Kamis, 30 Mei 2013

KIsah Spiritual, Hadirnya Leluhur Atlantis dalam Bedar Alam



ilustrasi,  koran-jakarta.com

Sudah dua hari ini hidup terasa renyah sekali. Menikmati  berangkat pagi dengan suka hati. Berharap semoga tidak terjadi keanehan-keanehan dikini dan nanti.  Begitulah, Mas Thole sedang dalam  merasakan kehidupan terkininya. Tidak ada gempuran rahsa, tidak ada belitan energy, tidak ada nuansa misteri semua berjalan apa adanya saja. Sungguh betapa nikmatnya hidup dalam dua hari ini. Berita dan email dari Ratu Boko pun juga tak ada. Semua kembali pada dimensi realitas hidup ini. Hanya kadang Mas Thole sesekali masih menanyakan keadaan Putri Sriwijaya dan Gusti Ratu Pambayun. Dua orang inilah yang masih sering komunikasi.  Betapa di dua  pagi, ~ hari   bersamanya menyeliputi riangnya hati.

Blam..blam...!. Tiba-tiba rasa berat menggelayuti badannya, seperti ada ribuan laksa pasukan masuk ke badannya. Tentu saja hal itu mengakibatkan rahsa kantuk yang luar biasa. Sementara itu, Mas Thole sedang duduk dibelakang mendengarkan seksi pelatihan, menjadi pengamat. Hampir saja dia rebahkan kepalanya. Jika saja dia bukan sedang dalam mengajar bersama sang Prabu tentu sudah sedari tadi di tidurkan dirinya. “Ya Tuhan ada apa apalagi kah ini..?”  Jiwanya coba bertanya. Apakah ini kantuk biasa ataukah ada lainnya. Pikiran coba ditepiskannya saat dugaan meluncur kepada  tokoh pemaku bumi yang menyebabkan badannya menjadi berat begini. Sebab rasanya baru kemarin ini terjadi. Dia mencoba mengabaikan dugaan itu.

Sebenarnya raa berat itu sudah sedari jam 9 pagi, mulai terasa. Badannya seperti penuh energi. Seperti ada lapisan eter yang mengisi badannya. Hawa yang secara otomatis hadir untuk melindungi dirinya. Hanya dia tidak menyangka jika keadaannya akan semakin parah pada saat siangnya.  Dan puncaknya pada saat sehabis makan siang. Batinya bertanya, mengapakah dia dalam sikap siap sempurna ?.  Kenapakah instrumen ketubuhannya seperti mau perang saja. Semua dalam siaga ?. Dan pertanyaan itu, semua menjadi jelas saat Gusti Ratu Pambayun mengirimkan SMS.  Ugh..!.  lagi-lagi  dari tokoh pemaku bumi yang merasa sakti. “Mengapakah dia berulah lagi ?. “ Batin Mas Thole tak mengerti.

Nada SMS tokoh ini seperti mengadili raga terkini Gusti Ratu Pambayun. Sehingga Gusti Putri menjadi serba salah dan mengirimkan SMS kepada Mas Thole untuk memperbaiki kisah-kisah tentang sang tokoh tersebut.  “Adakah yang salah dalam kisahnya ?”Pikir mas Thole tak mengerti ?. Apa yang dikisahkannya sudah sangat berhati-hati sekali. Semua adalah kisah nyata dan merupakah kisah spiritual dalam dimensi keyakinan. Sehingga siapapun yang tidak meyakini akan sulit masuk kedalam inti kisahnya.

 “Mas Thole..mungkin bisa direvisi isi artikelnya..Atau ada jawaban untuk dia (nama raga terkini)..”  Begitulah bunyi SMS Gusti Pambayun. Meminta agar Mas Thole merubah jalan kisahnya itu. Sungguh ada rahsa gamang dan serba salah yang tertangkap Mas Thole. Atau ada rahsa takut yang menyelinap di hati Pambayun terhadap tokoh ini. Semakin menambah ketakmengertian Mas Thole.

Padahal juga sudah ditegaskan bahwasanya para kesatria tidak berurusan dengan raga terkini. Ketika satria berbicara maka harus dipisahkan yang mana orang masa lalu dan manakah raga terkini. Para kesatria berada dalam tataran kesadaran sehingga perang yang dilakukan adalah perang kesadaran. Mereka dilahirkan kembali untuk memperbaiki kesalahan ini. Adalah kesadaran yang salah yang ternyata kemudian telah melahirkan pelbagai macam benturan dimasa peradaban berikutnya. Kesadaran yang tidak lurus kepada Allah akan menghasilkan sesuatu lainnya, sebagaimana keadaan generasi di masa kini. Ya, maka hasilnya adalah generasi yang sudah terlanjur ber anak pinak seperti sekarang ini.

Mengapakah sang tokoh tidak mampu memaknai hakekat ini ?. Mengapakah dia merasa disalahkan ?. Mengapakah saat setelah membaca apa yang dikisahkan tidak membuat dirinya melakukan introspeksi diri ?. Kemudian memohon maaf atas kesalahannya melecehkan Pambayun ?. Dia masih dalam arogansinya. Dia masih terus menganggap sepela para kesatria. Dia masih terus menganggap bahwa atas berkat jasanyalah jawadwipa bisa aman bisa lepas dari pengaruh jin dan syetan.

Sifat ujub diri inilah yang menyebabkan sang tokoh ini meremehkan kestaria khususnya Gusti ratu Pambayun, tokoh yang paling muda usianya diantara kesatria lainnya. Tentu saja hal ini mengusik lainnya. Terutama Banyak Wide, amarahnya sudah menyundul langit. Dia yang hidup masih satu generasi dengan sang tokoh tahu persis bagaimana sepak terjang tokoh yang satu ini. Jika tidak karena rahmat Tuhannya mungkinBanyak Wide akan menantang sang tokoh untuk adu kesaktian. Tidak saja di masa lalu bahkan di masa sekarang ini pasti akan dilakukannya. Syukurlah Allah memberikan burhan, sehingga Banyak Wide menahan dirinya.

Bergulatan tanya, sungguh aneh sekali, jika memang dia ini tokoh sekelas  wali, tentu dia akan paham hakekat  “Lahaula wala kuwata illa billah”. Tiada daya upaya selain Allah. Maka seharusnya taokoh tersebut pahambahwa apapun upaya yang dia lakukan adalah atas kehendak Allah. Sekali lagi, mestinya dia paham perihal ini.  (Yaitu) Hakekat bahwa seluruh kejadian adalah kehendak Allah semata. Bahkan Rosululloh pun tidak pernah melakukan klaim seperti itu. Mengapakah dirinya selalu mengangul-anggulkan jasanya ?.

Bukan atas kuasanya jika raganya dapat digerakkannya untuk memaku bumi. Dan juga bukan atas keinginnya jika kemudian dia memiliki niat untuk memaku bumi. Semua hakekatnya adalah Allah yang berkehendak atas bumi jawadwipa ini. Manusia hanyalah wayang. Siapakah yang menggerakan hatinya ?. Siapakah yang menggerakkan dirinya ke jawadwipa ?. Allah yang berbuat seperti itu. Maka mengapakah sekarang ini dirinya berlaku sobong dihadapan para kesatria ?. Bahkan melecehkan keberadaan Gusti ratu Pambayun ?.

Kesombongan adalah baju kebesaran Allah. Maka jika ada makluk yang mencoba mengenakannya. Lihatlah contohnya di al qur an, bagaimana Iblis yang mencoba mengenakan baju Allah pada dirinya. Seluruh alam kemudian menghinakannya. Sungguh Allah sangat membenci makluknya yang berlaku sombong. Apakah dirinya tidak memahami hakekat ini. Masihkah dia terus mengagul-agulkan jasanya saat mana memaku bumi tanah jawadwipa ?. Apakah karena dirinya merasa sebagai wali, sebagai syekh yang sakti ?. Kesombongannya masih saja seperti dulu !. Heh..!. Inilah bagian dari SMS nya yang dicuplikan sebagiannya.

Aku sbgai pembuka tanah jawa ini sejujurnya merasa sngt sedih melht episode demi episode khdupan manusia yg silih berganti yg didominasi oleh nafsu keserakahan untk menguasai yg lain. Bla..bla  “ (Baca; Berita Kepada Alam)

Penggunaan kata ganti Aku dalam setiap pernyataannya ini, mampu dibaca oleh Banyak Wide. Aroma yang dibawanya ke- Aku- an yang di bawanya, sungguh sangat jauh dari apa yang tersurat di dalam kalimatnya.  Manis pernyataannya namun dalamnya menyakitkan sekali. Janganlah menganggap para kesatria adalah anak kemarin sore. Usia para kesatria yang diturunkan alam sudah banyak yang menembus sribu tahun bahkan lebih dari itu ratusan tahun lagi. Pernyataan “Aku sbgai pembuka tanah jawa...” Adalah sebuah pernyataan ke jumawa an dirinya. Dia yang merasa paling...Hhh. Bergetaran sendi-sendi Mas Thole menahan amarah Banyak Wide. “Apakah tokoh itu tidak menganggap sama sekali para pinisepuh jawa...?!”

““Jika orang2 dimasa lalu itu tidak tamak jawadwipa tdk akan sperti sekarang ini..jgnlah kita saling menyerang dan menyalahkan itu yang aku sayangkan. “Biarkanlah apa yang ada berlaku sdemikian itu, walau mereka mampu menggerakan gunung dgn tangannya, mereka tdk akan mampu menyentuhmu karena AKU selalu bersamamu””

Pembelaan yang sangat keliru, tidak ada sedikitpun leluhur menyerang raga terkini. Jikapun mereka terkena hanyalah radiasinya saja. Para leluhur hanya menyerang kesadaran sang tokoh yang terus bertahan dengan kepongahannya. Banyak sekali pernyataannya yang disunting dan tidak ditampilkan sebab alasan etika. Seorang tokoh yangdipuja nyatanya begitu keadaannya, bukankah sangat malu rasanya jika disampaikan, walau hanya semisal kisah spiritual saja.

Mengapa dia tidak sadar juga, bahwa paku yang ditanamkannya sudah terkontaminasi kesombongan yang tersembunyi di dalam hatinya. Seorang wali Allah jika ada setitikpun debu kesombongan maka batal sudah kewaliannya. Paku yang terkontaminasi kesombongan inilah yang dia pancamgkan di jawadwipa, sehingga setiap detik menyebarlah radiasi kesombongan. Paku ini bekerja seperti pemancar radio yang terus saja bekerja disegala peradaban di nusantara ini. Jelas saja keadaan ini sangat fatal akibatnya.

“Kesadaran yg dibbrikan pada saat itu bukanlah kesadaran tandingan dgn kesadaran yang telah ada, tapi membenahi tatanan kesadaran yang telah kacau krna mereka para penghuni jawadwipa  waktu itu kehidupannya menurutkan hawa nafsu jahatnya..jiwa2 yg telah berkongsi dgn jin2 kafir..Shingga kondisi tersbut  telah memporak porandakan tatanan sosial – spiritual yg ada. Jadi kedatanganku dgn kesaaran baru bukan utk mencari permusuhan melainkan  berbagi kedamaian dan keselamatan bagi smua makhluk Allah yg ada di jawadwipa.”

SMS tersebut diminta agar disampaikan kepada Mas Thole. Begitu diawalnya, pernyataannya selalu baik dan manis, namun dibelakangnya selalu dibumbuhi rasa ke Aku an yang tinggi. Diungkitnya lagi jasa-jasanya yang telah memaku bumi nusantra ini. Para kesatria dia lecehkan keberadannya. Selalu dan selalu jasanya itu yang disebutnya. Seakan dirinya meminta dipuji dan dipuja atas kepahlawanannya. Jelas Banyak Wide tidak mudah dibohongi dengan hal seperti itu. Dirinya tidak sadar juga bahwa saat sekarang ini dirinya diberikan KESEMPATAN KEDUA dengan lahir kembali di dunia. Untuk apa ?. Ya, pasti untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu.
Manusia yang reinkarnasi pasti harus menjalani karma-nya. Jika dirinya memang sudah benar maka dirinya pasti sudah di nirvana sana. Menikmati kehidupan surgawi. Maka jika dia masih ada di dunia, lebih baik berkacalah. Kesalahan apa yang teah di buatnya di masa lalu, sehinga dirinya meski reinkarnasi lagi. Mengapa hal semudah ini saja tidak dimengertinya. Bikin marah saja !.

Selama 2-3 jam Mas Thole berkutat dengan SMS itu. Entah kenapa kesatria kemudian terkoneksi Putri Sriwijaya menanyakan ada apa ?. Mas Thole secepatnya minta ijin untuk sholat ashar, raganya sudah dipenuhi energy yang membutuhkan penyadaran. Maka dilakukannya sholat yang panjang dan lama. Maka dalam kesadarannya hadirlah para pinisepuh nusantara bahkan dari masa kerajaan atlantis, turut menjadi saksi keadaan.  Bagaimana sedihnya Mas Thole, sebagai orang asli Jawa dirinya benar-benar terusik. Mengapakah kesadaran asing terus menerus melecehkan kesadaran Jawa.

Jika bukan atas kehendak Tuhan atas peradaban dan kesadaran yang mesti digilirkan di muka bumi. Maka sudah barang tentu para pinisepuh Jawa tidak akan membiarkan anak keturunannya dihinakan oleh kesadaran lainnya.  Mereka tahu dan sadar  sadar sekali saat mana peradaban atlantis diluluh lantakan alam sebab sudah mengesampingkan Tuhannya. Sehingga mereka ditengelamkan. Kemudian kekuasaan dipergilirkan dari satu bangsa ke bangsa lainnya. Mereka tak mampu berbuat apa-apa sebab itu sudah kehendak Allah.

Oleh karena itu saat mana bumi jawadwipa di paku oleh kesadaran lain, pinisepuh  juga diam saja sebab mereka menyadari bahwa belum saatnya kesadaran Jawa  bangkit kembali. Kejayaan atlantis belum saatnya kembali eksis di muka bumi ini. Maka sekali-kali bukan karena mereka tidak memiliki kesaktian untuk memaku bumi jawadwipa. salah besar anggapan bahwa saat itu Jawadwipa penuh dengan jin dan syetan yang tidak bisa dikendalikan oleh orang-orang Jawa. Maka kesombongan tokoh itu tidaklah pada tempatnya.

Hanya sebab para pinisepuh mereka patuh kepada kehendak alam untuk berdiam diri, bersabar menunggu saatnya saja yang menyebabkan mereka tidak bertindak. Mereka memahami dan mampu membaca kehendak Allah maka mereka tidak melakukan itu. Buklannya karena sebab mereka tidak punya kesaktian !. Siapakah yang tidak tahu kesaktian para ahli kitab di jaman nabi Sulaiman. Itulah leluhur bangsa Jawa.

Maka menjadi aneh sekali jika tokoh sakti tersebut melakukan klaim kesaktian pakunya sanggup mengusir jin dan syetan. Buktinya saja adalah sekarang ini. Lihatlah, bagaimana keadaan manusia di masa sekarang, bukankah mereka  ini tetap saja berkolaborasi dengan Jin dan syetan. Perdukunan marak dimana-mana. Sungguhkah dia tidak melihat keadaan jaman sekarang ini ?. Dimanakah kesaktian paku bumi sang tokoh ?. Kesal sekali Mas Thole, menangkap energy yang dilontarkan sang tokoh yang satu ini. Maka tak ayal lagi, selesai sholat dirinya mengambil posisi bersiap.

Sikap takjim berdoa, sikap duduk siaga. Memohon ampunan-Nya, memohon rahma-Nya. Dalam kesadarannya diliputinya alam semesta, adakah yang ingin disampaikan alam kepada dirinya ?. Selintasan terdengar suara berderak, alam ternyata ikut murka. Maka disatukan formasi para kesatria. Formasi bintang pari, Banyak Wide di depan, sebelah kanan Prabu Silihwangi, sebelah pojok kiri Ratu Boko, Sebelah bawah Patih Nambi, Bagian bawah lagi Ki Wiroguno dan Pambayun, bagian dalam Ratu Sriwijaya. bersatu dengan keekuatan alam. Dan tiba-tiba bergulung-gulung angin berputar, terus menembus angkasa.

Dalam tiwikrama, berdatanganlah leluhur tanah Jawa ini, sesepuh yang sudah berusia lebih dari 10 ribu tahun, Sabdo palon dan Naya Genggong, dan leluhur lainnya yang sudah setingkat manusia setengah dewa, yang berada dipuncak-puncak gunung, yang berada di lembah-lembah, semua berdatangan. Mereka menyaksikan apa yang akan terjadi, mereka menjadi saksi kesedihan para kesatria. Tokoh paku bumi ini telah menyulutnya, menjadi pemicu tokoh-tokoh lainnya yang serupa. Tokoh yang dengan sombongnya mengabaikan keberadaan pinsepuh Jawa.

Bergerak tangan Mas Thole perlahan, bergulung angin menerpa ke langit, bersatu tenaga semua kesatria. Mereka disatukan oleh alam, tanpa sepengetahuan raga terkini mereka. Perlahan dan mantap Banyak Wide mengeluarkan Pedang Langit, tanda peperangan yang harus di mulai. Maka bergemuruhlah angkasa, awan seperti berderak-derak. Jauh disana di Pulau Sumatra raga terkini Putri Sriwijaya, mutah-mutah berkali-kali, di dengarnya suara tak wajar. Pasukan Sriwijaya seperti di mobilisasi. Pasukan Pajaran, Pasukan Mataram, Pasukan Majapahit telah terhimpun di langit membuat pekat suasana siang tadi. Diirngi doa leluhur tanah Jawa, sesepuh atlantis sebagai penyaksi, para pasukan telah angkat senjata. Maka siang tadi adalah kejadiannya.

Yaitu kejadian pada realitas, tidak sampai 5 menit, areal kawasan industri karawang dimana Mas Thole sedang berada di jatuhi hujan yang aneh, hujan seperti suara air dari ember yang dituangkan. Suara keras sekali, namun hanya sekali  saja kemudian diam. Hujan yang sangat aneh. Rekan sebelahnya juga turut keheranan. Begitu juga mendung tiba-tiba berderak. Gusti Pmabayun melaporkan di kawasan Kuningan hujan deras sekali. Jakarta dan sekitarnya di kepung hujan mulai ashar sampai sore. Hujan yang tak wajar. Hingga malam pun  Putri Sriwijaya masih terus mendengar suara alam yang berderak-derak.

Mas Thole hanya dalam keyakinannya bahwa Banyak Wide dan kawan-kawannya dilahirkan kembali untuk membuka jalan bagi kelahiran kesadaran atlantis yang akan menjadi para kesatria utama dalam kancah peradaban kesadaran baru. Merekalah yang akan mengisi nusantara baru. Dengan kearifan dan kepiawaian mereka sudah tentu dapat dipastikan keadan nusantara baru nanti seperti apa. Merekalah orang-orang Pasundan leluhur tanah Jawa ini. Maka keberdaan mereka akan sellau dipingit sebab banyak sekali bangsa-bangsa dimuka bumi ini yang takut jikalau atlantis akan kembali bangkit. Sungguh negara yang paling ditakuti di muka bumi ini. Peradaban mereka sudah mampu menembus angkasa. Setara dengan makhluk cerdas UFO.

“Ada sesuatukah ?. Alam mulai bergemuruh..” Begitu kekhawatiran Putri Sriwijaya, melalui SMS. Malam semakin larut, dan Mas Thole merasa harus mengkisahkan bagian ini. Entahlah, mungkin saja tokoh sakti  itu kembali tidak suka.  Dan kembali mengobral energynya. Sayangnya bahwa  raga terkini sang tokoh tidak tahu apa-apa, tidak merasa, terhijab dalam angannya,  menganggap bahwa tokoh tersebut semisal dewa. Sungguh semua manusia di mata Allah adalah sama. Yang membedakan hanyalah amal.  Tidak sepatutnya kita manusia mengkultuskan manusia lainnya . Takutlah jika mungkin  saja ada syirik tersembunyi disana.

Dan leluhur Jawa mereka pinisepuh atlantis, menjadi saksi Bedar Alam ~ pergulatan anak keturunannya. Sekarang ini mereka sudah hadir kembali di muka bumi, mereka terus mengikuti kemana anak keturunan Orang Jawa pergi. Mereka yang akan memanggil para kesatria piningit. Para kesatria yang masih tinggal di luar negri. Anak keturunan Jawa yang kembali sebab mereka sudah mengenal jatidirinya anak-anak jawa adalah  ‘wong jowo’.

Wolohualam






Sabtu, 25 Mei 2013

Kisah Spiritual, Serangan Ghaib dalam Keghaiban



Walaikum salam..

Denting seperti dawai, menari menusuki. 
Alam , angin dan awan seperti bernyanyi. 
Nyanyiannya sedih sekali.

Amarah seperti lautan yang hening. 

Telah mengganti air mata menjadi sebuah keyakinan. 
Semuanya pasti akan terjadi. 
Walau ratusan kali kita mati. 
Biarlah sisa kesadaran yang akan mengalir kepada anak keturunan nanti. 
Bersama aliran darah yang menyusup pada DNA.  

Sungguh tidaklah sia-sia,  walau manusia hanya bisa meratapi

Sebagaimana niat dan upaya hati
sedianya paku bumi akan diberangkatkan lagi..
namun realitas terkini kadang sulit dimengerti
Benturan energy dalam minggu-minggu ini, menyebabkan
kulkas, magic jar, kipas angin, bahkan breker listrik mati
banyak peralatan listrik yang mati konsluiting..
semua harus diganti, agar tidak ada permasalahan dengan istri

dan itu mau tidak mau menggunakan dana pribdadi yang sedianya untuk kesana 
Mohon maaf sekali, belum bisa berangkat, insyaallah awal bulan
dengan ijin Allah sudah diniatkan.

Mohon doanya..

Sunguh sulit memaknai kejadian yang serba kebetulan..
Jika memang harus terjadi..maka apalah arti upaya..
hanya harap atas ridho-Nya saja
semoga masih ada waktu..

Perhatikanlah Gn Gede..sebab akan menjadi pemicunya..
yang lain hanya akan menunggu perintah dari Gn Gede.

Mohon maaf sekali..

semoga masih ada waktu..
dan mohon doanya..


salam






Dari: Ratu Boko
Kepada:
  Mas Thole 
Dikirim:
 Sabtu, 25 Mei 2013 5:52
Judul:
 7 Gunung

Assalamualaikum...

Sehari kemarin entahlah Rasa Amarah sering terjadi....
Jumat dini hari dikala Sholat Duha.... Terisak tangis yg mendalam hingga bergetar badan ini...  sepertinya tiada tahan dengan kesedihan2 Nusantara selama ini.

Pagi ini saya baca berita di yahoo, 7 Gunung api status siaga.. Subhanalloh...  3x
7 Gunung telah menanti di tancapkan nya Paku Alam yg terakhir ( 2 paku Alam ) 7 Gunung  Tanda Restu Alam & Detik2 Pelimpahan HAK, Allah hu Akbar.

Semoga perjalanan Mas Thole & Satria lainnya diberi kemudahan, segala nya di beri kelancaran... AMIN.

Salam.


Begitulah email dari ratu Boko, meski malam telah terlanjur menunjukan pukul 2.00 pagi, dituliskannya kisah ini. Dirinya mampu merasakan apa yang tersirat dibalik apa yang tersurat dari sebuah email sederhana itu. Harapan Ratu Boko atas paku bumi. Namun apa mau dikata. Banyak kejadian, banyak sekali benturan energy yang menyebabkan tugasnya menancapkan paku ke ujung pulau Jawa belum bisa dilaksanakan. Ada rahsa perih didada, saat membaca email tersebut. Ada rahsa bersalah, sebab dia sudah menjanjikan akan berangkat di Jum at minggu ini. Namun sungguh, dirinya juga dalam keperihan yang sama, mengetahui keadaan nusantara ini. bagaimana nanti alam akan mencuci darat dalam lautannya. sebagaimana angin tornado yang sudah melibas sebagian Amerika sana.

Ingin rahsanya Mas Thole , menyelimuti diri dengan kulit lainnya lagi. Kulitnya yang sekarang ini tak mampu meredam kerisauannya sejak kemarin ini. Rahsa telah berbalut rahsa. Maka kulitnya tak terasa ada. Benturan-benturan energy telah muncul kepermukaan dalam realitas terkininya. Tidak saja peralatan listriknya yang banyak mati, namun istrinya juga kemudian sakit, panas yang tak dimengertinya. Anaknya disana juga mengkhabarkan sering tidak bisa tidur, sebab banyak makhluk yang mondar-mandir diluar kamarnya, kadang sudah mau membuka pintu. Namun saat melihat anaknya itu belum tidur,  mereka tidak jadi masuk. Karenanya anaknya tidak berani tidur sampai pagi. Duh, semakin kemari, semakin misteri melingkupi keluarganya.

Malam setelah selesainya prosesinya dengan Putri Sriwijaya. Mas Thole bangun tengah malam, dalam kesadarannya di dalam kamarnya penuh dengan makhluk jejadian yang entah dari mana ber-asal.  Banyak pasukan Sriwijaya yang ingin tetap tinggal, disamping itu juga rupanya makhluk yang mendiami tubuh Putri Sriwijaya membawa banyak temannya lagi. Rupanya tuannya tidak terima, mereka disuruh untuk kembali menyerang Mas Thole.

Raga terkini Mas Thole bangun dengan lintasan ketakutan luar biasa pada hatinya. Keadaan kamarnya yang gelap membuatnya merinding. Hanya sekedar untuk pergi ke kamar mandi saja jiwanya seperti ketakutan. “Ugh..ada apakah ini..?.” Kesadarannya tersentak. Sudah bertahun-tahun dirinya tidak merasa ketakutan seperti ini. Jangankan sebangsa wewe gombel bahkan siluman lautan pun pernah dihadapinya. Nyi Roro Kidul pun masih segan pada dirinya. “Lantas mengapakah lintasan rasa takut ini begitu kuatnya..?” Bisik Mas Thole.

Kesadarannya seper sekian detik bekerja. “Argh..ini sihir...!.” Teriaknya dalam batinnya. Dia harus segera sholat. Hanya dengan sholatlah segala bentuk sihir dapat ditaklukan. Maka dengan rasa takut yang sangat, dia pergi ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu, sungguhaneh sekali dirinya saat itu tidak berani menengok kebelakang sedikitpun. Seakan-akan banyak makhluk yang akan menerkamnya jika dia berani menengok ke belakang. Sungguh sangat kasihan keadaan Mas Thole. Raganya yang manusia biasa jelas saja tidak akan mampu menghadapi lawan-lawannya. Maka munculnya menjadi rasa ketakutan yang tidak dimenegrtinya.

Rupanya benturan-beturan energy, peperangannya dengan tokoh sakti pemaku bumi dan juga prosesinya dengan Putri Sriwijaya sudah menguras habis energynya, sehingga dengan mudah dirinya ditembus sihir.  Sihir jika sudah menetap lebih dari 24 jam akan menjadi santet yang akan melumpuhkan kesadarannya. Maka keadaan dirinya akan menjadi seperti orang gila, yang selalu ketakutan, kemana saja akan dihantui makhluk-makhluk. Dia tidak akan pernah bisa tidur. Sungguh ilmu-ilmu dari daerah Sumatra sana memang sangat luar biasa. Rupanya paranormal itu tidak terima jika Mas Thole mengobati Putri Sriwijaya.

Mendapati keadaan dirinya seperti itu dan setelah kesadaranya memindai apa yang terjadi. mantaplah dirinya menghadp kepada Allah mengadukan keadaannya itu. Sholatlah dia 4 rokaat. Perlahan lahan hawa dingin terus mengalir dari dadanya saat sholat. Hawa dinghin itu perlahan mengusir hawa yangmenimbulkan rahsa talut. Seiring lantunan doa-doa sholat hawa dingin terus bekerja menyelusup, menyusuri sel-sel syarafnya. Mulai keadaan jiwa Mas Thole kembali stabil, rahsa takut perlahan-lahan menghilang. Sehabis sholat tubuhnya dirasa lemas sekali, sungguh tiada daya sama sekali. Maka begitu selesai salam, raganya tak mampu menahan kantuknya lagi. Terlelaplah dia sampai pagi.

Mas Thole tidak sadar bahwa dia sudah teledor. Seharusnya dia tidak boleh tidur, dirinya seharusnya menuntaskan hingga hawa tersebut kembali kepada pemiliknya. Mas Thole benar-benar tidak menyadari perbuatannya yang kurang hati-hati telah menyebabkan kejadian yang berikutnya lagi.  Saat dirinya tidur hawa tersebut mencari korban yang lain. Kini istrinyalah yang kena. Dan juga ada beberapa bagian yang kembali kepada dirinya. Hawa tersebut menyelinap lagi dan bersembunyi di dalam raga Mas Thole.

Maka hari Juma tkemarin ini, istrinya jatuh sakit demam tinggi. Begitu juga dirinya sepulang kerja, langsung tepar tidak ingat lagi. Seharian di hari Sabtu dia harus berjuang dengan hawa yang tak menentukan. Hawa takut itu telah berkamuflase menjadi hawa-hawa lainnya. Maka sepanjang hari Mas Thole harus bermeditasi. Melacak terus keberadaan hawa yang bersembunyi itu. Hawa yang membuat resah, mebuat marah tak wajar, seperti hawa yang disulut oleh Iblis. Benar-benar susah sekali menghilangkannya. Sehingga seharian Mas Thole enggan melakukan apapun, enggan bersapa, enggan keluar kamar, hawanya  apatis dan tak peduli.

Benar-benar perjuangan yang luar biasa. Dirinya seperti kembali saat awal ber spiritual. Dia harus mulai dari step  demi step nya. Semua harus diikutinya satu demi satu. Hampir jam 10 malam baru hawa tersebut berhasil dikurangi. Dirinya sudah mulai mampu merasakan badannya lagi. Pikirannya sudah mulai jernih kembali. Kabut yang selama ini menggumpal di kepala sudah mulai buyar. Walau masih kadang ada lintasan rasa takut namun sudah tidak terlalu mengganggunya. Dia yakin masih ada sisa-sisa. tapi yang penting pikirannya sudah bisa digunakan.    Dia menarik nafas lega, dan menceritakannya hal ini.

Dirinya baru berani membuka email, walau sudah sangat malam. namun dia merasa harus mengkisahkan semua ini. Bahwa perjuangan itu tidaklah mudah. Sepertinya tidaklah nyata, namun sungguh semua itu nyawa menjadi taruhannya. Tidak saja nyawa dirinya namun juga nyawa keluarganya. Semua harus ditetapi dan dilakoni sebagi pengabdian yang utuh kepada Yang Maha Kuasa. Sebagai bentuk keyakinan ber-Islam. Tidaklah mudah, sungguh tidaklah mudah. Jika mengenai diri sendiri masihlah bisa kita kuatkan hati. Namun jikalau bahaya sudah mendekati anak dan istri, apakah akan terus mampu mengkuatkan hati. Disinilah ujian para kesatria, apakah dirinya akan tetap beriman atas apa-apa yang sudah diyakininya ?.
 
Percayalah wahai kesatria, perjuangan ini bukanlah main-main. Dunia ghaib bukanlah dunia yang dapat dijadikan permainan jika kita tidak kuat hati maka habislah jiwa kita diambil mereka. Jikadi ghaib kita kalah dan mati maka di rea;litas kita juga akan mati. Jika dalam angan kita mati maka dalam realitas kita juga pasti mati. Maka hati-hatilah dengan angan jiwa kalian semua. Kuatkanlah hati untuk selalu ingat pada-Nya. Musuh ada dimana saja, bahkan dia mengalir dalam darah kita sendiri. Musuh kita adalah mahluk tak kasat mata, para siluman, jin dan sekutunya. Mereka-mereka yang berada di dalam raga manusia. Mereka yang memperalat raga manusia untuk tujuan mereka dalam mengusai dunia ini. Mereka yang bersekutu dengan para syetan menipu manusia.

Kesadaran Mas Thole kemudian bergerak. Berita perihal 7 gunung yang mendadak statusnya di naikan menjadi Siaga 3, secara bersamaan di hari Jumat (24/5) kemarin ini, setelah selesainya prosesi Putri Sriwijaya, dan dia telah kembali ke kotanya di Sumatra, memang tidaklah mengherankan Mas Thole. Eamial Ratu Boko yang mengkhabarkan itu, sepertinya sudah dipahami. Diingtanya, perintah Patih nambi , Ki Wiroguno, Prabu Silihwangi, dan juga Banyak Wide agar pasukan segara bergerak. Telah terlanjur menjadi pemicu alam untuk bereaksi. Cepat atau lambat hal itu akan terjadi. Semua seperti tali temali dan serba kebetulan. Hanya dengan hati yang bersih saja para kesatria akan dapat membedakan mana pergerakan alam dan mana pergerakan pasukan.

Mas Thole jadi teringat sosok yang lebih suka di panggil Ibunda yang reinkarnasi di dalam tubuh Putri Sriwijaya, saat dalam prosesi. Dia menangsi sangat sedihnya, dan mohon sekali, nyaris hampir bersujud di hadapan Mas Thole, berkali-kali  mengatakan bahwa jauh-jauh datang untuk mengingatkan agar jangan berperang, tarik semua pasukan, jangan berperang. Nadanya benar-benar yakin sekali bahwa para kesatria telah mengobarkan peperangan, sehingga dia memerintahkan untuk segera menarik semua pasukan. Sayang para kesatria tidak pernah undur kebelakang, kecuali Allah memerintahkan untuk itu. Maka terjadilah yang akan terjadi. Kita hanyalah penyaksi kejadian. Saat mana bumi dibersihkan oleh sang alam. Alam bersama pasukannya.


He-eh, dalam heningnya malam, dalam perasaan yang tersendiri, mencoba mengerti apa yang dirasakan Ratu Boko dengan emailnya. Mas Thole mengukur kemampuannya sendiri.  Masih banyak jalan yang harus diikuti. Sayang sekali raga terkininya adalah manusia biasa dan bukan siapa-siapa, terbatas dalam realitas kekinian. Meski dia mengerti, meskipun dia ingin sekali, segera menyelesaikan tugas-tugasnya ini. Menancapkan paku bumi. Realitas menjadi kesulitan tersendiri. Biarlah dalam doa yang panang di malam ini, menjadi sebuah janji, bahwa tidak ada kesatria yang akan lari dari peperangannya sendiri.

Dan Tahukah, betapa sulitnya memaknai itu, dalam realitas terkini ?. Menjalankan misi dalam sebuah balutan pemahaman reinkarnasi ?.  Jiwa yang berusia ratusan tahun bahkan menembus ribuan berada dalam raga terkini datang untuk mengemban misi suci, yaitu mengembalikan kesadaran anak keturunannya. Manusia Jawa yang mengenal kembali Jawa-nya. Sebagai pondasi lahirnya sebuah peradaban kesadaran baru. Kesadaran Nusantara Baru. Yaitu persatuan kesadaran-kesadaran yang pernah ada di tanah Nusantara ini. Bilakah itu..?.

Siapakah mereka itu ?. Hanya alam yang mampu menjadi saksi, kebenaran mereka ini.

wolohualam



Kamis, 23 Mei 2013

Kisah Spiritual, Jejak Putri Sriwijaya dalam Asmara Dahana



Kepodang terbang, kicaunya menyelusup memasuki ruangan. Hari telah menjelang malam, suasana pekat diluar sana. Angin serasa berhenti, membuat hampa kosong dalam jarak 100 meter persegi. Gelapnya  telah melewati waktu  isya.Sementara rintik hujan masih jatuh satu-satu, sisa-sisa hujan di siang hari tadi. Rumah tersebut dari luar nampak sepi saja. Pohon mangga yang menjulur dari pekarangan tetangga terlihat hampir menyentuh tanah. Seperti sebuah tangan dalam kegelapan yang ingin meraih sesuatu.


Langit tertutup awan, bergumpal, bergulung dan saling bertindih, tiada celah lagi bagi cahaya bulan. Nuansa dan romansa malam menjadi semakin tak terkata, hawa dingin bercampur wingit, mencekam, pepohonan berhenti bergerak,  hanya kadang suara kendaraan melintas dipelataran. Suasana itu sudah terasa sejak siang. Saat mana kedua insan bertemu. Putri Sriwijaya dan Gusti Ratu Pambayun. Dua energy masa lalu yang bertolak belakang, bertemu dalam realitas terkini. Maka dapat dibayangkan suasana alamnya saat itu. Menjadi hujan deras yang mengguyur kota Jakarta. Air menggenangi permukaan tanah, sepanjang jalan yang dilalui mereka berdua.


Sejak sore ribuan pasukan Sriwijaya sudah berjaga, berbaris diluar sana. Mengitari kompleks perumahan. Angkasa seakan  berderak menahan tubuh mereka yang berjumlah ribuan orang. Suara yang berderit dan berdesakan terdengar nyata saat Mas Thole sholat ashar. Ada yang berbaris disepanjang jalan. Dan ada juga yang merapatkan barisan di tanah kosong depan rumah tempat prosesi. Kedatangan mereka bersama awan, bersama angin, dan hujan. Sungguh hampir saja awan berjatuhan menahan berat badan mereka. Maka awan secara realitas kelihatan seperti menggantung menunggu jatuhnya.Mereka dipimpin sesepuh mereka sendiri. Sesepuh Sriwijaya, dengan baju kebesaran mereka. Menghantarkan utusan mereka, wakil dari mereka para pinisepuh Sriwijaya, sebagai restu mereka atas nusantara baru. Menghantarkan Sri Sanggramawijaya alias Dewi Tara, alias Dewi Sudihwari alias Dewi Sekar Arum. Ibu dari semua Ibu. Ibu dari Ibu para Raja-raja Jawa.

Lamat terdengar suara erangan dari dalam kamar. Tangisan, dan kadang seperti suara hentakan, seorang wanita, seperti suara sumpah. Sosok itu sedang mengikrarkan sumpahnya kepada Allah. “Tiada Tuhan selain Allah..” Teriakannya menggetarkan dinding, membangkitkan alam, semua makhluk berdunyun merapatkan telinga, semua  ingin mendengar. Rangkain kata-kata meluncur satu-satu, mengucapkan sebuah sumpah bahwasanya dirinya hanya mengabdi kepada Allah.Kadang melengking tinggi, kadang terisak, kadang terbata, dan kadang penuh amarah. Rahsa iba begitu membelenggu dirinya. “Tidak ada yang bisa dilakukannya, dia hanya memohon kepada Allah.” Katanya mencoba dimengerti. Sebuah perasaan bersalah telah melahirkan anak-anak yang saling berperang.

Begitu ungkapan dan luapan perasaan yang sepertinya ingin menyanggah apa yang dituduhkan oleh Mas Thole, diawal prosesi. Kepasrahan dan nelangsa yang tidak pada tempatnya, akhirnya memaksa Mas Thole melontarkan kata-kata. Kepasrahan yang diam, dan nelangsa yang tak berujung, sebuah manifestasi iba diri. Angannya disibukan dengan dzikir dan tasbihnya, namun sangat disayangkan dirinya telah mengabaikan hatinya sendiri. Ketakutan yang hanya disebabkan oleh pemahaman satu sisi saja. Bukan sebuah pemahaman yang utuh. Yaitu sebuah pemahaman bahwa Allah memiliki kehendak. Kehendak Alllah ada pada skenario atas peradaban dan kesadaran manusia. Maka kita wajib berserah atas kepastian ini. Kita yakini ini dengan seluruh jiwa raga. Namun dalam diujung sebaliknya bukan berarti kita kemudian  berpangku tangan saja, atas kemungkaran yang terjadi di muka bumi. Semua pemahamn ini harus sinergi. Kepasrahan dalam keyakinan gerak, kelembutan dalam liputan kekuatan.

“Allah tidak menyukai peperangan, namun peperangan adalah sebuah jalan terakhir. Lihatlah bagaimana Nabi Daud, lihat bagaimana perkasanya Nabi Sulaiman, dan dipenghujung para nabi, Rosululloh juga berperang. Lihat juga bagaimana Arjuna, dan bagaimana Ali bin Abi Tholib. Mereka semua tidak ada yang lari dari peperangan yang memang disiapkan Allah atas diri mereka itu.Mengapakah mereka yang suci hatinya tetap harus perang ?. Bilakah tangan mereka berlumuran darah ?. Bagaimana kita memaknai hal ini ?.Lebih baik mana dimata Allah ?.”

Nada Mas Thole semakin meninggi, sebab sosok tersebut masih terus menangis, dan melarang agar para kesatria tidak berperang. “Masih ada cara lain, masih ada cara lain. Ibunda jauh-jauh datang untuk mengingatkan kalian semua. Jangan perang, hindarilah peperangan. Kita semua bersaudara. Ibunda yang harus mempertanggung jawabkan anak cucunya. Bersabarlah..bersabarlah. Sungguh bersabar itu lebih baik. Biarlah Allah yang mengurusi mereka.”

Memang kemarin saat para kesitatria bersiap menyusun formasi perang, ada besutan rahsa dari egonya. Sebab dirinya begitu sedih menangkap kemarahan para leluhur Jawa. Mengapakah seorang tokoh arab berani seweng-wenang menancapkan paku bumi kesadaran mereka di tanah Jawa ini, dan mengabaikan keberadaan para pinisepuh. Sehingga kesadran anakketurunan Jawa terbelenggu karenanya. (Baca Kidung Pralaya-Tangisan Peperangan).

Malam semakin merayap. Memasuki isya dan terus hingga menembus gelapnya. Mereka terus berdialog,  kadang terdengar suara lelaki yang berwibawa, berkata kepada langit, bumi, awan, hujan, bumi, dan juga kepada elemen alam semesta, agar mau menjadi saksi. Agar semua menyaksikan apa-apa yang diucapkan sosok wanita itu. Sepertinya tengah terjadi prosesi di rumah tersebut. Sosok wanita yang cantik, anggun, bagai ratu dijaman tempo dulu. Wajahnya lembut, penuh keibuan, ada guratan nelangsa membekas di dahinya. Penderitaan  hidup yang luar biasa, telah membuatnya menjadi seorang ibu yang dewasa.

Ada nada yang belum puas dibalik kata-kata Mas Thole, sebab dia merasa bahwa sebagai kesatria sudah sewajarnya mempersiapkan dirinya untuk perang. Menyerahkan jiwa raganya hanya kepada Allah. Maka jika kemudian dia dan kawan-kawannya dipaksa untuk lari dari medan pertempuran, apalah kata alam nantinya. Maka Mas Thole terus mencecar pemahaman Ibunda tersebut. Kadang kata-katanya tajam menusuk bagai belati langsung ke ulu hati.

Kadang terkesan agak arogan, menganggap bahwa sosok ini lemah, yang hanya diam berdzikir saja, tidak tergerak hatinya untuk berbuat sesuatu. Dalam kesadaran Mas Thole sosok ini nantinya akan diam saja membiarkan keadaan berlangsung didepan matanya. Jikalaupun ada pembunuhan dihadapannya, maka dia pasti akan hanya menangis saja. Berdoa saja dan tidak berbuata apa-apa. Inilah yang dirasakan Mas Thole, sehingga seakan-akan dia tidak menaruh rahsa hormat kepada Ibunda ini. Dia mengatakan datng jauh-jauh, dia mengatakan ada tugas suci untuk nusantara yang harus dikerjakannya, maka dirinya dibangnkan dari tidur lamanya. Tetapi mengapakah sepertinya dia asik didalam raganya saja. Tidak mau berinteraksi dengan alam sekitarnya. Seperti ada kemalasan, ada kepasrahan yang tidak wajar, walau bibir selalu dipoles dengan lafadz dzikir dan tasbih.

Begitu kesalnya Mas Thole sudah sejak dari habis ashar sosok ini tidak bergeming dengan sikapnya yang begitu itu. Dia mengabaikan keberadaan Mas Thole. Dia tidak mau menunjukkan jatidirinya. Akhirnya tidak sabar lagi Mas Thole bergerak, seperti mengambil sesuatu dari langit, menghempaskan tangan beberapa kali ke bumi. Tangannya bergerak cepat mengambil bantalan kursi sebagai landasan untuk memukul punggung sosok tersebut. Raga Mas Thole bukan muhrimnya maka dia tidak berani langsung menyentuhnya. Siang dia sudah meminta bantuan Pambayun, namun rasanya masih saja hawa negative di seputar badannya.

Maka terbuka sudah raganya, Mas Thole melihat secara keseluruhan. Beberpa prosesi dilakukan secara cepat oleh Mas Thole, sehingga wanita tersebut tiba-tiba lunglai dan terjatuh ke lantai.  Dia melihat rahimnya yang diikat makhluk besar sekali. Maka tak ragu lagi dia menghantam disana. Dengan dilapisi bantalan kursi. Menghantam beberapa kali. Kesadaran Mas Thole seperti merasa sosok hitam besar keluar dari perut tersebut. Sungguh orang yang berbuat keji, pantas saja raga ini tidak bisa hamil sudah 11 tahun lamanya. Maka disuruhlah makhluk hitam dan besar itu keluar dan kembali kepada tuannya.
Disaat sudah tidak ada hawa negative itulah, Mas Thole terus mencecra dengan kalimat-kalimat yang tajam, untuk membangkitkan sosok leluhur yang berada di dalam raga tersebut. Bahkan Mas Thole sempat mengancam, akan mengembalikan dirinya ke alamnya, sebab alam ini tidak membutuhkan kesatria yang tidak memiliki kekuatan hati.

“Percumah saja anda jauh-jauh hadir disini, menyebrang lautan, jika mengurusi raga yang ditempati  sendiri saja tidak bisa. Mengurusi hatinya saja tidak bisa. Kalau begitu lebih baik anda akan saya kembalikan saja ke alam dimana anda berasal !.“ Begitu keras hardikan dan ancaman Mas Thole, sehingga membuat panas hatinya. Dan tiba-tiba dia bangkit, nada yang semula pasrah dan nelangsa, berubah menjadi keras dan tegas. Sumpahnya meluncur tak terkendali. Maka seketika itulah ,kejadiannya sebagaimana dikisahkan diawal tulisan ini.Belum habis tangis dan isak raungan. Tiba-tiba mendadak pintu terbuka paksa, sosok tinggi besar dengan suara helaan nafas memberat menerobos memasuki kamar tempat jalannya prosesi.

Hawa amarah bagai bara menyeliputi seluruh badannya. Entah apa yang diarasa, panasnya saja  hampir menjebol kepalanya.  Dorongan yang kuat sekali dari dalam dadanya. membuat dia tidak lagi memperhatikan bahwa dia sedang di tempat siapa. Hampir saja pintu di tendangnya. Hampir saja di menerjang, dan mengamuk disana. Serasa ada hawa ada gejolak amarah luar biasa yang memaksa dirinya untuk melakukan itu. Nafasnya tersengal nampak sekali dia tersiksa. Berusaha menguasai dirinya. Begitu pintu terbuka, tiba-tiba ada tangan yang menyentuh pundaknya. Tangan Mas Thole menyentuhnya, untuk duduk dan diam dahulu. Dan aneh sekali dia pun menurut saja. Duduk disamping kiri Mas Thole. Amarahnya bagai bara api yang keluar masuk bersama nafasnya. 


Tidak ada satupun orang yang didalam ruangan menyadari kehadiran Patih Nambi sejak beberapa menit lalu. Saat itu prosesi masih dalam titik kulminasinya. Jika lengah sedikit saja akan dapat membahayakan semua. Maka meskipun Mas Thole menyadari ada sosok yang hadir di luar rumahnya sana. Namun dirinya tak berani menyapa. Mas Thole benar-benar sedang fokus kepada sosok yang telah berusia ratusan tahun, dalam kesadarannya usianya telah menembus 1000 tahun. Dua generasi setelah Ratu Sima. Bahkan jauh sebelumnya pun dia sempat terlahir. Jika tidak salah penglihatannya sosok ini sudah 2-3 reinkarnasi. Persatuan dari 2-3 orang inilah yang menyebabkan memorynya banyak yang hilang. Hal ini sama persis dengan yang dialami Banyak Wide sendiri yang sekarang reinkarnasi di raga Mas Thole.

Diskusi dengan sosok ini meskipun disela tangisan dan lengkingan yang tajam. Menghiba dan selalu menyebut anak cucunya. Dengan selalu mengatakan kepada dirinya dan kepada Mas Thole, bahwa kita yang tua-tua harus mengalah. Telah mendekati kulminasinya, ada kesepahaman yang dirasakan Mas Thole. Sebab diakhir kata, sosok Ibunda tersebut memahami argumentasi Mas Thole, dan memnta agar melakukan yang terbaik, hindari saja peperangan. Dalam hal ini Mas Thole setuju. Tidak perlu ada peeprangan jika memang bisa disatukan.

Mas Thole kemudian teringat wasiat Prabu Silihwangi dimaan disana dikatakan suatu saat orang Sunda akan bersatu, akan saling berbaik-baikan. Mungkin saat sekarang inilah yang dimaksudkan. Bahwa para raja-raja di nusantara ini hakekatnya adalah satu kelaurga besar. Keluarga Pasundan, sudah selayknya jika semua harus menerima keadaan diri mereka dan saling memeafkan. Maka symbol untuk itu adalah 2 paku bumi terakhir yang akan di tancapkan Mas Thole. “Bnera..benar..sekarang ketemu hikmahnya.” Begitulah Mas Thole semakin yakin dengan pemahamannya. Untuk segera menancapkan paku terakhirnya.

 
Tiba-tiba dari arah kiri belakang Nampak erangan dari Patih Nambi semakin keras. Baru saja Mas Thole akan mengakhiri. Kejadian yang tak disangka oleh Mas Thole. Bru saja sosok Ibunda selesai memberikan nasehat kepada Gusti Putri Ratu Pambayun agar mampu memaafkan perbuatan Ayahnya yang telah tega membunuh suaminya. Agak alot memberikan pemahaman ini, Pambayun terus saja menangis, meminta agar Ayahnya tahu betapa penderitaannya karena sebab ulah Ayahnya ini. Betpa teganya seorang Ayah kepada anaknya, yang katanya sangat dikasihinya. Pambayun ingin agar Ayahnya tahu itu, Betapa dia hidup sangat menderita akibat ulah sang Ayah. Sungguh permintaan yang sulit sekali. Menemukan Panembahan Senopati dalam realitas  terkini adalah suatu kesulitan. Apalagi jika Panembahan disuruh memahami fenomena yang aneh ini. Apakah tidak nanti dianggap orang-orang gila.

Dan akhirnya Pambayun mengerti, dan berusaha memaafkan Ayahnya, meski sulit namun dia akan berusaha untuk itu. Mas Thole juga mengingatkan kepada Pambayun, kasihan raga terkininya jika dirinya tidak segera memaafkan Ayahnya. Energy kebencian itu akan memancar keluar, sehingga siapapun lelaki  yang mendekati Pambayun di realitas terkini, pada akhirnya akan terpapar kebencian yang sama. Sehingga tanpa disadarinya mereka akan terpental, menjauhi raga terkini. Jelas akan banyak lelaki yang kesulitan untuk mendekati raga terkininya. Sykurlah semua bisa memahami keadaan ini.

Baru saja semua menganggap selesai, Patih Nambi bergolak, amarahnya naik ke kepala. Tangannya diangkat sejajar pundaknya, seperti burung yang hendak terbang. Ibunda Nampak terus memanggil Patih Nambi agar mendekat kepadanya. Dengan terisak, dengan memohok Ibunda meminta agar Patih Nambi membuang amarahnya. Patih Nambi sungguh dalam ksiagaan perang, perintah Ms Thole saat itu untuk menyerang tokoh sakti pemaku bumi rupanya masih dipegangnya. Dia merasa penasaran sekali mengapa awan dan petir itu mampu dibuyarkan. Dia marah kepada dirinya atas ketidak mampuan itu. Sudahdijelaskan kepadanya, tokoh sakti pemaku bumi bukan tokoh sembarangan. Maka kita harus kembalikan saja kepada Allah.

Berulang kali Patih nambi diingatkan Ibunda. Namun rupanya tidak mampu meluluhkan hati Patih Nambi, dia kemudian meminta Mas Thole untuk meredakan amarahnya. Kasihan sekali Mas Thole kepada Ibunda, dia benar-benar tulus mengingatkan agar anak cucunya jangan menggunakan amarahnya. Maka Mas Thole mengucap salam, menyapa Patih Nambi, mengingatkan kembali masa lalu mereka. Dengan raga mereka dahulu saja mereka bisa dihancurkan, diadu domba. Apalagi dengan raga terkini, tidak bisatidak, sekarang ini mereka harus menggunakan kekuatan hati. Hati yang bersih, jiwa yang bersih, kita berserha kepada Allah. Maka hanya dnegan itulah kita akan mampu mengalahkan musuh-musuhnya.

Mendengar nasehat saudaranya itu Patih nambi, mereda, berbarengan dengan itu, erangan yang hamper saja meruntuhkan atap rumah terdengar dari mulut Patih Nambi. “Ya, ada pencuri rahasia langit di badan ini, mereka para jin .“ Patih Nambi Nampak bergerak mengambil dan mengeluarkan sesuatu dari dalam badannya. Beberapa kali dilakukan itu, kemudian dia luruh lemas, terjatuh dilantai. Mas Thole kemudian menutup prosesi, memeinta kepada Ibunda untuk membesihkan diri, membersihkan raga terkininya. Kasihan dia seandainya nanti penyelarasan pasti akan sangat tersiksa. Maka Mas Thole meminta bantuan untuk setidaknya mengurangi , dengan memeperbaiki system ketubuhannya.

Langit seakan diam, prosesi telah berakhir, semua terjawab, siapakah sosok yang terus saja minta dikenali, sekarang sudha dikenali. Semoga para kesatria semakin yakin dan semakin menetapkan hati. Sungguh jika tidak karena TUhannya, mereka smeua tidak akan diberikan KESEMPATAN KEDUA ini, untuk memperbaiki kesalahan mereka di masa lalu. Kesalahan mereka yang menduakan Allah. Kesalahan mereka yang masih tersu dalam anggapan telah menuhankan Allah. Padahal hakekatnya mereka belum yakin akan kebesaran Allah.

Maka dengan pembelajaran inilah semua kesatria diuji, diuji keimanan mereka smeua. Maka sekarang mereka sadar, betapa berat kehidupan realitas terkini mereka. Betapa perihnya mereka melalui takdir-takdir mereka sendiri. Rupanya smeua itu ditujukan sebagai bentuk pembelajaran saja. Agar meerka mampu ber-serah. AGAR MEREKA MAMPU BER-ISLAM. Dengan sebenar-benarnya ISLAM.

Asmara sang Putri Srwijaya adalah asmara api (dahana) yang telah membakar nusantara ini. Sungguh asmaranya telah melahirkan para raja. Para raja yang tumbuh oleh pupuk asmara api, dengan dendam dan bara api pada cinta-cinta mereka. Sebab mereka dilahirkan oleh Ibu yang diliputi ASMARA DAHANA (API). Api yang siap membakar siapa saja. Api cinta yang akan meluluhkan siapa saja. Karena itu, saat sekarang ini  Sang Putri lahir kembali meluruskan sejarah, meluruskan niatnya agar CINTA tidak lagi menyimpan API.

Sungguh tragis kisah Sang Putri Sriwijaya, sebuah kisah Asmara Dahana, meninggalkan jejak di mayapada, sungguh ironis, jika saja ada yang mengerti, sebagaimana yang Mas Thole mengerti. Mereka pasti akan menangis bersama alam yang terus menangis, mengiringi setiap keajadian dalam fase kelahiran sang Putri ini.  Karenanya,  biarkan saja jika alam ingin menangisi kesatria yang dipilihnya. Biarkan saja hujan turun berkepanjangan di bumi ini. Bersama doa para pinisepuh Sriwijaya. Dia lahir bersama cinta yang tak mampu dimaknainya. Semoga dia mengerti jatidirinya setelah ini. 

Ironinya apa yang dialami di masa lalunya terulang kembali di kehidupan realita terkininya. Raga terbarunya juga mengalami hal yang sama. Kisah masa lalu seperti terulang kembali di raga terkininya. Bagaimana tidak porak poranda dirinya memaknai semua yang terjadi. Tarik menarik orang masa lalu dan raga terkini. Belum lagi berhadapan dengan realita terkini. Maka sungguh hanya orang-orang terpilih yang akan mampu lepas dari jebakan smeua itu. Yaitu orang-orang yang sungguh-sungguh ber-serah (Islam). Asmara apinya meninggalkan nelangsa di masa kininya. Sama keadaan masa lalu dan masa kini maka asmaranya sungguh ASMARA DAHANA (API).

wolohualm