Jiwa diajak ‘journey’ berjalan bersama cahaya diantara cahaya meliputi cahaya, bersama melewati alam-alam tersebut (imajener), alam yang tak berbentuk kata. Alam yang belum ternamai seperti itu saja keadaanya begitu.
Aku dalam menetapi, dalam kontemplasi. Diam dalam ketidak mengertian, hanya bersimpuh sujud bersama tasbih semesta. Mengikuti saja entah mau dibawa kemana saja pergi. Sesaat dalam fase pembalikan kesadaran. BLAST…!. Seper sekian detik terasanya, tak ada setarikan nafas. Namun saat tersadar kembali, nyatanya waktu telah beranjak , sejak mulai dari pukul 24..15 wib , tanpa disangka, waktu telah menjelang pagi. Panggilan adzan dari speker mushola kampung sempat masuk di telinga. Memaksa jiwa kembali ke alam materi. Seperti tersentak bangun dari tidur. “Apakah yang terjadi ..?”. Akalpun menjawab tak mengerti. Raga terdiam, seluruh energy rasanya terkuras tak bersisa, tak mampu lagi menyangga tubuh, lunglai seperti kain di pojokan sajadah. Mimpi namun kesadaran meyakini bahwa itu terjadi. Di tariknya nafas berulang kali di ‘scaning’ ketubuhannya beberpa kali. Dibiarkannya tubuh dalam keadaan begitu.
Semua seperti terbolik-balik. Manakah yang masa depan dan sisi manakah yang masa lampau, telah terjadi fase pembalikan waktu. Seperti sebuah film yang di putar. Menceritakan kejadian asal mula dan akhir. Sebagaimana membalikkan kutub utara menjadi kutub selatan dan atau sebaliknya. Kesadaran diri diajak, memasuki kejadian 15 Milyard tahun yang lalu, dalam hitungan tahun cahaya, sebelum bumi ini terbentuk. Raga seperti porak poranda, bergetaran tak menentu mengikuti perjalanan sang jiwa. Sementara, jiwa sendiri telah melayang-layang bersama cahaya. Menyelusup, mengitari, meliputi, beriring bersama gerak gelombang. Dianatara cahaya meliputi cahaya, mengitari, menyusup, beriring bersama.
Alam semesta nampak seperti dalam gerakan melambat. Seperti menari gemulai. Angin diam tak ada. Udara kosong tak berasa, nyaman saja. Langit terang namun redup seperti langit senja hari. Cahaya mentari terasa mesra mengelus jiwa. Semua begitu nyata. Semua dapat disaksikan, dari galaksi bintang Andromeda, hingga galaksi Bima Sakti, dari gugus bintang Taurus hingga gugusan bintang Aries. Semua nampak nyata. Menampilkan keindahan panorama langit yang tak terkata.
Menikmati pemandangan alam semesta dalam gerakan yang melambat. “Allah hu akbar !”. Gumpalan yang menyesak dalam jiwa melontarkan takbir. Tak bersuara namun nampaknya seperti dimengerti oleh mereka semua. Seperti bergaung berkali-kali dan begitu lama tanpa henti. Dada penuh serasa ‘bungah’ penuh bunga. Jiwa luas seluas alam raya , dalam bahagia bersama mereka, dalam ‘journey’ menikmati panorama keindahannya.
Bergetar gema ‘takbir’ yang mengalami resonansi , bergaung sampai ke sudut-sudut yang tak terpikirkan manusia, jauh menyelusup tak pernah berhenti. “Allah hu akbar !.” Kedengaran sampai menembus bumi. Kesadaran takjub, diam tanpa mampu bersuara lagi. Diam dalam sujud yang dalam. Terpekur tak mampu mengangkat pandangan. Gaung takbir itu terus menyelusup, meresep ke dalam pori-pori, ke dalam sel, hingga mengalami resonansinya sendiri disana.
Masih terus keadan (masih) melayang. Sementara alam semesta mengitari disekelilingnya. Bersama dirinya. Berjalan terus dalam gerakan lambat, memperlihatkan kebesaran yang tak terkatakan lagi. Tak ada kata yang mampu mewakili. Hening dalam khusuk. Diri seperti diperjalanankan mengarungi jagad raya. Melihat kebesaran dan keindahannya, susunan yang maha sempurana. (Semua dalam gerakan yang lambat). Dalam keheningan, dalam kepatuhan, dalam harmoni, dalam sujud alam semesta. Diri sujud bersama mereka semua. Tak ada kata, tak ada bahasa, namun semua mengerti keadaannya masing-masing.
Alam semesta masih dalam gerakan melambat, terus bergerak seperti menjauh, seperti mengikuti saja daya yang menyebabkan mereka menjauh dari titik semula. Seperti ada daya sejak awal kejadian yang melontarkan mereka, sehingga mereka seperti mengikuti saja, mengapung , menjauh, mengembang, seperti balon yang di tiup, mereka dalam keadaan pasrah mengikuti gaya lontaran dari energy yang maha dahsyat yang telah melontarkan mereka semua. Kadang ada sekilas cahaya cepat melewati begitu saja, seperti permainan lampu di malam hari. Berkelebat secepat kilat dan pergi hilang dari pandangan.
Kesadaran diri mengikuti saja semua itu, diam pasrah diperjalankan. Kemudian nampak, bagaimana keadaan sekililngnya. Seiring keadaan mereka mengikuti gaya lontaran, (yang) mengapungkan (diri) mereka, nampak mereka juga ber putar (seperti) melakukan gerakan thawaf. Berputar atas diri mereka sendiri, dan juga thawaf terhadap matahari, dalam keadaan begitu dan terjadi pada setiap formasi tata surya.
Planet bersama-sama membentuk formasi tata surya. Tata surya membentuk formasi galaksi. Dan terus selanjutnya begitu hingga ujung dunia, dimana terdapat dunia yang menjadi ujung terluar, titik akhir (terluar) dari sebuah gaya lontaran BIG BANG. Keseluruhan alam semesta dan keadaaannya, kesemuanya menjadi sebuah kesatuan yang di sebut ALAM MATERI. Semua (hanya) nampak dalam kesadaran, atau lebih tepatnya di nampakan-Nya dalam kesadarannya, tanpa melalui kata-kata. (dan) Dalam setitik kesadaran dirinya, alam materi tersebut selanjutnya bersama alam-alam lainnya ber thawaf mengitari ‘arsy. Allah hu akbar !.. Semesta Alam dalam harmoninya.
“Allah hu Akbar !.. Allah hu Akbar !. Allah hu akbar wa lillah ilham !. Inilah thawaf alam semesta, dalam keadaannya. (dan) keberadaannya, jiwa mengikuti saja, thawaf bersama mereka, dalam sujud yang dalam tanpa mampu lagi mengangkat pandangan.
Gerakan thawaf tanpa suara, dalam hening jagad semesta, semua bersama menjadi kesatuan alam. (yaitu) Alam materi, bersama alam-alam lainnya, mengikuti sebuah daya yang menggerakkan mereka semua, suka rela atau terpaksa mereka ber thawaf bersama-sama mengitari;’arsy. Maka kesadaran diri kemudian hanya terdiam. Diam yang tak biasa, seperti hening. Atau keadaan suwung.
Mestikah harus di khabarkan hal ini ?. Apakah ada gunanya, sebab ini adalah alam imajiner. Jangan-jangan diri malah menjadi ‘ujub’. Entah harus bagaimana (?). Maka hanya berserah mengikuti daya saja, jika sekarang ini dituliskan. Tentunya sudah dalam bahasa manusia, (yaitu) bahasa saya sendiri yang kurang sekali (memiliki) referensinya. Maka kembalinya hanyalah sebuah khabar saja. Menjadi hanya sebuah kajian. Kajian yang melatar belakangi mengapakah kita wajib meyakini adanya ‘HARI AKHIR’. Sebagaimana kata pengantar di muka. Maka marilah kita masuki saja sebuah teori , TEORI PEMBALIKAN. Sebuah teori dari sebuah pemahaman perihal (kenapa) kita wajib ber- Iman kepada Hari Akhir. Wolohualam
Tidak ada komentar:
Posting Komentar