Selasa, 05 Oktober 2010

PENCIPTAAN WAKTU (BAGIAN I)

Langit masih berkabut
Lauh Mahfud selesai ditulis sudah. Jauh sebelum alam semesta bisa disebut. Jauh sebelum semua dimensi terbentuk. Saat itu disana, pada suatu keadaan diluar angan manusia, dimana nampak ruang dan waktu namun sejatinya juga bukan , entah apa karena belum disebut, disana ada kehendak muncul seketika. Kehendak sang Pencipta. Mencipta dari ketiadaan, dari kehampaan, dari kekosongan, entah apa namanya, sesuatu yang tiada menjadi ada. Mencipta sesuatu yang kosong menjadi isi. Mencipta sesuatu yang semu menjadi nyata. Mencipta sekehendak diri-NYA. Berikut bersama rencana-NYA. Dituliskannya dengan rinci dan terukur, aksara tanpa rupa tanpa makna, entah program atau suatu apa, pada suatu kitab Lauh Mahfud disebutnya. Begitu kejadiannya, maka seketika, semua yang kosong bergerak dengan patut, dengan percepatan yang tak berhingga, menjadi sesuatu, berkesinambungan, tak berkesudahan, dan setelahnya, kemudian kepada masing-masingnya di wahyukan urusan-urusannya. Belum tuntas, saatnya sesuatu yang sedang bergerak dengan percepatan maha dahsyatnya, mengarah pada titik kulminasinya, hingga sesuatu itu pada titik didihnya, kemudian mengalami perlambatan yang tak terkira, menjadi sesuatu lainnya sesuai rencana Tuhannya.

Kemudian Dia mengarah kepada langit yang masih berupa kabut lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi. silahkan kalian mengikuti perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa. Jawab mereka "Kami mengikuti dengan suka hati" (QS 41:11)

Langit masih berkabut, begitu kejadiannya saat ketika petala langit di dentingkan, ketika bandul jam di goyangkan, ketika cakra penggilingan di gulirkan, ketika roda kehidupan mulai di putar. Ketika peluit SANG WAKTU di tiupkan. Menandai perhelatan akbar, mengkhabarkan, kekuasaan Tuhan dari ufuk hingga tak berbatas tepi. Dengan kalimat KUN. Bergaung entah sampai dimana, diujung dimensi yang bias dan tak bisa disebut lagi. Maka setelahnya, serentak atom-atom mulai bergetaran, berdenyut , menyebar ke nadi alam semesta. Bak perlombaan lari masal, menjadi gelombang kejut dengan sendirinya, bermilyard atom-atom, bermilyard kreasi dan ide meliputinya, melakukan reaksi berantai, berkreasi, tak berkesudahan. Membentuk langit sebagaimana kehendak-NYA, membentuk bumi sebagaimana kehendak-NYA.

“Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main” (Al Anbiyaa’ ; 16)

Menandai laju kehidupan alam semesta. Kepada langit kepada bumi di wahyukan segala urusan. Maka kemudian babak jagad raya mulai membentang ter-gelar dengan segala kebesaran-NYA. “Bacalah. Dengan nama Tuhanmu yang menciptakan”. Entah perintah dan urusan apa yang di berikan kepada langit dan kepada bumi. Kepada langit yang masih berkabut, dan kepada bumi yang sudah mulai menyusun dirinya. Ketika saat di wahyukan segala urusan . Kehendak Tuhan meski dijalankan, dengan patuh, tertib dan santun. Kehendak yang sudah ada dari dahulu kala, sebelum sesuatunya belum dapat disebut. Suatu kehendak maha dasyat yang berada, meliputi, diantara, diluar dan di dalam partikel-partikel atom yang menyusun bumi, yang menegakkan langit. Maka tak pelak sesudahnya bumi, setelahnya mampu menampakan jati dirinya. Berkata bumi, bersujud “Kami mengikuti dengan sukahati”. Dan juga halnya, Begitulah keadaannya, tidak ada pilihan bagi langit. Dan langitpun bersujud “Kami mengikuti dengan sukahati”.
Ketika wujud bentangan langit dengan tujuh lapisan orbitalnya, telah tegak dengan jati dirinya. Dan ketika “ Dia mewahyukan pada tiap-tiap langit urusannya.”. Memang Sudah tidak ada pilihan bagi bumi dan bagi langit, mau terpaksa atau sukarela, atom-atom yang menyusun dirinya berada dalam liputan KEHENDAK Tuhannya, mereka sangat patuh kepadaTuhannya. Maka bumi dan langit tunduk. Sungguh Tuhanmu Maha Perkasa dan Maha Memaksa.

Sebuah kepastian
Setelah menjadi sesuatu yang bisa disebut. Benda padat, cair dan gas. Materi atau anti materi. Organisme bersel tunggal atau bersel banyak. Binatang melata, tumbuhan atau jin dan manusia. Menjadi sesuatu yang bisa disifati dengan aromanya, dengan rasanya, menjadi sesuatu yang memiliki sifat kimia dan fisika. Panas, dingin, terbakar, membeku, menguap, menyublim, mengembun, menetes, memadat dan lain sebagainya. Menjadi realitas yang terbentang di jagad raya dan isinya. Ternganga. Menjadi larut dalam kontemplasi, ketika fenomena ini memasuki logika kita. Mengapa sebuah atom tanpa rasa tanpa warna. Tanpa rupa tanpa aroma. Tak kasat mata. Namun ketika menggabungkan diri membentuk senyawaan berbeda. Menjadi zat yang ada rupa ada aroma, ada rasa dan ada warna. Kemudian, apakah atom itu kuasa berencana membentuk diri , menggabungkan diri mereka sendiri bersama atom-atom lain lainnya. Mengikatkan diri mereka di dalam bentuk senyawa yang bernama. Apakah ada yang menggerakkannya. Bersama kehendak yang menyertainya. Dzat yang memiliki kehendak itu sendiri. Atau sudah di wakilkannya kehendak itu kepada atom-atom tersebut. Bersama programnya. Sungguh kecerdasan yang sangat luar biasa. Atom-atom bergerak, bertahan, berikatan, melepas, dan lain sebagainya dalam tatanan ketentuan yang sempurna. Air tetap adalah air. Ikatan H2O sebuah ikatan yang stabil dan pasti. Atom 2H dengan 1 atom O adalah AIR adanya. Tidak menjadi minyak atau lainnya. Atom tersebut taat pada ide yang dibawanya. Ide dari kehendak Tuhannya. Inilah Sunatulloh, hukum kepastian, keberaturan atom-atom penyusunnya. Dan hukum tak beraturan yang mendampinginya. Hukum kepatuhan atom kepada Tuhannya. Sungguh ternyata atom-atom tersebut yang mengisi tubuh manusia. Kehendak Tuhannya yang menggerakkannya. Maka manusia kemudian lahir, tumbuh dan mati. Bergerak dalam lintasan hidupnya. Sebuah kurva dengan lengkungan yang menurun. Dari atom tanah menjadi atom tanah lagi. Bagaimana manusia memaknai semua ini. Lintasan waktu keberadaannya di bumi ini. Adakah sang waktu memainkan peranannya ini.

Sesuatu disifati
Mengapa sebuah ikatan senyawa yang memiliki rumus melekul C6H12O6, atau disebut GULA, menimbulkan sensasi rasa MANIS. Apakah ide rasa manis itu ada dalam setiap atom penyusunnya..?. Ketika setiap atom berdiri sendiri, tidaklah menunjukkan sifat seperti itu, tidak ada sensasi rasa manis itu sedikitpun. Bahkan terpikirpun tidak. Sebab ketika setiap atom di pasangkan kepada atom lainnya. Malahan menghasilkan senyawa yang sangat bertolak belakang sama sekali. Bahkan menciptakan senyawa lain yang berbahaya bagi manusia. Berada dimanakah ide rasa manis tersebut. Apakah hasil pertemuan ide antara atom satu dan lainnya memiliki ukuran tertentu dan unik. Kalau begitu setiap atom memiliki banyak ide yang hanya akan muncul jika dan hanya jika bertemu dengan atom yang sesuai yang di pasangkannya. Jadi ide ini pasti dan unik. Kepada atom yang mana ide tersebut akan dimunculkan. Bersama ide pasangannya. Luar biasa. Zarah sekecil itu memuat jutaan kemungkinan sifat, dan rasa, dan bentuk yang dapat dimunculkan.

Maka tak diragukan lagi, ketika ribuan kombinasi menyusun sebuah sel, bermilyard model dan bentuk, menyusun sebuah RAGA, dalam ukuran yang sudah direncana Tuhannya. Memunculkan sensasi rasa, rasa di JIWA, ketika bersama dirinya, diliputi Dzat hidup, maka JIWA menjadi tercipta dalam kegamangan dirinya, terbolak-balik. Begitu kuatnya pengaruh tarik menarik antar ide sang atom pada dirinya. Begitu juga ketika para atom yang memiliki ide, berjuta kreasinya mencipta, didalam otak manusia ide-ide mencipta, menciptakan ruang pada dimensi AKAL manusia. Begitulah AKAL, JIWA dan RAGA manusia. Ruh membuat semua menjadi hidup dan bergerak, berada meliputi sang atom, bersama diri manusia. Berada dalam sifat, berada dalam rasa, berada dimana saja. Kemana saja engkau hadapkan. Maka disitu Ruh ada.

Lintasan waktu
Menjadi keheranan yang tak habis-habisnya, mengerti kejadian ini. Berawal dari penciptaannya. Ternyata semua adalah kreasi sang atom adanya. Atomlah yang bergerak atomlah yang senantiasa sibuk, menyusun, membentuk, mengurai, melepas, dan lain sebagainya, sebuah gerak alam dan gerak kehidupan. Semua ada dalam benda padat, cair dan gas, dalam benda mati atau benda hidup. Gerak yang menuju kepada suatu titik. Bermula di awal dan menuju di akhir. Sebuah lintasan waktu. Semua dalam serangkaian kerja dalam lingkupan dimensi kurva sang WAKTU. Siklus kelahiran dan kematian. Semua yang bermula akan menuju berakhirnya. Sebagaimana keyakinan kita pasti mati. Dan ini adalah juga sebuah kepastian sebagaimana keyakinan kita akan kiamat dunia. Ketika sebuah atom juga dapat mengalami peluruhannya. Sebuah kematian sang atom.
Ternyata atompun kalah dan harus menyerah kepada sang WAKTU. Apakah sang waktu itu..?. Begitu dasyatnyakah sang waktu membatasi. Semua di alam semesta dari zarahnya hingga ordo dengan dimensi tertingginya dibatasi oleh sang waktu. Lintasan waktu berbatas namun tidak bertepi. Sebuah rangkaian kejadian super sibuk, rangkai merangkai sang atom saatnya nanti akan berhenti.
Menjadi pertanyaan penting, untuk apakah adanya sang waktu..?. Bilakah hanya membatasi saja..?. Bagaimana manusia memaknai ini..?. Dengan kedahsyatan atom saja belum kita mengerti, bagaimana dengan sang waktu ini..?. Bagaimana kaitan bergeraknya atom, dinamikanya atom dalam lintasan waktu dan memaknainya dalam kehidupan kita..?. Bagaimana kaitan semua itu dengan kita manusia..?. Apakah waktu..?. Sungguh dengan sekelumit kajian ini, belumlah tuntas.

Sang waktu-diam diatas gerak
Diam diatas gerak itukah sang waktu..?. Siapakah yang diam dan siapakah yang bergerak..?. Waktu adalah dimensi ruang yang relative. Dimana harus ada suatu pergerakan yang dilakukan oleh sesuatu bersama lintasannya atau jarak yang dituju. Pergerakan itu harus diamati oleh pengamat. Jadi pengamat itulah yang menghitung selisih waktu awal dengan waktu akhir. JIka pengamat diam tentunya hasil perhitungan akan berbeda jika dibanding bila pengamat juga ikut bergerak. Maka waktu menjadi relative tergantung posisi pengamat sedang apa, apakah diam apakah bergerak. Inilah konsepsi waktu. Kemudian oleh manusia waktu diberikan kode, detik, menit, jam, hari, bulan, tahun. Dan kode tersendiri dengan nama bilangan. Tanpa sadar kita juga menghitung waktu hidup kita, berjalannya hari dan tahun. Lha siapakah yang mengamati..?. Siapakah pengamatnya..?. Siapakah yang bergerak..?. Apakah lintasannya..?. dalam iuinterval kurva sang waktu bagaimana memaknainya.

Dalam ulasan dimuka sudah diulang-ulang bahwa ternyata RAGA kita adalah rangkaian atom yang senantiasa bergerak. Ada entintas luar biasa yang menggerakan semua itu. Mulai dari bayi dewasa merenta tua dan mati. Inilah lintasan hidup kita, mungkin 50 tahun, mungkin dapat juga lebih. Jikalau RAGA digerakan oleh atom. Atom di gerakan oleh yang Maha GERAK. Bagaimana menjelaskan ini. Lha.. ternyata ada AKU yang mengamati ketika kecil hingga dewasa dan mati. Ada AKU yang ternyata diam saja, mengamati sang atom itu berkreasi, bergerak di dalam tubuh kita. AKU yang diam. Ternyata AKU diam diatas Gerak sang MAHA GERAK. Meliputi tidak di luar tidak di dalam, Diantara atom-atom. Subhanalloh. Siapakah AKU, ternyata adalah AKU yang SADAR sang KESADARAN ini mengamati, bila dia mengamati bila dia DIAM. DIAM DIATAS GERAK.

Bila AKU sudah menyadari, bahwa dirinya adalah hanya sekedar penikmat ‘journey’ di kehidupan ini saja, hanya penyaksi atas kreasi sang atom atas jagad raya ini, hanya penonton atas permainan sang atom, kemudian menyadari bahwa AKU sejatinya adalah DIAM, tidak bisa apa-apa maka, menjadi jelaslah firaman Allah di bawah ini berkata kepada siapa dia berkata.

"Sesungguhnya kehidupan dunia hanyalah permainan dan senda gurau. Dan jika kamu beriman serta bertaqwa, (maka) Allah akan memberikan pahala kepadamu, dan Dia tidak meminta harta-hartamu". (QS. Muhammad, 36)


BERSAMBUNG..

Tujuh bentangan langit
Ketika tujuh bentangan langit, berada dalam urusannya, berada dalam kecepatannya masing-masing, dan ketika Tuhanmu mengarah kepada Arsy. Maka mulailah dentuman waktu…BLANG..merambat dengan kecepatan pasti, akan memaknai yang terlewati..

Allah berfirman "AKU-lah Waktu, Di tangan-KU kugenggam sesuatu. Aku membuat perubahan malam dan siang" (HR. Bukhari . no. 4826)




Bab Syetan Dan Iblis (Dalam Skenario Tuhan)

Pengantar: Sebelum saya masuki kajian ini selanjutnya, saya perlu menyampaikan pemahaman saya, dengan sedikit menggunakan analogi. Syetan saya coba dekati~ dengan pemahaman wujud dan mekanisme kerjanya melalui:

Pertama ; Virus Komputer:. Sifat virus ini mampu Infiltrasi, menduplikasi, mereduksi , mereplikas, meng-insisii dan beradaptasi terhadap lingkungannya~ program-program komputer yang ada. Memiliki kemampuan penetrasi dan injeksi , dengan akurasi yang maksimal. Mengalir bersama perintah-perintah mesin, karena virus sejatinya adalah bahasa mesin, itu sendiri. Virus bisa disisipkan atau dibuat oleh seorang programmer dengan sengaja (Hoach). Virus komputer dapat merusak (misalnya dengan merusak data pada dokumen), membuat pengguna komputer merasa terganggu, maupun tidak menimbulkan efek sama sekali.



Kedua ; Infiltrasi virus kepada sel : Virus akan mengalir bersama darah, ~kemudian akan melakukan penetrasi terhadap sel inang,~setelah masuk akan melakukan replikasi DNA sel, melalui insisi, duplikasi dan lain sebagainya. Akibat rangkaian DNA sudah dimodifikasi virus, maka sel tidak mampu membaca kode-kode. Akibatnya sel akan menggandakan diri tanpa terkontrol. Sel-sel membesar menjadi jaringan-jaringan yang ganas. Maka akan terbentuklah KANKER.



Saya ingin mengajak pembaca meng-imajinasikan kedua hal tersebut, sebab Syetan adalah sesuatu yang gaib. Bayangkan syetan akan mengalir di dalam darah kita, kemudian masuk kepada sel-sel nafsu kita, dan melakukan hal yang sama

seperti ilustrasi saya diatas. Maka dapat dibayangkan sel-sel nafsu

kita yang tadinya normal biasa akan berkembang meluas,

menjadi nafsu yang keji dan mungkar, sebagaimana

kanker dalam tubuh kita. Meski syetannya sudah pergi,

tapi sel sudah terlanjur menjadi kanker ganas.



"Tidakkah kamu lihat, bahwasanya kami telah mengirim syetan-syetan itu kepada orang-orang kafir untuk menghasut mereka berbuat maksiat dengan sungguh-sungguh?"

(QS. Maryam: 83).

Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka anggaplah ia musuh(mu), karena sesungguhnya syetan-syetan itu hanya mengajak golongannya supaya mereka menjadi penghuni neraka yang menyala-nyala (TQS Fathir [35]: 6).

"Syetan itu memberikan janji-janji kepada mereka dengan membangkitkan angan-angan kosong kepada mereka, padahal syetan itu tidak menjanjikan kepada mereka kecuali tipuan belaka." (QS. An-Nisa' : 120)

« sesungguhnya syetan mengalir dalam tubuh manusia melalui aliran darah. Saya khawatir kalau (syetan itu) telah membisikkan yang negative kepadamu, atau berkata sesuatu." (HR. Bukhari dan Muslim).





STOP.. !. Baiknya berhenti sejenak, sebelum mebaca kajian berikutnya, agar frekwensi kita menjadi sama.







Mengenali~Perkembangan Jiwa

Membicarakan skenario Tuhan tidak mungkin lepas dari siapakah lawan manusia;

Dalam banyak kajian , baik makalah maupun buku-buku Islam kita sepakat bersama~bahwa Syetan adalah musuh manusia yang paling besar. Kita amini itu dengan, sikap skeptis, betapa tidak, kita seperti bertarung dengan angin. Kita tidak tahu bagaimana cara kerja mereka, bagaiamana dan kapan dia menyerang, apa senjatanya, bagaimana wujudnya, dan sejuta tanya lain yang menggayuti. Kita hanya tahu dari hasil akhir saja, dari langkah-langkahnya; misal iri dengki, serakah, tamak, dan sifat-sifat negative lainnya. Ditambah sedikit petunjuk dari al qur’an.

Al qur’an juga menjelaskan bahwa pada diri manusia juga terdapat sifat baik dan sifat jahat. Kefasikan dan ketakwaan ~yang bersemayam dalam Jiwa manusia itu sendiri. Kemudian masih ada lagi sifat raga yang memiliki kecenderungan kepada nafsunya.



Dari hanya deskripsi ini kita sering kebingungan menafsirkan apakah sifat jelek itu sifat pembawaan kita sebagai manusia atau merupakan reduksi syetan atau memang sifat yang disisipkan Allah pada Jiwa kita..?. Mampukah kita mendeteksi ?

Yang mana dari syetan dan mana potensi Jiwa?



Mari kita lanjutkan terus:

Dalam kajian ini saya ingin membawa kepada beberapa pemahaman saya~, sebagian sudah saya ulas di tulisan-tulisan terdahulu. Hal ini penting sekali untuk mengenali langkah-langkah Syetan.



Sejalan kita pahami cara kerja Syetan, mari kita kenali juga Jiwa kita. Dalam tulisan terdahulu saya usung pemahaman, bahwa Jiwa mempunyai kecenderungan meluas, seperti ‘étér’ akan menempati ruang-ruang yang kosong, dia labil, sangat mudah mengikuti ruang (ruang imajiner).

Allah mengilhamkan kepada Jiwa, kebebasan apakah akan mengambil ketakwaan atau kefasikan. (imajinasikan ; ketakwaan dan kefasikan adalah ruang yang imajiner). Jiwa dapat meluaskan diri kepada kefasikan atau meluaskan diri kepada kebenaran, kepada asalnya Dzat. Inilah ilham dari Tuhan.

Saya analogikan, sel-sel tubuh kita dapat memperbanyak diri secara normal, sehingga kita menjadi tinggi, besar, gemuk, kurus, dan lain sebagainya. Inilah kodrat, sunatulloh yang terjadi pada badan sebagaimana hal ini , juga terjadi terjadi pada Jiwa.



Jiwa juga mengalami pertumbuhan dan perkembangan.

Pertumbuhan dan perkembangan Jiwa secara personal, yaitu perkembangan yang sejalan dengan pertumbuhan kembangan usia manusia~mengikuti informasi (baca ; pengetahuan) yang didapat seiring dengan pengetahuannya. Dari bayi-kecil-akil balik-dewasa, dan tua.



Pertumbuhan dan perkembangan Jiwa secara kolektif, yaitu perkembangan sejalan dengan umur jaman ini, mulai dari nabi Adam hingga sekarang ini. Kita tahu bahwa , kecerdasan manusia dan kesadaran manusia dari masa ke masa, dari waktu ke waktu , bertumbuh, berkembang dan meningkat. Seiring umur bumi ini. Jaman Habil dan Qabil, dikisahkan untuk mengubur saja, manusia tidak tahu caranya~harus diberikan contoh oleh burung. Sekarang manusia sudah menemukan komputer, pesawat, dan lain-lain.

Sebagaimana firman Allah ;



“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya),maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan. Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu,dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya”.

(Asy-Syams: 7-10)



Infiltrasi Syetan pada Jiwa dan Tubuh Manusia

Kemudiam, masih terus imajinasikan~bagaimana jika dalam pertumbuhan dan perkembangan si Jiwa (penyempurnaannya) ada virus (baca; syetan), yang menginfeksi sel-sel Jiwa (baca; nafsu). Maka tentunya sebagaimana tubuh manusia maka akan tumbuh kanker~ tumbuh sel-sel diluar sel normal bukan..?. Begitu juga pada JIWA maka akan tumbuh sel-sel nafsu diluar normal (abnormal)



Maka berdasarkan pemahaman tersebut dibedakan asal nafsu ;

pertama ; nafsu yang abnormal, adalah nafsu dari hasil penestrasi Syetan terhadap sel-sel nafsu kita, kedua ; adalah nafsu yang diridhoi, yaitu nafsu yang memang diperlukan untuk manusia agar dapat mempertahankan diri atau mempertahankan kelangsungan hidup manusia itu sendiri ; misal nafsu makan, nafsu kawin, nafsu melindungi diri.



Sebagaimana perkembangan sel-sel kanker~, perkembangan sel-sel nafsu yang sudah abnormal menjangkiti setiap insan manusia.~ Virus yang berkode nama Syetan ini benar-benar virulens, sangat mudah sekali menyebar dan menginfeksi. Maka kita dapati sekarang, carut marut umat manusia dewasa ini. Bahkan anekdot mengatakan ‘sekarang Iblis pun sudah nganggur..’. Karena manusianya sendiri sudah berperilaku seperti Iblis. Waduh…!.



Testimony: Kalau kita sering menyaksikan pengajian Uztad Danu di salah satu stasiun televisi~menarik kita simak apa yang diuraikan beliau. Kebetulan jamaah beliau banyak mengeluhkan pelbagai penyakit, baik mulai yang ringan sampai yang berat. Dari kencing manis, darah tinggi, sampai ke Kanker. Menurut beliau semua penyakit yang dikeluhkan manusia berasal dari sifat dan nafsu manusia sendiri. Sering memaki, dendam, sakit hati, kikir, menghina, durhaka dan lain sebagainya ,sifat-sifat inilah yang akan memicu kerja system ketubuhan dan metabolisme tubuh sehingga memicu berbiaknya sel kanker, dan penyakit-penyakit degeneratif lainnya. Wallohu’alam.



Tertimony ini dapat menjelaskan~bagaimana sel-sel nafsu yang abnormal ternyata mampu mewujud, dan berkembang menjadi penyakit pada tubuh manusia.



Mari kita kembali~menyelusuri lorong masa demi masa . Kita meluncur dengan imajinasi kita ke masa-masa para rosul. Ke tahun 0 M, terus ke tahum minus SM, sampai ke masa Adam dan Hawa. Di surga~merunut dan melacak perkembangan dan pergerakan sel-sel nafsu yang terinfeksi Syetan ini.



Inang SYETAN adalah IBLIS

Syetan untuk berkembang biak ternyata membutuhkan inang , media tempat berbiaknya syetan adalah sifat-sifat buruk dan kefasikan. Lihatlah ketika Iblis memiliki sifat ‘sombong’, pada Jiwanya~maka dengan cepat Syetan menyebar dalam tubuh Iblis~sebagaimana halnya Virus berbiak. Perhatikan firman Allah sbb;



Allah berfirman: “Apakah yang menghalangimu untuk bersujud (kepada Adam) di waktu Aku menyuruhmu?” Menjawab iblis: “Saya lebih baik dari-padanya: Engkau ciptakan saya dari api sedang dia (Adam) Engkau ciptakan dari tanah”. (QS. Al-A’raf [7]: 12).



Inilah pelajaran pertama; Syetan berbiak dengan cepat kepada Jiwa yang memiliki sifat ‘sombong’. Iblis merasa lebih baik dari Adam,karena diciptakan dari Api, sedang Adam di ciptakan dari tanah. Sifat sombong ini kemudian digunakan syetan ~menjadi media syetan berbiak pertama~ ~begitu hebatnya syetan menyebar-akhirnya seluruh tubuh Iblis dipenuhi oleh sel-sel syetan~ Selanjutnya Jiwa dan badan Iblis menjadi inang (induk) pertama syetan~dari sinilah perkembang biaknya Syetan keseluruh dunia.



Syetan (virus) menginfiltarsi pada manusia

Virus generasi pertama; Kisah virus generasi pertama ; meng-infeksi sel nafsu purba dimulai dari keinginan Hawa akan buah Kuldi.



"Dan Kami berfirman: "Hai Adam, diamilah oleh kamu dan isterimu surga ini, dan makanlah makanan-makanannya yang banyak lagi baik dimana saja yang kamu sukai, dan janganlah kamu dekati pohon ini, yang menyebabkan kamu termasuk orang-orang yang zalim." (Al Baqarah 35).



Allah hanya memberikan batasan kepada Adam dan Hawa , untuk membatasi nafsu makan mereka terhadap buah Kuldi. Benih purba~ sel nafsu tertua~ternyata muncul dari hasrat manusia akan MAKAN. Boleh saya katakan, syetan memperdaya manusia melalui NAFSU MAKAN MEREKA. Mengapa nafsu ini yang bertama ber-biak?. Bisa dimaklumi sebab di surga Adam hanya hidup berdua, nafsu syahwat hanya kepada Hawa, sebab tidak ada mahluk lain, dan juga nafsu lainnya sangat minimal, karena tidak ada persaingan dari manusia lain. Nafsu inipun berbiak dari masa ke masa, menciptakan stain-strain baru. Mengikuti perkembangan Jiwa mansuia di setiap jamannya.



Jiwa yang labil, kecenderungan mereka akan makan telah diinfeksi oleh virus bernama Syetan. Dari sel nafsu makan inilah awal-nya , sel-sel nafsu purba kemudian ber-evolusi. Menjadi sel-sel nafsu abnormal. Inilah peringatan Tingkat I, bagi manusia.

Nabi Adam memohon ampunan selama beribu-ribu tahun, betapa nafsu makan telah menjatuihkan dirinya kepada kesesatan.

Virus generasi kedua , berbiak saat Kabil tertarik melihat pasangan habil, maka dengan nafsunya dia membunuh Habil. Syetan telah menginfeksi sel-sel NAFSU SYAHWAT manusia. Inilah cikal bakal sel nafsu syahwat purba yang abnormal terinfeksi. Nafsu inipun berbiak dari masa ke masa, menciptakan stain-strain baru. Mengikuti perkembangan Jiwa manusia di setiap jamannya.

Kembali Allah memperingatkan bahaya sel-sel nafsu ini dengan mengutus nabinya.
NABI IDRIS diutus oleh Allah Swt. untuk mengingatkan umat keturunan Kabil yang telah bersikap durhaka. Idris merupakan keturunan keenam Nabi Adam. Di kalangan bangsa Ibrani, ia dikenal dengan nama Khunuh. Namanya diabadikan dalam
surah al-Anbiya' ayat 85-86.

Virus ini generasi ketiga, ini adalah cikal bakal virus tertua yang telah menginfeksi Iblis. Menginfeksi sel nafsu KESOMBONGAN. Luar biasa sekali strain ini, sehingga manusia menciptakan Tuhan-tuhan baru, bahkan banyak manusia yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan. Sel-sel virus ini , merupakan sel-sel yang sangat ganas, dengan cepat menyebar, keseluruh umat manusia. Kita kenal Raja Namrud, Raja Fir’aun, dan lain-lain.

Maka mulai diutuslah para nabi dan rosul untuk memerangi ini, mulai Nabi Nuh….hingga Muhammad SAW.

Demikianlah Syetan juga terus berkembang, beradaptasi, menduplikasi diri, dan lain-lainnya. Bahkan setan tidak saja meng-infeksi manusia saja namun juga para JIN.

Bahkan jika sel-sel ini sudah sedemikian hebatnya meng-infeksi tubuh manusia atau Jin maka, manusia itu sendirilah wujud dari syetan (surah annas), karena sudah terlalampau banyaknya sel yang abnormal. Sebagaimana terjadi pada Iblis.

Kefasikan bagaimana hasil kerja syetan

Menjadi pertanyaan serius ; sesungguhnya kefasikan yang kita lakukan adalah potensi Jiwa ataukah hasil kerja syetan.

Didalam tubuh manusia ada dua potensi kefasikan yang dapat dimasuki oleh Syetan;

Pertama kefasikan yang berasal dari potensi JIWA. Kefasikan ini bermuara dari sifat SOMBONG sebagaimana Iblis dahulu; sifat ini kemudian berbiak menjadi sifat-sifat; merasa lebih pintar, lebih baik, lebih kuat, lebih cantik, dan sebagainya. Sifat ini mengalami evolusi; manusia menjadi gila kekuasaan (agar lebih hebat), gila harta , gila hormat, dan sebagainya. Dari sifat inilah manusia juga dapat merasa sebagai TUHAN. Tidak mengakui adanya Tuhan. Membuat Tuhan-tuhan baru, dan sebagainya. Seluruh rosul diturunkan untuk memerangi sifat ini, dan membersihkan Jiwa manusia dari sifat ini.

Kedua kefasikan yang berasal dari ptensi RAGA sendiri; nafsu makan, dan nafsu syahwat. Karena kedua sifat ini manusia menjadi serakah, tamak, mengumbar nafsu, dan lain-lain.

Surat Asy Syams 7-10 , mengisyaratkan bahwa Allah sendirilah yang meng-ilhamkan kefasikan dan ketakwaan kepada Jiwa, namun di kalimat selanjutnya…Sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan Jiwa itu,…..

Disini ada dua hal yang harus diperhatikan; pertama informasi bahwa Allah yang meletakkan bukan orang lain, dengan sengaja di ilhamkan, kedua ; selanjutnya adalah peran aktif Jiwa untuk menentukan sikapnya~apakah akan mensucikannya agar beruntung, atau malah mengotorinya sehingga merugilah dia.

Inilah pilihan Jiwa manusia. Mau menempuh jalan mana..?.Dalam menentukan kedua jalan tersebut manusia diberikan Akalnya. Kemudian pada diri manusia juga ada bashiroh yang tahu..

"akan tetapi di dalam diri manusia ada bashirah (yang tahu)"(QS 75:14).

Bagaimana manusia bisa tahu mana potensi fasik dan takwa ?. Bashiroh ini akan memberitahu kepada manusia mana potensi fasik dan takwa. Tanpa kita sadari~ , sebelum kita melakukan kefasikan ada pertentangan dahulu pada Jiwa, rasa bersalah, rasa takut, dan sebagainya. Dan kalau akhirnya dilakukan akan ada rasa sesal. Sebaliknya, kalau yang dilaksanakan adalah ketakwaan; maka Jiwa menjadi tenang, ada rasa puas, dan lain sebagainya.

Manusia harus mampu mengelola akal pikirannya, kemudian mendengarkan ‘sang Bashiroh’ ini~mendengarkan dan merasakan hati, mengamati~oh…ternyata kalau mengikuti kefasikan rasa seperti ini, kalau mengikuti ketakwaan rasa seperti itu. Semakin sering dilatih maka akan semakin tajam insting manusia ini.

Syetan akan berusaha mengambil posisi~memblokir ‘bashiroh’ ini.

Pertama ; Syetan akan menutupi akses kepada ‘rasa’ ketakwaan, sehingga tertutup, jalur on line kepada Allah. Begitu jalur tertutup maka manusia tidak akan ingat Allah.

Syaitan telah menguasai mereka lalu menjadikan mereka lupa mengingat Allah;

mereka itulah golongan syaitan. Ketahuilah, bahwa golongan syetan

itulah golongan yang merugi( QS 58:19).

Kedua : Bila ketakwaan sudah dipilih Jiwa~Syetan akan melakukan tipu daya.

melalui hasut, menipu, dan lain sebagainya.~ Jiwa yang memiliki sifat meluas, hanya melihat jalan kefasikan yang kelihatan lebih baik.~ Sehingga manusia memandang baik perbuatan yang buruk.

Ketiga : Setelah berhasil~maka syetan akan masuk ke dalam sel-sel nafsu manusia dan menduplikasi diri ~sebagaimana ilustrasi diatas~sebagaimana kanker. Jika sel-sel syetan ini menghebat maka akan memenuhi seluruh tubuh manusia dan atau tubuh jin yang di infiltrasi syetan. Maka sifat syetan sudah menjadi sifat manusia itu sendiri~hilang sudah kesadarannya. Dimonopoli oleh sifat syetan.

Maka manusia berdoa~senantiasa kita memohonkan perlindungan dari was-was syetan golongn jin dan manusia.

Katakanlah: “Aku berlindung kepada Tuhan (yang memelihara dan menguasai) manusia. Raja manusia.Sembahan manusia. Dari kejahatan (bisikan)

syaitan yang biasa bersembunyi,. yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia,. dari (golongan) jin dan manusia. (QS; An nas 1-6)

Hikmah 2; Allah sendiri yang meletakkan potensi kefasikan ke dalam jiwa, potensi ini ada kecenderungan akan diikuti ~karena wujud jiwa sendiri senantiasa meluas. Namun, Allah juga meletakkan ‘bashiroh’ yang selalu tahu pergerakan jiwa ini~ yang mengingatkan dan menjadi fungsi kontrol dan dengan dibantu oleh akal diharapkan jiwa mampu menjaga diri~agar senantiasa membersihkan diri sendiri. Masih belum cukup sebab~JIwa senantiasa ‘bimbang’ dan ‘labil’ untuk menentukan sikapnya. Maka kemudian Allah menurunkan petunjuknya, (al qur’an) sebagai petunjuk manual menentukan posisi jiwa, sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Namun sejatinya manusia dalam kepayahan, kecuali orang yang senantiasa ingat ~ senantiasa ‘on line’ dengan-NYA (silatun)~rasa sambung~berdzikir~mohon petunjuk-NYA. Keseluruhan mekanisme ini yangdapat menghantarkan Jiwa kembali kepada Tuhan-NYA. Inalilahi wa ina ilaihi rojiun..

Hikmah 3; Syetan menggangu mekanisme pada hikmah 2, dengan segala macam cara agar manusia mengikuti langkah-langkah mereka. Agar manusia tidak dapat menggunakan potensi mereka, untuk kembali kepada Allah.

Jika kita pelajari mekanisme tersebut, sesungguhannya tanpa adanya syetan-pun manusia sudah ditakdirkan dalam keadan payah, apalagi di tambah dengan godaan syetan. Berkali-kali lipatlah kesulitannya. Jika tidak karunia Tuhanmu maka seluruh manusia pasti masuk neraka dan juga jikalau tidak karena rahmat Tuhanmu, tidak akan ada manusia masuk surga.


Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda, “Tidak seorang pun dimasukkan surga karena amalannya..” Maka Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam ditanya, “Tidak pula engkau, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab, “Dan saya pun tidak termasuk, kecuali Rabbku melimpahkan rahmat-Nya kepada-Ku.” (HR.. Muslim).

Maha besar Allah, sesungguhnya manusia dalam keadaan kepayahan. Dalam kepayahan ini, manusia senantiasa memberikan salam, mengkhabarkan apa yang diketahui. Kesalahan tentunya ada pada kami. Maha benar Allah dan Rosul-NYA. Walohu’alam.



Wasalam,

KUSAMBUT TAKDIRKU

.

Melanjutkan kembali tulisan saya terdahulu ~Merekontruksi Konstelasi Pemahaman Takdir~. Bagaimana model ini kemudian dapat diaplikasikan dan menjelaskan fenomena yang terjadi di dunia ini, menjadi hal yang menarik~sebagai wacana baru dalam memahami takdir dan menerima sebagaimana adanya.

Kita sering banyak menemukan ~tampaknya seperti sebuah kontradiksi pada beberapa ayat yang dijadikan rujukan dalam memahami takdir.. Namun dengan menggunakan model ini~ nanti dapat kita lihat bahwa sesungguhnya beberapa ayat tersebut justru malah saling melengkapi dan mengkuatkan. Sebagian telah saya ulas, namun akan kita pertajam lagi dalam kajian saya kali ini. (diturunkan dalam beberapa tulisan-insyaallah)).
Ada beberapa pemahaman penting yang ingin saya ingatkan kembali disamping juga untuk memberi pijakan bagi pembaca yang mungkin belum sempat membaca bagian awal dari tulisan ini.

Pemahaman pertama:
Ada dua entitas yang berada dalam tubuh manusia yaitu entitas materi dan anti materi. Entitas materi~ saya menggunkan istilah RAGA; entitas inilah yang bersifat pasrah (Fatalis), kepada aturan Tuhannya (sunatulloh). Didalam raga inilah telah disisipkan rencana-rencana Tuhan~saya analogikan bahwa Raga sendiri adalah hanya sebuah ROBOT Tuhan, yang akan digunakan Tuhan untuk melaksanakan renacana-renacananya yang bersifat fisik di muka bumi ini. Sementara JIWA bersifat bebas, sekehendak dirinya sendiri. Atau..

Saya meng-analogikan sebagaimana halnya seorang Pilot yang berada di dalam Pesawat Tempur super canggih. Layaknya pesawat super canggih, RAGA sudah dilengkapi dengan misi, program-program, rute, pilot otomatis, senjata,; rudal, pemindai, GPS, radar, alat komunikasi dan lain-lain. Sang pilot bebas sekehendak hatinya di dalam kokpit~mau apa saja. Mau hanya sekedar ~journey~ di dalam pesawat, atau mau mempelajari instrument pesawat, mau on line dengan menara pengawas, mau menggunakan fasilitas pilot otomatis~sementara dia tidur. Mau menggunakan senjata untuk bertempur, mau terbang setinggi langit, mau manuver, mau terbang secepat kilat, dan lain sebagainya.. Sang Pilot boleh menginginkan apa saja, namun perlu diingat bahwa Pilot harus tunduk kepada sang perancang pesawat tempur yang sudah mendesign sedemikian rupa. Ingat bahwa sang perancang sudah memasukan program yang hanya tunduk kepada sang perancang. Sang pilot dapat menggunakan fasilitas yang berada di dalam pesawat~jika dan hanya jika memang sudah diprogram terlebih dahulu oleh perancang untuk digunakan pilot, selebihnya, semua instrument tunduk kepada program-program sang perancang.


STOP.!...sebentar~ kemudian imajinasikan dahulu bahwa wujud Pilot adalah seperti ETER, mudah meluas, labil, sangat sensitive, sering terbolak-balik. Memiliki kecenderungan-kecenderungan meluas sesuai dengan ruang yang ditemuinya. Sebagaimana halnya eter, ~seharusnya pilot mampu untuk masuk keseluruh bagian mesin dan instrument pesawat. Banyak perbedaan, saat pilot hanya ada di dalam salah satu ruang saja, dibandingkan bila berada diseluruh ruangan pesawat. Mungkin dari keseimbangan mesin, dan lain sebagainya.

Pemahaman Kedua :
Dalam membahas dan membicarakan Takdir ini, saya menganjurkan agar kita sudah mampu meng-imajinasikan yang mana JIWA dan yang mana RAGA. Amati dengan kejernihan pikiran~dengan kejernihan hati. Sepertinya terlihat gampang. Namun coba kita praktekan sebentar. Pertama ; Tarik nafas beberapa kali sambil penjamkan mata; cobalah anda untuk merasakan setiap detail tubuh anda mulai dari yang terjauh dahulu, dari jari kelingking kaki, terus naik keatas, tangan amati jari jemarinya~terus naik keatas hingga ke ubun-ubun. Kalau sudah berhasil. Selanjutnya rasakan organ-organ dalam anda. Kalau pun ini sudah berhasil. Lakukan secara serentak, ~keseluruh tubuh anda~seakan-akan diri anda sedang anda meluas diri anda untuk mengisi setiap sel di tubuh anda. Kedua ; Amati adakah gejolak rasa sedih, kemudian amati saat anda marah, saat anda gembira, terus lakukan dalam keseharian. Maka anda akan mampu mendeteksi mana Jiwa, mana Raga dengan instrumen-instrumennya. Selamat mencoba.

Menyambut kehadiran takdir kita
Kegamangan akan takdirnya ~membesut setiap hati manusia. Kegalauann akan takdirnya membuat hidup mereka menjadi tidak nyaman. Setiap orang menduga-duga akan takdir terbaiknya. Yang miskin berharap takdirnya adalah menjadi orang kaya. Orang yang kaya berharap takdirnya adalah menjadi orang paling berkuasa. Yang berkuasa berharap takdirnya berumur panjang, kalau bisa tidak usah mati, dan seterusnya, dan seterusnya. Hidup yang tidak berkesudahan. Inilah anomaly kehidupan. Realitas yang meski kita sikapi.

Jangan khawatir meskipun Raga sudah diprogram sedemikian rupa~Allah maha adil. Allah maha tahu bahwasannya ~sifat Jiwa senantiasa meluas. Maka program yang dibuat untuk sang Raga-pun amatlah luas. Coba saja, Raga anda ,~ anda gunakan untuk berjalan, berlari, bersalto, menari, dan lain-lain. Kemudian anda coba gunakan untuk belajar; mau belajar apa saja-fisika, matematika, musik, apa saja, dan lain-lain. Semua bisa..!. Kebisaan yang memiliki ~range~sangat lebar.
Namun perlu diingat bahwa Allah telah menetapkan ukuran-ukuran atas Raga sehingga telah sesuai dengan peruntukan dalam rencana Tuhan. Sehingga disini kita akan dapati ada sebagian manusia memiliki kelebihan dibanding satu dan lainnya ; kecerdasannya, talenta, kondisi fisik yang lebih kuat, dan lain sebagainya.

"Dan tidak ada sesuatu pun kecuali pada sisi Kamilah khazanah (sumber)nya; dan Kami tidak menurunkannya kecuali dengan ukuran tertentu" (QS Al-Hijr [15]: 21)”.
Dia (Allah) Yang menciptakan segala sesuatu, lalu Dia menetapkan atasnya qadar (ketetapan) dengan sesempurna-sempurnanya" (QS Al-Furqan [25]: 2).
“Dan sungguh, Kami mengetahui orang yang terdahulu sebelum kamu dan Kami mengetahui pula orang yang kemudian” (QS; Al Hijr : 24).

Kemudian~Di dalam raga ini Allah sudah memprogram kadar rejeki setiap manusia, Berikut dengan iktiar apa saja yang dapat dilakukannya, misalnya jadi guru, pejabat, pengusaha, dan lain sebagainya. ~Dalam kemungkinan-kemungkinan yang hanya diketahui Allah saja. ~Kalau jadi guru rejekinya segini, kalau pengusaha segini. Dan lain sebagainya. Dari rejeki yang paling minimal ~menengah~hingga maksimal. Sementara itu ~Raga juga sudah disipakan meiliki ~Rejeki yang paling minimal~ adalah rejeki yang dijamin Tuhan untuk sang RAGA agar dapat hidup minimal,~ rejeki yang sudah di support oleh system keadilan Tuhan. Maka kita sering melihat ada seseorang nganggur sekian lama masih tetap bisa makan, dan lain sebagainya.
Sementara itu untuk~ Jiwa~ diberikan kebebasan untuk memilih rejekinya~tergantung tingkat kepuasannya~ mau rejeki yang hanya diperuntukan untuk RAGA saja atau rejeki yang lebih luas lagi. Mau sedikit, menengah atau banyak, silahkan pilih. Seberapa besarkah maksimal rejeki manusia atau seberapa kecilkah rejeki minimal setiap manusia..?. Tidak ada satu mahklukpun di muka bumi ini yang diberikan pengetahuan tentang berapa besarnya rejeki maksimal dari setiap manusia atau berapa kecilnya rejeki minimal. ~Manusia tidak diberi pengetahuan sedikitpun. Manusia dipersilahkan menentukannya sendiri~maka disini JIWA mesti membuat fungsi permintaan tersendiri . ~Fungsi permintaan ini akan mempertemukan titik-titik kemungkinan takdir yang disebarkan Allah di dalam progam RAGA dan/dengan kemungkinan sifat meluasnya Jiwa. Ada sebuat titik pertemuan yang paling optimal~diantara itu.
Keahlian manusia membuat fungsi permintaan inilah yang akan menentukan; apakah manusia itu mampu meraih rejeki maksimalnya. Kesalahan manusia yang terlalu mengikuti ~meluasnya JIWA akan membawa dampak negative yang luar biasa~frustasi bahkan lebih parah dari itu. Demikian juga sebaliknya.

Fungsi permintaan dapat berbeda-beda dari satu orang ke orang lainnya; ada yang merupakan fungsi harta, fungsi jabatan, fungsi ketenaran, yang merupakan fungsi permintaan duniawi atau fungsi ketenangan Jiwa yang merupakan fungsi permintaan akhirat. Atau gabungan dari keduanya.

Nah, saya akan membantu anda untuk menemukan titk temu yang paling optimal agar mendapatkan takdir~rejeki menjadi maksimal; antara JIWA yang kecenderungan meluas seluas luasnya dan RAGA yang pasrah yang sudah ditentukan bagian-bagian rejekinya.

Tahap Pertama ; Pengenalan Ketubuhan
Raga sudah ditentukan telentanya masing-masing, kenalilah raga anda, ~bacalah (amati) perintah-perintah Tuhan yang tersirat maupun tersurat dalam diri anda. Setiap manusia diberikan kelebihannya masing-masing. Bisa saja ~untuk menemukan ini , anda dibantu seorang psikolog dengan melakukan serangkaian test potensi bakat.~ Bisa juga anda amati sendiri~dari pengamatan tersebut kita akan menemukan bakat kita. Kemudian~
Perlahan lakukan latihan seperti uraian dalam pemahaman 2 diatas. Luaskan terus Jiwa anda, isi setiap ruang dalam tubuh anda, hingga ke ujung-ujung saraf yang terjauh sekalipun. Anda akan merasakan badan terasa seperti di pompa perlahan, mengalir ke setiap syaraf~ diatas kulit seperti terasa ada hawa~seperti aliran listrik lembut sekali. Tahan di fase ini, bebarapa saat, ulangi dan ulangi terus.
Fase ini adalah ; pengenalan Jiwa terhadap Raga~sebagaimana ilustrasi saya dengan pesawat diatas. Dalam fase ini anda akan merasa yakin, akan kemampuan anda dibidang apa. Apakah seni, apakah teknik, dan lain sebagainya.

Tahap Kedua : Pengenalan Jiwa
Mengenali kesedihan, kemarahan, dan lain-lain, anda merasakan ada yang mengamati semua itu. Terus lakukan berkali-kali. Kemudian bawa kepada ketubuhan anda, Jiwa memiliki kecenderungan yang meluas~bawalah Jiwa anda pelan~kepada satu-satu bakat-bakat anda yang sudah anda ketemukan tadi. Terus amati~hingga akan muncul sebuah sinergi keyakinan yang sangat luar biasa.
“ Aha…eureka. Aku menemukan siapa diri saya sebenarnya..!. “. Itulah teriakan yang terjadi ketika antara JIWA dan Raga sudah mendapatkan titik temu optimal.

Dengan tahap 1 & 2 ini, kita sedang mencari titik optimal yang mungkin. Dimana Jiwa mampu menemukan titik terjauh dari ‘sukses’ kita yang ditunjukkan/dicirikan oleh adanya talenta yang paling besar yang mungkin dapat diraih sang Raga. Biasanya berkaitan dengan profesi, apakah pengusaha, pejabat, dan lain-lain. Disini kepuasan (keluasan) Jiwa yang mampu diakomodasi oleh Raga. Disini kita sudah menemukan mau jadi apa kita; pengarang, pelukis, penyanyi, pejabat, pengusaha, manager, dan lain-lain sebagainya.

Tahap ketiga ; Pengembalian
Setelah anda menemukan siapa diri anda ~hadapkan semua kepada Allah kembali. Masuki dengan cara yang sama. Tumbuhkan kesadaran bahwa anda adalah sang JIWA yang memiliki kebebasan memilih. Saat ini anda memilih untuk pasrah bersama RAGA. Kuatkan..kesadaran itu..pelan kuatkan lagi…lagi…hingga anda mencapai keheningan. Kemudian ucapkan pengakuan anda itu lirih dalam hati. Dalam keheningan yang dalam..perlahan anda kembalikan posisi RAGA kepada Allah, kembalikan penglihatan, pendengaran, kembalikan pikiran anda kepada Allah. Kuatkan kesadaran bahwa Allah-lah tempat kembalinya semua mahluk, tempat semua makhluk bergantung. Sebagaimana atom-ataom tubuh anda kembali kepada alam nantinya. ~Kemudian, Sampaikan pilihan yang sudah kita yakini tersebut. Dan mohon ridho-NYA. Terus lakukan berkali-kali, sehingga anda dapat melakukan dengan rileks dan dalam situasi apapun. Ini akan melahirkan ketenangan, keyakinan terhadap apa yang sedang kita kerjakan. Insyaallah.

Ketika kita sudah menyatukan proses tersebut, hasilnya adalah energi dan sinergi luar biasa yang tidak ada habisnya~sehingga pada saat kita menjalankan satu-per satu iktiar kita, kita sudah mendapatkan satu keyakinan bahwa hasil sudah ditangan kita saat ini, yang kita jalani hanyalah sebuah ketentuan proses sunatulloh saja. Kita sudah yakin dengan takdir kita. Hakekatnya sudah terjadi apa yang kita inginkan tersebut. Keyakinan inilah ~ hakekatnya yang akan menghantarkan kita kepada kesuksesan yang kita inginkan. Walohu’alam

Dengan demikian. MARILAH KITA SAMBUT TAKDIR KITA DENGAN SUKA CITA.

DIAMBANG MORALITAS ISLAM

Pemberitaan akhir-akhir ini tentang para Hakim yang pergi Umroh dengan difasilitasi dana dari Gayus Tambunan, tak pelak meninbulkan pro kontra. Baik media cetak, elektronik maupun millis, mencoba mengulas dari pelbagai sudut pandang. Hingga memasuki wilayah teologi Islam. Banyak sekali yang menyudutkan Islam. Tak pelak lagi Islam sebagai ‘Teologi’ tertohok oleh ulah para pemeluknya sendiri. Bahkan yang lebih memiriskan lagi, masalah ini dibawa-bawa sampai kepada sang pembawa risalah sendiri. Muhammad SAW. Tentunya dari sudut pandang yang jelas-jelas merugikan Islam.

Menyikapi fenomena ini saya jadi terusik~dalam keprihatinan saya, saya mencoba ber-kontemplasi kepada diri saya sendiri “SUDAH BERAGAMAKAH SAYA…?”. Apakah bila saya berada dalam posisi hakim tersebut, saya tidak melakukan itu ?. Apakah saya termasuk ke dalam salah satu orang yang berteriak lantang, dikarenakan tidak mendapat posisi ?. Sungguh tantangan yang sangat sulit..?. Karena saya tidak di posisi itu. Mestikah ke-imanan harus diuji..?.



Ini salah siapa ? Ini dosa Siapa ?



Perlahan lagu Ebiet mengantarkan saya ber-kontemplasi ~dari dua buah speker kecil di samping kanan kiri monitor. Sebuah lagu lama, yang syarat dengan pesan-pesan moral. Pandangan sepertinya nanar~tertarik, berpendar , ke lorong-lorong masa lalu, kembali ke masa kini, menyeruak ,menyusuri sel neuron dalam otak saya mencari detail-detail yang dapat saya tuliskan untuk mengawali kajian ini.

Hingga sampai saat. “salah siapa…ini salah siapa, dosa siapa ini dosa siapa..mestikah aku bertanya lagi..?”. Seiring lagu berakhir, pertanyaan itu juga menghentak saya. “Mestikah saya bertanya lagi..?. Kepada siapa..?. Jikalau kenyataannya di Indonesia ~umat muslim terbesar diseluruh dunia ini, secara ber-jamaah telah melakukan korupsi ?. Dengan rasa bangga diri, barangkali ?.”.

Kebenaran menjadi sebuah kesadaran yang nisbi. Sebagaimana kisah 1 orang yang tidak dihipnotis melawan 99 orang yang terhipnotis. Jelas kebenaran semu akan berpihak kepada kolektif. Dan menganggap yang 1 orang tersebut salah. Padahal kenyataannya 99 orang tersebut sedang terhipnotis alias terhijab alias ter-cover alias ter-kafir. Nah, kalau begini bagaimana Negara ini, jikalau sebagaian besar kena hipnotis semua, sehingga mereka memandang baik perbuatannya yang buruk. Waduh….!.

Pertanyaan meliar…Kalau begitu dimana peran agama dalam mendidik moralitas..?. Lebih membuat kita kecut lagi~ bangsa cina yang tidak beragama justru moralitas dalam hal ini lebih baik?. Beragama dan tidak beragama ternyata sama..!. Ternyata beragama tidak serta merta membuat pemeluknya mampu melepaskan diri dari perbuatan keji dan mungkar !..Apakah benar begitu ?.

Frustasi dan skeptis. Bahkan kemudian muncul radikalisme, masih untung jika hanya memboyong seluruh atribut masa lalu saja , atribut sosial budaya masa lalu, masa rosululloh di bawa ke masa kini. Paling-paling hanya dikira orang ‘aneh saja’.

Lha.. kalau pas yang di contoh yang diboyong hanya penggalan saja, sebagaimana, ‘jihad’ . Jihad saat ini hanya dimaknai ‘BALAS DENDAM’~ Jihad dalam arti yang sempit yaitu “dengan mudahnya ~menyalahkan Negara lain , bangsa lain, golongan lain , atas situasi yang menimpa Islam, kemudian juga memusuhi segama yang tidak mendukung atau sealiran “. Inilah salah satu bentuk frustasi menghadapi pergolakan , dan pergulatan jaman karena ketidak siapan seluruh elemen sumber daya manusia muslim sendiri. Maka pada akhirnya Islam akan menjadi agama ‘menara gading’, akan jauh dari rahmatan lil ‘alamin’. Seperti yang sudah terlihat di depan mata kita, dengan moralitas para hakim. Sosok yang mewikili Tuhan di dunia, yang menentukan bersalah atau tidak, menentukan nasib terpidana. Kalau sosok ini bisa terbeli, hancur sudah bangsa ini. Duh..!.



Moralitas Islam



Bicara mengenai moralitas, adalah berbicara mengenai ; tatanan dalam kemunitas. Bagaimana bersikap terhadap diri dan terhadap orang lain dan juga terhadap kelompok, atau negara. Islam sangat memandang penting hubungan ini. Saking pentingnya Raja Manusia~Tuhan semesta Alam `Allah SWT~ menurunkan langsung hukum-hukumnya. Islam tidak mempercayai manusia dalam menyusun hukum-hukum ini. Karena manusia memiliki kecenderungan terhadap nafsu. Maka pasti manusia tidak akan dapat berlaku adil. Tidak akan mampu berkeadilan yang bersinkronisasi dengan alam semesta sebagai satu kesatuan jagad raya ini. Kita wajib berkeyakinan bahwa hukum ini tidak mungkin salah.

Namun, bagaimana transformasi, alih pengetahuan dari umat yang terdahulu ke umat yang ter kini, menjadi problematika serius bagi umat Islam itu sendiri. Seperti ada ‘missing link’. Sehingga informasi yang sampai menjadi sudah tidak utuh lagi. Pendidikan Islam yang bermula sangat sederhana , menjadi sangat kompleks dan rumit untuk dipahami generasi-generasi berikutnya.



“Kami tidak menurunkan Al-Qur’an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah; melainkan sebagai peringatan bagi orang yang takut (kepada Allah), diturunkan dari (Allah) yang menciptakan bumi dan langit yang tinggi.” [Thaahaa: 2-4)



“Sesungguhnya Allah Swt. tidak mengutusku untuk mempersulit atau memperberat, melainkan sebagai seorang pengajar yang memudahkan.” (HR. Muslim, dari ‘Aisyah ra.)



“...Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu...” [Al-Baqarah: 185]

“...Allah tidak ingin menyulitkan kamu, tetapi Dia hendak membersihkan kamu dan menyempurnakan nikmat-Nya bagimu, agar kamu bersyukur.” [Al-Maa-idah: 6]



Dan masih banyak lagi ayat-ayat yang senada dengan itu.

Begitu kita melirik bangsa ini, saya menciut lagi. Dimana mudahnya ya…?. Orang-orang yang sudah hapal ribuan hadist, sudah katam puluhan kali, begitu ada kesempatan tidak lupa korupsi juga. Hopo tumon..!?!.

Pertanyaan jadi menggelitik saya, apakah karena saking mudahnya Islam, maka manusia mencari sulit-sulitnya.?. Dari asal yang sederhana di bikin kompleks biar kelihatan lebih ‘keren’?.







Belajar Mengajar sebagai dasar logika berpikir



Pemeluk Islam di Indonesia mengalami degradasi moralitas yang cukup serius. Menjadi pertanyaan , apakah metodologi pengajaran dan pendidikan yang disusun tidak efektif ?. Mengapa sholat yang dilakukan 5 kali sehari tidak mampu mencegah perbuatan keji dan mungkar.



Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al-Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S. 29/Al-Ankabuut: 45).



Ayat ini banyak menjadi acuan dalam mereka melaksanakan belajar mengajar. Belajar membaca al qur’an suudah dimulai sejak dini dari mulai TPA, masih ditambah dengan pesantren, dan lain sebagainya. Sholat juga senantiasa diajarkan, tidak cukup dengan ucapan bahkan sering juga disertai ancaman neraka, kepada anak-anak kita. Kemudian adakah yang terlupa..?.



Baiklah untuk memahami jalan pemikiran saya, saya ajak sedikit bercerita:

Pada era jaman nasakom~era tahun 50 an, saat itu ideology komunis masuk melalui pengajaran di TK-TK. Anak-anak diajak untuk ber-logika melalaui permainan, alat peraga dan lain-lain.

“Anak-anak ayo…mari kita bersama-sama minta uang kepada Tuhan,.. pejamkan mata kalian ibu hitung mundur ya dari 10 sampai 1..mulai 10,9…dst..”. Kata ibu guru dengan renyahnya, sambil suara ditekan. Dengan ketertarikan ala anak-anak, dan berharap-harap cemas anak-anak mengikuti ajakan gurunya, dalam benak mereka Tuhan adalah kaya raya, sehingga pasti akan memberikan uang yang banyak. Itu logisnya. Anak-anakpun memenjamkan mata mereka. Dengan gaya kekanak-kanakan, dikhusuk-kusukan mereka berdoa dalam hatinya masing-masing. Agar diberikan uang sama Tuhan. Begitu selesai hitungan, ibu guru berkata lagi, “Sudah anak-anak... coba buka mata kalian..apakah kalian diberikan uang oleh Tuhan..”. Dengan nada kecewa dan setengah mau menangis, anak-anak menjawab serentak “TIDAK BU GURU…!”.

“Coba sekarang kalian minta sama Ibu saja…ayo mulai seperti tadi lagi..ucapkan dalam hati kalian ya..yang sungguh-sungguh…”. Sekali lagi Ibu Guru mengulang permainannya.

“Baik, sekarang kalian buka mata…”.

Dengan setengah berteriak anak-anak dengan gembira “Terima kasih Ibu Guru…”. Rupanya sambil diam-diam, Ibu Guru membagikan uang kepada tangan-tangan mungil itu.

“Nah, kalau kalian minta uang sama Ibu dikasih nggak..”. Tanya bu guru

“Di kasih bu..”. Jawab mereka serentak.

“Nah, jadi ibu guru jelas adanya karena dapat memberikan kalian uang, betulkan..?. Kemudian Saat kalian tadi minta sama Tuhan..Tuhan kasih nggak..”.

“Tidak bu..”. Jawab mereka, mengerti.

“kalau begitu, Tidak jelas adanya, mungkin juga tidak ada…karena Tuhan yang katanya kaya, Tidak dapat memberikan kalian uang…betulkan..?.

Bocah-bocah kecil serentak mengangguk-angguk, tanda mengerti.



Inilah sekelumit, bgaiman cara memberikan pemahaman sesuatu wujud abstrak dengan cara-cara logika berfikir, secara dini. Dan terbukti paham komunis meluas dengan hebatnya. Hingga berakhir ketika terjadi pemberontakan komunis.



Kalau kita melihat saat sekarang , metodologi pengajaran yang dilakukan di tingkat dini. Banyak kita temui bahwa dalam melakukan pengajaran moralitas Islam, teologi Islam. Mereka mengajarkan sebagaimana mereka mengajarkan pelajaran lainnya; matematika, sejarah, fisika, dan lain-lain.



Saya berpikir, seandainya metode tersebut dipergunakan sejak dini untuk memperkenalkan Allah kepada mereka, dengan konsep yang disesuaikan. Misalnya. Dengan pengenalan diri mereka sendiri. Sambil dengan bermain.

“Anak-anak mari kita kenali diri kita sendiri..sudah..ada jantung, paru,..dan sebagainya.. dapat diarasakan bukan.. coba perintahkan kepada paru agar berhenti jangan bernafas lagi…?. Coba suruh mata agar jangan berkedip…dan seterusnya…..”. Latihan-latihan kecil ini akan membawa kepada pemahaman bahwa ada suatu Dzat yang diluar diri mereka yang mengatur tubuh mereka. Kemudian di lanjutkan dengan kreasi logika-logika lainnya. Saya mulai berandai rupanya.



Pernah suatu hari anak saya yang tertua, saat berumur 5 tahun , sedikit berdiskusi dengan saya. Memang saya akui kecerdasannya lumayan, dia sering mewakili sekolah dan kotanya mengikuti olimpiade. Kejadiannya saat malam saya ajak menonton permainan lampu di suatu tempat.

“Yah…senang ya jadi lampu..”. Dia mulai mengajak saya bicara. Saya hanya menyimak saja.

“ Ada yang sorotannya besar sekali sehingga dia bisa menerangi semua jalan, ada yang kecil, ada yang warna-warni..kalau saya jadi lampu saya mau jadi yang besar ah..gagah sekali kelihatannya ..”. saya diamkan saja dia ngomong sendiri. “Tapi…jadi lampu nggak enak…kalau siang dia mati…”. Keliahatan dia merenung. “Kok dia bisa nyala ya Yah..”. Saya tidak menduga dia mengajukan pertanyaan itu. Saya jawab sekenanya “Karena ada PLN..”. “Emang PLN.. mahluk apa ya Yah..kok hebat sekali dapat membuat lampu jadi bersinar..kalau lampu bias ngomong kayak kita, lampu akan berterima kasih nggak Yah..sama PLN..?”. Saya terbelalak mendengar pertanyaan ala kanak-kanak namun sarat filosofi ini. “Ya..ayah nggak tau, mungkin ada yang berterima kasih…mungkin banyak juga yang tidak kan lampu tidak tau kalau dia dialiri listrik oleh PLN, mana dia tahu..”. Jawab saya diplomatis. “Kalau saya yang ngasih tau kepada lampu tentang hal itu, lampu mau percaya nggak ya Yah…?. Saya kan lebih tau dari mereka kalau ada PLN”. Saya terpekur tidak bias menjawab pertanyaan ini. Jangankan lampu manusia saja yang sudah diberitahu akan adanjya Tuhan oleh para Rosul, banyak yang tidak mau tahu. “Heeh…capai deh”. Ujar saya getun. “Kalau lampu dialiri listrik ama PLN terus nyala…kalau manusia dialiri listrik nggak Yah…kok hidup..?”. Saya menjawab singkat sambil menghindar, takut salah. “Kita dialiri hidup sama Allah..”.



Inilah sebuah analogi, ala kanak-kanak, yang jikalau kita mampu memanfaatkan , dengan cara ini kita dapat mengenalkan Tuhan kepada mereka.. Pikir saya bertahun-tahun kemudian.

Islam banyak mengajarkan, menganjurkan, kepada manusia untuk senantiasa menggunakan logika berfikirnya. Sebab di alam raya ini;, pergantian siang dan malam, hujan yang turun, pertemuan laut, dan sebagainya banyak terhampar tanda-tanda kekuasaan Allah. Dengan cara apa mengetahui, jikalau kita tidak menggunakan logika berfikir kita?. Bagaimana kita bisa beriman kepada yang gaib, jikalau kita tidak mampu ‘meyakininya’ dengan pengetahuan.?.



Hikmah 1; Logika berfikir sebagai basis Islam dalam proses belajar-mengajar sesungguhnya tidak boleh ditinggalkan sejak mulai usia dini.Agar mereka mengenali Tuhannya sejak dini. Untuk membangun moralitas Islam saat dewasa nanti.





Sesungguhnya Islam dibangun dari 3 pilar IHSAN, RUKUN IMAN DAN RUKUN ISLAM. Ibaratnya sebuah bangunan, banyak sekali ahli teologi Islam menekankan hanya kepada pelaksanaan Rukun Islam. Karena banyak sekali ayat-ayat yang mengarah kesana. Sentuhan kepada Rukun Iman nyaris terabaikan, bahkan IHSAN sudah dilupakan dari system belajar mengajar, kalau ada hanyalah sedikit. Banyak umat muslim menganggap hal yang mustahil, ‘SEAKAN-AKAN ENGKAU MELIHAT Allah…”. Melihat Allah yang menjadi syarat dalam beribadah apapun, baik sholat, zakat, puasa, bekerja, ber muamalah, berdagang, dan lain-lain, menjadi kegalaun dan kegundahaan umat.

Dari Umar radhiallahuanhu juga dia berkata : Ketika kami duduk-duduk disisi Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam suatu hari tiba-tiba datanglah seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas-bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorangpun diantara kami yang mengenalnya. Hingga kemudian dia duduk dihadapan Nabi lalu menempelkan kedua lututnya kepada kepada lututnya (Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam) seraya berkata: “ Ya Muhammad, beritahukan aku tentang Islam ?”, maka bersabdalah Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam : “ Islam adalah engkau bersaksi bahwa tidak ada Ilah (Tuhan yang disembah) selain Allah, dan bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah, engkau mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika mampu “, kemudian dia berkata: “ anda benar “. Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi: “ Beritahukan aku tentang Iman “. Lalu beliau bersabda: “ Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk “, kemudian dia berkata: “ anda benar“. Kemudian dia berkata lagi: “ Beritahukan aku tentang ihsan “. Lalu beliau bersabda: “ Ihsan adalah engkau beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihatnya, jika engkau tidak melihatnya maka Dia melihat engkau” . Kemudian dia berkata: “ Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan kejadiannya)”. Beliau bersabda: “ Yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya “. Dia berkata: “ Beritahukan aku tentang tanda-tandanya “, beliau bersabda: “ Jika seorang hamba melahirkan tuannya dan jika engkau melihat seorang bertelanjang kaki dan dada, miskin dan penggembala domba, (kemudian) berlomba-lomba meninggikan bangunannya “, kemudian orang itu berlalu dan aku berdiam sebentar. Kemudian beliau (Rasulullah) bertanya: “ Tahukah engkau siapa yang bertanya ?”. aku berkata: “ Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui “. Beliau bersabda: “ Dia adalah Jibril yang datang kepada kalian (bermaksud) mengajarkan agama kalian “.

(Riwayat Muslim)



Hikmah 2; Sistem belajar mengajar Islam dewasa ini seharusnya mampu membawa umat kepada pemahaman IHSAN secara totalitas. Karena Ihsan sesungguhnya menjadi persyaratan mutlak bagi umat Islam dalam keseharainnya, minimal dalam beribadahannya. Umat Islam harus mampu memposisikan dirinya “seakan-akan dia melihat Allah, dan atau seakan-akan Allah melihat dia terus menerus”. Umat Islam harus mampu mengenali Dzat Tuhannya, dimana kepada-NYA dia menghadap.

JIka tidak~kejadiannya seperti sekarang ini, Di negeri ini. Islam hanya sebagai literature~tekstual, yang harus dipelajari sebagaimana mereka mempelajari akunting, matematika, fisika, kimia, biologi, dan lain-lian. Pemberian nilai system ini tidaklah menunjukan moralitas mereka sama dengan nilai yang di dapatnya.

Maka baiknya, segera dibenahi system belajar mengajar Islam, agar nantinya umat tidak menjadi salah urus lagi. Kalau sudah seperti sekarang ini. Baiknya kita tinggal menunggu datangnya keadilan Allah SWT.

"Saat mana keadilan sudah terbeli maka saat keadilan Tuhan menghampiri, sebagaimana sunatulloh dari sejak dahulu hingga nanti."
Marilah kita mulai dengan anak-anak kita saja. Agar nanti saat menjadi hakim, betul betul menjadi hakim atas nama Allah swt. Amin
·

Merekontruksi Pemahaman Takdir 2

Melanjutkan pembahasan skema model takdir~; Sehingga dalam diri manusia terdapat dua entitas yang berbeda yaitu ; entitas yang berasal dari alam anti-materi dan entitas dari alam materi.

JIWA adalah~sesuatu~dzat~dari dimensi anti materi~adalah entitas KESADARAN. Sebagai entitas ‘kesadaran’ maka dzat ini memiliki sifat yang tidak dibatasi ruang dan waktu. Dzat ini dapat berada di masa lalu, berada di masa sekarang, atau di masa akan datang. Dan dzat ini tidak dibatasi ruang yang artinya; dzat ini dapat hanya seluas kotak, seluas bumi, atau seluas alam semesta ini. Disamping itu dzat ini karena tidak dibatasi ruang dapat berada dimana-mana sekehendak dirinya. Karena inilah maka sebagai manusia kadang kita dapat mengembara , berimajinasi dimasa lalu ,di masa akan datang, di belahan bumi manapun dan ataupun di alam semesta ini. Entitas inilah yang BEBAS menentukan dirinya sendiri atau FREE WILL (QODARIYAH).

RAGA adalah~sesuatu etentitas yang sudah di program sedemikian rupa sehingga memiliki sifat-sifat materi. Sebagai materi RAGA memiliki keterbatasan ruang dan waktu. RAGA hanya mampu berada di keadaan saat ini dan JUGA membutuhkan tempat (ruang). RAGA tunduk kepada aturan-aturan program (sunatulloh) yang sudah di buat . Tunduk kepada ‘operating system’ yang dinamakan TAKDIR. Sehingga entitas ini dalam keadaan pasrah menyerah kepada kehendak sang ‘Creator’ atau keadaan ini dinamakan FATALIS (JABARIYAH)

Penyatuan antara JIWA dan RAGA ~ adalah bertemunya kedua sifat anti materi dan materi. Bertemunya dua sifat yang saling berlawan ini dapat meniadakan sifat dari salah satunya, baik untuk sementara waktu atau selamanya. Sehingga JIWA setelah penyatuan ini dalam keadaan ZERO atau FITRAH.

Dalam penyatuan tersebut, JIWA menempati seluruh ruang yang ada dalam raga, namun dibatasi oleh keterbatasan sifat materi raga. Sehingga JIWA hanya dapat berkomunikasi dengan alam sekitarnya dengan menggunakan fasilitas yang ada dalam raga itu sendiri. Inilah kreasi yang maha besar dari sang CREATOR. JIWA. Suatu entitas yang tak terbatas di dalam entitas yang serba terbatas. Dan entitas ini harus mampu berkreasi di dimensi materi yang serba terbatas ini.

JIWA harus mampu mengimbangi sifat alami RAGA, yaitu kebutuhannya akan suplai makanan dan berkembang biak. Sayangnya~penyatauan dua entitas ini menimbulkan ‘resultan’ yang tak berhingga. Keinginan akan makan dan berkembang biak, yang semula hanya sebagai sifat dasar alami untuk kelangsungan hidup RAGA~ketika bertemu~ bertemu entitas tak terbatas ini (JIWA)~Keinginan akan makan dan berkembang biak ~berevolusi~ menjadi keinginan yang tak terbatas pula. Melahirkan sifat serakah, kikir, syahwat, dan lain sebagainya. Sifat-sifat inilah yang harus diminimalisir~ditekan~sehingga hanya sampai ttingkat paling dasar kebutuhan manusia (RAGA) itu sendiri.

Saat penyatuan~JIWA nyaris ZERO~Dari waktu ke waktu~peradaban terus bergulir~dari paling sederhana hingga modern saat ini. Dalam kurun waktu itulah~JIWA mengalami penyempurnaan dan perkembangannya. Sedikit demi sedikit, dengan menggunakan fasilitas RAGA yang dimiliki~JIWA mulai mengenali dirinya.


Demi Jiwa ,serta penyempurnaanya.maka Allah mengilhamkan kepada Jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan (QS. As Syams:7-8).


Namun seiring dengan berjalannya waktu~kompleksitas jaman ~JIWA mengalami kesulitan mengkondisikan dirinya dengan RAGA~pengkondisian ini penting; sebab akan berpengaruh kepada wilayah kesadaran bagi JIWA~kesadaran yang dituntun (bagi JIWA) untuk dapat kembali kepada dimensinya~jika tidak JIWA akan sering kehilangan arah. Oleh karena itu sang CREATOR memberikan panduan baik langsung (Musa) maupun tidak dengan melalui utusan-utusannya. Kemudian pada saatnya~Sang ‘CREATOR memberikan BUKU MANUAL (AL QUR”AN) untuk dijadikan pedoman melalui utusan yang dicintainya MUHAMMAD.


Implementasi Model terhadap Re-konstruksi Takdir

Dari ulasan tersebut diatas dapat ditarik model~RAGA adalah entitas FATALIS sedangkan JIWA adalah entitas FREE WILL.

Dengan model ini maka dapat dijelaskan methodology al qur’an dalam penyampaian petunjuknya.:


Kepada JIWA yang FREE WILL Al qur’an berkata :

Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu, barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”. (QS. Al-Kahfi : 29).

“Kerjakanlah apa yang kamu kehendaki sesungguhnya Ia melihat apa yang kamu perbuat”. (QS. As-Sajdah : 40).

"Sesungganya Allah tidak akan mengubah apa yang ada pada suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada dirinya" [QS Ar Ra’d (13):11].

Kepada RAGA yang FATALIS Al qur’an berkata:

“Dan Allohlah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat”. (QS. As-Shaffat : 96).

Bukanlah kamu yang menghendaki, tetapi Allohlah yang menghendaki”. (QS. Al-Ihsan : 30).

"Tidak ada bencana yang menimpa bumi dan dirimu kecuali telah (ditetapkan) di dalam Kitab sebelum Kami wujudkan" [QS Al Hadiid (57): 22].

"Sesungguhnya bukan kamu yang membunuh mereka tetapi Allah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar (senjata kepada musuh), akan tetapi Allah-lah yang melemparnya’. [QS Al Anfal (8): 17].


Dan masih banyak lagi contoh-contoh ayat yang masing-masing berbicara baik kepada JIWA yang FREE WILL maupun kepada RAGA yang FATALIS.


Inilah model yang ditawarkan dalam memahami TAKDIR~dalam model ini terdapat kebebasan yang seluas-luasnya kepada JIWA untuk melakukan explorasi kepada ciptaan-ciptaan Allah, kebebasan kepada JIWA untuk memilih apakah dia akan mengenal Tuhannya atau dia tidak mau mengenal Tuhannya. Dan Kebebasan kepada JIWA~apakah dia akan berada di masa lalu apakah di masa sekarang. Kebebasan yang benar-benar MUTLAK. Namun, ingat bahwa JIWA ~ harus tetap kembali ke dimensinya. Dimensi di luar ordo dimensi alam semesta ini. ~Dimensi kesadaran diatas kesadaran. Jika JIWA masih dalam wilayah ‘kesadaran materi’ saat ‘game over’. Maka habis sudah waktu dan JIWA tidak akan mampu kembali ke dimensinya lagi. JIWA akan tersiksa, JIWA akan ter hukum, terpanggang. Kasihan. Maka JIWA masuk ke dalam dimensi ‘kesadaran’ yang lebih rendah.~dimensi alam NERAKA.

Lain halnya RAGA~entitas ini praktis bersifat FATALIS~tunduk patuh kepada sunatulloh, hukum-hukum (program) yang dibuat oleh sang ‘Creator’. Posisi JIWA lah yang harus mengikuti keadaan RAGA.

RAGA diciptakan~disesuaikan dengan kebutuhan spesifikasinya~sesuai dengan skenario sang Crator~misal; raga dibuat untuk spesifikasi seorang Raja, maka otaknya, daya tahan tubuhnya, panca inderanya, talenta dibuat dan lain-lain, untuk kebutuhan tersebut, disamping itu juga support system akan menjaga agar RAGA ini tetap untuk peruntukannya. Maka bila JIWA yang berada di dalam RAGA ini, ikut terlena dengan semua fasilitas-kenikmatan raja~Misal FIR’AUN~ dan mengaku-aku bahwa semua itu atas usahanya. Maka celakalah JIWA ini. JIWA akan berada dalam wilayah yang mengantarkan dia ke alam ‘kesadaran rendah’. Dimensi Alam NERAKA.

Karena sesungguhnya JIWA tidak memiliki kuasa apapun atas RAGA dan juga kuasa atas seluruh kondisi yang ada yang memungkinkan dia menjadi RAJA~. JIWA sesungguhnya hanya PENIKMAT saja~. JIWA sesungguhnya hanyalah PENYAKSI saja. Maka jika dia dalam posisi ini mau kafir, ya silahkan kafir saja, tidak akan berpengaruh kepada RAGA yang menjalankan operasi Tuhannya. ~Maka bila dikehendaki sang Creator RAGA akan menjdai RAJA ya tetap akan jadi RAJA.


Sistem Keadilan Tuhan

Jelaslah dalam model tersebut~; faktor yang menyebabkan seluruh rangkaian kejadian di dunia ini telah di setting oleh sang Creator. Raga masing-masing diciptakan berdasarkan spesifikasi dan kebutuhan sesuai scenario sang Creator. Ada yang jadi RAJA, pembatu, majikan, dan lain sebagainya. Mereka ada yang dibuatkan fasilitas, kaya raya, dimudahkan dan sebagainya. Ada juga yang hanya menjadi buruh , mereka miskin fasilitas, dan lain sebagainya.

Kalau begitu dimanakah system keadilan Tuhan..?

Kembali kita telusuri~bahwa sesungguhnya yang berada dalam posisi bebas adalah JIWA~posisi bebas ini tentunya mengandung konsekwensi~unsur REWARD AND PUNISHMENT. Apabila kondisi JIWA mampu berada dalam wilayah kesadaran tertingginya ~sehingga dia mampu kembali ke dimensinya. Maka akan mendapatkan reward yang dijanjikan. Bila tidak diapun akan mendapat punishment~hukuman neraka.

Sehingga dalam KEADILAN TUHAN~tidaklah menjadi masalah apakah JIWA berada di RAGA yang miskin, kaya, raja, petani, atau apapun. Sebab bagi sang Creator yang penting JIWA mampu menyelesaikan misinya agar mampu kembali. Sang Creator hanya menginginkan JIWA menjadi penikmat dan penyaksi yang baik~senantiasa mengagunmi, mengakui kehebatan sang Creator. Karena sesungguhnya sang CREATOR sudah mebuat rangkaian kejadian, sobaan-cvobaan, sedemikian rupa, sangat teliti, proposional sesuai dengan spesifikasi RAGA. Maka JIWA harus percaya ini dan jangan khawatir terhadap keadilan ini.


"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang Yahudi, Shabiin, dan orang-orang Nashara, barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari kemudian dan beramal shaleh, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (QS Al Maidah: 69)


Kemudian bagaimana KEADILAN TUHAN, bagi JIWA yang berada dalam pemahaman teologi ?. (Islam, Kristen, Yahudi, dll).?.

Dalam konsep ini~Teologi sesungguhnya hanyalah sebuah metodologi bagi JIWA untuk kembali ke dimensi-nya. Bagi KEADILAN TUHAN, yang penting manusia dapat mencapai kesadaran tertingginya dan dapat kembali kepada asalnya~. Bagi Tuhan JIWA adalah hanya sebatas sebagai penyaksi yang mengkahbarkan akan eksistensi Keberadaan-NYA~. Maka petunjuk (Buku Manual) yang diberikanpun telah disesuaikan dengan jamannya. Pada peradaban primitive~, belum ada kompleksitas ~sehingga mudah saja bagi JIWA untuk meng-kondisikan dirinya. Maka diberikanlah Buku Panduan yang sederhana. Namun pada jaman peradaban akal dan budi , sungguh kompleksitasnya demikian luar biasa, maka diperlukanlah BUKU PANDUAN yang lebih sesuai dengan jaman itu.


Sungguh Allah telah memberi karunia kepada orang-orang yang beriman ketika Allah mengutus di antara mereka seorang rasul dari golongan mereka sendiri, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat Allah, membersihkan (jiwa) mereka, dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab dan Hikmah. Dan sesungguhnya sebelum (kedatangan Nabi) itu, mereka adalah benar-benar dalam kesesatan yang nyata. (Qs Ali Imrân/3:164)


"Dan kepada apa yang diberikan kepada Musa dan Isa dan apa yang diberikan kepada Nabi­-nabi dari Tuhan mereka; tidaklah Kami membeda-bedakan di antara seorangpun dari mereka, dan kami kepadaNya, semua menyerah diri. " (Al baqoroh 136),


Hakekatnya~sang CREATOR menantang JIWA-JIWA ini untuk mencari metodologinya sendiri-sendiri~mereka ditantang mengunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya~guna menemukan jalan mereka untuk kembali ke dimensi dari mana dia berasal~ untuk keperluan ini sang Creator-pun sudah memberikan Buku Manual-nya.

Batasannya adalah~RAGA telah disetting memiliki batas waktu (game over). Kapan batas waktu yang ditentukan bagi matinya RAGA~ hanya sang CREATOR lah yang tahu. Maka JIWA-JIWA diharapkan berlomba-lomba~dan senantiasa dalam suasana kesedaran yang terus menerus~sehingga pada saat di matikan RAGA~JIWA dalam posisi wilayah kesadaran tertingginya~sehingga dia akan dia dapat kembali dengan mudah.

“Tidaklah seorang anak dilahirkan kecuali dalam keadaan suci (fitrah), maka kedua orang tuanyalah yang menjadikanya yahudi atau nasrani atau Majusi “. (H.R. Muslim).

Sang ‘CREATOR’ , menyerahkan pilihan itu (Agama) ~dan memberikan kebebasan pilihan itu kepada JIWA. Bagi sang CREATOR sama saja, apakah JIWA itu akan di letakkan kedalam RAGA ditengah-tengah~Islam, Kristen, Yahudi, atau KAFIR sekalipun. Semua sama-sama harus mencari metodologi untuk kembali. Semua tergantung dari usaha sang JIWA itu. Tuhan menjaga kesinambungan itu, keseimbangan agar tetap dalam kondisinya~menjaga perbedaan itu,~ agar Jiwa-jiwa dapat berpikir. METODOLOGI MANA YANG DI RIDHOI NYA.



”..... Dan sekiranya Allah tiada menolak sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.” (QS;Al Hajj 40)

==========================

"Dan ada orang-orang yang mendirikan masjid untuk menimbulkan kemudharatan, untuk kekafiran dan untuk memecah belah antara orang-orang mu'min serta mnunggu kedatangan orang-orang yang telah memerangi Allah dan Rasul-Nya sejak dahulu. Mereka sesungguhnya bersumpah: "Kami tidak menghendaki selain kebaikan."
Dan Allah menjadi saksi bahwa sesungguhnya mereka itu adalah pendusta." (At Taubah - ayat 107).


Maha besar Allah, sang CREATOR alam semesta. Amin



Wallohu’alam bisawab

Arif Budi Utomo
·