Grojogan Sewu (30/6), tatkala waktu sepenggalah turun. Gelap malam memasuki pukul 19.00 WIB. Debu air berterbangan, tertumpah dari air yang meluncur terjun dengan hebat, menghujam bumi. Butiran air tersebut terbang kemana suka, menempel di dedaunan, membasah disana manakala kemudian dihari esoknya menjadi butiran embun berkiliau bagai permata. Suasana lembab, wingit terasanya.
Sais kuda nampak masih menggigil menahan desakan rahsa takut yang mulai menghinggapi sejak mula prosesi. Di hadapannya 3 sosok manusia, yang dilihatnya, dari kejauhan, sudah berubah wujudnya, menjadi samar keadaan mereka. Nampak tubuh mereka menjadi sosok orang-orang masa lalu dengan pakaian lengkap kerajaan. Tiba-tiba terdengar suara berat, namun sangat kuat menghujam hati, membuat suasana malam semakin wingit saja. Suara yang seperti menjadi nada dan irama bagi kunang-kunang untuk memancarkan cahaya mereka berkedap-kedip.
Sais kuda nampak masih menggigil menahan desakan rahsa takut yang mulai menghinggapi sejak mula prosesi. Di hadapannya 3 sosok manusia, yang dilihatnya, dari kejauhan, sudah berubah wujudnya, menjadi samar keadaan mereka. Nampak tubuh mereka menjadi sosok orang-orang masa lalu dengan pakaian lengkap kerajaan. Tiba-tiba terdengar suara berat, namun sangat kuat menghujam hati, membuat suasana malam semakin wingit saja. Suara yang seperti menjadi nada dan irama bagi kunang-kunang untuk memancarkan cahaya mereka berkedap-kedip.
“Anarawati mengapakah dirimu baru datang sekarang ini…” Suara itu begitu tajam, membuat sosok wanita berwajah cantik dengan mata agak sedikit sipit, kulitnya begitu halus bagai pualam, rambutnya tergerai begitu indahnya, selendang biru yang dikenakan melambai mengikuti irama hempasan air dari air terjun Grojogan Sewu, sedikit agak tergagap. Sosok yang dipanggil Anarawati seperti tersentak dari mimpinya. Ada desakan resah di dada, dirinya merasa bersalah, dan serasa tengah dihakimi keadaan disana. Terdengar suara lirih, nyaris tak terdengar dari bibirnya yang mungil sekali. Nadanya begitu pasrah, sudah ratusan tahun dirinya memendam keadaan ini. Hari ini merupakan puncak pertanggung jawaban yang mesti akan dia lakoni.
“Maafkan bila saya baru sekarang ini kesini..” Belum habis Anarawati menjawabnya, suara yang beraksen kuat, menimpali. “Hmm.. ya, tentunya engkau sendiri sudah tahu mengapakah engkau harus kesini. Janjimu yang engkau buat sendiri, engkau telah memberikan jaminan kepada Prabu Brawijaya V bahwa Islam nantinya akan mampu membuat orang-orang Jawa baik akhlaknya. Namun apa yang terjadi saat sekarang ini. Perhatikanlah..!. Ayah memakan anaknya, ibu membunuh bayi-bayinya, berapa juta di setiap tahunnya, bayi-bayi melayang jiwanya tanpa tahu apa dosanya. Korupsi merajalela. Agama hanya menjadi hiasan bibir semata. Tidakkah kalian perhatikan itu !. Bagaimana pertanggung jawabanmu Anarawati..!”
Nada suara itu terus meninggi, hingga pada akhir kalimat seperti suara geraman, suara penyesalan, suara kesal, suara yang masgul tak terkata. Ingin marah namun tidak tahu harus kepada siapa. Ingin berbuat sesuatu namun tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Anarawati hanya tunduk terpekur, tanpa berani menatapkan pandangan. “Lihatlah Prabu Brawijaya V sekarang ada disamping kananmu, dia berada di depanku sekarang ini. Jelaskanlah agar kami mengerti. Wahai..Anarawati.” Anarawati sersa terpojok, namun perlahan ada hawa dingin di hati Anarawati, yang mendesaknya untuk menjawab pertanyaan itu.
Terlihat Ratu Kidul memperhatikan dengan seksama perubahan sang putri ini. Dia menghela nafas beberepa kali. Keadaannya juga turut nelangsa, melihat peradaban nusantara, sekarang ini yang memang hancur adanya. Alam sekarang sudah begitu murkanya. Alam begitu sedihnya, dan itu semua tertangkap mata batin mereka. Sebagai manusia-manusia yang memiliki kesadaran tinggi yang sudah menempati dimensi parallel bumi, mereka tahu dan sadar sekali keadaan ini.
Terlihat Ratu Kidul memperhatikan dengan seksama perubahan sang putri ini. Dia menghela nafas beberepa kali. Keadaannya juga turut nelangsa, melihat peradaban nusantara, sekarang ini yang memang hancur adanya. Alam sekarang sudah begitu murkanya. Alam begitu sedihnya, dan itu semua tertangkap mata batin mereka. Sebagai manusia-manusia yang memiliki kesadaran tinggi yang sudah menempati dimensi parallel bumi, mereka tahu dan sadar sekali keadaan ini.
“Semua sudah kehendak takdir, semua memang harus terjadi seperti ini..”Anarawati menguatkan dirinya, menghela nafas beberapa kali, menjawab dengan penuh rasa sesal, dia menyadari kebenaran keadaan nusantara sekarang ini. Namun sungguh dia juga tidak menginginkan itu. Bukan itu maksudnya, bukan keadaan sekarang ini yang dia maui. Semua itu terjadi, di luar kuasanya. Apalah yang bisa dilakukannya ?.
Ada sesak menggumpal di dadanya, seperti ingin menangis yang ditahannya. Namun sekali lagi, belum habis Anarawati bicara, sosok tersebut kembali memotong perkataan Anarawati yang belum selesai itu, seakan-akan sosok tersebut memang sudah menyadari keadaan Anarawati dan karenanya dia tidak ingin terlalu menyusahkan diri Anarawati. Pandangannya tajam beralih kepada sosok pengawal yang duduk berhadapan. “Sangkuriang bagaimana penjelasanmu..?!. Engkau yang membuka tanah Pasundan, sekarang begitu anak cucumu berulah di muka bumi ini..heh..!.” Pertanyaan tersebut dilemparkan kepada Sangkuriang, nadanya seperti tengah menguji pemahaman. Jawaban dari Sangkuriang juga terkesan meninggi, seperti tidak mau kalah dan disalahkan atas keadaan yang terjadi di bumi ini.
Ada sesak menggumpal di dadanya, seperti ingin menangis yang ditahannya. Namun sekali lagi, belum habis Anarawati bicara, sosok tersebut kembali memotong perkataan Anarawati yang belum selesai itu, seakan-akan sosok tersebut memang sudah menyadari keadaan Anarawati dan karenanya dia tidak ingin terlalu menyusahkan diri Anarawati. Pandangannya tajam beralih kepada sosok pengawal yang duduk berhadapan. “Sangkuriang bagaimana penjelasanmu..?!. Engkau yang membuka tanah Pasundan, sekarang begitu anak cucumu berulah di muka bumi ini..heh..!.” Pertanyaan tersebut dilemparkan kepada Sangkuriang, nadanya seperti tengah menguji pemahaman. Jawaban dari Sangkuriang juga terkesan meninggi, seperti tidak mau kalah dan disalahkan atas keadaan yang terjadi di bumi ini.
“Benar, semua sudah di gariskan oleh Yang Maha Kuasa, semua kejadian telah dituliskan-Nya, maka tidak ada yang perlu disalahkan, tidak ada yang mesti bertanggung jawab atas kejadian yang terjadi di bumi nusantara ini. Sekarang marilah ke depan kita perbaiki, Nusantara Baru yang lebih baik dari hari ini. Engkau Semar pandulah kami, tuntunlah kami anak-anak cucumu sendiri. Agar kami bisa seiring sejalan dengan alam ini, agar kami tidak salah jalan lagi..” Sosok yang dipanggil Semar, seperti mengernyitkan dahi. Seperti tidak sreg dengan panggilan itu. Dalam batinnya dia menolak dipanggil dengan panggilan Semar. Maka seperti sekian detik, dia menghablur, dan keluarlah kata-katanya.
“Akulah Sabdo Palon, Raja para danyang diseluruh tlatah Jawa ini, Rrrghh….”Tangannya bergerak menyapu ke depan, tongkat yang dipegangnya seperti mengalirkan energy listrik ke angkasa, terang keadaan alam ghaib disana. Seperti tongkat petirnya Dewa Zeus. Bagian atasnya seperti besi berbentuk bola, ada ujung menyembul disana, dengan tongkatnya itu beberapa kali dia mengetuk bumi. Kemudian dia berkata, dengan tekanan intonasi sarat muatan energy.
“Wahai Anarawati, tahukah kesalahanmu…?”Tanpa menunggu jawaban sosok tersebut terus bicara. “Saat engkau mengucapkan penegasan, dan memberikan jaminan kepada Prabu Brwawijaya V, engkau telah membawa ambisimu sendiri, nafsu ingin berjasa, nafsu ingin berperanan dalam lakon sejarah ini, keinginan pribadimu telah menutupi dan menghijab dirimu. Engkau berkata dengan pasti, engkau telah menafikkan kekuasan Tuhanmu, engkau tidak mengucapkan INSYAALLAH…!. Itulah kesalahanmu. Engkau salah dalam niatmu itu. Kesalahan yang sangat fatal akibatnya bagi alam ini. Ketahuilah, untuk orang-orang seperti dirimu yang mengerti ghaib, sebagai orang yang sudah ber makrifat, maka kesalahan ini merupakan kesalahan yang sangat besar. ”
“Wahai Anarawati, tahukah kesalahanmu…?”Tanpa menunggu jawaban sosok tersebut terus bicara. “Saat engkau mengucapkan penegasan, dan memberikan jaminan kepada Prabu Brwawijaya V, engkau telah membawa ambisimu sendiri, nafsu ingin berjasa, nafsu ingin berperanan dalam lakon sejarah ini, keinginan pribadimu telah menutupi dan menghijab dirimu. Engkau berkata dengan pasti, engkau telah menafikkan kekuasan Tuhanmu, engkau tidak mengucapkan INSYAALLAH…!. Itulah kesalahanmu. Engkau salah dalam niatmu itu. Kesalahan yang sangat fatal akibatnya bagi alam ini. Ketahuilah, untuk orang-orang seperti dirimu yang mengerti ghaib, sebagai orang yang sudah ber makrifat, maka kesalahan ini merupakan kesalahan yang sangat besar. ”
Mendengar keterangan sosok tersebut Anarawati terperangah, dia baru menyadari kesalahannya disitu. Pada saat memberikan jaminan kepada Prabu Brawijaya V, dia tidak mengatas namakan Allah, dia ingin diakui, dia ingin berperan disini, dia ingin sekali dipuji. Benar, benar sekali kesalahannya disini. Anarawati semakin menunduk, merunduk, menyesali diri. Begitu juga sosok Sangkuriang, mendengar penjelasan yang dipaparkan dia juga mengakui bahwa itu merupakan kesalahan. Menjadi pertanyaannya, mengapakah Sunan Kalijaga disana kala itu tidak angkat bicara ?. Mengapakah juga dengan Ratu Kidul juga sepertinya mendiamkannya saja.
Rupanya kejadiannya, ketika Sunan Kalijaga gagal melakukan negosiasi dengan Prabu Brawijaya V, untuk tidak usah mengangkat senjata lagi dan meminta sang Prabu untuk masuk Islam dan kala permintaan Sunan Kalijaga ditolak mentah-mentah. Saat itulah Putri Anarawati mengambil alih pembicaraan, berbicara sebagai suami-istri. Tentu saja Sunan Kalijaga tidak berani turut campur dalam hal ini. Keadaan yang memang sudah di skenario oleh Ratu Kidul. Ratu Kidul paham kelemahan Prabu Brawijaya V. Putri Anarawatilah yang akan sanggup melunakan hatinya. Maka diapun membiarkan saja pembicaraan suami-istri itu berlangsung.
Rupanya kejadiannya, ketika Sunan Kalijaga gagal melakukan negosiasi dengan Prabu Brawijaya V, untuk tidak usah mengangkat senjata lagi dan meminta sang Prabu untuk masuk Islam dan kala permintaan Sunan Kalijaga ditolak mentah-mentah. Saat itulah Putri Anarawati mengambil alih pembicaraan, berbicara sebagai suami-istri. Tentu saja Sunan Kalijaga tidak berani turut campur dalam hal ini. Keadaan yang memang sudah di skenario oleh Ratu Kidul. Ratu Kidul paham kelemahan Prabu Brawijaya V. Putri Anarawatilah yang akan sanggup melunakan hatinya. Maka diapun membiarkan saja pembicaraan suami-istri itu berlangsung.
Alam telah mencatat niat sang putri, meskipun baik perbuatannya, meskipun semua dilakukan untuk dan atas nama agama, namun jika didalamnya ter-dapat lintasan selain Allah maka alam tidak akan merespon. Respon alam atas niat tersebut pasti akan negatif. Maka kemudian seiring waktu dan peradaban, ditunjukkanlah kebenaran itu kepada Anarawati . Anarawati diberikan kesempatan kedua, dia mesti lahir kembali menyaksikan bagaimana setelah kejadian 500 tahun yang lalu. Dia sadar, Islam terbukti tidak mampu membuat akhlak orang Jawa menjadi baik. Islam tidak merubah apa-apa. Lihatlah akhlak bangsa ini. LIhatlah perilaku orang Jawa sekarang ini, semua tampilan mereka bisa kita saksikan modelnya di layar kaca setiap harinya. Dari sinilah kemudian dia mendapatkan pemahaman dan kesadaran yang lebih tinggih, bahwa ;
Sesungguhnya, hakekatnya Allah SWT, yang akan merubah nasib suatu kaum, bukan Islam sebagai organisasi, atau Islam sebagai sekte, atau apa saja yang menamakan diri mereka Islam. Bukan itu yang merubah jiwa anak-anak manusia. Allah yang akan merubah jiwa-jiwa manusia, Dia yang memegang nyawa setiap hamba-Nya. Dia yang menciptakan manusia, dan Dia yang akan mengajari-Nya. Allah akan senantiasa berada di dalam hati setiap hamba-hamba-Nya. Dialah yang akan merubah akhlak orang-orang Jawa dari sana. Maka bagi setiap diri yang tidak mengenali-Nya, sudah pasti keadaannya.
Maka tidak ada jalan bagi orang Jawa untuk selamat dari murka alam sekarang ini. Kecuali dia kembali kepada dirinya sendiri, dia kembali kepada hakekatnya orang Jawa, orang yang ber-jiwa. Sebab disana di dalam hati yang terdalam, Allah menunggu. Menunggu hamba-hamba-Nya yang akan memohon pengajaran-Nya. Allah akan menyambut hamba-hamba-Nya. Menyambut kembalinya makhluk yang ber-jiwa, kembali kepada hatinya sendiri. Kembali kepada budhi-nya sendiri. Kembali kepada keluhuran budhi sebagai seorang seorang manusia yang memeiliki harkat dan martabat.
Maka tidak ada jalan bagi orang Jawa untuk selamat dari murka alam sekarang ini. Kecuali dia kembali kepada dirinya sendiri, dia kembali kepada hakekatnya orang Jawa, orang yang ber-jiwa. Sebab disana di dalam hati yang terdalam, Allah menunggu. Menunggu hamba-hamba-Nya yang akan memohon pengajaran-Nya. Allah akan menyambut hamba-hamba-Nya. Menyambut kembalinya makhluk yang ber-jiwa, kembali kepada hatinya sendiri. Kembali kepada budhi-nya sendiri. Kembali kepada keluhuran budhi sebagai seorang seorang manusia yang memeiliki harkat dan martabat.
Putri Anarawati hanya terpekur, diam. Dia mengerti sekarang ini. Dia telah ditunjukan, bukti-buktinya, dan rupanya alam tengah mengajarinya. Dia menjadi saksi sejarah, bahwa niat yang bukan karena Allah akan begini keadaannya. Sebagaimana yang terjadi di bumi nusantara ini. Sebagai pemimpin, sebagai penentu kebijakan seharusnya dirinya selalu menghadapkan wajahnya kepada Allah. Dia hanya alat saja, hanya wayang, maka dirinya tidak boleh mengaku-aku atas apa yang diperbuatnya itu. Seorang pemimpin, seorang penguasa selayaknya tahu akan hukum ini. Jika tidak, dampaknya akan terus bergulir seiring jaman, seiring peradaban itu sendiri. Begitu strategis 'niat' seorang pemimpin itu, bagi kelangsungan hidup manusia dan peradaban itu sendiri. Al qur an sudah mengkisahkan keadaan ini, atas kaum nabi Musa dalam surah Al ba qoroh (sapi betina). Disana ada kisah yang dapat kita jadikan teladan bagi seorang Penguasa. Mengapakah kala itu dia tidak mengerti. Begitu dalam pemikiran Anarawati.
“Herrr…rgh..!. ..rrr..!. ” Tiba-tiba terlihat dalam pandangan sais kuda, sosok yang minta dipanggil Sabdo Palon itu, menggerakan tangannya ke langit, membuat putaran dengan tangannya, tubuhnya tampak mengejang hebat. Kemudian dia seperti mengeluarkan sumpah lagi. Sumpah yang kurang lebih hampir sama dengan sumpahnya 500 tahun yang lalu. Dia akan tetap melaksanakan tugasnya, pasukannya akan membereskan satu demi satu para penguasa, dan juga para penentu kebijakan negara, juga para cerdik pandai, para rakyat jelata yang membuat onar, membuat kerusakan di muka bumi ini. Mereka akan di jadikan santapan para danyang. Jiwanya akan diambil, akan dijadikan jembatan di alam ghaib sana. Sampai mereka semua tiba ajalnya. Sumpah itu begitu menggiriskan, diulang sampai tiga kali. Membuat suasana hati raga terkini, sungguh tidak enak hati. Mungkin saja diri mereka juga akan mengalami, sebab hati manusia nantinya siapakah yang tahu. Kemudian dia berkata ;
“Anarawati, aku beri waktu 3 bulan untuk menetapkan hati kalian, masih sanggupkah trah kalian mengemban misi suci ini, menghantarkan bangsa ini menuju gerbang Nusantara Baru. Waktumu hanya 3 bulan. Kalian harus bersiap diri, membersihkan hati. Menyiapkan raga-raga kalian semua. Kalian hanya diminta untuk itu. Merelakan raga-raga kalian digunakan oleh alam ini untuk memperbaiki keadaan manusianya dari alam nyata. Dan Engkau Sangkuriang, engkau akan dibuang di tempat yang jauh. Disanalah engkau harus menggembleng dirimu. Engkau harus memasuki kawah Candradimuka. Agar dirimu mampu menggunakan seluruh kemampuan Sangkuriang pada raga terkini. Waktumu hanya 3 bulan saja. Ingatlah..!. Alam sudah menyiapkan pengganti-pengganti kalian jika kalian gagal memepersiapkan diri kalian. Beritahu para kesatria lainnya ini juga berlaku atas meerka semua, jangan terlena dengan keadaan raga mereka sekarang. Ingat..!. Hanya 3 bulan dari sekarang ini. Aku akan berada dianatara kalian membantu apa yang bisa aku lakukan. Begitu juga Ratu Kidul, akan selalu mendampingi kalian semua. Camkan kata-kata-ku. Siapa yang main-main, ingat sumpahku. Sabdo Palon tidak pernah main-main dengan sumpahnya itu..!.”
Seiring dengan terdengar suara terakhirnya itu, Sabdo Palon bergerak, dan perlahan-lahan melenyapkan dirinya, dibalik gelapnya malam. Malam semakin larut, bintang-bintang diatas sana begitu cerahnya. Semua bintang sepertinya hadir menyaksikan pertemuan tersebut. Hening keadaannya, ketiga sosok manusia yang duduk bersila disana, seperti sedang dalam fase peluruhan, perlahan-lahan tubuh mereka kembali kepada dimensi terkininya. Bayangan sosok Raja dan Putri sedikit demi sedikit memudar. Nampaklah wajah asli mereka, dan Mas Thole menarik nafas lega, bahwasanya prosesi ini tidak sampai memakan korban jiwa, sebagaimana yang ditakutkannya di awal perjalanan tadi.
Seiring dengan itu, pasukan dari seluruh kerajaan yang ada dibumi nusantara ini satu demi satu meninggalkan tempat itu. Hingga tempat tersebut lengang kembali. Kunang-kunang yang tadinya ribuan bertebaran disana, sekarang hanya tinggal satu-satu. Ketiga sosok tersebut seperti menghela nafas lega, walau ada sedikit perasaan memberat, mengingat sebab waktu yang diberikan sabdo Palon hanya 3 bulan saja. Apakah mereka sanggup. Begitulah ganjalan dihati. Perasaan tersebut jauh menyelusup di dalam hati. Termasuk juga di dada sangkuriang, yang merasakan itu. Hingga esok hari perasaan masih ada. Dan sungguh aneh sekali jika kemudian ada telepon dari Australia seperti mengetahui keadaan Sangkuriang, padahal Mas Thole tidak mengkhabarkan apa-apa, tidak memberikan informasi perihal prosesi ini. Ki Ageng seperti mendapat daya dorong luar biasa dari sosok yang berbicara kepada Sangkuriang, berusaha untuk meyakinkan raga terkini Sangkuriang, bahwa semua sudah dalam rencana-Nya, kita tingal ber serah saja, mengalir mengikuti daya yang menggerakkan.
Grojogan Sewu, menjadi saksi, sebuah janji pati, sebuah labuh pati, Anarawati labuh pati disini, kejadian 500 tahun lalu, akan diselesaikan disini, agar tidak menjadi karma lagi bagi anak cucu bangsa ini. Sangkuriang dan Anarawati menjadi saksi atas sumpah suci ini. Menjadi pelaku sejarah, agar kesadaran kolektif orang-orang Jawa terbebas dari sumpah yang tidak pernah dimengerti oleh mereka sendiri. Begitulah kesadaran harus diluruskan kembali, begitulah sejarah harus dibenarkan. Maka hanya berserah kepada-Nya saja yang dia bisa. Ber doa semoga Allah senantiasa melindungi disetiap langkahnya. Begitulah perjuangan para kesatria, perjuangan dalam keyakinan yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Mereka berbuat sesuatu untuk bangsa ini, dengan cara mereka sendiri. Sebagaimana memperbaiki program-program software komputer yang rusak keadaannya. Maka mereka harus masuk ke wilayah ghaib disana. Mengotak-atik agar benar penampilan di layar monitornya. Begitulah keadaannya, maka orang lain banyak yang menganggap mereka 'gila'. Woluhualam
Seiring dengan itu, pasukan dari seluruh kerajaan yang ada dibumi nusantara ini satu demi satu meninggalkan tempat itu. Hingga tempat tersebut lengang kembali. Kunang-kunang yang tadinya ribuan bertebaran disana, sekarang hanya tinggal satu-satu. Ketiga sosok tersebut seperti menghela nafas lega, walau ada sedikit perasaan memberat, mengingat sebab waktu yang diberikan sabdo Palon hanya 3 bulan saja. Apakah mereka sanggup. Begitulah ganjalan dihati. Perasaan tersebut jauh menyelusup di dalam hati. Termasuk juga di dada sangkuriang, yang merasakan itu. Hingga esok hari perasaan masih ada. Dan sungguh aneh sekali jika kemudian ada telepon dari Australia seperti mengetahui keadaan Sangkuriang, padahal Mas Thole tidak mengkhabarkan apa-apa, tidak memberikan informasi perihal prosesi ini. Ki Ageng seperti mendapat daya dorong luar biasa dari sosok yang berbicara kepada Sangkuriang, berusaha untuk meyakinkan raga terkini Sangkuriang, bahwa semua sudah dalam rencana-Nya, kita tingal ber serah saja, mengalir mengikuti daya yang menggerakkan.
Grojogan Sewu, menjadi saksi, sebuah janji pati, sebuah labuh pati, Anarawati labuh pati disini, kejadian 500 tahun lalu, akan diselesaikan disini, agar tidak menjadi karma lagi bagi anak cucu bangsa ini. Sangkuriang dan Anarawati menjadi saksi atas sumpah suci ini. Menjadi pelaku sejarah, agar kesadaran kolektif orang-orang Jawa terbebas dari sumpah yang tidak pernah dimengerti oleh mereka sendiri. Begitulah kesadaran harus diluruskan kembali, begitulah sejarah harus dibenarkan. Maka hanya berserah kepada-Nya saja yang dia bisa. Ber doa semoga Allah senantiasa melindungi disetiap langkahnya. Begitulah perjuangan para kesatria, perjuangan dalam keyakinan yang hanya dimengerti oleh mereka sendiri. Mereka berbuat sesuatu untuk bangsa ini, dengan cara mereka sendiri. Sebagaimana memperbaiki program-program software komputer yang rusak keadaannya. Maka mereka harus masuk ke wilayah ghaib disana. Mengotak-atik agar benar penampilan di layar monitornya. Begitulah keadaannya, maka orang lain banyak yang menganggap mereka 'gila'. Woluhualam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar