunan Pajajaran nantinya.  

Anak-anak keturunan Pajajaran akan bertebaran di bumi Nusantara ini, Semua symbol perumpamaan yang akan mengabarkan bagaimana keadaan mereka semua. Mereka yang akan mengikuti perjalanan takdirnya masing-masing. Mampukah keadaan diri mereka sekarang ini membaca pesan beliau,  Dengarkan! Yang ingin tetap ikut denganku, cepat memisahkan diri ke selatan! .Yang ingin kembali lagi ke kota yang ditinggalkan, cepat memisahkan diri ke utara!. Yang ingin berbakti kepada raja yang sedang berkuasa, cepat memisahkan diri ke timur! .Yang tidak ingin ikut siapa-siapa, cepat memisahkan diri ke barat!.” (Kutipan bebas serat Prabu Siliwangi)

Tercabutnya paku bumi sekarang ini, akan menimbulkan kegoncangan alam semesta. Maka kepada anak keturunan Pajajaran, diminta untuk mengambil sikap. Sikap yang harus menjadi keyakinan mereka semua. Kearah mana mereka akan mengabdikan diri mereka, sesuai dengan kapasitas diri mereka masing-masing. Semua pilihan itu akan mengandung konsekwensi yang luar biasa sekali. Sudah dicontohkan kepada mereka para keturunan Pajajaran generasi pertama, sepeninggalannya Prabu Siliwangi.. Mereka para generasi pertama,  sudah membuktikan sendiri. Bagaimana keadaan anak keturunan Pajajaran maka . saatnya sekarang ini mereka harus mengikuti hati, mengikuti daya alam yang akan menggerakkan mereka. Bukan lagi menuruti nafsu mereka. Sebab kejadiannya sudah kita saksikan sendiri, bagaimana kesudahannya bagi mereka yang mengikuti daya selain Allah.

Kerajaan Sunda-galuh, Kerajaan Pajajaran, semua terangkai dalam fenomena yang dialami oleh Mas Dikonthole, menjadi sebuah cerita bagaimana kesadaran manusia (mim) dipergilirankan. Mampukah sekarang ini mereka raga terkini, menetapi pesan leluhur tanah Sunda ?.  Apakah mereka akan mampu memahami pesan-pesan ini. Apakah mereka akan tetap tidak mengerti ?. Jikalau saatnya telah tiba..?

Penguasa yang buta, semakin hari semakin berkuasa melebihi kerbau bule, mereka tidak sadar jaman manusia sudah dikuasai oleh kelakuan hewan.

Kekuasaan penguasa buta tidak berlangsung lama, tapi karena sudah kelewatan menyengsarakan rakyat yang sudah berharap agar ada mukjizat datang untuk mereka.

Penguasa itu akan menjadi tumbal, tumbal untuk perbuatannya sendiri, kapan waktunya? Nanti, saat munculnya anak gembala! di situ akan banyak huru-hara, yang bermula di satu daerah semakin lama semakin besar meluas di seluruh negara. yang tidak tahu menjadi gila dan ikut-ikutan menyerobot dan bertengkar.

Dipimpin oleh pemuda gendut! Sebabnya bertengkar? Memperebutkan tanah.

Yang sudah punya ingin lebih, yang berhak meminta bagiannya. Hanya yang sadar pada diam, mereka hanya menonton tapi tetap terbawa-bawa.” (Cuplikan bebas serat Prabu Siliwangi)

Perlahan gumpalan darah beku mencair, saat Mas Dikonthole mampu menafsirkan makna pesan-pesan beliau. He..eh. “Duh Dewa Jagad Bathara Agung, Sang Hyang Widhi Wase, Tuhan Yang Maha Tinggi.” Rasa perih, dan pedih, mencengkramnya, menetep di dada kiri atas. Perih merasuki, melihat bagaimana nasib bangsa ini. Pedih mengapakah anak-anak manusia harus menjalani lakon ini. Mengpakah dirinya yang harus menjadi saksi. “Ya Allah. Bagaimana lagi jika airmata ini sudah tak cukup ?.” Desah Mas Dikonthole. Menetapi lagi sebuah informasi.

“Lalu sayup-sayup dari ujung laut utara terdengar gemuruh, burung menetaskan telur. Riuh seluruh bumi! Sementara di sini? Ramai oleh perang, saling menindas antar sesama. Penyakit bermunculan di sana-sini. Lalu keturunan kita mengamuk. Mengamuk tanpa aturan. Banyak yang mati tanpa dosa, jelas-jelas musuh dijadikan teman, yang jelas-jelas teman dijadikan musuh. Mendadak banyak pemimpin dengan caranya sendiri. Yang bingung semakin bingung. Banyak anak kecil sudah menjadi bapa. Yang mengamuk tambah berkuasa, mengamuk tanpa pandang bulu. Yang Putih dihancurkan, yang Hitam diusir. Kepulauan ini semakin kacau, sebab banyak yang mengamuk, tidak beda dengan tawon, hanya karena dirusak sarangnya. seluruh nusa dihancurkan dan dikejar. Tetapi…ada yang menghentikan, yang menghentikan adalah orang sebrang.” (Serat bebas Prabu Siliwangi)


Bukankah sekarang ini jamannya. Anak menzianahi Ibu. Dan Ayah menghamili anaknya. Suami memutilasi Istri, Duh..apalagi yang belum terjadi ?.

Sekian lama merenenungi. Hawa hangat mengalir ke kepala, pikirannya kembali biasa. Apakah maknanya ?.  “Dengarkan! jaman akan berganti lagi, tapi nanti, Setelah Gunung Gede meletus, disusul oleh tujuh gunung. Ribut lagi seluruh bumi. Orang sunda dipanggil-panggil, orang sunda memaafkan. Baik lagi semuanya. Negara bersatu kembali. Nusa jaya.” (Cuplikan Serat Prabu Siliwangi).

Bacalah dan resapi. Saatnya alam sudah memberi tandanya. Gunung-gunung akan bergolak lagi. Dimulai dari tanah perdikan Ratu Sima, melebar kemana dia suka. Gejolak alam yang akan menciutkan nyali. Mampukah manusia meminimalisir dampak kerusakannya. Pertanyaan yang sulit sekali. Hanya sebuah ikhtiar dan doa, jika itu harus dilakukan. Ya..Mas Dikonthole harus berjalan, melakoni laku spiritualnya lagi. Melangkah ke petilsan Ratu Sima, mencari sisa-sisa peradaban. Menyambangi seorang tokoh sakti yang konon umurnya sudah 1500 tahun.  Masyarakat sekitar menyebutnya ‘Mbah Arum’. Mungkin saja dia mengerti dan tahu tentang hal ini.

Sungguh alam sangat arif, memberi khabar semua ini, agar kesadaran yang suci mampu memaknai. Ditengah issue kudeta dan gempa bumi di negri ini. Mas Dikonthole tetap melakoni jalannya sendiri. Memberi arti dan makna atas semua yang terjadi. Mencari hakekat sebuah kejadian di bumi ini. Apa yang kita saksikan dilayar kaca, adalah buah dari sebuah program yang luar biasa sekali didalamnya. Maka seperti itulah perumpamaan menjelaskan fenomena manusia-manusia yang saat sekarang ini tengah meributkan kekuasaan mereka diatas bumi ini. Sudah saatnya, alam yang akan memeilihnya sendiri. Siapakah nanti yang akan meemimpin meerka. Siapakah nanti ayang akan menjadi khaliufah di bumi nusantara ini. Tunggulah saatnya. Dan alam juga menunggu..

wolohualam

Rabu, 20 Maret 2013

Kisah Spiritual, Bilakah 7 (Tujuh) Paku Bumi Telah Tercabut ? (2)



Seperti menata lagi kisah lalu. Memilih dan memilah file mana yang akan diputar. Seperti songket-songket memory pada hardisk yang sedang di ‘searching’.  Saat sekarang kesadarannya seperti diam. Diam  didalam mesin prosesor komputer raksasa. Melihat cara bekerjanya yang begitu sempurna, tak urung diri terpana. Jiwanya hanya terdiam. Diam menanti bagian yang manakah yang akan ditampilkan dilayar monitor. 

Menunggu yah, dia sekali lagi hanya diam  menunggu, mengamati saja, kadang dirasakan ada getaran gerak otomatis mesin pencari yang sedang memindai file yang akan dipilih untuk tampil dilayar monitor.  Meski kadang dalam kebisuan yang lama. Yah system pada mesin  itu bergerak otomatis, mencari mana-mana yang harus disaksikan Mas Dikonthole. Dan tiba-tiba seperti ada sesosok yang masuk ke raganya, menuntunnya, mengarahkan pada bagian yang memang sedang dicarinya. Sebuah kisah masa lalu, dan ternjyata pelakunya sendiri yang membantu, dan  kemudian meninggalkan jejak-jejak informasi pada raga Mas Dikonthole.

Setelahnya..blam..blam..bagai menonton sebuah film, dimana layarnya terpampang didalam kesadaran. Frame demi frame berlintasan. Kadang sangat cepat. Kadang begitu lambat sekali. Anehnya, akal dan pikiran sulit sekali mengikuti, lintasan-lintasan yang menimbulkan sensasi aneh.  Bagai romantika sejarah yang diputar ulang. Sejarah yang tidak pernah tercatat didalam buku. Sejaran yang hanya pelakunya sendiri yang tahu. Hanya kesadaran yang terus diam memperhatikan residu rahsa yang tertinggal. Rahsa yang akan mampu terbaca. Dan..

Kesadaran Mas Dikonthole terguncang hebat, terseret  memasuki lorong waktu, sementara akal dan fikirannya tertinggal jauh dimasa kini. Dirinya meraba di kegelapan sana. Mengurai benang kejadian, bagian yang masih menjadi rahasia sejarah, rahasia Ratu Sima dan kerajaannya. Lengkap dengan kisah cintanya yang terbisukan. Tangisnya bersama angin. Rintihannya menantang malam. Keluhnya menyobek langit. Dia diam, sebab bisunya membekukan pepohonan. Tidak ada satupun musuh yang ditakuti di medan perang, biar mereka selaksa pasukan. Namun kini dia kalah pada hati. Rahsa cinta yang menusuki. Membuatnya harus reinkarnasi lagi.

Dibalik ketegasan, dan kekerasan hatinya. Dialah sosok yang sangat lembut, cintanya telah menembus peradaban-peradaban  setelahnya. Kasihnya bertebaran bagai debu. Hanya kebisuan dan kesunyian yang dirasakan. Kekasihnya hilang entah kemana rimbanya. Maka dia sendirian memimpin kerajaannya. Kerajaan Kalingga.

Siapakah Ratu Boko ?. Siapakah Ratu Sima ?. Apakah orang yang sama ?. Banyak kisah legenda yang mengkhabarkan bahwa  mereka adalah orang yang sama. Darimanakah asal dan muasal Ratu Sima. Tidak ada satupun ahli sejarah yang mengetahuinya. Keberadaannya penuh misteri, sebagaimana msiterinya Keberadaan Ken Arok. Tim ekspediasi IAIN dari Jogja berspekulasi bahwa Ratu Boko adalah Ratu Bilkis yang dikisahkan Al qur an. Legenda ini kemudian menjadi mitos keadaannya.

Namun Mas Dikonthole meyakini meraka tidaklah sama sebagaimana yang disangka. Mereka seperti satu keping mata uang. Mereka seperti dua buah sisi pintu. Jika kita berada di luar maka kita akan berada pada dimensi yang satu, tapi jika kita berada di sebelah dalamnya, kita juga akan berada pada dimensi yang berbeda lagi. Dimensi yang tidak sama antar diluar dan di dalam. Sungguh keadaan yang membingungkan. Saat manakah dia sebagai Ratu Sima dan saat manakah dia akan sebagai Ratu Boko. Semua itu tergantung kepada kepentingan dan restu alam itu sendiri. Dan saat sekarang ini yang reinkarnasi adalah Sang Ratu Sima. Dia yang akan menempati raga yang baru. Meski kedatangannya juga dihantarkan oleh Ratu Boko. Itulah keyakinan Mas Dikonthole. Hal ini sesuai dengan sifat dan karakter dari raga terkjininya yang dirasakan Mas Dikonthole lebih selaras dengan energy Ratu Sima daripada energy Ratu Boko.

Lalu kenapa kisah ini menjadi bagian perjalanan Spiritual Mas Dikonthole ?. Apakah semua ada hubungannya dengan tatanan nusantara baru. Apakah sebab tokoh-tokoh yang tampil sejalan dengan sejarah peradaban yang menjadi cikal bakal peradaban nusantara ini ?.  Entahlah. Mas Dikonthole hanya bisa membaca saja. Diam mengamati dan kemudian membuat catatan untuk dikisahkan. Mengarungi perjalanan, membiarkan raga digerakan alam. Itu saja. Kembalinya terserah sidang pembaca untuk memaknai.

Simpul-simpul perajalanan spiritual Mas Dikonthole seperti diarahkan untuk bertemu dengan orang-orang yang bertanggung jawab atas peradaban nusantara. Mengapa kejadiannya begitu ?. Entahlah, tanpa dia meminta dan juga tanpa dirinya mengerti.  Sungguh sebab merekalah yang meletakkan dasar-dasar kesadaran. Begitu besar jasa mereka, begitu berwibawa perbawaan mereka. Namun bagaimanakah ceritanya, jika kemudian Mas Dikonthole  mengetahui ada kisah cinta yang tersembunyi. Ugh. Mungkin iItu hanyalah penggalan bumbu saja. Sebuah penjelasan mengapakah begitu kuat sekali getaran rahsa yang ditimbulkannya. Ternyata sampai sekarang ini mereka semua masih membawa kisah Cinta mereka meretas hingga ke jaman ini.

Rahsa  cinta mereka begitu kuat hingga mampu melintasi jaman dan  peradabannya. Sangat terasa sekali getarannya. Hingga Mas Dikonthole sangat yakin sekali,  tentu saja raga-raga yang ditempati pasti akan kebingungan sendiri.  Raga barunya pasti akan bertanya, “Ada apakah dengan dirinya, ada apa dengan hatinya. Mengapakah sepertinya hampa dan kosong ?” Cinta telah merayapinya disetiap pagi, hanya dia tidak pernah mengerti. Raga-raga terkini hidup dalam sunyinya sendiri, tanpa pernah dia mengerti, kenapa ?. Begitulah nanti keadaannya.

Semua seperti tak sengaja adanya, itu dinampakkan kepada Mas Dikonthole, sehubungan dengan tugasnya ke Dieng. Ke tempat patilasan Ratu Sima. Dia akan membuka kunci koordinat dimensi. Tugas yang kemudian baru dipahaminya akhir-akhir ini sebab konon khabar yang diterimanya paku bumi yang dijaga 7 (tujuh) pertapa sakti sudah tercabut semuanya. Jika paku ini telah tercabut semua, apa yang terjadi sudah mampu dibayangkan oleh Mas Dikonthole. Gunung-gunung akan bergerak-gerak, mengeluarkan muatannya. Semua gunung baik yang di Jawa atau di tempat lainnya akan bergerak seirama. Maka bagaimanakah bumi nusantara akan bisa dipijak lagi ?.  Di pagi ini (Rabu/20/3) Gunung Lokon sudah memberikan tandanya. Langit sudah memberikan khabar kepastianya. Duh , sedih sekali.

Maka dia harus mengerti dan paham kisah-kisah yang melatari tokoh-tokoh yang ditemuinya. Sebagaimana juga ketika dia harus berangkat ke Indramayu menemui seseorang yang dia panggil dengan sembutan ‘Kangmas’. Maka nantinya dia juga harus tahu siapakah tokoh dibalik raganya itu. Semua itu harus dilakoni agar dia tidak salah mengenali nantinya. Disamping itu ada sesuatu yang memang memaksa dirinya harus kesana. Daya ityu begitu kuat memaksanya. Walau dirasa badan belumlah sehat sempurna semenjak pertemuan kemarin. Namun semua itu tak dirasa.

Perjalananya tak sia-sia. Rupanya sosok ‘Kangmas’ sudah mengetahui jauh hari sebelumnya bahwa Mas Dikonthole pasti akan datang kesana. Pertemuan yang  terasa kekentalannya. Meski nuansa mistis melingkupi dan waktu juga tak cukup lama disana. Entahlah itu, Mas Dikonthole hanya seperti menunggu pusaran waktu yang akan turun disitu. Portal yang akan membantu dirinya nanti. Diyakininya  portal tersbut akan terbuka diatas pelataran rumah ‘Kangmas’ itu, setelah sholat ashar. Dalam keyakinannya semua itu benar. Saat sholat ashar, dia melihat lintasan cahaya, seperti infra merah membentuk sudut-sudut. Dan terasa ada energy pusaran angin, diatas atas pelataran rumah. Maka dicukupkannmya pertemuannya disitu.

Siapakah sosok ’Kangmas’, dialah yang menjadi jembatan penghubung antar masa lalu dan masa kini, menurut dan bagi pemahaman Mas Dikonthole. Sosok ini memang terkenal mampu membaca tanda-tanda alam. Dan sudah sering berhubungan dengan para leluhur. Mulai dari remaja kemampuannya ini sudah diakui. Walau tidak menonjol sebab dia lebih sering berada diluar negri. Ilmunya lebih banyak digunakan disana.

“Hmm. Seorang Brahmana dari kerajaan Kalingga yang masih sejaman dengan Ratu Sima. “ Batin Mas Dikonthole. Ada pancaran energy yang sangat kuat sekali. Energy keterhubungan antara Ratu Sima dengan sosok “Kangmas’ ini. Energy tak biasa. Mas Dikonthole kenal sekali energy seperti ini. Sebab dia memang pernah terpapar. “Tapi apakah mungkin ?.” Terasa kuat sekali jika sosok ini ada hubungan yang tak biasa dengan sang Ratu di jamannya.  Kesantunannya dalam menerima kedatangan Mas Dikonthole tak mampu menyembunyikan, kesedihan hatinya.  “He eh. Cinta selalu akan membuat hampa dan nelangsa.” Mas Dikonthole hanya mampu bertasbih, bertakbir, dan beristigfar. Sungguh manusia sangat lemah sekali. Siapakah manusia yang sanggup dalam belitan rahsa ini ?. “Apakah ini yang membuat dirinya juga reinkarnasi ?.”  Tapi kenapakah cinta mereka tidak disatukan saja. Hikmah apakah yang dapat dipetik pelajarannya ?. Entahlah Mas Dikonthole tidak berani berspekulasi lagi.

Hanya secara perlahan kesadaran Mas Dikonthole dipahamkan. Dikisahkan bahwa pada masa mudanya Ratu Sima pernah terlibat  cinta segitiga yang sangat mengenaskan sekali. Begitu tragis pada akhirnya. Sebagaimana kisah-kisah cinta lainnya, semisal kisah cinta Nabi Yusuf dan Julaikha, semisal kisah cinta Raden Panji Inu Kertapati dan Dewi Sekaretaji. Takdir memisahkan cinta mereka, walau  akhirnya Ratu Sima menikah. Tentu saja bukan dengan tambatan hatinya.  Sang suami menyadari bahwa cinta Ratu Sima tidak sepenuhnya pada dirinya. Maka suaminya memilih pergi ke hutan belantara bertapa dan tragisnya kemudian dikhabarkan meninggal.  Sementara lelaki yang dicintainya menjadi Brahmana dan seumur hidup tidak mau menikah lagi. Bagaimana dia tidak nelangsa. Harus kehilangan 2 orang yang dicintai ?. Tanpa mampu berbuat apa-apa. Sementara dia juga harus memeimpin kerajaannya. Bagaimanakah rahsanya ?. Maka ketahuilah raga yang sekarang ini akan sama kejadiannya. raga yang sekarang akan dalam belitan energy rahsa itu. Sungguh cinta selalu misteri.

Sejarah mencatat bahwa lelaki yang pernah dekat dengan Ratu Sima adalah Kertikayesinga dan Sri Jayanangsa. Apakah sosok kangmas adalah salah satu diantara mereka. Maka biarlah alam yang menjelaskan kepada diri mereka. “Mengapakah sejarah seperti berulang lagi, pada raga-raga terkini ?” Mas Dikonthole hanya bergumam tak mengerti. Sebagaimana tak mengerti dirinya atas apa yang akan dihadapi dengan takdirnya sendiri. Mas Dikonthole hanya mampu berdoa agar jiwa-jiwa yang berada pada raga terkini diberikan kesabaran, iman, dan kekuatan untuk menjalani hari-hari mereka yang serupa, sama kejadiannya namun tak sama  jamannnya. Semoga. 

He eh. Langit sudah  menggelap sedari tadi. Sms masuk terus berkali-kali dari orang-orang masa lalu. Mereka semua bertanya ada apakah dengan alam hari ini. Mereka semua terkena demam yang aneh. Pusaran energy diatas langit Jakarta. Pusran angin yang membentuk pyramida, seperti pembalikan sang waktu. Ugh. Pertanda apakah ini ?. Orang masa lalu di Dieng mengkhabarkan hal yang sama, Susana hari ini tidak seperti biasa. Mereka merasakan demam di badan. Duh, Tuhan. Ampunilah kami, jika kami lalai. Kami hanya mampu berserah, sesungguhnya hidup dan mati, ibadah dan sholat hanya untuk dan karena Engkau Ya Allah. Maka berilah kami petunjuk. Bilakah meraka, orang-orang lainnya,   memaknai hal yang sama, seperti kami. He eh..

Langit hitam menggelap, sementara raga masih disini di kota tua. Terjebak diantara hujan yang tidak berhenti. Dalam menunggunya Mas Dikonthole mengkisahkan ini. Subhanalloh, walahaulawalakuwata illa billah.

wolohualam