Berjalan menatapi malam dialah musafir lalu. Tiada berjumlah makhluk dalam semesta. Semua adalah tasbihnya. Cintanya sebanyak lautan yang membekap alam raya. Berkatalah ia kepadamu; Tuan yang dimuliakan cemara. Tuan berkata bertanya, “apakah aku siap mati ?” Tanyakanlah saja kepada orang yang patah hati, Tanyakanlah kepada orang yang baru di tinggal mati kekasih hati, Tanyakanlah juga kepada mereka-mereka yang tak menghargai diri, Dan jangan lupa, tanyakan kepada orang yang kehilangan harta, perihal ini ! Tuan akan dapati mereka, berkata “kapan saja siap mati.” Perkataannya manis sekali, “bila Allah menghendaki saya siap mati sekarang ini” Sesungguhnya hati mereka penuh tipu, Mereka setengah hati, matinya bukan dikarenakan untuk Tuhannya, adanya iba diri, kaum yang mengasihani diri sendiri, para munafik … Berjalanlah tuan bersama para shodiqun, Dialah sang Hafisz yang siap hidup untuk Tuhannya, Menjadi ayah bagi yang yatim, menjadi pelindung bagi yang lemah Menjadi ibu bagi yang nelangsa di nista Menjadi obat bagi yang sakit, menjadi penghibur bagi yang duka, Keadaannya waspada, hidup untuk menghantarkan nama-NYA Nafasnya bau kesturi, kasih sayang dan cinta meliputinya Menghadirkan keadaan suasana itu ke dalam dekapan para hamba Dalam lentera, pelita yang tak bersumbu Dialah cahaya diatas cahaya … Demi yang menyaksikan dan yang disaksikan, Tidakkah Tuan berminat dalam cinta ? Konspirasi cinta sang Hafizs, Saya rasa, ”TIDAK !” Sebab hakekatnya Tuan tidak siap untuk HIDUP !. Maka Tuan telah selesai dalam hidup ini. Tiada lagi potongan cinta untuk Tuan !. ??? Berjalan di menebar Cinta-NYA, seperti musafir lalu. Tiada berjumlah makhluk dalam semesta. Semua adalah tasbihnya. salam arif |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar