Minggu, 24 Februari 2013

Kisah Spiritual, Penampakan Para Wali di Masjid Merah


Langit diam terhujam kakinya di ujung  timur dan barat,  menembus tanpa batas. Awan bergumpal-gumpal, pekat menghitam menutupi cahaya bulan. Suasana malam dingin tanpa kisaran angin. Hanya suara tonggeret terdengar dari kejauhan, dari  arah rumah belakang tempat jalannya prosesi. Hening dalam nuansa, gelap dalam menanti, sepi sekali. Nafas terdengar satu-satu, berpadu dalam rahsa tak menentu, sebab sepertinya  memang sedang dalam diam menunggu. Menunggu  sesuatu peristiwa yang bakalan terjadi namun tak ada yang mengerti, apakah yang bakalan terjadi nanti. Badan sudah mulai  terasa kesemutan, aliran energi entah dari mana mulai merasuki. Dingin menjalar dari dalam dada sebelah kiri. Sebagaimana keadaan malambiasanya, romansanya, seperti menandakan hari akan segera turun hujan. Terlihat tetes rintiknya sudah jatuh satu-satu. 

Malam itu, adalah malam yang menjadi satu rangkaian dengan peristiwa  aneh siang hari tadi, peristiwa misteri yang kemudian nanti akan merubah jalan hidup Mas Dikonthole, ya di Masjid Merah ini. Peristiwa luar biasa yang terjadi siang hari tadi, sehabis ashar. Peristiwa yang terus hingga malam ini menggetarkan sanubari, yang kemudian memaksa dirinya harus melaksanakan prosesi menuntaskannya di malam ini. 

Dan sekarang ini dia tengah bermalam sendirian, di masjid yang tanpa penghuni.  Menginap  secara sembunyi-sembunyi, bila diketahui penjaga masjid maka pasti Mas Dikonthole akan digelandang, sebab disangka pencuri. Peraturan masjid sangat keras, peziarah tidak diperbolehkan menginap di dalam ruangan masjid.  Maka seluruh pintu gerbang, setelah sholat isya dikunci oleh juru kunci. Mestinya, tidak mungkin Mas Dikonthole dapat masuk ke dalam. Namun nyatanya Mas Dikonthole malam ini nekad bermalam, untuk sebuah prosesi.

Mas Dikonthole memaksa, menerobos ke dalam masjid untuk menginap. Entahlah apa jadinya jika tertangkap nanti. Banyak para peziarah yang nekad, berakhir dipenjara.  Namun bisikan sangat kuat agar dia bermalam di dalam ruangan masjid diantara dua tiang besar. Mengalahkan logikanya. Maka jalan bahayapun ditempuhnya, sehabis sholat isya, dia menghampiri salah satu warga, yang sholat, agar mau menolongnya. Itulah yang dilakukannya. Diaturlah pertemuan setelah lewat sholat isya, sekitar jam delapan malam mereka akan bertemu di depan gerbang pintu masjid. Maka untuk mengisi waktu Mas Dkonthole keluar  sebentar untuk membeli makanan.

Setelah selesai makan, Mas Dikonthole menuju kembali ke masjid, rupanya penolongnya tak lama kemudian juga datang kesitu. Layaknya seorang pencuri, orang tersebut kemudian melompat ke dalam masjid melalui pagar depan, di samping  kiri masjid. Dan tak lama kemudian, membukakan pintu belakang samping kanan masjid. Pintu yang hanya setinggi anak lima tahunan, hanya pas untuk masuk sambil menunduk saja. Pada saat itu Mas Dikonthole sempat was-was juga, harus mengendap-endap, bagaimana kalau ketahuan, kemudian disangka pencuri. Wah bisa babak belur jadinya. Namun diyakinkanlah dirinya, pasti Tuhan akan menolongnya. Apa boleh buat , dibulatkan saja tekadnya. Malam itu diapun berhasil masuk ke dalam ruangan masjid yang tak terjaga. Anehnya orang yang menolongnyapun seperti tergesa-gesa pergi, seperti ketakutan, dan dia pun melompat dari gerbang depan.

Begitulah ceritanya maka  saat ini dia tengah diam dalam hening di dalam ruangan Masjid Merah, sendiri saja.  Temannya yang  satu perjalanan spiritual,  yang diawal selalu berjalan bersamanya entah mengapa tidak mau menemani. Temannya memilih melanjutkan perjalannya  sendiri, katanya mengikuti takdirnya. Dan nanti dibagian lain, kisah perjalan temannya ini, akan dikisahkan. Saat mana perjalanannya seperti diarahkan ke tempat makam asli Syekh Siti Jenar. Dia seperti hilang kesadaran, menempuh perjalanan panjang ke tempat makam sang Syekh. ya, dia menemukan makam Syekh yang asli. Diantara perbukitan tinggi di Jawa Barat. Para wali yang menyembunyikan makamnya disitu. Sementara Mas Dikonthole diam di dalam masjid sendiri. Mengapa temannya mampu menemukan makamnya,  ya karena sebab temannya ini masih ada titisan Sykeh Siti Jenar itu sendiri. Itulah jawaban yang diyakini Mas Dikonthole. 

Langit diam terhujam kakinya di ujung  timur dan barat,  menembus tanpa batas. Awan bergumpal-gumpal, pekat menghitam menutupi cahaya bulan. Suasana malam dingin tanpa kisaran angin. Hanya suara tonggeret terdengar dari kejauhan, dari  arah rumah belakang tempat jalannya prosesi. Hening dalam nuansa, gelap dalam menanti, sepi sekali. Nafas terdengar satu-satu, berpadu dalam rahsa tak menentu, sebab sepertinya  memang sedang dalam diam menunggu. Mas Dikonthole masih rebahan di masjid menunggu prosesi puncak tepat jam 12 malam nanti. 

Masih kuat dalam kesadarannya kejadian siang hari  tadi, dimana peristiwa hebat telah terjadi, seperti layaknya sebuah peristiwa penyambutan luar biasa dari para wali kepada Mas Dikonthole. Teringatlah jelas dalam kesadaran, pada saat itu, dalam meditasinya, dirinya tersentak. Blegh..des..der.. !. Kesadarannya terhenyak, dalam kagetnya bertanya,


“Duh ..Gusti benda  apa ini ?.”

Tiba-tiba serasa seperti  laju angin berhenti bertiup, dan seiring dengan itu , sosok berjubah putih  hadir dihadapan Mas Dikonthole. Seorang lelaki setengah baya,  berpakaian jubah wali, mirip dengan pakaian kebesaran bangsawan dari baghdad lengkap dengan  barisan para santri, yang mengiringi kemunculannya dari balik pintu ruang dalam Masjid  Merah. Ruangan seperti hampa udara, sesak nafas dibuatnya. Energi putih seperti membentengi keberadaan sang wali yang terus menghampiri dimana Mas Dikonthole bermeditasi. Semua terjadi hanya sepersekian detik.

Blash.. !. Sekelebatan saja, sosok wali itu, sudah didepan Mas Dikonthole seperti menghalangi pandangan. Dan seiring berhentinya desiran angin, seperti ada suara yang memerintahkan agar Mas Dikonthole membuka telapak tangannya, berbisik lembut saja, namun rahsanya begitu kuat  merasuk kedalam relung hati. Tanpa sempat bertanya apa-apa, dan belum juga sempat kekagetannya. Sosok berjubah itu, begitu saja mengangsurkan tangannya kearah Mas Dikonthole. “Aku berikan kitab rahasia hikmah Al qur an …”   Blam…der…!. Blegh..!.

Dan tiba-tiba saja aliran listrik tegangan tinggi seperti mengalir ke telapak tangan Mas Dikonthole yang terbuka, Keadaan yang benar-benar tak disangka. Memang dirinya tahu jika di dalam ruangan Masjid Merah tengah berlangsung pertemuan para wali. Sebelum dirinya mulai meditasi, dia melihat kedalam ruangan dalam Masjid Merah, yang terkunci rapat sepanjang tahun dan konon katanya hanya dibuka satu tahun sekali itupun harus menggunakan rangkain persyaratan tertentu. Didalam ruangan yang tak begitu luas, disana dia melihat seperi kerumununan orang yang tengah bersidang dengan meja besar yang bulat. Begitu asyiknya mereka bersidang, membahas permasalahan dan problematika umat, sepertinya mereka tak memperdulikan kehadiran Mas Dikonthole yang mengamati mereka. Sambil menghela nafas Mas Dikonthole bersiap untuk sholat sunnah.

Pertemuan para wali, yang sepertinya masih terus berlangsung hingga kini di Masjid Merah. Apakah hanya ilusi ataukah benar terjadi ?. Kembali Mas Dikonthole hanya mengkhabarkan apa adanya, terserah sidang pembaca memaknai. Diirnya hanya mampu  bersyukur, dapat menyaksikan pertemuan tersebut. Saat itu dia hanya uluk salam saja, tanpa bermaksud mengganggu pertemuan para wali yang tengah berlangsung disitu. Dan salamnya seakan diacuhkan saja oleh mereka yang tampak sedang serius sekali.

Terlihat semakin jelas, ada sembilan wali yang tengah berdialog di dalam ruangan. Dan disekitarnya ada beberapa santri yang duduk bersila sambil berdzikir. Jumlah para santri kurang lebih dua puluhan. Ya, sepertinya nuansa berabad-abad yang lalu tengah terjadi disitu, dihadirkan dimata batin Mas Dikonthole. Apakah memang kebetulan ataukah sengaja diperlihatkan kepada Mas Dikonthole, dia tak tahu itu. Dengan rasa takjum dirinya hanya menyapa mereka dalam hatinya. Kemudian dia tak mau mengganggu mereka lagi dilaksanakanlah sholat seperti biasa saja. Sholat sunnah masjid yang kemudian diteruskan dengan sholat ashar, sholat yang khusuk. 

Namun kejadiannya, sungguh tidak disangka, jika kemudian mereka secara bersama-sama menghampirinya. Bersama menemui Mas Dikonthole dan kemudian memberikan sesuatu.  Kitab berukuran kecil sekali dengan diameter 2.5 cm x 1 cm. Itulah kejadian luar biasa yang diceritakan dimuka, dimana Mas Dikonthole tersegah menerimanya.  Kitab kecil ini begitu diletakan ditangan Mas Dikonthole seperti melebur , menghablur seperti cahaya kecil, yang perlahan-lahan, mengalir masuk ke dalam badan melalui tangan kanannya. Dan sementara tangan kanan sang wali berada pada jarak 5 cm diatas telapak tangan Mas Dikonthole.  Memberikan tekanan luar biasa agar benda kecil itu dapat masuk ke dalam badan. Seperti aliran listrik ribuan kilovolt menerjang syaraf. Sungguh urat syarafnya sepertinya terpanggang.

Belum selesai rasa sakit yang menerjang, sang wali berbisik lagi, “Aku berikan rahasi a sunnah..” Dan ..blam..blam…badan Mas Dikonthole oleng, kesadarannya menghablur. Hal yang sama terulang kembali, kitab yang ukurannya sama. Dua kitab hikmah diberikan sekaligus dalam hitungan detik, yang satu melalui tangan kanan dan yang satunya lagi melalui tangan kirinya maka bayangkan bagaimana rahsanya energi yang menerjang badan. Sekuat tenaga dirinya mempertahankan posisi duduk bersilanya, badanya bergoyang kesana kemari, tangannya seperti tak kuasa menahan sesuatu. Hampir saja dia berteriak saking tak kuatnya menahan berat dan rahsa yang menghujam, namun seperti ada bisikan halus yang menentramkannya. Energi halus dan lembut tu seperti meliputi dan menahannya, seperti kabut tipis diseputar badan, sejuk sekali.  Ya, dia masih berada dalam ruangan masjid. Apa jadinya jika dia berteriak. pasti akan mengagetkan orang yang tengah sholat lainnya.

Peristiwa itu tidaklah lama, mungkin kisaran 30 menit sampai satu jam, Mas Dikonthole tak tahu pasti. dalam kesadarannya dirinya mengalami gemblengan para wali berbulan-bulan lamanya. Kemudian saat semua sudah selesai, angin sepertinya kembali kepada keadaannya semula. Langit sudah tidak mendung lagi.  Selesai prosesi, kemudian sang wali memberikan wejangan, agar dirinya mengamalkan seluruh ajaran kitab Al qur an dan sunnah. Hakekat dan hikmah sudah diajarkan, maka menjadi kewajiban Mas Dikonthole untuk menguraikan dan memaknai, juga mengkhabarkan. 

“Ugh…apakah itu ilusi ?. Lha kapan diajarkannya. Bukankah kejadiannya hanya berlangsung sebentar tidak sampai 30 menit dan juga dirinya tidak merasa kalau diajarkan sesuatu. Apakah maknanya.”  Mas Dikonthole terus membantin, dengan ketakmengertiannya.

Sungguh kejadian atas peristiwa ini kemudian menjadi pertanyaan yang tidak habis-habisnya, kejadian apakah dan mengapa dirinya yang diberikan kitab itu ?. Bagaimana memaknainya. apakah dirinya harus belajar Al qur an sebagaimana para santrinya ?. Kalau itu sungguh Mas Dikonthole menyerah saja. Dia bukanlah ahli agama, dia  hanya bisa sekedar baca Al qur an saja, itupun hasil belajar pada ustad kampung saja. Kalau sekarang hanya lulus iqro  saja mungkin. Bagaimana harus memahami hikmah rahasia Al qur an dan sunnah yang begitu besar ?. Mimpi barangkali.

Peristiwa tersebut benar-benar sangat membekas, dan menjadi beban yang tak berkesudahan. Sebab setelahnya, seperti ada sesuatu yang menuntut dirinya harus terus mengkaji makna demi makna atas peristiwa perjalanan spiritualnya. Hikmah kejadian demi kejadian yang terus mendamparinya. Sepanjang lakunya berspiritual, mengelilingi nusantara ini. Siapakah yang memberikan kitab hikmah tersebut ?. Benarkah kitab itu real adanya ?. Ataukah dirinya hanya bermimpi.

Seiring berjalannya waktu, dirinya benar-benar diajarkan hikmah melalui pengajaran alam. Bagaimana kemudian dirinya mampu membaca simbol-simbol yang digunakan dalam al qur an, bagaimana juga kemudian dirinya meyakini tanda-tanda alam. Bagaimana dirinya diajarkan bahasa alam , diajarkan bahasa al qur an melalui bahasa alam itu sendiri. Kemudian pada gilirannya dirinya juga mengerti makna  agama alam, mengerti hakekat agama Islam. Agama alam, agama Islam, dan sunatulloh sepertinya  semua  dalam rangkaian yang tali temali yang saling menjelaskan keadaannya. Semua dalam bahasa simbol. Bagaimana bisa terjadi ?. Apakah yang dimaksudkan ‘kitab hikmah’ adalah seperti itu ?.

Semua pertanyaan benar-benar menghabiskan sepanjang perjalanan spiritualnya, rasa gundah, rasa penasaran, rasa ingin tahu, dan rasa-rasa lainnya. Apakah sang wali hanya ilusi saja ?. Dan sebagainya, dan sebagainya. Namun sepertinya tidak, bagaimana dirinya mengerti hikmah ?. Maka Mas Dikonthole seperti yakin sekali akan penglihatannya, kesadaran ghaibnya tidak mengingkari adanya sosok wali yang menemuinya tersebut. Sungguh dalam kesadaran Mas Dikonthole Masjid Merah tersebut memang masih menjadi tempat pertemuan para wali. Dari dahulu hingga kini. Namun bukankah mereka semua sudah meninggal. ‘Sesungguhnya wali-wali Allah tidaklah mati mereka hdup disis-Nya.“ Itulah yang diyakini Mas Dikonthole dari berita al qur an. Maka benarkah keadaan diri mereka seperti yang dilihat Mas Dikonthole. Sepertinya keadaan masa lalu yang tidak berubah ?. Walohualam bisawab.

Kesadaran Mas Dikonthole meyakini, bahwa (Yaitu) sebagaimana memang pawa wali, jaman dahulu menggunakan Masjid Merah itu untuk pertemuan utama, menggelar pertemuan rahasia di Masjid Merah ini. Dan apakah hanya Mas Dikonthole saja yang menjadi saksi ?. Jika benar, sungguh nikmat luar biasa yang dianugrahkan Tuhan pada dirinya.

Masjid ini merupakan sebuah masjid berumur sangat tua yang didirikan pada tahun 1480 oleh Syarif Abdurrahman atau Pangeran Panjunan. Ia adalah seorang keturunan Arab yang memimpin sekelompok imigran dari Baghdad, dan kemudian menjadi murid Sunan Gunung Jati. Masjid Merah Panjunan ini berumur lebih tua dari Masjid Demak, Masjid Menara Kudus dan Masjid Sang Cipta Rasa. Sebelum dikenal dengan nama Masjid Merah Panjunan, dulunya Masjid ini bernama Al Athyang yang berarti dikasihi. Pengaruh penggunaan material bata merah yang dominan terutama pada bangunan pagarnya ini lebih menyerupai bangunan candi atau Pura yang umum digunakan pada masa permulaan Islam masuk.

Sambil terus menerawang, Mas Dikonthole bersiap untuk prosesi. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Namun apa yang terjadi. Tiba-tiba pintu gerbang dibuka dari arah depan, sepertinya sang juru kunci akan masuk. Berdebarlah dada Mas Dikonthole, "Waduh, bisa dipenjara dirinya nanti.." bisiknya dalam hati. sesaat kemudian dia berdoa kepada Allah. Benarlah apa yang ditakutkannya. Bersama dua orang satuan kemanan sang juru kunci menghampiri tempat duduk Mas Dikonthole dan kemudian  Mas Dikonthole digelandang ke salah satu ruangan masjid. Entah berapa banyak pertanyaan dilontarkan, badan Mas Dikonthole sudah mulai panas dingin. Syukurlah kemudian setelah diperiksa identitasnya, dan kemudian menjelaskan maksud dirinya bermsalam, sang juru kunci mengerti dan memahaminya.

Sungguh hal yang belum pernah terjadi katanya, biasanya jika ada yang menerobos tanpa ijin ke masjid ini bisa dipidana. Masjid ini sudah dilindungi undang-undang purbakala. Bersyukurlah Mas Dikonthole sebab akhirnya sang juru kunci mau menemani Mas Dikonthole menginap di masjid. Malam sudah menunjukan pas jam 12 malam maka mulailah dilaksanakan prosesi. Mas Dikonthole sholat sunnah, hajat, tobat, kemudian diam dalam waktu yang lama. Entah pengajaran apa yang tengah dialaminya di masjid itu. Beberpa sosok berjubah   bergantian menghampiri, mengajarkan pengajaran ghaib yang sulit diceritakan disini. Satu persatu para wali mengajarkan kepada kesadaran Mas Dikonthole. Hingga tak sadar waktu sudah menujukkan pagi, adzan subuh sudah bergema di masjid ini.

Mas Dikonthole, tergugah dari meditasinya, rasanya pembelajaran para wali cukup membekas, namun dirinya sendiri tidaklah mengerti, atas apa yang diajarkan. Sungguh membingungkan sekali. seperti proses diinput program-program saja. Program yang terasa manfaatnya jika digunakan. Maka dengan hati yang masih penuh tanda-tanya, diaksanakannya shlat berjamaah di masjid ini. Nuansa yang benar-benar tak mampu dilupakan. Bagaimana rahsanya jika kita satu jamaah dengan para wali ?. Sunguhkah ini ?. Apakah bukan majinasi atau ilusi. He eh, entahlah. Semua hanya dalam kesadaran dan keyakinannya saja. Dirinya tak berharap agar orang lain percaya dengan apa yang dialaminya. Cukup dirinya saja yang menjadi saksi. Biarlah dia menyaksikan apa-apa yang disaksikan oleh para orang suci. Menjadi saksi kebenaran ayat-ayat Allah di muka bumi ini.

Wolohua’lam bisawab





Minggu, 10 Februari 2013

Kisah Spiritual, 'Dan Alam Ghaib Mulai Berimpit'


Biduk telah ditambatkan. Angan telah berkembang, sementara layar dibentang, bersiap mengarungi samudra lagi. Pelabuhan hati, pelabuhan kehidupan. Diam, hiruk pikuknya disini. Gelombang badai menghempas, hanya tersisa gemerisik ombak menghantam buritan. Burung camar terbang entah kemana. Sebatas  mata memandang, kerinduan alam mencengkeram. Angin mati dan langit terdiam. Hening bumi, menunggu keputusan sakral. Yang tak habis dimengerti, jeritan tanya tak bersuara. Di terjang gundah gulana, dan KAU dengar rintihan kami.

Tuhan, arahkan mata hati. Ketika kaki harus menapaki realita terkini. Menerobos kembali beton-beton tinggi. Berangkat berpagi hari dan pulang menjelang pagi lagi. Semua terserah titah-MU, merah hitam wajah ini. Pucat pasi merengkuh bumi. Dalam percaturan dunia, peradaban manusia. Dan inilah jalan kami, menetapi tangis yang tak berjeda lagi.

Mas Dikonthole, menghela nafas, mengambil jarak dan melanjutkan ceritanya lagi. Diri merasa sepi dari raganya sendiri. Bertanya kepada siapa, tidak ada yang menjawab. Mengapakah harus ada disini. Merajut asa dan menemani kebisingan lagi. Menyeret langkah menyusuri trotoar jalan. Menatap langit pagi, menerobos laju jalan yang tak pernah sepi. Kemanapun pergi selalu terbawa-bawa, perasaan bersalah datang menghantui. Masih diingat romansa cintanya. Kunci yang pernah dipatahkannya. Lihatlah sekarang dirinya terkapar dan luka. Mendengar perih yang tak kasat mata. Jeritan dari dalam jiwa. Ia ingin pulang.

Namun keinginan tak semudah bayangan. Masa lalunya begitu kelam. Guratan kesakitan telah membekas sebagai program yang harus dimainkan lagi. Menjalani fase reinkarnasinya lagi. Keperkasaannya tak mengundang, waktu telah menggilas semua. Ia tinggal punya jiwa. Pengorbanan yang sia-sia untuk negri ini. He-eh. Kini raga Mas Dikonthole memikul beban yang semakin sarat. Mengerti hitam dan merahnya jalan. Bahunya kini sudah semakin kekar, menahan gempuran rahsa.   Disini dikota ini, yang tersimpan hanyalah memori. Lukisan bayangan yang harus dimasuki.

Pekat, benarkah akan turun hujan. Mendung, benarkah akan datang banjir menerjang. Mencuci bumi kali ini lagi. Ho oh.  Dan jiwa-jiwa yang tengah dirundung kegalauan. Roda jaman menggilas, dan kini hidup tertatih. Berpacu dengan waktu. Jiwanya tertinggal di masa lalu lagi. Kenangan cintanya, kenangan kejayaannya, kenangan kekayaannya, harta , tahta, dan wanita, dalam lingkupannya. Kini dirinya bertanya, “Saya siapa,.?.  Terlahir sebagai apa ?.” Begitu jauhnya jarak ketertinggalan rahsa. Tak mampu dirinya merenunginya lagi.

Alam ghaib dan alam nyata semakin berimpit, masa lalu dan masa sekarang nyaris tak berjeda. Mendaparkan kembali jiwa Mas Dikonthole. Merasa terjebak dalam lingkaran yang membius. Kini dia merasa tak punya apa-apa. Dan ketika DIA datang, samar terdengar suara, memanggil nama, seketika sukmanya melambung dalam realitas terkininya. Ya, dirinya hanya sebagai konsultan saja. Tidak ada lebihnya, bahkan kurangnya malah banyak. Dipejamankan mata, tak merubah apa-apa.  Semua harus dilakoninya, peran dualitas harus ditetapinya, sebagai manusia masa lalu dan raga masa kini, semua dijalani dalam khusuk; sabar dalam khusuk, sembahyang dalam khusuk, berjalan dalam khusuk, menangis dalam khusuk, tertawa dalam khusuk, dsb. Dirinya harus sekuat Kuda Perang.

Berlari, dan terus berlari, hingga hilang pedih dan perih ini. Biarkanlah akan menjadi kenangan, sebuah memorinya yang tersimpan. Begitulah keinginannya, dimantapkan jalan, dibuka hati, dihirupnya nafas dalam. Bergegas sehabis subuh dia berangkat, dirinya harus membuka prosesi membuka poratla pintu gerbang ‘ruang dan waktu’ bagi sukma Siu Banci. Sukma yang akan segera menitis ke jabang bayi. Koordinatnya harus ditandai dengan satu dua tetes darah ayam jantan yang berwarna merah dibalur hitam dan warna keemasan. Ayamnya juga harus sudah bertaji. Itulah symbol ayam si Cindelaras dalam hikayat cerita rakyat.

Begitu sampai, Mas Dikonthole segera mencari ayam jantan di pasar. Setelah keliling kesana-kemari, akhirnya didapatlah ayam yang dimaksudkan. Ayam itu segera di potong dan dimasak oleh pembantu disana. Mas Dikonthole mengambil sedikit darahnya dan kemudian dicampur dnegan garam dapur. Mulailah dia menandai seluruh rumah tersebut dengan tandai silang (cross), mulai dari tingkat satu sampai tingkat dua.

Entah harus diceritakan apa, jika ayam yang dipotong tersebut seperti mengenal Mas Dikonthole, mereka layaknya seperti sahabat saja. Ayamnya bnegitu jinak, tatapannya seperti mengasihi Mas Dikonthole. Subhanalloh. Mas Dikonthole seperti merasakan jiwa ayam tersebut berko9munikasi dengannya. Maka dirinya teringat masa lalunya, bahwa dahulu dirinya sangat mencintai seekor ayam yang telah menemaninya seumur hidup. Ayam yang dahulu memenangkan setiap pertandiangan ‘adu ayam’ . Seekor ayam yang kemudian mengahantarkannya untuk menduduki tampuk kekuasaan. Semua rangkian cerita seperti terbayang, dan kesadaran Mas Dikonthole berada dalam keadaan itu. Maka dirinya mengalami kesepian yang terlalu.

Namun dnegan dibulatkan tekadnya, akhirnya ayam tersebut dipotong juga. Pada siang harinya, disajikan kepada karyawan disana. Dan anehnya, tiba-tiba bayi yang baru saja dilahirkan oleh ibunya ikut juga dibawa naik keatas untuk mengikuti prosesi doa yang dipanjatkan. Ketika smeua sudah bersiap, Tiba-tiba..blegh…des. Kesadaran Mas Dikonthole limbung, banyak sekali orang-orang masa lalu hadir disini, bahkan dari daratan china juga datang. Terlihat pengawal-pengawal Panglima Cheng Ho juga berdatangan. Energy mereka sungguh menyesakan nafas. Mas Dikonthole menggigil, rambutnya seperti seperti jartum yang masuk ke kepala. Bicarapun menjadi sulit rahsanya.

Keadaan Mas Dikonthole tak luput dari perhatian ibu sang bayi , dia menanyakan ada apa. Dengan terus terang dijawab bahwa banyak orang masa lalu yang hadir, yang menyaksikan prosesi ini. Mereka semua memberikan selamat, atas terpilihnya salah satu keturunan mereka. Menjadi wadah reinkarnasi Siu Ban Ci yaitu ibunda Raden Patah. Dalam kesadaran Mas Dikonthole mereka berjumlah ribuan, berbaris menyesakkan ruangan yang sebenarnya sangat dingin dengan dua AC besar.

Mulai dari situlah, Mas Dikonthole sering tertpapar energy, sering kehilangan kesadaran sesaat, ditarik ke masa lalu. Sepertinya Mas Dikonthole diajak agar mengerti jalan cerita sesungguhnya dari suatu kejadian sejarah. Pada saat itu Mas Dikonthole belum tahu sama sekali siapakah yang akan reinkarnasi. Hanya dia mengenali pasukan Panglima Cheng Ho. Dan yang akan reinkarnasi sejaman dengan dirinya. Proses pengenalan inilah yang sangat menyiksa bagi Mas Dikonthole, dirinya harus memasuki lorong waktu lagi. Dan ini menyaktkan jiwa raganya.

Keadaan menyusahkan ini, harus dialami Mas Dikonthole berhari-hari. Pulang kerja jiwa dan raganya sangat lelah sekali, bahkan kesadarannya sering hilang dan ini sangat membahayakan pada saat dia mengendari motornya. Hingga suatu saat, datang pencerahan, yang mengkhabarkan bahwa yang reinkarnasi adalah Ibunda Raden Patah sendiri. Dirinya sempat berdialog dengan alam, mengapa seorang wanita terlebih dahulu yang diturunkan ke bumi. Bukankah satria adalah lelaki ?. Mengapa dengan Siu Ban Ci ?. Kilah Mas Dikonthole menyergah suara angin.

Belum sempat pertanyaannya terjawab, datang perintah agar Siu Ban Ci dan keluarganya harus menjalani prosesi kembali. Prosesi penobatan  sebagi raja bagi sang jabang bayi, di sebuah klenteng terbesar disitu. Maka pagi itu Mas Dikonthole segera memberitahukan kepada ayah dan ibu sang bayi, untuk hari itu bersembahyang, nanti lihat situasinya. Tidak bisa diceritakan bagian yang ini, bagaimana orang-orang masa lalu berdatangan ke lokasi. Membuat karyawan kebingungan sendiri tanpa mengerti sebabnya apa. Bagi yang memiliki ilmu pasti akan terpapar energy mereka, badan akan terasa sakit semua, kepala akan terasa berat sekali. Dan itulah kejadiannya. Banyak karyawan kemudian seperti ‘blang’ , mereka menjadi lupa kejaidan di hari itu. Banyak keputusan yang kemudian kacau, sebab saat dikonfirmasi hari berikutnya, mereka benar-benar lupa bila pernah mengatakannya. Sehingga proyek sempat terhambat beberpa minggu karena salah komunikasi.

Sebelumnya ada kekhawatiran yang terlintas, apakah sang ibu percaya dengan apa yang dikatakannya. Namun ternyata mereka sudah diberitahu oleh ustad mereka. Oleh guru spiritual mereka sebelumnya bahwa anak yang terlahir adalah ‘sangat tua’ dan berasal dari Sumatra trahnya. Agar orang tuanya harus hati-hati memperlakukan anak mereka. Memang tidak sedetail seperti  informasi dari Mas Dikonthole.  Namun setidaknya, mereka sudah meyakini sebelumnya.

Sekarang ini, hari-hari yang dijalani Mas Dikonthole adalah disini, bersama sang cabang bayi. Entah sebab apa, kenapa sebelumnya dia mau saja di kontrak yang cukup lama, 6 bulan baginya waktu yang lama sekali. Biasanya dia lebih senang mengelana ke kota-kota. Ternyata dia harus menjadi saksi disini, menjadi saksi adanya reinkarnasi yang lainnya lagi. Tugasnya sekarang adalah menjaga keselamatan sang cabang bayi dari sesuatu yang ghaib. Dari musuh-musuh yang tak kasat mata. Kadang sangat membosankan dirinya. Namun itulah peranannya sekarang ini. Dan secara realita terkini , raganya harus bekerja secara profesional. Yah, bekerja layaknya manusia lainnya.

Seiringnya waktu berjalan, banyak kejadian aneh, dari sang bayi. Seperti mampu berkomunikasi dengan orang dewasa. Kecerdasannya terlihat nyata, keanggungannya Nampak jelas dan terasa. Lebih anehnya lagi, sang bayi tidak mau tidur ditempatnya, dia hanya mau tidur di ruangan kantor tempat Mas Dikonthole bekerja.  Dia seperti sangat nyaman disana. Seorang bayi yang sangat tenang untuk ukuran anak seumurannya. Tidak pernah menangis, apalagi rewel. Benarkah dia adalah seorang yang reinkarnasi ?. Maka terserah kita memaknainya lagi.

Biduk telah ditambatkan. Angan telah berkembang, sementara layar dibentang, bersiap mengarungi samudra lagi. Pelabuhan hati, pelabuhan kehidupan. Diam, hiruk pikuknya disini. Gelombang badai menghempas, hanya tersisa gemerisik ombak menghantam buritan. Burung camar terbang entah kemana. Sebatas  mata memandang, kerinduan alam mencengkeram. Angin mati dan langit terdiam. Hening bumi, menunggu keputusan sakral. Yang tak habis dimengerti, jeritan tanya tak bersuara. Di terjang gundah gulana, dan KAU dengar rintihan kami.

Begitulah senandung Mas Dikonthole sekarang, menjalani sepinya dengan berani. Menatap langit yang entah esoknya kapan lagi. Meninggalkan cintanya, kekuasannya, dan juga trahnya, menjalani karma yang telah diperbuatnya di masa lalu. Dia harus mengabdi kepada sang alam. Agar alam mau menerima dirinya kembali. Agar lukanya tak berbekas lagi. Meski dia sering tidak mampu bersma raganya yang sekarang ini. Raganya yang bukan siapa-siapa, raganya yang bukan apa-apa, raganya yang manusia biasa, sangat biasa, sebagaimana kebanyakan lainnya. Tidak ada tahta, tidak ada kuasa, tidak ada wibawa. Manusia normal adanya. Maka apakah dirinya menyesal ?. Entahlah..langitpun hanya diam.

wolohualam


Sabtu, 09 Februari 2013

Kisah Spiritual, Bara Langit di Bukit Argopeni


“Rrr...rrt..BLAAAR...!...Dest...!.”
Tidak sedikitpun terdengar suara, saat cemeti diputar-putar dan kemudian diayunkan mengarah kepada seorang lelaki yang tampak ketakutan, dan kelihatan mau menyerang. Udara seperti tersibak, menyisakan ruang kosong pada jalur cemeti itu. Dan akibatnya begitu dahsyat. Seorang lelaki setengah baya terpelanting, meletik, bersalto beberapa kali, dan badannya terlempar beberapa tombak ke belakang. Nyaris saja masuk ke jurang  hanya kurang setengah meter saja. Kalaulah tidak ditahan seseorang maka sudah pasti lelaki tersebut akan terlempar masuk ke dalam jurang tersebut.  Layaknya dalam adegan film action saja. Sungguh adegan yang luar biasa sekali dalam realitas kekinian.

Begitulah jalannya prosesi. Tidak saja leluhur yang datang, jenis syetan hantu gentayangan, wewe gombel, kuntilanak, pocong, dan jejadian, pasti akan muncul dari badan tergantung amalan dari seseorang tersebut. Mereka biasanya sering tidak mau keluar, karena merasa sudah nyaman di badan. Badan manusia telah mereka anggap rumah mereka sendiri. Sehingga ada saja bentuk perlawanan. Dan itulah salah satu makhluk yang hendak melawan (yang) maka dengan terpaksa dihancurkan. Sebagai salah satu ikhtiar dan upaya dalam rangkaian membuka hijab . 

Manakah yang realitas dan manakah yang ghaib. Bila secara kasat mata cemeti tidak terlihat, namun akibatnya, nampak jelas sekali luka bekas sabetan cemeti. Jalur luka dalam yang cukup parah membekas beberapa centimeter, masuk ke dalam daging, terlihat  sepanjang jalur cemeti dari muka sampai ke badan.  Berwarna merah kehijauan. Dan anehnya bajunya tidak ada yang sobek, mengingat kerasnya sabetan cemeti dan bekas luka yang ditimbulkannya.
...

Malam itu di bukit Argopeni bara langit terlihat jelas. Merah diantara pendar sang rembulan. Awan gelap yang sebelumnya menutupi bulan,  telah terbelah menjadi dua, nampak menyibak ke kiri dan ke kanan. Sementara itu terlihat nun jauh di bawahnya sana, seorang lelaki terlihat duduk semedi, mengarahkan tangannya ke angkasa. Membuat gerakan seperti sedang memisahkan sesuatu. Dan secara perlahan awan yang tadinya begitu pekat, awan yang sudah mulai menjatuhkan tetes hujan, secara perlahan bergerak menjauhi bukit. Dan dari  atas bukit itulah,  terlihat pantulan cahaya bulan mengenai sang awan, menimbulkan bias rona merah seperti bara di langit.

Suasana malam begitu dingin, angin seperti tak bertiup, lengang seperti mati. Diantara keremangan di halaman belakang rumah, tempat biasa Mas Dikonthole berdiri. Yaitu tempat dimana saat Mas Dikonthole sering berada disitu untuk  memandangi jauh perkampungan di bawah. Tempat yang tidak begitu luas hanya seluas lapangan bulu tangkis dibagian datarannya. Satu meter diatasnya, sedikit berbukit dengna luas yang hampir sama juga. Di tengahnya ada kolam ikan kecil, dimana sering Mas Dikonthole memancing. Selokan air dari atas bukit mengarah ke kolam ini, mengaliri sepanjang hari.

Sudah ada 7 orang yang sedang duduk membentuk lingkaran tak penuh. Di ujung antara kerumunan 7 orang itulah, nampak, lelaki itu khusuk sekali memainkan tangannya beberapa kali. Menyimbakkan awan, berusaha menghentikan hujan.  Seiring dengan gerakana tangan yang perlahan namun bertenaga, tiba-tiba  dari arah belakang rumah, dari atas pohon, terdengar, suara berdentam, ada sesuatu yang terjatuh. Mungkin diakibatkan begitu kuatnya energy yang ditimbulkan oleh lelaki itu. Suara jatuh yang kemudian diikuti teriakan mengerang. Terdengar berikutnya, sura langkah kaki berat,  bergerak menjauh. Seperti melompat ke dalam  jurang yang dalamnya lebih dari 500 m.  ”Hmm..sepertinya dua genderuwo lari.” Bisik seorang ustad , yang duduknya mengarah ke tempat jatuhnya sesuatu tadi.

Prosesi pengenalan leluhur. Ya, mereka semua berkumpul di bukit Argopeni tengah berupaya menjalin komunikasi dengan orang masa lalu. Terlihat disana ada Minak Jinggo, Panembahan Senopati, Murid Syek Siti Jenar, Utusan dari Dieng yang pernah mengunjungi Mas Dikonthole, Seorang Ustad, dan beberapa lainnya yang belum dikenal oleh Mas Dikonthole.  Juga ada saudara Mas Dikonthole yang Istrinya sempat dibawa Danyang, hingga dalam beberapa minggu keadaannya seperti kerasukan.  Semangat diantara mereka yang dulu nyaris padam, sekarang nampak terbangkit kembali, dengan datangnya lelaki yang menyimbak awan tersebut.

Lelaki setengah baya itu, cukup lama mengikuti Mas Dikonthole. Dan secara tidak langsung berada dibawah bimbingan Mas Dikonthole  dalam olah spiritual. Saat sekarang ini pencapaiannya sudah cukup menggembirakan.  Kemampuannya mengenal alam sudah cukup baik, sehingga awan dan hujan dapat dikendalikannya.

Sudah sering Mas Dikonthole sendiri mengingatkannya, bukan kekuatan bukan kesaktian hakekat dalam  berspiritual. Namun lebih bagaimana kita mengenal Allah melalui ciptaan-ciptaan-Nya. Jikalaupun kita mengenal daya yangmenggerakkan alam ini, itu hanyalah bagaimana cara Allah memperkenalkan diri-Nya kepada kita. Semua atas ijin-Nya semata, sehingga awan mampu bergerak oleh kehendak kita, sehingga hujan kemudian berhenti, sehingga angin kemudian mengamuk, semua atas kehendak Allah.

Bukan daya kita manusia yang menggerakan semua itu. Pengenalan diri, pengenalan raga kita, akan membawa kepada pemahaman bagaimana daya bekerja di alam semesta. Inilah sebab mengapa kemudian kita seperti menjadi orang sakti. Sungguh kadang kita sering tertipu dalam berspiritual, sehingga kita malah keranjingan akan kesaktian-kesaktian seperti ini. Hal inilah yang sering diingatkan. Jika kita mengusai kesaktian, maka justru kita akan menjadi ujub. Kita akan mengaku-aku, bisa ini bisa itu. Jauhilah keadaan hal begini ini. Biarkan hujan turun apa adanya, biarkan angin berhembus kemana dia suka. Harmonilah dengan alam.

Sementara itu , di bukit Argopeni, prosesi terus berlangsung. Mas Dikonthole enggan menceritakan bagian ini, sebab keadaannya hampir sama dengan tontonan yang dapat kita saksikan di televisi dalam acara dua dunia. Acara tengah malam yang menyajikan fenoma mitos dan legenda suatu daerah. Kita saksikan di televisi, biasanya sang Ustad  menggunakan jasa mediasi untuk memanggil makhluk yang berada disekitar, yang kemudian ditanya hal ihwalnya daerah tersebut. Sebuah tontonan yang memberikan nuansa aneh saja bagi para pemirsa. Benarkah keadaannya ?. Kembali para pemirsa terpecah menjadi beberapa golongan, ada yang percaya, ada yang tidak, ada yang yakin, ada yang ragu-ragu.

Perhatikanlah, kita melihat sebuah tontonan yang sama, namun setiap orang akan memaknainya dengan cara yang berbeda-beda. Demikian pula prosesi yang tengah digelar di bukit Argopeni ini. Bagi yang tidak mengenali energy para leluhur, bagaimana rahsanya, dan seperti apakah penampilannya, sering hanya akan terkecoh dengan penampakan para jin dan hantu getayangan.  Kadang jin kita anggap leluhur, begitu juga sebaliknya. Maka hanya orang-orang yang sudah terlatih, dan memahami hakekat saja yang akan mampu mengenali leluhur yang reinkarnasi. Inilah penyebab mengapa Islam membatasi dengan tegas. Sebab dikhawatirkan orang awam akan beranggapan lain. Mereka bisa terjebak oleh tipu daya syetan yang berupa jin.  Jin yang kemudian mengaku-ngaku sebagai wali atau orang suci lainnya.

Begitulah dan sebab khawatir bagian ini akan menjadi fitnah, maka Mas Dikonthole hanya dapat menceritakan seperlunya saja. Bagaimana diceritakan ternyata salah satu dari mereka yang sebelumnya memuja, bagaimana keadaan yang lainnya juga yang sering datang meminta-minta ke makam. Ketika lelaki setengah baya itu mulai memohon kepada Allah, mulai semedi, energi yang ditimbulkannya membuat sekelilingnya gerah. Energy tersebut seperti memaksa para makhluk yang berada di badan wadag mereka menampilkan diri. Maka ramailah keadaan disana, ketika yang muncul adalah sebangsa hantu pocong, kuntilanak, genderuwo, yang keluar dari badan mereka.

Seperti itu keadaan orang-orang yang senang meminta-minta pada makam, atau orang-orang yang meyakini kekuatan suatu barang, semisal ajimat, rajah, batu akik atau lainnya. Badan wadag mereka menjadi penuh dengan makhluk-makhluk jejadian. Saat mana terpapar energy, badan mereka menjadi terasa sangat berat sekali. Radiasi ini akan mengusik keberadaan makhluk yang ada di badan mereka. Membuat marah mereka.  

Sementara kali berikutnya, kesadaran secara perlahan akan diambil alih oleh makhluk tersebut. Inilah kejadiannya. Makhluk-makhluk tersebut merasa terganggu kemudian melakukan perlawanan sengit kepada yang mengganggu. Maka terjadilah pertempuran hidup dan mati. Pertempuran yang terlihat seperti dagelan saja. Karena realitasnya mereka tidak bersentuhan badan. Dialog yang terjadi layaknya seperti ketoprak saja.

Pertempuran-pertempuran seperti itu sering dialami oleh Mas Dikonthole ketika memasuki suatu wilayah. Pertempuran ghaib yang hanya mampu dirasakan dalam kesadaran saja. Maka sering Mas Dikonthole meregang nyawa, otot-ototnya menegang menahan serangan-serangan yang tak kasat mata. Bukan hanya sebangsa genderuwo, atau siluman saja, kebanyakan yang dihadapi adalah orang-orang masa lalu juga yang senantiasa mengejar dan menghalangi misinya itu.   Mas Dikonthole sering diangap lawan yang akan melakukan infiltrasi ke wilayah mereka. Inilah yang tak disadari Mas Dikonthole. Sebagai orang masa lalu, ternyata dirinya banyak musuhnya.

Hingga tengah malam prosesi pengenalan leluhur baru saja selesai, beberapa diantara mereka sudah saling mengenal. Ada yang berasal dari satu jaman dan ada juga yang berbeda jaman. Sang ustad juga nampak puas sekali mampu mengenal jatidiri-nya. Sehingga kemampuan penglihatan mata batinya menjadi semakin awas. Dia mampu mengenali dan melihat siapakah yang berada dibalik raga-raga diantara mereka itu. Banyak diantara mereka diiringi ajudan, dan memang lengkap dengan pasukan perangnya. Pasukan perang yang aneh-aneh penampilannya.

Mereka kemudian beranjak pergi meninggalkan tempat tersebut. Bulan nampak sudah meninggi, dan perlahan awan kembali merapatkan diri. Gelap seketika di tempat tersebut. Satu persatu mereka melangkah pergi. Namun sang Ustad tiba-tiba tersentak kaget. Sesosok makhluk menyeringai, dan tertawa mengkikik mendirikan bulu roma tepat dilorong pitu keluar. Ugh...!.

Kuntilanak tiba-tiba menampakan diri. Sosoknya yang dingin, dan rongga dibelakang punggungnya pasti akan membuat bulu kuduk berdiri. Namun tidak bagi mereka. Justru mereka menghela nafas getun, berbicara kepada lelaki setengah baya yang sebarangan saja membuang makhluk tersebut disitu. Rupanya makhluk penghuni cincin dari salah satu peserta yang dibuang oleh lelaki setengah baya berada disitu.  Maka jadilah sekarang kuntilanak itu menunggu lorong tempat belakang rumah Mas Dikonthole. Biar sajalah.

Pertemuan para orang sakti

Jauh sebelum pertemuan 7 orang ini, sebelumnya Mas Dikonthole pernah juga mengundang para sesepuh, para orang tua sakti dari lintas agama. Mereka semua dibawah naungan persaudaraan kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang berada di kota ini. Saat itu mereka hadir semua, mulai dari sesepuh Dieng, sesepuh yang berada di lereng-lereng pegunungan Sindoro Sumbing. Semua berjumlah hampir 20 orang pengampu paham. Pada saat itu juga dihadiri dari dinas terkait, yang mewakili pribadi.

Dalam pertemuan tersebut terungkaplah kearifan lokal. Adalah bahasa simbol warisan yang turun temurun, bagaimana bahasa simbol ini kemudian secara sistematis sedang, akan dan telah dihilangkan dari kesadaran lokal oleh sistem pengajaran yang ada. Anak-anak bangsa ini sudah banyak tercerabut dari akar budaya bangsa. Mereka tidak mengenal lagi siapakah leluhurnya. Jangankan anak-anak sekarang ini, para orang dewasa dan orang tua sekarang pun, sering sudah melupakan warisan budaya yang sarat makna dari leluhurnya sendiri.

Berkata salah seorang dari mereka bahwa, simbol-simbol, bunga yang sering dijadikan pajangan, dalam setiap sajian, banyak disalah artikan, karenanya banyak menimbulkan perang, bid ah , sirik, dan lain sebagainya. Padahal kata mereka, diantara bunga-bunga yang disajikan banyak sekali filosofi para leluhur, dengan bahasa simbol inilah para leluhur mengajarkan spiritual. Inilah pesan-pesan spiritual para leluhur yang dapat kita baca samapi sekarang. Melalui ritual budaya, dan warisan lokal. Bunga melati sebagai simbol kesucian sudah tidak ada arti. Sehingga anak negri tidak peduli lagi. 

Mas Dikonthole merenung sendiri. Benar apa kata mereka. Jaman dahulu belum ada tekhnologi, belum ada kertas, banyak masyarakat belum mampu baca tulis. Bagaimana kemudian para leluhur akan mengajarkan pada anak cucu mereka. Sebab karena itulah kemudian oleh mereka diciptakanlah sarana ritual budaya. Untuk mengajarkan filosofi, melalui tebang, melalui kembang, melalui dongengan, melalui kearifan yang ditularkan. Begitulah sarana mereka para sesepuh negri ini, para leluhur mentransfer pemahaman mereka. Begitulah budaya, begitulah kearifan lokal diajarkan. Melalui tembang, melalui taburan kembang setaman.  

Cerita terus bergulir, jika kemudian sarana ritual dan budaya, oleh beberapa orang berilmu digunakan untuk maksud lainnya. Digunakan untuk kepentingan politik, kekuasaan dan mencari kekayaan belaka. Mereka menggunakan para danyang untuk menakut-nakuti masyarakatnya. Ritual yang dimaksudkan untuk mengajarkan filosofi hiidup, kemudian bergeser  hanya sekedar menjadi ajang penyampai kepentingan semata. Bagaimana pula keadaannya ?. maka lihatlah peradaban anak bangsa sekarang ini. Itulah hasilnya. Begitu jugalah yang terjadi pada agama-agama. selalu saja begitu keadaannya. Jika para pengusung paham tidak mampu berserah, maka apapun sarana (syariat) hanyalah seremonial yang menjadi alat untuk menyembunyikan nafsu belaka.

Mas Dikonthole mampu membaca keperihan para pinisepuh ini. Mereka pun tertatih-tatih memasuki abad milinium ini. Kesadaran mereka tergerus dan terlibas majunya teknologi. Bahasa simbol dan bahasa tanpa kata telah hilang dari benak anak bangsa ini. Bahasa penuh romansa dan makna sudah hilang dari bumi nusantara. 

Mas Dikonthole perih meraga sukma, dalam hati Mas Dikonthole berbisik, “Bukankah Al qur an juga mengakomodasi bahasa simbol. Bacalah Alif Lam Mim dll nya. Maka apakah tak layak jika  bahasa simbol di nusantara ini juga dipertahankan..?. Bahasa tembang dan kembang milik leluhur bangsa ini. ” Entahlah itu, pasti nantinya akan menjadi polemik lagi. Tembang dan kembang nantinya hanya akan menjadi perseteruan lagi antar manusia yang masing-masing membela pemahaman. Duh, inilah manusia.

wolohualam





Jumat, 08 Februari 2013

Kisah Spiritual, Reinkarnasi Fakta Dunia Paralel


Mas Dikonthole,  akan bercerita tentang pemahaman reinkarnasi agar kita menjadi jelas. Srimad-Bhagavatam, tersusun tiga ribu tahun sebelum masa ovid, berisi cerita istimewa,  juga berikut mengungkapkan prinsip-prinsip reinkarnasi dalam pelaksanaan dengan cara mengesankan.

"Seperti halnya seseorang mengenakan pakaian baru, dengan meninggalkan pakaian lama, begitu pula, sang roh menerima badan-badan jasmani yang baru, dengan meninggalkan badan-badan tua yang tidak berguna lagi" (Bhagavad-gita 2.22)

Maharaja Bharata, seorang raja yang mulia dan suci di India, terpaksa menjelma satu kali didalam badan seekor rusa sebelum mencapai bentuk manusia lagi karena ikatan yang sangat keras terhadap seekor rusa.

Pada suatu hari, Bharata melihat anak rusa itu terapung di sungai, dan dia merasa kasihan. Bharata mengangkat binatang itu dari air, dan oleh karena dia mengetahui bahwa anak rusa itu tidak mempunyai induk, kemudian dia bawa anak rusa itu ke asramanya. Perbedaan jasmani tidak ada artinya dari segi pandangan seorang rohaniawan yang bijaksana: oleh karena Bharata sudah insyaf akan dirinya, ia melihat semua makhluk hidup dengan pandangan yang sama, dengan mengetahui bahwa roh dan roh yang utama (Tuhan Yang Maha Esa) berada didalam badan semua makhluk.

Bharata sedang semedi, dan seperti biasa dia mulai memikirkan si rusa dan tidak berfikir tentang Tuhan. Konsentrasinya terputus, dan dia memandang kesana kemari untuk melihat dimana anak rusa, dan dan ketika dia tidak dapat menemukan rusa itu, pikirannya menjadi goyah, bagaikan orang pelit yang telah kehilangan uangnya. Dia bangun dan mencari-cari di daerah sekitar asrama-nya. Tetapi rusa itu tidak dapat ditemukan dimana-mana.

"Bharata berfikir," kapan rusaku kembali?. Apakah dia selamat dari harimau dan binatang lainnya?. Kapankah saya akan melihat si rusa sekali lagi mengembara di tamanku dan makan rumput hijau yang segar?.  Bharata tidak menahan dirinya. karena itu, ia keluar mencari rusa itu. Dengan mengikuti jejak telapak kakinya. Dalam kegilaannya, Bharata mulai bicara dengan dirinya sendiri,  

"Makhluk itu begitu tercinta sehingga saya berpikir seolah-olah saya kehilangan anakku sendiri. Oleh karena demam kerinduan yang membakar didalam hatiku, saya merasa seolah-olah berada di tengah-tengah kebakaran yang berkobar di hutan, sekarang hatiku berkobar dengan api keduka-citaan"

Bharata sangat bingung mencari rusa yang hilang di jalan-jalan yang berbahaya di hutan, dan tiba-tiba dia jatuh dan mendapat luka parah. Bharata tergeletak di sana pada saat hampir meninggal, dan dia melihat bahwa rusa nya tiba-tiba muncul dan duduk di sisinya, menjaga dirinya seperti putra mencintai ayahnya. Demikian, pada saat menemui ajalnya, pikiran sang Raja Bharata berpusat sepenuhnya kepada rusa itu.

Dalam penjelmaan berikutnya, maharaja Bharata didapati menjelma, lahir, masuk ke dalam tubuh seekor rusa. Bhagavad-gita telah menjelaskan bahwa, keadaan manapun yang diingat seseorang pada saat ia meninggalkan badannya, pasti keadaan itulah yang akan dicapainya. Begitu juga keadaan Bharata, pada saat yang diingat saat matinya adalah seeokor Rusa, maka diceritakan ruhnya dikehidupan berikutnya ‘mengarah’ menjelma kepada seeokor rusa. Sang Bharata reinkarnasi pada tubuh seekor Rusa. Begitulah diceritakan Bhagavat-gita. (Konsep ini senafas dengan konsep Islam, ketika seseorang  saat matinya mengucapkan La ila ha ilallah maka dirinya dijamin masuk surga-sebab objek berfikirnya kepada Allah-pen)

Bharata sudah mendapat pelajaran yang berharga, ketika dia dapati dirinya menjadi rusa.  Dia dapat melanjutkan kemajuannya dalam keinsyafan diri. Sebab tingkat spiritualnya telah mencapai tingkat yang tinggi sekali. Karena itu walaupun dia sudah menjadi rusa, dirinya mengulang kembali, melepaskan jiwa  dari segala keinginan material. Dia meninggalkan pergaulan dengan segala rusa, jantan maupun betina, meninggalkan ibunya di pegunungan Kalanjara, tempat lahirnya. Ia kembali ke pulaha-asrama, tempat ia telah mempraktekkan semedi didalam penjelmaan yang lalu.

Kali ini dia hati-hati supaya tidak pernah lupa kepada kepribadian Tuhan Yang Maha Esa. Ia tinggal dekat asrama orang-orang suci dan resi-resi yang mulia, dan menghindari segala hubungan dengan orang duniawi, hidup dengan sederhana sekali, dan hanya makan daun yang keras dan kering. Pada saat meninggal, Bharata meninggalkan badan rusa, dan dengan suara keras ia mengucapkan doa berikut

"Kepribadian Tuhan Yang Maha Esa adalah sumber segala pengetahuan, penguasa seluruh ciptaan, dan roh yang utama didalam hati setiap makhluk hidup."

Dalam penjelmaan berikutnya, maharaja Bharata lahir dalam keluarga seorang Brahmana yang suci dan murni, dan didalam penjelmaan itu dia bernama Jada Bharata. Atas karunia Tuhan, sekali lagi dia dapat ingat kepada penjelmaan-penjelmaan yang lalu .Kemudian dari dialah yang mengkisahkan cerita ini.

(Ilustrasi diatas dikutip dari sebuah kitab yang dikarang oleh Om Visnupada, sebagai arahan untuk mengerti apa itu reinkarnasi) .

Banyak sekali jika kita telusuri kisah-kisah para satria serta bangsawan dan juga pembesar negri dimasa lalu  yang menjauhi kehidupan duniawi memilih kehidupan sebagai resi. Mereka melakukan olah ruhani dengan bertapa, menyepi, menjauhkan diri dari nafsu badani,  dan juga  mereka melakukan laku spiritual yang semisal dengan itu. Kekuatan pengolahan jiwa mereka, kemampuan spiritual mereka banyak kemudian melahirkan kisah-kisah lainnya lagi. Jiwa mereka seperti mampu menciptakan realitas-realita baru. Maka dalam kisah para resi ini kita dapat mengambil pelajaran bagaimana keadaan jiwa ketika sudah diolah sedemikian rupa.

Begitu hebatnya olah spiritual para resi ini, sehingga saat mana jiwa diarahkan kepada objek berfikir yang mereka inginkan, maka bisa jadi saat itu juga, jiwa sudah dalam realitas yang dipikirkannya tersebut. Dalam sebuah kisah, ada seorang resi yang sedang bertapa, kemudian objek fikirannya mengarah kepada kerajaan yang ditinggalkannya. Begitu koordinat positioning jiwa terbentuk, maka jiwa sang resi seperti langsung memasuki ‘lorong waktu’ menuju kepada koordinat yang diinginkan fikirannya. Maka menjelmalah dirinya disana. Menjadi realitas kehidupan manusia biasa, dengan menempati raga yang baru. Dan juga sebutan dengan nama baru. Seakan-akan dirinya menjelma menjadi orang lain. Padahal sementara itu raga aslinya masih berada di tempat semedinya, di pulasara nya. Mulailah dirinya kemudian menjalin kisah berikutnya, sebagai manusia normal lainnya, terjalinlah takdir-takdir baru bagi dirinya, sebagaimana kisah para raja.

Begitulah kisah kemudian dirajut, mengharu birukan dirinya, kisah-kisah sedih dan duka lanyaknya kehidupan manusia normal biasa lainnya. Jiwanya telah menciptakan realitas baru bagi kehidupannya sendiri. Namun seiringnya waktu di masa-masa setelah kekuasaannya sebagai raja mulai usai, dimana dirinya merasa harus kembali mengolah jiwanya,  dirinya mulai tersadar, siapakah hakekat dirinya itu dan untuk apakah dirinya hidup di dunia ini.

Proses penyadaran ini juga tidaklah mudah. Banyak tempat dia datangi, banyak guru dikunjungi, banyak laku dia jalani. Semua rasanya sia-sia, saat mana dirinya akan menyucikan jiwanya menghadap Tuhan, untuk moksa, selalu saja terhalang dan terhalang lagi. Lelah jiwanya, hingga mendekati keputus asaan. Tidak terbilang hari, dia terus menjalani derita yang bertubi-tubi. Siksaan lahir dan batin, jiwanya benar-benar seperti dalam neraka. Tidak mampu pulang dan tidak mampu pergi. Seperti didalam tong yang sedang dibakar saja. Kemudian dari seorang resi yang sakti dirinya mengetahui bahwa ternyata jiwanya masih tertahan dalam sebuah proses reinkarnasi.

Akhirnya dia mendatangi seorang resi maha guru lain yang lebih paham untuk  menanyakan perihal dirinya. Kemudian oleh sang resi dibeberkanlah hakekatnya siapa dirinya yang asli. Diceritakan bahwa raga aslinya  masih bertapa, semedi di tempatnya. Maka oleh sang resi diminta agar dirinya menempuh perjalanan kesana , untuk mendapati raga aslinya.Mengulang kembali semedi dari awalnya lagi. Menjalani prosesi penyucian jiwa sewajarnya, sesuai dengan hukum-hukum alam. Sesampainya disana, benar, meninggal-lah sang raja disana beberapa langkah dari raga aslinya. Seketika jiwanya kembali kepada raga aslinya.

Dari sang resi dirinya kemudian mengetahui, bahwa Jiwa tidaklah diperbolehkan menciptakan ‘realitas’ sekehendak dirinya sendiri. Jiwa harus tunduk atas hukum-hukum alam. Begitulah hikmah yang diajarkan sang  resi. Saat mana, ketika jiwa menciptakan realitasnya sendiri, maka bersiaplah untuk menemukan kehancurannya. Jiwa akan memasuki dimensi dunianya yang paralel. Dan jiwa tidak akan mungkin mampu kembali lagi. Dapat saja kemudian Jiwa akan tertahan di alam materi, di batu, pohon, pada anjing, kucing, atau babi.. Bahkan bisa dimana saja. Tergantung atas apa yang menjadi objek dalam fikirkannya. Begitulah hukum-hukum reinkarnasi.   Kecuali Tuhan menghendaki, dengan memberikan kesadaran kepada dirinya, untuk mengetahui hakekat jatidirinya lagi, sehingga kemudian dia mampu menyucikan dirinya kembali.

Inilah yang menjadi mata rantai pemahaman Mas Dikonthole. Menjadi benang merah atas pemahaman satu dan lainnya perihal ‘tauhid’.

Membedah  pemahaman

Pemahaman reinkarnasi  ini seperti berpilin-pilin, saat mana ajaran  Islam datang yang , kemudian menolak dengan keras dan sangat tegas adanya reinkarnasi. Masyarakat muslim sendiri terpecah, sebagian kemudian menjadi gamang antar percaya dan tidak percaya, anatara yakin dan tidak yakin. Namun faktanya,  kesadaran kolektif lebih cenderung   meyakini bahwasanya fenomena reinkarnasi ini nyata dan real dan tidak bisa diabaikan begitu saja.

Karenanya Mas Dikonthole sendiri yakin, mereka umat Islam sendiri dalam keraguan yang tersembunyi atas fakta ini. Sehingga oleh karena itu, kita dapati banyak umat yang akhirnya menjadi masa bodoh saja. Fenomena reinkarnasi mereka anggap sebagai fenomena para Jin biasa. Bahkan mungkin dianggap sebagai orang yang sakit jiwa atau mungkin semacam orang yang kerasukan. Sehingga orang-orang ini, diperlakukan seperti pesakitan saja. Dikirim ke rumah sakit jiwa atau mungkin di rukyah ala para kyai Ibukota.

Padahal bagi yang mengalaminya fenomena ini, sangat real, dan juga banyak masyarakat meyakini sekali, dengan adanya bukti-bukti atas fenomena tersebut, begitu tak terbantahkan sampaipun ilmu pengetahuan tidak mampu menjelaskannya. Oleh karena itu, benturan dua pemahaman ini mengakibatkan kegamangan yang serius. Adanya dua kubu ‘kesadaran’ yang bersiteru ini,pada gilirannya, hanya melahirkan  keyakinan ‘keimanan semu’, sebab masih ada keraguan yang tersembunyi atas reinkarnasi itu sendiri, terutama bagi orang Jawa yang kebetulan Islam.

Prosesi reinkarnasi Dalai lama yang fenomenal, dan bagaimana kaum biksu disana (yang) mampu menghitung dengan tingkat akurasi yang tinggi, atas prosesi reinkarnasi. Melalui perhitungan dan methode peramalan, dan dengan melihat tanda-tanda alam,  mereka para biksu disana mampu menghitung dimana koordinat sang Dalai Lama akan reinkarnasi. Pendek kata, kemana dan dimana sang Dalai Lama akan reinkarnasi mampu mereka hitung dengan akurasi tinggi. Oleh karena itu reinkarnasi menjadi sebuah keniscayaan saja, dan menjadi keyakinan para pengusungnya, sebab fakta-faktanya memang  tidak bisa begitu saja diabaikan. Inilah dilematikanya.

Demikianlah yang dialami Mas Dikonthole, sepanjang hidupnya. sebab dirinya adalah saksi atas prosesi reinkarnasi, dirinya mengalami kejadian-kejadian yang dikisahkan oleh para sespuh dan pinisepuh Jawa. Dirinya merasa bahwa ada ‘entitas’ orang masa lalu yang selalu mengusik kesadarannya. Dirinya seperti terus diajak mengembara ke masa-masa lalu. Hingga tersusunlah rangkaian cerita yang tersaji dihadapan sidang pembaca ini. Bagaimanakah dirinya harus menyikapinya. Sungguh benturan keimanan yang sangat dahsyat tengah dialaminya. Sebab kesadaran Islam jelas menolak pemahaman ini.

Untuk menarik benang merah atas dua pemahaman yang seperti bersiteru perihal reinkarnasi ini, maka Mas Dikonthole mengajak kita untuk membedah pemahaman atas firman Allah pada surah Ar rohman ini,

Rabb yang memelihara kedua tempat terbit matahari(Timur)  dan Rabb yang memelihara kedua tempatterbenamnya (Barat)  . (QS. 55:17) Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, (QS. 55:19) antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing . (QS. 55:20)  Dari keduanya keluar mutiara dan marjan. (QS. 55:22)

Mari kita luruhkan dan endapkan sejenak, seluruh pemahaman  yang kita miliki. Masuki apa adanya, sederhana saja. Perumpamaannya adalah dua Timur dan dua Barat, kemudian dalam ayat selanjutnya diberikan perumpamaan lain dua lautan mengalir dan bertemu, keduanya ada batas, dari keduanya keluar mutiara dan marjan. Ilustrasinya adalah semisal dua kehiduan yang paralel, inilah kehidupan manusia. Kehidupan yang saling berpasangan, dimana dalam satu sisinya ada matahari yang terbit dan matahari terbenam, begitu juga disisi lainnya. Ada dua Timur dan dua Barat yang paralel. Pada dua sisi ada kehidupan sebagaimana manusia biasa, itu adalah lautan kehidupan manusia, dimasing-masing sisi kehidupan yang paralel itu ada perhiasan dunianya masing-masing.  Kedua kehidupan ini tidak saling bertemu sebab ada batasan yang tidak mungkin dilampaui. (Mari luruhkan sejenak-pen).

Marilah kita masukan pemahaman dari para resi yang diilustrasikan diatas, bagaimana jika kita anggap bahwa  jiwa sang resi teryata memasuki sisi dunia lainnya ini. Ibarat sebuah cermin, maka sang resi masuk kedalam cermin tersebut. Masuk kedalam dunia bayangan. Seperti cerita komik bukan ?. Orang yang sudah memiliki kemampuan kesadaran yang tinggi akan berada pada dimensi kesadaran yang lebih tinggi sehingga dirinya akan mampu menyadari adanya keberadaan dua dimensi ini. Dimensi kehidupan yang paralel dengan kehiudpan manusia ini. Maka dikatakan Tuhan dari dua Timur dan dua barat, sebab disemua sisi sama keadaannya. Ityulah hasil oleh spiritual, emngolah kekuatan jiwa.

Maka jika kita mengolah kesadaran (jiwa)  seperti para resi misalnya, hasil pemahaman yang akan didapat adalah pemahaman seperti itu. Jiwa yang digetarkan sedemikian hebat akan memasuki dimensi lainnya, dimensi sisi kehidupan lainnya. Dapatlah dikatakan adalah dimensi kehidupan sang Qorin itu sendiri. Kesadaran AKU sejati akan memasuki kehidupan sang Qorin tersebut. Mka kali berikutnya sang Qorinlah yang kemudian menjalani kehidupan baru disisi yang satunya lagi, lengkap dengan romansa kehidupannya.

Sang Qorin inilah yang mengalami  takdir-takdir kehidupan lainnya. inilah akibat dan sebab saat meditasi tidak lurus kepada Allah. Sehingga pada gilirannya sang ‘Kesadaran Aku Sejati’ menyasar mengikuti dan  menyatu kepada kesadaran sang Qorin (saudara kembar). Untuk menjalani fase kehidupan lainnya lagi, disisi kehidupan dunia satunya.  Jika sang Qorin tidak tersadar atas hakekat dirinya yang merupakan satu pasangan dengan AKU sejati , dan lekas kembali kepada hakekatnya, maka sang Qorin akan terus mengalami reinkarnasi sepanjang jaman, sehingga keadaan sang AKU sejati juga akan mengalami siksaan yang luar biasa. 

Perhatikan pemahaman tersebut akan sejalan dengan hasil olah spiritual para resi yang mengalami kejadian fenomena reinkarnasi ini.  Dimana diceritakan bahwa  sang Qorin harus terus mencari raga-raga baru untuk membimbing jalannya agar dapat bersatu kembali dengan sang AKU sejati yang telah terpisah darinya itu. (Semisal sang resi dalam ilustrasi diatas).

Maka dalam kejadian nyata sehari-hari, Mas Dikonthole dapati bahwasanya yang mampu reinkarnasi hanyalah orang-orang masa lalu yang memiliki kemampuan spiritual yang tinggi yaitu orang-orang yang mengolah jiwa mereka sedemikian hebatnya. Seperti para raja, para ksatria, para resi, dan kaum kebatinan lainnya dan juga para syekh , para wali, dan lain sebagainya. Sebab dimungkinkan hanya mereka-merekalah yang mampu menggetarkan jiwanya itu, namun ini masih menjadi spekulasi apakah benar, sebab dikarena mereka (telah) salah dalam meletakan objek berfkirnya dalam semedinya atau mereka saat kematiannya tidak mengarahkan objek berfikirnya kepada Allah, maka sang Qorin nya mengalami reinkarnasi ?. Maka kebenaran keadaan ini hanya sebatas dalam keyakinan Mas Dikonthole saja. Mengapa ?, 

Sebab hal itu berkaitan juga dengan pengajaran Islam (tauhid) yang  dengan sangat elegan mengajarkan umat muslim atau siapapun yang berserah (Islam) bahwa pada bilamana saat akhir hayatnya mampu untuk mengarahkan objek berfkirnya hanya kepada Allah (La ila ha ilallah), sebagaimana juga yang dilakukan sang Resi Bharata dalam ilustrasi dimuka. maka jiwanya akan langsung menuju kepada Allah. Sehinga sang  sang Qorin juga dapat ikut moksa menempati nirvananya. 

Karenanya, jika kita mampu begitu,  sang Qorin dikemudian hari, tidak perlu menempati raga-raga baru,  sang Qorin tidak perlu mengalami fase reinkarnasi lagi.  Inilah yang menurut Mas Dikonthole menjadi benang merah kedua pemahaman.  Kedua pemahaman yang bermaksud menjelaskan satu fakta kejadian dengan sudut pandang yang berbeda. Hakekatnya hanyalah perbedaan dalam memaknai suatu kejadian yang sama. Maka kembalinya adalah kebijakan dan kearifan kita dalam menyikapi perbedaan cara pandang ini. Begitulah pemahaman Mas Dikonthole atas fenomena reinkarnasi ini.

Maka tugas dan kewajiban Mas Dikonthole sekarang ini adalah mengajak ‘entitas’ orang masa lalu yang reinkarnasi pada dirinya ini untuk kembali kepada-NYA. Mas Dikonthole harus mengarahkan diri (sang entitas masa lalu)  agar mampu kembali kepada pasangannya yaitu kembali kepada Aku sejatinya. Dimana menurut penglihatananya adalah Banyak Wide atau Aria Wiraredja atau Cindelaras atau Raden Panji Inu Kertapati dalam hikayat tanah Jawa. Dimana dalam dimensi ruang dan waktu yang paralel mungkin saja masih bersemedi di alamnya sana. (Namun dalam dimensi ruang dan waktu Mas Dikonthole leluhurnya sudah meninggal, baca kajian dimensi ruang dan waktu di pondokcinde.blogspot.coml)

Mas Dikonthole tidak boleh terbawa oleh kekuatan spiritualnya sehingga akan menciptakan realitas-realitas baru. Jika dirinya tidak mampu yakinlah bahwa dirinya juga akan ikut ‘entitas’ orang masa lalu untuk menjalani perputaran reinkarnasi lagi. Maka dirinya juga akan tersiksa hebat. Inlah filosofi neraka bagi Aku sejati, menurut pemahaman Mas Dikonthole.   Begitulah kesadaran, jika kita masuk mengolahnya maka kita akan mampu memasuki dimensi dua Barat dan dua Timur yaitu dimensi dua kehidupan yang paralel.

wolohualam