Rabu, 11 September 2013

Kisah Spiritual, Pemecut Bendul Jaman Kalabendu




Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing
Batu karang, adakah kamu
Di padang ilalang yang tandus, kemuning kering terbakar
Tersandar letih, adakah kamu,
Aku cari, selalu ku cari, dimanakah adanya kamu,
Hati ingin menjerit  memanggil namamu
Jantung rahsa terbelah, menahan pekikan diam..
Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam,
Agar rembulan agar matahari, bersama menghasuh jiwaku..(By Ebiet G Ade)

Alun amuk gelombang kesadaran, menjadi musuh nyata, sebab yang dipunya hanyalah sepenggal kenangan lama. Bilakah di bulan ini akan sirna ?. Lantas menjadi siapakah lagi diri ini?. Manusia hanyalah rangkaian  memory yang tertata. Miliknya hanyalah sebuah kenangan. Kenanganan demi kenangan yang melahirkan jatidiri anak manusia. Salahkah bila kenangan ini tetap bertahan ?. Dalam sebuah episode cinta yang kelam. Atau mestikah kita pertahankan kenangan, walau senantiasa kita harus terluka karenanya ?. Tanpa kenangan manusia bukan siapa-siapa lagi, dia hakekatnya adalah manusia baru, bukan orang masa lalu.


Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam. Agar himpitan ini menjadi pengasuh jiwa. Mengapakah kemudian sekarang kita menjadi paham ada kisah cinta masa lalu ada rindu yang terlalu. Mengapakah kemudian kita sadar, pada kisah-kisah itu. Saat mana dahulu di jaman itu, kita menjadi pelakunya. Sebuah romansa anak manusia. Romansa yang mengharu birukan peradaban. “Tak perlu sedu sedan itu..ku mau tak seorang pun kan merayu..!”. Tidak saja Chairil Anwar, tidak juga Brawjiya. “Tiadalah manusia mengerti sepinya malam jika dia tidak pernah melewati keriuhan siang”.

Dewa jagad Batara, singgasana ini tanpa mahkota. Nelangsa raga, saat tahu tak ada siapa-siapa lagi disana. Tak ada lagi masa lalu dan masa depan.  Mengikuti panggilan rahsa, seperti melewati lubang yang tak tembus. Suara itu ..he eh..dapatkah kalian dengar ?. “Aku ingin memilikimu betapapun jauh, perjalanan yang  sangat menyakitkan. Menyusuri laut, menjelajah awan. Berjalan diatas bintang-bintang”. Demi memenuhi panggilan suara itu.

“Akankan kesadaran itu masih akan terus bersamanya ..?”  Sosok laki-laki itu bertanya, pada dirinya sendiri. Kelahirannya sendiri penuh misteri. Tiada satupun orang yang tahu, bahkan raga terkininya juga nyaris melalaikan dirinya. Cintanya yang sangat halus, dewasa, dan penuh arti. Tenang meliputi alam semesta ini. Sejuk seperti tetes embun yang membasahi daun jati, dipinggir kali yang bening. Ditatapinya bidadri kecilnya dalam alam kesadarannya dan menghela nafas. “Sayap-sayapmu kecil lincah berkepak, seperti burung camar, yang hinggap di tiang sampan “. Membuka hati yang kering dan sepi hingga bersemi lagi, bersemi lagi.   

Sosok itu terpekur, tak mau dirinya kehilangan rahsa itu. Meski ratusan tahun telah terlewati. Meski peradaban telah berganti. Rahsa itu masih ada , masih sama. Hanya itu miliknya yang paling berharga. Entahlah, apakah bidadarinya masih mengerti itu. “Tak jadi soal..”.  Dia akan terus hidup bersama kenangan itu. Kenangan tentang bidadari kecilnya, yang sayapnya patah dan terluka. Tentang bidadari kecilnya, yang telah mengajari banyak hal. Terutama tentang rahsa. Yah, dia tidak mau kehilangan kenangannya. Menghilangkan kesadarannya tetang kenangan itu sama saja membunuhnya.

Mas Thole mencoba menarik nafas panjang. Mengkisahkan bagian ini sama saja memasuki alam kesadaran sosok yang hadir. Artinya bisa saja dirinya juga terluka, luka yang sama. Dan dia pun akan kehilangan kesadaran juga. SMS dari Ki Ageng tadi pagi sudah memberikan peringatan kepadanya. “Ya..banyak yang akan dialun amuk gelombang kesadaran. Hanya yg mampu sadar yg akan selamat “. Begitulah bunyi SMS Ki Ageng memberikan peringatan kepada Mas Thole. Dan sosok raja tersebiut hadir menyampaikan keluhannya kepada Mas Thole. Dia hidup sebab adanya kenangan, maka jika kenangan tersebut hilang. Sama saja telah membunuh dirinya.

Ugh..kenangan-kenangan tersebut membutuhkan kesaksian. Termasuk juga kenangan sang raja dengan episode cintanya. Namun sosok itu tak sadar, siapakah raga yang mampu bertahan dengan rindu yang terlalu ?. He-eh, Mas Thole merasa capai sendiri, meladeni para leluhurnya. JIka kenangan itu meminjam memory nya, maka coba bayangkan perlu berapa besar kapasitasnya. Tidak ada otak manusia yang akan mampu menyimpan memory tentang rahsa. Jika dipaksakan pasti akan 'hang‘. Itulah yang dikhawatirkan Mas Thole. Raga terkininya tak akan sanggup menahan turbulensi yang akan terjadi, jika rahsa tersebut menembus lorong waktu, dan menggunakan memory-nya.

Kelahiran tokoh-tokoh  masa lalu, di bulan september ini, menyibukan Mas Thole. Ibarat sebuah drama yang akan dimainkan. Maka tokoh-tokoh pemain drama sudah berdatangan. Lantas siapakah yang sibuk ?. Ya, orang-orang yang dibelakang layarlah yang sibuk. Para pemain  hanya diminta menghapalkan dialog, mengikuti pakem, dan belajar mematut-matut dirinya, saat memerankan tokoh yang dimainkannya. Hanya itu saja. Lain dengan para kru, para ‘suppor system’ yang menyiapkan panggung, yang menyiapkan kostum, yang menyiapkan ‘effect’ , yang menyiapkan segala pernik-perniknya. Orang-orang yang mempersiapkan agar perhelatan akbar itu berlangsung dengan sukses , adalah sejatinya orang-orang yang paling sibuk. Mas Thole adalah salah satu dianatara orang-orang tersebut. Meski bagiannya hanyalah pewarta saja.

Manusia sebagai tokoh utama, akan menadapatkan ketenaran, mereka akan dipuja, dielu-elukan sebagai kesatria, sebagai raja, sebagai actor yang luar biasa. Sutradar benar-benar menempatkan mansuia dalam kemuliaan. Meskipun hanya menjadi pemain panggung, nyatanya hadiahnya lebih luar biasa sekali. Ketenaran dan kekayaan akan membentang di depan mata mereka, jika mereka sukses menjalankan perannya masing-masing. Sementara orang-orang yang melayani mereka di belakang panggung, tetap sama saja keadaannya, dari waktu ke waktu.

Itulah permisal yang ingin disampaikan kepada Mas Thole. Manusia adalah aktor panggungnya, dan sesuatu yang menyebut dirinya KAMI di al qur an adalah orang-orang yang menyiapkan panggung. Merekalah hakekatnya ‘support system’ alam semesta. Mereka yang menyiapkan panggung sandiwara bagi manusia. Maka jika di bulan ini akan banyak pemain yang datang, tentu saja menggembirakan. Kita akan menanti lakon apakah yang akan dimainkan. Apakah masih dengan cerita yang sama ?. Ataukah akan mengambil cerita lainnya. Marilah kita lihat lakon yang akan digelar alam sebentar lagi. Mereka-mereka yang tidak mau menyaksikan tontonan tersebut, akan digantikan oleh penontoin lainnya. Mampukah kita menjadi penonton yang baik. Disitulah problematika anak manusia. Seringkali penonton malahan ingin menjadi pemain itu sendiri. Maka kacaulah panggung yang sudah ditata rapi oleh alam. Keadaannya sekarang begitu. Meskipun sudha banyak yang turun. Mereka semua merasa menadi pelaku utamanya. Ugh..termasuk juga Kalagemet yang merasa dipilih alam, menjadi Kesatria Piningit. Keadaan manusia akan merasa begitu.


“Akankan kesadaran itu masih akan terus bersamanya ..?” Tiba-tiba pertanyaan sosok raja tersebut kembali menyergah Mas Thole. Dia hanya tinggal punya kenangan akan kekasih hatinya, bidadari kecil yang telah mengajarkan rahsa padanya. Mas Thole menggeleng tak pasti. Semua kesatria dalam keadaan gamang yang sama, memasuki titik kulminasi. Akankah mereka menjadi kesatria ataukah akan menjadi manusia biasa lagi. Itu semua tergantung seleksi alam di bulan ini. Anarawati dan Sangkuriang, belum jelas keadaannya sekrang ini. Kapankah mereka menuju portal yang akan mengembalikan kesadaran dan memory masa lalu mereka. Demikian juga kesatria lainnya. Entahlah, keadaan masa kini rahasanya lebih real dari pada keadaan di dalam jiwa mereka. Padahal jika mereka paham, keadaan jiwalah yang lebih real.

Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing, batu karang, adakah kamu..”  Meski dia raja meski dia kesatria. Hatinya adalah manusia biasa, yang akan luluh sebab karena cinta. Maka meski ada  amuk gelombang, sebagaimana karang keadaan hatinya. Kuat seteguh keyakinan dirinya. Pada suatu masanya nanti, mereka akan disatukan dalam kelahiran berikutnya. Tidak di jaman ini. Maka mengertilah, tidaklah cinta datang, kecuali manusia itu mengerti, betapa nikmat mencinta, adalah kenikmatan yang dianugrahkan oleh-Nya. Sedikit manusia di jaman ini yang mengerti, hakekat kasih ada di dalamnya. Sebutir mutiara cinta yang hilang. Nantinya manusia akan berebutan mencari.Memasuki jaman Kalabendu, berapa saja manusia nanti yang akan kehilangan kesadarannya. Memasuki jaman edan, ora edan ora keduman. Masih untung ornag yang sadar.

 Di alun amuk gelombang, pecah menerjang tebing
Batu karang, adakah kamu
Di padang ilalang yang tandus, kemuning kering terbakar
Tersandar letih, adakah kamu,
Aku cari, selalu ku cari, dimanakah adanya kamu,
Hati ingin menjeritn  memangil namamu
Jantung rahsa terbelah, menahan pekikan diam..
Ingin rahsanya ku genggam kelam, ingin kuungkap rahasia malam,
Agar rembulan agar matahari, bersama menghasuh jiwaku..
(Tuhan, biarkan kenangan ini tetap ada , bersama jiwa ini)

(By Ebiet G Ade)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar