Minggu, 21 November 2010

Transformasi Spiritual


Menandai hijab

Sebuah pertanyaan yang seringkali dilontarkan ketika kita tengah menapaki jalan spiritual adalah antara realitas dan ghaib. Antara imanen dan transeden. Kemudian pertanyaan akan berkembang apakah alam semesta merupakan suatu yang realitas atau suatu yang ghaib.?.   Jikalau kita memaknai bahwa alam semesta adalah suatu realitas maka kita menjadi terhijab. Kita tidak akan mampu memahami keghaiban alam semesta. Demikian juga  sebaliknya, jika kita memaknai bahwa alam semesta adalah sesuatu yang ghaib maka kita menjadi terhijab pula. Kita akan kesulitan memahami realitas dari alam semesta itu sendiri. Dikotomi ini membingungkan para penempuh jalan spiritual. Saat kapan alam semesta menjadi ghaib dan saat mana merupakan realitas. Cara sederhana sebenarnya adalah menggunakan logika kesadaran manusia. Saat manusia tidur maka alam semesta menjadi ghaib baginya dan saat manusia bangun alam semesta menjadi realitas baginya. Namun bagaimana jika manusia bangun ?. Apakah alam semesta menjadi realitas terus bagi dirinya. Ternyata tidak juga. Saat manusia bangun pun, saat manusia sadarpun alam semesta tetap dapat menjadi realitas ataupun menjadi ghaib, tergantung apakah dia mau meng on kan atau meng off kan kesadarannya.

Kaum spiritualis senantiasa mengajak kepada pemahaman-pemahaman ini untuk menghantarkan manusia kepada suatu kesadaran lain tentang Tuhan. Sebuah pemahaman yang cukup rumit; Tuhan adalah Dzat yang Dzahir dan juga  Batin. Tuhan adalah Dzat yang realitas dan juga ghaib. Kesulitan dalam memahami ini sedikit dapat terbantu dengan terbukanya hijab dalam memaknai antara yang ghaib dan realitas tersebut. Melalui eksplorasi kesadaran diri manusia. Kaum spiritualis dapat menggunakan semua entitas dirinya, secara lebih efektif, karena memang sudah tidak dibingungkan lagi oleh hal yang ghaib dan hal yang realitas. Bagi kaum spiritualis kedua eksitensi tersebut adalah relative. Relatif dalam kesadarannya, dalam posisi mana saat itu dia  memaknai dan menetapinya. Maka ketika dihadapkan kepada sebuah khabar tentang adanya Allah,  malaikat, adanya kitab, adanya rosul, adanya hari akhir , adanya takdir mereka tidak mengalami kesulitan berarti untuk melakukan transformasi kepada keyakinan tentang hal tersebut. Transformasi dari spiritual lokalnya kepada spiritual Islam. Spiritual Islam adalah spiritual yang mengkhabarkan tentang itu, dimana khabar tersebut kemudian  diyakininya sebagai IMAN. Salah satu pilar Islam, spirit Islam, ruh Islam.

Namun pada prakteknya, kearifan lokal (baca; spiritual lokal), generasi awal,  sering membiaskan pemahaman dan keyakinan-keyakinannya ini dengan simbolisme-simbolisme yang sangat sulit dipahami oleh generasi-generasi berikutnya. Kesulitan kaum spiritualis menyampaikan pemahaman mereka melalui ungkapan ungkapan, memaksa mereka hanya berjalan pada tataran artificial saja.Hal ini berlaku hingga sampai jaman ini. Sebuah pemaknaan yang menggunakan bahasa simbolis akan menimbulkan persepsi yang tentunya berbeda bagi setiap orang, atau kaum, atau sekte, golongan atau bahkan agama. Kaum teologis banyak menyerang bentuk-bentuk ungkapan simbolisme ini. Sebagai bid’ah, kurafat, syirik dan lain sebagainya. Sementara kaum spiritualis juga melakukan serangan yang sama terhadap kaum teologis yang tidak mampu mengambil hakekat atas pemaknaan simbolisme mereka. Bahasa metafora, bahasa simbolis, bahasa hati, dan lain-lain istilahnya, selama manusia masih menggunakan bahasa maka apapun bentuknya akan membuahkan persepsi. Persepsi akan melahirkan perselisihan dan perpecahan. Inilah yang terjadi pada saat ini permusuhan tak kasat mata antara spiritualis dan teologis.

Kegamangan kedua pihak menyikapi ini mengakibatkan kebingungan umat. Sehingga kaum yang semula sangat erat memegang tradisi kearifan lokal (spiritual lokal), mengalah, menyingkir dalam pencaturan teologis. Mereka merasa bahwa agama adalah urusan para teolog saja, para Dai dan Ustad. Keterpaksaan dan ketersisihan, menyebabkan kaum spiritualis lokal membelakangkan pemahaman mereka. Mengesampingkan kearifan lokal yang mereka miliki. Kearifan yang telah bertahan ribuan tahun di tanah air ini.  Kesepahaman dengan alam semesta, keharmonisan dengan lingkungan telah mereka tinggalkan. Bentuk frustasi mereka, mengakibatkan kearifan itu tidak mereka ajarkan kepada generasi berikutnya.  Tinggalah hanya simbolisme-simbolisme yang tetap bertahan pada kesadaran kolektif kaumnya. Sehingga generasi berikutnya terseok-seok memaknai semua itu. Maka menjadi keprihatinan ketika bangsa ini sedikit demi sedikit telah kehilangan jati dirinya. Kita semestinya memahami bahwasanya, kearifan alam tropis bukan untuk  disandingkan dengan kearifan padang pasir. Ke-arifan lautan tidak bisa diperbandingkan dengan kearifan daratan. Masing-masing berada dalam hakekatnya.   Ketika semua dicampur adukan, maka sekarang ini, kita dapat rasakan bersama seperti apa aura bangsa ini. Saatnya kita membebaskan diri kita atas frgamen-fragmen yang kita ciptakan sendiri. Fragmentasi dalam spiritual sudah saatnya mengalami transformasi.

Wacana untuk menggulirkan sebuah transformasi, yang mampu menjembatani kedua dikotomi ini, layak digulirkan, mengingat bahwa agama tanpa spiritual adalah kesia-siaan. Bagai tubuh tanpa spirit (ruh). Spiritual tanpa agama adalah  melelahkan pula. Suatu kesia-sian yang akut. Hilangnya spiritual lokal adalah hilangnya kearifan lokal. Hilangnya kearifan lokal, akan membawa dampak bangsa ini semakin kehilangan jati diri, terpuruk dalam moralitas-moralitas yang dikemas sekedar untuk bisa dijual. Untuk itulah kaum spiritualis harus mulai membuka diri. Kasus yang terjadi di masa lalu, yang menimpa Syech Siti Jenar di Indonesia, atau Al Halaj, bukan menjadi sebuah ukuran. Manusia harus senantiasa belajar, menjadi spiritualis adalah sebuah pilihan yang harus ditetapi dengan keyakinan dan kesungguhan bahwasanya kita semua sedang menuju kepada Allah.  Menapak Jalan Spiritual adalah menapaki hidup dalam sebuah realitas yang serba ghaib.


 Realitas hakekatnya adalah  keghaiban

Dalam kehidupan sehari-hari sering kita tidak menyadari jika kita telah  menganggap suatu yang ghaib adalah suatu realitas.  Sering kita membicarakan benda-benda yang belum pernah kita lihat, belum pernah kita sentuh, belum pernah kita rasakan, namun  kita telah meyakini benar keberadaannya. Seakan-akan benda tersebut sangat nyata ada di depan mata kita. Kesadaran kita telah mengakui keberadaan dan eksitensi benda tersebut di alam ini walau kita belum pernah melihatnya sama sekali. Keberdaan atom, keberadaan elektron, dan lain sebagainya adalah sebuah contoh. Seseorang (ilmuan) telah melihat keberadaan benda-benda itu, kemudian mengabarkan kepada kita. Pengkhabaran ini terus berjenjang, melalui mulut, melalui pengajaran-pengajaran di sekolah, dan sebagainya dan sebagainya. Secara terstruktur dan sistematis. Walau Kita sendiri tidak pernah tahu berapa orang sebenarnya yang telah melihat atom, atau elektron itu. Mengapa sedemikian hebat mempengaruhi kesadaran kita. Kesadaran kolektif manusia.  Jika kemudian ada yang  meyangkal keberadan benda-benda tersebut sekarang ini. Mampukah kesadaran kita menerima pengyangkalan tersebut.?. Dan menggantikannya dengan kesadaran baru bahwa atom adalah tidak ada, bahwa elektron adalah tidak ada. Jelas bahwa kedua benda itu ghaib, yaitu sesuatu yang tidak kita ketahui sejatinya seperti apa. Walau nyata-nyata kedua benda tersebut ghaib bagi kita yang awam, namun kesadaran kita tetap menyatakan bahwa benda tersebut adalah real adanya. Sangat sulit sekali kesadaran manusia untuk beralih. Maka kedua benda tersebut telah menjadi sebuah realitas bagi kesadaran kita. Realitas yang ghaib bukan..?.


 Keghaiban hakekatnya adalah tetap realitas

Hampir setiap hari kita bertemu dengan anak dan istri atau suami. Tanpa kita sadari ingatan tersebut begitu kuat mengikat kita, dalam kesadaran kita. Kesadaran kita telah membuat pola tertentu atas  kewajiban-kewajiban atas masing-masing peran dalam keluarga. Kesadaran kita begitu sulit lepas atas semua itu. Dimanapun berada akan terus diikuti. Sebuah kesadaran bahwa anak, istri atau suami kita adalah suatu yang real ada. Dapat dirasakan, dapat dicium dan dapat dinikmati  perasaan kita. Tidak ada yang salah jika kita mengatakan bahwa semua itu adalah realitas.
Saat kita bersama mereka maka benar mereka adalah real dalam kesadaran kita. Namun pada saat ini anda sedang membaca tulisan ini di kantor. Anda tidak dapat merasakan mereka saat ini. Mereka tidak dapat anda lihat, tidak dapat anda cium. Pendek kata indera kita tidak dapat mendeteksi keberadaan mereka saat ini. Kalau begitu  bukankah hakekatnya sekarang ini mereka adalah ghaib. Saat ini,  detik ini, saat anda sedang membaca tulisan ini, hakekatnya mereka tidak ada. Anda hanya dapat menemukan mereka dalam kesadaran anda saja. Apa bedanya anak dan istri atau suami anda dengan elektron yang dibahas di depan tadi. Sama-sama ghaib sekarang bukan..?.

Sesuatu yang tadinya kita lihat sebagai realitas, nyatanya,  saat ini bagi anda adalah sesuatu yang ghaib. Anak, istri atau suami sekarang ini menjadi mahkluk ghaib bagi anda. Seluruh atribut ketubuhan anda tidak mampu memindainya sekarang. Itu terjadi karena anda saat ini sedang membaca tulisan ini di kantor. Maka ketika saya bertanya kepada anda saat ini. “Apakah anak, istri atau suami anda benar masih ada di rumah..?”. Anda pasti akan gamang, tidak yakin atas keberadaan mereka. Anda menjadi yakin kembali ketika anda menelpon mereka, dan  indera anda mengenali mereka. Oleh karenanya, maka saat ini kesadaran anda mengakui bahwa nyatanya mereka ghaib. Ghaib dalam kesadaran kita. Ghaib dalam  realitas kesadaran anda bukan ?.
Sesuatu akan menjadi realitas bagi kesadaran kita ketika kita secara menyengaja memasukan dalam kesadaran kita secara terus menerus dan berkesinambungan dan sistematis. Sesuatu  menjadi ghaib ketika kita tidak mampu menemukan referensi dalam kesadaran kita akan keberadaannya. Maka ghaib dan realitas sejatinya adalah sebuah kesatuan. Sebuah dualitas alam semesta.


Ghaib dan realitas hakekatnya adalah relatif

Pada pemahaman pertama diatas kita dihadapkan kepada suatu benda atom yang tak kasat mata yang ghaib, namun karena khabar yang begitu tersistematis dan berulang kepada kita. Maka mau tak mau alam kesadaran kita menerima sebagai sebuah realitas. Sekarang kembali kepada diri kita, apakah akan menolaknya..?. dan mengeluarkannya dari kesadaran kita. Kemudian kita lakukan penyangkalan. Kita tidak meyakini adanya benda (atom) tersebut, benda tersebut adalah ghaib tidak ada sama sekali, itu khabar bohong, dan sebagainya dan sebagainya. Tidak apa-apa, dan jamak saja. Namun perlu diingat penyangkalan ini akan berhadapan dengan kesadaran kolektif. Ketika kesadaran diri berhadapan dengan kesadaran kolektif, perlu perjuangan diri yang hebat untuk menetralisirnya. Nah..pada esensinya maka ghaib inipun menjadi relative. Karena ada yang menyangkal dan menerima.

Begitu juga hal sama  dapat kita lakukan pada pemahaman  kedua. Kita dapat melakukan penyangkalan dengan mengubah kesadaran kita dengan melakukan on atau of pada kesadaran kita. Pada saat kesadaran kita tidak mengakui keberadaan anak, istri atau suami kita. Maka mereka langsung lenyap dalam kesadaran kita. Kita pun seakan terbebas dari beban. Mereka menjadi relative bukan..?. Karena mereka sudah kita lenyapkan dari kesadaran kita. Kalau begitu, bukankah ghaib dan realitas dapat kita on dan of kan sekehendak diri kita..?.  Ghaib dan realitas menjadi relative jadinya. Dan jika kita gagal men transformasi hal ini dan menempatkan kepada posisinya maka kita akan tersesat dalam memaknai mana sejatinya ghaib dan mana sejatinya realitas.  Inilah hijab dalam spiritual. Keghaiban dapat menjadi hijab begitu juga realitas. Untuk itulah kita memerlukan panduan agama. Kita memerlukan spiritual Islam yang akan kita gunakan sebagai guiden dalam menapaki jalan spiritual.

Sejenak jika kita luruhkan perlahan atas pemahaman-pemahaman tersebut, ternyata ghaib dan realitas sangat tergantung bagaimana entitas kesadaran kita dalam memaknainya. Jika entitas ini memaknai sesuatu sebagai yang ghaib maka meskipun sesuatu itu merupakan realitas (bagi orang lain) tetap saja bagi dirinya adalah ghaib. Dan begitu juga sebaliknya, jika entitas kesadaran kita memkanai sesuatu sebagai realitas maka meskipun sesuatu itu merupakan hal ghaib (bagi orang lain) tetap saja dirinya akan memaknai sebagi realitas yang harus diyakininya. Oleh karena itu, Islam telah membingkainya dalam pemahaman Rukun Iman. Sehingga, diharapkan hanya ke enam Rukun Iman inilah yang harus benar-benar diyakini sebagai realitas oleh sang spiritualis.


Kehadiran dan Eksistensi makhluk

Pemahaman tersebut sering dipahami sebagai kehadiran. Sesuatu yang kita hadirkan meskipun ghaib akan menjadi realitas bagi kesadaran kita. Inilah yang sering terjadi pada kaum spiritualis lokal (baca; kejawen). Kaum spiritualis Jawa banyak sekali menggunakan simbolis-simbolisme dalam mengungkapkan alam ghaib. Seperti pemahaman ‘sedulur papat kelimo pancer’, disebut sebagai kakang kawah adi ari-ari, dan sebaginya. Sesuatu yang di maknai selalu menyertai setiap manusia. Ketika mereka dihadirkan maka jadilah mereka sebagai realitas dalam kesadaran sang spiritualis.  Sesuatu yang diakui memiliki kekuatan yang akan mampu membimbing manusia Jawa. Banyak sekali kaum spiritualis di belahan dunia manapun melakukan hal yang sama. Dengan keberagaman menurut persepsi masing-masing. Namun intinya adalah sama memasukan entitas kesadaran lain ke dalam diri kita. Seperti misalnya; keris, dan benda-benda ghaib, dan lain lainnya. Kesemua ini mempengaruhi kesadaran manusia. Kesadaran manusia mengakui bahwa mereka memiliki daya kekuatan. Maka jadilah mereka memiliki kekuatan sebagaimana persepsi kesadaran kita. Jikalau kesadaran kita melakukan penyangkalan maka daya mereka juga tidak akan bekerja pada kita.  Inilah bekerjanya hijab, satu demi satu hijab , dalam kesadaran manusia. Manusia harus bersandar kepada daya diatas daya daya semua itu. Kesadaran manusia harus menuju kepada kesadaran La haula wala quata. Tiada daya upaya melainkan milik Allah.


Transformasi kesadaran

Memaknai sebuah khabar dan kemudian kita hadirkan dalam kesadaran, menjadi hal yang sangat penting bagi kaum spiritualis. Kaum spiritualis berjuang dalam tataran ini. Memilah mana yang realitas dan mana yang ghaib kemudian menjadikannya sebagai kehadiran. Sebagai Iman.  Seperti ketika khabar tentang adanya hari akhir,  kaum spiritualis telah memahami cara bekerjanya kesadaran maka mereka dengan upaya sunguh-sungguh melakukan transformasi dari khabar yag ghaib menjadi realitas yang nyata dalam kesadarannya.  Menjadikannya sebagai suatu kehadiran dalam realitas nya. Kehadiran dalam Iman. Mereka kemudian men-transformasi satu demi satu ke enam rukun Iman dalam agama Islam.

Kesulitan mungkin akan timbul bilamana, kehadiran dan eksitensi sesuatu ghaib (makhluk) sudah menguasai kesadaran sang spiritualis. Setiap makhluk sejatinya membutuhkan kesadaran manusia. Mereka senantiasa berada dekat dengan manusia agar diakui eksistensi mereka oleh kesadaran manusia. Agar mereka senantiasa diingat manusia. Sejak dahulu  seluruh alam semesta di siapkan untuk manusia. Kesadaran manusialah yang menjadi saksi adanya alam semesta, adanya kekuasan Tuhan. Secara alamiah setiap benda ataupun mahluk akan berupaya menarik perhatian manusia. Menarik kesadaran manusia agar selalu mengingat dirinya. Mengingatnya sebagai realitas. Bagi makhluk atau benda akan menjadi sempurna kegunaannya bilamana mereka bermanfaat untuk manusia.  Banyak ayat Al qur’an mengisyaratkan ini. Semua yang di langit dan di bumi di tundukkan untuk kebutuhan manusia. Maka ketika sang spiritualis akan melakukan transformasi menuju spiritual Islam, tentu saja akan mendapat pertentangan hebat dari sesuatu itu. Dari entitas yang sebelumnya di hadirkan dalam kesadaran dirinya. Misalnya di hadirkannya saudara kembar, guru sejati, hantu, jin, dan entitas-entitas lainnya. Semua itu akan bergejolak dalam jiwa sang spiritualis. Sang spiritualis harus membuang semua ini, menggantikannya dengan kesadaran baru kesadaran La ila ha ilallah.

Beralihnya dari kesadaran satu ke kesadaran lainnya, bagai mengupas kulit bawang. Semakin lama kita akan semakin menuju kepada kesadaran tertinggi. Namun, sungguh perjuangan yang tidak mudah. Karena sang spiritualis akan berhadapan dengan entitas lain yang pernah ada pada kesadaran dirinya, sebelumnya itu. Sebagaimana akhirnya menjadi pergulatan antara mati dan hidup. Antara sadar dan tiada. Maka tak aneh jika dalam kontemplasinya, seluruh otot meregang, otot dada, otot leher, rahang, lantas perut mengunci, hingga bahkan terlemparnya badan, dan mungkin saja banyak bagian kejadian yang sulit diuraikan. Perjuangan membersihkan diri, perjuangan membersihkan hati sangat nampak sekali nyata pengaruhnya, bergulatan di badan. Badan langsung terkena dampak pertarungan ini. Bila selesai bisa berupa muntah, batuk, kentut dan lain sebagainya. Sesuatu hawa keluar dari badan sangat terasa sekali. Dan kemudian badan menjadi nyaman, hawa sejuk dingin akan berputar putar, seperti kabut tipis ber desir di dada, di seluruh tubuh, badan menjadi ringan, keyakinan begitu mantap, menjadi, lebih tenang, sabar, dan keyakinan dengan IHSAN begitu membuncah.

Maka Rosululloh memaknai pertarungan tersebut sebagai Jihad besar.  Jihad terbesar adalah jihad melawan diri sendiri, hawa nafsu sendiri, melawan ego sendiri. Melawan seluruh entitas yang sudah berada dalam keadaran diri kita. Karena memang sangat berat, pertarungan dengan lawan yang tak kasat mata, jika kita lengah tidak berserah kepada Allah, kesadaran kita pun melayang. Setelahnya para spiritualis juga harus mampu meletakan entitas ketubuhannya, raga, jiwa, akal, dan ruh pada makomnya masing-masing. Sesuai kehendak Tuhan atas kesemuanya itu. Raga yang dilengkapi dengan perkembang biakan manusia harus pada posisinya, nafsunya harus ditempatkan atas nafsu yang diridhoi Allah. Dan lain sebaginya-dan lain sebagainya. Pelatihan-pelatihan untuk mencapai kearah itu sudah disiapkan lelakunya, tinggal menjalankan Rukun Islam saja. Melalui syahadat, sholat, puasa, zakat dan haji. Menuju kepada takwa, suatu kesadaran tertinggi manusia. Perwujudan atas kesadaran la ila hailallah. Menjalankan semua perintah-NYA dan menjauhi segala larangan-NYA. Sungguh laku keseharian yag berat. Mendaki lagi sukar. Maka tiada jalan lain bagi kaum spiritualis dalam mensucikan dirinya, mensucikan jiwanya, menuju kesana, dalam ber spiritual,   selain bersandar kepada Allah. Hasbunalloh.  BERSERAH dalam totalitas. Ber- ISLAM dalam ke-takwa-an.


Dan Kami telah menunjukkan kepadanya dua jalan , Tetapi dia tiada menempuh jalan yang mendaki lagi sukar.Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?(yaitu) melepaskan budak dari perbudakan,atau memberi makan pada hari kelaparan, (Al Balad ; 10-14)

Meskipun transformasi dari sebuah kesadaran rendah kepada kesadaran yang lebih tinggi, merupakan jalan yang mendaki lagi sukar. Tetap kita harus lakukan transformasi itu. Menempuh jalan yang mendaki lagi sukar itu. Menuju kepada spiritual Islam.  Sehingga kita mampu ; Melepaskan diri kita, jiwa kita dari perbudakan thogut, dan entitas lainnya atas kesadaran kita. Sehingga kita akan dapat terbebas menuju kepada Allah. Dan selanjutnya kita senantiasa mampu ; Memberikan makanan pada jiwa, men-sucikan jiwa kita, agar senantiasa mampu ber-dzikir, selalu menyebut nama-NYA.
Walahualam 

Kamis, 18 November 2010

Fragmentasi Spiritual



 Dikotomi Spiritual

Spiritualitas adalah  sebuah jalan batin yang memungkinkan seseorang untuk menemukan esensi dalam memaknai hidup dan kehidupan diri mereka di dunia ini. Praktek-praktek spiritual, termasuk meditasi, doa dan kontemplasi, diarahkan dengan maksud untuk mengembangkan kehidupan batin individu, praktik-praktik tersebut sering bertumpu kepada pengalaman keterhubungan dengan suatu realitas yang lebih besar, menghasilkan lebih komprehensif diri; dengan individu lain atau komunitas manusia, dengan alam atau kosmos, atau dengan alam ilahi. Spiritualitas sering dialami sebagai sumber inspirasi atau orientasi dalam hidup. Hal ini dapat mencakup keyakinan pada realitas material atau pengalaman sifat imanen atau transenden dunia.

Banyak pemahaman kemudian menyandingkan spiritual dengan agama. Agama memiliki kecakupan yang lebih luas, mengatur tatanan peradaban manusia, sedangkan spiritual lebih kepada laku pribadi masing-masing individu. Agama adalah sebuah laku spiritual dalam memaknai Ad Dien (Jalan Lurus). Maka menurut pemahaman kaum teologis, agama itulah adalah ad dien itu.  Sementara kaum spiritualis, memaknai spiritual sebagai sebuah laku dalam  mencari Ad Dien tersebut. Persoalan yang muncul bagi kaum spiritualis, kemudian adalah apakah Ad Dien itu berupa agama atau hanya sebuah aliran kepercayaan,  atau yang  biasa disebut sebagai  kearifan lokal. Banyak masyarakat, kaum suatu atau suku, atau golongan kemudian masih berpegangan kepada kearifan lokal saat menjalankan agama.  Penyebaran agama yang demikian hebat. Memaksa masyarakat lokal untuk menerima begitu saja agama baru tersebut pada jaman itu. Pen-syiar-an agama, tausiah, dan dakwah-dakwah,  sering gagal menyentuh aspek-aspek spiritual mereka. Walaupun sebenarnya, jikalau kita kaji benar, diantara pemahaman tersebut  sebenarnya, terdapat juga titik singgung dimana keduanya bertemu. Masing-masing pelaku, merasakan  hasil yang relative sama pada badan mereka. Kenyamanan, ketenangan dan hal-hal postip dalam cara pandang mereka dalam memaknai hidup dan kehidupan mereka di dunia.

Para pelaku spiritual baik yang memakai baju  agama dan atau  penganut kepercayaan serta pelaku meditasi sama-sama akan mendapatkan rasa di badan,  mereka menjadi  lebih nyaman. Selama dalam mereka menjalani laku spiritual. Masing-masing dalam ritual-ritual mereka. Kenyamanan ini akan membuahkan perilaku positip. Inilah faktanya. Sebuah konsep dalam pengolahan jiwa manusia. Sehingga pelaku yang sungguh-sungguh menetapi jalannya masing-masing tersebut menjadi yakin. Keyakinan  ini rupanya melahirkan pemahaman  bahwa semua agama itu ‘benar’.  Bahwa aliran kepercayan mereka juga ‘benar’. Dalam persepsi masing-masing tentunya.  Semua akhirnya menjadi benar dan  yakin dengan  laku peribadahan masing-masing. Maka tidak sedikit akhirnya diantara kaum spiritualis kemudian meyakini bahwa  mengawinkan kearifan lokal dengan agama adalah sebuah keniscayaan. Bermula dari sinilah kemudian spiritual mengalami fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Muncullah Islam dengan spiritual Jawa, Islam dengan spiritual Batak, Islam dengan spiritual India, Cina, Persia, atau spiritual Arab dengan kabilah-kabilahnya, dan sebagainya dan sebagainya. Meskipun fenomena ini tidak kasat mata namun bagi pelaku spiritual akan sangat paham sekali kemungkinan kemungkinan ini. Sebagaimana juga di alami oleh agama Kristen. Dimana  ketika berbenturan dengan kearifan lokal mereka kemudian bersimbiosis  muncul Kristen Jawa, Batak, Sunda, dan lain sebagainya.

Masalahnya adalah apakah Islam menerima simbiosis ini. Islam menuntut agar para penganutnya masuk kedalam agama Islam secara kafaf, secara totalitas.  Dengan sebuah konsep ‘BERSERAH DIRI’ tanpa ‘reserve’.  Inilah problematika yang dihadapi para spiritualis lokal dalam mempelajari Islam. Ketidak berdayaannya melepaskan diri atas kesadaran kolektif yang di bangun oleh nenek moyang, atas hal ghaib dan realitas. Mana imanen dan mana transeden. Dengan istilah-istilah yang sulit dicarikan referensinya dalam Islam, membuat para spiritualis lokal (Baca; Jawa) mengalami kegamangan. Ambivalensi agama atas spiritual (baca; kejawen).
Kesemua ini menyebabkan kemunduran tersendiri bagi spiritual Islam. Sehingga kita dapati orang Indonesia sekarang beragama namun tidak ber ketuhanan. Hancurnya tatanan moralitas sekarang ini, mungkin dapat dijadikan ukuran atas pernyataan ini.


Kearifan lokal (Spiritual lokal)

Ketika agama berbenturan dengan spiritual lokal. Ketika agama mengalami pergumulan dengan kearifan lokal. Ketika terjadi pemaksaan atas nama agama kepada kaum spiritualis lokal. Ketika tidak ada lagi wacana. Ketika yang ada adalah salah dan benar, kafir atau muslim. Tidak ada jalan bagi kaum spiritualis untuk menolak kehadiran agama dalam hidupnya. Maka yang terjadi kemudian pergumulan dalam jiwa para pemeluk agama,  (spiritualis)  yang masih tetap tak berkesudahan hingga melintas memasuki jaman milinium ini. Bagaimana kearifan spiritual lokal kemudian menyikapi hal ini.?. Beberapa spiritualis Islam Jawa masa lalu seperti diantaranya  Ki Ageng Selo, dan Ki Ronggowarsito paham benar dengan situasi ini. Mereka mengerti betapa tinggi dan luhurnya filosofi Jawa, mengakar begitu kuat dan dalam pada kesadaran orang-orang Jawa. Laku orang Jawa adalah spiritual itu sendiri dalam kesehariannya. Maka untuk menjebatani ini, mereka kemudian membuat beberapa methode dan simbolisme , agar mudah dipahami oleh orang-orang Jawa dalam menetapi Islam. Mereka mencoba men-transformasikan kearifan lokal, spiritual Jawa ke dalam Spiritual Islam. (Baca Pepali Ki Ageng Selo).

Dalam agama Islam, dan juga agama agama lainnya, spiritual selalu disandingkan dengan pemahaman surga dan neraka. Perimbangan antara keduanya menjadi titik sentral agar manusia selalu mawas diri dalam menapaki jalan kehidupannya di dunia. Tingkah laku mereka sudah diatur dan diarahkan dengan sangat hati-hati agar tidak terjerumus kepada perlilaku negatif. Sejak masih kecil pemeluk agama di berikan doktrinasi dan ritual-ritual keagamaan, yang diharapkan akan mampu mengarahkan perilaku pemeluknya kepada perilaku positip. Rangkaian  methode peribadatanpun sudah di berikan oleh para pembawa risalah agama-agama masing-masing, untuk menuntun semua pemeluk dan penganutnya agar mendapatkan hasil optimal sebagaimana yang diharapkan oleh agama tersebut. Sementara dalam spiritual biasa menitik beratkan~berporos kepada kehidupan di dunia saja. Penyatuan kepada alam semesta. Harmonisasi alam.

Jika semua menuju kepada jalan yang sama kepada Ad Dien yang diyakini kebenarannya masing-masing. Tentunya semua akan sampai kepada titik singgung, titik pertemuan para penempuh jalan,  suatu kearifan spiritual. Kearifan yang mampu meredam seluruh perbedaan atas jalan masing-masing yang di tempuh. Ibarat kita akan pergi ke Roma, tentunya banyak jalan kesana.  Sayangnya itu tidak pernah terjadi, kalaupun terjadi biasanya dalam skala minimal tidak berlaku umum. Sejarah telah mencatat pada setiap agama-agama yang diturunkan di bumi ini, ternyata sama-sama telah menyisakan sejarah kelam. Dalam perkembangan dan pertumbuhan agama itu sendiri.  Kearifan nyaris terkikis oleh benar dan salah. Agama telah kehilangan nilai spiritual-nya?. Mungkinkah terjadi ?.

Maka , ketika kenyamanan badan  yang di dapatkan oleh seorang pelaku spiritual menjadi ukuran dalam pembenaran atas dirinya, atas ajaran sebuah agama, atas sebuah kepercayaan. Niscaya mereka akan berhadapan dengan ajaran lain yang juga sepertinya mendapatkan hasil yang sama, meski  laku mereka agak berbeda. Jika spiritual bekerja dengan cara seperti ini, maka dapat dipahami apabila hasilnya adalah sebuah peradaban yang penuh dengan caci maki, perpecahan dan pertikaian. Demi pembenaran terhadap perilaku manusia atas manusia lainnya, yang tengah menjalani laku berbeda, walau keduanya sama-sama sedang berusaha memaknai kehidupan ini. Menetapi kehidupan ini. Tak peduli, walaupun masing-masingnya juga sedang berusaha untuk menjadi baik dengan perilaku yang tengah mereka jalani itu.

Akhirnya wajar jika sesuatu yang baik menurut suatu golongan dianggap tidak baik oleh sebagian manusia lainnya. Sayangnya lagi, meski masih dalam satu golongan, konotasi baik diantara mereka itu juga kemudian telah  di persepsikan lagi oleh sebagian lainnya, menjadi hitam putih lagi. Jadilah baik bagi siapa dan untuk siapa. Baik menjadi banyak makna. Semua punya cerita dan alasan sendiri-sendiri. Dan tanpa disadari, semua menuju jurang perpecahan dan penghancuran masing-masing. Maka tidak mengherankan apabila kemudian dalam sebuah agama terjadi puluhan perpecahan dan di dalamnya banyak sekte, banyak ritual dan banyak dogma-dogma yang justru semakin menjauhkan diri mereka sendiri dari niat mereka dalam ber-spiritual pada awalnya.

Kalau begitu, kemudian timbul pertanyaan adakah sebuah garis lurus (Shirotol Mustakim) ?, sebuah benang merah yang mampu menjelaskan spiritual seperti apakah sebenarnya yang dapat menjebatani seluruh pemahaman yang ada di dunia ini ?. Kemudian spiritual seperti apakah yang  mampu  menyadarkan manusia dalam dikotomi dan ambivalensi agama. Sehingga tidak ada pemisah lagi antara agama dan spiritual. Dan spiritual seperti apakah yang kemudian mampu menyadarkan kita bahwa setiap manusia berada dalam makomnya masing-masing ?.

Jika agama adalah sebuah pemahaman yang satu. Diibaratkan sebagai sebuah jalan yang lurus (shirotol mustakim), maka setiap golongan dan sekte tengah berjalan bersama-sama menuju Tuhan yang satu. Tentunya yang membedakan dari masing-masing manusia, dan agama, atau golongan, adalah pencapaiannya pada kilometer keberapa dia pada akhirnya nanti. Apakah mereka mampu sampai ke garis finis..?. Ataukah berhenti ditengah jalan dan tidak pernah sampai. ?. Dengan methode dan kendaraan yang tepat manusia dapat mencapai kilometer yang lebih jauh dibandingkan dengan manusia lainnya. Manusia hanya perlu mencari kendaraan yang tepat  dan strategy mana yang lebih cepat dalam  menghantarkannya ke titik akhir di sebuah jalan yang lurus tersebut. Dalam keterbatasan sang waktu. Tidak ada saling menyalahkan dan tidak ada perpecahan. Bukankah ini tujuan kita dalam ber spiritual ?. Mungkinkah..?.

Sistem kesadaran manusia

Dalam kitab-kita suci agama-agama besar yang ada di dunia. Banyak diceritakan tentang perimbangan surga dan neraka. Bagaimana sifat-sifat orang-orang yang akan menghuni surga dan bagaimana ciri-ciri orang yang akan menghuni neraka. Telah diuraikan dengan teliti. Nah..Dengan pengetahuan itulah para pemeluk agama kemudian menyatakan diri mereka masing-masing sebagai ahli surga. Tidak ada satu mahkluk di bumi ini yang bersedia menjadi ahli neraka.  Sudah jamaknya memang demikian. Namun apa jadinya, jika kemudian lantas menjadi  tidak peduli dengan pernyataan Tuhan mereka. Pernyataan mutlak bahwa siapa-siapa saja yang akan menghuni surga atau neraka adalah kewenangan dan hak mutlak Tuhan mereka. Sudah menjadi ketentuan Tuhan. Tidak ada sedikitpun campur tangan manusia dalam hal ini. Tidak juga atas usaha manusia itu sendiri. Tuhan berbuat sekehendak diri-NYA, dalam system keadilan yang sangat luar biasa. Sehingga, sesungguhnya menjadi sangat naïf ketika semua orang berebut menyatakan dirinya sebagai ahli surga.  Menjadi sangat naïf lagi jika kemudian memvonis manusia lain adalah ahli neraka. Jikalau begini, telah kita dapati kembali  sebuah peradaban yang hanya berisi perpecahan, caci maki, dan sebagainya, baik dalam satu agama apalagi lintas agama. Sungguh luar biasa sekali manusia dengan akalnya ini.

Apakah kalau begitu semua golongan adalah benar..?. Atau
Apakah hanya satu golongan yang benar dan yang lain salah..?.

Benar dan salah, akhirnya memiliki kompleksitas tersendiri. Ketika berbenturan dengan kearifan lokal. Meskipun penyebaran agama yang demikian hebatnya telah mampu memaksa dan  menerobos tatanan spiritual suatu masyarakat yang telah dibangun secara turun temurun dengan cara menggantikan kesadaran kolektif (spiritual) yang ada pada kaum tersebut dengan pemahaman baru . Namun ternyata pemaksaan ini, tanpa disadari telah melahirkan  pertentangan hebat dalam diri pemeluknya. Kesadaran kolektif akan selalu menemukan jalannya untuk diturunkan. Sebuah entitas yang sudah masuk kedalam kesadaran manusia tidak akan begitu saja mudah dibuang. Bagaimanapun caranya entitas tersebut mencoba mempertahankan diri bahkan mungkin juga malah tetap dipertahankan oleh manusia itu sendiri. Inilah bekerjanya spiritual dalam kesadaran manusia. Ketika sesuatu hal ghaib sudah dimasukan dalam kesadaran manusia maka akan menjadi realitas bagi mereka.

Sebagai contoh, ketika saat kesadaran manusia masih berada dalam tahap mengakui bumi sebagai pusat tata surya. Masuknya pemahaman baru yang menyatakan bahwa mataharilah pusat tata surya bukannya bumi. Pemahaman ini, mendapat perlawanan hebat, tidak sedikit korban manusia. Sungguhpun tidak ada satu orangpun pada jaman itu yang mampu menyaksikan bagaiamana system tata surya tersebut bekerja. Kesadaran kolektif mereka terlanjur menganggap bahwa matahari mengelilingi bumi adalah realitas. Dan pemahaman lain adalah ghaib.  Tidak mudah kesadaran manusia beralih begitu saja. Padahal kalau kita kaji nyatanya kedua duanya adalah sama-sama ghaib, mengapa..?. Karena tidak ada satupun manusia yang mampu dengan inderanya mengetahui itu.

Banyak instrument dalam diri manusia yang perlu ditundukkan agar kesadaran manusia mau menerima sebuah kesadaran yang lain lagi. Begitulah kesadaran, begitulah spiritual.
Hal ini begitu nyata dalam tatanan spiritual Jawa. Banyak entitas yang dimasukan dalam kesadaran orang-orang Jawa. Hingga banyak orang Jawa tetap dalam spiritual Jawanya meski telah ber-Islam atau telah memeluk Kristen. Rupanya ini juga terjadi diseluruh pelosok penjuru bumi, dalam penyebaran-penyebaran agama baru, sejak kisah para orang-orang Romawi hingga menyebar di kekinian. Ketika agama berhadapan dengan spiritual lokal, baik di India, di Persia, di Cina, bahkan di pusat peradaban Islam sendiri spiritual Arab mengalami hal yang sama dan lain sebagainya, agama diterima dengan pemahaman spiritual lokal yang melekat secara turun temurun. Kenyataannya tidak ada transformasi kesadaran dari spiritual lokal kepada spiritual agama yang baru.(baca ;Islam).  Jika akal dan jiwa masih belum mau tunduk maka sulit sekali kesadaran akan ber transformasi. Maka menjadi dimengerti ketika Islam kesulitan melakukan transformasi kesadaran dari jaman sahabat kepada generasi-genersi  berikutnya. Ada sebuah missing link. Banyaknya suku dengan beragam budaya dan spiritual lokalnya menjadi kesulitan tersendiri. Maka tak heran jika kemudian wajah Islam dan agama-agama menjadi seperti sekarang ini. Banyak golongan ter-fragmentasi dalam segmennya masing-masing. Maka tak aneh jika surga kemudian telah dikapling berdasarkan segmennya masing-masing, dalam persepsi masing-masing golongan. Sungguhkah tak ada surga bagi golongan lainnya..?.

Memasuki millennium baru, benturan-benturan tersebut tidak mampu di tuntaskan. Sejak masuknya Islam di Pulau Jawa, sejak jaman para Wali. Hal ini seperti mengendap begitu saja. Menyisakan kegamangan tersendiri bagi orang Jawa, bagi bangsa-bangsa lainnya, dan demikian juga  halnya dengan bangsa arab sendiri. Spiritual Arab juga mengalami kegamangan yang sama ketika bertemu dengan spiritual Islam.  Hasilnya selaramh baru kita sadari,  kita menjadi kesulitan memisahkan antara mana yang spiritual Arab dan mana yang spiritual Islam. Kita sebenarnya tahu bahwa Spiritual Arab melekat bersama adat istiadat dan budaya lokal mereka. Ketika mereka mempelajari Islam , orang arab juga kesulitan membebaskan diri atas spiritual lokal mereka (Arab). Hingga kejadiannya spiritual Arab dianggap sebagai perwujudan spiritual Islam. Dakwah Islam pun akhirnya sulit membebaskan diri dari hal ini. Tanpa disadari mereka memasukan unsure-unsur lokal Arab kepada spiritual Islam. Akhirnya menjadi salah kaprah ketika masyarakat menganggap semua budaya arab identik dengan Islam. Tak aneh jika sekarang muncul fenomena, bila ingin dianggap sspiritualis sejati tinggal pakai baju gamis saja, ala orang arab maka kita pasti cepat dianggap sebagai ustad. Kita sudah terlupa bahwasanya Islam sejatinya adalah pembebas atas semua itu. Islam adalah agama PEMBEBASAN atas kesadaran spiritual yang yang ter fragmentasi.  


Bagaimana  sebaiknya menyikapi ini..?.

Islam adalah spiritual

Spiritual adalah sebuah laku agar manusia mampu menundukan instrument ketubuhannya, sehingga manusia mampu menggunakan kesadarannya  untuk memahami dualitas  alam semesta dan meletakannya pada tempat yang semestinya.  Sehingga manusia juga mampu memahami antara mana hal ghaib dan mana hal  realitas . Memaknai kelahiran dan kematian. Kemudian kesadarannya juga mampu membedakan antara bangun dan tidur. Dan dualita-dualitas lainnya. Dengan memahami ini manusia menjadi tenang, tidak pernah dirisaukan oleh dualitas tersebut.  Sehingga diharapkan  manusia mampu mencapai sebuah kesadaran tertinggi dalam martabatnya sebagai manusia. Kesadaran tertinggi inilah yang tidak sama antara satu agama dengan agama lainnya, antara satu keyakinan dengan keyakinan lainnya. Antara suatu kepercayaan dengan kepercayaan lainnya. Kesalahan dalam memahami kesadaran tertinggi akan menyebabkan penderitaan berkepanjangan, itulah neraka. Maka dalam ber spiritual manusia memerlukan  teladan dan panduan. Kesalahan dalam mengambil teladan dan panduan juga akan menyebabkan penderitaan bagi manusia itu sendiri. Manusia yang mampu menemukan kesadaran tertingginya itulah manusia yang akan mendapatkan surga kebahagiaan. Maka meskipun teladan dan panduannya benar namun jika dia tidak mampu mendapatkan kesadaran tertingginya, maka manusia inipun akan mengalami penderitaan berkepanjangan pula.

Kesadaran tertinggi dalam Islam adalah jika manusia mampu mendapatkan sebuah kesadaran :
LA ILA HA ILALLAH. Meletakan kesadaran pada kehendak Allah. Bahwa semua realitas yang ada adalah merupakan rangkaiaan kehendak-kehendak Allah yang tersusun dengan sangat luar biasa sekali. Pada setiap kejadian, pada setiap pembentukan, pada setiap apapun yang terjadi di seluruh permukaan bumi ini, baik itu sebutir  debu yang jatuh hingga kematian yang menerjang suatu kaum, berupa suatu bencana. Pada hamparan bumi dan langit, pada sintesa dan biosentesa, terjadinya angin dan hujan. Terjadinya malam dan siang. Dan sebagainya, dan sebagainya. Apapun kejadiannya dan realitasnya yang nampak adalah kehendak-kehendak Allah atas semua itu. Maka dalam kesadarannya hanya ada Allah saja yang berkreasi yang hidup, yang bekerja, yang mematikan, yang menghidupkan, semua, sebagaimana kesemuanya dalam asmaul husna,  dalam 99 nama-NYA.  Kemanapun manusia menghadap disitulah wajah  Allah. Kemanapun kesadarannya diletakan disitulah nama-nama Allah. Dalam penciptaan manusia, rejeki, jodoh dan mati. Distu terdapat nama-nama Allah. Maka tidak ada keraguan lagi ketika dia menghadapkan kesadarannya bahwa TIADA TUHAN SELAIN ALLAH, yang mampu berbuat semua itu, sekehendak diri-NYA.

Kesadaran seperti inilah sebenarnya yang diharapkan dalam ber spiritual. Sehingga manusia yang sudah mencapai kesadaran ini akan berperilaku penuh santun. Karena senantiasa dia akan melihat dalam perspektif ketuhanan sebelum melakukan tindakan apapun. Karena hanya Allah saja yang ada dalam kesadaran-NYA. Jika kemudian, ketika manusia beragama~namun kehilangan kearifan~kehilangan ketuhanannya. Maka dapat diyakini dia tidak ber-spiritual. Hasil yang di peroleh dalam spiritual Islam begitu nyata dan merupakan suatu kepastian. Sholat akan mencegah perbuatan keji dan mungkar. Pernyataan ini dalam Islam adalah sebuah kepastian yang akan diperoleh bagi orang yang sholat dan ber spiritual. Jika dia masih melakukan perbuatan keji dan mungkar dengan adar yang sama dari waktu ke waktu tidak berkurang. Maka yakinlah bahwa dia itu tidak sedang sholat. Sederhana dan simple sekali.

Bagaimana dengan lainnya..?. Menjadi pertanyaan penting adalah, sejauh mana suatu agama, atau aliran kepercayaan memandu para pengikutnya menuju kepada kesadaran tertingginya.
Jikalau kesadaran manusia selalu dihadapkan dengan patung. Maka kesadarannya akan berhenti pada patung tersebut. Hal ini tentu akan menyiksanya.
Jikalau kesadaran manusia selalau di hadapkan kepada harta. Maka kesadarannya senantiasa akan diliputi harta saja, oleh sebab itu kesadarannya akan berhenti dan menetap pada harta. Hal ini lebih akan menyiksanya lagi.
Jikalau kesadarannya dihadapkan kepada wanita, tahta, keluarga, anak, kerjaan, dan lain-lainnya, atau bahkan kepada alam semesta itu sendiri. Tetap saja kesadaran manusia akan berhenti kepada apa yang setiap saat dihadapkan dirinya kepada benda-benda itu. Dalam Islam hal ini di tentang sangat keras. INILAH SYIRIK. Tidak ada toleransi bagi para penempuh jalan spiritual jika mereka syirik Kesadaran mereka harus senantiasa dihadapkan kepada Allah.
Islam sungguh telah menyiapkan dengan sempurna agar setiap suku, setiap golongan, setiap manusia manapun mampu memahami dan menetapi spiritual dalam Agama Islam. Jalan spiritual yang di tawarkan Islam hanya melalui rangkaian pemahaman; Iman, Islam dan Ihsan. Sangat sederhana sekali. Namun sebaik apapun methode yang di tawarkan selama manusia itu tidak mau menundukan akalnya terlebih dahulu maka manusia itu tetap tidak akan mampu memperoleh nilai spiritual seperti yang diharapkan Islam. Spiritual Islam menuntut agar pemeluknya mampu menundukan seluruh entitas dalam dirinya, melakukan transformasi dari sebuah kesadaran spiritual lokal kepada suatu kesadaran spiritual Islam. (Insyaallah ; Langkah-langkahnya akan diulas dalam Bab Membuka Hijab). Walohualam








Selasa, 16 November 2010

KEPASTIAN YANG TERLUPA

Dosa siapa dan salah siapa ? 

Musibah apapun terasa akan megoyak sisi kemanusiaan kita. Banyak sekali manusia kemudian menghujat Tuhannya, Mengapa Tuhan menghukum hamba-hamba-NYA ?. Mengapa musibah ini menimpa saya, mengapa bukan menimpa dia atau mereka saja ?.  Mengapa jika musibah datang tidak padang bulu, tidak peduli akan datang kepada siapa, apakah kafir atau beriman. Mengapa musibah kemudian selalu disandingkan dengan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah?. Lantas apa yang telah kami dustakan. Bukankah kami percaya adanya Allah. Bukankah kami telah ber syahadat. Bukankah kami muslim, apakah layak kami mendapat musibah ini?. Bukankah kami, sebagaimana janji Allah, adalah kaum terbaik. Sebagaimana janji Allah kaum muslimin adalah rahmat bagi semesta alam. Mengapa begini ?, Ada apa dengan kami ini ya Allah ?.  Manusia memang selalu banyak bertanya dengan tak habis habisnya. Dan layaknya kita ber doa agar di jauhkan dari sifat-sifat seperti ini.

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri Beriman dan Bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, Maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al A’raf, 7: 96).

Ayat-ayat Allah adalah sebuah kepastian, maka jika suatu kaum mendustakan atau siapapun yang mendustakan ayat-ayat Allah. Berlakulah atasnya kepastian tersebut. Marilah kita melihat dari cara-cara yang paling sederhana cara bekerjanya ayat-ayat Allah.
Ayat-ayat Allah dalam pemahaman saya adalah ‘kehendak-kehendak’ Allah, atas alam semesta ini. Atas mikro kosmos dan makro kosmos. Atas manusia dan seluruh makhluk di muka bumi ini. Baik yang telah masuk dalam kesadaran kita ataupun belum sempat kita ketahui dalam kesadaran manusia.

Kaum yang berfikri (ilmuan) telah mengabarkan kepada kita. Sebuah kehendak Allah. Jika atom Na bergabung dengan aton Cl, maka terbentuklah garam. Bukan gula atau lainnya. Inilah kepastian itu. Kepastian yang belaku dari dahulu hingga kini. Tidak berubah sama sekali. Begitu juga yang terjadi pada senyawaan senyawaan lainnya. Misalnya gula tidak akan bisa di susun dari atom H apalagi Cl. Jika kita memaksakan menyusun, membuat  gula dari kedua atom tersebut. Maka yang kita dapati adalah zat beracun. Zat yang sangat korosif, mampu menghancurkan daging kita. Sistem inilah yang terjadi pada alam semesta. Pada darat, laut dan udara.  Ketika kita memaksakan kehendak kita pada alam semesta maka berlakulah ayat-ayat Allah. Kehendak Allah yang sudah dituliskan sebelum alam semesta berbentuk.

Manusia diajak untuk membaca ayat-ayat ini. Membaca kepastian-kepastian yang akan terjadi, jika manusia berbuat ini atau berbuat itu. Jika manusia memperlakukan alam  sekehendak dirinya, Manusia harus kembali bertanya, nanti apa yang terjadi?. Manusia harus segara menyadari. Mengkajinya. Manusia harus mampu membaca ayat-ayat ini, sehingga mampu membaca kehendak-kehendak yang tersimpan disana. Alam memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya, Sebagaimana kehendak Tuhannya.

Jika hutan di gunduli, tidak ada tanaman lagi. Maka bumi akan kekurangan oksigen.  Sedangkan Bumi harus memenuhi kebutuhan oksigen untuk kehidupan makhluknya. Maka diperlukan proses pertumbuhan tanaman secara cepat, dan fantastik. Untuk itu diperlukan air sebanyak banyaknya agar tanaman dapat segera tumbuh kembali. Bila kebutuhan  tanamanan akan air terpenuhi maka tanaman akan tumbuh dengan baik, sehingga kebutuhan oksigen bumi akan terpenuhi dengan cepat pula. Terjadilah keseimbangan lagi. Harmonisasi. Ini adalah mekanismenya. Sangat sederhana. Hutan di gunduli, oksigen menjadi menipis. Alam menurunkan hujan untuk merangsang tanaman agar tumbuh dengan cepat. Dan seterusnya. Sebagaimana pertahanan dalam tubuh manusia. Jika Bumi dianggap sebagai tubuh, maka wajar saja jika kemudian bumi memperbaiki dirinya. Jika kemudian terjadi banjir, maka bukanlah salah alam, bukan salah dari bumi itu sendiri. Karena kesalahan manusia tidak mampu membaca ayat-ayat Allah. Kehendak Allah atas harmonisasi alam semesta. Maka senantiasa Al qur’an mengajarkan kepada kita untuk melihat ‘tanda tanda’ kekuasaan Allah ini.

"Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kamu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar dari dosa-dosamu." (QS. As Syura, 42 : 30)

Jikalau memang sudah menjadi sebuah kepastian. Mengapa kita tidak menjadi tunduk..?. Sungguh dapat kita lihat dalam ayat As Syura ; 30, betapa Allah Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun manusia telah melakukan kebodohan, karena tidak mampu membaca ayat-ayat Allah tersebut, sehingga menimbulkan musibah yang menyayat kemanusiaan itu sendiri. Allah hanya mengingatkan manusia bahwa musibah tersebut bukanlah kesalahan alam. Musibah terjadi atas kesalahan manusia sendiri. Itulah kepastian yang di berikan  Allah. Maka hendaklah dimengerti. Dan Allah mengampuni dosa-dosa manusia yang terkena musibah tersebut. Karena memang belum tentu di sebabkan oleh kesalahan pribadi-pribadi mereka. Namun lebih disebabkan atas kesalahan kolektif manusia, yang tidak saling mengingatkan dan menasehati atas hal ini. Musibah terjadi atas kesalahan kolektif manusia. Maka tidak layak bagi kita kemudian menuduh saudara-saudara kita dengan kalimat yang tidak semestinya. Seperti kejadian gempa di Padang dan lain sebagainya. Dimana kemudian di banyak milis dihubungkan dengan hal-hal mistis lainnya. Semoga kita dijauhkan dalam berpandangan seperti itu.

Kepastian yang dilalaikan

Sekilas kita mengerti dan sadar, bahwa kita telah mendustakan ayat-ayat Allah ini. Melalaikan atas kepastian ini. Kita tidak mau belajar dari kejadian kaum-kaum terdahulu. tentang semua ini. Tentang kehendak Allah atas alam semesta, tentang kehendak Allah terhadap darat, laut dan udara. Bagaimana ketika dunia di tenggelamkan. Jaman nabi Nuh as. Dan jaman-jaman lainnya setelah itu.   Kehendak yang sama, dari dahulu hingga kini. Sebuah sistem pertahanan tubuh telah diberikan Allah kepada seluruh mahkluk ciptaannya. Sehingga mahluk tersebut mampu memperbaiki dirinya. Tidak saja, dari jasad renik hingga manusia. Namun alam semesta, darat, laut dan udara, mereka juga memiliki kemampuan untuk memperbaiki dirinya. Bahkan gugusan bintang, dan seluruh planet-planetnya senantiasa akan mengembang, dan memperbaiki dirinya.   Kepada bumi dan langit telah dititahkan segala urusannya, sebelum mereka terbentuk. Diantara itu ada malaikat-malaikat penjaga. Di gunung ada malaikat, di laut ada malaikat, di seluruh alam semeta tak terhitung banyaknya, mereka senantiasa bertasbih. Merekalah yang menjaga agar harmonisasi ini alam semesta tetap terjaga sesuai kehendak Tuhannya. dengan gerak mereka, dengan tasbih mereka. Mereka melaksanakan titah Tuhannya dengan khusuk. Mereka jati diri alam semesta.  Untuk inilah Islam mengajarkan agar kita percaya adanya malaikat Allah. Mereka bertasbih seperti kita manusia, mereka berdoa kepada Allah agar alam semesta harmonis.

Apakah kemudian kita manusia mendustakannya. Mendustakan kepastian ini. Bahkan ini sudah diajarkan dalam RUKUN IMAN kita. Kita harus percaya adanya malaikat Allah, malaikat yang menjaga jati diri alam semesta. Mereka harus masuk dalam kesadaran kita manusia. Kemudian kita juga Meng-imani. Sehingga tidak ada lagi manusia yang mengaku ber-iman. Mengaku muslim. Akan berbuat se wenang-wenang. Sekehendak dirinya terhadap alam semesta. terhadap bumi, laut dan udara. Islam sudah membingkainya sebagai pengajaran dalam RUKUN IMAN. Maka kaum yang ber-iman dalam manifestasinya adalah kaum yang senantiasa memperhatikan, tidak ber buat aniaya atas lingkungannya. Menjaga dan senantiasa memafaatkan alam secukupnya. Dan senantiasa didahului dengan Bismilallah. itulah perlakuan yang arif atas alam, sebab atas nama Allah saja mereka ikhlas digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia. Mereka sempurna, mereka ikhlas atas nama Allah yang menciptakan mereka bukan atas nama lainnya. Maka selanjutnya manusia muslim akan menjadi rahmat bagi alam, karena menyempurnakan setiap benda yang disentuhnya dengan Bismillah. Demikian juga sebaliknya, alam akan berlomba-lomba memberikan, menawarkan hasil terbaiknya. sebab setiap digunakan oleh manusia atas nama Allah, telah menyempurnakan diri mereka. Mereka di ciptakan untuk memenuhi kebutuhan manusia itu adalah kehendak Tuhannya. Kehendak itu, dan dengan terpenuhi  itu mereka sempurna. Wallohualam.