Berjalan di hutan cemara
Langkahku terasa kecil dan lemah
Makin dalam lagi mataku ditelan fatamorgana
…
Aku kan bertanya siapa diriku
Aku kan bertanya siapakah kamu
Aku kan bertanya siapakah mereka
Aku kan bertanya siapakah kita
…
Makin dalam lagi ku dicekam kerinduan
..
Ada seberkah cahaya menembus dedaunan
Sanggupkah menerangi jalanku
Dan aku berharap kapankah kiranya sampai di puncak sana
(by Ebiet G Ade)
Masih lekat dalam ingatannya, saat mana dirinya dibesarkan oleh Sang Sabdo Palon dalam kisah Raden Panji, dimana teman-temannya hanyalah para makhluk jejadian. Separuh manusia separuh binatang, nyaris seperti zombie keadaan mereka. Banyak diantara mereka sudah tidak berbalut daging lagi, hanya otot-otot rangka saja yang menyokongnya. Dan hanya mereka itulah teman-temannya, ditengah hutan yang wingit. Sampai saat sekarang ini, mereka masih saja setia menemani di peradaban terkini. Mengapakah di peradaban sekarang ini terbalik keadaannya, yang wujud manusia berahlak zombie, sementara yang ber wujud zombie seperti rekan-rekannya itu malahan ber akhlak manusia. Apakah keadaan jiwa manusia sekarang bertukar badan wadaknya ?. Ugh.. Masih saja belum selesaikah. ?.Apakah ini hanya ilusi, terserahlah sebab Mas Thole hanya mengkisahkan saja. Sebagai ‘share’ adanya, sebab diluar sana banyak Mas Thole-Mas Thole lainnya yang mengalami nasib serupa. Sehingga orang-orang menyebutnya ‘gila’. Teringat, hanya ayah angkatnya Sang Sabdo Palon saja yang terus mendampingi, seperti saat mana dirinya mengambil peran dalam kisah Banyak Wide, ayah angkatnya itu yang banyak membantunya. Entah mengapa, kesadarannya semakin menjauh dari kerajaan Ratu Pantai selatan, dia sepertinya dirinya tak peduli itu. Keadaan hatinya telah kering, dan mati, terkubur diantara bongkhan batu dan pedang, jauh dari kasih sayang. Kekeringan hatinya ini terus mengejar disemua peradaban yang dilalui hingga masuk ke jaman ini, terjebak di raga Mas Thole. Maka dapat dibayangkan bagaimanakah rasanya. “Ibu menangislah demi anakmu ini..!.” Perih, ringkih membesut tulang. “Aku ini binatang jalang dari kumpulan orang-orang terbuang..!.” Begitu selalu katanya, mencoba menyitir ungkapan Charil Anwar. Karenanya dia sering bertanya kepada pohon-pohon cemara yang sudah ratusan tahun usianya, “Siapakah dirinya, siapakah mereka, dan siapakah kita “.
Ingatan Mas Thole entah mengapa tak mampu dibendungnya, terus saja meleset berpilin seperti akar yang bergerak menuju ujung cahaya, mengejar masa lalu, menjelajah masa kecilnya dahulu. Manakala dimasa lalu semasa hidup sebagai Raden Panji, dia dibesarkan oleh Ibundanya Ratu Kidul, dirinya bermain dan bersuka dalam gulungan ombak laut selatan. He eh, apa yang terjadi ?, belum mampu dia mengucap nama ibunya dari mulut kecilnya itu, ibundanya sudah meninggalkannya begitu saja. Tanpa khabar dan berita, ditengah hutan belantara yang penuh dengan jin dan siluman. Bayangkan anak sekecil itu bermain dengan kegelapan malam, seperti apakah ketakutan yang dialaminya. Keadaan yang serupa, sebagaimana yang dialami Mas Thole dalam kehidupan terkininya, entah mengapakah dia juga dibuang oleh ibu kandungnya sendiri. Padahal umurnya belum genap 1 tahun. Dia diberikan kepada saudara ibunya. Dan ketika menginjak usia masuk sekolah, dia dikembalikan kepada ibu kandungnya, namun itupun tak lama, hanya dalam hitungan bulan mungkin satu atau dua tahun, selanjutnya dia di buang lagi dan diberikan kepada neneknya. Disanalah dia dibesarkan neneknya di sebuah desa yang berjarak tidak sampai 200 meter dari laut pantai selatan.
Mas Thole menghela nafas sekali lagi, mencoba mencari pijakan disana. Mengkisahkan ini sama saja tengah menguliti kepedihannya. Neneknya bukanlah sebagaimana yang dibayangkan, bukanlah seorang nenek yang kan penuh kasih. Kekejamannya kepada seorang anak kecil, sulit diungkapkan disini, biarlah itu menjadi kenangan Mas Thole. Mengapakah semua kejadian yang dialami orang-orang masa lalu nyaris sama saja, hanya berbeda waktu dan peradaban saja, sedangkan jalan ceritanya selalu sama. Pakem ceritanya itu-itu saja, Raden Panji dibuang dikucilkan di buang ke hutan belantara, dia disiksa para siluman dan dedemit jejadian, kemudian dia berusaha untuk kembali ke kerajaannya. Pengalaman itu masih belum sempurna, adalagi kisah cinta, perjalanan kisah cinta mereka, ternyata mengalami tragis yang sama, masih yang itu-itu juga. Nelangsa dan penuh luka. Ada apakah ini ?. Huh..!. Walapun selalu sama saja, namun mengapakah diri tak mengerti-mengerti juga !. Kesal Mas Thole dibuatnya. Pakem kisahnya sudah diulang puluhan kali, tetap saja diri tidak pernah mampu mengambil hikmahnya !. Tuhan..harus bagaimanakah diri ini ?. Ugh…!. Begitu bodohkah dirinya ?.
Ingin rahsanya Mas Thole menerjang kelam, menghancurkan malam, agar rembulan dan matahari bersatu mengasuh jiwanya. Sudah berulang kali Ibunda Ratu Kidul mengirimkan utusannya melalui mimpi-mimpi, mencoba berkomunikasi, maka seringkali Mas Thole mendapati mimpi-mimpinya yang selalu bersambung di masa kecilnya dahulu, bahkan hingga dia beranjak dewasa dan tua. Apakah mungkin karena itu, dirinya kemudian memiliki kemampuan melihat masa depannya sendiri. Apa-apa yang akan terjadi pada dirinya selalu telah diketahuinya melalui mimpinya. Dengan cara itukah Ibundanya Ratu Kidul ingin berkomunikasi, menyatakan bahwa dirinya akan selalu mendampingi ?. Entahlah, Mas Thole tidak pernah peduli itu. Selaput dendamnya sudah menutupi sanubarinya begitu dalam rahsanya. Rahsa kerinduannya, rasa sayangnya kepada ibu-ibunya, baik di atlantis maupun di raga terkininya hanya menjadi fenomena paradoks. Kerinduan yang melahirkan perasaan menyalahkan kepada semua ibu-ibunya. Mengapakah membiarkan membiarkan anak-nya ini, dalam belantara kehidupan yang keras. Mengapakah membiarkan dirinya dalam kuasa kegelapan. Membiarkan dirinya bersama jin, dedemit dan siluman, bekakak, dan para danyang. Hiks.
Mas Thole menyadari ada yang salah dengan semua itu. Syukurlah, sekarang ini, pemahaman spiritualnya telah menghantarkan dirinya kepada pemahaman yang lebih tinggi. Dia mulai mengerti hakekatnya. Dia merasa bersyukur dirinya diperkenalkan dengan Islam, yang telah memberikan pemahaman utuh, seperti apakah skenario Tuhan atas anak manusia. Dia sadari semua itu, sebagai kehendak-Nya. Keadaannya ya.. sesuka-suka Allah saja, jikalau dia akan dihidupkan dan atau dimatikan, dihidupkan lagi dan dimatikan lagi. Semua itu dilakukan-Nya, sampai dirinya mengerti dan dipahamkan, sampai jiwa keadaan jiwanya tenang, puas dan ridho dalam keyakinan kasih sayang-Nya. Islam mengajarakan kasih sayang, Islam mengajarkan bagaimana kita harus memperlakukan seorang ibu. Darisanalah rupanya pemahaman Mas Thole berkembang. Tanpa adanya ibu hancurlah peradaban manusia di muka bumi. Dari tangan para ibulah anak-anak peradaban akan mengenal kasih sayang. Maka sayangilah ibu, sebab para ibu yang paling dekat dalam mengenal jejak kasih sayang Tuhan. Tanpa kita mengenal ibu maka kita tidak akan mampu mengenal kasih sayang Tuhan. Tanpa kita mengenal kasih sayang Tuhan, maka keringlah hati , hidup menjadi tak bermakna dan tak berarti lagi. Begitukah pengajaran yang sesungguhnya ?. Kenapakah pengajaran yang sederhana ini harus berlangsung berbad-abad lamanya ?. Hiks..!.
Maka meskipun tertatih-tatih Mas Thole berusaha menetapi takdirnya sendiri. Meski raganya harus terus porak poranda. Dia ingin terus berjalan, menyelesaikan misinya, membangun nusatara baru, meski lewat caranya sendiri. Melalui alam-alam kesadaran, dia akan mebangun nusantara baru, sebagaimana bangsa atlantis dahulu membangunnya. Tugasnya dan kawan-kawan adalah membangun nusantara melalui alam kesadaran dimensi ke-4. Jika di analogikan dengan komputer, maka dia harus sudah selesai membuat software nya. Tanpa dibuatnya software mustahil akan ada tampilan nusantara baru di layar monitor. Software tersebut harus diletakan di dimensi ke – 4. Ketika ada manusia yang memanggil software ini, maka seketika terbukalah portal lintas dimensi. Program tersebut akan bekerja mengatur instrumen alam semesta untuk bekerja sebagaimana perintah di program tersebut, maka akan terbentuklah nusantara baru. Karenanya sekarang Mas Thole dkk, harus berhadapan dengan para ‘hacker’ alam ghaib yang akan memainkan peranannya. Mereka akan mengubah alam kesadaran sesuka diri mereka. Mereka yang ingin berkuasa kembali, bukan atas keinginan alam. Mereka akan menjadi tangan-tangan nafsu angkara manusia, dengan karakter itulah kebanyakan leluhur yang akan lahir. Mereka akan lahir dan menjadi budak nafsunya sendiri.
…
Diiringi musik kenangan masa muda dahulu, Mas Thole kembali menghantarkan kisah ini. Suara dentuman perlahan membawanya memasuki kesadarannya. Tembang nostalgia lagu-lagu romansa kesukaannya, mampu mengusik prosesor ingatannya. Kenangan demi kenangan menjadi serangkaian memory yang telah menghantarkan sensasi masa kecil dahulu, manakala dirinya sering bermain dengan ombak laut pantai selatan. Berenang menjauhi daratan, berkali-kali nyaris nyawanya hilang melayang di telan ombak, namun itu tak menakutinya. Serasa ombak hanyalah permainan belaka. Hitam legam kulitnya setelahnya, air garam mengering menguap diterpa panas matahari, memberikan kesan kilap diseputar wajahnya. Begitulah ingatannya masa lalu menerobos memasuki ke masa kini. Bagaimana sulitnya mengkisahkannya lagi, Mas Thole sempat berhenti beberapa jam sebelum melanjutkan tulisannya kali ini.
Benarkah hidup hanya sepenggal permainan belaka ?. Tidakkah memang kita hidup di dunia ini hanya serasa bermain di pagi hari dan pulang di sore harinya ?. Begitulah, benar sekali keadaanya, dia mengalami itu. Rasanya baru saja kemarin terbangun dari tidur. Baru saja didapatinya kenyataan pada memorynya bahwa sesungguhnya dia telah mati. Dan sekarang mimpi itu telah berulang kembali. Mimpi-mimpi yang terus membayanginya, tentang nusantara, tentang cinta, tentang kuasa, dan entah apalagi ?. Apakah ini sebuah mimpi-mimpi lagi ?. Bagaimanakah menyampaikannya kepada sidang pembaca ?. Manakala kisahnya akan selalu terulang, dan berulang lagi, cerita dan tema kisah yang ingin disampaikan akan selalu saja sama, dengan esensi yang kualitasnya sama. Kisah para raja dan pembesar istana, harta dan kuasanya tak mampu mencegah dirinya dari amukan rahsa cinta. Sehingga keberadaannya sama saja dengan kawula lainnya. Apakah ini karma, atau murka alam atas diirnya ?. Penderitaan dan hanya penderitaan hidup yang mendamparnya. Hanya penggalan kisah-kisah yang nyaris serupa dengan ‘lay out’ kehidupan peradaban yang berbeda. Bagaimanakah diri ini tidak terhenyak, medapati kenyataann ini. Maka Mas Thole pun tidak mampu berkata apa-apa. Semakin dikupas kulit bawang hijab kesadaran dirinya, semakin terlihat jelas rangkaian demi rangkaian kejadian penciptaan. Bagaimana begitu dahsyatnya Tuhan mempergilirkan kekuasaan diantara anak manusia. Dahulu dia adalah raja, yang bertahta, penuh kuasa, dalam balutan aroma nusana romansa cinta. Semenatar, sekarang ini di masa kini, dia bukan siapa-siapa, tidak ada yang mengenalnya. Bahkan anjing tetangga sering akan menggigitnya. Tak da cinta, tak ada kuasa, tak dan perlakuan istimewa, bak raja dengan sabdanya. Bukankah itu lebih menyiksa dibandingkan dengan kematian itu sendiri. Argh..!.
Perjuangan hidupnya kali ini adalah menetapi takdirnya sendiri, meski itu berat sekali. Coba bayangkan keadaan kesatria yang dahulunya adalah putra putri raja berkuasa, dan bandingkanlah keadaannya yang sekarang ini. Sekarang ini mereka bukan siapa-siapa, bukan apa-apa bahkan sering dianggap hina, dan juga tidak diterima. Kadang orang malahan menyebut mereka ‘gila’. Apakah mereka akan didengar ?. Meskipun kemampuan mereka luar bisa, diatas kemampuan manusia normal lainnya, apakah ada yang percaya ?. Ugh..!. Jika mereka dahulu adalah aktor utama, pelaku sejarah, sekarang ini mereka hanya diberikan peran sebagai ‘kesatria pingitan’. Mereka harus bersembunyi dalam melakukan aksinya. Tidak boleh sedikitpun riya, mereka harus ‘tapa ing rame’. Diam dalam melakukan aksi-aksi mereka. Sebagai manusia tentu saja nafsu ingin berkuasa tetap ada, nafsu ingin dicinta tetap dipunya, namun mereka bukanlah yang berkuasa menentukan apa-apa peran mereka. Tidak ada posisi tawar mereka diwilayah itu. Mereka harus menyadari itu. Menyadari dengan kesadaran utuh, bukan dirinyaa yang punya kuasa, kemudian meminta, dia hanyalah wayang yang akan dimainkan Tuhannya. Maka tugasnya hanyalah memainkan lakon dengan sebaik-baiknya, semua sudah ada pakemnya. Jika Tuhan berkehendak nusantara harus Berjaya di masa peradaban ini, maka jayalah nusantara. Dia yang punya kuasa untuk itu. Melangut diri menyadari, maka mau tidak mau raganya sekarang ini harus diperjalankan bersama kehendak-Nya saja kesana.
Tanpa sadar tergenang air mata diantara bulu mata Mas Thole, sebentar lagi jaman Kalabendu akan dimulai. Tahun 2014 adalah tahun Goro-goro, sebagaimana ramalan yang tertulis di alam. Jaman ini akan berlangsung selama sepuluh tahun pertama. Siapapun Presiden yang terpilih akan terus digoyang oleh lawan-lawan politiknya. Majunya Jokowisebagai capres akan menimbulkan iri hati sebagian orang berkuasa. Darisinilah kekacauan akan mulai timbul. Rakyat banyak yang menderita, pembunuhan tentara, polisi akan mulai sering terjadi. Para aparat akan saling curiga, mereka berusaha mempertahankan dirinya sendiri, mereka hanya akan melindungi golongannya sendiri-sendiri, dan rakyat akan menjadi korban. Seiring dnegan itu, alam akan mulai murka, sebab pesannya yang berkali-kali sudah disampaikan melalui gempa setiap hari tidak diperdulikan. Ada rangkaian yang bisa terbaca dari gempa-gempa tersebut. Sayang tidak ada satupun manusia akan berfikir kearah sana. Khabar yang memiliki muatan sama juga diterimanya dari Eyang Papak, seorang tokoh spiritual pasundan yang sudah meninggal dan jasadnya moksa. Mas Thole sudah bertemu dengan beliau dalam wujud dan raga yang sama saat semasa dia hidup. "Masih ada dua presiden terpilih lagi sebelum Pajajaran berkuasa dan diberi kesempatan untuk mengawal nusantara baru". Majapahit hanya akan diberikan kesempatan 2 periode lagi, itulah pesan beliau, dalam bahasa sunda kuno. Maka jadikanlah sholat dan sabar sebagai penolong. sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. Bersiaplah kita menjadi saksi perhelatan akbar, kembalinya Sang Prabu Siliwangi, yang bersiap bersama pasukan Pajajaran, dan pasukan-pasukan dari kerajaan-kerajaan liannya diseluruh nusantara ni, untuk mengawal lahirnya nusantara baru. Bagi mereka-mereka yang percaya dan yakin.
Para leluhur yang sudah mulai turun ke anak cucu mereka, banyak yang mementingkan trah-trah mereka. Maka ada atau tidak ada mereka akan sama saja keadaannya. Justru keberadaan mereka akan menambah carut marut suasananya. Alam kesadaran akan terganggu manusia banyak yang akan semakin mudah tersulut emosinya. Hura-hara dan demontrasi akan mualai sering terjadi. Banyak anak-anak yang kemudian akan menjadi gila tanpa sebab yang pasti. Kelahiran para leluhur banyak yang masih membawa energi negatif mereka masing-masing, keinginan berkuasa dan ambisi trah-trah mereka semakin membuat bumi ini bergolak. Mereka sampai tidak sadar, pada raga siapa sekarang ini mereka lahir. Raga mansuia terkini tidaklah didesain untuk menerima kelahiran mereka. Sebagaimana bohlam 5 watt yang harus menerima arus listrik ribuan watt, apakah jadinya ?. Maka tidak akan lama lagi akan banyak sekali anak muda yang menjadi gila, semakin ramailah negri ini. Itulah ulah dari mereka. Begitulah yang disampaikan kepada Mas Thole.
Beberapa hari Mas Thole harus sering memohon ampunan kepada Tuhannya, lintasan yang didapatkannya tidaklah main-main. Benarkah memang sudah saat nya ?. Bagaimanakah jika dirinya salah memaknainya ?. He eh. Namun kembali Mas Thole diingatkan bahwa tidak saja di Indonesia hal itu terjadi, negara-negara yang mayoritas Islam tengah mengalami ujian ini. Sebagaimana siklus alam semesta yang akan dan pasti terjadi. Pergiliran kekuasaaan tengah berlangsung di jagad ini. Lihat dan saksikanlah, kenapakah kita tidak bertasbih kepada-Nya. Jika perhelatan terjadi maka nyawa manusia sudah tidak ada harganya lagi. Maka siapkanlah diri kita hanya dan untuk kembali kepada-Nya. Sebab tidak ada satupun makhluk yang akanmampu melindungi kita dari jaman Goro-goro ini. Tanda-tanda alam sudah terbaca, alam semesta sedang dalam pengembalian energinya. Putaran magnet akan memasuki fase berikutnya. Kekacauan alam pasti akan terjadi. Mas Thole juga diyakinkan bahwa janji Tuhan adalah pasti, maka berpeganganlah kepada janji-janji-Nya. Allah akan memenangkan para kesatria, jika mereka tetap dalam keyakinan dan tauhid yang benar. La ila ha illallah.
Janji Tuhan adalah pasti benar, Allah akan senantiasa mempergilirkan kekuasaan atas manusia. Tidakkah itu khabar gembira, setelah ribuan tahun atlantis tidak berkuasa. Saatnya sekarang ini akan dikembalikan lagi. Begitulah harpan Mas Thole. Keyakinan ini semakin mengkerucut saat mana Mas Thole bertemu dengan Eyang Papak, seorang tokoh spiritual pasundan yang dikhabarkan telah mati dan jasadnya moksa. Kenyataannya Mas Thole masih bisa bertemu. Dia masih hidup diseputar kita, menjaga anak cucunya, masih sama saja keadaannya, dari beliaulah Mas Thole menerima khabar baik itu. Nanti setelah masa dua kali periode presiden, saatnyalah kebangkitan pasundan. Akan datang seorang presiden dari anak Pajajaran, dialah yang terpilih kali pertama, mengawali kejayaan Pajajaran, yang akan menghantarkan bangsa kita, ke pintu gerbang nusantara baru. Dia memang hanya akan mengawal sampai persiapan selesai. Dia kesatria pembuka langkah, ‘cucuk lampah’, bagi kesatria sesungguhnya.
Kesadaran spiritual harus diletakkan diawal, mulai di tahun 2014 ini, sebelum era para kesatria piningit datang. Para kesatria ‘babad alas’ inilah yang lahir sekarang. Mereka memang ditakdirkan untuk berperang dan dimatikan lagi. Mereka kesatria pion-pion di garda depan, begitulah peran mereka. Dengan dipertukarkan peran-peran ini, para kesatria yang dahulunya raja, sekarang dapat belajar, memaknai, betapa tidak enaknya, menjadi manusia biasa, nyawa mereka seperti laron-laron yang berterbangan menuju lampu. Tugas mereka hanya sampai membuka gerbang alam kesadaran, untuk masuknya kesadaran nusantara baru. Yaitu kesadaran dari atlantis, peradaban yang berkali lipat lebih tinggi dari sekarang ini. Kesadaran atlantis akan dilahirkan disini di atas tanah pasundan. Nusantara baru adalah sebuah negara adi kuasa, yang akan berkuasa baik di alam ghaib ataupun di alam nyata. Sebagaimana kekuasaan nabi Sulaiman yang meliputi alam ghaib dan alam nyata. Dengan kemampuan ini, senjata nuklir yang terhebat sekalipun akan mampu dipindahkan oleh para kesatria nantinya, dalam sekejapan mata. Para kesatria nanti akan menjadi saksi bahwa al qur an adalah benar, kisah pindahnya singgasana Ratu Bilkis adalah kisah nyata, dan mereka bisa melakukan hal itu. Mas Thole menarik nafas lega, namun tetap saja tersisa ketakutan dan keraguan. Mampukah dirinya dan rekan-rekannya nanti memasuki dan melewati jaman ‘goro-goro’.
Memasuki jaman 'goro-goro' ini, sudahkah kita siapkan semua, wahai kesatria ?. Para dedemit dan siluman akan menyaru sebagai manusia. Mereka akan berbaur dengan kita. Maka kita umat Islam diwajibkan memohon perlindungan-Nya dari syetan manusia dan syetan jin. Sebab mereka nampaknya sama saja, wujud mereka sama-sama manusia seperti kita. Jika kita tidak menggunakan ‘mata ketiga’ sulit bagi kita mengenali mereka. Mereka bisa dimana saja. Bisa sebagai anggota DPR, sebagai polisi, tentara, pejabat, dan juga kawan kita, atau lain-lainnya. Suasana yang sungguh kacau sekali. Maka tiada kita akan mendapatkan penolong, jika jaman itu sudah dimulai. Tahun depan ini 2014 saatnya. Hanya dengan pertolongan Allah saja, kita akan mampu melalui jaman ‘goro-goro’ ini. Maka perbanyaklah bertasbih, dan mohon ampunan, bangun malam dan sholatlah, mohonlah pertolongan darinya. Semoga kita termasuk orang-orang yang diselamatkan-Nya. “Sudah tidak ada waktu lagi untuk mundur kebelakang. Maju dan hadapilah !”. Mas Thole berbisik kepada dirinya sendiri, meyakinkan sekali lagi. “Hmm..” berdesah lirih, jika dahulu dia pernah mati, maka apalah artinya jika dia harus mati sekali lagi. Semoga dengan ini, Tuhan ridho, dan mengampuni segala dosa-dosanya, serta mengijinkan dirinya untuk kembali ke alam asalnya, yaitu disisi-Nya. Dan betapa damainya jika dia tidak perlu reinkarnasi lagi. Semoga.
berkaca di cakrawala
Angin mati dan laut terdiam
Meski kenangan yang buram
Ingatlah jejak kisah-kisah
Pada malam yang berganti
Pada pagi yang menerangi
Pada jiwa yang mulai sunyi
Pada jiwa yang mulai sunyi
“Kau dengar jeritan kami ?”
Gempitanya telah melahirkan asa
Semua terserah titah-Mu, “Jayalah nusantara..!”
Tegaklah diatas sisa-sisa, jasad kami..!
wolohualam